of 23 /23
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Morfologi luar landak Jawa Landak Jawa memiliki permukaan dorsal tubuh yang ditutupi oleh struktur kulit yang sangat tebal dan duri-duri yang tertanam di dalamnya. Pada daerah sekitar lumbal, dorsal panggul, dan paha lateral ditutupi oleh duri yang berukuran sedang hingga panjang, sangat kaku, dan memiliki pola warna putih belang hitam atau belang coklat kehitaman (Gambar 4). Sedangkan pada ventral abdomen dan medial paha ditutupi oleh struktur duri berukuran pendek, lentur, dan memiliki pola warna coklat kehitaman atau putih kecoklatan. Gambar 4 Morfologi luar landak Jawa. Bar 10 cm. Setelah kulit dikuakkan ke dorsal, maka akan terlihat otot kulit yaitu musculus cutaneous yang menutupi susunan otot daerah panggul dan paha lateral. Saat mempreparir m. cutaneous dilakukan secara hati-hati karena otot ini sulit dipisahkan dari kulit. M. cutaneous yang ditemukan pada daerah ini merupakan kelanjutan dari m. cutaneous trunci yang membentang hingga ke posterior daerah panggul dan paha lateral. M. cutaneous yang ditemukan memiliki arah serabut kaudodorsal, sangat tebal, dan sebagai tempat melekatnya duri (Gambar 5).

4 HASIL DAN PEMBAHASAN - repository.ipb.ac.id · sekitar lumbal, dorsal panggul, dan ... No. Nama otot Origo Insersio 1. ... Pada landak Jawa, insersio otot ini untuk sebagian bersatu

Embed Size (px)

Text of 4 HASIL DAN PEMBAHASAN - repository.ipb.ac.id · sekitar lumbal, dorsal panggul, dan ... No. Nama...

15

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Morfologi luar landak Jawa

Landak Jawa memiliki permukaan dorsal tubuh yang ditutupi oleh struktur

kulit yang sangat tebal dan duri-duri yang tertanam di dalamnya. Pada daerah

sekitar lumbal, dorsal panggul, dan paha lateral ditutupi oleh duri yang berukuran

sedang hingga panjang, sangat kaku, dan memiliki pola warna putih belang hitam

atau belang coklat kehitaman (Gambar 4). Sedangkan pada ventral abdomen dan

medial paha ditutupi oleh struktur duri berukuran pendek, lentur, dan memiliki

pola warna coklat kehitaman atau putih kecoklatan.

Gambar 4 Morfologi luar landak Jawa. Bar 10 cm.

Setelah kulit dikuakkan ke dorsal, maka akan terlihat otot kulit yaitu

musculus cutaneous yang menutupi susunan otot daerah panggul dan paha lateral.

Saat mempreparir m. cutaneous dilakukan secara hati-hati karena otot ini sulit

dipisahkan dari kulit. M. cutaneous yang ditemukan pada daerah ini merupakan

kelanjutan dari m. cutaneous trunci yang membentang hingga ke posterior daerah

panggul dan paha lateral. M. cutaneous yang ditemukan memiliki arah serabut

kaudodorsal, sangat tebal, dan sebagai tempat melekatnya duri (Gambar 5).

16

Gambar 5 Situasi otot kulit daerah panggul dan paha setelah kulit dikuakkan.

1. M. cutaneous. Bar 5 cm.

4.1.2 Kelompok otot gelang panggul

Secara umum struktur otot-otot gelang panggul pada landak Jawa hampir

mirip dengan anjing, babi, dan pemamah biak, kecuali pada m. quadratus

lumborum. Namun dengan ukuran ruas pada ossa vertebrae lumbales yang lebih

pendek, maka kelompok otot gelang panggul pada landak Jawa juga menjadi

relatif lebih pendek (Gambar 6). Kelompok otot gelang panggul yang dapat

ditemukan antara lain m. psoas minor, m. iliopsoas (m. psoas major, m. iliacus

venter lateral et medial), dan m. quadratus lumborum. Otot-otot gelang panggul

yang ditemukan beserta origo dan insersionya dapat dilihat pada Tabel 2.

1

1

17

Tabel 2 Kelompok otot gelang panggul landak Jawa

No. Nama otot Origo Insersio

1. M. psoas minor Os vert. thoracicae XIII dan

ossa vert. lumbales I-III

Tuberculum m.

psoas minor

2. M. iliopsoas

a. M. psoas major Processus transversus os vert.

thoracicae XIII,

proc.transversus, dan corpus

ossa vert. lumbales

Trochanter minor

b. M. iliacus venter lateral Ventral tuber coxae Trochanter minor

c. M. iliacus venter medial Os vert. lumbales V Trochanter minor

3. M. quadratus

lumborum

Corpus ossa vertebrae

thoracicae IX-XIII, proc.

transversus ossa vertebrae

lumbales I et II

Tuber coxae

(venter lateral),

proc.transversus

ossa vertebrae

lumbales V et VI

(venter medial)

Musculus psoas minor memiliki origo berupa serabut muskularis yang

relatif kecil dan membentuk pita urat yang sempit, panjang, dan kuat pada

insersionya. Pada landak Jawa otot ini berorigo pada bagian ventral dari os

vertebrae thoracicae XIII dan ossa vertebrae lumbales I-III. Sedangkan

insersionya terletak pada tuberculum m. psoas minor (Gambar 6).

Musculus iliopsoas terbagi menjadi tiga otot yaitu m. psoas major, m.

iliacus venter lateral, dan m. iliacus venter medial. Musculus psoas major

merupakan otot yang relatif panjang dan tebal dengan origo pada processus

transversus os vertebrae thoracicae XIII, serta processus transversus dan corpus

dari ossa vertebrae lumbales. Otot ini berinsersio pada trochanter minor di antara

m. iliacus lateralis dan medialis (Gambar 6). Musculus iliacus lateralis

merupakan otot yang relatif lebih tipis dan pendek dengan origo pada bagian

ventral dari tuber coxae. Sedangkan musculus iliacus medialis memiliki ukuran

yang sangat tipis dan pendek dengan origo pada os vertebrae lumbales V. Kedua

otot ini memiliki insersio yang bersatu dengan insersio dari m. psoas major yaitu

pada trochanter minor os femoris (Gambar 6).

Musculus quadratus lumborum merupakan otot yang relatif panjang dengan

origo yang terletak pada corpus ossa vertebrae thoracicae IX-XII berupa serabut

muskularis. Origo dari otot ini kemudian dilanjutkan sebagai serabut urat yang

18

pendek dan menempel pada processus transversus ossa vertebrae lumbales I et II.

Pada landak Jawa, otot ini terbagi menjadi dua venter yaitu venter lateral yang

berinsersio pada tuber coxae dan venter medial yang berinsersio pada processus

transversus ossa vertebrae lumbales V et VI (Gambar 6).

Gambar 2 Otot-otot gelang panggul.

1. m. iliacus venter lateral, 2. m. psoas major, 3. m. iliacus venter medial, 4.

m. psoas minor, 5. m. quadratus lumborum venter lateral, 6. m. rectus

femoris, 7. m. vastus medialis, 8. m. sartorius (a. pars cranialis, b. pars

caudalis), 9. m. gluteus superficialis. Bar 5 cm.

4.1.3 Kelompok otot paha lateral

Kelompok otot-otot ini menempati daerah panggul dan lateroplantar paha.

Susunan otot yang ditemukan pada daerah ini terdiri atas m. tensor fasciae latae,

m. gluteus superficialis, m. gluteus medius, m. piriformis, m. gluteus profundus,

m. biceps femoris, m. abductor cruris caudalis, m. semitendinosus, m.

semimembranosus, m. quadriceps femoris, mm. gemelli, m. obturatorius externus,

kranial

kranial

1

2

3 4

5 6

8a

7

8a

8b

9

1

2

3 4

5

6

7

8b

9

8a 8a

19

dan m. obturatorius internus. Landak Jawa memiliki beberapa otot panggul dan

paha lateral yang sangat berkembang karena ukurannya relatif sangat lebar dan

tebal di antaranya adalah m. tensor fasciae latae, m. biceps femoris, m.

semitendinosus, dan m. quadriceps femoris (Gambar 7). Otot-otot panggul dan

paha lateral pada landak Jawa yang ditemukan beserta origo dan insersionya dapat

dilihat pada Tabel 3.

Musculus tensor fasciae latae merupakan otot yang berbentuk segitiga,

tebal, dan lebar sehingga menutupi hampir sebagian daerah panggul dan paha

lateral. Pada bagian kranial otot ini bersatu dengan m. sartorius pars cranialis

dengan origo pada tuber coxae dan fascia glutea. Otot ini berinsersio pada fascia

lata sehingga secara tidak langsung bertaut dengan os patellae, ligamentum recti

patellare, dan bagian kaudolateral dari os femoris (Gambar 7, 8, 9).

Musculus gluteus superficialis merupakan otot yang relatif pendek dan tebal

serta terletak profundal dari m. tensor fasciae latae. Pada landak Jawa otot ini

berada di sebelah ventral dari m. gluteus medius dan berorigo pada tuber coxae.

Sedangkan insersionya terdapat pada bagian kaudal dari trochanter major os

femoris (Gambar 8, 9).

Musculus gluteus medius merupakan otot yang panjang, tebal, dan besar

pada landak Jawa. Otot ini terletak di antara m. piriformis di bagian kaudal, m.

gluteus superficialis di bagian ventral, dan pada daerah yang mendekati

insersionya sebagian bersatu dengan m. gluteus profundus. Origo otot ini terdapat

pada fascia glutea, fascia thoracolumbal, dan mencapai hingga ke ossa vertebrae

lumbales II et III. Otot ini memiliki insersio yang membulat dan terletak pada

trochanter major os femoris (Gambar 8, 9).

Musculus piriformis berukuran relatif pendek namun sedikit tebal pada

landak Jawa. Otot ini memiliki venter yang membulat dan terletak kaudal dari m.

gluteus medius. Otot ini berorigo pada fascia glutea dan berinsersio pada facies

lateralis os femoris (Gambar 8, 9). Ketiga kelompok otot gluteal yaitu m. gluteus

superficialis, m. gluteus medius, dan m. piriformis merupakan otot yang terletak

superfisial dan mudah ditemukan setelah m. tensor fasciae latae dikuakkan.

20

Tabel 3 Kelompok otot paha lateral landak Jawa

No. Nama otot Origo Insersio

1. M. tensor fasciae latae Tuber coxae, fascia glutea Fascia lata, os

patellae, lig. recti

patellare, kaudolateral

os femoris

2. M. gluteus

superficialis

Tuber coxae Trochanter major

3. M. gluteus medius Fascia glutea, fascia

thoracolumbal, ossa vert.

lumbales II et III

Trochanter major

4. M. piriformis Fascia glutea Facies lateralis dari

os femoris

5. M. gluteus profundus Corpus ossis ilii dan spina

ischiadica

Trochanter major

6. M. biceps femoris Lig. sacrospinosum et

tuberosum, secara tidak

langsung ke proc.spinosus

ossa vert. sacrale, proc.

spinosus dan

proc.transversus ossa

coccygeae I-III (caput

sacrale).

Tuber ischii (caput ischii)

Lig. recti patellare, os

patellae, tuberositas

tibiae, crista tibiae,

fascia cruris di distal

os tibia

7. M. abductor cruris

caudalis

Tuber ischii Facies lateralis os

tibia

8. M. semitendinosus Fascia glutea, proc.spinosus

ossa vert. sacrale, ossa

coccygea I-III

Fascia cruris pada

laterodistal dan 1/2

mediodistal dari os

tibia

9. M. semimembranosus Tuber ischii Condylus medialis os

femoris dan os tibia

10. M. quadriceps femoris

a. M. rectus femoris

Os ilium di kranial

acetabulum

Facies anterior dan

basis patella

b. M. vastus lateralis Kraniolateral os femoris,

trochanter major

Facies anterior dan

lateralis patella,

lig.recti patellare

c. M. vastus medialis Collum os femoris,

kraniomedial os femoris

Facies anterior dan

medialis patella, lig.

recti patellare

d. M. vastus intermedius Bagian dorsal dari os femoris Basis patella

11. M. gemelli Spina ischiadica, incisura

ischiadica major et minor

Fossa trochanterica

12. M. obturatorius

externus

Bagian ventral dari os

ischium dan os pubis

Bagian distal dari

crista trochanterica

13. M. obturatorius internus Facies medialis dari os pubis

dan os ischii

Fossa trochanterica

21

Musculus gluteus profundus merupakan otot yang tebal dan terletak paling

profundal di antara kelompok otot gluteal. Otot ini berorigo pada corpus ossis ilii

dan spina ischiadica serta berinsersio pada bagian dorsal dari trochanter major os

femoris (Gambar 8, 9). Pada landak Jawa otot ini untuk sebagian bersatu dengan

m. gluteus medius di bagian insersionya.

Musculus biceps femoris merupakan otot yang sangat lebar dan tebal pada

landak Jawa. Origo otot ini terbagi menjadi dua kepala yaitu caput sacrale dan

caput ischii (Gambar 7, 8, 9). Caput sacrale mempunyai ukuran yang lebih

panjang dan lebar dengan origo pada ligamentum sacrospinosum et tuberosum,

dan secara tidak langsung berorigo pada processus spinosus dari ossa vertebrae

sacrale, processus spinosus dan processus transversus dari ossa coccygeae I-III.

Sedangkan pada caput ischii mempunyai ukuran yang lebih pendek dan sempit

dengan origo pada tuber ischii. Insersio kedua caput bersatu dan melebar dengan

ujung yang tidak terbagi di sepanjang ligamentum recti patellare, os patellae,

tuberositas tibiae, crista tibiae, dan mencapai hingga fascia cruris pada distal os

tibia (Gambar 7, 8, 9). Pada landak Jawa, insersio otot ini untuk sebagian bersatu

dengan insersio lateral dari m. semitendinosus.

Musculus abductor cruris caudalis memiliki ukuran yang relatif sangat

panjang namun sangat tipis pada landak Jawa. Otot ini berorigo di tuber ischii

dan terletak profundal dari m. biceps femoris caput ischii. Pada landak Jawa otot

ini berjalan menuju ke profundal dari m. semitendinosus bagian lateral dan

berinsersio pada facies lateralis os tibia (Gambar 8, 9).

Musculus semitendinosus merupakan otot yang relatif panjang, tebal, dan

terletak paling plantar dari regio femur. Pada landak Jawa otot ini memiliki origo

yang membulat dan sangat lebar. Otot ini berorigo pada fascia glutea, processus

spinosus dari ossa vertebrae sacrale dan ossa coccygea I-III. Pada landak Jawa

otot ini berbeda dengan hewan lain karena memiliki insersio yang terpisah pada

bagian lateral dan medial dari os tibia. Insersio lateral otot ini terletak pada fascia

cruris di permukaan laterodistal os tibia, sedangkan insersio sebelah medial dari

otot ini terletak pada setengah mediodistal dari os tibia (Gambar 8, 9, 10, 11).

Musculus semimembranosus merupakan otot yang tebal pada landak Jawa.

Pada bagian lateral otot ini tertutupi oleh m. semitendinosus, sedangkan di medial

22

otot ini terletak profundal dari m. gracilis. Origo dari otot ini terdapat pada tuber

ischii, sedangkan insersio dari otot ini terdapat pada condylus medialis dari os

femoris dan os tibia (Gambar 8, 9).

Musculus quadriceps femoris merupakan otot yang relatif besar dan tebal

pada landak Jawa. Otot ini terletak di bagian dorsal, lateral, dan medial paha serta

mendominasi di bagian dorsal dengan bentuknya yang cembung. Kelompok otot

ini dapat ditemukan dengan mudah setelah m. tensor fasciae latae dikuakkan. M.

quadriceps femoris terdiri atas empat caput yaitu m. rectus femoris, m. vastus

lateralis, m. vastus medialis, dan m. vastus intermedius (Gambar 9). Musculus

rectus femoris merupakan otot yang terletak paling dorsal di antara kelompok otot

m. quadriceps femoris. Pada bagian lateral otot ini sebagian besar ditutupi oleh m.

vastus lateralis yang berukuran lebih lebar di bagian lateral. Otot ini berorigo

pada os ilium di kranial acetabulum serta berinsersio pada basis dan facies

anterior os patella (Gambar 9, 11).

Musculus vastus lateralis merupakan otot yang relatif lebar dan tebal pada

landak Jawa sehingga menutupi sebagian besar m. rectus femoris. Otot ini

berorigo pada bagian kraniolateral dari os femoris dan trochanter major.

Sedangkan insersio dari otot ini terdapat pada facies anterior os patella, facies

lateralis os patella, ligamentum recti patellare dan bergabung dengan m. rectus

femoris pada bagian insersionya (Gambar 9).

Musculus vastus medialis merupakan otot yang lebar dan tebal pada landak

Jawa. Otot ini terletak pada medial paha dengan origo pada collum os femoris dan

permukaan kraniomedial dari os femoris. Sedangkan insersio dari otot ini terdapat

pada facies anterior os patella, facies medialis os patella, ligamentum recti

patellare dan bergabung dengan m. rectus femoris pada bagian insersionya

(Gambar 11).

Musculus vastus intermedius merupakan otot yang terletak di antara ketiga

caput yang lain dan dapat ditemukan setelah m. vastus lateralis dikuakkan. Otot

ini melekat pada bagian dorsal (kranial) dari os femoris yang merupakan sekaligus

sebagai tempat pembersitannya (Gambar 9). Sedangkan insersio dari otot ini

terdapat pada basis patella dan bergabung dengan m. rectus femoris pada bagian

insersionya.

23

Musculi gemelli merupakan otot yang relatif kecil pada landak Jawa. Otot

ini berbentuk seperti kipas dan dipisahkan secara tidak sempurna oleh insersio

dari m. obturatorius internus menjadi m. gemellus superior et inferior. Origo otot

ini terdapat pada sepanjang spina ischiadica dan incisura ischiadica major et

minor, sedangkan insersionya terdapat pada fossa trochanterica.

Musculus obturatorius externus merupakan otot yang tebal dan terletak di

profundal dari m. pectineus. Pada landak Jawa otot ini berorigo pada bagian

ventral dari os ischium dan os pubis serta menutupi bagian ventral dari foramen

obturatorium. Sedangkan insersionya terletak pada bagian distal dari crista

trochanterica.

Musculus obturatorius internus merupakan otot yang berbentuk seperti

kipas pada landak Jawa. Otot ini membersit dari ruang panggul dan berorigo pada

facies medialis dari os pubis dan os ischii, sehingga menutupi bagian dorsal dari

foramen obturatorium. Selanjutnya, otot ini menyeberang ke lateral melalui

insicura ischiadica minor menuju insersionya di fossa trochanterica. Pada landak

Jawa insersio otot ini membelah m. gemelli menjadi menjadi m. gemelli superior

dan m. gemelli inferior.

Gambar 3 Otot-otot paha lateral lapis superfisial.

1. m. tensor fasciae latae, 2. m. semitendinosus, 2. Insersio lateral m.

semitendinosus, 3. m. biceps femoris (a. caput sacrale, b. caput ischii), 4. m.

sartorius pars cranialis, 5. fascia lata, 6. fascia glutea. Bar 5 cm.

1 4

5

6

3a

3b

2

2

1 4

5

6

3a

3b

2

2

24

Gambar 8 Otot-otot paha lateral lapis profundal.

1. m. tensor fasciae latae, 2. m. biceps femoris (a. caput sacrale, b. caput

ischii), 3. m. semitendinosus, 4. m. semimembranosus, 5. m. abductor cruris

caudalis, 6. m. vastus lateralis, 7. m. gluteus superficialis, 8. m. gluteus medius,

9. m. piriformis, 10. m. adductor, 11. m. iliacus venter lateral. Bar 5 cm.

Gambar 9 Otot-otot paha lateral lapis profundal setelah m. vastus lateralis dikuakkan.

1. m. tensor fasciae latae, 2. m. biceps femoris (a. caput sacrale, b. caput

ischii), 3. m. semitendinosus, 4. m. semimembranosus, 5. m. abductor cruris

caudalis, 6. m. vastus lateralis, 7. m. rectus femoris, 8. m. vastus intermedius, 9.

m. adductor, 10. m. piriformis, 11. m. gluteus superficialis, 12. m. gluteus

medius, 13. m. iliacus venter lateral, 14. os femoris. Bar 5 cm.

1

2a

2b

2

3

3

4 6

7 8

9

10

11

5

1

2a

2b

2

3

3

4 6

7

8

9

10

11

5

9

5

1

2a

2b

3

3

4

6

6

7 8

10

11

12

13

14

2

5

1

2a

2b

3

4

3

6

6

7 8 9

10

11

12

13

14

2

25

4.1.4 Kelompok otot paha medial

Secara umum kelompok otot paha medial pada landak Jawa juga

berkembang dengan sangat baik dan memiliki ukuran yang lebar dan tebal

terutama pada m. gracilis, m. pectineus, dan m. adductor. Kelompok otot paha

medial yang dapat ditemukan terdiri atas m. sartorius (pars cranialis dan pars

caudalis), m. gracilis, m. pectineus, dan m. adductor (m. adductor longus dan m.

adductor magnus et brevis). Otot-otot paha medial pada landak Jawa yang

ditemukan beserta origo dan insersionya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Kelompok otot paha medial landak Jawa

No. Nama otot Origo Insersio

1. M. sartorius

a. pars cranialis Fascia glutea, tuber

coxae

Os patellae, lig. recti

patellare, fascia lata,

kaudolateral os femoris

b. pars caudalis Eminentia iliopubica,

symphysis pelvis

Os patellae, lig. recti

patellare

2. M. gracilis Symphysis pelvis, tendo

praepubicum

Tuberositas tibiae,

bagian proksimal dari

crista tibiae

3. M. pectineus Eminentia iliopubica,

symphysis pelvis

Margo medial os femoris

4. M. adductor

a. M. adductor longus Lig.sacrospinosum et

tuberosum

Condylus medialis os

femoris

b. M. adductor magnus

et brevis

Tuberculum pubicum,

ventrolateral

symphysis pelvis

Bagian kaudal os femoris

Musculus gracilis merupakan otot yang relatif lebar dan menutupi sebagian

besar bidang medial paha. Pada landak Jawa otot ini relatif panjang dengan origo

yang terdapat pada symphysis pelvis dan tendo praepubicum. Sedangkan insersio

otot ini terdapat pada tuberositas tibiae dan setengah bagian proksimal dari crista

tibiae (Gambar 10, 11).

Landak Jawa memiliki musculus sartorius yang terbagi menjadi dua yaitu

m. sartorius pars cranialis dan m. sartorius pars caudalis (Gambar 10, 11).

Musculus sartorius pars cranialis merupakan otot yang panjang dan agak tebal.

Otot ini bersatu dengan m. tensor fasciae latae di kranial paha dan berorigo di

tuber coxae dan fascia glutea. Insersio otot ini terletak pada os patellae,

ligamentum recti patellare, fascia lata, dan permukaan kaudolateral dari os

26

femoris. M. sartorius pars caudalis merupakan otot yang relatif lebih lebar dan

terletak di profundal dari m. gracilis. Pada permukaan otot ini membersit arteri

dan vena femoralis. Otot ini berorigo pada eminentia iliopubica dan symphysis

pelvis, serta berinsersio pada os patellae dan ligamentum recti patellare.

Musculus pectineus merupakan otot yang berbentuk segitiga, besar, dan

tebal pada landak Jawa. Otot ini mengisi ruangan yang terletak di antara m.

vastus medialis pada bagian kranial dan m. adductor di bagian kaudal. Origo otot

ini adalah eminentia iliopubica dan symphysis pelvis, sedangkan insersionya

terdapat pada margo medial dari os femoris (Gambar 11).

Musculus adductor pada landak Jawa dapat dipisahkan menjadi dua bagian

yaitu m. adductor longus dan m. adductor magnus et brevis. Musculus adductor

longus merupakan otot yang panjang dan tipis. Otot ini membersit dari lateral

femur pada ligamentum sacrospinosum et tuberosum dan menuju ke medial femur

pada condylus medialis os femoris. M. adductor magnus et brevis merupakan otot

yang tebal dengan origo pada tuberculum pubicum dan ventrolateral symphysis

pelvis serta berinsersio pada bagian kaudal os femoris (Gambar 11).

Gambar 10 Otot-otot paha medial lapis superfisial.

1. m. sartorius (a. pars cranialis, b. pars caudalis), 2. m. gracilis, 3. m.

adductor magnus et brevis, 4. m. semitendinosus, 5. m. vastus medialis, 6.

m. biceps femoris. Bar 5 cm.

kranial

kranial

2

1a

1b

3 4

5

6

2

1a

1b

3 4 5

6

27

Gambar 11 Otot-otot paha medial lapis profundal.

1. m. sartorius (a. pars cranialis, b. pars caudalis), 2. m. rectus femoris, 3.

m. vastus medialis, 4. m. pectineus, 5. m. adductor magnus et brevis, 6. m.

adductor longus, 7. m. semimembranosus, 8. m. gracilis, 9. m.

semitendinosus, 10. m. iliacus venter lateral, 11. m. psoas major, 12. m.

iliacus venter medial, 13. tendo insersio m. psoas minor, 14. venter lateral

m. quadratus lumborum. Bar 5 cm.

kranial

kranial

3

1a

1a

2

4

5

6

7

8

9

10

11 12

13

14

1b

1b

3

1a 1a

2

4

5

6

7

8

11

9

14

1b

1b

12

10

13

28

4.2 Pembahasan

Landak merupakan mamalia yang unik terutama kemampuannya dalam

mempertahankan diri. Landak memertahankan diri dengan menggunakan duri-

duri yang ada di sekujur tubuhnya. Ketika merasa terancam landak akan

menegakkan duri yang ada di tubuhnya dan menghasilkan suara berderak yang

berasal dari duri yang ada di ekor (Roze 1989; Wardi et al. 2011). Jika ancaman

berlanjut maka landak akan bertindak agresif dengan membalikkan badannya dan

bersiap menyerang dengan cara berusaha menancapkan duri-duri tajamnya ke

dalam tubuh musuh (Sastrapradja et al. 1982; Wardi et al. 2011). Selain itu

perilaku menegakkan duri pada landak juga terlihat pada saat sebelum dan sedang

berlangsungnya kopulasi. Perilaku ini terlihat pada landak betina saat menegakkan

duri di bagian belakang tubuh dan mengangkat ekornya sehingga daerah

urogenital terekspos kepada landak jantan (Gambar 12). Aktivitas ini akan

memudahkan landak jantan untuk menaiki landak betina (mounting) dan

melakukan penetrasi penis ke dalam vagina (intromission) (Felicioli et al. 1997).

Aktivitas landak Jawa dalam menggali dan membuat lubang juga dilakukan

sebagai bentuk adaptasinya di dataran rendah. Landak membuat lubang dengan

cara menggali tanah pada gua-gua, celah bebatuan, daerah berbukit, dan tanah

lapang dengan kondisi tanah yang beragam (Michael et al. 2003). Aktivitas

menggali dilakukan secara cepat menggunakan kaki depan untuk menguraikan

tanah, kemudian tanah akan dibuang dan dikeluarkan dari lubang penggalian

dengan menggunakan kaki belakang (Feldhamer et al. 1999). Kombinasi gerakan

kaki depan dan kaki belakang secara abduksi, adduksi, protraksi, dan retraksi ke

arah kaudal dan lateral dilakukan sehingga tanah dapat dbuang dan dikeluarkan

dari lubang penggalian. Aktivitas-aktivitas landak Jawa dalam mempertahankan

diri, kopulasi, adaptasi terhadap lingkungan dengan membuat lubang, dan

aktivitas lainnya tersebut perlu melibatkan struktur anatomis, salah satunya oleh

struktur dan susunan perototan daerah panggul dan paha pada kaki belakang.

Landak Jawa memiliki musculus cutaneous yang sangat lebar dan tebal.

Otot kulit ini menutupi permukaan daerah panggul dan paha lateral dengan arah

serabut kaudodorsal. Pada landak Jawa ditemukan bahwa duri-duri pertahanan

yang menempati sebagian besar daerah panggul dan paha menancap hingga m.

29

cutaneous ini. Menurut Grzimek (1975) otot kulit pada landak berfungsi sebagai

tempat melekat dan menarik duri ke atas (penegang) ketika ada ancaman yang

mendekat. Beberapa spesies hewan seperti anjing, babi, kuda, dan pemamah biak

tidak memiliki struktur m. cutaneous pada daerah panggul dan paha (Pasquini et

al. 1989). Selain itu, arah serabut kaudodorsal pada otot ini diduga akan

menegakkan duri ke arah dorsokaudal dan kaudolateral. Arah tegak duri tersebut

menyebabkan landak akan selalu berusaha memertahankan dirinya dari arah

belakang dan lateral tubuhnya, sehingga posisi menyerang dominan landak adalah

dalam keadaaan membelakangi musuhnya (Gambar 11). Struktur m. cutaneous

pada daerah gluteal juga dapat ditemukan pada spesies beruk (Macaca

nemestrina) yang disebut dengan m. panniculus carnosus, namun memiliki fungsi

berbeda yaitu sebagai penggerak kulit daerah punggung saat menyingkirkan

kotoran dan serangga yang menggigit (Husein 2012).

Secara umum landak Jawa memiliki kelompok otot gelang panggul yang

tidak jauh berbeda dengan anjing, babi, dan pemamah biak. Namun dengan

ukuran ruas pada ossa vertebrae lumbales yang lebih pendek, maka otot pada

gelang panggul menjadi relatif lebih pendek pada landak Jawa. Secara umum

otot-otot gelang panggul memiliki fungsi utama sebagai fleksor collumna

vertebralis ke ventral dan lateral serta mencuramkan sikap pelvis. Kelompok otot

gelang panggul pada landak Jawa tersusun atas m. psoas minor, m. iliopsoas (m.

iliacus venter lateral et medial, m. psoas major), dan m. quadratus lumborum.

Musculus psoas minor berukuran relatif kecil dan pendek pada landak Jawa.

Otot ini memiliki origo yang berupa serabut muskularis, sedangkan insersionya

berupa serabut urat yang panjang dan tipis. Struktur otot ini mirip dengan hewan

lain seperti anjing, babi, dan pemamah biak (Sisson 1975), namun pada landak

Jawa m. psoas minor memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dan pendek

disebabkan oleh ukuran ossa vertebrae lumbales yang lebih pendek. Menurut

Sisson (1975) otot ini berfungsi sebagai fleksor collumna vertebralis ke ventral

dan mencuramkan sikap pelvis. Pada landak terdapat gerakan mendorong dan

memasukkan penis ke dalam vagina (intromission) ketika kopulasi (Felicioli et al.

1997). Gerakan pelvis ini sangat efektif dengan bentuk m. psoas minor berupa

serabut muskularis pada origonya dan berbentuk pita urat tipis dan panjang pada

30

insersionya. Dengan bentuk ini, sedikit kontraksi pada m. psoas minor akan dapat

menarik pelvis ke arah kranial sehingga sangat menghemat energi pada saat

kopulasi (Supratikno 2002).

Musculus iliopsoas terdiri atas tiga otot yaitu m. psoas major, m. iliacus

venter lateral, dan m. iliacus venter medial. Struktur m. iliopsoas pada landak

Jawa memiliki ukuran yang tebal dengan origo yang hampir mirip dengan pada

anjing yaitu pada os vertebrae thoracales XIII serta corpus dan processus

transversus dari ossa vertebrae lumbales. Sedangkan pada babi, kuda, dan

pemamah biak otot ini berorigo pada dua costae terakhir serta corpus dan

processus transversus ossa vertebrae lumbales (Sisson 1975). Secara keseluruhan

otot ini berfungsi sebagai fleksor persendian paha, fleksor collumna vertebralis ke

lateral jika bekerja monolateral, dan fleksor collumna vertebralis ke ventral jika

bekerja bilateral (Pasquini et al. 1989). Pada anjing, babi, dan pemamah biak otot

ini terutama berfungsi untuk meneruskan kekuatan dorongan kaki belakang ke

sumbu tubuh pada saat berjalan atau berlari. Sedangkan pada landak Jawa, otot

ini diduga berpengaruh pada kemampuan memertahankan dirinya dengan cara

menghempaskan ekor serta tubuh bagian belakang untuk menyerang musuhnya

(Vaughan et al. 2000). Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara memfleksorkan

collumna vertebralis ke lateral secara kuat terutama oleh m. psoas major yang

berukuran lebih tebal. Selain itu aktivitas ini juga membutuhkan kelenturan

gerakan collumna vertebralis yang ditunjang oleh m. iliacus venter lateral et

medial yang berukuran lebih tipis dan pendek.

Landak Jawa memiliki m. quadratus lumborum yang berbeda

dibandingkan pada anjing, babi, dan pemamah biak. Pada landak Jawa otot ini

unik karena terbagi menjadi venter medial dan venter lateral yang tidak dimiliki

oleh struktur m. quadratus lumborum pada hewan lainnya (Gambar 2). Sehingga

diduga m. quadratus lumborum pada landak Jawa berfungsi memperkuat kerja

dari m. iliopsoas untuk memfleksor collumna vertebralis ke lateral dan

menghempaskan daerah panggul dan ekor untuk menyerang musuh. Sedangkan

pada anjing, babi, dan pemamah biak otot ini berorigo pada dua atau tiga ossa

vertebrae thoracales terakhir dan processus transversus lumbales, serta

berinsersio pada ala ossis ilii (Budras et al. 2007; Sisson 1975). Sehingga pada

31

anjing, babi, dan pemamah biak otot ini lebih berperan sebagai fiksator ossa

vertebrae lumbales dan dua atau tiga costae yang terakhir (Pasquini et al. 1989).

Kelompok otot paha lateral pada landak Jawa terdiri atas m. tensor fasciae

latae, m. gluteus superficialis, m. gluteus medius, m. piriformis, m. gluteus

profundus, m. biceps femoris, m. semitendinosus, m. semimembranosus, m.

quadriceps femoris, mm. gemelli, m. obturatorius externus, dan m. obturatorius

internus. Landak Jawa memiliki kelompok otot panggul dan paha lateral yang

sangat berkembang. Otot-otot yang berperan sebagai abduktor, protraktor dan

retraktor kaki belakang mendominasi dengan ukurannya yang relatif lebar dan

tebal yaitu m. tensor fasciae latae, m. quadriceps femoris, m. gluterus medius, m.

biceps femoris, dan m. semitendinosus.

Musculus tensor fasciae latae pada landak Jawa berukuran sangat lebar dan

tebal, serta bersatu dengan m. sartorius pars cranialis. Ukurannya yang sangat

lebar dan tebal menyebabkan otot ini mampu memfleksor persendian paha dan

mengekstensor persendian lutut secara maksimal. Keadaan ini menguatkan

dugaan bahwa otot ini berperan dalam aktivitas menggali dengan gerakan

protraksi kaki belakang secara maksimal. Gerakan protraksi ini kemudian

dilanjutkan oleh otot-otot retraktor dan abduktor kaki belakang, sehingga tanah

dapat dikeluarkan ke arah kaudolateral dari lubang penggalian. Selain itu,

kemampuan memrotraksikan kaki belakang juga berperan pada saat meninggikan

daerah panggul landak dalam posisi menungging untuk mengarahkan duri

pertahanan ke arah musuhnya (Compion 2010). Pada anjing, babi, dan pemamah

biak otot ini terutama berfungsi untuk gerakan ketika berlari. Fungsi keseluruhan

dari otot ini adalah memfleksor persendian paha, meregangkan fascia lata, dan

ekstensor persendian lutut (Pasquini et al. 1989). Untuk fungsi meregangkan

fascia lata, otot ini dibantu oleh m. sartorius pars cranialis.

Gambar 12 Perilaku mempertahankan diri pada landak (Compion 2010).

32

Musculus gluteus superficialis pada landak Jawa merupakan otot yang

relatif besar dan tebal serta terletak profundal dari m. tensor fasciae latae. Landak

Jawa memiliki m. gluteus superficialis yang tidak bersatu dengan otot lainnya

sama seperti pada anjing. Otot ini berfungsi sebagai ekstensor persendian paha

yang menyebabkan kaki belakang tertarik ke kaudal. Berdasarkan fungsinya,

maka otot ini diduga bekerja sinergis dengan otot-otot retraktor kaki belakang

memberikan kontribusi pada perilaku landak dalam menggali tanah dan berjalan.

Sedangkan pada babi dan pemamah biak otot ini bersatu dengan m. biceps femoris

membentuk m. gluteobiceps (Pasquini et al. 1989). Pada babi dan pemamah biak

hal ini bertujuan untuk memperkuat retraksi kaki belakang sehingga mendapatkan

gaya dorong yang lebih kuat (Supratikno 2002).

Landak Jawa memiliki musculus gluteus medius yang relatif panjang dan

tebal dengan insersio yang membulat. Otot ini berfungsi sebagai ekstensor

persendian paha dan abduktor kaki belakang. Penebalan otot ini diduga berkaitan

dengan tuntutan gerakan retraksi yang kuat pada saat landak menggali dan

mengeluarkan tanah dari lubang penggalian. Pada anjing keadaan otot ini

berukuran lebih pendek diduga lebih banyak berkontribusi pada saat anjing berlari

dan membutuhkan gaya dorong yang kuat. Pada pemamah biak m. gluteus medius

relatif tidak terlalu subur karena tidak banyak melakukan gerakan retraksi kaki

belakang (Nurhidayat et al. 2009). Pada bagian profundal otot ini sebagian

bersatu dengan insersio dari m. gluteus profundus. Sedangkan pada bagian kaudal

otot ini terdapat musculus piriformis yang memiliki ukuran lebih kecil, sehingga

diduga berfungsi menunjang m. gluteus medius dalam melakukan gerakan

ekstensor persendian paha dan abduktor kaki belakang.

Musculus gluteus profundus untuk sebagian bersatu dengan m. gluteus

medius di bagian insersionya. Pada landak otot ini mirip dengan anjing namun

berukuran relatif lebih kecil. Pada anjing otot ini berfungsi sebagai penunjang

gerak abduksi kaki belakang oleh m. gluteus medius (Budras et al. 2007).

Berdasarkan analogi ini maka pada landak Jawa otot ini diduga berfungsi untuk

menunjang m. gluteus medius dalam gerakan abduksi kaki belakang. Gerakan

abduksi kaki belakang penting bagi perilaku menggali tanah karena menyediakan

gaya dorong kaki belakang ke lateral sehingga tanah bisa dikeluarkan ke lateral

33

dari lubang penggalian. Kelompok otot gluteal bekerjasama secara sinergis untuk

menghasilkan gerakan retraksi yang kuat, ekstensor persendian paha, dan abduksi

kaki belakang terutama pada perilaku landak dalam menggali tanah yang

kemudian mengeluarkannya ke arah kaudolateral dari lubang penggalian.

Landak Jawa memiliki struktur musculus biceps femoris yang berbeda

dengan anjing, babi, dan pemamah baik. Pada landak otot ini sangat lebar dan

tebal serta terbagi menjadi dua kepala (caput) pada origonya. Keunikan dari otot

ini pada landak Jawa adalah origonya yang mencapai hingga ke processus

spinosus dari ossa vertebrale sacrale dan ossa coccygea I-III, sama seperti pada

origo m. semitendinosus. Origo yang mencapai ke daerah sakrum dan ekor pada

kedua otot ini diduga berperan sebagai mekanisme pertahanan diri dengan cara

menghempaskan daerah panggul dan ekor secara aktif untuk menyerang musuh.

Apabila otot ini bekerja sama dengan m. iliopsoas, m. quadratus lumborum, dan

m. semitendinosus maka diduga serangan yang dihasilkan oleh landak dapat

berakibat pada luka tusukan duri yang fatal pada musuh. Selain itu diduga otot ini

juga berperan sebagai penghasil suara duri berderak pada saat mengancam musuh

dengan cara menggerakkan ekor secara cepat dan ritmis. Secara keseluruhan otot

ini berfungsi sebagai ekstensor pesendian paha, fleksor persendian lutut pada saat

tungkai diangkat dari tanah, dan abduktor kaki belakang (Budras et al. 2007;

Pasquini et al. 1989). Selain itu, pada landak Jawa otot ini memiliki insersio yang

melebar dan tidak terbagi hingga ke daerah distal os tibia. Sehingga otot ini

diduga berperan memperkuat gerakan fleksor persendian lutut, namun membatasi

kemampuan landak Jawa dalam melakukan posisi bipedal.

Musculus abductor cruris caudalis memiliki ukuran yang relatif panjang

dan tipis pada landak Jawa. Otot ini juga dimiliki oleh anjing dengan ukuran yang

lebih panjang dan tebal dibandingkan dengan landak Jawa (Evans dan Alexander

2010). Sedangkan pada babi dan pemamah biak otot ini tidak ditemukan (Sisson

1975). Menurut Budras et al. (2007) otot ini berfungsi sebagai penunjang yang

kurang signifikan bagi fungsi abduksi dari m. biceps femoris.

Musculus semitendinosus merupakan otot yang relatif panjang dan tebal

dengan origo yang lebar dan membulat. Pada landak Jawa otot ini memiliki origo

yang terletak pada processus spinosus dari ossa vertebrale sacrale dan ossa

34

vertebrae coccygea I-III sama seperti origo dari m. biceps femoris caput sacrale.

Sehingga diduga otot ini berperan untuk menunjang kerja m. biceps femoris dalam

mekanisme pertahanan diri dengan cara menghempaskan ekor dan bagian

belakang tubuhnya untuk menyerang serta menghasilkan suara berderak untuk

mengancam musuhnya. Sedangkan insersionya terbagi pada bagian lateral dan

medial di distal os tibia. Keadaan otot yang terpisah pada insersionya diduga

dapat meningkatkan daya retraksi dan abduksi untuk memperkuat dorongan kaki

belakang ke kaudal dan lateral pada saat menggali tanah dan berjalan. Selain itu,

pada perilaku landak terdapat aktivitas menjilati regio inguinal untuk merangsang

perkemihan (Norsuhana et al. 2009). Sehingga ketika otot ini bersinergi dengan

otot-otot abduktor kaki belakang lainnya maka diduga dapat menunjang gerakan

abduksi kaki belakang untuk mempermudah mencapai regio inguinal. Keadaan

otot ini berbeda pada anjing, babi, dan pemamah biak karena memiliki origo yang

terletak pada tuber ischii dengan insersio yang tidak terpisah dan terletak lebih ke

distal dari os tibia. Selain itu pada babi otot ini memiliki dua kepala mirip seperti

pada kuda (Sisson 1975). Secara umum fungsi m. semitendinosus pada anjing,

babi, dan pemamah biak adalah sebagai ekstensor persendian paha, fleksor

persendian lutut, dan abduktor kaki belakang (Budras et al. 2007; Sisson 1975).

Musculus semimembranosus merupakan otot yang tebal pada landak Jawa.

Keadaan otot ini mirip seperti pada anjing, babi, dan pemamah biak dengan origo

pada tuber ischii dan insersio pada condylus medialis dari os femoris dan os tibia

(Budras et al. 2007; Sisson 1975). Fungsi dari otot ini adalah sebagai ekstensor

persendian paha, fleksor persendian lutut, dan adduktor kaki belakang (Nurhidayat

et al. 2009; Pasquini et al. 1989). Hal ini diduga pada landak Jawa otot ini

berperan memperkuat fungsi retraksi kaki belakang yang dilakukan oleh m. biceps

femoris dan m. semitendinosus.

Musculus quadriceps femoris terdiri atas empat otot pada landak Jawa yaitu

m. vastus lateralis, m. rectus femoris, m. vastus intermedius, dan m. vastus

medialis. Otot ini memiliki ukuran yang relatif lebar, tebal, dan cembung di

bagian dorsalnya. Menurut Pasquini et al. (1989) otot ini berfungsi sebagai

ekstensor utama persendian lutut dan fleksor persendian paha. Selain itu otot ini

juga berfungsi sebagai adduktor kaki belakang pada saat m. vastus medialis

35

berkontraksi. Ukurannya yang relatif tebal pada keempat venter menghasilkan

kontraksi yang kuat untuk melakukan fungsi ekstensor lutut. Sehingga otot ini

diduga berperan pada saat landak mengekstensikan persendian lutut semaksimal

mungkin untuk mencapai posisi menungging dan menyerang musuhnya (Compion

2010). Selain itu otot ini juga diduga berperan untuk mencapai posisi bipedal

pada saat landak jantan menaiki betina dan melakukan kopulasi (Felicioli et al.

1997). Posisi bipedal dapat dicapai dengan fungsi ekstensi persendian lutut secara

maksimal oleh m. quadriceps femoris yang ditunjang oleh m. tensor fasciae latae,

serta fungsi ekstensi persendian paha secara maksimal yang dilakukan oleh

kelompok otot gluteal.

Gambar 13 Perilaku kawin pada Hystrix cristata. A. landak betina

memperlihatkan daerah inguinal (display behavior), B. landak

jantan menaiki betina dan intromisi (Felicioli et al. 1997).

Musculi gemelli pada landak Jawa memiliki keadaan yang hampir mirip

dengan pada anjing dibandingkan pada babi dan pemamah biak. Hal ini

dikarenakan pada landak Jawa dan anjing otot ini dipisahkan oleh insersio m.

obturatorius internus menjadi m. gemellus superior et inferior (Budras et al.

2007). Sedangkan pada babi dan pemamah biak otot ini merupakan otot yang

tidak dipisahkan oleh otot lainnya (Sisson 1975). Menurut Pasquini et al. (1989)

otot ini berfungsi untuk memutar kaki belakang ke lateral. Pada landak Jawa otot

ini diduga berperan terutama untuk menunjang dan memperkuat gerakan abduksi

kaki belakang seperti pada saat aktivitas menggali tanah dan menjilati regio

inguinal. Aktivitas menjilati regio inguinal yang dilakukan oleh landak bertujuan

untuk merangsang perkemihan (Norsuhana et al. 2009).

Musculus obturatorius externus pada landak Jawa memiliki keadaan yang

hampir mirip seperti pada anjing, babi, dan pemamah biak. Menurut Pasquini et

al. (1989) otot ini berfungsi untuk memutar kaki belakang ke lateral. Sehingga

pada landak Jawa otot ini diduga menunjang fungsi mm. gemelli dan m.

A B

36

obturatorius externus untuk memperkuat gerakan abduksi kaki belakang seperti

pada saat aktivitas menggali tanah dan menjilati regio inguinal untuk merangsang

perkemihan.

Musculus obturatorius internus pada landak Jawa memiliki keadaan yang

mirip dengan anjing dibandingkan pada babi dan pemamah biak. Hal ini

dikarenakan pada landak Jawa dan anjing, otot ini keluar dari ruang panggul

melalui insicura ischiadica minor untuk mencapai insersionya di fossa

trochanterica (Pasquini et al. 1989). Selain itu pada landak Jawa dan anjing otot

ini juga memisahkan mm. gemelli menjadi m. gemellus superior et m. gemelli

inferior (Budras et al. 2007). Sedangkan pada babi dan pemamah biak, otot ini

keluar dari ruang panggul melalui foramen obturatorium untuk mencapai

insersionya di fossa trochanterica (Nurhidayat et al. 2009; Sisson 1975).

Menurut Sisson (1975) otot ini berfungsi memutar kaki belakang ke lateral.

Sehingga pada landak Jawa otot ini juga diduga berperan terutama untuk

menunjang gerakan abduksi kaki belakang seperti pada saat aktivitas menggali

tanah dan menjilati regio inguinal untuk merangsang perkemihan.

Musculus sartorius pada landak Jawa terdiri atas dua otot yaitu m. sartorius

pars cranialis yang menempati sebagian besar dorsal femur dan m. sartorius pars

caudalis yang terletak lebih ke medial femur. Struktur otot ini mirip dengan

anjing dengan otot yang terbagi dua, namun keduanya lebih banyak terletak di

dorsal femur (Pasquini et al. 1989). Pada anjing bentuk ini sesuai dengan

fungsinya yaitu sebagai fleksor persendian paha dan ekstensor persendian lutut.

Hal ini berkaitan dengan adaptasi untuk menarik kaki belakang ke depan pada saat

berlari mengejar mangsanya (Supratikno 2002). Sedangkan pada landak Jawa,

terutama m. sartorius pars cranialis, diduga lebih banyak berperan sebagai

protraktor kaki belakang pada saat aktivitas menggali tanah atau meninggikan

daerah panggul dalam posisi menungging untuk mengarahkan duri dan menyerang

musuhnya. Berbeda dengan landak dan anjing, pada babi dan pemamah biak otot

ini hanya terbagi di bagian proksimal dan menyerupai bentuk huruf Y yang

berfungsi memfiksir arteria dan vena femoralis (Sisson 1975; Pasquini et al.

1989). Pada landak Jawa dengan adanya m. sartorius pars caudalis yang terletak

lebih ke medial femur sekaligus berfungsi sebagai adduktor kaki belakang.

37

Musculus gracilis merupakan otot yang lebar dan menutupi sebagian besar

bidang medial paha pada landak Jawa. Struktur m. gracilis memiliki keadaan

yang hampir sama dengan hewan lainnya. Secara keseluruhan otot ini berfungsi

sebagai adductor kaki belakang dan ekstensor persendian lutut (Budras et al.

2007; Pasquini et al. 1989). Pada landak Jawa otot ini diduga menunjang gerakan

retraksi kaki belakang dalam perilakunya menggali tanah. Sedangkan pada anjing

otot ini memperkuat gaya dorong kaki belakang pada saat berlari terutama pada

anjing yang digunakan untuk pacuan (Budras et al. 2007).

Musculus pectineus memiliki keadaan yang hampir sama dalam hal origo

dan insersio dengan hewan lain. Pada landak Jawa otot ini berbentuk segitiga dan

tebal karena otot ini berfungsi memperkuat kerja m. adductor dalam mengadduksi

kaki belakang. Gerakan adduksi kaki belakang diduga bekerja pada saat menggali

dan membuang tanah dari lubang penggalian.

Landak Jawa memiliki musculus adductor yang dapat dipisahkan menjadi

dua otot yaitu m. adductor magnus et brevis dan m. adductor longus. Struktur

otot ini yang terpisah menjadi dua juga ditemukan pada anjing, namun tidak

ditemukan terpisah pada babi dan pemamah biak (Budras et al. 2007; Sisson

1975). M. adductor magnus et brevis memiliki ukuran yang relatif lebih besar

dan mendominasi paha medial lapis profundal, sehingga otot ini lebih banyak

berfungsi sebagai adduktor utama paha dan ekstensor persendian paha (Pasquini

et al. 1989). Sedangkan pada m. adductor longus yang berukuran lebih panjang

dan tipis berfungsi sebagai penunjang fungsi dari m. adductor magnus et brevis.

Gerakan ekstensi persendian paha dan adduksi kaki belakang berperan pada saat

landak menggali tanah.

Pengamatan yang dilakukan terhadap otot-otot daerah panggul dan paha

landak Jawa menunjukkan bahwa hewan ini memiliki proporsi perdagingan yang

cukup tebal, namun memiliki jaringan lemak intermuskular yang sangat sedikit

dan struktur serabut otot-ototnya yang sangat halus. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Aripin dan Mohammad (2008); Storch (1990) yang menyatakan

bahwa landak atau porcupine berasal dari kata porcus babi dan pine duri

sehingga disebut sebagai babi berduri, karena potensi perdagingannya yang tebal

seperti babi. Meskipun landak disebut sebagai babi berduri, hewan ini tidak

memiliki hubungan filogenetik dengan babi.