Click here to load reader

akuntan publik dan kantor akuntan publik di Jepang,€¦ · Sedangkan tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan dinyatakan dalam standar profesional akuntan publik yaitu

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of akuntan publik dan kantor akuntan publik di Jepang,€¦ · Sedangkan tanggung jawab auditor dalam...

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 1

    Sikap Skeptis Auditor

    Baru-baru ini dunia dikejutkan dengan adanya skandalakuntansi yang menimpa sebuah perusahaan berskalainternasional yaitu Toshiba Ltd. Pada awal April 2015,perusahaan elektronik terkemuka ini diketahui telahmenggelembungkan laba usaha sebesar ¥151,8 miliar (setara15,85 triliun rupiah) sejak tahun 2008. Auditor independendari Toshiba yaitu Ernst & Young (EY) ShinNihon tidakmenemukan kecurangan tersebut.

    Hal ini bermula dari Perdana Menteri Jepang, Abe yang inginmendorong transparansi lebih besar di Jepang untuk menarikinvestor asing, maka komisaris (Chairman) Toshiba menyewapanel independen yang terdiri dari para akuntan danpengacara untuk menyelidiki masalah transparansi diperusahaannya dan ditemukan penggelembungan laba yangdilakukan oleh CEO Toshiba (Hisao Tanaka), wakil CEOToshiba (Norio Sasaki), dan penasihat Toshiba (AtsutoshiNishida) yang sudah mengundurkan diri setelah peristiwaini terungkap. Diduga hal ini terjadi karena target yang terlalutinggi, dan tekanan atas pencapaian target tersebutlah yangmenyebabkan skandal ini terjadi (https://akuntansiterapan.com/). Akibatnya saham Toshiba turun sekitar 25% sejakawal April serta nilai pasar perusahaan ini hilang sekitar¥ 1,67 triliun (setara 174 triliun rupiah).

    EY ShinNihon, kantor akuntan publik yang mengauditToshiba, merupakan kantor akuntan publik terbesar diJepang, dengan jumlah auditor sekitar 3.500 orang, dan klienlebih dari 4.000 perusahaan (http://www.reuters.com/).Certified Public Accountants and Auditing Oversight Board(CPAAOB) Japan, yang merupakan badan pengawas dari

  • 2 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    akuntan publik dan kantor akuntan publik di Jepang,menyebutkan bahwa auditor gagal menerapkan skeptisismeprofessional dalam mengaudit Toshiba (http://www.reuters.com/).Dari web EY ShinNihon (http://www.shinnihon.or.jp/en/index.html) dari Financial Services Agency (FSA) disebutkanbahwa kantor akuntan publik tersebut mendapatkan sanksiberupa denda administrasi sebesar 2,1 miliar yen, danpembekuan operasi bisnis selama 3 bulan (1 Januari 2016sampai dengan 31 Maret 2016).

    Skandal akuntansi Toshiba bukan satu-satunya, beberapatahun sebelumnya berbagai skandal akuntansi yang terjadiadalah kasus Enron, WorldCom, Tyco International, Satyamdan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa auditor telahgagal dalam mendeteksi kecurangan dimana kegagalantersebut menyebabkan banyak pihak seperti investor, pekerja,kreditur, dan pemilik saham mengalami kerugian yang besarakibat dari skandal tersebut (Robinson, Robertson, & Curtis,2012). Penelitian dari Beasley, Carcello, Hermanson, andNeal (2013) menyebutkan bahwa rendahnya tingkatskeptisisme profesional auditor menjadi salah satu penyebabkegagalan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Olehkarena itu seorang auditor yang melaksanakan penugasanaudit di lapangan tidak boleh hanya sekedar mengikutiprosedur audit yang tertera dalam program audit, tetapi jugaharus disertai dengan sikap skeptisisme profesionalnya.

    Seorang auditor dalam melaksanakan penugasan audit dilapangan biasanya mengikuti prosedur audit yang terteradalam program audit. Tetapi apabila auditor hanya terpakupada program audit saja tanpa disertai dengan sikapskeptisisme profesionalnya maka auditor hanya akanmenemukan salah saji yang disebabkan oleh kekeliruan saja

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 3

    dan sulit untuk menemukan salah saji yang disebabkan olehkecurangan, karena kecurangan biasanya akan disembunyikanoleh pelakunya.

    Dalam Standar Profesional Akuntan Publik SA 200,disebutkan bahwa sikap skeptis auditor atau yang disebutdengan skeptisisme profesional merupakan sikap yang harusdimiliki oleh auditor yang mencakup suatu pikiran yangselalu mempertanyakan dan selalu waspada terhadap kondisiyang merupakan indikasi terjadinya salah saji baik yangdisebabkan karena kecurangan maupun kesalahan.Skeptisisme profesional juga meliputi penilaian yang kritisterhadap bukti audit (IAPI, 2016). Auditor yang skeptis, tidakmudah percaya pada penjelasan dari klien. Mereka akanberusaha untuk memperoleh alasan yang masuk akal terhadapketerangan atau bukti audit yang diberikan oleh klien.

    Sebagai contoh, apabila auditor mendeteksi kondisi ataulingkungan yang mengindikasikan adanya salah saji yangmaterial. Skeptisisme profesional mensyaratkan bahwa jikaindikasi tersebut muncul, auditor harus mempertimbangkankembali rencana audit untuk mendapatkan bukti auditkompeten yang memadai sehingga laporan keuangan bebasdari salah saji material. Auditor yang bersikap skeptis,memiliki kecenderungan untuk tidak menerima asersimanajemen tanpa bukti pendukung, oleh karena itu merekaselalu meminta manajemen untuk membuktikan asersinya.Terjadinya error (kekeliruan) dan fraud (kecurangan) dalamlaporan keuangan menjadi aspek dasar dari skeptisismeprofesional yaitu adanya benturan kepentingan antara auditordan manajemen perusahaan. Benturan kepentingan inimuncul karena manajemen menginginkan untuk menyajikanlaporan perusahaan sebaik mungkin, sedangkan auditor harus

  • 4 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    memberikan keyakinan bahwa informasi mengenai kondisikeuangan perusahaan disajikan secara wajar.

    Meskipun ada perbedaan kepentingan antara auditor danmanajemen klien, auditor tetap harus menjaga hubungan yangprofesional dengan manajemen klien dengan tidak bersikapmemusuhinya atau melawannya. Hal ini bukan berarti auditormau menerima begitu saja penjelasan dari manajemen klien,auditor tetap harus menyusun prosedur audit untukmenemukan kekeliruan atau kecurangan yang mempunyaidampak material terhadap laporan keuangan.

    Auditor tetap harus tanggap dengan kemungkinan terjadinyakecurangan walaupun kecurangan belum tentu terjadi setiapkali penugasan audit dilakukan. Meskipun sulit, memintaauditor untuk bersikap skeptis bukanlah hal yang tidakmungkin. Skeptisisme merupakan manifestasi dari obyektivitas.Skeptisisme tidak berarti bersikap sinis, terlalu banyakmengkritik, atau melakukan penghinaan. Auditor yangmemiliki skeptisisme profesional yang memadai akanberhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Apayang perlu saya ketahui?, (2) Bagaimana caranya saya bisamendapat informasi tersebut dengan baik?, dan (3) Apakahinformasi yang saya peroleh masuk akal?. Skeptisismeprofesional auditor akan mengarahkannya untuk menanyakansetiap isyarat yang menunjukkan kemungkinan terjadinyafraud (Louwe Dalam standar audit mengenai Kerangka untukPerikatan Asurans (IAPI, 2016) dijelaskan bahwa skeptisismeprofesional adalah sikap praktisi yang membuat penilaiankritis dengan pikiran yang selalu mempertanyakan tentangvaliditas bukti audit yang diperoleh, dan waspada terhadapbukti yang kontradiktif atau keandalan dokumen ataurepresentasi yang diberikan oleh pihak yang bertanggung jawab.

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 5

    Sedangkan dalam standar audit SA 200 (IAPI, 2016) disebutkanbahwa skeptisisme profesional diperlukan dalam penilaianatas bukti audit, mencakup pertimbangan mengenai kecukupandan ketepatan bukti audit. Terkait dengan kecurangan, standaraudit SA 240 (IAPI, 2016) menyebutkan bahwa auditor harusmempertahankan sikap skeptisisme profesional sepanjang auditdengan mengajukan pertanyaan secara berkelanjutan. Sikapskeptisisme profesional adalah penting ketika mempertim-bangkan risiko salah saji material akibat kecurangan (Arenset al., 2005)

    Auditor harus mengumpulkan bukti audit yang dibutuhkannya,meneliti semua implikasi dari bukti audit, dan kemudianmenggunakannya sebagai pendukung dalam membuat kesim-pulan. Meskipun audit dilakukan dalam jangka waktu yangterbatas, hal ini tidak boleh dijadikan alasan oleh auditor untuktidak menjalankan skeptisisme profesionalnya. Auditor tidakseharusnya menerima penjelasan manajemen klien yangkelihatannya meyakinkan dan menghentikan investigasi terlalucepat tanpa melihat pada fakta yang ada. Menerima penjelasandari manajemen klien merupakan tahap awal dalam proses audit.Auditor harus menguji penjelasan ini dengan mencari buktiaudit kompeten yang cukup.

    Skeptisisme profesional harus dipandang sebagai suatu sikapdan bukan sebagai dugaan awal untuk menerima penjelasanyang tidak benar. Auditor harus berhati-hati dalam menjalankanprofesinya. Jika penugasan sudah dijalankan dengan benardan prosedur yang didesain untuk mencari kekeliruan dankecurangan tidak menemukan apapun, maka tim penugasanharus dapat menerima fakta yang ada bahwa tidak ada buktiyang menunjukkan adanya konflik.

  • 6 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    Penggunaan kemahiran profesional menghendaki sikapauditor yang menanyakan semua asersi yang material yangdibuat oleh manajemen, baik yang tertulis maupun yang tidaktertulis. Sikap ini harus seimbang dengan pandangan mengenaiintegritas manajemen. Auditor tidak boleh mengasumsikanbegitu saja bahwa setiap manajemen adalah tidak jujur, tetapiauditor juga tidak boleh mengasumsikan bahwa manajemensepenuhnya jujur. Sikap auditor dalam mengumpulkan buktiaudit harus ditujukan untuk mencapai kesimpulan yang dapatdipertanggungjawabkan (reasonable and supportable).

    Dalam kaitannya dengan kemungkinan terjadinya kecurangandalam laporan keuangan, sikap skeptisisme profesionalauditor juga diperlukan dalam mempertimbangkan risikoadanya salah saji yang material yang disebabkan karenakecurangan. Auditor harus mempertahankan sikap skeptisismeprofesional selama melakukan audit, dengan menyadaribahwa kemungkinan terjadinya salah saji material karenakecurangan bisa saja terjadi meskipun sebelumnya auditorsudah mempunyai pengalaman dengan kejujuran perusahaandan integritas manajemen dan pihak-pihak yang terkait.Auditor menerapkan sikap skeptisisme profesional pada saatmengajukan pertanyaan dan menjalankan prosedur audit,dengan tidak cepat puas dengan bukti audit yang kurangpersuasive yang hanya didasarkan pada kepercayaan bahwamanajemen dan pihak terkait bersikap jujur dan mempunyaiintegritas

    Dalam penelitiannya, Hurtt (2010) menjelaskan bahwaskeptisisme profesional terdiri dari enam karakteristik. Tigakarakteristik yang pertama terkait dengan pengujian buktiaudit dan meliputi: 1) a questioning mind (pikiran yang selalumempertanyakan); 2) the suspension of judgment (penundaan

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 7

    keputusan); 3) a search for knowledge (pencarian pengetahuan).Hurtt (2010) mendefinisikan skeptis sebagai sikap yang tidakmenerima informasi dan situasi begitu saja, tetapi mengajukanpertanyaan untuk memperoleh bukti mengenai subyek yangdipertanyakan. Hurtt (2010) menyatakan bahwa skeptis akanmenunda pendapat dan keputusan untuk menambahpenyelidikan, pertimbangan, dan pencarian informasi. Orangyang memiliki sikap skeptis biasanya ingin tahu danmenikmati proses pembelajaran.

    Karakteristik keempat dari model skeptisisme Hurtt berkaitandengan pemahaman mengenai ketersediaan bukti: 4)interpersonal understanding (pemahaman antar pribadi).Hurtt (2010) berpendapat bahwa seorang yang skeptis akanberusaha memahami orang lain untukmenemukan informasiyang tidak akurat, bias atau menyesatkan. Dua karakteristikyang terakhir dari model skeptisisme Hurtt terkait denganinisiatif seseorang untuk melakukan tindakan berdasarkanpada bukti yang diperolehnya: 5) self confidence (percayadiri) dan 6) self determination (mengambil keputusansendiri). Seorang yang skeptis harus memiliki rasa percayadiri dan harga diri. Karakteristik ini membuat seorang yangskeptis dapat memecahkan setiap kontradiksi dan mengambilkeputusan yang tepat. Seorang yang skeptis dapat menilaiwawasan dalam dirinya, berubah ke asumsi yang lain, danmeminta informasi yang memadai untuk memecahkan setiapkontradiksi dan pemikiran orang lain yang keliru.

    Apabila seseorang memiliki enam karakteristik skeptisseperti tersebut di atas, maka akan mengarahkannya padaempat perilaku audit yang spesifik: 1) increased informationsearch (meningkatkan pencarian informasi); 2) increasedcontradiction detection (meningkatkan pendeteksian apabila

  • 8 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    ditemukan bukti yang bersifat kontradiksi); 3) increasedalternative generation (meningkatkan alternatif hasil); 4)expanded scrutiny of source reliability (memperluaspenyelidikan dengan mencari informasi dari sumber yangreliabel).

    Sikap Skeptis Auditor dan Kecurangan

    Fraud (kecurangan) merupakan salah satu tindakan melawanhukum dan mempunyai arti yang sangat luas. InternationalStandard on Auditing (ISA) No. 240 menyebutkan bahwakecurangan mengacu pada tindakan penipuan yang dilakukansecara sengaja oleh seseorang atau beberapa individu diantaramanajemen, pihak yang berkuasa, karyawan, atau pihakketiga, untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atautidak legal (IFAC, 2004). Standar ini juga menyebutkanbahwa kecurangan yang menjadi perhatian auditor dalamaudit laporan keuangan adalah kecurangan yang menyebabkansalah saji material dalam laporan keuangan. Kecurangan yangdilakukan oleh manajemen dan pihak yang berkuasa disebutdengan management fraud (kecurangan manajemen) dankecurangan yang dilakukan oleh karyawan disebut employeefraud (kecurangan karyawan).

    Sedangkan tanggung jawab auditor dalam mendeteksikecurangan dinyatakan dalam standar profesional akuntanpublik yaitu PSA 02, SA seksi 110 (IAI, 2001); SAS No. 1,AU 110 (AICPA, 2002); ISA 240 (IFAC, 2004). Standarprofesional tersebut menyatakan bahwa dalam perencanaandan pelaksanaan audit, auditor bertanggungjawab untukmemperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuanganbebas dari salah saji material, baik yang disebabkan karenaerror (kekeliruan) atau fraud (kecurangan).

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 13

    mempunyai risiko kecurangan yang tinggi. Bertambahnyakecurigaan auditor akan berpengaruh terhadap proses auditmelalui sikap skeptisisme profesionalnya, sehingga padaakhirnya akan meningkatkan proses elaborasi terhadap buktiaudit.

    PSA 70, AU 316 menyebutkan bahwa auditor harus menaksirsecara khusus terhadap risiko salah saji material karenakecurangan dalam laporan keuangan, kemudian harusmempertimbangkan taksiran risiko ini dalam mendesainprosedur audit yang akan dilaksanakan. Dalam penaksiranrisiko kecurangan ini, auditor harus mempertimbangkanfaktor risiko kecurangan yang terkait dengan: (1) salah sajiyang timbul dari kecurangan dalam laporan keuangan, dan(2) salah saji yang timbul dari perlakuan yang tidaksemestinya terhadap aktiva (IAI, 2001). Berikut ini akandibahas lebih lanjut mengenai faktor risiko kecurangan.

    SAS No. 99 menjelaskan bahwa salah saji material karenakecurangan biasanya sulit dideteksi, karena kecuranganbiasanya dilakukan secara tersembunyi. Oleh karena itu,auditor harus mengidentifikasikan fraud risk factors (faktorrisiko kecurangan) yaitu peristiwa atau kondisi yangmengindikasikan adanya motivasi/tekanan untuk melakukankecurangan, kesempatan untuk berbuat curang, atau sikap/rasionalisasi untuk membenarkan tindakan kecurangan.Dalam prosedur penaksiran risiko kecurangan, auditormengidentifikasikan faktor risiko berdasarkan tipe salahsajinya, yaitu salah saji karena kecurangan dalam laporankeuangan atau salah saji karena perlakuan tidak semestinyaterhadap aktiva.

  • 16 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    Selain hal tersebut, SAS No. 99 juga menjelaskan bahwatanggapan auditor terhadap penaksiran risiko kecurangandipengaruhi oleh sifat dan signifikansi dari identifikasi risikodan bagaimana pengendalian yang dilakukan entitas terhadaprisiko yang teridentifikasikan tersebut.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap SkeptisAuditor

    Ada berbagai faktor yang mempengaruhi skeptisismeprofesional auditor. Penelitian terdahulu menggambarkanberbagai model dari skeptisisme profesional. Shaub danLawrence (1996) mengadopsi model trust and suspicion(kepercayaan dan kecurigaan) dari Kee dan Knox (1970) yangdimodifikasi dan diterapkan pada akuntan publik. Dalammodel trust and suspicion dari Kee dan Knox’s (1970),kepercayaan dan kecurigaan, merupakan fungsi dari persepsiindividual dari motif dan/ atau kompetensi orang lain.Persepsi ini berbeda tergantung dari faktor disposisionalindividual, pengalaman sebelumnya atau faktor situasional.Model Kee dan Knox (1970) tersebut dimodifikasikan dalampenelitian Shaub dan Lawrence (1996) yang menyatakanbahwa skeptisisme profesional adalah fungsi dari (1) faktordisposisional etis, (2) pengalaman di bidang akuntansi, dan(3) faktor situasional. Penelitian ini dilakukan terhadap 156auditor dari salah satu kantor akuntan publik the Big 6. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa auditor yang mengendorssituasi etis menjadi kurang skeptis dan kurang perhatianterhadap etika profesional. Auditor yang bersertifikat akuntanpublik kurang skeptis dibandingkan dengan auditor yangtidak bersertifikat. Semakin lama masa kerja auditor, semakintinggi skeptisismenya.

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 17

    Model skeptisisme profesional lainnya dikembangkan olehKopp et al. (2003), dimana model ini memasukkan konstrukskeptisisme profesional dalam konteks audit laporankeuangan yang dikembangkan oleh Hurt, Eining, danPlumlee (2003). Model ini menyatakan bahwa dampak darikepercayaan (trust) dalam hubungan auditor-klien akanmempengaruhi skeptisisme profesional auditor. Kopp et al.(2003) memproposisikan hubungan negatif antara duakonstruk tersebut. Semakin tinggi trust, audit dapat dilakukandengan semakin efisien dan efektif dengan mendasarkan padapenjelasan manajemen klien untuk mengumpulkan buktiaudit guna memverifikasi asersi dalam laporan keuanganyang diaudit. Tetapi pada tingkat tertentu, trust yang semakintinggi akan menyebabkan auditor mengabaikan bukti audityang seharusnya merupakan indikator adanya salah sajimaterial dalam laporan keuangan.

    Auditor yang kurang skeptis akan menghasilkan kualitasaudit yang rendah. Tetapi apabila auditor terlalu skeptis, makapekerjaan audit menjadi tidak terselesaikan, karena dalammengumpulkan bukti audit auditor harus mendasarkanpekerjaannya pada penjelasan manajemen klien. Tingkatskeptisisme profesional pada tingkat tertentu akan memilikidampak yang ideal terhadap kualitas audit.

    Model Kopp et al. (2003) menyatakan bahwa trust merupakanfungsi dari 3 faktor yaitu: (1) auditor’s predisposition to trust(predisposisi auditor terhadap kepercayaan), (2) characteristicsof the client (karakteristik klien), dan (3) characteristics ofthe auditor-client relationship (karakter hubungan antaraauditor-klien). Predisposisi auditor terhadap kepercayaandipengaruhi oleh pengalaman auditor mengenai realismeaudit. Terkait dengan karakteristik klien, Whitener et al.

  • 18 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    (1998) dalam Kopp et al. (2003) menyatakan bahwa persepsimengenai kredibilitas seseorang dapat meningkat karenaorang tersebut mempunyai kemampuan untuk menunjukkanhal-hal berikut: (1) behavioral consistency (perilaku yangkonsisten), contohnya reliability dan predictability, (2)behavioral integrity (integritas perilaku), contohnya adanyakonsistensi antara kata-kata dan perbuatan, (3) communication(komunikasi), contohnya memberikan informasi yang akurat,memberikan penjelasan untuk pengambilan keputusan,keterbukaan, dan (4) menunjukkan keseriusan (concern). Jadistaf dan manajemen klien yang memiliki kemampuan untukmenunjukkan perilaku seperti tersebut di atas dapatmeningkatkan kepercayaan auditor.

    Kopp et al. (2003) juga menyatakan bahwa karakteristik klienselain hal di atas yang dapat meningkatkan kepercayaanauditor adalah kalau klien audit sebelumnya adalah kolegaauditor atau pernah bekerja di kantor akuntan publik auditor.Penelitian Beasley et al. (2000) dalam Kopp et al. (2003)menemukan bahwa sejumlah kecurangan dalam laporankeuangan disebabkan karena keterlibatan eksekutif senioryang sebelumnya bekerja di kantor akuntan publik. Beasleymenyarankan bahwa pelatihan dan akuntabilitas dapatmenjaga skeptisisme profesional auditor ketika berinteraksidengan manajemen klien yang sebelumnya merupakankolega auditor.

    Faktor ketiga yang mempengaruhi trust terkait dengankarakteristik hubungan antara auditor-klien (Kopp et al.,2003), yang dibedakan menjadi 3 hal: (1) past cooperatifbehavior (perilaku kooperatif dalam penugasan sebelumnya),(2) advice provided in the past (auditor bertindak sebagaipenasehat dalam penugasan sebelumnya), dan (3) tenure of

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 19

    auditor-client relationship (lamanya hubungan auditor –klien). Penelitian dalam disertasi ini lebih menekankan padavariabel skeptisisme profesional, oleh karena itu variabel-variabel yang menjadi anteseden dari trust tidak dimasukkandalam model penelitian.

    Berdasarkan model Kopp et al. (2003), selain trust faktor-faktor yang mempengaruhi skeptisisme profesional adalah:(1) standar profesional seperti peraturan yang diharuskan olehorganisasi profesi dan standar auditing yang berterima umum,dan (2) budaya kantor akuntan publik yang dapat meningkatkanskeptisisme profesional berdampak positif terhadapskeptisisme profesional.

    Dalam model Kopp tingkatan dari trust akan berdampak padaskeptisisme profesional auditor dalam mengumpulkan danmelakukan proses kognitif terhadap bukti audit. Lewicki danBunker (1995, 1996) dalam Kopp et al. (2003) menyatakanbahwa ada tiga tingkat dari trust yaitu: calculus-based trust,knowledge-based trust, dan identification-based trust.

    Chung et al. (2004) meneliti mengenai perbedaan suasana hati(mood) yaitu positif, netral, dan negatif terhadap skeptisismeprofesional berdasarkan teori dalam ilmu psikologi sepertimood-congruent retrieval of information explanation,feelings-as-information model, dan mood managementmodel. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimendimana subyek ditempatkan pada satu diantara tiga kondisisuasana hati (positif, netral, dan negatif). Subyek dalampenelitian ini adalah 102 auditor senior (47 pria dan 55wanita) yang sedang mengikut program pelatihan nasionaldi Australia. Dari eksperimen yang dilakukan, nampak bahwapartisipan dengan suasana hati negatif menunjukkan

  • 20 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    skeptisisme profesional yang paling tinggi dengan menentukannilai inventory lebih konservatif dibandingkan denganpartisipan dengan suasana hati netral. Sedangkan partisipandengan suasana hati positif menentukan nilai inventorykurang konservatif.

    Penelitian lain mengenai skeptisisme profesional auditordilakukan oleh Payne dan Ramsay (2005) yang mengujibagaimana pengaruh fraud risk assessment (penaksiran risikokecurangan) pada tahap perencanaan audit dan pengalamanaudit terhadap tingkat skeptisisme profesional auditor selamapenugasan lapangan. Partisipan dalam penelitian ini adalah184 staff dan senior auditor dari 3 kantor akuntan publik Big5. Desain eksperimen faktorial antar subyek 3 x 2, denganvariabel independen penaksiran risiko kecurangan (tinggi,rendah, dan tanpa petunjuk tingkat risiko kecurangan) danpengalaman (pengalaman, dan tidak pengalaman). Sedangkanvariabel dependen adalah skeptisisme profesional. Skeptisismeprofesional, diukur dengan skala dari 1 sampai 10 (not at alltruthful – completely truthful), menggambarkan tanggapanpartisipan terhadap pertanyaan “berdasarkan informasi dalampenelitian kasus yang diberikan pada anda, apakah penjelasankontroler yang diberikan pada anda dapat dipercaya?”

    Hasil penelitian Payne dan Ramsay (2005) menunjukkanbahwa baik staff (tidak berpengalaman) maupun seniorauditor (berpengalaman) pada kelompok risiko kecuranganrendah mempunyai sikap skeptisisme profesional yang relatiflebih rendah dibandingkan dengan auditor pada kelompokkontrol (tidak diberi penaksiran risiko kecurangan). Staffauditor pada kelompok kontrol memiliki skeptisismeprofesional yang lebih rendah dibanding auditor padakelompok risiko kecurangan tinggi. Tetapi tidak ada

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 21

    perbedaan signifikan antara skeptisisme profesional seniorauditor pada kelompok kontrol dengan kelompok risikokecurangan tinggi. Secara keseluruhan staff auditor justrulebih skeptis dibandingkan senior auditor.

    Fullerton et al. (2005) meneliti mengenai pengaruhskeptisisme profesional internal auditor terhadap kemampuanmendeteksi kecurangan. Penelitian dilakukan dengan desaineksperimen terhadap 57 internal auditor di Florida.Eksperimen dilakukan 2 kali, sebelum dan setelah pelatihanmengenai kecurangan. Hasil penelitian dari eksperimenpertama menunjukkan bahwa auditor dengan skeptisismeprofesional yang lebih tinggi akan lebih memperhatikanterhadap “red flag” dan kemudian mencari informasi lebihbanyak dibandingkan dengan auditor yang skeptisismeprofesionalnya lebih rendah. Hasil penelitian dari eksperimenkedua menunjukkan bahwa pelatihan mengenai fraudawareness (kepedulian terhadap kecurangan) akanmempengaruhi sikap skeptisisme profesional internal auditor.Hal ini terlihat dari meningkatnya keinginan auditor (yangsebelum pelatihan tergolong kurang skeptis) untuk mencariinformasi lebih banyak mengenai kecurangan. Selain haltersebut, hasil studi juga menunjukkan bahwa rata-rataskeptisisme profesional pada internal auditor wanita, denganusia kurang dari 40 tahun, memiliki sertifikasi profesional,dan mempunyai pengalaman dengan kecurangan selamakarirnya, menunjukkan skeptisisme profesional yang lebihtinggi.

    Suraida (2005), melakukan penelitian dengan metode surveyterhadap akuntan publik di Indonesia. Hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa etika, kompetensi, pengalaman audit,dan risiko audit mempengaruhi skeptisisme profesional

  • 22 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    auditor baik secara parsial maupun secara simultan. Selainitu etika, kompetensi, pengalaman audit, risiko audit danskeptisisme profesional berpengaruh positif terhadapketepatan pemberian opini audit.

    Joe and Vandervelde (2006) meneliti mengenai apakahauditor yang semula memberikan jasa non-audit dankemudian memberikan jasa audit akan menunjukkan efektivitasaudit yang lebih tinggi. Penelitian dilakukan terhadap 84auditor in charge dari kantor akuntan publik Big 4. Hasildari studi ini menyatakan bahwa auditor yang melakukantugas non audit dan tugas audit sekaligus, akan menetapkanrisiko kecurangan yang lebih tinggi dibandingkan denganauditor yang melakukan tugas audit saja.

    Auditor yang berasal dari kantor akuntan publik yangmelakukan tugas non audit dan audit sekaligus terhadap satuklien (auditor yang melakukan tugas non audit berbedadengan auditor yang melakukan tugas audit, tapi keduanyaberasal dari kantor akuntan publik yang sama), cenderungmengidentifikasikan risiko kecurangan yang lebih rendahdibandingkan dengan auditor yang berasal dari kantorakuntan publik yang hanya melakukan tugas audit saja.

    Kesimpulannya adalah apabila seorang auditor melakukantugas non audit dan tugas audit sekaligus untuk satu klienmaka akan terjadi transfer knowledge dari tugas non auditke tugas audit. Hal ini menyebabkan auditor menjadi lebihefektif dalam melakukan penugasan audit. Transferknowledge tidak terjadi jika auditor yang mengerjakan tugasnon audit berbeda dengan auditor yang mengerjakan tugasaudit meskipun mereka berasal dari satu kantor akuntanpublik. Meskipun demikian, faktor risiko kecurangan yang

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 23

    diidentifikasikan auditor menjadi lebih sedikit jika kantorakuntan publiknya juga sekaligus memberikan jasa non auditdibandingkan jika yang memberikan jasa non audit adalahkantor akuntan publik lain. Temuan ini menyatakan bahwaauditor akan menunjukkan skeptisisme profesional yang lebihrendah jika kantor akuntan publiknya memberikan jasa nonaudit dan jasa audit sekaligus untuk satu klien.

    Carpenter dan Reimers (2007) menginvestigasi mengenaipengaruh tone of the top dan skeptisisme individual auditorterhadap penaksiran risiko kecurangan dan prosedur audit.Yang dimaksud tone at the top adalah penekanan partner/manager dalam mengarahkan auditor bawahannya. Partner/manager dengan high tone at the top lebih menekankan padaefektivitas audit, sedangkan partner/manager dengan low toneat the top lebih menekankan pada efisiensi audit. Subyekdalam penelitian ini 160 senior auditor dan manager darikantor akuntan publik Big 4.

    Hasil penelitian menyatakan bahwa partner/manager denganhigh tone at the top menetapkan penaksiran risiko kecuranganauditor lebih tinggi dibandingkan dengan low tone at thetop, terutama jika ada indikasi kecurangan. Selain ituditemukan juga bahwa skeptisisme individual auditormempengaruhi pemilihan prosedur audit yang memadai,tetapi tone at the top tidak mempengaruhi. Tone at the topmempengaruhi skeptisisme individual auditor. Jadikesimpulannya, partner auditor harus menjaga tone at thetop yang memadai agar dapat mencapai skeptisismeprofesional yang bermanfaat bagi pengambilan keputusanauditor.

  • 24 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    Bellovary dan Johnstone (2007) melakukan penelitian denganwawancara lapangan semi-structured terhadap 22 auditorpada semua level (partner, direktur, manajer, senior, danstaff). Responden berasal dari 7 kantor akuntan publik danobservasi dilakukan terhadap kegiatan brainstorming selamaperiode Agustus sampai dengan Oktober 2006. Hasilpenelitian menunjukkan gambaran bagaimana kantor akuntanpublik berusaha meningkatkan skeptisisme profesionalauditornya dengan melakukan proses brainstorming.

    Rose (2007) mengembangkan penelitian sebelumnya denganmenguji pengaruh dispositional trust, skeptisisme, danpengalaman auditor dengan kecurangan terhadap perhatianauditor pada praktek pelaporan keuangan yang agresif danpertimbangan auditor pada salah saji yang potensial. Hasilnyamembuktikan bahwa (1) auditor yang lebih skeptis mempunyaiperhatiannya yang lebih besar terhadap praktek pelaporankeuangan yang agresif, (2) auditor yang mempunyai tingkatkepercayaan yang rendah terhadap klien cenderungmemberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelaporankeuangan yang agresif, (3) auditor yang mempunyai perhatianyang lebih besar terhadap pelaporan keuangan yang agresifcenderung untuk percaya bahwa terjadi salah saji yangdisengaja, (4) auditor yang lebih berpengalaman terhadapkecurangan, lebih percaya terhadap terjadinya salah saji yangdisengaja ketika terdapat bukti adanya pelaporan keuanganyang agresif.

    Koch et al. (2008) melakukan eksperimen terhadap 72 auditordari semua level mulai dari asisten, manager, senior manager,dan partner dari 2 kantor akuntan publik Big 4 di Jerman.Studi ini ingin menguji apakah hubungan pertanggungjawabanantara auditor dengan dewan direksi yang lebih independen

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 25

    dapat memperbaiki independensi auditor. Hasil studimenunjukkan bahwa tidak ada perbedaan independensiantara auditor yang bertanggungjawab kepada managementboard dengan yang bertanggungjawab kepada supervisoryboard (pihak yang lebih independen terhadap laporankeuangan yang diaudit dibandingkan dengan managementboard).

    Hal tersebut terjadi karena auditor mempunyai skeptisismeprofesional yang memadai yang ditunjukkan pada saat auditormelakukan belief task (tugas auditor untuk menentukanseberapa besar tingkat kepercayaan auditor terhadap laporankeuangan yang diauditnya, misalnya menilai konsistensibukti audit, menilai kesesuaian metode akuntansi dalamlaporan keuangan dengan GAAP). Auditor yang memandangpenting untuk mempertahankan klien dari segi financial,cenderung untuk membuat opini audit yang bias. Sedangkanauditor yang memandang penting untuk mempertahankanklien dari segi psikologi, cenderung untuk mengikuti kebijakanmanajemen.

    Hasil penelitian Koch et al. (2008) tersebut menyimpulkanbahwa tekanan keuangan dan tekanan sosial dari klien dapatmengancam independensi auditor. Hal-hal berikut ini dapatmengatasi masalah tersebut: 1) adanya oversight board dapatmelindungi auditor dari tekanan keuangan, 2) pengalamanauditor dapat mengurangi tekanan sosial auditor, dan 3) sikapskeptisisme profesional auditor dapat menetralkan tekananmanajemen secara umum.

    Meningkatkan Sikap Skeptis Auditor

    Auditor yang tidak menerapkan skeptisisme dalam penugasanaudit, akan sulit untuk menemukan salah saji yang disebabkan

  • 26 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    oleh kecurangan. Hal ini disebabkan karena biasanya pelakukecurangan akan menutupi perbuatannya dengan segala cara(Knapp & Knapp, 2001). Berikut adalah beberapa carameningkatkan sikap skeptis auditor berdasarkan penelitianterdahulu.

    1. Penaksiran Risiko Kecurangan yang Tepat

    Salah satu cara untuk meningkatkan sikap skeptis auditorpada saat melakukan audit di lapangan adalah denganmemberikan penaksiran risiko kecurangan yang tepat.Penaksiran risiko kecurangan (fraud risk assessment)biasanya dibuat oleh auditor in-charge (auditor yangberkuasa, seperti misalnya manager audit atau partner) padatahap perencanaan audit. Penaksiran kemudian dikomunikasikandengan tim pelaksana audit. Tim pelaksana audit yangmelakukan pengujian audit dalam penugasan lapanganbiasanya adalah yunior auditor, semi senior auditor, atausenior auditor yang melakukan audit dengan berpatokan padapenaksiran risiko kecurangan yang telah ditentukan olehatasannya. Penaksiran risiko kecurangan merupakan aktivitasdalam perencanaan audit yang cukup penting karenapenaksiran ini akan menentukan sifat, waktu dan luaspengujian audit.

    Apabila pada saat review pendahuluan terhadap perusahaan,auditor in- charge menemukan adanya faktor risikokecurangan yang tinggi yang merupakan indikasi adanyakecurangan dalam laporan keuangan yang diaudit makaauditor in-charge akan menaksir risiko kecurangan padatingkat yang tinggi. Tingkat penaksiran risiko kecuranganyang tinggi akan diterima sebagai petunjuk bagi auditor yangmelakukan penugasan di lapangan dan akan meningkatkan

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 31

    risiko kecurangan yang rendah dengan kelompok kontrolyang tidak diberi penaksiran risiko kecurangan. Tetapi subyekyang diberi penaksiran risiko kecurangan yang tinggicenderung melakukan elaborasi lebih mendalam dibandingkandengan subyek pada kelompok yang tidak diberikaninformasi mengenai risiko kecurangan. Hal tersebutmenunjukkan bahwa meskipun penaksiran risiko kecuranganyang tinggi akan meningkatkan skeptisisme profesionalauditor, tetapi penaksiran risiko kecurangan yang rendah tidakakan mempengaruhi skeptisisme profesional auditor.

    Penelitian Rose and Rose (2003) tersebut di atas, sesuai denganyang dipersyaratkan oleh standar. SAS No. 99 menyatakanbahwa penaksiran auditor terhadap risiko salah saji yangmaterial terkait dengan kecurangan harus dilakukan selamaaudit berlangsung. Kondisi yang dapat diidentifikasikanselama penugasan lapangan dapat merubah atau mendukungpertimbangan dalam penaksiran risiko (AICPA, 2002, AU316.68). Selain itu standar juga menyatakan bahwa menjelangpenyelesaian pekerjaan lapangan, auditor harus mengevaluasiapakah akumulasi hasil dari prosedur audit dan observasi lainnyamempengaruhi penaksiran risiko kecurangan yang ditetapkanpada tahap awal audit. Evaluasi ini diperlukan untuk memberi-kan masukan mengenai apakah diperlukan prosedur audittambahan atau prosedur audit yang lainnya (AICPA, 2002, AU316.74). Implikasinya adalah bahwa proses penaksiran risikokecurangan dilakukan terus menerus selama penugasan lapangandan tahap akhir audit. Kecurangan seringkali dideteksi selamapenugasan lapangan (Loebbecke et al., 1989), oleh karenaitu penaksiran risiko kecurangan yang rendah pada tahapperencanaan seharusnya tidak mempengaruhi auditor selamapenugasan lapangan melalui skeptisisme profesionalnya.

  • 32 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    Hal tersebut di atas menyatakan bahwa sikap profesionalauditor tidak boleh dipengaruhi oleh penaksiran risikokecurangan awal yang rendah dalam tahap perencanaan.Untuk menjaga tingkat skeptisisme profesional yangmemadai sepanjang waktu, diharapkan auditor akanmenyesuaikan penaksiran risiko kecurangan yang rendahapabila ditemukan bukti baru. Dengan kata lain, evaluasibukti dapat mempengaruhi penaksiran risiko kecuranganawal, tetapi penaksiran risiko kecurangan awal tidak akanmempengaruhi evaluasi bukti.

    Ide tersebut di atas digambarkan dalam SAS No. 99 yangmengingatkan auditor akan pentingnya menjaga skeptisismedan dikatakan “.......... melakukan penugasan denganmengakui bahwa kemungkinan terjadinya salah saji materialyang terkait dengan kecurangan dapat terjadi tanpamemperhatikan kepercayaan auditor mengenai kejujuranmanajemen dan integritasnya.” (AICPA, 2002, AU 316.13).Kegagalan untuk menyesuaikan penaksiran risikokecurangan ketika ada bukti yang mengindikasikan haltersebut akan mengakibatkan kegagalan audit.

    Beberapa penelitian di bidang psikologi mengatakan bahwainformasi yang negatif cenderung memiliki dampak yanglebih besar dalam aktivitas kognitif dan diterima lebih baikdalam memori seseorang (Ajzen, 2001). Hal ini menunjukkanbahwa penaksiran risiko kecurangan yang tinggi yangmerupakan informasi negatif, akan lebih mudah diingat olehauditor sehingga diharapkan auditor dapat mempertahankanskeptisisme profesional yang tinggi dan tidak menurunkanskeptisismenya selama penugasan. Standar maupun penelitiansebelumnya juga menunjukkan bahwa penaksiran risikokecurangan yang tinggi akan dijadikan patokan auditor dalam

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 33

    melakukan penugasan audit sehingga skeptisisme profesionalauditor akan meningkat. Penaksiran risiko kecurangan yangtinggi menyebabkan auditor lebih menaruh perhatian padabukti audit dan menumbuhkan perasaan curiganya sehinggaauditor akan bersikap lebih skeptis. Sebaliknya apabilapenaksiran risiko kecurangan pada tahap perencanaan auditrendah diharapkan auditor tidak terpengaruh dan tetapbersikap skeptis, jadi auditor diharapkan dapat menyesuaikanpenaksiran risiko kecurangan awal yang rendah tersebut.

    2. Pemilihan Personal yang Tepat

    Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa karakteristik personalmempengaruhi sikap skeptis mereka. Setiap individu adalahunik, mereka berbeda satu dengan lainnya, dan hal tersebutmenyebabkan sikap dan perilaku mereka menjadi berbeda.Hellriegel (2001) mengatakan bahwa hal-hal yang menyebabkanperbedaan antara individu satu dengan lainnya dapat dikelompokkandalam 2 kategori: primary categories yaitu karakteristikgenetik yang mempengaruhi kesan dan sosialisasi orang dansecondary categories yaitu karakteristik yang diperoleh dandimodifikasi seseorang melalui kehidupannya.

    Primary categories terdiri dari: age (umur), race (ras), ethnicity(etnik), gender (jenis kelamin), physical abilities and qualities(kemampuan dan kualitas fisik), dan sexual orientation(orientasi seksual). Sedangkan secondary categories terdiridari: education (pendidikan), work experience (pengalamankerja), income (penghasilan), marital status (status perkawinan),religious beliefs (keyakinan agama), geographic location(lokasi geografi), parental status (status orang tua), danpersonal style (kecenderungan seseorang yang unik dalamberpikir, berperasaan, atau bertindak).

  • 34 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    Beberapa bukti menunjukkan bahwa faktor genetik dapatmempengaruhi sikap seseorang (Hellriegel, 2001). Berikutini akan dijelaskan pengaruh faktor karakteristik personalyaitu pengalaman kerja, dan gender auditor terhadapskeptisisme profesional auditor dalam mendeteksi kecurangan.

    Pengaruh Pengalaman terhadap Skeptisisme Profesional

    Salah satu faktor penting yang membentuk sikap adalahpengalaman seseorang terhadap suatu obyek tertentu (Siegeldan Marconi, 1989). Kebanyakan auditor tidak berpengalamandengan kecurangan dalam karier mereka (Montgomery etal., 2002; Pany dan Whittington, 2001). Mereka cenderunguntuk merevisi kepercayaan mereka ke bawah terhadapkemungkinan terjadinya kecurangan karena mereka terbiasamelakukan audit tanpa kecurangan, dan menjadi kurangskeptis. Penelitian Shaub dan Lawrence (1999); dan penelitianPayne dan Ramsey (2005) juga mendukung pernyataantersebut. Hasil penelitan mereka menunjukkan bahwa auditoryunior menunjukkan skeptisisme yang lebih besar baik dalampemikiran maupun perilaku dibandingkan auditor senior. Jadimeskipun auditor sudah berpengalaman dalam audit tetapiapabila dia tidak pernah atau jarang sekali menemukankecurangan maka lama kelamaan sikap skeptisismenya akanmenurun. Oleh karena itu auditor dengan pengalaman yanglebih banyak justru menunjukkan skeptisisme profesionalyang lebih rendah dibandingkan auditor dengan pengalamanyang kurang.

    Sebaliknya penelitian terdahulu dari Knapp dan Knapp(2001) yang menguji mengenai pengaruh pengalamanterhadap efektivitas auditor dalam menaksir risiko kecurangandalam laporan keuangan dengan menggunakan prosedur

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 35

    analitis, membuktikan bahwa manager audit lebih efektifdibandingkan dengan auditor senior. Pada penelitian tersebutmanager audit menaksir risiko kecurangan pada level yanglebih tinggi untuk laporan keuangan yang mengandungkecurangan dan menaksir risiko kecurangan pada level yanglebih rendah untuk laporan keuangan yang tidak mengandungkecurangan. Hal ini diduga disebabkan karena manager auditlebih skeptis dibanding dengan auditor senior. Hasil penelitianMoyes dan Hasan (1996) menyatakan bahwa pengalamanauditing dari auditor merupakan variabel yang signifikandalam mendeteksi kecurangan untuk setiap siklus transaksiyang diteliti. Auditor yang lebih berpengalaman lebihcenderung dapat mendeteksi kecurangan dibandingkandengan auditor yang kurang berpengalaman. Jadi pengalamandiekspektasikan berpengaruh positif terhadap skeptisismeprofesional, auditor yang lebih berpengalaman lebih skeptisdibandingkan dengan auditor yang kurang berpengalaman.

    Hackenbrack (1993) menemukan bahwa terdapat perbedaanpersepsi mengenai pentingnya indikator risiko kecurangan(red-flags) antara auditor yang mempunyai pengalamandengan klien perusahaan besar dengan auditor yangmempunyai pengalaman dengan klien perusahaan kecil.Auditor yang mempunyai pengalaman dengan klienperusahaan besar biasanya auditor dari kantor akuntan publikyang besar, sedangkan auditor yang mempunyai pengalamandengan klien perusahaan kecil adalah auditor dari kantorakuntan publik menengah atau kecil.

    Graham and Bedard (2003) meneliti mengenai pengaruhpengalaman audit terhadap identifikasi risiko kecurangan,penaksiran risiko kecurangan dan perencanaan audit.Penelitian ini menemukan bahwa manager/partner menaksir

  • 36 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    risiko kecurangan yang lebih rendah dibandingkan denganauditor senior, tetapi tidak ada perbedaan perencanaan auditantara manager/partner dengan auditor senior. Dalammengidentifikasikan risiko kecurangan, auditor seniormengidentifikasikan faktor risiko yang lebih sedikitdibandingkan dengan manager/partner. Hasil ini menyatakanbahwa pengalaman auditor berasosiasi dengan identifikasirisiko kecurangan dan penaksiran risiko kecurangan, tetapitidak berasosiasi dengan perencanaan pengujian audit untukmendeteksi kecurangan. Jadi pengalaman auditor tidakmempengaruhi skeptisisme auditor dalam membuatperencanaan pengujian audit untuk mengevaluasi bukti auditmeskipun auditor yang lebih berpengalaman menaksir risikokecurangan yang lebih rendah.

    Penelitian-penelitian tersebut di atas menunjukkan hasil yangtidak konsisten, tetapi hipotesis dalam penelitian inimendasarkan pada teori pembentukan sikap. Azwar (1988)menyebutkan bahwa diantara berbagai faktor yangmempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalamanpribadi. Seorang auditor akan bersikap lebih skeptis apabiladia mempunyai pengalaman yang lebih banyak.

    Pengaruh Gender terhadap Skeptisisme Profesional

    Kerangka teoritis untuk menjelaskan perbedaan antara wanitadan pria dalam mengolah informasi dikembangkan olehMeyers-Levi (1989) dan disebut “selectivity hypothesis”(O’Donnell dan Johnson, 2001). “Selectivity hypothesis”menyatakan bahwa wanita dan pria akan melakukan strategipengolahan informasi yang berbeda tergantung padakompleksitas tugas. Wanita cenderung untuk menggunakanstrategi pengolahan informasi yang rinci tanpa melihat

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 37

    apakah tugas itu sifatnya sederhana atau kompleks. Merekacenderung untuk melakukan evaluasi yang rinci dan sedikitdemi sedikit (piecemeal) terhadap informasi yang tersediadan kurang mengacu pada heuristic. Sedangkan pria,cenderung untuk menyederhanakan strategi pengolahan yangdapat meminimalkan usaha kognitif (cognitive effort) danmengurangi beban informasi untuk penugasan yang sederhana,dan mengalihkan ke strategi yang lebih rinci hanya jikapeningkatan kompleksitas tugas tidak dapat diakomodasioleh pendekatan yang sederhana.

    Selectivity Hypothesis juga menyatakan bahwa perbedaangender mempengaruhi efisiensi pertimbangan dalamkompleksitas tugas. Wanita cenderung menggunakan waktulebih efisien ketika mengerjakan tugas yang kompleks yangmembutuhkan strategi yang rinci, karena wanita lebih terlatihdalam menggunakan strategi yang rinci dan lebih dapatmenyiapkannya dibandingkan pria. Pria cenderung mengguna-kan waktu yang lebih efisien dalam menyelesaian pekerjaanyang sederhana karena permintaan kognitif dari tugas yangsederhana lebih cocok dengan strategi pengolahan informasiyang sederhana yang lebih disukai oleh pria (O’Donnell danJohnson, 2001).

    Penelitian Chung dan Monroe (1998) menemukan bahwamahasiswa akuntansi pria mengadopsi strategi hypothesis-confirming dalam mengevaluasi going concern, sedangkanmahasiswa wanita tidak. Mahasiswa pria mengolah informasilebih selektif sedangkan mahasiswa wanita mengolahinformasi lebih komprehensif. Chung dan Monroe (2001),menguji pengaruh gender dan kompleksitas tugas terhadapkeakuratan pertimbangan auditor. Hasilnya menunjukkanbahwa auditor wanita lebih akurat dibandingkan dengan

  • MENINGKATKAN PERILAKU SKEPTIS AUDITOR | 39

    pria cenderung untuk mengadopsi sikap yang sama saatmelakukan aktivitas audit.

    Dari penjelasan tersebut, kemungkinan perbedaan gendermenyebabkan perbedaan skeptisisme profesional auditor danpada akhirnya menyebabkan perbedaan keakuratan mereka,diduga auditor wanita lebih skeptis dibandingkan denganauditor pria.

    3. Menjaga Independensi Auditor

    Dalam setiap penugasan audit pasti akan menimbulkanhubungan antara auditor dan klien. Meskipun demikian,diharapkan auditor tetap dapat menjaga independensinya.Model teoritis yang dikembangkan oleh Kopp et al. (2003)menyatakan bahwa kepercayaan (trust) yang timbul darihubungan auditor-klien akan mempengaruhi skeptisismeprofesional. Dalam melaksanakan audit, auditor dihadapkanpada situasi adanya asimetri informasi dimana klien,manajemen dan staf klien mempunyai pengetahuan yanglebih banyak mengenai perusahaan yang diaudit daripadaauditor. Laporan keuangan yang diaudit beserta bukti-buktipendukungnya dihasilkan oleh manajemen klien. Penjelasandari klien, manajemen dan staf klien merupakan langkah awalauditor dalam mengumpulkan bukti audit untuk melakukanverifikasi terhadap asersi dalam laporan keuangan. Dengankata lain auditor akan mengacu pada penjelasan klien danmenghadapi risiko dimana kepercayaannya terhadap klienternyata tidak tepat. Jadi auditor harus mempunyai tingkatkepercayaan tertentu terhadap klien dalam melakukanpenugasan audit.

    Tingkat kepercayaan dari auditor terhadap manajemen ataustaf klien dapat dijadikan prediksi mengenai bagaimana sikap

  • 42 | Dr. Suzy Noviyanti, SE, MBA, Akt.

    dalam kenyataannya auditor seringkali kurang skeptissehingga mengakibatkannya gagal dalam mendeteksikecurangan. Oleh karena itu menarik untuk menelitimengenai bagaimana meningkatkan sikap skeptis auditorsehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalammendeteksi kecurangan.

    Daftar Pustaka

    Abdolmohammadi, M. J. 2000. “Auditors’ Ethical Sensitivityand the Assessment of Likelihood of Fraud.”Managerial Finance. Volume 26. No. 11. Pp 21-32.

    Ajzen, I. 2005. Attitudes, Personality, and Behavior. SecondEdition. Open University Press.

    ____, 1991. “The Theory of Planned Behavior” .Organizational Behavior and Human DecisionProcesses. Volume 50. Pp 179-211.

    Albarracin, D., Johnson, B. T., dan Zanna, M. P. 2005.Handbook of Attitudes. Lawrence ErlbaumAssociates, Publisher. Mahwah, New Jersey.

    American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).2002. Statement on Auditing Standards. New York:AICPA.

    Ansah, S. O., Moyes, G. D., Oyelere, P. B., Hay, D. 2002.“An Empirical Analysis of the Likelihood ofDetecting Fraud in New Zealand.” ManagerialAuditing Journal. Volume 17/4. Pp 192-204.

    Apostolou, B. A., Hallell, J. M., Webber, S. A., Sumners, G.E. 2001. “The Relative Importance of ManagementFraud Risk Factors.” Behavioral Research inAccounting. Volume 13. Pp 1-24.