MENINGKATKAN DAYA SAING SEKTOR RITEL …€¢Pada saat yang sama koefisien Gini naik 2 %/tahun...

Preview:

Citation preview

MENINGKATKAN DAYA SAING SEKTOR RITEL MELALUI SINERGI ANTARA RITEL

TRADISIONAL, MODERN DAN E-COMMERCE

Nining I Soesilo4 Oktober 2017 di Museum Gajah

Pendiri dan pembina UKM Center FEB UI

+62811179997

niningisoesilo@gmail.com

www.ukmcenter.org

TOPIK DISKUSI DAN LATAR BELAKANG

PENINGKATAN DAYA SAING KONSEP MIKRO

• Daya saing tinggi artinya elastisitas permintaan terhadap produktersebut cenderung inelastic (tidak sensitive terhadap perubahanharga)

• Daya Saing terkait erat dengan kompetisi (persaingan di pasar)

• Persaingan di pasar ada dua ekstrim• Persaingan sempurna

• Monopoli

• Daya Saing dibentuk oleh• Price

• Non Price

DAYA SAING KONSEP NEGARA

Daya Saing Konsep Porter

• Dalam konsep national diamond di buku Porter’s ‘Competitive Advantage of Nations (1990)’ dia menawarkan jembatan antaraliterature teoritis dalam Manajemen Strategis dengan EkonomiInternational, dan jadi dasar untuk memperbaiki daya saing nasional(Porter in Davies and Ellis, 2000).

• Empat sudut berlian nasional adalah• (1) factor conditions,

• (2) demand conditions,

• (3) related and supporting industries, and

• (4)firm strategy, structure, and rivalry (Davies and Ellis, 2000).

RAPOT DAYA SAING INDONESIA 2016

Nining I Soesilo presentation di Solo 10 Agustus 2016 6

http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf

Problem terbesar dalam berbisnis Indonesia 2016Ease of Doing Business

Nining I Soesilo presentation di Solo 10 Agustus 2016 7

Berapa Nilai Daya Saing Indonesia?

Nining I Soesilo presentation di Solo 10 Agustus 2016 8

Daya Saing Indonesia di rangking 37 dari 144 negara

Indeks Kompetisi Usaha di Indonesia

E Commerce berguguran di tahun 2017

E Commerce mulai bayar pajak

TANTANGAN DI ERA DIGITAL SURVEY 2017 NIELSEN (1)

10/4/2017Presentasi Nining I Soesilo, Infobank, Perbarindo, di Bali 11

Agustus 201711

TANTANGAN DI ERA DIGITAL SURVEY 2017 NIELSEN (2)

10/4/2017Presentasi Nining I Soesilo, Infobank, Perbarindo, di Bali 11

Agustus 201712

FAKTA: INDONESIA KOMPETISI MAKIN TURUN DAN PERBEDAAN KAYA MISKIN NAIK

• Penurunan Competition Index di Indonesia dengan laju -1.2 %/tahundari 2007 sampai 2006;

• Pada saat yang sama koefisien Gini naik 2 %/tahun antara tahun 2007 to 2016.

• Pemerintah Indonesia diragukan keseriusannya baik secara politismaupun ekonomi untuk memproyeksikan kedepan kekuatan negara(Kompas.com, 2016) (Robison, 2016); maka diragukan Indonesia dapat mencapai peringkat ekonomi ke 7 dunia

MAKNA SINERGI

• Benchmark of Collaboration: the 2009 UN Guidelines of Cooperation between the UN and the Business Sector, “Neither party has power to bind the other party or to contract in the name of the other party or create a liability against the other in any manner whatsoever” (UN, 2009).

• The motto within EU, local people is the starting point of cooperation in: Think globally but act locally (Skurnik, 2002).

• Collaboration is alliances created by mutuality of interests, strategic fit (Austin et al. 2006).

KEMITRAAN DALAM PP 17 tahun 2013 (1)

• Pasal 1 ayat 8: KPPU adalah komisi sesuai UU no 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopolidanpersaingan usaha tidak sehat

• Pasal 5 ayat 2: Pengembangan UMKM melalui pendekatan:• Koperasi• Sentra• Klaster• kelompok

• Pasal 8 ayat 3: Usaha besar melakukan Pengembangan usaha mikro kecil menengah dengan prioritas :

• Keterkaitan usaha

• Potensi produksi dan penyediaan kebutuhan pokok

• Produk yang memiliki potensi ekspor

• Produk dengan nilai tambah dan berdaya saing

• Potensi mendayagunakan teknologit dan atau

• Potensi dalam penumbuhan wira usaha baru

KEMITRAAN DALAM PP 17 tahun 2013 (2)

• Pasal 8 ayat 4 Usaha UMKM melakukan pengembangan usahadengan:

a) Mengembangkan jaringan usaha dan kemitraan

b) Melakukan usaha secara efisien

c) Mengembangkan inovasi dan peluang pasar

d) Memperluas akses pemasaran

e) Memanfaatkan teknologi

f) Meningkatkan kualitas produk

g) Mencari sumber pendnaan usaha yang lebih luas

Tradisi Aristotelian untuk Kebijakan Publik

• “logos” maknanya adalahmenginstruksikan dan menerapkan akal

• “etos” mengacu pada "moralitas" pembicara,

• “patos” memiliki fungsi untuk bergerak dan mengacu pada hasrat

(sum

ber

Fis

her, M

iller, S

idney, 2

007)

ETOS MORALITAS KEBIJAKAN PUBLIK INDONESIA ADA DI UU 1945

BAGAIMANA FAKTANYA PATOS?

• “patos” memiliki fungsi untuk bergerak dan mengacu pada hasrat

• Bisa bertentangan bila tingkatan misinya berbeda meskipun mungkinvisinya sama

• Mari kita lihat: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) akanmenyalurkan barang ke warung dengan harga terjangkau dalamrangka SINERGI ANTARA RITEL TRADISIONAL, MODERN DAN E-COMMERCE

IDE MENTERI PERDAGANGAN DAN PERLAWANAN KOPERASI

• Asosiasi Pengusaha RitelIndonesia (Aprindo) akanmenyalurkan barang ke warungdengan harga terjangkau.

Kontra DARI KOPERASI AKAN ADA MONOPOLI

ANTIKLIMAKS : BENARKAH PERLU PENINGKATAN DAYA SAING BISNIS WARUNG?

Ini pernyataan Mahasiswa baru FEB UI 2017 di kelas Nining I Soesilo

Kami belanja barang di warung-warung harganya lebih murahdari pada barang di AlfamartHanya beberapa jenis minuman yang lebih mahal (survey 3 Oktober 2017)Lantas apa relevansi kebijakanKemendag? Menyalurkan barangdengan harga terjangkau? Meningkatkan daya saing siapa? Saatini warung sudah bisa bersaing

POSISI KOPERASI DAN SINERGI

• The International Year of Cooperative was launched by UN in 2012 with the theme of “Cooperative Enterprises Build a Better World”, that seeks a balance between economic viability and social responsibility.

• Within the cooperative entity, business collaboration is already embedded because it is owned and controlled by the very members that they serve (Skurnik, 2002).

• Collaboration also happened in state, civil society and the market. Cooperatives are civil society actor (Coopeurope.coop, 2012), in Olin Wright’s ‘triadic’ model of citizenship, based on Somers’ Genealogies of Citizenship.

Mengapa Koperasi Menentang? Arah Politik danHukum UU Perkoperasian di Indonesia

7 Prinsip koperasiPrinsip-Prinsip Koperasi1. Keangotaan bersifat sukarela dan terbuka.

2. Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.4.Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.5. Kemandirian.6. Pendidikan perkoperasiaan7. Kerjasama antar koperasi.

UU No 5 TAHUN 1999 LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN

PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

• Bagian Keenam Trust Pasal 12

• Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untukmelakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atauperseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankankelangsungan hidup masing-masing perusahaan atau perseroananggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan ataupemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkanterjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

BILA ADA PERTENTANGAN ATURAN

• Pasal 9 UU Nomor 12 Tahun 2011, Tentang Pembentukan PeraturanPerundang-Undangan

• (1) Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan denganUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi.

• (2) Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawahUndang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.

ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BAIK

Pasal 5 UU Nomor 12 Tahun 2011,

• Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukanberdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:• a. kejelasan tujuan;

• b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;

• c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;

• d. dapat dilaksanakan;

• e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;

• f. kejelasan rumusan; dan

• g. keterbukaan.

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BAIK HARUS MENCERMINKAN (Pasal 6 UU Nomor 12 Tahun 2011)

a. pengayoman;

b. kemanusiaan;

c. kebangsaan;

d. kekeluargaan;

e. kenusantaraan;

f. bhinneka tunggal ika;

g. keadilan;

h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;

i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau

j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

PERLUNYA NASKAH AKADEMIKPasal 1 Ayat 11, UU Nomor 12 Tahun 2011

Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajianhukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentuyang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenaipengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau Rancangan PeraturanDaerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dankebutuhan hukum masyarakat.

APAKAH ATURAN KEMENDAG SUDAH ADA STUDI AKADEMIKNYA?

NASKAH AKADEMIK PERLU DIBUAT DENGAN METODA REGULATORY IMPACT ANALISIS (RIA)

• Dibahas secara kuantitatif melalui proses RIA (Regulatory Impact Analysis) dengan cara kuantitatif berdasar analisis perhitungan BiayaManfaat yang harus melibatkan seluruh stakeholder.

• perlu adanya sosialisasi dan diseminasi diawal setiap proses.

• Merujuk ke Ease of Doing Business

• Bisa dibandingkan antar negara

Mari kita bikin kajian akademik

• Terimakasih

• Nining I Soesilo

• UKM Center FEB UI

• Kampus UI Depok

• 0811179997

• niningisoesilo@gmail.com

Recommended