Arah Pemikiran Pengembangan Profesi Konselor

Embed Size (px)

Text of Arah Pemikiran Pengembangan Profesi Konselor

PENGEMBANGAN PROFESIONALISME KONSELORDisusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi BK Tugas Individu Dosen Pengampu : Indah Lestari,SPd

Oleh Nama NIM Kelas Progdi : Sisilia Yulika Elly Pratiwi : 2010-31-248 : IIP : Bimbingan & Konseling

UNIVERSITAS MURIA KUDUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BK 2010/2011

DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. Daftar Isi........................................................................................................... BAB I Latar Belakang...................................................................................... BAB II Rasional............................................................................................... embangan pendidik professional................................................................ ria dan komponen profesi........................................................................... BAB III Trilogi Profesi Konselor..................................................................... elor sebagai pendidik.................................................................................. ponen trh ogi profesi konselor.................................................................... BAB IV Program Pendidikan Profesional Konselor........................................ umum pendidikan....................................................................................... am pendidikan sarjana (s-1) konseling....................................................... am pendidikan profesi konselor (ppk)........................................................ BAB V Lapangan Praktik Pelayanan Profesional Konselor............................. us pelayanan konseling............................................................................... anan konseling di sekolah/ madrasah......................................................... nan konseling di luar sekolaiv madrasah.................................................... ii 1 2 2 3 8 8 12 15 15 15 18 20 20 22 23

A.................................................................................................................Peng B..................................................................................................................Krite

A.................................................................................................................Kons B..................................................................................................................Kom

A.................................................................................................................Pola B..................................................................................................................Progr C..................................................................................................................Progr

A.................................................................................................................Mod B..................................................................................................................Pelay C..................................................................................................................Laya

ii

BAB VI Peran Organisasi Profesi Konseling................................................... BAB VII Langkah Strategis.............................................................................. Makna Keterkaitan Antarkomponen................................................................. Standar Kompetensi Konselor.......................................................................... BAB VIII Kesimpulan...................................................................................... Daftar Pustaka...................................................................................................

26 28 30 35 47 48

iii

BAB I LATAR BELAKANG Geliat gerakan Bimbingan dan Penyuluhan/Konseling (BP/BK) mulai dibangunkan oleh promotor yang amat peduli terhadap pengembangan pelayanan BP/BK, khususnya di bidang pendidikan. Geliat ini terus mewujud menjadi upaya dan gerakan yang semakin jelas corak dan isinya, yang kegiatannya terintegrasikan ke dalam sekolah dan yang selanjutnya pada dekade awal abad ke21 ini mulai jelas sosok dan substansinya sebagai profesi konseling yang mampu berkiprah dalam setting persekolahan maupun luar persekolahan. Gerakan tersebut, mungkin tampak lamban tetapi terarah dan pasti, serta secara bertahap memperoleh sokongan bahkan fasilitas regulasi dan aturan perundangan dari pemerintah yang semuanya memantapkan profesi yang sangat mementingkan optimalisasi perkembangan individu, kebahagiaan dan kemandirian pribadi, serta kemaslahatan kehidupan kemanusiaan itu berkembang menjadi profesi yang bermartabat.

1

BAB II RASIONAL Dalam pengembangan gerakan profesional pelayanan konseling

sebagaimana lintasannya terungkap pada Bab I di sana tampak benang merah arah profesionalisasi profesi yang dimaksudkan itu. Upaya pemerintah yang sejak tahun-tahun awal abad ke-21 ini menyelenggarakan profesionalisasi tenaga pendidik, memberikan suasana yang amat kondusif bagi semakin mantapnya profesionalisasi profesi konselor, yang adalah pendidik, dengan arah karakteristik dan trilogi profesi yang bermartabat. A. PENGEMBANGAN PENDIDIK PROFESIONAL Di awal abad ke-21 ini penyelenggaraan pendidikan di Indonesia mulai memasuki era profesional. Hal ini ditandai dengan penegasan bahwa "pendidik merupakan tenaga profesional" (UU No 20 tahun 2003 Pasal 39 ayat 2), dan "profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serts memerlukan pendidikan profesi" (UU No. 14 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 4). Tentang pendidikan profesi disebutkan bahwa "pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian tertentu" (UU No. 20 Tahun 20 tahun 2005 Penjelasan Pasal 15). Dengan demikian persyaratan dasar untuk dapat mengikuti program pendidikan profesi adalah tamatan program sarjana. Hal ini terkait dengan jenis jenis program yang dapat diselenggarakan oleh perguruan tinggi, yaitu program akademik, profesi dan vokasi (UU No. 20 Tahun 2003 Penjelasan Pasal 15), di mana program sarjana merupakan salah satu jenis program akademik. Dengan tuntutan formal tersebut di atas, penyiapan pendidik profesional, dalam hal ini konselor sebagai pendidik profesional, ditempuh melalui pendidikan sarjana yang berorientasi akademik yang kemudian

2

dilanjutkan pada pendidikan profesi yang berorientasi keterampilan keahlian dalam bidang konseling. B. KRITERIA DAN KOMPONEN PROFESI 1. Kriteria Profesi Searah dengan pengertian profesional sebagaimana tersebut di atas, berbagai hal tentang kriteria peker can profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar, yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 1915 yang melihat kriteria profesi dalam enam karakteristik, yaitu: keintelektualan, kompetensi profesional yang dipelajari, objek praktik spesifik, komunikasi, motivasi altruistik, dan organisasi profesi. a. Keintelektualan. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik); lebih memerlukan proses berpikir dari pada kegiatan rutin. Melalui proses berpikir tersebut, pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang, berdasarkan kaidahkaidah keilmuan yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. b. Kompetensi profesional yang dipelajari. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja, misalnya melalui pewarisan "ilmu" dari pewaris kepada keturunannya, melainkan melalui pembelajaran secara intensif. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap, misalnya melalui mimpi, melalui semedi atau bertapa sekian lama, atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah Sakti. Seorang profesional harus dengan sungguhsungguh, serta mencurahkan segenap pikiran dan usalm, untuk mempelajari materi keilmuan, pendekatan, metode dan teknik, serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. c. Objek praktik spesifik. Pelayanan suatu profesi tertcMu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. Dokter sebagai tenaga profesional menangani penyembuhan penyakit, psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek

3

psikis individu, sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis, apoteker menangani pembuatan obat, akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku, konselor menangani individu-individu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mengimbas kepada pola kehidupan yang lebih luas dan masa depannya. Sejalan dengan ini semua, apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional?, seperti: guru, konselor, dan pamong belajar?. Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru, konselor dan pamong belajar itu. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan prolem lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. Demikianlah, objek praktik spesifik konselor pun harus dengan jelas dibedakan dari tangan guru dan jenis pendidik lainnya, kendatipun sama-sama profesi dalam bidang pendidikan. d. Komunikasi. Segenap aspek pelayanan profesional, meliputi objek prakt