Analisis Semiotik Wacana

Embed Size (px)

DESCRIPTION

komunikasi

Text of Analisis Semiotik Wacana

METODE PENELITIAN KOMUNIKASI II

Analisis Semiotik, Analisis Wacana, dan Partisipatory action research

Oleh :

Kelompok 7Andika Persia (0810962009)

Pratiwi Dwi Putri (0810962021)Nining Yulianti (0810962034)Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Andalas

2010BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Penelitian Kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan permasalahan dalam kehidupan kerja organisasi pemerintah, swasta, kemasyarakatan, kepemudaan, perempuan, olah raga, seni dan budaya, dan lain-lain sehingga dapat dijadikan suatu kebijakan untuk dilaksankan demi kesejahteraan bersama. Menurut Sugiono, ( 2007 : 238 ) Masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara, tentative dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.

Metodelogi penelitian komunikasi yang digunakan dalam menyelesaikan penelitian kualitatif yakni Analisis Isi, Analisis Semiotik, Analisis Wacana, Semiotik Framing dan Analisis Korelasional. Namun dalam makalah ini hanya membahas Analisis Semiotik, Analisis Wacana, dan partisipatory action research.I.2 Rumusan Masalah1. Apakah pengertian Analisis Semiotik dan contohnya?2. Apakah Pengertian Analisis Wacana dan contohnya?3. Apakah pengertian partisipatory action research dan contohnya?I.3 Tujuan

1. Dapat memahami pengertian Analisis Semiotik beserta contohnya.2. Dapat memahami pengertian Analisis Wacana beserta contohnya.

3. Dapat memahami pengertian partisipatory action research beserta contohnya.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Analisis Semiotik Pokok Pengertian dan Karakter

Menurut Eco, semiotik sebagai ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya. Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.

Berkenaan dengan hal tersebut, analisis semiotik merupakan upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih luas dari hal tersebut adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau fungsi sebagai tanda. Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik merupakan bagian dari obyek yang dikaji dalam semiologi. Selain bahasa yang merupakan representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna tertentu, obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik.Secara singkat kita dapat menyatakan bahwa analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang terdapat suatu paket lambang-lambang pesan atau teks. Teks yang dimkasud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta sistem lambang baik yang terdapat pada media massa maupun yang terdapat diluar media massa. Urusan analisis semiotik adalah melacak makna-makna yang diangkut dengan teks yang berupa lambang-lambang. Dengan kata lain, pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam teks yang menjadi pusat perhatian analisis semiotik. Beberapa Tokoh Yang Memberikan Kontribusi

a. Charles Sanders Pierce (1839-1914)

Charles sanders pierce adalah seorang ahli matematika dari AS yang sangat tertarik pada persoalan lambang-lambang. Ia melakukan kajian mengenai semiotika dari perspektif logika dan filsafat dalam upaya melakukan sistematisasi terhadap pengetahuan. Dalam hal ini, ia menggunakan istilah representamen yang tak lain adalah lambang (sign) dengan pengertian sebagai something which stand to somebody for something in some respect or capacity (sesuatu yang mewakilik sesuatu bagi seseorang dalam suatu hal atau kapasitas) (Matterlart dan Matterlart, 1998: 23). Dari pemaknaan ini dapat dilihat bahwa lambang mencakup keberadaan yang luas, termasuk pahatan, gambar, tulisan, ucapan lisan, isarat bahasa tubuh, musik, dan lukisan. Cara berfikir pierce pada dasarnya dipengaruhi aliran filsafat pragmatisme yang cenderung bersifat empirisme radikal. Segala sesuatu adalah lambang, bahkan alam raya sebenarnya adalah suatu lambang yang bukan main dahsyat sifatnya. Karena jalan pikiran demikian maka banyak kalangan yang menilai bahwa pandangan pierce tentang lambang kadangkala bersifat kabur, sulit dibedakan mana yang benar-benar lambang dan mana yang bukan lambang. Hal ini membawa konsekuansi kaburnya batas-batas semiotika sebagai suatu disiplin.Pierce mebedakan lambang menjadi tiga kategori pokok : ikon (icon), indeks (index), simbol (symbol). Yang dimaksud ikon disini adalah suatu lambang yang ditentukan (cara pemaknaannya) oleh objek yang dinamis karena sifat-sifat internal yang ada. Hal-hal seperti kemiripan, kesesuaian, tiruan, dan kesan-kesan atau citra menjadi kata kunci untuk memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang bersifat ikonik. Ikon karena itu, dapat dilihat karena memang mirip. Lukisan foto Dr. Ir. Sukarno Oleh Ratna Sari Dewi yang dapat memberikan kesan kecerdasan, keceriaan, kegigihan, kesederhanaan, serta jiwa kepemimpinan seorang Sukarno, semuanya adalah teks atau lambang-lambang ikonik yang membawa makna-makna tertentu. Istilah indeks menunjukan lambang yang cara pemaknaannya lebih ditentukan oleh objek dinamis dengan cara keterkaitan yang nyata dengannya. Proses pemaknaan lambang-lambang bersifat indeks tidak dapat bersifat langsung, tetapi dengan cara mamikirkan serta mengkaitkanya. Bebrapa hal dapat dicontohkan dalam hal ini, misalnya ada isyarat asap yang dengan itu orang lalu memaknainya sebagai apai ataupun kebakaran. Isarat maraknya aksi-aksi protes yang dengan itu orang lalu manfsirkan ketidakpuasan terhadap pemerintah cenderung meluas.Simbol dalam konteks semiotika biasanya dipahami sebaggai suatu lambang yang ditentukan oleh objek dinamisnya dalam arti ia harus benar-benar di interpretasi. Dalam hal ini, interpretasi dalam upaya pemaknaan terhadap lambang-lambang simbolik melibatkan unsur dari proses belajar dan tumbuh atau berkembangnya pengalaman serta kesepakatan kesepakatan dalam masyarakat. Misalnya kita harus belajar bicara, berlatih mengucapkan kata-kata untuk dapat mengungkapkan perasaan serta keinginan-keinginan. Bendera disepakati sebagai lambang bersifat simbolik dari suatu bangsa yang karenanya segenap warga melakukan penghormatan terhadapnya. Kemarahan suatu bangsa terhadap bangsa lain sering diekspresikan dengan pembakaran bendera bangsa lain, dan tindakan ini bersifat simbolik yang dapat dimaknai justru sangat dalam oleh bangsa yang benderanya dibakar tadi, yang kemudian juga dapat memancing kemarahan balik. b. Ferdinand de Saussure (1857-1913)

Beliau adalah seorang ahli ilmu bahasa dari Swiss. Saussure menyarankan bahwa studi tentang bahasa selayaknya menjadi bagian dari area yang ia sebut dengan semiology yang ketika itu belum banyak berkembang. Saussure mendasarkan pemikiran demikian pada keyakinan bahwa studi tentang bahasa pada dasarnya adalah studi tentang sistem lambang-lambang. Saussure menggunakan istilah semiology dengan makna ilmu yang mempelajari seluk-beluk lambang-lambang yang ada atau yang digunakan masyarakat. Ia bermaksud memberikan pemaknaan pada perihal yang ikut membentuk atau menentukan lambang-lambang, dan hukum-hukum atau adanya ketentuan-ketentuan bagaimana yang mengaturnya. Sejak saat ini berkembanglah pandangan bahwa semiotika atau semiologi tidak lain adalah ilmu tantang lambang-lambang. Suatu hal yang menarik, bahwa terdapat dua istilah yang berbeda: semiotika dan semiologi. Semiotika pada umumnya digunakan untuk menunjukan studi tentang lambang-lambang secara luas baik dalam konteks kultural maupun natural, sementara semiologi lebih tertuju pada lambang-lambang bahasa, terutama dalam konteks komunikasi yang memliki tujuan-tujuan tertentu atua yang sering disebut intentional communication, yang karenanya bersifat kultural (malone, 1996: 1152). Saussure mengelompokkan lambang menjadi dua jenis: signifier dan signified. Signifier menunjukan pada aspek fisik dari lambang, misalnya ucapan, gambar, lukisan, sedangkan signified menunjukan pada aspek mental dari lambang, yakni pemikiran bersifat asosiasif tentang lambang. Kedua jenis lambang ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Saussure mengajukan dua dalil berkenaan dengan sistem lambang, terutama dalam linguistik (Malone, 1996: 1152), sebagai berikut: Pertama, bahwa hubungan antara signifier dan signified bersifat ditentukan atau dipelajari, pemberian makna terhadap lambang merupakan hasil dari proses belajar. Hal ini mengingatkan kita pada lambang jenis simbolik sebagaimana dimaksud Pierce. Kedua, bahwa signifier linguistik (misalnya kata-kata atau ucapan-ucapan) dapat berubah dari waktu ke waktu. Hal demikian berbeda dengan signifier visual, yang relatif tidak berubah, seperti gambar-gambar dan lukisan.

c. Roland Barthes

Roland batrhes menggunakan istilah denotasi dan konotasi untuk menunjukan tingkatan-tingkatan makna. Makna denotasi adalah makna tingkat pertama yang bersifat objektif yang dapat diberikan terhadap lambang-lambang, yakni dengan mengaitkan secara langsung antara lambang dengan realitas atau gejala yang ditunjuk. Makna konotasi adalah maknaa-makna yang dapat diberikan pada lambang-lambang dengan mengacu pada nilai-nilai budaya yang karenanya berada pada tingkatan kedua. Yang menarik berkenaan dengan semiotika Roland Barthes adalah digunakannya