Abi Kosmetik

Embed Size (px)

Text of Abi Kosmetik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kosmetika sudah dikenal orang sejak zaman dahulu kala. Di Indonesia sendiri sejarah tentang kosmetologi telah dimulai jauh sebelum zaman penjajah Belanda, namun tidak ada catatan yang jelas mengenai hal tersebut yang dapat dijadikan pegangan. Hal tersebut diawali tentang pengetahuan kosmetika tradisional yang diperoleh secara turun menurun dari orang tua ke generasi penerusnya. Oleh sebab itu tidak dapat diragukan lagi bahwa kebutuhan akan kosmetika dewasa ini sudah demikian primer bagi seluruh wanita, sebagian pria, dan anak-anak. Jadi besar dan kuatnya industri kosmetika yang tidak kalah kuatnya dengan industri-industri lain. Kebutuhan akan kosmetik menjadi kebutuhan primer bagi kaum wanita. Hal ini dikarenakan wanita selalu ingin tampil cantik dimanapun dan dalam keadaan apapun. Tak dapat dipungkiri bahwa 9 dari 10 wanita selalu menggunakan kosmetik disetiap harinya. Permasalahan yang sering dihadapai oleh konsumen adalah penggunaan bahanbahan berbahaya pada beberapa jenis kosmetik. Belum lama ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan hasil temuan penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam kosmetika yang diantaranya mencakup penggunaan bahan merkuri, hidrokuinon, zat pewarna rhodamin B. Efek dari penggunaan bahan-bahan tersebut sangat bervariasi dari yang hanya memberikan efek iritasi ringan hingga meyebabkan kerusakan organorgan tubuh tertentu. Rendahnya kesadaran konsumen terhadap kosmetika dengan sendirinya tidak mendorong produsen untuk memperhatikan kehalalan produknya. Hal ini dapat dibuktikan dari sedikitnya jumlah produsen konsumen yang sudah memiliki sertifikat halal. Kenyataan ini memberikan tantangan kepada konsumen untuk mengenal lebih baik bahan-bahan kosmetika untuk dapat memilih dan memilah kosmetika yang akan digunakan.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat diajukan dalam makalah ini adalah , sebagai berikut: 1. Apa itu kosmetika 2. Bahan-bahan dasar apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan kosmetik

3. Bagaimana cara menganalisis bahan-bahan yang terdapat dalam kosmetik 4. Bagaimana pengolahan limbah dari hasil sisa industri kosmetik 1.3 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengertian kosmetik 2. Untuk mengetahui bahan-bahan dasar apa saja yang digunakan dalam pembuatan kosmetik dan berbahaya atau tidaknya bahan-bahan yang digunakan tersebut 3. Untuk mengetahui cara analisis bahan-bahan yang terdapat dalam kosmetik 4. Untuk mengetahui proses pengolahan limbah hasil sisa industri kosmetik

BAB II ISI

2.1 Pengertian Kosmetik Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Iswari, 2007). Komposisi utama dari kosmetik adalah bahan dasar yang berkhasiat, bahan aktif dan ditambah bahan tambahan lain seperti : bahan pewarna, bahan pewangi, pada pencampuran bahan-bahan tersebut harus memenuhi kaidah pembuatan kosmetik ditinjau dari berbagai segi teknologi pembuatan kosmetik termasuk farmakologi, farmasi, kimia teknik dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997). Krim merupakan suatu sediaan berbentuk setengah padat mengandung satu atau lebih bahan kosmetik terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai, berupa emulsi kental mengandung tidak kurang 60 % air ditujukan untuk pemakaian luar. Yang diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau (water in oil, W/O) seperti penyegar kulit dan minyak dalam air (oil in water,O/W) seperti susu pembersih ( Anief, 1993). Kualitas krim meliputi : a. Mudah dioleskan merata pada kulit. b. Mudah dicuci bersih dari daerah lekatan. c. Tidak menodai pakaian. d. Tidak berbau tengik. e. Bebas partikulat keras dan tajam. f. Tidak mengiritasi kulit. Adapun bahan dasar krim misalnya dalam krim pelembab adalah : mineral oil, lanolin, paraffin wax, olive oil, dan bahan tambahan lainnya (Ditjen POM, 1985). 2.1.1 Penggolongan Kosmetik Penggolongan kosmetik antara lain berdasarkan kegunaan bagi kulit : a. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetic).

Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun, susu pembersih wajah, dan penyegar kulit (freshner) Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer), misalnya mouisterizer cream, night cream. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen foundation, sun block cream/lotion. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya scrup cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengampelas (abrasiver).

b. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up) Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik. Dalam kosmetik riasan, peran zat pewarna dan zat pewangi sangat besar (Iswari, 2007). Pada penggolongan kosmetik, krim wajah termasuk dalam kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetic) yang mempunyai tujuan untuk melembabkan kulit serta melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Namun tidak untuk diagnosis, pengobatan serta pencegahan penyakit. 2.1.2 Kosmetik yang Menimbulkan Reaksi Negatif Pada Kulit a. Kosmetik Pemutih Kulit Mengandung Hidrokoinon Hidrokinon direkomendasikan oleh dokter ahli kulit sebagai preparat pemutih kulit atau peluntur pigmen kulit. Hidrokinon dapat menimbulkan dermatitis kontak dalam bentuk bercak berwarna putih dan menimbulkan reaksi hiperpigmentasi. Efek samping hidrokinon berupa iritasi kulit ringan, panas, merah, gatal. Monobenzil hidrokinon 2-4 % merupakan pemutih yang sangat kuat sehingga dapat terjadinya bintik-bintik hitam pada kulit. b. Kosmetik Pemutih Kulit Mengandung Merkuri Ammoniated mercury 1-5 % direkomendasikan sebagai bahan pemutih kulit karena berpotensi sebagai bahan pemucat warna kulit. Daya pemutih pada kulit sangat kuat. Karena toksisitasnya terhadap organ-organ ginjal, saraf dan sebagainya sangat kuat maka dilarang pemakaiannya didalam sediaan kosmetik. Ada dua jenis reaksi negatif yang terlihat : reaksi iritasi dan reaksi alergi berupa perubahan warna kulit.

c. Kosmetik Pemutih Kulit Mengandung Retinoat Asam retinoat merupakan asam vitamin A yang digunakan untuk pengobatan akne secara topical. Prinsip pengobatan akne secara topical adalah untuk mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi akne. Asam vitamin A sebanyak 0,025-1% berguna sebagai bahan iritan atau pengelupas senyawa lain. Namun asam retinoat kini tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan efek samping yang tidak menguntungkan (Iswari, 2007). 2.2 Bahan-bahan Dasar Penyusun Kosmetik Dasar kosmetika biasanya terdiri dari bermacam-macam bahan dasar, bahan aktif dan bahan pelengkap. Bahan-bahan tersebut mempunyai aneka fungsi antara lain sebagai solvent (pelarut), emulsier (pencampur), pengawet, adhesive (pelekat), pengencang, absortent (penyerap) dan desinfektan. Pada umumnya 95 % dari kandungan kosmetika adalah bahan dasar dan 5 % bahan aktif atau kadang-kadang tidak mengandung bahan aktif. Hal ini mengandung arti bahwa kosmetika, sifat dan efeknya tidak ditentukan oleh bahan aktif tetapi terutama oleh bahan dasar kosmetika. Bahan dasar kosmetika dikelompokkan sebagai berikut : 2.2.1 Solvent (Pelarut) Solvent atau pelarut adalah bahan yang berfungsi sebagai zat pelarut seperti air, alkohol, eter, dan minyak. Bahan yang dilarutkan dalam zat pelarut terdiri atas 3 bentuk yaitu padat (garam), cair (gliserin) dan gas (amoniak) 2.2.2 Emulsier (Pencampur) Emulsier merupakan bahan yang memungkinkan dua zat yang berbeda jenis dapat menyatu, misalnya lemak atau minyak dengan air menjadi satu campuran merata (homogen). Emulgator, umumnya memiliki sifat

menurunkan tegangan permukaan antara dua cairan (surfactant). Contoh emulgator yaitu lilin lebah, lanolin, alkohol atau ester asam-asam lemak. 2.2.3 Preservative (Pengawet) Bahan pengawet digunakan untuk meniadakan pengaruh kumankuman terhadap kosmetika, sehingga kosmetika tetap stabil tidak cepat kadaluwarsa. Bahan pengawet yang aman digunakan biasanya yang bersifat

alami. Bahan pengawet untuk kosmetika dapat menggunakan senyawa asam benzoat, alkohol, formaldehida dan lain-lain. Jenis pengawet kimia efeknya pada kulit seringkali tidak baik. Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan, penggunaan kosmetik sebaiknya dicoba dulu misalnya pada kulit di belakang telinga. Kosmetika yang sudah kadaluwarsa sebaiknya tidak digunakan lagi. Batas kadaluwarsa beberapa jenis kosmetik, sejak kemasan dibuka dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1.1 Batas Kadaluwarsa Beberapa Jenis Kosmetik 2.2.4 Adhesive (Pelekat) Bahan yang biasanya terdapat dalam kosmetika seperti bedak, dengan maksud agar bedak dapat dengan mudah melekat pada kulit dan tidak mudah lepas. Bahan pelekat dalam bedak antara lain menggunakan seng stearat dan magnesium stearat. 2.2.5 Astringent (Pengencang) Merupakan bahan pengencang yang mempunyai daya untuk

mengerutkan dan menciutkan jaringan kulit. Bahan pengencang biasanya menggunakan zat-zat yang bersifat asam lemah dalam kadar rendah, alkohol dan zat-zat khusus lainnya. 2.2.6 Absortent (Penyerap). Bahan penyerap mempunyai daya mengabsorbsi cairan, misalnya kalsium karbonat dalam bedak yang dapat menyerap keringat di wajah. 2.2.7 Desinfektan Desinfektan berguna untuk melindungi kulit dan bagian-bagian tubuh lain terhadap pengaruh-pengaruh mikro-organisme. Desinfektan dalam kosmetika sering menggunakan ethyl alkohol, propilalkohol, asam borat fenol dan senyawa-senyawa amonium kuaterner. Bahan dasar yang paling banyak digunakan dalam kosmetika adalah lemak, air, alkohol dan serbuk. Lemak sebagai bahan dasar kosmetika berfungsi untuk : 1. Lemak dapat membentuk lapisan tipis di permukaan