3 Part 5 Euthanasia

  • View
    142

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of 3 Part 5 Euthanasia

Makalah PBL 30 5 Euthanasia

Anneke Susilo D - 102007031

EUTHANASIA PASIFA. Pendahuluan

Seorang pasien berusia 62 tahun datang kerumah sakit dengan karsinoma kolon yang terminal. Pasien masih cukup sadar beroendidikan tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakanya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita, dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu ia meminta kepada odkter apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll), dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat0obatnan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

Kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus yang berhubungan erat dengan etika profesi kedokteran. Dalam hal ini, diungkit adanya prosedur medis yang biasa dikenal dengan sebutan euthanasia.

Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani: eu (= baik) dan thanatos (= kematian). Jadi euthanasia artinya kematian yang baik atau mati dengan baik. 1

Euthanasia adalah pengakhiran kehidupan seseorang yang sedang dalam keadaaan sangat sakit untuk membebaskannya dari penderitaan. Euthanasia diklaim tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal. 2Seseorang yang mengalami euthanasia biasanya memiliki kondisi penyakitDalam banyak kasus, hal itu dilakukan atas permintaan pasien sendiri, tetapi ada saat-saat ketika pasien mungkin terlalu sakit keputusan dibuat oleh saudara, tenaga medis atau dalam beberapa kasus oleh pengadilan.

Euthanasia ini hanya terjadi di beberapa negara saja seperti Belanda, Swiss atau Amerika. Tapi lebih banyak negara yang melarang pelaksanaan euthanasia.

Euthanasia terbagi dalam berbagai bentuk, yang masing-masing membawa yang berbeda kebenaran dan kesalahan masing-masing, antara lain:2

1. Eutanasia aktif dan pasifDalam euthanasia aktif, dokter atau tenaga langsung dan sengaja menyebabkan kematian pasien, misalnya dengan memberikan pasien obat secara overdosis, memberikan tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

Euthanasia pasif terjadi ketika pasien meninggal karena para profesional medis tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk menjaga pasien tetap hidup atau menghentikan melakukan sesuatu yang menjaga agar pasien tetap hidup.

Contoh euthanasia pasif antara lain mematikan mesin penunjang hidup, melepas sebuah tabung makan, tidak melakukan operasi memperpanjang hidup atau tidak memberikan obat memperpanjang hidup.

2. Euthanasia sukarela dan non-sukarelaEutanasia sukarela terjadi atas permintaan dari pasien atau orang yang akan meninggal, misalnya dengan menolak perawatan medis, meminta perawatannya dihentikan atau mesin pendukung kehidupannya dimatikan atau menolak untuk makan.

Sedangkan euthanasia non-sukarela terjadi ketika pasien sadar atau tidak, sehingga ada orang lain yang mengambil keputusan atas namanya.

Euthanasia non-sukarela bisa terjadi pada kasus-kasus seperti pasien sedang koma, pasien terlalu muda (misalnya bayi), orang pikun, mengalami keterbelakangan mental yang sangat parah atau gangguan otak parah.

3. Euthanasia langsungEuthanasia langsung berarti memberikan perlakuan (biasanya untuk mengurangi rasa sakit) yang memiliki efek samping mempercepat kematian pasien.

4. Bantuan bunuh diriHal ini biasanya mengacu pada kasus-kasus yang mana orang yang akan mati membutuhkan bantuan untuk membunuh dirinya sendiri dan meminta tenaga medis untuk melakukannya.B. Mind Mapping

C. Rekam Medis

Rekam Medis adalah berkas yang beiisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, basil pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien pada sarana kesebatan, baik rawat jalan maupun rawat inap. (Definisi Rekam Medis Menurut Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/1989) 41. Riwayat Pasien:

a. Usia. Resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kasus terjadi pada usia 60 70 an, dan jarang di bawah usia 50 kecuali dalam sejarah keluarga ada yang terkena kanker kolon ini.

b. Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Dengan dihilangkannya polip pada saat ditemukan turut mengurangi resiko terjadinya kanker kolon di kemudian hari.

c. Riwayat kanker. Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap atau pernah dirawat untuk kanker kolon beresiko untuk mengidap kanker kolon di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolorektal.

d. Penyakit kolitis (radang kolon) ulseratif yang tidak diobati.

e. Kebiasaan merokok. Perokok memiliki resiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan bukan perokok.

f. Kebiasaan makan. Pernah di teliti bahwa kebiasaan makan banyak daging dan sedikit buah, sayuran, serta ikan turut meningkatkan resiko terjadinya kanker kolorektal.

g. Sedikit beraktivitas. Orang yang beraktivitas fisik lebih banyak memiliki resiko lebih rendah untuk terbentuk kanker kolorektal.

h. Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus) turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal.2. Riwayat Penyakit:

a. Perubahan kebiasaan buang air

b. Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare)

c. Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal

d. Perubahan wujud fisik kotoran/feses

i. Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar

ii. Feses bercampur lendir

iii. Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas

e. Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor

f. Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita

g. Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya

h. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan)

i. Hilangnya nafsu makan

j. Anemia, pasien tampak pucat

k. Sering merasa lelah

l. Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang

m. Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala :

i. Penderita tampak kuning

ii. Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati

iii. Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter

n. Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.

3. Riwayat Keluarga:

i. Sejarah adanya kanker kolon khususnya pada keluarga dekat.

ii. Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) Polip adenomatosa familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100% untuk terjadi kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati.

iii. Penyakit lain dalam keluarga, seperti HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer) penyakit kanker kolorektal non polip yang menurun dalam keluarga, atau sindroma Lynch

4. Riwayat Pengobatan:

Metotrexat Interferon

5. Riwayat Tindakan Medis

Bedah Paliatif

Kemoterapi

6. Hasil Laboratorium:

a. Pemeriksaan DNA Tinja.

b. Pemeriksaan kadar CEA (Carcino Embryonic Antigent) darah.

c. Pemeriksaan darah dalam tinja.

d. Pemeriksaan darah lengkap7. Hasil Radiologi:

a. Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter memeriksa keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan ini tidak selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rektum.

b. Endoskopi. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat karena selain melihat keadaan dalam kolon juga bisa bertindak, misalnya ketika menemukan polip endoskopi ini dapat sekaligus mengambilnya untuk kemudian dilakukan biopsi.

c. Pemeriksaan barium enema dengan double contrast.

d. Virtual Colonoscopy.

e. CAT Scan.

f. Whole-body PET Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren (yang timbul kembali).

INCLUDEPICTURE "http://www.endoskopischer-atlas.de/k061.jpg" \* MERGEFORMATINET

INCLUDEPICTURE "http://radiology.rsnajnls.org/content/vol244/issue2/images/medium/r07au04c01c.gif" \* MERGEFORMATINET D. Tujuan Pengobatan Minimal (Paliatif) 5 meringankan nyeri dan penderitaan lain yang dirasakan oleh pasien akibat alat-alat medis yang berlebih

memberi waktu bagi pasien kanker stadium terminal untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga, teman dan orang-orang yang dia cintai

membuat anggapan bagi pasien bahwa kematian sebagai proses yang normal, tidak mempercepat atau menunda kemauan 5

meningkatkan kualitas hidup pasien

menjaga keseimbangan psikolgis dan spiritual.

E. Prosedur Tindakan Medis

Tingkatan / Staging / Stadium Kanker Kolon

Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada klasifikasi TNM, klasifikasi Dukes, namun yang ak