of 29 /29
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakit Haryono, (2013) menyatakan prostat adalah jaringan fibromuskuler dan jaringan kelenjar yang terlihat persis di inferior dari kandung kemih. Berat prostat normalnya ± 20 gr, di dalamnya berjalan uretra posterior ± 2,5 cm. Benigna prostat hiperplasi (BPH) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinalus. BPH adalah kondisi umum ketika terjadi pembesaran kelenjar prostat, kelenjar ini bertumbuh pada usia remaja dan terus membesar seiring berjalannya usia. Sebagian besar laki - laki usia 50 tahun mengalami pembesaran prostat tidak bersifat ganas yang disebut benigna prostat hyperplasia (BPH). Karena struktur dari prostat seperti donat yang mengelilingi uretra, BPH sering berdampak pada aliran perkemihan. Bunker & Kowalski, (2017). BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine/uretraclevo dan Margareth, 2015) B. Etiologi Haryono, (2013) menyatakan penyebab pasti terjadinya benigna prostat hyperplasia (BPH) sampai sekarang belum diketahui. Namun, kelenjar prostat jelas sangat tergantung pada hormon endogen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan benigna prostat hyperplasia (BPH) adalah proses penuaan. Ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab antara lain :

1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

  • Upload
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

19 19 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Penyakit

Haryono, (2013) menyatakan prostat adalah jaringan fibromuskuler dan

jaringan kelenjar yang terlihat persis di inferior dari kandung kemih. Berat

prostat normalnya ± 20 gr, di dalamnya berjalan uretra posterior ± 2,5 cm.

Benigna prostat hiperplasi (BPH) adalah pembesaran progresif dari kelenjar

prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan

berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinalus.

BPH adalah kondisi umum ketika terjadi pembesaran kelenjar prostat, kelenjar

ini bertumbuh pada usia remaja dan terus membesar seiring berjalannya usia.

Sebagian besar laki - laki usia 50 tahun mengalami pembesaran prostat tidak

bersifat ganas yang disebut benigna prostat hyperplasia (BPH). Karena

struktur dari prostat seperti donat yang mengelilingi uretra, BPH sering

berdampak pada aliran perkemihan. Bunker & Kowalski, (2017).

BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat

menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine/uretraclevo dan

Margareth, 2015)

B. Etiologi

Haryono, (2013) menyatakan penyebab pasti terjadinya benigna prostat

hyperplasia (BPH) sampai sekarang belum diketahui. Namun, kelenjar

prostat jelas sangat tergantung pada hormon endogen. Faktor lain yang erat

kaitannya dengan benigna prostat hyperplasia (BPH) adalah proses penuaan.

Ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab antara lain :

Page 2: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

7

1. Dihydrotestosteron ( DHT )

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel

dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .

2. Perubahan keseimbangan hormon estrogen dan testosteron

Pada proses penuaan yang dialami pria terjadi peningkatan hormon

estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi

stroma.

3. Interaksi stroma-epitel

Peningkatan epidermal growth faktor atau fibroblast growth faktor dan

penurunan transforming growth faktor beta menyebabkan hiperplasi

stroma dan epitel .

4. Berkurangnya sel yang mati

Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma

dan epitel dari kelenjar prostat .

Nursalam & Fransiska, (2008) menyatakan penyebab khusus hiperlasi prostat

belum diketahui secara pasti, beberapa hipotesis mengatakan bahwa

gangguan ini ada kaitannya dengan peningkatakan kadar DHT dan proses

penuaan. Hipotesis sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :

1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan

estrogen pada usia lanjut.

2. Peran faktor pertumbuhan sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar

prostat.

3. Meningkatnya lama hidup sel sel prostat karena kekurangan sel mati.

4. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi poliferasi abnormal sel stem

sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat

menjadi berlebihan.

Page 3: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

8

C. Patofisiologi

Nursalam & Fransisca, (2008) menyatakan bahwa pembesaran prostat

menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat

aliran urine. Keadaan ini menyebabkan tekanan intraventrikel. Untuk dapat

mengeluarkan urine, buli – buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan

tahanan ini. Kontraksi secara terus menerus menyebabkan perubahan

anatomik dan buli buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi,

terbentuknya selula, sakula, dan diventrikel buli-buli. Perubahan struktur pada

buli buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah

bawah atau lower urinary track symptom ( LUTS ) yang dulu dikenal dengan

gejala prostatimus. Tekanan intraventrikel yang tinggi akan diteruskan ke

seluruh bagian buli – buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan

pada kedua muara ini akan menimbulkan aliran balik urine dari buli - buli ke

ureter akan terjadi refluks vesiko ureter. Jika keadaan ini berlangsung lama

dapat mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal .

Wijaya & Putri, (2013) menyatakan bahwa pembesaran prostat terjadi secara

perlahan lahan pada traktus urinarius, terjadi perlahan lahan. Pada tahap awal

terjadi pembesaran prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan

kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal

dan penonjolan serat detrusor kedalam mukosa bulu buli akan terlihat sebagai

balok balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan

sitoskopi , mukosa vesika akan menerobos keluar di antara serat detrusor

sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan

apabila besar dinamakan diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase

kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya

akan mengalami dekompensasi yang tidak mampu lagi untuk kontraksi,

sehingga terjadi retensi urine total yang berlanjut pada hidronefrosis dan

disfungsi saluran kemih atas.

Page 4: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

9

D. Pathway

Diagram 2.1

patofisiologi benigna hiperplasia prostat

Mutaqqin & Sari (2011)

Hiperplasia prostat

Penyempitan lumen

uretra

Respon obstruksi :

1. Pancaran urine

lemah

2. Intermitensi

3. Hesistensi

4. Miksi tidak puas

5. Menetes setelah

miksi

Peningkatan

tekanan

intravesika

Respon iritasi :

1. frekuensi

meningkat

2. nokturia

3. urgensi

4. disuria

Gangguan pemenuhan eliminasi

urine

Perubahan pola

pemenuhan eliminasi

urine : Nyeri miksi

Respon perubahan pada kandung

kemih

1. hipertrofi otot destrusor

2. trabekulasi

3. Selula

4. Divertikel kandung kemih

Respon vesiko-ureter

1. refluks vesiko

ureter

2. Hidroureter

3. Hidronefrosis

4. Pielonefritis

5. Gagal ginjal

Tindakan pembedahan

Respons psikologis :

koping maladaptif

Kecemasan

Asuhan

keperawatan

perioperatif

kecemasan Gangguan konsep diri

(gambaran diri)

Page 5: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

10

E. Manifestasi klinis

Haryono, (2013) menyatakan gejala – gejala pembesaran prostat jinak dikenal

sebagai LUTS, yang dibedakan menjadi :

1. Gejala obstruktif, yaitu :

a. Hesistensi, yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali

disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh otot detrusor buli-

buli memerlukan waktu beberapa lama untuk meningkatkan

tekanan intravesikal guna mengatasi tekanan dalam uretra

prostatika.

b. Intermitency, yaitu terputus putusnya aliran urine yang disebabkan

oleh ketidakmampuan otot detrusor dalam mempertahankan

tekanan intravesika sampai berakhirnya miksi.

c. Terminal dribling, yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.

d. Pancaran lemah, yaitu kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran

detrusor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di

uretra.

e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa

belum puas.

2. Gejala iritasi, yaitu :

a. Urgensi yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan .

b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat

terjadi pada malam hari (nokturia) dan pada siang hari .

c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

Rendi & Margareth (2015) menyatakan tanda dan gejala dari pasien BPH

adalah :

a. Frekuensi berkemih bertambah

b. Berkemih pada malam hari

c. Kesulitan dalam memulai dan menghentikan berkemih

d. Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih

e. Rasa nyeri pada saat berkemih

Page 6: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

11

f. Kadang kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali

tidakdapat berkemih sehingg harus dikeluarkan dengan keteter

g. Selain gejala gejala di atas karena air kemih selalu terasa dalam

kandung kemih , maka mudah sekali terjadi cystitis dan selanjutnya

kerusakan ginjal yaitu hydroneprosis, pyelonefritis.

Wijaya & Putri, (2013) menyatakan manifestasi klinis dari BPH adalah :

a. lower urinary tract symptom (LUTS)

Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra

prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan

peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine,

buli buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu.

Kontraksi yang terus menerus menyebabkan perubahan anatomik

buli buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya

selula, sakula dan difertikel buli buli. Perubahan struktur pada buli

buli tersebut , olehpasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran

kemih sebelah bawah atau LUTS.

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot

buli buli mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh kedalam

fase dekompensasi yang diwujud dalam bentuk retensi urine akut.

Adapun tanda dan gejala yang tampak pada pasien dengan benigna

prostat hiperplasia (BPH):

1) Retensi urine

2) Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing

3) Miksi yang tidak puas

4) Frekuensi kencing bertambah pada malam hari

5) Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi

6) Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi

Page 7: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

12

F. Pemeriksaan diagnostik

1. Sedimen urine di periksa untuk mencari kemungkinan adanya proses

infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. pemeriksaan kultur urine

berguna untuk mengetahui kuman penyebab infeksi dan sensivitas

kuman tehadap beberapa antimikroba yang di ujikan. (Nursalam &

Fransisca, 2008 )

2. Pemeriksaan faal ginjal untuk mengetahui kemungkinan adanya

penyulit yang mengenai saluran kemih atas. (Nursalam & Fransisca,

2008).

3. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mengidentifikasi kemungkinan

adanya penyakit diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan

syaraf pada buli - buli. (Nursalam & Fransisca, 2008).

4. Colok dubur, yaitu pemeriksaan keadaan tonus sfingter anus, mukosa

rektum, kelainan dari benjolan dalam rektum dan prostat. Pada

perabaan melalui colok dubur dapat diperhatikan konsistensi prostat,

adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas dapat

diraba. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan

jumlah sisa urine setelah miksi spontan. Sisa miksi ditentukan dengan

mengukur urine yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa

urine dapat pula diketahui dengan melakukan ultrasonografi kandung

kemih setelah miksi. ( Haryono, 2013 ).

5. Ultrasonografi (USG) bertujuan untuk memeriksa konsistensi, volume,

besar prostat, dan keadaan buli-buli termasuk residu urine. ( Purwanto,

2016 )

6. Pemeriksaan IVP (Pyelografi intravena) digunakan untuk melihat

fungsi eksresi ginjal dan adanya hidronefrosis ( Purwanto, 2016 )

7. Pemeriksaan Panendoskop bertujuan untuk mengetahui keadaan uretra

dan buli buli. ( Purwanto, 2016 )

Page 8: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

13

G. Penatalaksanaan

1. Observasi

Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan, saran yang

diberikan yaitu mengurangi minum setelah makan malam untuk

mengurangi nokturia, mengurangi minum kopi dan tidak

diperbolehkan minum alkohol supaya tidak terlalu sering miksi. Setiap

3 bulan dilakukan kontrol keluhan, sisa kencing dan pemeriksaan

colok dubur.

2. Terapi medikamentosa Wijaya & Putri , (2013)

Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk :

a. Mengurangi retensio otot polos prostate sebagai komponen

dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat obatan

penghambat andrenalgik alfa.

b. Mengurangi volume prostate sebagai komponen static dengan cara

menurunkan kadar hormon testosteron atau dihidrotestosteron

(DHT) melalui penghambat 5 a-reduktase.

1) Penghambat enzim, obat yang dipakai adalah finasteride

dengan dosis 1x5 mg/hari, obat golongan ini dapat

menghambat pembentukan dehate sehingga prostate dapat

membesar akan mengecil. Tetapi obat ini bekerja lebih lambat

daripada golongan blocker dan manfaatnya hanya jelas pada

prostate yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini

adalah melemahkan libido.

2) Filoterapi, pengobatan filoterapi yang ada di Indonesia adalah

Eviprostat. Efeknya diharapkan terjadi pemberian selama 1-2

bulan.

3) Terapi bedah, waktu penanganan untuk tiap pasien tergantung

beratnya gejala dan komplikasi, indikasi untuk terapi bedah

yaitu retensi urine berulang, hematuria, tanda penurunan fungsi

ginjal, infeksi saluran kemih berulang, ada batu saluran kemih.

Page 9: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

14

Karena pembedahan tidak mengobati penyebab benigna prostat

hiperplasia (BPH), maka biasanya penyakit ini akan timbul

kembali 8-10 tahun kemudian.

H. Wijaya & Putri, (2013) Komplikasi dilakukan pembedahan BPH adalah :

1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,

hidronefrosis, gagal ginjal.

2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu

miksi

3. Hernia/hemoroid

4. Karena selalu terdapat sisa urine sehingga menyebabkan batu kencing

5. Hematuria

6. Sistitis dan Pielonefritis.

I. Pengobatan

Pengobatan yang dapat dberikan untuk penderita BPH adalah sebagai

berikut:

1. Suportif : pengobatan ditujukan terhadap perubahan pola kebiasaan

terutama mengenai frekuensi berkemih, nyeri saat berkemih.

2. Farmakologis : beberapa terapi obat yang diberikan misalnya

antibiotik, antiemetik, dan antifibrinolitik.

B. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia

Manusia mempunyai kebutuhan yang harus di penuhi secara memuaskan

melalui proses homeostatis, baik fisiologis maupun psikologis. tahun 1950,

Abraham Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan teori

tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hierarki

Kebutuhan Dasar Manusia Maslow. Hierarki tersebut meliputi lima kategori

kebutuhan dasar ( Mubarak & Chayatin 2008), yaitu :

Page 10: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

15

Diagram 2.2

Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow

Mubarak dan Chayatin, (2008) menyatakan pada pasien post op BPH

kebutuhan dasar manusia yang terganggu adalah Kebutuhan keselamatan dan

Rasa aman yang tepatnya adalah nyeri. Nyeri adalah perasaan yang tidak

nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat

menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut.

Bentuk nyeri terbagi atas :

1. Nyeri akut, nyeri ini biasanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan.

gejalanya mendadak, dan biasanya penyebab serta lokasi nyeri sudah

diketahui. nyeri akut di tandai dengan peningkatan tegangan otot dan

kecemasan yang keduanya meningkatkan presepsi nyeri .

2. Nyeri kronis, nyeri ini berlangsung lebih dari 6 bulan. sumber nyeri

bisa diketahui atau tidak. nyeri cenderung hilang timbul dan biasanya

tidak dapat disembuhkan. selain itu, penginderaan nyeri menjadi lebih

dalam sehingga penderita sukar untuk menentukan lokasinya. dampak

dari nyeri ini antara lain penderita menjadi kurang perhatian, sering

mengalami insomnia.

Page 11: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

16

C. Asuhan Keperawatan

Data asuhan keperawatan menurut (Wijaya & Putri 2013) :

1. Data biografi, meliputi :

a. Identitas pasien yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, suku atau

bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal

masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, catatan kedatangan.

b. Keluarga terdekat yang dapat dihubungi yaitu nama, umur, jenis

kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan sumber informasi,

beserta nomor telepon.

2. Riwayat kesehatan atau perawatan, meliputi :

a. Keluhan utama, alasan masuk rumah sakit, biasanya pasien

mengeluh nyeri pada saat miksi, pasien juga mengeluh sering bak

pada malam hari, perasaan ingin miksi pada malam hari, perasaan

ingin miksi yang sangat mendesak, kalau ingin miksi harus

menunggu lama, harus mengejan, kencing terputus putus.

b. Riwayat kesehatan sekarang :

1) Pasien mengeluh sakit saat miksi dan harus menunggu lama,

dan harus mengedan

2) Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual

3) Pasien mengatakan Bak tidak terasa dan berulang

c. Riwayat kesehatan dulu

Apakah pasien pernah menderita BPH sebelumnya dan apakah

pasien pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Mungkin diantara keluarga pasien sebelumnya ada yang menderita

penyakit yang sama dengan penyakit pasien sekarang.

3. Pola fungsi kesehatan, meliputi :

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan, pola nutrisi dan

metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan latihan, pola istirahat

dan latihan, pola istirahat dan tidur, pola kognitif dan persepsi,

Page 12: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

17

persepsi diri dan konsep diri, pola peran hubungan, pola seksual dan

reproduksi, pola koping dan toleransi stress, keyakinan dan

kepercayaan.

4. Pemeriksaan fisik

Pada waktu melakukan inspeks keadaan umum pasien mengalami

tanda - tanda penurunan mental seperti neuropati perifer. Pada waktu

palpasi adanya nyeri tekan pada pada kandung kemih.

a. Data dasar pengkajian

1) Sirkulasi, tanda peningkatan tekanan darah (efek pembesaran

ginjal)

2) Eliminasi, gejala : penurunan kekuatan/dorongan aliran tetes

urine, keragu raguan pada berkemih awal, ketidakmampuan

untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap

dorongan dan frekwensi berkemih, nokturia disuria hematuria,

duduk untuk berkemih, infeksi saluran kemih berulang. Tanda :

masa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih),

nyeri tekan kandung kemih, hernia inguinalis, hemoroid

(mengakibatkan peningkatan tekanan abdominal yang

memerlukan pengosongan kandung kemih mengatasi tahanan)

3) Makanan/ cairan, gejala : anoreksia, mual, muntah, penurunan

berat badan

4) Nyeri/kenyamanan, gejala : nyeri suprapubik, panggul,

punggung, nyeri punggung bawah

5) Keamanan, gejala : demam

6) Seksualitas, gejala : masalah tentang efek kondisi/penyakit

kemampuan seksual, takut inkontinensia/menetes selama

hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi

7) Penyuluhan dan pembelajaran, gejala: riwayat keluarga kanker,

hipertensi, penyakit ginjal.

8) Aktivitas dan istirahat : riwayat pekerjaan, lamanya istirahat,

aktivitas sehari hari, pengaruh penyakit terhadap aktivitas,

pengaruh penyakit terhadap istiahat

Page 13: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

18

9) Hygiene : penampilan umum, aktivitas sehari hari, kebersihan

tubuh, frekwensi mandi

10) Integritas ego, pengaruh penyakit terhadap stress, gaya hidup,

masalah finansial

11) Neurosensori, apakah ada sakit kepala, status mental,

ketajaman penglihatan

12) Pernapasan, apakah ada sesak napas, riwayat merokok,

frekwensi napas, bentuk dada, auskultasi pernapasan

13) Interaksi sosial, status perkawinan, hubungan dalam

masyarakat, pola interaksi keluarga, komunikasi verbal/non

verbal

D. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu fungsi keperawatan yang mandiri, suatu

evaluasi dari respon pasien terhadap pengalaman kemanusiaan selama siklus

kehidupan, perkembangannya atau pada masa masa darurat, masa sakit, masa

menderita atau stress lainnya. (Suarni & Apriyani, 2017).

Menurut (Purwanto, 2016) menyatakan diagnosa keperawatan yang muncul

untuk pasien post op BPH adalah :

1. Nyeri akut b.d spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada

TURP

2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan efek nyeri/ pembedahan

3. Risiko tinggi cidera : perdarahan berhubungan dengan tindakan

pembedahan.

4. Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan

impoten akibat dari TURP

5. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, alat selama

pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih .

6. Cemas berhubungan dengan ikontinensia urine, disfungsis seksual

Page 14: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

19 19 19 E. Perencanaan Asuhan Keperawatan

Perencanaan merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan untuk menyelesaikan masalah yang dialami pasien,

masalah yang dirumuskan dalam diagnosa. (Purwanto, 2016)

Tabel 2.1

Rencana asuhan keperawatan di Ruang Bedah RSU Handayani

No Diagnosa keperawatan NOC (Nursing Outcome Care ) NIC (Nursing Intervention Care)

1 2 3

1 Nyeri akut b.d spasmus kandung

kemih dan insisi sekunder pada

TURP

Tingkat Nyeri (2102)

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang

Kriteria hasil :

1. Pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang

2. Ekspresi wajah pasien tenang

3. Pasien akan menunjukkan keterampilan

relaksasi

4. Pasien akan tidur dan istirahat dengan tepat

5. Tanda- tanda vital batas normal

Kateterisasi urin (0580)

1. Jelaskan pada pasien tentang gejala

dini spasmus kandung kemih

Rasional: pasien dapat mendeteksi

gejala dini spasmu kandung kemih

Page 15: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

20

1 2 3

2. Pemantauan pasien pada interval

yang teratur selama 48 jam, untuk

mengenal gejala gejala dini dari

spasmus kandung kemih

Rasional: menentukan terdapatnya

spasmus sehingga obat obatan bisa

diberikan

3. Jelaskan pada pasien bahwa

intensitas dan frekuensi akan

berkurang dalam 24 sampai 48 jam

Rasional: memberitahu pasien

bahwa ketidaknymanan hanya

temporer

4. Anjurkan pasien untuk tidak

duduk dalam waktu yang lama

sesudah tindakan pembedahan

Page 16: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

21

1 2 3

Rasional: mengurangi tekanan

pada luka insisi

5. Ajarkan penggunaan teknik

relaksasi, termasuk latihan nafas

dalam

Rasional : menurunkan tegangan

otot, memfokuskan kembali

perhatian dan dapat

meningkatkan koping

6. Jagalah selang drainase urine

tetap aman di paha untuk

mencegah peningkatan tekanan

pada kandung kemih.

Page 17: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

22

1 2 3

Rasional : sumbatan pada selang

kateter oleh bekuan darah dapat

menyebabkan distensi kandung

kemih dengan peningkatakan

spasme

7. Observasi tanda tanda vital

Rasional : mengetahui

perkembangan lebih lanjut

8. Kolaborasi dengan dokter untuk

memberi obat obatan (analgesik

atau anti spasmodik)

Page 18: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

23

1 2 3

2 Gangguan pola tidur b.d efek

nyeri/ pembedahan

Tidur (0004)

Tujuan : kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi

Kriteria hasil :

1. pasien mampu beristirahat/tidur dalam

batas waktu yang cukup

2. pasien mengungkapkan sudah bisa tidur

3. pasien mampu menjelaskan faktor

penghambat tidur

Peningkatan tidur ( 1850)

1. Jelaskan pada pasien dan

keluarga penyebab gangguan

tidur dan kemungkinan cara

untuk menghindari

Rasional: meningkatkan

pengetahuan pasien sehingga

mau kooperatif dalam tindakan

keperawatan

2. Ciptakan suasana yang

mendukung, suasana tenang

dalam mengurangi kebisingan

Rasional : suasana tenang akan

mendukung istirahat

Page 19: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

24

1 2 3

3. Beri kesempatan pasien untuk

mengungkapkan penyebab

gangguan tidur

Rasional: menentukan rencana

mengatasi gangguan

4. Kolaborasi dengan dokter

untuk pemberian obat yang

tepat untuk mengurangi nyeri

(analgesik)

Rasional : mengurangi nyeri

sehingga pasien bisa tidur

istirahat dengan cukup

Page 20: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

25

1 2 3

3 Risiko tinggi cidera : perdarahan

b.d tindakan pembedahan .

Keparahan cedera fisik (1913)

Tujuan: tidak terjadi perdarahan

Kriteria hasil :

1. pasien tidak menunjukkan tanda tanda

perdarahan

2. tanda tanda vital dalam batas normal

urine lancar lewat kateter

Pencegahan jatuh (6490)

1. Jelaskan pada pasien tentang

perdarahan setelah

pembedahan dan tanda tanda

perdarahan

Rasional: menurunkan

kecemasan pasien dan

mengetahui tanda tanda

perdarahan

2. Irigasi aliran kateter jika

terdeteksi gumpalan dalam

saluran keteter

Page 21: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

26

1 2 3

Rasional : gumpalan dapat

menyumbatan kateter,

menyebabkan peregangan dan

perdarahan kandung kemih

3. Sediakan diet tinggi serat dan

memberi obat untuk

mmudahkan defekasi

Rasional : dengan

peningkatakan tekanan pada

fosa prostatik yang akan

mengendapkan perdaarahan

Page 22: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

27

1 2 3

4. Mencegah pemakaian

termometer rektal,

pemeriksaan rektal atau

huknah, untuk sekurang

kurangnya satu minggu

Rasional : dapat menimbulkan

perdarahan prostat

5. Pantau traksi keteter: catat

waktu trasi dipasang dan kapan

traksi dilepas

Rasional : traksi kateter

menyebabkan pengembangan

balon ke sisi fosa prostatik,

menurunkan perdarahan.

Umumnya dilepas 3 sampai 6

jam setelh pembedahan

.

Page 23: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

28

1 2 3

6. Observasi: tanda tanda vital

tiap 4 jam,masukkan dan

haluaran dan warna urine

Rasional: deteksi awal

terhadap komplikasi, dengan

intervensi yang tepat

mencegah kerusakan jaringan

yang permanen

4 Risiko tinggi disfungsi seksual b.d

ketakutan akan impoten akibat

dari TURP

Fungsi sesksual (0119)

Tujuan : fungsi seksual dapat dipertahankan

Kriteria hasil:

1. pasien tampak rileks dan melaporkan

kecemasan menurun

2. pasien menyatakan pemahaman

situasional individual

3. pasien menunjukkan keterampilan

pemecahan masalah

Konseling seksual (5248)

1. Beri kesempatan pasien untuk

memperbincangkan tentang

pengaruh TURP pada seksual

Rasional: untuk mengetahui

masalah pasien

Page 24: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

29

1 2 3

4. pasien mengerti tentang pengaruh TURP

pada seksual

2. Jelaskan tentang: kemungkinan

kembali ketingkat tinggi

seperti semula dan kejadian

ejakulasi retrograd (air kemih

seperti air susu )

Rasional: kurang pengetahuan

dapat membangkitkan cemas

dan berdampak disfungsi

seksual

3. Mencegah hubungan seksual 3

sampai 4 minggu setelah

operasi

Rasional : bisa

terjadiperdrahan dan

ketidaknyamanan

Page 25: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

30

1 2 3

4. Dorong pasien untuk

menanyakan kedokter selama

dirawat di rumah sakit dan

kunjungan lanjutan Rasional :

untuk mengklarifikasi

kekhawatiran dan memberikan

akses kepada penjelasan yang

spesifik

5. Kurang pengetahuan tentang

TURP berhubungan dengan

kurang informasi

Rasional : pasien dapat

menguraikan pantangan

kegiatan serta kebutuhan

berobat lanjutan

Page 26: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

31

1 2 3

5 Risiko tinggi infeksi b.d prosedur

invasif, alat selama pembedahan,

kateter, irigasi kandung kemih .

Keparahan infeksi (0703)

Tujuan : pasien tidak menunjukkan tanda tanda

infeksi

Kriteria hasil:

1. pasien tidak mengalami infeksi

2. pasien dapat mencapai waktu

penyembuhan

3. tanda tanda vital dalam batas normal dan

tidak ada tanda tanda syok

Perawatan selang : perkemihan (1876)

1. Pertahankan sistem kateter

steril, berikan perawatan

kateter dengan steril

Rasional: mencegah bakteri

dan infeksi

2. Anjurkan intake cairan yang

cukup (2500 sampai 3000 ml)

sehingga dapat

mempertahankan fungsi ginjal

Rasional: meningkatkan

output urine sehingga resiko

terjadi infeksi saluran kemih

(ISK) dikurangi dan

mempertahankan fungsi ginjal

Page 27: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

32

1 2 3

3. Pertahankan posisi urobag

dibawah

Rasional : menghindari refleks

balik urine yang dapat

memasukkan bakteri kedalam

kandung kemih

4. Observasi tanda tanda vital,

laporkan tanda tanda syok dan

demam

Rasional : mencegah sebelum

terjadi syok

5. Observasi urine : warna,

jumlah dan bau

Rasional : mengidentifikasi

adanya infeksi

Page 28: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

33

1 2 3

6. Kolaborasi dengan dokter

untuk memberi obat antibiotik

Rasional : untuk mencegah

infeksi dan membantu proses

penyembuhan .

6 Cemas b.d ikontinensia urine,

disfungsis seksual

Tingkat kecemasan (1211)

Tujuan : mengurangi dan menghilangkan

kecemasan

Kriteria hasil:

1. Cemas pasien berkurang

2. Pasien menjadi lebih tenang

3. Pasien menjadi koopratif

Pengurangan kecemasan (5820)

1. Beritahukan pasien untuk

menghindari berhubungan

badan, mengatur bab, tidak

mengangkat benda berat, tidak

duduk terlalu lama selama 6

sampai 8 minggu sesudah

pembedahan

Anjurkan untuk selalu kontrol

setelah pengobatan, sebab

striktur uretra dapat terjadi dan

pertumbuhan kembali prostat

Page 29: 1919 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Teori Penyakitrepository.poltekkes-tjk.ac.id/1057/5/BAB II.pdf · D. Pathway Diagram 2.1 patofisiologi benigna hiperplasia prostat Mutaqqin

34

1 2 3

2. Jika pasien kembali kerumah

dengan keteter, kateter akan

dilepas sekitar tiga minggu

setika sistogram menunjukkan

kesembuhan

3. Nasihatilah bahwa

inkontinensia dapat terjadi

ketika terjadi peningkatan

tekanan abdominal, batuk,

tertawa.

4. Bantu pasien untuk

mengungkapkan ketakutan dan

kecemasan berhubungan

dengan potensial kehilangan

fungsi seksual dan diskusikan

dengan pasangan