of 139 /139
AKIBAT HUKUM KEPAILITAN PT UNITED COAL INDONESIA TERHADAP KARYAWAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit.2015 juncto Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.) Oleh : TITIA ULVA SAPITRI NIM : 11150480000066 P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A 1440 H / 2019 M

AKIBAT HUKUM KEPAILITAN PT UNITED COAL INDONESIA …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/47548/1/TITIA ULVA SAPITRI-FSH.pdfv ABSTRAK Titia Ulva Sapitri, NIM 11150480000066,

  • Author
    others

  • View
    12

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of AKIBAT HUKUM KEPAILITAN PT UNITED COAL INDONESIA...

  • AKIBAT HUKUM KEPAILITAN PT UNITED COAL INDONESIA

    TERHADAP KARYAWAN

    (Analisis Putusan Mahkamah Agung Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit.2015 juncto

    Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018)

    Skripsi

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)

    Oleh :

    TITIA ULVA SAPITRI

    NIM : 11150480000066

    P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    J A K A R T A

    1440 H / 2019 M

  • v

    ABSTRAK

    Titia Ulva Sapitri, NIM 11150480000066, “AKIBAT HUKUM KEPAILITAN

    PT UNITED COAL INDONESIA TERHADAP KARYAWAN (Analisis

    Putusan Mahkamah Agung Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit.2015 juncto Nomor

    557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018)”. Peminatan Hukum Bisnis, Program Studi Ilmu

    Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta, 1440 H/2019 M.

    Pailit merupakan suatu keadaan di mana debitor tidak mampu untuk

    melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para kreditornya.

    Keadaan tidak mampu membayar disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan

    (Financial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami kemunduran. Tidak

    sedikit ketika suatu perusahaan yang dinyatakan pailit berdampak besar pada

    kerugian yang dialami oleh para kreditor- kreditornya, terutama pada karyawan

    terhadap perusahaan yang dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Tujuan

    penelitian ini untuk mengetahui pertimbangan hukum Pengadilan Niaga terhadap

    Karyawan dan implikasi putusan kasasi Mahkamah Agung terhadap karyawan

    ketika perusahaan dinyatakan pailit.

    Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dan library

    research (studi kepustakaan) dalam arti mengkaji kasus yang terjadi dengan suatu

    penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah yuridis normatif dengan

    menggunakan bahan hukum primer yang terdiri dari Undang-Undang Nomor 37

    Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

    serta mengkaji Putusan Mahkamah Agung Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit.2015 juncto

    Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018 dilengkapi dengan bahan hukum sekunder yang

    terdiri buku-buku, kamus hukum, jurnal hukum dan hasil penelitian lainnya yang

    berkaitan dengan judul skripsi ini.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat kepailitan terhadap karyawan

    dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja sehingga kehilangan status

    sebagai pekerja. Posisi kedudukan karyawan pada perusahaan pailit, karyawan

    diberikan hak istimewa sebagai kreditor preferen yang mana pemenuhan haknya

    merupakan prioritas pertama, sehingga perusahaan harus membayar tagihan gaji

    karyawan, sesuai dengan hukum kepailitan di Indonesia Undang-Undang Nomor

    37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    Kata Kunci : Kepailitan, Karyawan, Kurator, Debitor, Kreditor, Preferen,

    Konkuren, Separatis, Pengadilan Niaga, Mahkamah Agung.

    Pembimbing Skripsi : Dr. Muhammad Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H.

    Daftar Pustaka : 1986 s.d. 2019

  • vi

    KATA PENGANTAR

    ْيمِ ب ِ ح ِالرَّ ْحَمن الرَّ ِهللاِ ْســــــــــــــــــم

    Assalamuallaikum, Wr.Wb.

    Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia

    yang tidak terhingga. Solawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada

    Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya

    yang serta hingga akhir zaman. Dengan mengucapkan Alhamdulillahi Robbil

    ‘alamin peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Akibat Hukum

    Kepailitan PT United Coal Indonesia Terhadap Karyawan (Analisis Putusan

    Mahkamah Agung Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit.2015 juncto Nomor 557

    K/Pdt.Sus-Pailit/2018)” tepat pada waktunya.

    Dalam penyelesaian Skripsi ini, tidak terlepas dari pengetahuan keilmuan

    yang peneliti dapatkan dari beberapa sumber, selain itu tidak lupa pula terima kasih

    atas bimbingan, bantuan, nasehat, dan dukungannnya, yang terhormat:

    1. Dr. Ahmad Tholabie Kharlie, S.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan

    Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Dr. Muhammad Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H. Ketua Program Studi Ilmu

    Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum. Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    4. Dr. Muhammad Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H. Pembimbing Skripsi yang

    telah bersedia memberikan arahan, bimbingan, kritik, saran dan kesabaran

    dalam membimbing peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

    5. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Direktori Putusan Pengadilan Niaga dan

    Mahkamah Agung yang memuat koleksi salinan putusan.

    6. Pimpinan Pusat Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

    Jakarta dan Pimpinan Pusat Perpustakaan Universitas Indonesia yang telah

    menyediakan bahan-bahan pustaka untuk kelancaran penulisan skripsi.

    7. Pihak-pihak lainnya yang telah memberikan kontribusi terutama kedua orang

    tua peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

  • vii

    Demikian ucapan terimakasih ini, peneliti menyadari bahwa skripsi ini

    masih jauh dari kata sempurna namun semoga Allah memberikan balasan yang

    setara kepada para pihak yang telah berbaik hati terlibat dalam penyusunan skripsi

    ini dan skripsi ini memberikan manfaat bagi kalangan akademis, masyarakat, dan

    pembaca kalangan umumnya. Aamiin

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    Jakarta, September 2019

    Peneliti,

    Titia Ulva Sapitri

  • viii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

    LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii

    LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ................................. iii

    LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. iv

    ABSTRAK .............................................................................................................. v

    KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi

    DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1

    B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ........................... 4

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .......................................................... 5

    D. Metode Penelitian .............................................................................. 6

    E. Sistematika Penulisan ...................................................................... 10

    BAB II TINJAUAN UMUM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

    A. Kerangka Konseptual ...................................................................... 13

    B. Sejarah Singkat Hukum Kepailitan di Indonesia ............................. 18

    C. Asas-Asas Hukum Kepailitan di Indonesia ..................................... 21

    D. Pihak-Pihak yang dapat mengajukan Permohonan Kepailitan ........ 24

    E. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Pemohon Pailit .................. 25

    F. Tanggung Jawab Pribadi Direksi dan Komisaris atas terjadinya pailit

    Perseroan Terbatas ........................................................................... 27

    G. Pengenalan PT United Coal Indonesia ............................................ 29

    H. Kerangka Teori ................................................................................ 30

    I. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ............................................... 33

  • ix

    BAB III DAMPAK PUTUSAN PAILIT TERHADAP PERSEROAN

    TERBATAS

    A. Kronologis Singkat Perkara Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 juncto

    Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018 ...................................................... 36

    B. Pertimbangan Hakim atas Putusan Pengadilan Niaga dan

    Pertimbangan Mahkamah Agung ....................................................... 38

    C. Putusan Pengadilan Niaga dan Putusan Mahkamah Agung ............. 49

    D. Analisa Putusan Pailit Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 juncto

    Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018 ..................................................... 52

    E. Implikasi Putusan Pailit Terhadap Karyawan .................................... 57

    BAB IV KEWAJIBAN HUKUM PT UNITED COAL INDONESIA

    BERDASARKAN PUTUSAN PAILIT

    A. Pemenuhan Hak Karyawan PT United Coal Indonesia Akibat

    Putusan Pailit ............................................................................... 63

    B. Tinjauan Peraturan Perundang-Undangan Nomor 37 Tahun 2004

    Tentang kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

    terhadap PT United Coal Indonesia Nomor 186 K/Pdt.Sus-

    Pailit/2015 juncto Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018 ................. 71

    C. Pertimbangan hukum Pengadilan Niaga terhadap karyawan PT

    United Coal Indonesia akibat putusan pailit, berdasarkan hukum

    kepailitan di Indonesia .................................................................. 75

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................... 83

    B. Rekomendasi ................................................................................ 84

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 86

    LAMPIRAN

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pada saat ini hampir tidak ada negara yang tidak mengenal hukum

    kepailitan dalam hukumnya. Keadaan pailit atau bangkrut merupakan

    peristiwa yang dapat terjadi pada siapa saja, baik itu dari orang perorangan

    maupun badan hukum (legal entity). Kepailitan tidak mengenal siapapun

    pihaknya, dalam kehidupan yang sesungguhnya kita dapati bahwa seorang

    milioner maupun perusahaan multinasional juga dapat mengalami

    kepailitan.

    Di Indonesia, secara formal, hukum kepailitan sudah ada sejak tahun

    1905 dengan diberlakuannya Staatsblad 1905 Nomor 217 juncto Staatsblad

    1906 Nomor 348. Staatsblad 1905 Nomor 217 dan Staatsblad 1906 Nomor

    348 kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

    Undang Nomor 1 Tahun 1998, yang kemudian diterima oleh Dewan

    Perwakilan Rakyat sehingga menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun

    1998. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun

    1998 tersebut adalah tentang Perubahan atas Undang-Undang (peraturan)

    tentang kepailitan, yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang

    Nomor 37 Tahun 2004.1 Undang- undang Kepailitan, juga dimaksudkan

    untuk mewujudkan keadilan dan pembagian menurut tagihan masing-

    masing diantara para kreditor. Di dalam hukum, setidaknya terdapat dua

    pihak yang terikat oleh hubungan hukum itu, yaitu Kreditor (creditor) dan

    debitor (debitor). 2

    Menurut hukum kepailitan yang berlaku di negara Indonesia,

    kepailitan mengakibatkan Debitor yang dinyatakan pailit kehilangan segala

    1 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori & Praktek, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti,

    2017), h. 3

    2 Zainal Asikin, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di

    Indonesia, (Bandung: Pustaka Reka Cipta, 2013), h. 20

  • 2

    hak perdata untuk menguasai dan mengurus harta kekayaan yang telah

    dimasukkan ke dalam harta pailit. “Pembekuan” hak Perdata ini

    diberlakukan oleh Pasal 24 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhitung sejak saat keputusan

    pernyataan pailit diucapkan. Mengenai pihak yang mengajukan

    permohonan PKPU diatur dalam Pasal 222 sampai pasal 294 Undang-

    Undang Kepailitan, antara lain Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

    dapat diajukan oleh debitor maupun oleh kreditor.3 Selain pihak-pihak

    tersebut, kekhususan pada beberapa macam badan usaha tersebut menjadi

    ambigu ketika disahkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011

    Tentang Otoritas Jasa Keuangan, sesuai dengan tujuan berdirinya, yaitu

    untuk mengatur, mengawasi dan melindungi seluruh lembaga keuangan di

    Indonesia. Dengan disahkannya Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan

    ini secara langsung memberikan otoritas kepada Otoritas Jasa Keuangan

    untuk mengawasi seluruh lembaga keuangan di Indonesia baik itu

    diperbankan, asuransi, maupun perusahaan efek. Dengan diamanahkannya

    pengawasan lembaga keuangan kepada Otoritas Jasa Keuangan maka sudah

    selayaknya dalam pengajuan permohonan pailit pada lembaga keuangan

    hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Namun pada

    kenyataannya Otoritas Jasa Keuangan hanya berwenang mengajukan

    permohonan pailit kepada perusahaan efek, lembaga kliring dan lembaga

    penjamin yang dapat diajukan permohonan pailit, untuk lembaga perbankan

    dan asuransi tetap pada Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.4

    Pailit merupakan suatu keadaan di mana debitor tidak mampu untuk

    melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para

    kreditornya. Keadaan tidak mampu membayar lazimnya disebabkan karena

    kesulitan kondisi keuangan (Financial distress) dari usaha debitor yang

    telah mengalami kemunduran. Sedangkan kepailitan merupakan putusan

    3 Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 169

    4 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indonesia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), h.194-195

  • 3

    pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas seluruh kekayaan debitor

    pailit, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari.

    Ketidakmampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk

    mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri,

    maupun atas permintaan pihak ketiga (di luar Debitor), suatu permohonan

    pernyataan ke Pengadilan.5

    Kepailitan merupakan suatu jalan keluar yang bersifat komersial

    untuk keluar dari persoalan utang piutang yang menghimpit seorang debitor,

    dimana debitor utang piutang yang menghimpit seorang debitor, dimana

    debitor tersebut sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk membayar

    utang- utangnya tersebut kepada para kreditornya.6 Permohonan pernyataan

    pailit dapat dikabulkan jika persyaratan kepailitan telah terpenuhi: 1.

    debitor tersebut mempunyai dua atau lebih kreditor; dan 2. debitor

    tersebut tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan

    dapat di tagih.7

    Di Indonesia ketentuan Pasal 39 Undang-Undang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur mengenai akibat

    kepailitan terhadap perjanjian kerja. Dari ketentuan tersebut diketahui

    bahwa pekerja yang bekerja pada Debitor dapat memutuskan hubungan

    kerja. Namun di pihak lain, Kurator dapat memberhentikannya dengan

    mengindahkan jangka waktu menurut persetujuan atau menurut ketentuan

    perundang-undangan yang berlaku.8 Dalam hal ini buruh atau karyawan

    ingin sekali memperjuangkan haknya atas upah dan pesangon yang sering

    kali sulit untuk didapat karena keberadaan kreditor separatis (kreditor yang

    memiliki hak jaminan hutang kebendaan), sebagai pihak yang menjadi

    5 Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Kepailitan, (Jakarta: PT

    RajaGrafindo Persada,2002), h. 11

    6 Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 2

    7 Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan, (Jakarta: PT

    RajaGrafindo persada, 2004), h. 85

    8 Man S.Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang, (Bandung: P.T. Alumni, 2010), h. 118

  • 4

    prioritas dalam pembagian harta ketika terjadi pailit. Dan tidak sedikit

    ketika suatu perusahaan yang dinyatakan pailit berdampak besar pada

    kerugian yang dialami oleh karyawan terhadap perusahaan yang dinyatakan

    pailit oleh Pengadilan. Maka dari itu sangat diperlukannya perlindungan

    hukum terhadap pekerja atau karyawan pada kasus kepailitan tersebut,

    untuk memperluas dan meningkatkan kualitas hukum di Indonesia.

    Berdasarkan latar belakang di atas ada persoalan yang menarik,

    karena terdapat beberapa pusaran masalah, sehingga penulis tertarik untuk

    melakukan penelitian hukum dengan judul: “AKIBAT HUKUM

    KEPAILITAN PT UNITED COAL INDONESIA TERHADAP

    KARYAWAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung Nomor 186

    K/Pdt.Sus-Pailit/2015 juncto Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018).”

    B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah

    1. Identifikasi Masalah

    Sesuai dengan latar belakang yang telah disampaikan diatas, maka

    dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang berkaitan dengan

    Perlindungan hukum terhadap karyawan Perseroan Terbatas akibat

    putusan pailit Pengadilan Niaga, yaitu sebagai berikut:

    a. Pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit.

    b. Pertimbangan Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung terhadap

    putusan kepailitan PT United Coal Indonesia.

    c. Akibat dari putusan kepailitan terhadap debitor, dan kreditor yang

    bersangkutan.

    d. Tanggung jawab pribadi Direksi dan komisaris atas terjadinya pailit

    Perseroan Terbatas.

    e. Pemenuhan hak karyawan PT United Coal Indonesia akibat putusan

    pailit, berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia.

    2. Pembatasan Masalah

    Untuk lebih memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian ini,

    maka perlu adanya pembatasan masalah agar dalam praktek penelitian

  • 5

    dan penyusunan secara ilmiah dapat dipahami dengan mudah. Oleh

    karena itu, peneliti membatasi permasalahan yang akan diteliti secara

    khusus membahas tentang akibat hukum kepailitan di Indonesia

    terhadap karyawan yang dalam hal ini badan usaha tersebut berbentuk

    Perseroan Terbatas, dan dibatasi hanya pada PT United Coal Indonesia.

    3. Perumusan Masalah

    Masalah utama yang jadi fokus pembahasan dalam penelitian ini

    yaitu terkait dengan akibat kepailitan Perseroan Terbatas terhadap

    karyawan, dan tidak sedikit ketika suatu perusahaan yang dinyatakan

    pailit berdampak besar pada kerugian yang dialami oleh karyawan

    terhadap perusahaan yang dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga.

    Untuk mempertegas arah pembahasan dari masalah utama yang telah

    diuraikan diatas, maka dibuat rincian masalah utama dalam bentuk

    pertanyaan penelitian sebagai berikut:

    a. Bagaimana pertimbangan hukum Pengadilan Niaga terhadap

    karyawan PT United Coal Indonesia akibat putusan pailit,

    berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia?

    b. Bagaimana implikasi putusan kasasi Mahkamah Agung terhadap

    Karyawan ketika perusahaan dinyatakan pailit?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Secara umum tujuan penulisan berdasarkan permasalahan-

    permasalahan sudah ditulis pada rumusan masalah diatas. Sedangkan

    secara khusus tujuan penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

    a. Untuk mengetahui pertimbangan hukum Pengadilan Niaga

    terhadap karyawan PT United Coal Indonesia akibat putusan pailit,

    berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia.

    b. Untuk mengetahui implikasi putusan kasasi Mahkamah Agung

    terhadap Karyawan ketika perusahaan dinyatakan pailit.

  • 6

    2. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat

    berupa kontribusi yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis,

    yaitu sebagai berikut:

    a. Manfaat Teoritis

    Secara teoritis penulisan ini adalah sebagai bahan kajian dan

    acuan bagi pengembangan wawasan ilmu hukum pada hukum bisnis

    khususnya hukum kepailitan. Dengan dilakukan penelitian ini

    diharapkan dapat memberikan pemikiran-pemikiran baru bagi

    kalangan akademis dalam mengembangkan bidang ilmu hukum,

    khususnya pada hukum kepailitan.

    b. Manfaat Praktis

    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

    kalangan praktisi baik para pelaku ekonomi maupun para pembuat

    Undang-undang (law maker). Penelitian ini diharapkan dapat

    memberikan masukan bagi para pembuat kebijakan dan Undang-

    undang dalam menyusun suatu pedoman atau ketentuan yang

    memberikan kepastian dan dasar untuk bertindak bagi para pelaku

    ekonomi (pengusaha). Penelitian ini juga diharapkan menjadi

    masukan bagi para praktisi dan penegak hukum khususnya dalam

    bidang kepailitan, selain itu juga dapat memperkaya model-model

    penyelesaian kasus kepailitan di Indonesia.

    D. Metode Penelitian

    Dalam penulisan skripsi ini dibutuhkan data yang akurat, yang berasal

    dari studi dokumentasi untuk meyelesaikan persoalan-persoalan yang ada

    pada skripsi ini. Oleh karena itu metode penelitian yang digunakan penulis

    dalam penelitian ini adalah:

    1. Jenis dan Sifat Penelitian

    Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif yang merupakan

  • 7

    penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung

    menggunakan analisis.9 Menggunakan bahan hukum sebagai rujukan.

    Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian

    yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif dilakukan dengan cara

    menelaah dan menginterpretasikan hal-hal yang bersifat teoritis yang

    menyangkut asas, konsepsi, doktrin, dan norma hukum yang berkaitan

    dengan akibat dari kepailitan Perseroan Terbatas terhadap karyawan

    yang bekerja di perusahaan tersebut.

    Pendekatan yuridis disini menekankan dari segi perundang-

    undangan dan peraturan-peraturan serta norma-norma hukum yang

    relevan dengan permasalahan ini, yang bersumber pada yang

    dilakukan dengan melihat kenyataan yang ada dalam praktek yang

    menyangkut prosedur dalam pelaksana pailit atas Badan Usaha Milik

    Swasta yaitu berbentuk Perseroan Terbatas.

    Pendekatan yuridis normatif mengacu pada peraturan perundang-

    undangan dan keputusan pengadilan,10 penelitian hukum normatif

    mencakup asas-asas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum

    dan sinkronisasi hukum serta penelitian terhadap sejarah dan

    perbandingan hukum,11 yang mengatur tentang akibat kepailitan atas

    badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas terhadap karyawan yang

    bekerja di Perusahaan tersebut.

    2. Spesifikasi Masalah

    Spesifikasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah

    deskripstif analisis, yaitu menggambarkan peraturan perundang-

    undangan yang berlaku yang dikaitkan dengan teori-teori hukum dan

    9 https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif, Diakses pada 14 Oktober 2018.

    10 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2011, cet.Ke-3), h. 142

    11 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-

    Press), 2014), h. 51

    https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif

  • 8

    praktek pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan di

    atas.

    Data yang diperoleh dari penelitian, diusahakan memberikan

    gambaran atau mengungkapkan berbagai faktor yang dipandang erat

    hubungannya dengan gejala-gejala yang diteliti, kemudian akan

    dianalisa mengenai penerapan atau pelaksanaan peraturan perundang-

    undangan serta ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kepailitan

    terhadap PT United Coal Indonesia yang berdampak kepada hak-hak

    karyawan.

    3. Sumber Data dan Bahan Hukum

    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

    Data sekunder dalam penelitian hukum merupakan data yang diperoleh

    dari hasil penelaahan pustaka atau bahan pustaka yang berkaitan

    dengan permasalahan atau materi penelitian yang disebut dengan

    bahan hukum.12

    a. Bahan Hukum Primer

    Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat

    autoritatif yang artinya memiliki otoritas. Bahan-bahan hukum primer

    meliputi perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah

    dalam pembuatan perundang-undangan atau putusan-putusan

    hukum.13 Bahan hukum primer merupakan bahan hukum utama.

    Bahan hukum primer yang digunakan dalam tulisan ini antara lain

    Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum

    Dagang, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan

    dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Undang-Undang

    Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang

    Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, Putusan-Putusan

    12 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif

    dan Empiris, (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 156

    13 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, … h. 141

  • 9

    Kepailitan dari Pengadilan Niaga, Mahkamah Agung pada tingkat

    Kasasi, dan peraturan perundang-undangan lain yang terkait.

    b. Bahan Hukum Sekunder

    Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang dapat

    memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yang berupa

    rancangan peraturan perundang-undangan, hasil penelitian, buku,

    buku teks, jurnal, media cetak, dan media elektronik.14

    c. Bahan Hukum Tersier

    Bahan hukum tersier berupa kamus baik kamus bahasa maupun

    kamus hukum, dan ilmu hukum yang terkait.15

    d. Bahan Non Hukum

    Bahan Non Hukum yaitu berupa literatur yang berasal dari non

    hukum yang pempunyai relevansi dengan topik penelitian berupa

    kamus besar bahasa Indonesia, kamus hukum, majalah, koran, internet,

    dan lainnya.16

    4. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data

    Pengumpulan data dalam penulisan penelitian hukum normatif

    dilakukan dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum maupun

    non hukum yang berkaitan dengan topik penelitian. Dilakukan dengan

    membaca, melihat, mendengarkan maupun penelusuran lebih lanjut

    sehingga mampu memberikan penjelasan terhadap masalah yang

    terdapat dalam penelitian ini yang nantinya dapat menyimpulkan

    uraian dari bahan-bahan hukum tersebut.17

    14 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif

    dan Empiris, h. 157-158

    15 Hartini Rahayu, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia Dualisme Kewenangan

    Pengadilan Niaga & Lembaga Arbitrase, (Jakarta: Kencana, 2009), h.,27

    16 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum,… h. 143

    17 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif

    dan Empiris, h. 160

  • 10

    5. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data

    Teknik pengolahan data yang digunakan penulis adalah dengan

    mengelola data sedemikian rupa sehingga data dan bahan hukum

    tersebut tersusun secara runtut, sistematis sehingga akan memudahkan

    penulis dalam melakukan analisis.

    Pertama, data tersebut diklasifikasikan sesuai pembahasan yang

    menjadi fokus penelitian. Kedua, diuraikan dan dijelaskan fokus

    penelitian tersebut berdasarkan teori-teori yang sesuai dengan fokus

    penelitian. Ketiga, penjelasan tersebut dievaluasi atau dinilai

    berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

    6. Teknik Penulisan

    Teknik penulisan dan pedoman yang digunakan penulis dalam

    skripsi ini berdasarkan kaidah-kaidah dan teknik penulisan yang

    terdapat dalam “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah Dan

    Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun

    2017”.

    E. Sistematika Penelitian

    Untuk menjelaskan isi skripsi secara menyeluruh ke dalam

    penulisan yang sistematis dan terstruktur maka pada skripsi ini penulis

    susun dengan sistematika penulisan yang terdiri dari lima bab yaitu sebagai

    berikut:

    BAB I PENDAHULUAN

    Dalam bab ini dijelaskan latar belakang masalah,

    Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan

    sistematika penulisan.

  • 11

    BAB II TINJAUAN UMUM KEPAILITAN PERSEROAN

    TERBATAS

    Dalam bab ini akan membahas kajian pustaka yang berisi

    teori-teori yang digunakan untuk menganalisis dan

    menginterprestasikan data penelitian. Kajian Pustaka ini

    diawali dengan pemaparan kerangka konsep yang kemudian

    diikuti dengan pemaparan dari kerangka teori. Kajian

    Pustaka yang baik akan membantu peneliti dalam

    merumuskan hipotesis dari penelitian tersebut. Selain itu,

    juga terdapat review (tinjauan ulang) hasil studi terdahulu

    pada sub bab kedua dari Bab II, di mana peneliti menelusuri

    dan mendeskripsikan hasil penelusurannya terhadap

    penelitian terdahulu yang serumpun. Dalam bab II ini juga

    di uraikan mengenai asas-asas hukum kepailitan di Indonesia

    terhadap Perseroan Terbatas.

    BAB III DAMPAK PUTUSAN PAILIT TERHADAP

    PERSEROAN TERBATAS

    Dalam bab ini akan menguraikan bagaimana penelitian

    dilakukan, yang mengemukakan tentang metode

    pendekatan, teknik pengumpulan data, pengambilan sampel,

    dan analisis data. Mengenai kronologis singkat perkara PT

    United Coal Indonesia akibat putusan pailit, berdasarkan

    hukum kepailitan di Indonesia. Dan juga mengenai

    Pertimbangan Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung,

    Putusan Hakim atas Putusan Pengadilan Niaga dan

    Mahkamah Agung, hingga implikasi putusan pailit terhadap

    karyawan.

    BAB IV KEWAJIBAN HUKUM PT UNITED COAL INDONESIA

    Dalam bab ini akan dijelaskan apa yang menjadi pokok dari

    semua bab sesuai dengan judul skripsi ini antara lain

    mengenai posisi kasus, mengenai pemenuhan hak karyawan

  • 12

    PT United Coal Indonesia, berdasarkan hukum kepailitan di

    Indonesia. Lalu mengenai tinjauan peraturan perundang-

    undangan Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap PT

    United Coal Indonesia. Dan selanjutnya pertimbangan

    hukum Pengadilan Niaga terhadap karyawan PT United Coal

    Indonesia akibat putusan pailit.

    BAB V PENUTUP

    Bab ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi atas temuan

    yang diperoleh peneliti dari permasalahan yang diangkat

    pada penelitian ini.

  • 13

    BAB II

    TINJAUAN UMUM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

    Untuk dapat memahami sekelumit permasalahan yang dihadirkan oleh

    peneliti pada bab lanjutan skripsi ini, maka landasan awal berupa pemahaman

    teoritik akan sangat dibutuhkan oleh pembaca. Pada Bab 2 (dua) ini, peneliti akan

    memaparkan beberapa point penting terkait dengan pemahaman dasar mengenai

    Perseroan Terbatas dan hukum kepailitan yang terbagi menjadi dua jenis kajian

    pustaka, yaitu kajian teoretis dan review (tinjauan ulang) hasil studi terdahulu.

    Pada subbab pertama memaparkan mengenai kerangka konseptual, Sejarah

    singkat dan asas-asas mengenai hukum kepailitan di Indonesia. Kemudian pada

    bagian selanjutnya menjelaskan mengenai pihak-pihak yang dapat mengajukan

    Permohonan Kepailitan. Pada bagian selanjutnya membahas mengenai tanggung

    jawab pribadi direksi dan komisaris atas terjadinya pailit perseroan Terbatas, dan

    juga disinggung mengenai pengenalan PT United Coal Indonesia yang akan

    dibahas oleh peneliti pada skripsi ini. Dan selanjutnya dibahas mengenai kerangka

    teori yang berkaitan dengan penulisan. Selanjutnya pada subbab terakhir, peneliti

    mencoba menghadirkan beberapa review (tinjauan ulang) studi terdahulu agar

    penulis lebih fokus pada deskripsi persamaan dan perbedaan studi-studi tersebut

    dengan studi yang penulis lakukan, guna menyajikan dan mengkritisi hasil studi

    tersebut untuk dijadikan dasar pembenaran teoretis bagi penulis guna

    merumuskan hipotesis.

    A. Kerangka Konseptual

    Kerangka konseptual akan menjelaskan beberapa konsep terkait istilah-

    istilah yang sering digunakan di dalam penelitian ini. Agar tidak terjadi kekaburan

    dan kerancuan dalam memahami terhadap istilah-istilah kunci penulisan skripsi

    ini yaitu sebagai berikut:

    1. Perseroan Terbatas

    Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut

    Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal,

    didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal

  • 14

    dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang

    ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

    Perseroan Terbatas merupakan suatu badan hukum (berbeda dengan

    persekutuan perdata, pesekutuan firma, dan persekutuan komanditer) Status

    Persekutuan Terbatas sebagai badan hukum dinyatakan secara tegas dalam

    pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007. Oleh karena itu,

    Perseroan Terbatas diakui sebagai subjek hukum (rechtpersoon) seperti

    halnya manusia (Person).1 Pengertian dari Badan hukum adalah suatu badan

    yang ada karena hukum dan memang diperlukan keberadaannya sehingga

    disebut legal entity. Maka, Perseroan Terbatas disebut juga artificial person

    atau manusia buatan, atau Person in law atau legal person/rechtpersoon.

    Pengertian badan hukum menurut Chaidir Ali (1999:19) adalah:

    “Badan hukum pada pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yang

    dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia,

    serta memiliki kekayaan sendiri, dapat menggugat atau digugat di depan

    hakim.”

    2. Ketenagakerjaan

    Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan adalah segala hal yang

    berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah

    masa kerja. Definisi Ketenagakerjaan tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1

    angka 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

    3. Tenaga kerja

    Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan adalah setiap orang

    yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa

    baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Definisi

    Tenaga kerja tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang

    Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

    1 Zaeni Asyhadie dan Budi Sutrisno, Hukum Perusahaan &Kepailitan, (Jakarta: Erlangga,

    2012), h.70

  • 15

    Dalam buku karya Sendjun H. Manulang, dalam bukunya menyebutkan

    bahwa, menurut Dr. Payaman Simanjuntak dalam bukunya “Pengantar

    Ekonomi Sumber Daya Manusia”, Tenaga Kerja (manpower) adalah

    penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan,

    dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah

    tangga.2

    4. Pekerja/buruh

    Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan adalah setiap orang yang

    bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Definisi

    Pekerja atau buruh tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 4 Undang-

    Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Buruh adalah

    barang siapa bekerja pada majikan dengan menerima upah.3

    5. Kepailitan

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang

    pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan

    Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. Definisi

    kepailitan sebagai suatu sita umum dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 1

    Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang.

    Di dalam buku hukum kepailitan milik Hadi Shubhan menyebutkan secara

    tegas dan membedakan pengertian dari istilah pailit dan kepailitan. Pailit

    adalah suatu keadaan di mana debitor tidak mampu untuk melakukan

    pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari kreditornya. Sedangkan

    pengertian kepailitan merupakan putusan pengadilan yang mengakibatkan

    2 Sendjun H. Manulang, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan Di Indonesia, (Jakarta: PT

    Rineka Cipta, 1995), h.3

    3 Zainal Asikin, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

    2004), h. 41

  • 16

    sita umum atas seluruh kekayaan debitor pailit, baik yang ada maupun yang

    akan ada di kemudian hari.4

    6. Kreditor

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena

    perjanjian atau Undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.

    Definisi Kreditor sebagai orang yang mempunyai piutang ini dapat ditemukan

    dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang

    Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    7. Debitor

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena

    perjanjian atau Undang-undang yang pelunasannya di tagih di muka

    pengadilan. Definisi Debitor sebagai orang yang mempunyai utang dapat

    ditemukan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

    Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    8. Debitor Pailit

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit

    dengan putusan Pengadilan. Definisi Debitor Pailit sebagai debitor yang sudah

    dinyatakan pailit tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 4 Undang-

    Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang.

    9. Kurator

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Kurator adalah Balai harta peninggalan atau orang

    perorangan yang diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan

    harta Debitor Pailit dibawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan

    Undang-undang ini. Definisi Kurator sebagai balai harta peninggalan ini dapat

    4 Elysa Ras Ginting, Hukum Kepailitan Teori Kepailitan, … h.106

  • 17

    ditemukan dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

    Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    10. Utang

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan

    dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing,

    baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau

    kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-undang dan yang wajib

    dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditor

    untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor. Definisi utang

    sebagai mana seperti hal tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 6

    Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang.

    11. Pengadilan

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan

    peradilan umum. Definisi pengadilan tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 1

    angka 7 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    12. Hakim Pengawas

    Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh

    Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan penundaan kewajiban

    pembayaran utang. Definisi hakim pengawas sebagai hakim yang ditunjuk

    oleh pengadilan sebagaimana seperti hal diatas dapat ditemukan dalam Pasal

    1 angka 8 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    13. Mahkamah Agung

    Menurut Undang-Undang Dasar 1945, Mahkamah Agung adalah menjaga

    agar kekuasaan kehakiman tetap mandiri (an independent judiciary).

    Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji

  • 18

    peraturan perundang-undangan dibawah Undang-undang terhadap Undang-

    undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-

    undang. Ketentuan mengenai Mahkamah Agung diatur dalam Bab IX

    Undang-Undang Dasar 1945 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Ketentuan

    tersebut diatur dalam Pasal 24 A yang terdiri atas 5 (lima) ayat. Mahkamah

    Agung adalah puncak dari kekuasaan kehakiman dalam lingkungan peradilan

    umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara, dan peradilan militer.5

    Keberadaan Mahkamah Agung bukan lagi satu-satunya penyelenggaraan

    Kekuasaan Kehakiman, pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985,

    sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 (Undang-

    Undang Mahkamah Agung), yang berbunyi:6

    “Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan Kehakiman

    sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

    Indonesia Tahun 1945”

    B. Sejarah Singkat Hukum Kepailitan di Indonesia

    Sejarah berlakunya hukum kepailitan Belanda di Hindia Belanda atau

    Indonesia adalah tidak terlepas dari peristiwa kepailitan yang menimpa

    perusahaan monopoli dagang terbesar di Belanda bernama Vereenigde

    Oosindische Compagnie atau VOC pada tahun 1800. VOV berkuasa penuh di

    Hindia Belanda sejak tahun 1798, dan selama periode kekuasaannya tersebut,

    VOC telah menjadikan Indonesia sebagai daerah sumber pendapatan utama VOC

    selama lebih 2 (dua) abad.7

    Lalu ketika VOC dinyatakan bangkrut, wilayah Hindia Belanda atau

    Indonesia dijadikan sebagai kompensasi pembayaran utang VOC kepada kerajaan

    5 Jimly Asshiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi,

    (Jakarta: Konstitusi Press, 2006), h.159

    6 Yahya Harahap, Kekuasaan Mahkamah Agung Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan

    Kembali Perkara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h.14

    7 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Teori Kepailitan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2018),

    h.29-38

  • 19

    Belanda dengan nilai sebesar 140 miliar gulden. Utang tersebut tidak dapat lagi

    dibayar oleh VOC, karena ternyata VOC memang telah bangkrut secara de facto.

    Namun VOC menyembunyikan keadaan bangkrut tersebut dan tetap melaporkan

    perolehan laba yang tinggi ke Kekerajaan Belanda. Hingga pada tahun 1780,

    ketika Inggris menyerang dan memblokade masuknya kapal-kapal VOC yang

    membawa hasil rempah-rempah dari Hindia Belanda ke Belanda, VOC tidak lagi

    menutupi status kebangkrutannya. Akhirnya pada tahun 1798 VOC yang telah

    bangkrut secara de facto menyerahkan Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda

    sebagai kompensasi pembayaran utangnya. Penyerahan itu menjadi awal mula

    Indonesia menjadi salah satu koloni Kerajaan Belanda. Sejarah tata hukum

    Indonesia berada di bawah jajahan Kerajaan Belanda, karena meskipun VOC

    berkuasa di Indonesia selama kurang lebih 2 (dua) abad lamanya, namun VOC

    tidak membentuk tata hukum yang berlaku diseluruh wilayah di negara Indonesia.

    Perkembangan sejarah hukum kepailitan di Indonesia cukup panjang, yang

    terbagi menjadi 4 (empat) fase sebagai berikut:

    a. Zaman Pendudukan Belanda

    b. Zaman Pendudukan Jepang

    c. Zaman Republik Indonesia

    d. Zaman Krisis Moneter

    Peraturan kepailitan di Indonesia mengalami perkembangan dari mulai ketika

    Pemerintahan Penjajahan Belanda sampai dengan Pemerintahan Republik

    Indonesia. Pada Tahun 1838 pembuat Undang-undang di Negeri Belanda

    menyusun Wetboek van Koophandel (WvK) yang terdiri dari 3 buku yaitu:

    a. Buku I Tentang Van Den Koophandel in Het Algemeen yang terdiri dari bab

    10 bab.

    b. Buku II Tentang Van Den Regten En Verpligtingen uit Scheepvaart

    Voortsruitende yang terdiri dari 13 bab, yang kemudian bab ke-7

    dihapuskan.

    c. Buku III yang berjudul Van de Voorzieningen in geval van onvermogen van

    Kooplieden, den, yang diatur dari Pasal 749 sampai dengan Pasal 910

    (WvK).

  • 20

    Peraturan Kepailitan dalam Buku III WvK tersebut hanya berlaku untuk para

    pedagang. Di samping itu, terdapat pula buku III Titel 8 Wetboek Van

    Burgerlijke Rechttsvordering (BRV) yang mengatur kepailitan bukan

    pedagang.8

    Dewasa ini hampir tidak ada negara yang tidak mengenal kepailitan dalam

    hukumnya. Di Indonesia, secara formal, hukum kepailitan sudah ada, bahkan

    sudah ada Undang-Undang khusus sejak tahun 1905 dengan diberlakukannya

    S.1905-217 juncto S.1906-348. Malahan, dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata

    “bangkrut” sudah lama dikenal.9

    S.1905-217 dan S.1906-348 tersebut kemudian diubah dengan Perpu Nomor

    1 Tahun 1998, yang kemudian diterima oleh Dewan Perwakilan Rakyat sehingga

    menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998. Perpu Nomor 1 Tahun 1998

    tersebut adalah tentang Perubahan atas Undang-Undang (Peraturan) tentang

    Kepailitan, yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 37

    Tahun 2004.

    Jika kita menelusuri sejarah hukum tentang pailit ini, hukum tentang

    kepailitan itu sendiri sudah ada sejak zaman Romawi. Jika kita menelusuri lebih

    lanjut, sebenarnya kata bangkrut, dalam bahasa Inggris disebut dengan bankrupt

    berasal dari Undang-undang di Itali yang disebut dengan banca rupta.

    Sementara itu, pada Abad pertengahan di Eropa ada Praktek kebangkrutan

    dengan melakukan penghancuran di Eropa ada praktek kebangkrutan dengan

    melakukan penghancuran bangku-bangku dari para bankir atau pedagang yang

    melarikan diri sediam-diam dengan membawa harta para kreditor. Atau seperti

    keadaan di Venesia (Italia) waktu itu, di mana para pembeli pinjaman (bankir)

    saat itu yang banco (bangku) mereka yang tidak mempu lagi membayar utang

    atau gagal dalam usahanya, bangku tersebut benar-benar telah patah atau hancur.

    8 Man S. Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pebayaran Utang,

    … h.5

    9 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori & Praktek, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti),

    h.3

  • 21

    Dari masa ke masa sebagai bagian dari sejarah kepailitan di Indonesia, maka

    Undang-Undang Kepailitan Indonesia mengalami perubahan dan penggantian.

    Perubahan dan penggantian tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan

    kebutuhan yang timbul selama ruas waktu tertentu demi tercapainya tujuan

    dibuatnya Undang-undang tersebut. Perubahannya antara lain yaitu menyangkut

    kepentingan dari pihak-pihak yang diatur dan pihak-pihak yang terlibat dalam

    operasionalisasi Undang-undang itu, terjaminnya kepastian, keadilan, dan

    ketertiban. Dengan mengetahui dan mempelajari sejarah perkembangan

    Undang-undang kepailitan yang telah ada hingga sekarang, maka apabila kita

    membuat perubahan atau membuat Undang-Undang kepailitan yang baru, kita

    dapat lebih menempatkannya sebagai perangkat hukum yang dapat memenuhi

    kebutuhan pembangunan yang berakar daripada nilai-nilai yang dijunjung dalam

    pandangan hidup kita sebagai bangsa Indonesia yang baik. Dengan demikian,

    Undang-Undang Kepailitan tersebut nantinya akan benar-benar memiliki

    kepribadian Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan bangsa, sesuai dengan

    yang dibutuhkan oleh Negara Republik Indonesia.10

    C. Asas-Asas Hukum Kepailitan di Indonesia

    Asas hukum kepailitan di Indonesia merupakan bagian yang tidak dapat

    dipisahkan dari asas-asas Hukum Perdata, karena hukum kepailitan sebagai

    subsistem dari hukum perdata nasional merupakan bagian yang utuh dari

    hukum perdata dan hukum acara perdata nasional. Asas hukum kepailitan yang

    diatur dalam hukum perdata merupakan asas umum hukum kepailitan

    Indonesia, sedangkan asas khususnya adalah sebagaimana diatur dalam

    Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.11

    1. Asas Umum

    Asas umum hukum kepailitan di Indonesia, semula diatur dalam Pasal

    10 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No.37 Tahun

    2004 Tentang Kepailitan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2009), h.17-18

    11 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indonesia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2018), h.37

  • 22

    1131 KUH Perdata yang disebut dengan prinsip kesamaan kedudukan

    kreditor (Paritas Creditorium) dan Pasal 1132 KUH Perdata yang disebut

    dengan prinsip pari passu proparate perte, yaitu semua kreditor mempunyai

    hak yang sama atas harta debitor, kecuali ada alasan-alasan yang sah untuk

    didahulukan. Prinsip paritas creditorium diatur dalam Pasal 1131 KUH

    Perdata karena memberikan jaminan, disebut “jaminan umum”. Adapun

    yang diatur dalam Pasal 1132 KUH Perdata adalah bahwa semua kreditor,

    mempunyai hak yang sama atas aset debitor, kecuali ada alasan- alasan yang

    sah untuk lebih diutamakan atau didahulukan.12

    2. Asas Khusus

    Selain asas umum, Indonesia juga mempunyai asas khusus,

    sebagaimana diuraikan dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 37

    Tahun 2004. Asas-asas tersebut, antara lain yaitu:13

    a. Asas Keseimbangan

    Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan

    perwujudan dari asas keseimbangan, yaitu satu pihak, terdapat

    ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan

    lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak jujur, di lain pihak, terdapat

    ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan

    lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik.

    b. Asas Kelangsungan Usaha

    Dalam Undang-undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan

    perusahaan debitor yang prospektif tetap dilangsungkan. Oleh karena itu

    permohonan pernyataan pailit seharusnya hanya dapat diajukan

    terhadap debitor yang insolven, yaitu yang tidak membayar utang-

    utangnya kepada kreditor mayoritas.

    c. Asas Keadilan

    12 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indonesia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, … h.38

    13 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indonesia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, … h.40-41

  • 23

    Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa

    ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para

    pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah

    terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan

    pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap debitor, dengan tidak

    memedulikan kreditor lainnya.

    d. Asas Intergrasi dalam Undang-undang

    Asas Integrasi dalam Undang-undang ini mengandung pengertian

    bahwa sistem hukum formil dan hukum materielnya merupakan satu

    kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata

    nasional.

    Menurut Sutan Remy Sjahdeini, suatu Undang-Undang kepailitan memuat

    asas-asas sebagai berikut:14

    1) Asas Undang-Undang Kepailitan pada umumnya

    Undang-Undang Kepailitan yang berlaku di Indonesia memuat asas-

    asas baik dinyatakan secara tegas maupun secara tersirat, antara lain sebagai

    berikut:

    a) Asas mendorong Investasi dan Bisnis

    b) Asas memberikan manfaat dan perlindungan yang seimbang bagi

    kreditor dan debitor

    c) Asas putusan pernyataan pailit tidak dapat dijatuhkan terhadap debitor

    yang masih solven

    d) Asas persetujuan putusan pailit harus disetujui oleh para kreditor

    mayoritas

    e) Asas keadaan diam (Standstill atau Stay) yang berlaku secara otomatis

    yaitu yang berlaku demi hukum

    f) Asas mengakui hak separatis kreditor pemegang hak jaminan

    g) Asas proses putusan pernyataan pailit tidak berkepanjangan

    14 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No.37 Tahun

    2004 Tentang Kepailitan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2009), h.32-51

  • 24

    h) Asas proses putusan pernyataan pailit terbuka untuk umum

    i) Asas pengurus perusahaan debitor yang mengakibatkan perusahaan

    pailit harus bertanggung jawab pribadi

    j) Asas memberikan kesempatan restrukturisasi utang sebelum diambil

    putusan pernyataan pailit kepada debitor yang masih memiliki usaha

    yang prospektif

    k) Asas perbuatan-perbuatan yang merugikan harta pailit adalah tindak

    pidana

    2) Asas- asas Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan

    Undang- Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang dalam penjelasan umumnya mengemukakan bahwa Undang-

    undang tersebut didasarkan pada beberapa asas, asas-asas tersebut antara

    lain yaitu Asas Keseimbangan, Asas Kelangsungan Usaha, Asas Keadilan

    dan Asas Integrasi.

    D. Pihak-Pihak yang dapat mengajukan Permohonan Kepailitan

    Pihak yang dapat dinyatakan terlibat dalam pailit salah satunya adalah

    pemohon pailit, yakni pihak yang mengambil inisiatif untuk mengajukan

    pemohonan pailit ke Pengadilan, yang dalam perkara disebut dengan pihak

    penggugat.15

    Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang

    Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pihak yang dapat

    menjadi pemohon dalam suatu perkara pailit adalah sebagai berikut:

    1. Pihak debitor itu sendiri.

    2. Salah satu atau lebih dari pihak kreditor.

    3. Pihak kejaksaan jika menyangkut dengan kepentingan umum.

    Maksud dari kepentingan umum disini adalah kepentingan bangsa, dan

    negara dan/atau kepentingan masyarakat luas, misalnya:16

    15 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori dan Prektek, ... h.35

    16 Man S Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang, ... h.92

  • 25

    a. Debitor melarikan diri

    b. Debitor menggelapkan bagian dari harta kekayaan

    c. Debitor mempunyai utang kepada Badan Usaha Milik Negara atau

    badan usaha lain yang menghimpun dana dari masyarakat.

    d. Debitor mempunyai utang yang berasal dari penghimpun dana dari

    masyarakat luas;

    e. Debitor tidak beritikad baik, atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan

    masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau

    f. Dalam hal lainnya menurut kejaksaan merupakan kepentingan umum.

    4. Pihak Badan Pengawas Pasar Modal jika debitornya adalah suatu

    perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring, dan penjaminan, serta

    lembaga penyimpanan dan penyelesaian.

    5. Menteri Keuangan jika debitor perusahaan asuransi, reasuransi, dana

    pensiun, atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik.

    6. Likuidator perusahaan terbatas dalam hal likuidator tersebut

    memperkirakan bahwa utang perseroan lebih besar dari kekayaan

    perseroan, yang dalam hal ini kepailitan wajib diajukan oleh likuidator

    tersebut, kecuali jika perundang-undangan menentukan lain atau semua

    kreditor menyetujui penyelesaian di luar kepailitan.

    E. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sebagai Pemohon Pailit

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga negara yang dibentuk

    berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi untuk

    menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi

    terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. 17

    Berdasarkan Pasal 2 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004

    Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur

    bahwa dalam proses permohonan pernyataan pailit dapat dilakukan dengan

    syarat utama debitor memiliki dua atau lebih kreditor dan tidak membayar

    17 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indoensia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, ... h.194

  • 26

    sedikitnys satu utang yang telah jatuh tempo, persyaratan tersebut dapat

    dilakukan untuk memohon pernyataan pailit. Namun khusus untuk perbankan,

    perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, perusahaan efek, dan

    BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik permohonan penyataan

    pailitnya harus diajukan oleh institusi-institusi terkait. Untuk bank dapat

    diajukan pailit oleh Bank Indonesia, Untuk perusahaan asuransi, dana pensiun

    dapat diajukan oleh Kementerian Keuangan, dan Untuk perusahaan efek, bursa

    efek dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.

    Tujuan dari berdirinya Otoritas Jasa Keuangan adalah untuk mengatur,

    mengawasi, dan melindungi seluruh lembaga keuangan di Indonesia, baik itu

    perbankan, asuransi, maupun perusahaan efek. Dengan diamanatkannya

    pengawasan lembaga keuangan kepasa Otoritas Jasa Keuangan maka sudah

    selayaknya dalam pengajuan permohonan pailit pada lembaga keuangan yang

    telah disebutkan sebelumnya hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa

    Keuangan. Namun berbeda dengan kenyataannya, yang mana Otoritas Jasa

    Keuangan hanya berwenang mengajukan permohonan pailit kepada perusahaan

    efek, lembaga kliring dan lembaga penjamin yang dapat diajukan permohonan

    pailit, untuk lembaga perbankan dan asuransi tetap pada Bank Indonesia dan

    Menteri Keuangan.

    Beda halnya meskipun Pasal 2 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun

    2004 menyebutkan bahwa kewenangan untuk mengajukan permohonan

    pernyataan pailit bagi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi

    sepenuhnya ada pada Menteri Keuangan, tetapi ketentuan tersebut kontradiksi

    dengan Pasal 50 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang

    Perasuransian yang menyatakan bahwa permohonan penyataan pailit terhadap

    perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi

    syariah, perusahaan reasuransi, atau perusahaan reasuransi syariah berdasarkan

    Undang-undang ini hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).18

    18 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indoensia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, ... h.195

  • 27

    F. Tanggung Jawab Pribadi Direksi dan Komisaris atas terjadinya pailit

    Perseroan Terbatas

    Tidak semua usaha yang dijalankan oleh setiap perusahaan (Perseroan

    Terbatas) berjalan sesuai dengan target yang diinginkan, adakalanya usaha yang

    sudah dirilis sejak lama mengalami kendala dalam pengoperasiannya dan tidak

    sedikit juga yang mengalami kebangkrutan karena tidak bisa membiayai

    operasional perusahaannya sehingga tidak sedikit perusahaanya dinyatakan

    pailit oleh Pengadilan Niaga. Dalam hal perusahaan pailit, tentu ada tanggung

    jawab yang dipikul oleh pelaku usaha seperti direksi yang diberikan

    kepercayaan oleh seluruh pemegang saham melakui mekanisme Rapat Umum

    Pemegang Saham (RUPS) untuk menjadi organ perseroan yang akan bekerja

    untuk kepentingan perseroan, serta kepentingan seluruh pemegang saham yang

    mengangkat dan mempercayakan sebagai satu-satunya organ yang mengurus

    dan mengelola perseroan.19

    Jika terjadi kepailitan dalam perseroan, akan membawa akibat bahwa

    direksi tidak berhak dan berwenang lagi untuk mengurus harta kekayaan

    perseroan tersebut.

    1. Tanggung Jawab Direksi sebagai Organ Perseroan

    Tugas pokok direksi adalah untuk mengurus dan mewakili perseroan

    dalam melakukan kegiatannya dan memiliki tanggung jawab internal dan

    eksternal. Keterkaitan antara perseroan dengan direksi dilandasi pada

    prinsip fiduciary duty dan to exercise care and deligence, yaitu direksi

    wajib melakukan pengurusan dengan itikad baik dan penuh dengan

    tanggung jawab.20

    Dalam menjalankan tugasnya mengurus perseroan, direksi tidak boleh

    menerima manfaat terhadap dirinya sendiri, berarti kepentingan terhadap

    19 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indoensia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, ... h.359

    20 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Teori Kepailitan, ... h.240

  • 28

    perseroan harus didahulukan. Dengan adanya perusahaan yang di pailitkan,

    maka tentu ada akibat hukum dan tanggung jawab dari para pemegang

    saham maupun direksi dalam terjadinya pailit tersebut. Perbuatan hukum

    direksi yang merupakan tindakan ultra vires adalah tanggung jawab pribadi

    dari direksi perseroan tersebut. Namun tindakan ultra vires ini harus

    dibedakan dalam dua kategori, yaitu:

    a) Tindakan yang dilakukan di luar kewenangan direksi untuk melakukan,

    tapi masih dalam cakupan maksud dan tujuan perseroan, serta

    b) Tindakan yang dilakukan di luar kewenangan direksi untuk

    melakukannya yang berada di luar maksud dan tujuan perseroan.

    Pada Pasal 104 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

    Tentang Perseroan Terbatas, dapat diketahui bahwa Undang-Undang

    Perseroan Terbatas membuat beberapa pengecualian terhadap tanggung

    jawab anggota Direksi dalam hal perseroan dinyatakan Pailit, yaitu sebagai

    berikut:21

    a) Anggota Direksi hanya akan bertanggung jawab secara pribadi jika

    perseroan dinyatakan pailit sesuai dengan prosedur yang berlaku.

    b) Terbukti ada unsur kesalahan atau kelalaian yang telah dilakukan

    direksi dalam mengurus dan mewakili perseroan.

    c) Tanggung jawab anggota direksi bersifat residual yang artinya hanya

    akan bertanggung jawab bila kekayaan perseroan tidak cukup untuk

    menutupi kerugian akibat kepailitan tersebut;

    d) Tanggung jawab direksi tersebut juga bersifat tanggung jawab renteng,

    yang artinya walaupun kesalahan atau kelalaian itu dilakukan seorang

    anggota direksi, tetapi yang lain juga dipresumsi untuk ikut

    bertanggung jawab dalam hal tersebut.

    Namun berdasarkan pada Pasal 104 Ayat (4) Undang-Undang

    Perseroan Terbatas menyatakan bahwa anggota direksi yang dapat

    21 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indoensia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, ... h. 362

  • 29

    membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya

    tidak bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugiannya

    tersebut.

    2. Tanggung Jawab Komisaris dalam Kepailitan Perseroan

    Selain Direksi dalam Perseroan juga terdapat Komisaris, yang juga

    tidak bisa dimintai pertanggung jawaban pribadi dalam hal perseroan yang

    tidak mampu membayar kewajiban utangnya dikarenakan kinerja

    keuangan perseroan yang buruk sebagai akibat dari lingkungan bisnis yang

    ada. Menurut Pasal 114 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

    Tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa dewan komisaris wajib

    dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk

    kepentingan dan usaha perseroan, secara normatif yang mana disini sangat

    bertitik tolak dengan ketentuan tersebut.

    Fungsi utama komisaris adalah melakukan pengawasan. Yang mana

    maksud dari melakukan pengawasan disini adalah suatu tindakan

    mengusahakan agar suatu kegiatan dilaksanakan sesuai dengan yang telah

    digariskan atau menilai apakah yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang

    direncanakan. Dengan cara melakukan pemantauan tepat waktu yang dapat

    mengetahui penyimpangan sehingga kerugian dapat dicegah atau

    setidaknya dapat diminimalisir.22

    Didalam Undang-Undang Perseroan Terbatas mengenai komisaris

    tidak disebutkan secara spesifik tanggung jawabnya jika terjadi kepailitan

    dalam perusahaan.

    G. Pengenalan PT United Coal Indonesia

    PT United Coal Indonesia yang beralamat di Sudirman Plaza Marein 11 th

    Floor, Jalan Jenderal Sudirman Kav.76-78. Jakarta. PT United Coal Indonesia

    ini bergerak sebagai perusahaan pertambangan batu bara di Samarinda. Bahwa

    22 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indoensia Dalam Teori dan Praktik Serta

    Penerapan Hukumnya, ... h.364

  • 30

    termohon telah dinyatakan berstatus dalam PKPU sementara selama 45 (empat

    puluh lima) hari berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri

    Jakarta Pusat No. 55/Pdt.Sus-PKPU/2014/PN.Niaga.Jkt.Pst.Jo.Nomor: 32/

    Pdt.Sus.Pailit/2014/PN. Niaga.Jkt.Pst, tanggal 15 Oktober 2014. Dan pada

    tanggal 14 Januari 2015 dinyatakan Batal Putusan Perdamaian (Homologasi)

    dikarenakan PT United Coal Indonesia telah lalai dan melanggar Perjanjian

    Perdamaian pada tanggal 8 Januari 2015.

    Permohonan kepailitan tersebut diajukan karena adanya hak-hak kreditor

    lain yang diajukan, yaitu untuk membantu karyawan PT United Coal Indonesia

    cabang site Palaran yang upahnya tidak dibayar selama 3 bulan berturut-turut

    sejak bulan Juni, Juli, dan Agustus oleh PT United Coal Indonesia dan utang

    tersebut sudah jatuh tempo. Dalam kepailitan, PT United Coal Indonesia

    mempunyai tagihan kepada 89 kreditor. Tagihan tersebut terdiri dari kreditor

    preferen (prioritas), kreditor separatis, dan kreditor konkuren.

    Dengan nomer perkara di Pengadilan Niaga yaitu

    55/Pdt.Sus.PKPU/2014/PN.Niaga.Jkt.Pst.Jo.32/Pdt.Sus.Pailit/2014/PN.Niaga.Jkt

    .Pst., dengan nomer pembatalan perdamaian 11/Pdt.Sus/Pembatalan

    Perdamaian/2015/PN/Niaga/Jkt/Pst, dan pada tingkat kasasi, dengan Nomor

    Perkara yaitu 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 dan 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018.

    H. Kerangka Teori

    Pada penulisan dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori Keadilan.

    Yang mana pengertian keadilan berasal dari kata adil, yang menurut Kamus

    Bahasa Indonesia adil adalah tidak sewenang-wenang, tidak memihak, tidak berat

    sebelah. Adil mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan

    atas norma-norma yang objektif, jadi tidak hanya subjektif apalagi sewenang-

    wenang terhadap golongan orang tertentu. Di Negara Republik Indonesia keadilan

    digambarkan dalam Pancasila sebagai dasar negara, yaitu keadilan sosial bagi

    seluruh rakyat Indonesia.23

    23 Muhamad Sadi, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana, 2015), h.196-197

  • 31

    Dari semua hal tersebut, sebenarnya sejarah juga sudah mencatat bahwa

    banyak filosof Yunani klasik lainnya di masa dulu yang telah mencoba untuk

    memberikan arti terhadap teori keadilan sendiri, antara lain sebagai berikut.

    1. Parmenides dari Elea (sekitar 475 sebelum Masehi).

    2. Damon dari Athena (sekitar 460 sebelum Masehi).

    3. Democritus dari Abdera (sekitar 420 sebelum Masehi).24

    Dari beberapa filosof diatas, kemudian datang filosof Plato (427-347

    sebelum Masehi), yang mengaitkan keadilan dengan prinsip-prinsip etika dari

    sikap tindak manusia. Menurut Plato, keadilan merupakan nilai kebajikan untuk

    semua yang diukur dari apa yang seharusnya dilakukan secara moral, bukan hanya

    diukur dari tindakan dan motif manusia saja. Lalu apa itu arti dari keadilan bagi

    Plato, Plato mengusahakan sebuah konsep mengagumkan mengenai tentang

    Keadilan, yang hingga kini masih sangat mempengaruhi tokoh-tokoh besar

    hukum di dunia dalam mengartikan makna dari Keadilan itu sendiri antara lain

    adalah Profesor Scholten dari Belanda. Dan Plato juga mengkualifikasikan

    keadilan dalam 3 (tiga) hal yaitu:25

    1. Suatu karakteristik atau “sifat” yang terberi secara alami dalam diri tiap

    individu manusia;

    2. Dalam keadaan ini, keadilan memungkinkan orang mengerjakan

    pengkoordinasian (menata) serta memberi batasan (mengendalikan) pada

    tingkat “emosi” mereka dalam usaha menyesuaikan diri dengan lingkungan

    tempat ia bergaul; dengan demikian,

    3. Keadilan merupakan hal yang memungkinkan masyarakat manusia

    menjalankan kodrat kemanusiaannya dalam cara-cara yang utuh dan

    semestinya.

    Setelah itu, datang filosof Aristoteles (384-322 sebelum Masehi), Teori

    mengenai keadilan menurut Aristoteles adalah perlakuan yang sama bagi mereka

    24 Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h.83

    25 Herman Bakir, Filsafat Hukum Desain dan Arsitektur Kesejateraan, (Bandung: PT

    Refika Aditama, 2007), h.177

  • 32

    yang sederajat di depan hukum, tetap menjadi urusan tatanan politik untuk

    menentukan siapa yang harus diperlakukan sama atau sebaliknya.26

    Dari teori keadilan melahirkan teori kemanfaatan, Teori hukum tentang

    kemanfaatan yang berasal dari Jeremy Bentham yang menerapkan salah satu

    prinsip dari aliran utilitarianisme ke dalam lingkungan hukum, yaitu: manusia

    akan bertindak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan

    mengurangi penderitaan. Bentham selanjutnya berpendapat bahwa pembentuk

    Undang-undang hendaknya dapat melahirkan Undang-undang yang dapat

    mencerminkan keadilan bagi semua individu. Dengan berpegang pada prinsip

    tersebut di atas, perundangan itu hendaknya dapat memberikan kebahagiaan yang

    terbesar bagi sebagian besar masyarakat (the greates happiness for the greatest

    number).27 Jadi yang diutamakan dalam teori Jeremy Bentham adalah

    mewujudkan kebahagiaan yang sebesar-besarnya.

    Menurut Thomas H. Jackson dan Robert E. Scott dalam teori

    “creditor’s”bargain yang menyatakan bahwa tujuan utama dari kepailitan untuk

    memaksimalkan kesejahteraan kelompok secara bersama-sama. Dimana teori ini

    kemudian dikenal dengan teori creditor wealth maximization yang merupakan

    teori yang paling menonjol dan paling banyak di anut dalam hukum kepailitan,

    sehingga teori yang dikemukakan oleh Thomas H. Jackson dan Robert E. Scott

    mengenai teori “creditor’bargain” sangat berkenaan dengan penulisan skripsi ini.

    Jackson merumuskan hukum kepailitan dari perspektif ekonomi sebagai “An

    Acillary, Pararel System Of Debt – Collection Law”, sedangkan keadaan pailit

    adalah suatu cara melaksanakan suatu putusan tentang apa yang akan dilakukan

    terhadap harta debitor.28

    26 Lawrence. M. Friedman, American Law an Introduction, Terjemahan Wisma Bhakti,

    (Jakarta: PT. Tata Nusa, 2001), h. 4

    27 Lili Rasjidi, Ira Tania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, (Bandung: Mandar Maju,

    2010), h. 61

    28 Thomas H. Jackson, The Logic And Limits Of Bankruptcy Law, (United States: Harvard

    University, 1986). h. 3-4

  • 33

    Arti sebuah keadilan dalam hukum formal dan hukum materiil merupakan

    suatu keadaan keseimbangan dan keselarasan yang membawa ketentraman

    didalam hati orang yang apabila diganggu akan mengakibatkan kegoncangan.

    Orang-orang tidak akan bertahan lama menghadapi sebuah tatanan yang mereka

    rasa sama sekali tidak sesuai dan tidak masuk akal. Pemerintah yang

    mempertahankan aturan semacam itu akan terjerat dalam kesulitan-kesulitan

    serius dalam pelaksanaanya. Yang artinya, sebuah tatanan yang tidak berakar pada

    keadilan sama artinya dengan bersandar pada landasan yang tidak aman dan

    berbahaya.29

    Dari semua definisi-definisi diatas memiliki keberagaman pemahaman

    mengenai makna dari keadilan yang sesungguhnya, ada yang memandang

    keadilan dari segi politik, ada yang memandang keadilan dari segi hak-hak para

    pihak yang menegakkan keadilan dari setiap orang, ada yang memandang makna

    keadilan dari sifat-sifatnya, dan ada pula yang memandang keadilan dari perilaku

    kesewenang-wenangannya. Karena sesungguhnya makna keadilan yang

    sempurna itu tidaklah ada, yang ada hanyalah mendekati dari makna tersebut,

    hanya sekadar pencapaian keadilan menurut kadar tertentu saja.

    Hal-hal yang telah diuraikan di atas maka dapat menjawab permasalahan

    yang diajukan penulis untuk dipergunakan sebagai pendekatan dengan kerangka

    teori. Kerangka berfikir menjadi konsep keadilan dan perlindungan yang

    seimbang terhadap kepentingan karyawan perusahaan (Perseroan Terbatas),

    kreditor dan debitor dalam hukum kepailitan yang terdapat di Indonesia.

    I. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

    Dalam menjaga keaslian judul peneliti ajukan dalam proposal skripsi ini

    perlu kiranya penulis lampirkan juga beberapa rujukan yang menjadi bahan

    pertimbangan. Antara lain:

    1. Skripsi yang berjudul: “Hak Pekerja Pada Perusahaan Yang Pailit”. Karya

    Ulva Febriana Rivai ( B 111 07 321 ), Fakultas Hukum Universitas

    29 Muhamad Erwin, Filsafat Hukum Refleksi Kritis terhadap Hukum, (Jakarta: PT

    RajaGrafindo Persada,2012), h.238

  • 34

    Hasanuddin Makassar, 2014. Skripsi ini membahas tentang hak–hak pekerja

    pada perusahaan pailit berdasarkan perundang–undangan yang berlaku di

    Indonesia dan upaya hukum yang mengatur para pekerja pada perusahaan

    yang terkena pailit jika harta pailit tidak mencukupi. Persamaannya yaitu

    sama-sama membahas tentang kepailitan di Indonesia dan membahas

    mengenai pemenuhan hak-hak karyawan jika perusahaan dinyatakan pailit,

    sedangkan perbedaannya yaitu pada skripsi ini membahas tentang upaya

    hukum yang mengatur para pekerja pada perusahaan yang terkena pailit jika

    harta pailit tidak mencukupi. Sedangkan pada penulisan ini membahas

    mengenai pertimbangan hukum Pengadilan Niaga terhadap karyawan PT

    United Coal Indonesia akibat putusan pailit (Nomor 11/Pdt.Sus/Pembatalan

    Perdamaian/2015/PN.Niaga.JKT.PST. Juncto Nomor 55/Pdt.Sus/PKPU/2014

    /PN.Niaga.JKT.PST. Juncto Nomor 32/Pdt.Sus.Pailit/2014/PN.Niaga.JKT.

    PST ), berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia dan implikasi putusan

    kasasi Mahkamah Agung terhadap Karyawan ketika perusahaan dinyatakan

    pailit (Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 Juncto 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018).

    2. Jurnal yang berjudul: “Problematika Posisi Buruh Pada Perusahaan Pailit”.

    Karya Tri Budiyono, Salatiga, Fakultas, Hukum Universitas Kristen Satya

    Wacana, Nomor 3, Juli 2013. Jurnal ini membahas mengenai posisi buruh

    pada perusahaan yang dinyatakan pailit. Persamaannya yaitu sama-sama

    membahas mengenai ketenagakerjaan pada Perseroan Terbatas terhadap

    perusahaan pailit. Perbedaannya yaitu pada jurnal ini dibahas mengenai

    perlindungan hukum atas pembayaran hak-haknya ditengah tarik-menarik

    kepentingan para kreditor, khususnya pada kreditor separatis. Sedangkan pada

    penulisan ini membahas mengenai pertimbangan hukum Pengadilan Niaga

    terhadap karyawan PT United Coal Indonesia akibat putusan pailit,

    berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia dan implikasi putusan kasasi

    Mahkamah Agung terhadap Karyawan ketika perusahaan dinyatakan pailit.

    3. Jurnal yang berjudul: “Tanggung Jawab Kurator dalam Penjualan Harta Pailit

    di Bawah Harga Pasar”. Karya Moch Zulkarnain Al Mufti, Yogyakarta,

    Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia,

  • 35

    Volume 1, Nomor 1, Januari 2016. Jurnal ini membahas tentang Tanggung

    Jawab Kurator dalam Penjualan Harta Pailit di Bawah Harga Pasar.

    Persamaannya adalah sama-sama membahas tentang harta debitor pailit,

    sedangkan perbedaannya yaitu pada jurnal ini membahas tentang tanggung

    jawab kurator dalam penjualan harta pailit di bawah harga pasar, yang mana

    pada jurnal ini lebih membahas kepada kurator dalam menjalankan tugasnya,

    sedangkan pada penulisan ini penulis membahas mengenai pertimbangan

    hukum Pengadilan Niaga terhadap karyawan PT United Coal Indonesia akibat

    putusan pailit, berdasarkan hukum kepailitan di Indonesia dan implikasi

    putusan kasasi Mahkamah Agung terhadap Karyawan ketika perusahaan

    dinyatakan pailit.

  • 36

    BAB III

    DAMPAK PUTUSAN PAILIT TERHADAP PERSEROAN TERBATAS

    Pembahasan pada bab ini berfokus pada dampak putusan pailit terhadap

    Perseroan Terbatas di Indonesia oleh Pengadilan Niaga. Karena sering kali

    permasalahan muncul jika terjadi kepailitan pada perusahaan di mana karyawan

    bekerja, dan sering kali pekerja / buruh kesulitan mengakses informasi dan hak-

    hak mereka. Pada bab ini dibagi ke dalam beberapa subbab pembahasan.

    Pembahasan pada subbab pertama dibuka dengan kronologis singkat mengenai

    kepailitan PT United Coal Indonesia. Subbab kedua membahas terkait dengan

    Pertimbangan hakim atas putusan Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung.

    Kemudian subbab ketiga membahas mengenai Putusan Pengadilan Niaga dan

    Mahkamah Agung. Dilanjutkan dengan subbab keempat yang membahas

    terkait dengan Analisa Putusan Pailit Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 juncto

    Nomor 557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018. Dan kemudian pada subbab terakhir dibahas

    mengenai Implikasi Putusan Pailit Terhadap Karyawan.

    A. Kronologis Singkat Perkara Nomor 186 K/Pdt.Sus-Pailit/2015 juncto Nomor

    557 K/Pdt.Sus-Pailit/2018

    Pada penelitian ini membahas mengenai kepailitan pada PT United Coal

    Indonesia yang digugat dua perusahaan terkait utang. Sidang gugatan

    permohonan kepailitan kepada termohon berlangsung di Pengadilan Niaga

    Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Gambir pada Senin, 13 Oktober 2014. Dalam

    sidang perdana tersebut, PT GMT Indonesia dan PT Palaran Indah Lestari

    mengajukan permohonan kepailitan kepada PT United Coal Indonesia yang

    bergerak sebagai perusahaan pertambangan batubara di Samarinda. Sidang

    dibuka Majelis Hakim Pengadilan Niaga yang diketuai oleh Titik Tejaningsih.

    Permohonan kepailitan yang diajukan kepada PT United Coal Indonesia

    terregister dengan nomor perkara No. 32/Pdt. Sus/ Pailit/2014/PN. Niaga. Jkt.

    merupakan sebuah bentuk upaya proses hukum akibat tidak dibayarnya utang

    para kreditor PT United Coal Indonesia dan utang tersebut telah jatuh tempo

    serta dapat ditagih. Permohonan kepailitan tersebut diajukan karena adanya

  • 37

    hak-hak kreditor lain yang diajukan, yaitu untuk membantu 5 karyawan PT

    United Coal Indonesia cabang Site Palaran yang upahnya tidak dibayar selama

    3 bulan berturut-turut sejak bulan Juni, Juli dan Agustus oleh PT United Coal

    Indonesia dan utang tersebut sudah jatuh tempo.1

    Dasar pengajuan permohonan perkara kepailitan karena PT United Coal

    Indonesia mengalami kegagalan dalam melunasi pembayaran tagihan yang

    timbul atas pembelian alat-alat kebutuhan operasional PT United Coal

    Indonesia yang dilakukan berdasarkan pemesanan (Purchase Order) yang jatuh

    tempo pembayaran dengan jumlah nilai total tagihan yang sampai saat ini

    mencapai Rp 116.137.500 dan Rp 103.817.700. Jumlah total tagihan sebesar

    Rp 219.955.200. Sedangkan utang kreditor yang lain yang diajukan, berasal dari

    5 karyawan PT United Coal Indonesia yang upahnya tidak dibayar selama 3

    bulan berturut-turut. Upah sudah jatuh tempo dengan total nilai sebesar Rp

    103.728.000. Tak hanya itu, selain 5 karyawan PT United Coal Indonesia yang

    upahnya belum dibayar oleh PT United Coal Indonesia, ternyata masih ada

    sekitar 91 karyawan PT United Coal Indonesia cabang Site Palaran yang hak-

    hak berupa tunggakan upah 3 bulan gaji tidak dibayar oleh PT United Coal

    Indonesia dengan nilai total keseluruhan hampir mencapai Rp 1.000.000.000.

    Namun dari hasil persidangan permohonan kepailitan yang diajukan tim kuasa

    hukum PT GMT Indonesia dan PT Palaran Indah Lestari kepada Majelis

    Hakim, ternyata ditangguhkan menjadi PKPU (penundaan kewajiban

    pembayaran utang), dan kini PT United Coal Indonesia sudah resmi dinyatakan

    pailit dengan pembatalan perdamaian oleh Pengadilan Niaga Jakarta pada

    Tahun 2015, karena telah lalai dalam menjalankan perjanjian pembayaran

    utang.

    Setelah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, untuk selanjutnya

    pengurusan dan pemberesan harta pailit debitor dilakukan oleh Kurator selaku

    pihak yang ditunjuk oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta

    1 Diakses pada 15 November 2018,

    https://www.liputan6.com/bisnis/read/2118397/united-coal-indonesia-digugat-pailit.

    https://www.liputan6.com/bisnis/read/2118397/united-coal-indonesia-digugat-pailit

  • 38

    debitor pailit. Dalam hal ini debitor mempunyai 1 kreditor separatis yaitu PT

    Bank Mandiri, 2 kreditor preferen yaitu karyawan dan kantor pelayanan pajak,

    dan terdapat 160 kreditor konkuren. Dalam pembagian utang harta debitor pailit

    yang dilakukan oleh kurator CV Exiss Jaya dan CV Satria Dua Perdana selaku

    kreditor konkuren merasa keberatan atas pembagian utang harta debitor. Tidak

    hanya itu untuk selanjutnya Kementerian Keuangan Republik Indonesia,

    Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar, Kantor

    Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Satu juga merasa keberatan atas pembagian

    utang yang dilakukan oleh kurator.

    B. Pertimbangan Hakim atas Putusan Pengadilan Niaga dan Putusan

    Mahkamah Agung

    1. Pertimbangan Hakim atas Putusan Pengadilan Niaga

    Pengadilan Niaga adalah (commercial court) adalah institusi pelaksana

    Kekuasaan Kehakiman yang berada dibawah Mahkamah Agung.2 Dalam

    rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya, pengadilan niaga yang

    didirikan untuk menyelesaikan masalah utang piutang mempunyai asas khusus

    yang berbeda dengan asas peradilan yang lain yaitu asas khusus pengadilan

    niaga sebagaimana dimuat dalam konsideran huruf e dan huruf f Undang-

    Undang Nomor 4 Tahun 1998 dan penjelasan umum alinea enam Undang-

    Undang Nomor 37 Tahun 2004, yakni asas “adil, cepat, terbuka dan efektif”.

    Sedangkan Hakim Niaga adalah pejabat Kekuasaan Kehakiman yang ditunjuk

    oleh ketua pengadilan niaga untuk memeriksa dan memutus perkara kepailitan

    dan perkara PKPU serta perkara lain dibidang perniagaan.3 Pada kasus ini

    Majelis Hakim Pengadilan Niaga telah menimbang bahwa maksud dan tujuan

    dari permohonan pemohon adalah sebagaimana yang telah disebutkan di dalam

    putusan Nomor 11/Pdt.Sus/Pembatalan Perdamaian/2015/PN.Niaga.JKT.PST.

    Jo.Nomor:55/Pdt.Sus/PKPU/2014/PN.Niaga.JKT.PST.Jo.Nomor:32/Pdt.Sus.

    Pailit/2014/PN.Niaga.JKT.PST.

    2 Syamsudin M Sinaga, Hukum Kepailitan Indonesia, (Jakarta: PT.Tatanusa, 2012), h.325

    3 Syamsudin M Sinaga, Hukum Kepailitan Indonesia, … h.336

  • 39

    Menyatakan bahwa walaupun kedua belah pihak masing-masing telah

    mengajukan bukti surat namun demikian Majelis Hakim hanya akan

    mempertimbangkan bukti surat yang dipandang ada relevansinya dengan

    perkara ini.;

    Bahwa Pemohon 1 ( PT GMT Indonesia ) berdasarkan bukti P-10.a, P-10.b,

    P-11.a, berupa AKTA NOTARIS Nomor 26 Tanggal 10 Agustus 2001 AKTA

    PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS PT GMT INDONESIA Pasal 11 jo

    Akta Notaris Nomor 6 Tanggal 19 September 2013 Tentang BERITA ACARA

    PT GMT INDONESIA Tanggal 19 September 2013 maka Permohon I berhak

    untuk mewakili perseroan didalam maupun diluar Pengadilan;

    Permohon II (PT PALARAN INDAH LESTARI) berdasarkan bukti P-

    12.a, P-12.b, P-13.b, berupa AKTA PERSEROAN TERBATAS PALARAN

    INDAH LESTARI Nomor 141 Tanggal 25 Maret 2008 Pasal 12 juncto Pasal

    20 maka Pemohon II berhak untuk mewakili Perseroan didalam dan diluar

    Pengadilan.;

    TERMOHON PT UNITED COAL INDONESIA berdasarkan bukti

    bertanda T-1. T-2, T-3, Akta Notaris PENDIRIAN PERSEROAN

    TERBATAS PT UNITED COAL INDONESIA Nomor 44 Pasal 11 juncto

    PERNYATAAN KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM Nomor 28 Tanggal

    10 Desember 2013, maka Termohon berhak untuk mewakili perseroan didalam

    dan diluar Pengadilan;

    Bahwa yang menjadi dalil permohonan para Pemohon pada pokoknya

    adalah mohon agar Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan batal Putusan

    Perdamaian (Homologasi) Nomor 55/Pdt.Sus-PKPU/2014/PN.Niaga.Jkt.Pst

    Jo Nomor 32/Pdt.Sus.Pailit/2014/PN.Niaga.Jkt.Pst Tanggal 14 Januari 2015

    dikarenakan TERMOHON telah lalai dan melanggar Perjanjian Perdamaian

    Tanggal 8 Januari 2015.;

    Bahwa atas dalil para Pemohon tersebut Termohon menanggapi pada

    pokoknya, yaitu :

    a. Berdasarkan proposal perdamaian, Termohon telah melaksanakan isi

    proposal kesepakatan Perdamaian kepada Para Pemohon dan Pemohon

  • 40

    lainnya, sesuai jadwal yang telah disepakati bersama sampai dengan bulan

    Juli 2015, sebagaimana (Bukti T-5);

    b. Bahwa karena kondisi Termohon yang kurang menguntungkan, karena

    Termohon sudah tidak berproduksi lagi ditambah kondisi ekonomi global

    yang kurang menguntungkan, maka Termohon yang pada awalnya

    mengajuka