3. Makalah Euthanasia

  • View
    13

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ydjy

Text of 3. Makalah Euthanasia

BAB 1PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangContoh kasus:Pasien bernama nona M berumur 23 tahun mengetahui dirinya mengidap HIV AIDS lebih kurang 7 tahun yang lalu, berbagai pengobatan untuk menghadapi tanda gejala penyakit tersebut telah dilakukan. Nona M mengikuti rehabilitasi sejak mengetahui dirinya mengidap HIV AIDS, namun sekitar 5-6 bulan belakangan nona M jarang datang dan kondisi penyakitnya memburuk. Nona M pasien mengatakkan bahwa dirinya tidak ada daya upaya lagi, nona M merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normal, ingin mengakhiri hidupnya, mengeluh bahwa dirinya, terkadang ia merasa cemas dan terancam bahwa dirinya akan mengalami sakit berkepanjangan tak berkesudahan, nona M juga mengatakan malu terhadap dirinya dan penyakitnya, ia mengeluh bahwa selalu bergantung pada orang lain dan merasa bahwa dirinya dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normal. Nona M juga terlihat sangat frustasi, ia mengatakan ingin mengakhiri hidupnya melalui euthanasia yang ia pernah dengar dari teman-temannya yang ada di luar negeri melalui chat online. Nona M juga tampak gelisah saat ditanya dan terlihat apatis. Nona M beragama Islam dan tetap dengan keputusannya ingin euthanasia. Keluarga mengatakan tidak tahu jika nona M ingin melakukan euthanasia. Keluarga mengatakan prihatin dengan kehilangan kontrol dalam keputusan yang diambil nona M.

BAB IIPEMBAHASAN2.1. Identifikasi MasalahDS = Data subjektif (data yang didapat dari keluarga pasien atau keluhan pasien)1) Pasien mengatakan bahwa dirinya tidak ada upaya lagi2) Pasien merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normal3) Pasien ingin mengakhiri hidupnya4) Pasien mengeluh bahwa dirinya terkadang ia merasa cemas dan terancam bahwa dirinya akan mengalami sakit berkepanjangan tak berkesudahan5) Pasien mengatakan malu terhadap terhadap dirinya dan penyakitnya6) Pasien mengeluh bahwa selalu bergantung kepada orang lain dan merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normalDO = Data objektif (data yang dilihat/diamati dari pasien)1) Pasien terlihat sangat frustasi2) Pasien tampak gelisah3) Pasien terlihat apatis2.2. HipotesisHipotesis adalah mencari diagnosa, apa yang dibutuhkan pasien.1) KetidakberdayaanKetidakberdayaan berhubungan dengan regimen terkait penyakit ditandai dengan :DS : 3. Pasien ingin mengakhiri hidupnya4. Pasien mengeluh bahwa dirinya terkadang ia merasa cemas dan terancam bahwa dirinya akan mengalami sakit berkepanjangan tak berkesudahan5. Pasien mengatakan malu terhadap terhadap dirinya dan penyakitnya6. Pasien mengeluh bahwa selalu bergantung kepada orang lain dan merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normalDO :1. Pasien terlihat sangat frustasi2. Pasien tampak gelisah3. Pasien terlihat apatis2.3. MekanismePengkajian (assisment)

Analisis dan Diagnose

Intervensi Keperawatan (Perencanaan)

Tindakan (Implementasi) Evaluasi2.4. More InfoAdalah isu terkait yang tidak diketahui mahasiswa Isu tentang euthanasia: Euthanasia berasal dari kata Yunani eu : baik dan thanatos : mati. Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa rasa sakit. Euthanasia sering disebut : mercy killing (mati dengan tenang). Euthanasia bisa muncul dari keinginan pasien sendiri, permintaan dari keluarga dengan persetujuan pasien (bila pasien masih sadar), atau tanpa persetujuan pasien (bila pasien sudah tidak sadar). 2.5. Dont KnowPertanyaan :1. Apakah ada hak moral alasan seseorang melakukan euthanasia?2. Apakah boleh euthanasia dilakukan di Indonesia?3. Bagaimana peran perawat pada pasien euthanasia?4. Dari segi agama islam euthanasia dilarang, ayat al-quran surah apa yang menunjukan euthanasia dilarang?Jawaban :1. Adanya hak moral bagi setiap orang untuk mati terhormat, maka seseorang mempunyai hak memilih cara kematiannya Tindakan belas kasihan pada seseorang yang sakit, meringankan penderitaan sesama adalah tindakan kebajikan Tindakan belas kasihan pada keluarga pasienMengurangi beban ekonomi.2. Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan : Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun Berdasarkan pasal ini, seorang dokter bisa dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum. Mungkin saja dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan pasal 344 ini, tetapi ia tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan pasal 388 yang berbunyi : Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun. Dokter bisa diberhentikan dari jabatannya, karena melanggar kode etik kedokteran. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 434/Men.Kes/SK/X/1983 pasal 10 menyebutkan : Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya untuk melindungi hidup makhluk insani. Di sini jelas sekali bahwa dari segi pandang hukum di Indonesia tindakan euthanasia tidak diperkenankan.3. Peran Perawat seharusnya:1) Sebagai Conselor, yaitu perawat memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pihak keluarga bahwa eutanasia bukanlah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah. Perawat bisa memberikan saran-saran lain kepada keluarga. Dan jika eutanasia tetap dilakukan, maka perawat tersebut melanggar perannya.2) Sebagai Advocat, yaitu perawat memberikan pembelaan terhadap hak-hak pasien untuk hidup dan meneruskan kehidupannya itu. Dalam hal ini kita dapat memberikan pendapat kepada dokter yang memutuskan tindakan itu agar dokter mempertimbangkan lagi keputusan itu bukan sebagai keputusan terakhir yang harus dilakukan.4. Surat Al-Hijr ayat 23 :Artinya : Dan sesungguhnya benar-benar kami-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan kami (pulalah) yang mewarisi.

Surat Al-Najm ayat 44 :Artinya :Dan bahwasanya Dia-lah (Allah) yang mematikan dan menghidupkan.

Ayat al-quran yang terkait euthanasia yaitu :1. Surat Al-Hijr ayat 23 :Artinya : Dan sesungguhnya benar-benar kami-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan kami (pulalah) yang mewarisi.2. Surat Al-Najm ayat 44 :Artinya :Dan bahwasanya Dia-lah (Allah) yang mematikan dan menghidupkan.

TEORI TENTANG EUTHANASIA : Masalah euthanasia sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Di sisi lain, pasien sudah dalam keadaan kritis sehingga takjarang pasien atau keluarganya meminta dokter untuk menghentikan pengobatan terhadap yang bersangkutan. Dari sinilah dilema muncul dan menempatkan dokter atau perawat pada posisi yang serba sulit. Dokter dan perawat merupakan suatu profesi yang mempunyai kode etik sendiri sehingga mereka dituntut untuk bertindak secara profesional. Pada satu pihak ilmu dan teknologi kedokteran telah sedemikian maju sehingga mampu mempertahankan hidup seseorang (walaupun istilahnya hidup secara vegetatif). Dokter dan perawar merasa mempunyai tanggung jawab untuk membantu menyembuhkan penyakit pasien, sedangkan di pihak lain pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap hak-hak individu juga sudah sangat berubah. Masyarakat mempunyai hak untuk memilih yang harus dihormati, dan saat ini masyarakat sadar bahwa mereka mempunyai hak untuk memilih hidup atau mati. Dengan demikian, konsep kematian dalam dunia kedokteran masa kini dihadapkan pada kontradiksi antara etika, moral, hukum dan kemampuan serta teknologi kedokteran yang sedemikian maju.I. Pengertian EUTHANASIA Euthanasia (eu = baik, thanatos = mati) atau good death / easy death sering pula disebut mercy killing pada hakekatnya pembunuhan atas dasar perasaan kasihan, sebenarnya tidak lepas dari apa yang disebut hak untuk menentukan nasib sendiri (the right self of determination) pada diri pasien. Hak ini menjadi unsur utama hak asasi manusia dan seiring dengan kesadaran baru mengenai hak-hak tersebut. Demikian pula dengan berbagai perkembangan ilmu dan teknologi (khususnya dalam bidang kedokteran), telah mengakibatkan perubahan yang dramatis atas pemahaman mengenai euthanasia. Namun, uniknya, kemajuan dan perkembangan yang pesat ini rupanya tidak diikuti oleh perkembangan di bidang hukum dan etika. Pakar hukum kedokteran Prof. Separovic menyatakan bahwa konsep kematian dalam dunia kedokteran masa kini dihadapkan pada kontradiksi antara etika, moral, dan hukum di satu pihak, dengan kemampuan serta teknologi kedokteran yang sedemikian maju di pihak lain.Menurut Hilman (2001), euthanasia berarti pembunuhan tanpa penderitaan (mercy killing). Tindakan ini biasanya dilakukan terhadap penderita penyakit yang secara medis sudah tidak mungkin lagi untuk bisa sembuh. Di dunia etik kedokteran kata euthanasia diartikan secara harfiah akan memiliki arti mati baik. Di dalam bukunya seorang penulis Yunani bernama Suetonius menjelaskan arti euthanasia sebagai mati cepat tanpa derita. Euthanasia Studi Grup dari KNMG Holland (Ikatan Dokter Belanda) menyatakan: Euthanasia adalah perbuatan dengan sengaja untuk tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan semua ini dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri. Dilihat dari cara melakukannya dikenal dua macam, yaitu euthanasia aktif jika dokter melakukan positive act yang secara langsung menyebabkan kematian dan euthanasia pasif jika dokter melakukan negative act tidak melakukan tindakan apa-apa yang secara tidak langsung menyebabkan kematian.II. Klasifikasi euthanasia a. Dilihat dari orang yang membuat keputusan euthanasia dibagi menjadi: Voluntary euthanasia, jika yang membuat keputusan adalah orang yang sakit dan Involuntary