5 TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Kelapa Sawit ?· Morfologi Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman…

  • View
    220

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

5

TINJAUAN PUSTAKA

Morfologi Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman monokotil, batangnya lurus,

tidak bercabang dan tidak mempunyai kambium dan tingginya dapat mencapai 15-

20 meter. Batang kelapa sawit memiliki diameter 40-75 cm, dengan tinggi batang

pada budidayanya biasanya tidak lebih dari 18 meter. Batang kelapa sawit

mempunyai tiga fungsi utama, yaitu : a. struktur yang mendukung daun, bunga

dan buah; b. sebagai sistem pembuluh yang mengangkut air dan hara mineral ke

atas, serta hasil fotosintesis dari daun kebagian lain; c. berfungsi sebagai organ

penimbunan makanan. Batang kelapa sawit akan diselimuti bekas pelepah hingga

umur 12 tahun. Setelah 12 tahun pelepah yang mengering dan membusuk akan

terlepas, sehingga penampilan kelapa sawit menjadi mirip dengan tanaman kelapa

(Mangoensoekarjo dan Semangun 2005).

Akar kelapa sawit berfungsi untuk menunjang struktur batang di atas

tanah, menyerap unsur hara dalam tanah, dan alat respirasi. Kelapa sawit memiliki

sistem akar serabut, yang terdiri atas akar primer, sekunder, tersier dan kuarter.

Akar primer tumbuh dari pangkal batang (bole), diameternya berkisar antara 8-10

mm, panjangnya dapat mencapai 18 cm. Akar sekunder tumbuh dari akar primer

dengan diameter 2-4 mm, dari akar sekunder tumbuh akar tersier dengan diameter

0,7-1,5 mm dan panjangnya dapat mencapai 15 cm. Akar-akar kelapa sawit

membentuk lapisan anyaman yang tebal di dekat permukaan tanah, dan juga

terdapat beberapa akar napas yang mengarah ke samping atas. Sebagian besar

perakaran tanaman kelapa sawit berada dekat permukaan tanah, hanya sedikit

yang berada pada kedalaman 90 cm (Mangoensoekarjo dan Semangun 2005).

Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu, yaitu bunga jantan dan

betina berada terpisah tetapi masih di dalam satu pohon. Bunga jantan dan betina

memiliki waktu pematangan yang berbeda sehingga sangat jarang terjadi

penyerbukan sendiri. Bunga jantan berbentuk lancip dan panjang, sementara

bunga betina berbentuk lebih besar dan mekar. Jenis kelamin bunga jantan atau

betina ditentukan 9 bulan setelah inisiasi, dan selang 24 bulan untuk inflor bunga

berkembang sempurna. Buah kelapa sawit adalah buah batu yang sessile (sessile

drup), menempel dan bergerombol pada tandan buah. Jumlah buah per tandan

6

dapat mencapai 1.600 buah, berbentuk lonjong membulat dengan panjang buah 2-

3 cm dan bobotnya 30 gram. Minyak dihasilkan oleh buah yang masak dengan

kandungan 45-50 persen dari bobot mesokarp. Setelah melewati fase matang,

kandungan asam lemak jenuh dan tak jenuh akan meningkat dan buah akan rontok

dengan sendirinya. Buah terdiri atas tiga lapisan, a. eksokarp, yaitu bagian kulit

buah berwarna kemerahan dan licin; b. mesokarp, yaitu bagian serabut buah, dan;

c. endokarp, yaitu cangkang pelindung inti (Mangoensoekarjo dan Semangun

2005).

Daun kelapa sawit tersusun majemuk menyirip. Daun kelapa sawit terdiri

atas kumpulan anak daun (leaflets) yang mempunyai helaian dan tulang anak

daun, rachis yang merupakan tempat anak daun melekat, tangkai daun (petiole)

yang merupakan bagian antara daun dan tangkai, dan seludang pembuluh (sheath)

yang berfungsi sebagai pelindung dari kuncup dan memberikan kekuatan pada

batang. Pada tanaman dewasa dapat menghasilkan 40-60 daun dan akan

menghasilkan bakal daun setiap dua minggu serta memiliki masa hidup fungsional

selama dua tahun. Panjang daun dapat mencapai 5-7 meter dan memiliki 100-160

pasang anak daun linear. Setiap tahun 18-24 pelepah daun akan dihasilkan, daun

tersusun secara spiral dan teratur yang dinamakan phylotaxis. Jumlah pelepah

dalam satu spiral berjumlah delapan pelepah (Mangoensoekarjo dan Semangun

2005).

Permodelan

Kemajuan teknologi memungkinkan kita melakukan prediksi hasil dari

tanaman melalui model. Model dapat dikatakan sebagai penyederhanaan dari

suatu sistem yang kompleks. Sistem dapat dijabarkan sebagai mekanisme yang

terjadi pada dunia nyata, dimana sistem merupakan kumpulan dari komponen

sistem yang terorganisasi dan mempunyai tujuan yang sama. Di dalam model akan

terdapat submodel-submodel lagi sehingga merangkai suatu model yang lebih

baik. Model dikatakan sebagai penyederhanaan, karena tidak semua yang terjadi

pada sistem dapat dibuat modelnya.

Tujuan dari dibuatnya model yaitu untuk melakukan prediksi, untuk

memahami suatu proses dan untuk kegiatan manajemen (Handoko 2005). Dengan

menggunakan model dan data yang ada kita dapat melakukan prediksi hasil dari

7

suatu kegiatan pertanian kedepannya, misalkan untuk memprediksi kapan

tanaman yang kita tanaman akan panen. Dalam suatu sistem hanya beberapa

komponen yang berpengaruh terhadap model yang kita buat. Pada model yang

lebih detail maka komponen yang kita perlukan juga akan semakin banyak. Hal

ini diperlukan agar proses dalam suatu sistem dapat kita mengerti dan pelajari,

misalnya bagaimana cahaya dapat berpengaruh terhadap hasil dan produksi

tanaman. Dalam proses manajemen model dijadikan sebagai kontrol, dimana hasil

yang sebenarnya akan di bandingkan dengan data prediksi yang dibuat.

Dalam pembuatan model ada beberapa tahap yang harus dilewati, yaitu

penentuan tujuan, pembuatan model, validasi, kalibrasi, aplikasi dan evaluasi

(Handoko 2005). Tujuan dalam pembuatan model harus jelas, terutama apa yang

ingin kita capai dari hasil model tersebut, sehingga parameter dan data yang kita

gunakan tepat dalam penyusunan model. Validasi dilakukan dengan data

nyata/real yang kita miliki dan kita bandingkan dengan data hasil prediksi yang

dikeluarkan dari model. Apabila terdapat perbedaan yang mencolok maka kita

lakukan kalibrasi agar model yang kita buat lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Berikutnya kita dapat mengaplikasikan model yang kita buat, sehingga model

yang kita susun dapat digunakan. Model yang kita buat harus kita evaluasi lagi,

agar model yang kita susun semakin mendekati dengan sistem yang akan kita buat

modelnya.

Hasil penelitian Henson dan Dolmat (2003), penentuan perkembangan

kanopi sangat penting untuk menentukan berapa banyak cahaya yang diserap yang

dirubah menjadi produksi. Pada tanaman kelapa sawit besaran LAI bergantung

kepada luas pelepah, jumlah pelepah dan satuan tanaman per ha. Intersepsi cahaya

oleh kanopi (pelepah) merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan

tanaman, produksi biomassa serta dalam model pertumbuhan tanaman (Awal et al.

2005). Penelitian Okoye et al. (2011) menyatakan modeling produksi tandan

buah segar kelapa sawit menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap

genotif, lingkungan dan interaksi genotif dan lingkungan.

Model yang disusun oleh Henson (2000), menunjukkan bahwa model

yang disusun belum dapat mensimulasi hasil kelapa sawit dengan baik pada

kondisi cuaca yang berubah-ubah. Hal ini diakibatkan karena produksi tandan

8

segar tergantung pada jumlah sink yang ada, serta input dan data-data terbaru

diperlukan untuk membantu mensimulasi tingkat kompleksitas produksi tandan.

Fisiologi Pembuahan dan Hasil Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit mulai menghasilkan pada umur 24 sampai 30 bulan

setelah ditanam di lapang, dan mampu mengasilkan tandan hingga 15

tandan/tahun dengan berat mencapai 1525 kg. Buah kelapa sawit normalnya

memerlukan waktu 20-22 minggu untuk proses pematangan buah. Kematangan

buah kelapa sawit dapat diartikan sebagai tercapainya akumulasi maksimum

minyak yang terkadung dalam satu buah, dan seluruh buah dalam tandan (Razali

et al. 2012).

Produksi tandan pada tanaman kelapa sawit dipengaruhi oleh beberapa

faktor, seperti pemupukan, air, pasokan karbohidrat dan polinasi. Perubahan dari

beberapa faktor ini dapat menurunkan atau meningkatkan produksi dari tandan

buah. Kekurangan pemupukan dan polinasi yang buruk , yang dapat diakibatkan

oleh keduanya atau secara terpisah akan memicu rendahnya produksi tandan

(Harun dan Noor 2002).

Gambar 1. Diagram perkembangan bunga kelapa sawit (Siregar 1998)

Penentuan jenis kelamin atau pemisahan jenis kelamin merupakan proses

yang penting dalam pembentukan seks rasio kelapa sawit. Seks rasio yang

dimaksud merupakan perbandingan antara jumlah bunga betina dengan

keseluruhan bunga yang diproduksi pada waktu tertentu. Semakin tinggi seks ratio

atau semakin tinggi bunga betina, artinya peluang untuk mendapatkan produksi

tandan yang tinggi semakin besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi seks ratio

meliputi umur tanaman, jumlah hari kering, penyinaran matahari dan curah hujan

selama musim kemarau (Siregar 1998). Fase perkembangan bunga dapat dilihat

pada Tabel 1.

Bakal Bunga(Primordial)

Bunga Mekar(anthesis)

Penentuan Kelamin(Sex determination)

Buah Matang Panen(Ripening)

8-9 bulan 14.5-22 bulan 5-9 bulan27.5-37 bulan

19.5-28 bulan

9

Tabel 1. Fase perkembangan bagian buah pada tanaman kelapa sawit

Nomor pelepah Perkiraan bulan sebelumpanen

Tingkat perkembangan

L 46 38 Pembentukan awal bungaL 17 24 Jumlah spiklet ditentukanL 12 22 Jumlah bunga per spliketL 11 18 Penentuan jenis kelam