of 83/83
ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI INDUSTRI USAHA KECIL DAN MENENGAH PRODUK PERCETAKAN PADA CV. MIRANTI, BOGOR Oleh DEWI AMANDA METALLITA H24104097 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI …repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/63847/1/H13dam.pdf · 2.7 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi ... 11. Perhitungan Biaya

  • View
    252

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI...

  • ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI

    INDUSTRI USAHA KECIL DAN MENENGAH PRODUK

    PERCETAKAN PADA CV. MIRANTI, BOGOR

    Oleh

    DEWI AMANDA METALLITA

    H24104097

    PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

    DEPARTEMEN MANAJEMEN

    FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    BOGOR

    2013

  • 2

    ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI

    INDUSTRI USAHA KECIL DAN MENENGAH PRODUK

    PERCETAKAN PADA CV. MIRANTI, BOGOR

    SKRIPSI

    Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar

    SARJANA EKONOMI

    pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen

    Departemen Manajemen

    Fakultas Ekonomi dan Manajamen

    Institut Pertanian Bogor

    Oleh :

    DEWI AMANDA METALLITA

    H24104097

    PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

    DEPARTEMEN MANAJEMEN

    FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    BOGOR

    2013

  • Judul Skripsi : Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Industri

    Usaha Kecil dan Menengah Produk Percetakan pada

    CV. Miranti, Bogor

    Nama : Dewi Amanda Metallita

    NIM : H24104097

    Menyetujui,

    Dosen Pembimbing

    Drs. Edward H. Siregar, SE, MM.

    NIP. 19570622 198601 1 001

    Mengetahui,

    Ketua Departemen

    Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc

    NIP. 19610123 198601 1 002

    Tanggal Lulus :

  • 4

    RINGKASAN

    DEWI AMANDA METALLITA. H24104097. Analisis Perhitungan Harga

    Pokok Produksi Industri Usaha Kecil dan Menengah Produk Percetakan pada CV.

    Miranti, Bogor. Di bawah bimbingan EDWARD H. SIREGAR.

    Perhitungan harga pokok produksi pada UKM perlu dilakukan agar

    perusahaan tidak mengalami kerugian dan juga sebagai alat untuk memantau

    realisasi biaya produksi, stermasuk juga CV. Miranti. Perhitungan biaya ini pada

    akhirnya akan ditanggung oleh konsumen. Maka perhitungan harga pokok

    produksi suatu manufaktur adalah penting, sehingga rumusan masalah untuk

    penelitian ini yaitu bagaimana perhitungan harga pokok produksi barang cetak

    dengan metode yang digunakan oleh CV. Miranti, bagaimana perhitungan harga

    pokok produksi barang cetak dengan metode full costing dan metode variable

    costing dan bagaimana hasil perbandingan antara metode perusahaan dengan

    metode full costing dan metode variable costing. Maka Berdasarkan perumusan

    masalah, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perhitungan harga pokok

    produksi menggunakan metode CV. Miranti, menganalisis perhitungan harga

    pokok produksi CV. Miranti dengan menggunakan metode full costing dan

    metode variable costing, dan membandingkan dan merumuskan metode

    perhitungan harga pokok produksi yang digunakan oleh CV. Miranti dengan

    metode full costing dan metode variable costing.

    Pembuatan 500 lembar leaflet menurut perhitungan CV. Miranti adalah sebesar

    Rp. 894.361,- dan untuk per lembar nya adalah sebesar Rp 1.789,-, sedangkan

    menggunakan metode perhitungan full costing sebesar Rp 988.443,- atau Rp

    1.977,- per lembar leaflet dan dengan metode perhitungan variable costing

    sebesar RP 749.336,- atau Rp 1.499,- per lembar leaflet. Sebaiknya perusahaan

    menggunakan metode full costing dalam melakukan perhitungan harga pokok

    produksinya karena metode ini membebankan dan memperhitungkan seluruh

    biaya yang terjadi ke harga pokok produksinya, sehingga perhitungannya lebih

    wajar dan akurat.

  • 5

    ABSTRACT

    DEWI AMANDA METALLITA. H24104097. Analysis of Cost of Goods

    Production Calculation for Home Industries Product at CV. Miranti, Bogor.

    Guided by EDWARD H. SIREGAR.

    The Cost of Goods Production calculation for home industries is really

    important to avoid lost profit and needed to monitor the actual of production cost.

    Furthermore, CV. Miranti is a maturate company who improve their market, so

    they need to concern about their products price and they need to improve the cost

    of goods production calculation method. The whole expenses will be charged to

    customer when the goods are ready to sold, therefor the points of this matter are

    how CV. Miranti calculate their cost of goods production, how to calculate the

    cost of goods production by full costing method and variable costing method, and

    how is the result of calculation comparartion between CV. Miranti method, full

    costing method, and variable costing method. Regarding of those matters, the

    goals of this research are to identify the cost of goods production calculation by

    CV. Miranti method, full costing method and variable costing method, and

    compared of those three mathods to decide which the exact method to be applied.

    CV. Miranti was received an order to produce 500 sheets of leaflets on

    May 2012. The cost of good production by CV. Miranti calculation method was

    Rp 894.361,- or Rp 1.789,- per sheet, whereas it calculated was Rp 988.443,- or

    Rp 1.977,- per sheet by varibale costing method and it was Rp 749.336,- or Rp

    1.499,- per sheet by full costing calculaion method. There was difference

    between CV. Miranti method, variable costing method, and full costing method.

    The most expensive cost identified by full costing calculation method, this caused

    it calculated of all actual expense of the manufacturing process. It adviced to

    apply full costing method because the final cost was already calculate whole

    actual expense and the price was proper to be compete with others.

  • 1

    RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Agustus 1989. Penulis adalah

    anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Daud Akhyar dan Ibu

    Darsiatun, serta memiliki satu orang adik laki-laki bernama Luthfy Nurcahya

    Fakhrurozie.

    Penulis menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di TK Akbar pada

    tahun 1995, pendidikan dasar di SD Bina Insani Bogor pada tahun 2001 dan

    pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004 di SMP Negeri 1

    Bogor. Pendidikan Mengengah lanjutan atas di SMA Negeri 7 Bogor diselesaikan

    pada tahun 2007. Pada saat di bangku SMA, penulis mengikuti beberapa kegiatan

    ekstrakulikuler, salah satunya adalah paduan suara.

    Penulis diterima pada program Diploma Tiga Institut Pertanian Bogor

    (IPB) program keahlian Akuntansi melalui jalur Penelusuran Minat dan Keahlian

    (PMDK) pada tahun 2007 dan lulus di tahun 2010. Pada saat kuliah di D3 IPB,

    penulis juga dipercaya untuk menjadi panitia makrab. Penulis melanjutkan

    pendidikan di Program Sarjana Alih Jenis jurusan Manajemen di tahun 2010.

    Penulis melakukan penelitian sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

    Sarjana. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2012 dengan

    Judul Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Industri Usaha Kecil dan

    Menengah Produk Percetakan pada CV. Miranti, Bogor.

    iii

  • 2

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirohmannirrohim

    Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-

    Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Perhitungan

    Harga Pokok Produksi Industri Usaha Kecil dan Menengah Produk Percetakan

    pada CV. Miranti, Bogor, sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh gelar

    Sarjana di Program Alih Jenis Manajemen Instirut Pertanian Bogor, dengan waktu

    yang telah ditetapkan.

    Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

    membantu penlis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima

    kasih juga penulis ucapkan kepada dosen pembimbing, Drs. Edward H. Siregar,

    SE, MM. yang telah membimbing penulis dalam pembuatan skripsi ini.

    Penulis menyadari atas keterbatsan yang penulis miliki, sehingga laporan

    ini sangatlah jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menerima

    berbagai saran maupun kritik dari para pembaca guna memperbaiki kualitas isi

    dari skripsi ini.

    Akhir kata, penulis berharap agar laporan ini dapat menambah

    pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan penulis pada

    khususnya.

    Bogor, Januari 2013

    Penulis

    iv

  • 3

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.

    Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ini mengucapkan terima

    kasih kepada :

    1. Kedua orangtua penulis, Bapak Daud dan Ibu Darsi, adik penulis, Luthfy, dan

    nenek penulis, Ibu Wati, serta seluruh keluarga yang selalu memberikan doa

    dan dorongan lahir maupun batin selama ini.

    2. Bapak Drs. Edward H. Siregar, SE, MM. selaku dosen pembimbing yang telah

    meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dengan sangat baik

    sehingga skripsi ini terselesaikan.

    3. CV. Miranti beserta seluruh pimpinan dan karyawannya yang telah

    memperbolehkan penulis melakukan penelitian serta memberikan informasi

    kepada penulis yang sangat berguna dalam penulisan skripsi ini.

    4. Seluruh dosen dan staff sekretariat Program Sarjana Alih Jenis Manajemen

    Institut Pertanian Bogor.

    5. Seluruh teman dan sahabat yang telah membantu penulis dalam

    menyelesaikan skripsi ini.

    Bogor, Januari 2013

    Dewi Amanda M.

    v

  • 4

    DAFTAR ISI

    HalamanRINGKASAN

    RIWAYAT HIDUP. iii

    KATA PENGANTAR. iv

    UCAPAN TERIMA KASIH... v

    DAFTAR ISI vi

    DAFTAR TABEL.... viii

    DAFTAR GAMBAR... ix

    DAFTAR LAMPIRAN x

    I. PENDAHULUAN.. 1

    1.1 Latar Belakang...1.2 Perumusan Masalah...1.3 Tujuan Penelitian...1.4 Manfaat Penelitian.1.5 Ruang Lingkup..

    14445

    II. TINJAUAN PUSTAKA 6

    2.1 Usaha Kecil.........2.2 Usaha Mengengah..2.3 Usaha Kecil dan Mengah (UKM) .2.4 Akuntansi Biaya.2.5 Konsep dan Pengertian Biaya2.6 Pengolonagn Biaya2.7 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

    2.7.1 Metode Full Costing.2.7.2 Metode Variable Costing..

    2.8 Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas.2.8.1 Tingkatan Biaya dan Pemicu

    2.9 Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi...2.9.1 Metode Harga Pokok Pesanan..2.9.2 Metode Harga Pokok Produksi.

    2.10 Klasifikasi Biaya Manufaktur yang Umum Digunakan...2.11 Siklus Akuntansi Biaya dalam Perusahaan Manufaktur..2.12 Hasil Penelitian Sebelumnya...

    66789

    101415161718181819202021

    vi

  • 5

    III.METODE PENELITIAN 23

    3.1 Kerangka Penelitian............3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.....3.3 Jenis Sumber Data..3.4 Metode Pengumpulan Data3.5 Pengolahan dan Analisis Data...

    2525252626

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...... 28

    4.1 Gambaran Umum Perusahaan.........4.1.1 Sejarah Perusahaan...4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan4.1.3 Produk Percetakan CV. Miranti4.1.4 Proses Produksi Leaflet4.1.5 Peralatan Produksi Leaflet

    4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi...4.2.1 Perhitungan Tradisional CV. Miranti..4.2.2 Perhitungan Ful Costing..4.2.3 Perhitungan Variable Costing..

    4.3 Perbandingan Hasil Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Metode Perusahaan, Metode Full Costing, dan VariableCosting

    28282930313233343651

    52

    KESIMPULAN DAN SARAN 55

    1. Kesimpulan...........2. Saran....

    5556

    DAFTAR PUSTAKA... 58

    LAMPIRAN.. 59

    vii

  • 6

    DAFTAR GAMBAR

    No. Halaman

    1. Harga Pokok Produksi dan Produk Menurut Metode Full Costing .. 162. Harga Pokok Produksi dan Produk Menurut Metode Variable Costing 173. Siklus Akuntansi Biaya dalam Perusahaan Manufaktur.... 214. Kerangka Pemikiran Penelitian . 245. Struktur Organisasi CV. Miranti ... 296. Proses Pembuatan leaflet .. 32

    viii

  • 7

    DAFTAR TABEL

    No. Halaman

    1. Peralatan Produksi Leaflet pada CV. Miranti . 332. Perhitungan Harga Pokok Produksi Menggunakan Metode CV. Miranti... 343. Harga Pembelian Tinta.... 354. Biaya Bahan Baku Pembuatan Leaflet Metode Full Costing . 375. Biaya Bahan Penolong Bulan Mei 2012...................................................... 406. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Bulan Mei 2012... 417. Perhitungan Biaya Penyusutan Mesin Potong dan Mesin Roller pada

    Bulan Mei 2012............................................................................ 448. Perhitungan Biaya Penyusutan Mesin Potong dan Mesin Cetak GTO pada

    Bulan Mei 2012........................................... 469. Perhitungan Biaya Penyusutan Mesin Potong dan Mesin Plat Maker pada

    Bulan Mei 2012.. 4810. Perhitungan Biaya Overhead Menggunakan Metode Full Costing selama

    Bulan Mei 2012................................... 5011. Perhitungan Biaya Overhead Menggunakan Metode Variabel Costing

    selama Bulan Mei 2012....................................... 5211. Perbandingan Perhitungan HPP dengan Metode Perusahaan, Metode Full

    Costing, dan Variable Costing............................. 53

    ix

  • 8

    DAFTAR LAMPIRAN

    No. Halaman

    1. Data Statistik Jumlah UKM .............................. 602. Daftar Pertanyaan .. 623. Peralatan Cetak CV. Miranti . 634. Bahan Baku CV. Miranti .......................................................... 655. Bahan Penolong CV. Miranti ................................................... 666. Tabel Perhitungan Penyusutan Bangunan Sampai dengan Bulan Mei

    2012............................................................................................ 67

    x

  • 1

    I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, UKM selalu digambarkan

    sebagai sektor yang mempunyai peranan yang penting, karena sebagian besar

    jumlah penduduknya berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil

    di sektor tradisional maupun modern.

    UKM mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi

    nasional. Data statistik menunjukkan jumlah unit usaha kecil mikro dan

    menengah (UKM) mendekati 99,98 % terhadap total unit usaha di Indonesia.

    Sementara jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai 91,8 juta orang atau 97,3%

    terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Menurut Syarif Hasan, Menteri Koperasi

    dan UKM, jumlah UKM pada tahun 2010 berkisar 52,8 juta unit usaha dan pada

    tahun 2011 bertambah menjadi 55,2 juta unit. Setiap UKM rata-rata menyerap 3-

    5 tenaga kerja. Maka dengan adanya penambahan sekitar 3 juta unit sehingga

    tenaga kerja yang terserap bertambah 15 juta orang. Pengangguran diharapkan

    menurun dari 6,8% menjadi 5 % dengan pertumbuhan UKM tersebut. Hal ini

    mencerminkan peran serta UKM terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Oleh

    karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja,

    UKM juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dari tahun

    2006 ke tahun 2010, jumlah UKM mengalami peningkatan yang signifikan. Hal

    ini dapat dibuktikan dengan Tabel yang berisikan jumlah unit usaha UKM di

    Indonesia yang didapat dari Badan Pusat Statistik. Tabel kenaikan jumlah UKM

    dari tahun 2006 hingga 2010 ini terdapat dalam lampiran 1.

    Tahun 2011 yang lalu Indonesia sempat menjadi perhatian negara-negara di

    seluruh dunia karena Indonesia adalah salah satu negara yang mampu bertahan di

    saat negara-negara lain mengalami resesi dan krisis ekonomi. Keberhasilan

    Indonesia dalam mencapai peringkat investasi tersebut menjadi daya tarik yang

    mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan angka pertumbuhan

    ekonomi sekitar 6,5 %, serta pendapatan nasional (PDB) sekitar 820 Milyar Dolar

    merupakan prestasi membanggakan bagi perekonomian nasional. Dan dari angka

    pertumbuhan ekonomi nasional 6,5 %, dominasi 60 % perekonomian negara ini

  • 2

    dari kontribusi UKM. Ini salah satu bukti bukti bahwa UKM cukup berperan

    besar pada perekonomian Indonesia. Apabila dilihat dari segi peningkatan PDB,

    tentu saja prospek UKM pada tahun 2012 cukup cerah. Selain itu, pada saat

    sekarang, pemerintah mulai memperhatikan UKM dan berusaha

    memberdayakannya, maka prospek UKM akan sangat bagus dan memiliki daya

    saing tinggi.

    UKM yang bergerak dalam usaha manufaktur juga semakin banyak dan

    berkembang. Salah satunya adalah manufaktur dalam bisnis percetakan. Bisnis

    ini berpotensi untuk berkembang mengingat pentingnya kebutuhan promosi suatu

    perusahaan ditunjang dengan adanya iklan-iklan yang digunakan dengan produk

    percetakan. Selain itu, produk percetakan juga dibutuhkan dalam dunia

    perkantoran dan pendukung pekerjaan.

    Barang cetakan bermedia kertas (dan media lainnya) akan selalu hadir dan

    terus dibutuhkan untuk menunjang kegiatan usaha manusia itu sendiri. Selama

    masih menjalankan suatu bisnis, kehadiran barang cetakan sebagai bentuk form

    atau alat dokumentasi. Pemakaiannya sebagai media promosi usaha ataupun

    sebagai sarana mempererat hubungan antar personal (sebagian orang menganggap

    kartu nama, kartu undangan, dan lain-lain sebagai simbol status dan

    eksistensinya), maka disitulah bisnis percetakan berperan besar menggiring dan

    menciptakan daya tarik simbolik sang penggunanya. Bisnis desain grafis dan

    percetakan tidak hanya menerima dan mencetak segala sesuatu yang dipesan oleh

    konsumen. Usaha ini tidak bisa lepas bahkan berkaitan erat dengan dimulainya

    tahapan perencanaan dan pembuatan desainnya yang kualitatif dan akurat.

    Teknologi komputer juga mutlak diperlukan sebagai alat penerjemah ide-ide

    cemerlang dan kreatif untuk kemudian ditransformasikan ke dalam sebuah bentuk

    desain (artwork). Pekerjaan desain grafis yang handal, akurat dan bercita rasa

    seakan menghasilkan suatu karya cetak yang baik dan bermutu tinggi. Hasil akhir

    yang berkualitas baik dan tepat waktu pada gilirannya akan memberikan tingkat

    kepuasan yang tinggi bagi konsumen. Pada perkembangannya dewasa ini, bidang

    desain grafis dan percetakan adalah bak daun dan ranting pada suatu pohon alias

    tidak dapat dipisahkan. Kedua bidang ini akan bermuara pada satu bentuk karya

    cetak atau adi karya lainnya, apapun medianya.

  • 3

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perusahaan yang bergerak di

    bidang penerbitan dan percetakan mengalami pertumbuhan yang pesat sampai

    tahun 2006, hal ini terjadi karena menurut BPS, usaha perkantoran yang

    membutuhkan produk percetakan juga kian meningkat. Namun lambat laun

    mengalami penurunan di tahun berikutnya karena mulai tahun 2007 beredar isu

    tentang global warming (pemanasan global) yang terjadi karena pepohonan di

    dunia semakin berkurang jumlahnya dan menyebabkan lapisan ozon semakin

    menipis. Eco industry juga menjadi alasan berbagai perusahaan melakukan paper

    less. Tetapi menurunnya jumlah perusahaan percetakan mengakibatkan peluang

    dalam menjalankan bisnis ini semakin besar karena berkurangnya pesaing. Pada

    tahun 2009, perusahaan percetakan yang tidak terlalu banyak jumlahnya

    mendapatkan proyek yang cukup besar saat pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

    Omzet penjualan dan produksi perusahaan percetakan sangat besar di tahun itu.

    Menurut data BPS, dari tahun 2011 ke tahun 2012, industri percetakan naik

    2,93%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha percetakan memiliki potensi untuk

    berkembang. Hal ini terjadi pada CV. Miranti ini yang berdiri sejak tahun 2001

    dan masih mempertahankan eksistensinya sampai saat ini. Bisnis percetakan ini

    akan semakin berkembang apabila bisnis ditopang dengan sumber daya yang

    unggul. Menurut hasil wawancara dengan penanggung jawab CV. Miranti, pada

    pertengahan tahun 2010 perusahaan ini pernah mengalami kerugian di mana

    perusahaan tidak memiliki uang untuk menggaji full para karyawannnya. Hal ini

    bisa dihindari dengan me-maintain laba yang dihasikan per bulan nya, dengan

    demikian perusahaan memiliki uang sekali pun mereka tidak berproduksi di bulan

    itu. Dalam setiap bisnis tentu perlu adanya pehitungan biaya produksi agar

    didapatkan harga yang optimal dan perusahaan tidak mengalami kerugian seperti

    kejadian di pertengahan tahun 2010 tersebut. Oleh karena itu, dalam bisnis

    percetakan ini perlu adanya perhitungan biaya produksi agar dapat diketahui

    dengan jelas perhitungam biaya produksi yang sebenarnya digunakan, maka

    perusahaan dapat menghitung laba yang diinginkan secara akurat. Perhitungan

    harga pokok produksi ini perlu dilakukan agar perusahaan tidak mengalami

    kerugian dan juga sebagai alat untuk memantau realisasi biaya produksi.

  • 4

    1.2 Rumusan Masalah

    Perhitungan dan pengklasifikasian biaya produksi haruslah akurat.

    Perhitungan biaya ini pada akhirnya akan ditanggung oleh konsumen. Maka

    perhitungan harga pokok produksi suatu manufaktur adalah penting, sehingga

    rumusan masalah untuk penelitian ini yaitu :

    1. Bagaimana perhitungan harga pokok produksi barang cetak dengan metode

    yang digunakan oleh CV. Miranti?

    2. Bagaimana perhitungan harga pokok produksi barang cetak dengan metode

    full costing dan metode variable costing?

    3. Bagaimana hasil perbandingan antara metode perusahaan dengan metode full

    costing dan metode variable costing?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan perumusan masalah yang diuraikan dalam sub bab 1.2, maka

    tujuan penelitian ini adalah :

    1. Mengidentifikasi perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode

    CV. Miranti.

    2. Menganalisis perhitungan harga pokok produksi CV. Miranti dengan

    menggunakan metode full costing dan metode variable costing.

    3. Membandingkan dan merumuskan metode perhitungan harga pokok produksi

    yang digunakan oleh CV. Miranti dengan metode full costing dan metode

    variable costing.

    1.4 Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan bagi

    berbagai pihak, antara lain :

    1. CV. Miranti, dapat membandingkan keakuratan dan keuntungan perhitungan

    harga pokok produksi antara metode yang digunakan dengan metode full

    costing atau dengan metode variable costing.

    2. Masyarakat umum, memberikan informasi dan wawasan mengenai

    perhitungan persediaan bahan baku dengan menggunakan metode full costing

    dan variable costing yang dapat mengoptimalkan keuntungan bagi

    perusahaan.

  • 5

    3. Penulis, dapat memberikan masukan dan pengalaman sebagai pedoman

    apabila penulis melakukan bisnis yang serupa.

    1.5 Ruang Lingkup

    Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2012 di CV.

    Miranti yang beralamat di Jl. Raden Kanan No. 3 Tanah Baru, Bogor. Data yang

    diambil untuk penelitian adalah data bulan Juni 2012 pada saat CV. Miranti

    mendapat order dan melakukan proses produksi pembuatan 500 lembar leaflet.

    Penelitian ini difokuskan terhadap aktivitas produksi CV. Miranti untuk produk

    leaflet terutama elemen-elemen produksi yang mana akan dibebankan ke dalam

    harga pokok produksi produk leaflet CV. Miranti.

  • 6

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Usaha Kecil

    Usaha Kecil sebagaimana dimaksud Undang-undang No.9 Tahun 1995

    adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan

    bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk

    tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp

    1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) per tahun serta dapat menerima kredit dari

    bank maksimal di atas Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp

    500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

    Menurut Undang-undang No.9 Tahun 1995, ciri-ciri usaha kecil :

    1. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang

    berubah

    2. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah

    3. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih

    sederhana. Keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan

    keluarga, sudah membuat neraca usaha

    4. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP

    5. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha

    6. Sebagian sudah memiliki akses ke perbankan dalam hal keperluan modal

    7. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti

    business planning.

    2.2 Usaha Menengah

    Usaha Menengah sebagaimana dimaksud Inpres No.10 tahun 1998 adalah

    usaha bersifat produktif yang memenuhi kriteria kekayaan usaha bersih lebih

    besar dari Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak

    sebesar Rp10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan

    bangunan tempat usaha serta dapat menerima kredit dari bank sebesar

    Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,- (lima

    milyar rupiah).

  • 7

    Menurut Inpres No.10 tahun 1998, ciri-ciri usaha menengah adalah :

    1. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik,

    lebih teratur bahkan lebih modern. Selain itu terdapata pembagian tugas yang

    jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran, dan bagian produksi

    2. Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem akuntansi

    baku dan teratur, sehingga memudahkan untuk penilaian atau pemeriksaan

    oleh pihak perbankan atau auditor.

    3. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan

    4. Telah ada Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), pemeliharaan kesehatan

    dan lain-lain

    5. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin

    usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan dan lain-lain

    6. Sudah memiliki akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan

    7. Secara umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan

    terdidik

    2.3 Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

    Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang

    mengacu ke jenis usaha kecil yang berdiri sendiri dan memiliki kekayaan bersih

    paling banyak Rp 200.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

    Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah

    kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara

    mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah

    dari persaingan usaha yang tidak sehat.

    Sedangkan menurut Departemen Perindustrian (1993) UKM didefinisikan

    sebagai perusahaan yang dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki

    total aset tidak lebih dari Rp 600.000.000,- (di luar area perumahan dan

    perkebunan).

    Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:

    1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus

    Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

  • 8

    2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu

    Milyar Rupiah)

    3. Milik Warga Negara Indonesia

    4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan

    yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak

    langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar

    5. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan

    hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

    2.4 Akuntansi Biaya

    Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan

    penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara

    tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah

    biaya (Mulyadi, 2005). Sedangkan menurut Hongren (2006) akuntansi biaya

    adalah mengukur, menganalisis, dan melaporkan informasi keuangan dan

    nonkeuangan yang terkait dengan biaya perolehan atau penggunaan sumber daya

    dalam suatu organisasi.

    Proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian, serta

    penafsiran informasi biaya tergantung untuk siapa proses tersebut ditujukan.

    Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar

    perusahaan ataupun manajemen perusahaan (Mulyadi, 2005).

    Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok, yaitu penentuan harga

    pokok produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus (Mulyadi,

    2005). Tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

    1. Penentuan harga pokok produk.

    Untuk memenuhi tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya

    bertugas untuk mencatat, menggolongkan dan meringkas biaya-biaya

    pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan

    disajikan adalah biaya yang telah terjadi di masa yang lalu atau biaya historis.

    Akuntansi untuk penentuan harga pokok produk ini selain ditujukan untuk

    memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan. Di samping itu, juga ditujukan

    untuk memenuhi kebutuhan manajemen.

  • 9

    2. Pengendalian biaya.

    Pengendalian biaya harus didului dengan penentuan biaya yang seharusnya

    dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan produk. Jika biaya yang

    seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas untuk memantau

    apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan biaya yang

    dianggarkan.

    3. Pengambilan keputusan oleh Manajemen.

    Pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh

    karena itu, informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus

    selalu berhubungan dengan informasi di masa yang akan datang. Akuntansi

    biaya untuk pengambilan keputusan khusus menyajikan biaya di masa yang

    akan datang (future cost).

    2.5 Konsep dan Pengertian Biaya

    Menurut Mulyadi (2005), biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber

    ekonomi yang diukur satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan

    terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, biaya dapat diartikan

    sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Terdapat empat

    unsur pokok dalam definisi biaya tersebut, yaitu :

    1. Biaya merupakan sumber ekonomi

    2. Diukur dalam satuan uang

    3. Yang telah terjad atau yang secara potensial akan terjadi

    4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu

    Biasanya para akuntan mendefinisikan biaya sebagai sumberdaya yang

    dikorbankan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan tertentu. Untuk sekarang,

    anggap saja biaya itu seperti yang diukur dengan cara akuntansi tradisional,

    seperti unit moneter (misalnya, rupiah) yang harus dibayarkan atas barang atau

    jasa yang diperoleh (Hongren, 1994).

    Untuk mengarahkan keputusan, para manajer membutuhkan berbagai data

    untuk berbagai tujuan. Mereka membutuhkan biaya untuk keperluan sesuatu.

    Sesuatu ini bisa berupa produk, jasa, jam mesin, proyek kesejahteraan sosial, atau

    kegiatan yang dapat dilakukan. Sesuatu ini disebut tujuan atau sasaran biaya dan

  • 10

    didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang untuknya diperlukan pengukuran biaya

    secara terpisah. Sinonimnya adalah objek biaya (Hongren, 1994).

    2.6 Penggolongan biaya

    Biaya dapat digolongkan menurut (Mulyadi, 2005) :

    1. Objek Pengeluaran

    Dalam cara penggolongan ini, nama pengeluaran merupakan dasar

    penggolongan biaya. Misalnya dalam perusahaan manufaktur ada biaya untuk

    mengolah bahan baku menjadi produk (biaya produksi), jika digolongkan atas

    dasar objek pengeluaran dapat dibagi menjadi tiga golongan : (1) biaya bahan

    baku, (2) biaya tenaga kerja, (3) biaya overhead pabrik.

    2. Fungsi Pokok dalam Perusahaan

    Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi,

    fungsi pemasaran, serta fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu,

    dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga

    kelompok : (1) biaya produksi, (2) biaya pemasaran, (3) biaya administrasi

    dan umum.

    3. Hubungan Biaya dengan yang dibiayai

    Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiyai, biaya dapat dikelompokkan

    menjadi dua golongan, yaitu :

    Biaya langsung, yaitu biaya yang terjadi, penyebab satu-satu-nya adalah

    karena adanya sesuatu yang dibiayai. Dengan kata lain, biaya langsung

    dapat diartikan sebagai biaya-biaya yang melekat secara langsung kepada

    sesuatu yang dibiayai.

    Biaya tidak langsung, yaitu biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan

    oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya

    dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau

    biaya overhead pabrik.

    4. Perilaku Biaya dalam Hubungannya dengan Perubahan Volume

    Kegiatan

    Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat

    digolongkan menjadi :

  • 11

    Biaya peubah (variable), yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah

    sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

    Biaya semi peubah (semivariable), yaitu biaya yang berubah tidak

    sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

    Biaya semi tetap (semifixed), yaitu biaya yang tetap untuk tingkat volume

    kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume

    produksi tertentu.

    Biaya tetap, yaitu biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume

    kegiatan tertentu.

    5. Jangka Waktu Manfaatnya

    Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua :

    Pengeluaran modal, yaitu biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu

    periode akuntansi.

    Pengeluaran pendapatan, yaitu biaya yang hanya mempunyai manfaat

    dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.

    Sedangkan menurut Usry (2004) ada beberapa cara pengolongan atau

    klasifikasi biaya yang pokok, yaitu :

    A. Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan

    perusahaan

    1. Biaya produksi atau biaya manufaktur

    Biaya produksi adalah jumlah dari tiga elemen biaya yaitu bahan baku

    langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Ketiga elemen

    tersebut mengandung pengertian sebagai berikut :

    a. Biaya bahan langsung

    Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang mebentuk bagian

    dari produk jadi dan dimasukkan ke dalam perhitungan biaya produk.

    Contoh dari bahan baku langsung adalah kayu yang digunakan untuk

    membuat mebel dan minyak mentah yang digunakan untuk membuat

    bensin.

  • 12

    b. Biaya tenaga kerja langsung

    Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang melakukan konversi

    bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara

    layak ke produk tertentu.

    c. Biaya overhead pabrik

    Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku

    dan biaya tenaga kerja langsung yang elemennya dapat digolongkan

    menjadi tujuh bagian, yaitu :

    1. Biaya bahan penolong

    2. Biaya tenaga kerja tidak langsung

    3. Penyustuan dan amortisasi aktiva tetap pabrik

    4. Reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik

    5. Biaya listrik dan air

    6. Biaya asuransi pabrik

    7. Biaya overhead lain-lain

    2. Biaya komersial

    Biaya komersial digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :

    a. Biaya pemasaran

    Biaya pemasaran adalah biaya yang dimulai dari titik dimana biaya

    manufaktur berakhir yaitu ketika proses manufaktur selesai dan produk

    ada dalam kondisi siap jual. Biaya ini meliputi biaya untuk

    melaksanakan kegiatan pemasaran atau kegiatan menjual barang dan

    jasa perusahaan kepada para pembeli seperti biaya promosi, biaya

    penjualan dan pengiriman.

    b. Biaya administrasi umum

    Biaya administrasi dan umum adalah semua biaya yang berhubungan

    dengan administrasi dan umum seperti biaya perencanaan, penetuan

    strategi dan kebijakan, pengarahan dan pengewasan kegiatan

    perusahaan secara menyeluruh.

  • 13

    c. Biaya keuangan

    Biaya keuangan adalah semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan

    fungsi keuangan seperti biaya buanga, biaya penerbitan atau emisi

    obligasi, dan biaya financial lainnya.

    B. Penggolongan baya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akan

    dibebankan

    a. Pengeluaran model (Capital Expenditures)

    Pengeluaran modal adalah pengeluaran yang akan dapat memberikan

    manfaat pada perioe yang akan datang dan dilaporkan sebagai aktiva.

    b. Pengeluara penghasilan adalah pengeluaran yang akan memberikan

    manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi dan

    dilaporkan sebagai beban.

    C. Pengolongan biaya berdasarkan pola perilaku biaya

    Berdasarkan pola perilaku, biaya dapat digolongkan menjadi tiga macam,

    yaitu :

    a. Biaya tetap

    Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang secara total tidak berubah saa

    aktivitas bisnis meningkat atau menurun. Pada biaya tetap, biaya satuan

    akan berubah berbanding tebalik dengan perubahan volume kegiatan,

    semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan dan semakin

    rendah volume kegiatan.

    b. Biaya variable

    Biaya variable didefinisikan sebagai biaya yang secara total meningkat

    secara proposional terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun

    secara proposional terhadap penurunan dalam aktivitas. Biaya variable

    termasuk biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, beberapa

    perlengkapan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, alatalat kecil,

    pengerjaan ulang, dan unit-unit yang rusak.

    c. Biaya semi variable

    Biaya semi vaiable didefinisikan sebagai biaya yang memperlihatkan baik

    dari karateristik biaya tetap maupun biaya variable. Biaya ini adalah biaya

    yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume

  • 14

    kegiatan, akan tetapi sifak perubahannya tidak sebanding. Semakin tinggi

    volume kegiatan semakin besar jumlah biaya total, semakin rendah

    volume kegiatan semakin rendah biaya, tetapi perubahannya tidak

    sebanding.

    D. Penggolongan biaya untuk tujuan pengendalian

    a. Biaya terkendali

    Biaya terkendali adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh

    seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu.

    b. Biaya tidak terkendali

    Biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh

    seorang pimpinan berdasar wewnang yang dimilik atau tidak dapat

    dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangja waktu tertentu.

    E. Penggolongan biaya berdasarkan objek atau pusat biaya yang dibiayai

    a. Biaya langsung

    Biaya langsung adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya dapat

    diidentifikasikan pada objek atau pusat biaya tertentu secara langsung atau

    biaya yang dapat ditelusuri secara langsung ke satu unit output.

    b. Biaya tidak langsung

    Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya tidak

    dapat diidentifikasi pada objek biaya atau pusat biaya tertentu, atau biaya

    manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek.

    F. Penggolongan biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan

    a. Biaya relevan

    Biaya relevan adalah biaya yang akan mempengaruhi pengambilan

    keputusan. Oleh karena itu biaya tersebut akan diperhitungkan dalam

    pengambilan keputusan.

    b. Biaya tidak relevan

    Biaya tidak relevan adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan

    keputusan. Oleh karena itu, biaya ini tidak perlu diperhitungkan dalam

    pengambilan keputusan.

  • 15

    2.7 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

    Menurut Mulyadi (2005) metode penentuan harga pokok produksi adalah

    cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Dalam

    memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi, terdapat dua

    pendekatan yaitu :

    a. Metode Full costing

    b. Metode Variable costing

    2.7.1 Metode Full costing

    Metode full costing merupakan metode penentuan harga pokok

    produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam

    harga produksi. Biaya ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja

    langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variable

    maupun tetap. Dengan demikian harga pokok produksi menurut metode full

    costing terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :

    Biaya bahan baku

    Biaya tenaga kerja langsung

    Biaya overhead variable pabrik

    Biaya overhead tetap pabrik

    Harga pokok produksi

    xx

    xx

    xx

    xx

    xx

    Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan full costing

    terdiri dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga

    kerja langsung, biaya overhead variable pabrik, dan biaya overhead tetap

    pabrik) ditambah dengan biaya nonproduksi (biaya pemasaran, biaya

    administrasi dan umum).

    Gambar 1 berikut ini menyajikan unsur harga pokok produksi dan

    harga pokok produk dengan metode full costing :

  • 16

    Gambar 1. Harga Pokok Produksi dan Produk Menurut Metode Full Costing

    Sumber : Akuntansi Biaya, Mulyadi (2005)

    2.7.2 Metode Variable Costing

    Metode variable costing merupakan metode penentuan harga pokok

    produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku

    variable ke dalam harga pokok produksi. Biaya ini terdiri dari biaya bahan

    baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variable pabrik.

    Dengan demikian harga pokok produksi menurut metode variable costing

    terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :

    Biaya bahan baku

    Biaya tenaga kerja langsung

    Biaya overhead variable pabrik

    Harga pokok produksi

    xx

    xx

    xx

    xx

    Gambar 2 berikut ini menyajikan unsur harga pokok produksi dan

    harga pokok produk dengan pendekatan variable costing :

    PrimeCost

    Biayakonversi

    Biayabahan baku

    BiayaTenaga kerja

    BiayaOverhead

    tetap

    BiayaOverheadvariable

    HargaPokok

    ProduksiBiaya komersial Biaya

    pemasaran

    BiayaAdm & umum

    TotalHargaPokokProduk

  • 17

    Gambar 2. Harga Pokok Produksi dan Produk Menurut Variable Costing

    Sumber : Akuntansi Biaya, Mulyadi (2005)

    Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan variable

    costing terdiri dari unsur harga pokok produksi variable (biaya bahan baku,

    biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variable pabrik) ditambah

    dengan biaya nonproduksi variable (biaya pemasaran variable dan biaya

    administrasi dan umum variable) (Mulyadi, 2005).

    2.8 Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas (Activity Based Costing)

    Menurut Hongren (2006) salah satu cara terbaik untuk memperbaiki sistem

    kalkulasi biaya adalah dengan menerapkan sistem kalkulasi biaya berdasarkan

    aktivitas (activity-based costing = ABC). Sistem ABC memperbaiki sistem

    kalkulasi biaya dengan mengidentifikasi aktivitas individual sebagai objek biaya

    pokok (fundamental). Aktivitas biasa berupa kejadian, tugas, atau unit kerja

    dengan tujuan khusus.

    Activity Based Costing (ABC) adalah sebuah sistem informasi yang

    mengidentifikasi bermacam-macam aktivitas yang dikerjakan suatu organisasi dan

    mengumpulkan biaya berdasarkan sifat dari aktivitas. ABC memfokuskan pada

    biaya yang melekat ke produk berdasarkan aktivitas yang dikerjakan untuk

    memproduksi dan mendistribusikan produk yang bersangkutan (Sulasitiningsih,

    1999).

    Biayabahan baku

    BiayaTenaga kerja

    BiayaOverheadvariable

    HargaPokok

    Produksivariable

    Biaya adm & umum var.

    Biaya pemasaran var.

    TotalHargaPokokProduk

  • 18

    2.8.1 Tingkatan Biaya dan Pemicu

    Dalam ABC, dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya

    overhead disebut sebagai penggerak atau pemicu (driver). Pemicu sumber

    daya adalah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya dari suatu

    sumber daya ke berbagai aktivitas berbeda yang menggunakan sumber daya

    tersebut (Carter, 2006).

    Pemicu aktivitas adalah suatu dasar yang digunakan untuk

    mengalokasikan biaya dari suatu aktivitas ke produk. ABC mengakui

    aktivitas, biaya aktivitas, dan pemicu aktivitas pada tingkatan agregasi

    (levels of aggregation) yang berbeda dalam satu lingkungan produksi.

    Empat tingkatan yang umumnya diidentifikasikan adalah unit, batch, produk

    dan pabrik. Suatu batch adalah jumlah, atau agregasi, dari unit-unit identik

    yang menyusunnya. Suatu produk adalah agregasi dari banyak batch. Suatu

    pabrik dapat dianggap suatu agregasi dari semua produknya (Carter, 2006).

    2.9 Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi

    Akumulasi biaya produksi dapat dilakukan dengan perhitungan biaya

    berdasarkan pesanan (job order costing), dengan perhitungan biaya berdasarkan

    proses (process costing), atau dengan metode akumulasi biaya lainnya (Carter,

    2002).

    Menurut Mulyadi (2005) metode pengumpulan harga pokok produksi

    tergantung sifat pengolahan produk. Pada dasarnya sifat pengolahan produk dapat

    dibedakan ke dalam dua golongan yaitu pengolahan produk yang didasarkan atas

    pesanan dan pengolahan produk yang merupakan produksi massal. Oleh karena

    itu, metode pengumpulan harga pokok produksi pada dasarnya dapat dibagi

    menjadi dua, yaitu :

    a. Metode Harga Pokok Pesanan (Job Order Costing Method)

    b. Metode Harga Pokok Proses (Process Cost Method)

    2.9.1 Metode Harga Pokok Pesanan (Job Order Cost Method)

    Metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok

    produk di mana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk sejumlah produk

  • 19

    tertentu, atau suatu jasa yang dapat dipisahkan identitasnya, dan yang perlu

    ditentukan harga pokoknya secara individual.

    Dalam perusahaan yang menggunakan metode ini, produksi

    tergantung dari pesanan yang diterima yang bervariasi dari pesanan yang

    satu dengan yang lain. Pesanan yang satu dapat dipisahkan identitasnya

    dari pesanan yang lain dan manajemen membutuhkan informasi harga

    pokok tiap-tiap pesanan secara individual (Mulyadi, 2005).

    Menurut Carter (2002) dalam perhitungan biaya berdasarkan pesanan,

    biaya yang diakumulasikan untuk setiap batch, lot, atau pesanan pelanggan.

    Metode ini digunakan apabila produk yang diproduksi dalam suatu

    departemen atau cost center bersifat heterogen.

    2.9.2 Metode Harga Pokok Proses (Process Cost Method)

    Metode harga pokok proses adalah cara penentuan harga pokok

    produk yang membebankan biaya produksi selama periode tertentu kepada

    proses atau kegiatan produksi dan membagikannya sama rata kepada poduk

    yang dihasilkan dalam periode tersebut.

    Proses produksi dengan menggunakan metode ini merupakan produksi

    massal, yang menggunakan satuan biaya (cost unit) yang sama dari periode

    ke periode. Oleh karena itu, adalah wajar apabila satuan biaya yang sama

    tertentu mempunyai harga pokok per satuan yang sama dalam periode

    tertentu. Penentuan harga pokok per satuan produk dilakukan dengan cara

    membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode tertentu

    dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam jangka waktu yang

    sama (Mulyadi, 2005).

    Menurut Carter (2002) perhitungan biaya berdasarkan proses

    mengamulasikan biaya berdasarkan proses produksi atau berdasarkan

    departemen. Perhitungan biaya berdasarkan proses digunakan bila semua

    unit yang dikerjakan dalam suatu departemen atau area kerja lain bersifat

    homogen, atau bila tidak ada kebutuhan untuk membedakan antar unit, atau

    apabila tidak praktis untuk membedakan antar unit.

  • 20

    2.10 Klasifikasi Biaya Manufaktur yang Umum Digunakan

    Menurut Hornnger (2006), ada tiga istilah yang umum digunakan dalam

    menggambarkan biaya manufaktur adalah biaya bahan langsung, biaya tenaga

    kerja manufaktur langsung, serta biaya manufaktur tidak langsung.

    1. Biaya Bahan Langsung (direct material cost) adalah biaya perolehan semua

    bahan yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari objek biaya (barang

    dalam proses dan kemudian barang jadi) dan yang dapat ditelusuri ke objek

    biaya dengan cara yang ekonomis. Biaya perolehan bahan langsung

    mencakup beban angkut (pengiriman masuk), pajak penjualan, serta bea

    masuk. Contoh biaya bahan langsung adalah alumunium yang digunakan

    untuk membuat kaleng Pepsi atau kertas yang digunakan mencetak sports

    illustrated.

    2. Biaya Tenaga Kerja Manufaktur Langsung (direct manufacturing labor

    cost) meliputi kompensasi atas seluruh tenaga kerja manufaktur yang dapat

    ditelusuri ke objek biaya (barang dalam proses dan kemudian barang jadi)

    dengan cara yang ekonomis. Contohnya adalah gaji dan tunjangan yang

    dibayarkan kepada operator mesin serta pekerja lini perakitan yang

    mengkonverai bahan langsung yang dibeli menjadi barang jadi.

    3. Biaya Manufaktur Tidak Langsung (indirect manufacturing cost) adalah

    seluruh biaya manufaktur yang terkait dengan objek biaya (barang dalam

    proses dan kemudian barang jadi) namun tidak dapat ditelusuri ke objek biaya

    dengan cara yang ekonomis. Contohnya adalah perlengkapan, bahan tidak

    langsung seperti minyak pelumas, biaya tenaga kerja manufaktur tidak

    langusng seperti pekerja bagian perawatan mesin dan kebersihan, sewa pabrik,

    asuransi pabrik, pajak atas kepemilikan pabrik, penyusutan pabrik serta

    kompensasi bagi manajer pabrik. Kategori biaya ini juga disebut sebagai

    biaya overhead manufaktur atau biaya overhead pabrik.

    2.11 Siklus Akuntansi Biaya dalam Perusahaan Manufaktur

    Menurut Mulyadi (2005) dalam melakukan proses pembuatan produk di

    sebuah perusahaan manufaktur, memerlukan tahapan-tahapan yang harus

    dijalankan dengan baik. Produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan akan

  • 21

    dilakukan perhitungan harganya sesuai prosedur perhitungan yang berlaku.

    Adapun siklus akuntansi biaya perusahaan manufaktur dapat dilihat dalam

    gambar 3 di bawah ini :

    Gambar 3. Siklus Akuntansi Biaya dalam Perusahaan Manufaktur

    Sumber : Akuntansi Biaya, Mulyadi (2005)

    2.12 Hasil Penelitian Sebelumnya

    Berikut adalah beberapa penelitian yang menjadikan perhitungan metode full

    costing sebagai alat analisis penelitiannya. Metode ini akan dibandingkan dengan

    metode yang digunakan oleh perusahaan.

    1. Dewi (2011) dengan skripsinya yang berjudul Analisis Perhitungan Harga

    Pokok Produksi Sepatu dengan Metode Full costing (Studi Kasus UKM

    Galaksi Kampung Kabandungan Ciapus, Bogor) menganalisis antara

    perhitungan harga produksi perusahaan dengan menggunakan metode full

    costing. Penelitian ini mengambil 3 contoh sepatu, yaitu model BM01, BM02,

    dan BM03. Elemen biaya yang digunakan dalam perhitungan perusahaan

    adalah biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya

    overhead pabrik. Sedangkan elemen biaya yang digunakan dengan metode

    full costing adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya

    overhead variable pabrik, dan biaya overhead tetap pabrik. Hasil penelitian

    Dewi menyatakan terdapat perbedaan perhitungan harga produksi. Menurut

    perusahaan, sepatu model BM01 adalah Rp 16.029,106, BM02 sebesar Rp

    Siklus Pembuatan Produk

    Pembelian dan penyimpanan bahan

    baku

    Penyimpanan produk jadi dalam gudang

    Pengolahan bahan baku menjadi produk jadi

    Biaya overhead

    pabrik

    Biaya tenaga kerja

    langsung

    Penentuan harga pokok bahan baku yang

    dipakai

    Penentuan harga pokok yang dibeli

    Pengumpulan biaya produksi

    Penentuan harga pokok produksi

    Siklus Akuntansi Biaya

  • 22

    15.185,936 dan untuk BM03 Rp 15.429,106. Sedangkan dengan metode

    perhitungan full costing adalah Rp 18.191,439 untuk sepatu model BM01, Rp

    17.233,269 untuk BM02 dan Rp 17.476,439 untuk model BM03.

    2. Widyastuti (2007) dengan judul skripsinya Analisis Perhitungan Harga Pokok

    Produksi Tas Wanita (Studi Kasus UKM Lifera Hand Bag Collection)

    menyimpulkan bahwa perhitungan yang dilakukan oleh perusahaan masih

    sangat sederhana dimana biaya overhead pabrik tidak dialokasikan ke masing-

    masing produk secara rinci dan tidak disesuaikan dengan pemakaian biaya

    secara nyata melainkan hanya merupakan suatu estimasi biaya yang

    dianggarkan dalam kelompok biaya lain-lain. Hal ini mengakibatkan biaya

    harga produksi diperoleh tidak sesuai dengan cara perhitungan metode Activity

    Based Costing (ABC). Dari hasil penelitiannya ini, perhitungan harga pokok

    produksi yang digunakan perusahaan berbeda dengan metode ABC.

    Perhitungan dengan metode ABC untuk model tas 876 A lebih besar 32,47%

    dan 2,5 % untuk model tas 858.

    3. Silvania (2011) dengan skripsinya yang berjudul Analisis Perhitungan Harga

    Pokok Produksi Tahu dengan Metode Full costing pada Industri Kecil (Studi

    Kasus CV Laksa Mandiri). Hasil analisis data diperoleh bahwa perhitungan

    harga pokok produksi yang dilakukan oleh CV Laksa Mandiri untuk tahu

    putih adalah Rp 203,50 dan tahu kuning adalah Rp 229,94. Hasil analisa

    perhitungan harga pokok produksi dengan metode full costing untuk tahu

    putih adalah Rp 207,84 dan tahu kuning adalah Rp 227,57. Selisih antara

    metode full costing dengan metode yang dilakukan oleh perusahaan adalah

    tahu putih sebesar Rp 4,34 dan tahu kuning sebesar Rp 4,63. Jadi metode

    yang paling tepat adalah metode full costing karena metode ini

    memperhitungkan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

    Berdasarkan hasil penelitian terdulu dapat disimpulkan bahwa perhitungan

    harga pokok produksi dengan metode full costing lebih akurat dibandingkan

    dengan metode perusahaan. Hal ini terjadi karena perhitungan biaya dengan

    menggunakan metode full costing juga membebankan biaya overhead dan

    penyusutan, sehingga perhitungannya harganya lebih akurat.

  • 23

    III. METODE PENELITIAN

    3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian

    Proses perhitungan harga pokok produksi memerlukan informasi-informasi

    yang berkaitan dengan proses produksi, mulai dari biaya bahan baku, biaya bahan

    penolong, biaya tenaga kerja, hingga biaya overhead pabrik. Biaya yang

    dikeluarkan dalam proses produksi harus dihitung secara keseluruhan agar hasil

    perhitungan harganya didapat hasil yang wajar.

    Untuk mendapatkan harga yang wajar, dalam perhitungannya perlu

    mengidentifikasi proses produksi yang dilakukan oleh CV. Miranti itu sendiri dan

    memoerhitungkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead

    variable pabrik, dan biaya overhead tetap pabrik.

    Pengklasifikasian dan pengidentifikasian biaya-biaya yang dibutuhkan dalam

    proses produksi nantinya akan diperhitungan dalam metode full costing dan

    variable costing. Meskipun CV. Miranti sudah melakukan produksi cukup lama,

    tetapi selama ini ia masih menggunakan metode perhitungan harga pokok

    produksi secara tradisional dan perusahaan belum merinci biaya overhead pabrik

    secara akurat. Penelitian ini akan melakukan perhitungan harga pokok produksi

    dengan menggunakan metode full costing dan variable costing di mana

    perhitungan ini akan memperhitungkan seluruh biaya termasuk overhead pabrik

    yang tidak dilakukan oleh CV. Miranti.

    Pada akhir penelitian akan diidentifikasi mana metode yang paling akurat,

    apakah metode perusahaan, full costing atau variable costing. Hasil dari

    perhitungan dari ketiga metode tersebut akan dianalisis untuk melihat perbedaan

    yang terjadi. Perbedaan tersebut akan mempengaruhi nilai jual barang-barang

    cetak CV. Miranti dan akan berpengaruh juga terhadap pendapatan yang akan

    diterima oleh CV. Miranti kelak. Sehingga dapat ditentukan metode mana yang

    lebih efektif dan akurat dalam proses perhitungan harga pokok produksinya serta

    akan menciptakan harga jual yang wajar dan dapat bersaing di pasar percetakan.

    Alur penelitian ini disusun secara sistematis dalam gambar 4.

  • 24

    Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian

    CV. Miranti

    Identifikasi Biaya Produksi

    Perhitungan Harga Pokok Produksi

    Analisis Perbandingan Klasifikasi dan Biaya Produksi

    Biaya Tenaga Kerja Langsung

    Biaya Bahan Baku

    Penetapan harga pokok produksi yang optimal

    Perbandingan harga pokok produksi

    Identifikasi proses produksi CV. Miranti

    (Job Order Costing)

    Biaya Overhead Pabrik

    Metode perusahaan

    Metode full

    costingMetode variable

    costing

  • 25

    3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di CV. Miranti yang berlokasi di Jl. Raden Kanan No.

    3 Tanah Baru, Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja karena CV.

    Miranti ini bergerak di bidang manufaktur yang memproduksi dan memasarkan

    barang-barang hasil percetakan. Masalah yang terjadi karena kekurangannya

    uang untuk menggaji para karyawan menjadi alasan utama bagi penulis untuk

    mengidentifikasi perhitungan harga pokok produksinya. Sehingga CV. Miranti

    cocok sebagai tempat penelitian mengenai perhitungan harga pokok produksi serta

    adanya kesediaan dari pemilik untuk memberikan data yang dibutuhkan dalam

    melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Juli 2012.

    3.3 Jenis Sumber Data

    Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder, yaitu data

    produksi dan data produk-produk yang dijual di bulan Mei 2012. Salah satu

    produk yang dipesan oleh konsumen adalah 500 lembar leaflet. Selain itu,

    data yang diambil adalah data yang diperoleh melalui literatur-literatur yang

    terkait sesuai dengan topik dari penelitian serta hasil penelitian terdulu

    mengenai perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode full

    costing dan metode variable costing serta data-data yang sudah ada pada CV.

    Miranti juga data-data dari Badan Pusat Statistik.

    3.4 Metode Pengumpulan Data

    Penelitian ini dilakukan dengan mendatangi perusahaan secara langsung dan

    mengambil data-data yang dibutuhkan pada pihak-pihak yang terkait, yaitu bagian

    produksi dan pimpinan perusahaan. Adapun metode pengumpulan datanya adalah

    sebagai berikut :

    1. Wawancara langsung, yaitu peneliti melakukan wawancara secara langsung

    dengan beberapa narasumber atau pihak-pihak yang terkait dengan penelitian,

    antara lain adalah dengan pemilik CV. Miranti. Wawancara ini bertujuan

    untuk mengetahui gambaran dan profil perusahaan secara umum, dari pihak

    pimpinan perusahaan guna mengetahui metode perhitungan tradisional yang

    digunakan oleh perusahaan yang nantinya akan dibandingkan dengan metode

  • 26

    full costing dan variable costing, serta bagian produksi guna mengetahui

    proses produksi.

    2. Pengamatan (observasi) secara langsung terhadap aktivitas produksi barang-

    barang cetak pada CV. Miranti ini. Peneliti akan mengamati bagaimana

    proses produksinya dan mengidentifikasi biaya-biaya yang digunakan selama

    proses produksi.

    3.5 Pengolahan dan Analisis Data

    Selain penelitian ini dilakukan dengan metode full costing, penelitian ini juga

    menggunakan metode variable costing. Metode ini dipilih karena metode ini

    membebankan seluruh biaya overhead pabrik ke dalam harga pokok produksi

    sehingga meningkatkan akurasi analisis biaya. Analisis data dilakukan dengan

    beberapa metode, yaitu :

    1. Analisis Deskriptif, yaitu peneliti akan mengamati, mempelajari lalu menulis

    dan mendeskripsikan proses produksi barang cetak pada CV. Miranti.

    2. Analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung harga

    pokok produksi dengan metode yang digunakan perusahaan yaitu dengan

    metode tradisional dan dengan metode full costing di mana seluruh biaya akan

    dibebankan kepada produk serta metode variable costing di mana seluruh

    biaya akan dibebankan kepada produk kecuali biaya variable tetap pabrik.

    Adapun unsur biaya produksi yang digunakan dalam perhitungan metode full

    costing dapat dilihat dalam sub bab 2.7.1. Sedangkan perhitungan harga

    dengan menggunakan metode variable costing adalah sebagai berikut :

    Biaya bahan baku

    Biaya tenaga kerja langsung

    Biaya overhead variable pabrik

    Biaya overhead tetap pabrik

    Harga pokok produksi

    xx

    xx

    xx

    xx

    xx

    3. Analisis kualitatif. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan hasil

    perhitungan yang diperoleh antara metode perhitungan harga pokok produksi

    secara tradidional yang digunakan perusahaan dengan metode perhitungan

    harga pokok produksi dengan menggunakan metode full costing yang peneliti

  • 27

    lakukan dan perhitungkan. Analisis ini menggunakan analisis deskriptif

    komparatif.

  • 28

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Gambaran Umum Perusahaan

    4.1.1 Sejarah Perusahaan

    CV. Miranti merupakan usaha keluarga dalam bidang percetakan yang

    didirikan tahun 2001. Mulanya CV. Miranti merupakan usaha kecil rumahan.

    Namun seiring berkembangnya kebutuhan akan percertakan dan

    meningkatnya permintaan dari para pelanggan, kini CV. Miranti telah

    memiliki bangunan untuk produksi sendiri di Jl. Raden Kanan No. 3 Tanah

    Baru, Bogor.

    Proses produksi dilakukan setiap hari Senin sampai dengan Sabtu. Jam

    kerja untuk hari Senin adalah pukul 08.00 WIB 17.00 WIB dan untuk hari

    Sabtu adalah pukul 08.00 -13.00 WIB. Sedangkan penjualan CV. Miranti

    tidak tetap setiap bulannya. Produk yang dibuat juga berbeda-beda. Hal ini

    tergantung dari jenis dan jumlah pesanan yang diterima. Maka dari itu,

    metode pengumpulan harga pokok produksi nya disebut job order costing,

    yaitu pengumpulan harga pokok produksi berdasarkan pesanan yang diterima.

    Sejauh ini produk-produk yang dihasilkan CV. Miranti cukup banyak dan

    beragam, antara lain adalah brosur (leaflet), flyer, buku (pendidikan, majalah,

    tulis), continous foam, kertas struk dan lainnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu dan usaha pemasaran yang

    cukup baik, usaha CV. Miranti semakin berkembang. Banyak pelanggan yang

    melakukan pesanan. Namun tak jarang, terkadang CV. Miranti tidak

    mendapatkan pesanan. Hal ini tidak membuat pemilik perusahaan menyerah

    tetapi meningkatkan target untuk terus mencari pelanggan. Pemilik CV.

    Miranti memiliki working network yang sangat baik, maka pemasaran yang

    dilakukan sampai saat ini tidak terlalu besar-besaran, cukup dari mulut ke

    mulut (mouth to mouth). Hal ini menyebabkan perusahaan keluarga ini terus

    berkembang dan meningkatkan kualitas produknya.

    Tuntutan kualitas mendorong CV. Miranti menggunakan bahan baku

    dan mesin berkualitas baik. Adapun mesin yang pertama kali dibeli yang

  • 29

    menjadi aset perusahaan adalah mesin cetak KORS senilai Rp 150.000.000,-,

    mesin potong seharga Rp 30.000.000,- dan mesin pembuat film seharga Rp

    12.000.000,-. Seiring dengan meningkatknya produksi dan jenis dari produk

    yang dihasilkan, CV. Miranti menambah jenis mesinnya, yaitu mesin potong

    yang kedua seharga Rp 80.000.000,- yang dibeli pada tahun 2010. Pembelian

    mesin potong ini juga dikarenakan mesin potong yang lama sudah tidak

    berfungsi secara optimal. Di tahun yang sama juga membeli mesin roller

    (untuk membuat kertas struk) senilai Rp 80.000.000,-. Sedangkan di tahun

    2011, pesanan semakin meningkat dan kualitas cetak pada mesin KORS

    semakin berkurang, maka dari itu pemilik perusahaan memutuskan untuk

    membeli mesin cetak (mesin GTO) seharga Rp 180.000.000,- dan mesin

    pencetak film (plat maker) senilai Rp 12.000.000,-.

    4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan

    CV. Miranti memiliki struktur organisasi yang sederhana, dimana

    pemilik perusahaan menjadi penanam modal tunggal di perusahaan, kemudian

    ia merekrut satu orang kerpercayaan untuk dijadikan pengangung jawab

    sekaligus menjadi pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan tersebut

    membawahi delapan orang karyawan. Berikut adalah strukur organisasinya

    pada gambar 5 :

    Gambar 5. Struktur Organisasi CV. Miranti

    CV. Miranti memiliki total 9 orang karyawan, yaitu terdiri dari satu

    pemimpin perusahaan, empat orang di bagian produksi I atau disebut dengan

    Pimpinan Perusahaan (penganggung Jawab)

    Bagian produksi I (operator mesin)

    Bagian Produksi II (asisten operator) Bagian Administrasi

  • 30

    operator mesin, dua orang di bagian produksi II yang bertugas membantu dan

    menjalankan proses finishing atau melakukan proses pemotongan kertas dan lain

    sebagainya, dan dua orang di bagian administrasi. Berikut adalah uraian

    pekerjaan dari masing-masing karyawan.

    1. Pemimpin Perusahaan

    Pemimpin perusahaan bertugas untuk bertangung jawab atas semua

    aktivitas di CV. Miranti, baik aktivitas produksi ataupun non produksi.

    Selain itu, pemimpin perusahaan juga bertugas untuk melaksanaan fungsi

    manajemen serta membina bawahan atau karyawan-karyawannya. Hal ini

    bertujuan untuk mengembangkan kemampuan karyawan dan perusahaan.

    2. Bagian Produksi I

    Bagian produksi I terdiri dari empat operator mesin. Bagian ini merupakan

    bagian utama dari proses produksi, di mana para operator mesin

    menjalankan mesin dan melakukan proses produksi utama, yaitu proses

    pencetakan.

    3. Bagian Produksi II

    Bagian produksi II terdiri dari dua orang. Bagian ini disebut sebagai

    production supporting. Bagian produksi II ini tidak melakukan proses

    produksi utama, di bagian ini hanya melakukan aktivitas produksi yang

    mendukung produksi utama, seperti melakukan pemotongan, melipat,

    ataupun merekatkan produk-produk yang akan maupun sudah dilakukan

    pada proses produksi utama.

    4. Bagian Administrasi

    Bagian administrasi terdiri dari dua orang, bagian ini merupakan bagian

    yang tidak berhubungan secara langsung dengan produksi. Pekerjaan yang

    dilakukan oleh bagian adminstrasi antara lain menghitung atau

    memberikan perhitungan gaji kepada karyawan, melakukan pembelian ke

    vendor yang bersangkutan untuk membeli atau memesan bahan baku

    produksi dan alat-alat keperluan kantor perusahaan.

    4.1.3 Produk Percetakan CV. Miranti

    Produk yang dihasilkan oleh CV. Miranti beraneka ragam sesuai

    dengan pesanan, antara lain buku, leaflet, map, kertas struk, dan lain

  • 31

    sebagainya. produk yang dihasilkan biasanya berjumlah banyak, karena CV.

    Miranti selalu menerima pesanan dalam jumlah yang banyak dan melakukan

    produksinya secara masal.

    Jasa yang ditawarkan bagi pelanggannya hingga tahun 2012 ini adalah

    hanya jasa percetakan. CV. Miranti tidak melayani pembuatan desain untuk

    produk-produk yang dihasilkannya, biasanya para pelanggan selalu

    memberikan desain yang harus dibuat oleh CV. Miranti.

    Tahun 2012 ini, CV. Miranti menerima beberapa pesanan, salah

    satunya adalah 500 lembar leaflet dari Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten

    Bogor, maka penulis memutuskan untuk melakukan penelitian perhitungan

    HPP pada produk leaflet tersebut.

    4.1.4 Proses Produksi Leaflet

    Proses pembuatan 500 leaflet ini dimulai dari proses penentuan jenis

    kertas yang akan dipakai dan membeli bahan baku. Bahan baku utama

    pembuatan leaflet adalah kertas dan tinta.

    Kertas yang digunakan dalam pembuatan leaflet ini adalah kertas

    jenis plano ukuran 65 cm x 100 cm, leaflet yang akan diproduksi sendiri

    berukuran A4 yaitu 32 cm x 25 cm. Maka optimalnya, dengan 1 kertas plano

    dapat digunakan untuk 8 (delapan) leaflet berukuran A4.

    Setelah menentukan jenis kertas yang digunakan, selanjutanya

    menentukan mesin cetak mana yang akan digunakan. CV. Miranti memiliki 2

    (dua) jenis mesin cetak, yaitu mesin cetak GTO dan KORS. Mesin cetak GTO

    memiliki kapasitas ukuran kertasnya sebesar 50 cm x 35 cm. Sedangkan

    untuk mesin cetak KORS kapasitas kertasnya berukuran 65 cm x 90 cm. Jika

    dilihat dari daya listriknya, mesin cetak GTO lebih kecil kapaitas ukuran

    kertasnya, maka mesin GTO memiliki daya listrik lebih kecil dari mesin cetak

    KORS. Jadi, untuk mencetak 500 lembar leaflet, CV. Miranti memilih untuk

    menggunakan mesin cetak GTO. Dilihat dari ukurannya pun, ukuran kertas

    A4 bisa menggunakan mesin cetak GTO.

    Proses selanjutnya adalah pemotongan kertas. Sebelum melakukan

    proses cetak pada mesin GTO, kertas plano tersebut dipotong terlebih dulu

    agar bisa masuk ke mesin cetak GTO tersebut. Setelah proses pemotongan,

  • 32

    selanjutnya adalah proses pembuatan film. Setelah pembuatan film selesai,

    barulah kertas-kertas tersebut baru bisa dilakukan pencetakan pada mesin

    cetak GTO. Adapun proses produksi pembuatan leaflet dapat dilihat pada

    Gambar 6 berikut ini :

    Gambar 6. Proses Pembuatan leaflet

    4.1.5 Peralatan Produksi Leaflet

    Proses produksi dalam pembuatan leaflet memerlukan beberapa

    peralatan. Peralatan yang digunakan memiliki fungsi yang berbeda dalam

    pembuatan leaflet ini. Jenis-jenis peralatan yang digunakan dalam proses

    pembuatan 500 lembar leaflet dapat dilihat pada Tabel 1.

    CV. Miranti mendapat pesanan (500 lembar leaflet)

    Menentukan jenis kertas yang akan digunakan (kertas plano)

    Menentukan mesin yang akan digunakan (mesin cetak GTO)

    Pemotongan kertas

    Pembuatan film

    Proses pencetakkan di mesin yang telah ditentukan

    output (leaflet 500 lembar)

  • 33

    Tabel 1. Peralatan Produksi Leaflet pada CV. Miranti

    Jenis Peralatan Jumlah UnitHarga

    (Rp/Unit)Total (Rp)

    Mesin GTO 1 180.000.000 180.000.000Mesin Pencetak film 1 12.000.000 12.000.000Mesin Pemotong 1 80.000.000 80.000.000TOTAL BIAYA PERALATAN PRODUKSI 272.000.000

    Sumber : CV. Miranti, 2012

    Peralatan produksi CV. Miranti dalam pembuatan leaflet terdiri dari 3

    mesin, yaitu cetak GTO, mesin pencetak film, dan mesin pemotong. Mesin

    cetak GTO itu sendiri adalah mesin yang berfungsi untuk melakukan

    pencetakan yang terdiri dari empat plat, yaitu plat untuk warna cyan, kuning,

    magenta, dan hitam. Plat cetak ini sendiri berfungsi untuk memberikan alas

    pada masing-masing warna pada saat proses pencetakan yang dilakukan pada

    mesin cetak GTO.

    Mesin pencetak film berfungsi untuk mencetak gambar dari desain pada

    komputer ke kertas yang digunakan untuk bahan cetak leaflet. Mesin

    pencetak film ini terdiri dari beberapa chemical yaitu pontan, pastafur,

    spargum, dan gum. Fungsi dari chemical pontan adalah untuk mencuci

    lembaran plat secara otomatis agar pada saat pencetakan selalu bersih. Fungsi

    dari chemical pastafur adalah cairan yang terdapat mesin pencetak film agar

    cairan tinta tidak menempel pada kertas dan menghasilkan hasil cetak yang

    tidak basah. Chemical spargum adalah untuk pembersih blanket yang ada

    pada setiap lembar plat, sedangkan chemical gum adalah untuk melapisi

    lembar plat itu sendiri agar mendapatkan hasil cetak yang bersih.

    Mesin pemotong ini sendiri digunakan sesuai kebutuhan. Pembuatan

    leaflet ini menggunakan kertas plano yang dipotong menjadi ukuran A4 atau

    menjadi delapan bagian, maka sebelum dilakukan proses cetak, kertas plano

    tersebut dipotong terlebih dulu.

    4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi

    Perhitungan harga pokok produksi pembuatan 500 lembar leaflet akan

    dilakukan tiga metode perhitungan, yaitu perhitungan dengan metode CV.

    Miranti, dengan metode full costing, dan metode variable costing.

  • 34

    4.2.1 Perhitungan Tradisional CV. Miranti

    CV. Miranti melakukan perhitungan produknya secara sederhana. CV.

    Miranti tidak mengklasifikasikan biaya-biaya yang dikeluarkan pada saat

    menghitung harga pokok produksi. Rincian perhitungan yang CV. Miranti

    lakukan pada produk leaflet terdapat pada Tabel 2.

    Tabel 2. Perhitungan Harga Pokok Produksi Menggunakan Metode CV. Miranti

    Biaya Satuan KebutuhanHarga

    (Rp/Satuan)Jumlah (Rp)

    Kertas Plano lembar 63 2.250 141.750 Tinta cyan gram 100 150 15.000 Tinta yellow gram 100 125 12.500 Tinta magenta gram 100 135 13.500 Tinta black gram 100 125 12.500 Plat cyan plat 1 9.500 9.500 Plat yellow plat 1 9.500 9.500 Plat magenta plat 1 9.500 9.500 Plat black plat 1 9.500 9.500 Pembuatan film lembar 500 200 100.000 Biaya Potong lembar 500 20 10.000

    894.361 500

    1.789

    551.111 tenaga kerja (operator mesin)

    Total Produk (Lembar)Total Harga Pokok Porduksi

    Total Harga Pokok Produksi / unit

    orang 4 137.778

    Sumber : CV. Miranti, 2012

    CV. Miranti telah melakukan perhitungan biaya-biaya produksi dalam

    memproduksi produk leaflet, berikut adalah penjelasannya :

    1. Kertas Plano

    Kertas plano adalah kertas yang memiliki ukuran besar yang merupakan

    bahan dasar untuk percetakan yang siap dipotong menjadi ukuran kertas

    yang diinginkan. proses pembuatan leaflet menggunakan kertas plano

    berukuran 65 cm x 100 cm. Leaflet yang akan diproduksi berukuran A4

    yaitu 32 cm x 25 cm. Jadi optimalnya, satu lembar kertas plano akan

    dipotong menjadi delapan bagian berukuran A4. Maka kertas plano yang

    dibutuhkan adalah sekitar 63 lembar kertas plano (500 lembar leaflet / 8

    potongan), karena pembelian kertas plano pada vendor harus kelipatan 10,

    maka CV. Miranti membeli kertas plano sebanyak 63 lembar.

  • 35

    2. Plat Cetak

    Plat cetakterdiri dari 4 warna, yaitu cyan, magenta, yellow dan black. Satu

    lembar plat cetak tersebut bernilai Rp 9.500,-, Satu warna diperlukan satu

    lembar plat cetak, karena dalam proses pencetakan produksi leaflet terdiri

    dari empat warna, maka dibutuhkan empat lembar plat cetak. Satu lembar

    plat cetak dapat digunakan untuk 1.000 kali proses pencetakan kertas

    berukuran A4. Maka untuk memproduksi 500 lembar leaflet hanya

    diperlukan empat lembar plat cetak untuk masing-masing warna.

    3. Tinta

    Bahan baku tinta terdiri dari empat warna tinta yaitu cyan, magenta, yellow,

    dan black. Pembelian tinta pada vendor dilakukan per kilogram. Untuk

    melakukan proses cetak 500 lembar leaflet hanya memerlukan 100 gram

    dari masing-masing tinta tersebut. Harga untuk masing-masing warna

    terdapat pada Tabel 3 berikut ini :

    Tabel 3. Harga Pembelian TintaWarna Tinta Harga (Rp/Kg) Harga (Rp/100 gr)cyan 150.000 15.000 magenta 125.000 12.500 yellow 135.000 13.500 black 125.000 12.500

    Sumber : CV. Miranti, 2012

    4. Pembuatan Film

    Pembuatan film atau pencetak film berfungsi untuk mencetak gambar

    desain pada komputer ke kertas yang digunakan untuk bahan cetak leaflet.

    Biaya di mesin pencetak film ini sebesar Rp 200,- per lembar, maka untuk

    500 lembar leaflet diperlukan biaya sebesar Rp 100.000,-.

    5. Biaya Potong

    Pembuatan leaflet ini menggunakan kertas plano yang dipotong menjadi

    ukuran A4 atau menjadi delapan bagian. Sebelum dilakukan proses cetak,

    kertas plano dipotong terlebih dulu. Proses pemotongan kertas di mesin

    potong berbiaya Rp 20,- per potong. Jadi untuk memotong kertas plano

    menjadi sebanyak 500 lembar, diperlukan biaya Rp 10.000,-.

  • 36

    6. Tenaga Kerja

    Pembuatan 500 leaflet ini dikerjakan oleh empat orang operator mesin.

    Masing-masing tenaga kerja memiliki upah Rp 1.550.000,- per bulan.

    Dalam satu bulan, ia bekerja selama 180 jam, apabila mereka lembur tidak

    mendapatkan uang lembur. Dalam mengerjakan proses produksi 500

    leaflet ini diperlukan waktu dua hari atau setara dengan 16 jam kerja.

    Berikut adalah perhitungan upah hariannya :

    Rp 1.550.000180 jam/bulan X 16 jam = Rp 137.778 per orangJadi, biaya untuk dua orang tenaga kerja adalah sebesar Rp 551.111,- (Rp

    137.778,- x 4 orang).

    Harga pokok produksi dengan metode yang digunakan perusahaan

    untuk pembuatan 500 lembar leaflet terdiri dari biaya untuk pembelian bahan

    baku yaitu 50 lembar kertas plano berukuran 65 cm x 100 cm dan empat

    macam warna tinta cetak. Selain itu CV. Miranti mengklasifikasikan biaya

    untuk plat cetak sebagai biaya bahan penolongnya, plat cetak terdiri dari

    empat warna juga. Biaya pembuatan film, pemotongan kertsa, dan biaya

    tenaga kerja (operator mesin) diklasifikasikan sebagai biaya produksi

    utamanya. Berdasarkan Tabel 2, harga pokok porduksi untuk 500 lembar

    leaflet berukuran A4 yang terdiri dari dua muka yaitu depan dan belakang,

    menurut perhitungan CV. Miranti adalah sebesar Rp 894.361,- dan untuk per

    lembar nya sebesar Rp 1.789,-.

    4.2.2 Perhitungan Full costing

    CV. Miranti mendapatkan order pembuatan 500 leaflet dari dinas

    pendapatan suatu daerah untuk diproduksi di pertengahan bulan Mei 2012.

    Proses produksi pembuatan leaflet ini cukup singkat, yaitu dua hari. Masa

    waktu dua hari ini adalah waktu di mana CV. Miranti benar-benar

    mengerjakan proses produksi, tidak termasuk dengan pembuatan design

    atau pembelian bahan baku.

  • 37

    4.2.2.1 Biaya Bahan Baku

    Bahan baku utama dalam proses pembuatan leaflet adalah

    kertas dan tinta. Kertas yang digunakan dalam pembuatan leaflet ini

    adalah kertas jenis plano ukuran 65 cm x 100 cm. Sedangkan tinta

    yang digunakan untuk proses pembuatan leaflet ini terdiri dari empat

    warna yaitu cyan, yellow, magenta dan black. Perhitungan harga dan

    kebutuhan bahan baku untuk pembuatan 500 lembar leaflet menurut

    metode full costing terdapat pada Tabel 4.

    Tabel 4. Biaya Bahan Baku Pembuatan Leaflet Metode Full costing

    Biaya Bahan Baku

    Satuan KebutuhanHarga (Rp/

    Satuan)Jumlah

    (Rp)Kertas Plano lembar 63 2.250 141.750 Tinta cyan gram 100 150 15.000 Tinta yellow gram 100 125 12.500 Tinta magenta gram 100 135 13.500 Tinta black gram 100 125 12.500 TOTAL BIAYA BAHAN BAKU 195.250

    500

    TOTAL BIAYA BAHAN BAKU / UNIT 391JUMLAH PRODUK (LEMBAR)

    Sumber : CV. Miranti, 2012

    Berdasarkan Tabel 4, kertas plano yang digunakan untuk pembuatan

    leaflet ini diperlukan kertas plano yang berukuran 65 cm x 100 cm.

    Sedangkan ukuran leaflet itu sendiri adalah ukuran A4 yaitu 32 cm x

    25 cm. Maka optimalnya, dengan satu kertas plano dapat digunakan

    untuk 8 (delapan) leaflet berukuran A4. Harga satu kertas plano itu

    sendiri adalah Rp 2.250,-, jadi untuk untuk membuat 500 lembar

    leaflet diperlukan 63 lembar kertas plano (pembulatan dai 62,5 lembar)

    dengan total biaya pembelian kertas plano sebesar Rp 141.750,-. Jadi

    total biaya bahan baku kertas plano untuk 1 lembar leaflet adalah Rp

    284,- (Rp 141.750,- / 500 lembar leaflet).

    Proses pembuatan leaflet ini diperlukan empat jenis warna tinta, yaitu

    tinta berwarna cyan, yellow, magenta dan black, dan untuk

    memproduksi 500 lembar leaflet memerlukan 100 gram tinta dari

    masing-masing jenis warna tinta tersebut, sedangkan jumlah pembelian

  • 38

    tinta pada vendor hanya diperbolehkan dalam satuan kilogram.

    Perhitungan harga pembelian tinta dapat dilihat pada Tabel 3.

    Jadi, total biaya bahan baku pembuatan leaflet terdiri dari biaya

    pembelian 63 lembar kertas plano ditambah dengan biaya pembelian

    empat jenis warna tinta, yaitu Rp 157.500,- + Rp 15.000,- + Rp

    12.500,- + Rp 13.500,- + Rp 12.500,- = Rp 211.000,-. Sedangkan

    biaya bahan baku per unit nya adalah Rp 391 (Rp 195.250,- / 500

    lembar leaflet).

    4.2.2.2 Biaya Tenaga Kerja Langsung

    Proses pembuatan 500 lembar leaflet memerlukan waktu dua

    hari atau setara dengan 16 jam kerja. Tenaga kerja langsung di CV.

    Miranti terdiri dari empat orang. Upah atau gaji operator mesin

    tersebut Rp 1.550.000,- per bulan. Dalam satu minggu mereka bekerja

    5 hari selama 8 jam dan 1 hari selama 4 jam. Untuk satu bulan kerja

    sama dengan 180 jam kerja untuk satu bulan, maka upah satu orang

    operator mesin per jam nya adalah Rp 8.611,- Berikut adalah

    perhitungannya :

    Rp 1.550.000180 jam/bulan = Rp 8.611, per jamMaka, total biaya tenaga kerja langsung untuk pembuatan 500

    lembar leaflet ini adalah Rp 551,111,- (Rp 8.611 x 4 orang x 16 jam),

    sedangkan biaya tenaga kerja langsung per satu lembar leaflet adalah

    Rp 1.102,- (Rp 551.000 / 500 lembar leaflet).

    4.2.2.3 Biaya Overhead Pabrik

    Proses perhitungan dengan menggunakan metode full costing

    pendekatan job order costing, memerlukan waktu satu bulan untuk

    mengetahui biaya overhead sesungguhnya yang dikeluarkan guna

    mengetahui dasar perhitungan tarifnya. Maka dari itu, penulis perlu

    mengidentifikasi jenis produk apa saja yang diproduksi selama satu

    bulan di bulan Mei 2012 tersebut.

    Hasil wawancara dan pengamatan, CV. Miranti mendapatkan

    beberapa pesanan yang diproduksi di bulan Mei 2012, yaitu 4.150

  • 39

    lembar leaflet, 5.000 lembar kertas ber-letter head nama dan logo

    suatu perusahaan, dan 200 eksemplar buku.

    Biaya overhead pabrik terdiri dari dari biaya overhead variable

    dan biaya overhead tetap. Biaya overhead variable terdiri dari biaya

    bahan penolong dan biaya listrik, sedangkan biaya overhead tetap

    terdiri dari biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya penyusutan

    peralatan.

    a. Biaya Overhead Variable

    Biaya-biaya yang diklasifikasikan sebagai biaya variable adalah biaya

    bahan penolong dan biaya listrik. Biaya-biaya ini diklasifikasikan

    sebagai biaya variable karena biaya-biaya tersebut dikeluarkan atau

    diperhitungkan dengan jumlah yang berbeda pada setiap bulannya

    sesuai dengan kebutuhan, jumlah unit produksi, dan jam kerja mesin

    selama bulan tersebut.

    1. Bahan Penolong

    Bahan penolong dalam pembuatan 4.150 lembar leaflet, 5.000

    lembar kertas ber-letter head nama dan logo perusahaan, dan 300

    eksemplar buku diperlukan 4 plat cetak dengan 4 macam warna

    yaitu cyan, magenta, yellow dan black. Satu lembar plat cetak

    tersebut bernilai Rp 9.500,-, Satu warna diperlukan satu lembar

    plat cetak. Satu lembar plat cetak dapat digunakan untuk 1.000

    kali proses pencetakan kertas berukuran A4. Maka kebutuhan plat

    cetak untuk produksi selama bulan Mei 2012 terdapat pada tabel 5.

  • 40

    Tabel 5. Biaya Bahan Penolong Bulan Mei 2012

    Jenis Biaya Satuan KebutuhanHarga

    (Rp/SatuanJumlah

    (Rp)4.150 lembar leafletPlat cyan plat 4,15 9.500 39.425 Plat yellow plat 4,15 9.500 39.425 Plat magenta plat 4,15 9.500 39.425 Plat black plat 4,15 9.500 39.425 5.000 lemar kertas ber-letter headPlat cyan plat 5 9.500 47.500 Plat yellow plat 5 9.500 47.500 Plat magenta plat 5 9.500 47.500 Plat black plat 5 9.500 47.500 200 copy eksemplar bukuPlat cyan plat 0,2 9.500 1.900 Plat yellow plat 0,2 9.500 1.900 Plat magenta plat 0,2 9.500 1.900 Plat black plat 20,8 9.500 197.600

    551.000 Total Biaya Bahan Penolong Mei 2012Sumber : CV. Miranti, 2012

    Pembuatan 4,150 lembar leaflet dibuthkan 4,15 plat cetak.

    Sedangkan untuk memproduksi 5.000 lembar kertas ber-leter head

    dan berlogo perusahaan diperlukan sebanyak 5 plat. Untuk

    pembuatan 200 copy eksemplar buku yang terdiri dari 412 halaman

    memerlukan plat masing-masing 0,2 plat cyan, yellow, magenta,

    dan 20,8 plat black.

    Biaya bahan penolong diklasifikasikan sebagai biaya overhead

    variable karena pemakaian atau pengeluaran per bulan nya berbeda

    tergantung dari jumlah pesanan atau unit yang diproduksi.

    2. Biaya Listrik

    Biaya listrik CV. Miranti dikerahui sebesar Rp 1.100.000 untuk

    bulan Mei 2012. Biaya listrik juga diklasifikasikan sebagai biaya

    variable karena pemakaian setiap bulan nya berbeda dari bulan ke

    bulan. Semakin banyak mesin yang digunakan, maka semakin

    banyak listrik yang dikeluarkan, sehingga biaya listrik yang

    dibebankan kepada produk juga semakin besar.

  • 41

    b. Biaya Overhead Tetap

    Biaya-biaya yang diklasifikasikan sebagai biaya overhead tetap

    adalah biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya penyusutan.

    Biaya-biaya tersebut diklasifikasikan sebagai biaya overhead tetap

    karena ada ataupun tidak ada produksi di bulan tersebut, biaya

    tenaga kerja tidak langsung dan biaya penyusutan tetap

    diperhitungkan selama bulan tersebut.

    1. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung

    Tenaga kerja tidak langsung di CV. Miranti terdiri dari tiga

    jenis, yaitu pemimpin perusahaan atau penanggung jawab yang

    terdiri dari satu orang yang bertugas untuk bertangung jawab

    atas semua aktivitas di CV. Miranti, bagian production

    supporting yang terdiri dari dua orang di mana bagian ini

    bertugas melakukan aktivitas produksi yang mendukung

    produksi utama dan bagian administrasi yang terdiri dari dua

    orang.

    Adapun gaji yang diberikan kepada masing-masing bagian

    terdapat dalam tabel 6 berikut ini.

    Tabel 6. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung

    Bulan Mei 2012

    Tenaga Kerja Tidak Langsung

    Satuan KebutuhanHarga

    (Rp/Satuan)Jumlah

    (Rp)

    1. Asisten Operator orang 2 1.000.000 2.000.000

    2. Staff Administrasi orang 2 1.200.000 2.400.000

    3. Penanggung Jawab orang 1 2.200.000 2.200.000

    Total Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Mei 2012 6.600.000Sumber : CV. Miranti, 2012

    Total jumlah biaya tenaga kerja tidak langsung yang

    dibebankan untuk bulan Mei 2012 adalah sebesar Rp

    6.600.000,- yang terdiri dari Rp 2.000.000,- untuk biaya dua