of 20 /20
1 Universitas Indonesia ARSITEKTUR & ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon Rasa Takut akan Ketinggian (Teori Persepsi dan Eksplorasi Müller-Lyer) Cut Alisha Shabrina Zagloel, Dr. Ir. Hendrajaya, M.Sc. Departemen Arsitektur, Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Depok, Jawa Barat, 16424, Indonesia [email protected]; [email protected] Abstrak Meningkatnya pembangunan secara vertikal membuat banyak ruang aktivitas manusia terletak pada ketinggian. Namun, kenyataannya tidak semua manusia merasa nyaman berada jauh diatas permukaan bumi. Rasa takut akan ketinggian disebut dengan acrophobia, yang menurut para ahli merupakan hasil dari persepsi manusia. Terdapat dua faktor dalam pembentukkan persepsi, faktor intangible yang mengacu pada pengalaman dan memori, dan faktor tangible yang merujuk pada lingkungan fisik. Melalui studi kasus, keterkaitan antara dua faktor ini dikaji untuk melihat dan mencari peluang bagi arsitektur dalam perannya pada proses persepsi manusia. Skripsi ini menggunakan teori Müller-Lyer sebagai pendekatan arsitektur dalam mengkaji fenomena ketinggian yang memengaruhi pengelihatan manusia, serta terapannya pada perspektif sebagai cara manusia melihat ruang. Pada akhir skripsi ini, disimpulkan bahwa konfigurasi garis dan bidang dapat menciptakan ilusi volume dan kedalaman ruang sehingga dapat membelokkan fokus pada manusia sebagai pengamat. Kata Kunci: Acrophobia, Persepsi, Ketinggian, Ilusi, Visual ARCHITECTURE & ACROPHOBIA The Role of Architecture in Responding to Fear of Height (Perception Theory and Müller-Lyer Exploration) Abstract The increasing development with vertical orientation evokes immense amount of space for human activities in high altitude. However, not everyone is comfortable being far above the earth's surface. Acrophobia is an extreme or irrational fear of height, which experts say that it is the projection of human’s perception. There are two factors associated in perceptual process, those being intangible factors which refers to one’s past experiences and memories, and tangible factors which refers to the physical environment. Through case studies, the relation between these two factors assessed to see and explore the opportunities for architecture, to play its role in the process of human perception. By using Müller-Lyer theory as an architectural approach, this undergraduate-thesis will explore the phenomenon of high altitude and how it affects human’s vision, as well as its application in perspective as human’s way to see space. At the end of this Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

  • Upload
    others

  • View
    35

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

1

Universitas Indonesia

ARSITEKTUR & ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon Rasa Takut akan Ketinggian

(Teori Persepsi dan Eksplorasi Müller-Lyer)

Cut Alisha Shabrina Zagloel, Dr. Ir. Hendrajaya, M.Sc.

Departemen Arsitektur, Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Depok, Jawa Barat, 16424, Indonesia

[email protected]; [email protected]

Abstrak

Meningkatnya pembangunan secara vertikal membuat banyak ruang aktivitas manusia terletak pada ketinggian. Namun, kenyataannya tidak semua manusia merasa nyaman berada jauh diatas permukaan bumi. Rasa takut akan ketinggian disebut dengan acrophobia, yang menurut para ahli merupakan hasil dari persepsi manusia. Terdapat dua faktor dalam pembentukkan persepsi, faktor intangible yang mengacu pada pengalaman dan memori, dan faktor tangible yang merujuk pada lingkungan fisik. Melalui studi kasus, keterkaitan antara dua faktor ini dikaji untuk melihat dan mencari peluang bagi arsitektur dalam perannya pada proses persepsi manusia. Skripsi ini menggunakan teori Müller-Lyer sebagai pendekatan arsitektur dalam mengkaji fenomena ketinggian yang memengaruhi pengelihatan manusia, serta terapannya pada perspektif sebagai cara manusia melihat ruang. Pada akhir skripsi ini, disimpulkan bahwa konfigurasi garis dan bidang dapat menciptakan ilusi volume dan kedalaman ruang sehingga dapat membelokkan fokus pada manusia sebagai pengamat.

Kata Kunci: Acrophobia, Persepsi, Ketinggian, Ilusi, Visual

ARCHITECTURE & ACROPHOBIA The Role of Architecture in Responding to Fear of Height

(Perception Theory and Müller-Lyer Exploration)

Abstract

The increasing development with vertical orientation evokes immense amount of space for human activities in high altitude. However, not everyone is comfortable being far above the earth's surface. Acrophobia is an extreme or irrational fear of height, which experts say that it is the projection of human’s perception. There are two factors associated in perceptual process, those being intangible factors which refers to one’s past experiences and memories, and tangible factors which refers to the physical environment. Through case studies, the relation between these two factors assessed to see and explore the opportunities for architecture, to play its role in the process of human perception. By using Müller-Lyer theory as an architectural approach, this undergraduate-thesis will explore the phenomenon of high altitude and how it affects human’s vision, as well as its application in perspective as human’s way to see space. At the end of this

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 2: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

2

Universitas Indonesia

thesis, it was concluded that the configurations of lines and planes can create illusion of volume and depth of space thus deflecting focus for human as the observer. Keywords: Acrophobia, Perception, Height, Illusion, Visual

Pendahuluan

Hutan beton, itulah sebutan bagi kota-kota besar di masa kini. Semakin penuhnya kota yang

mengacu kepada kurangnya lahan dan naiknya kebutuhan manusia serta kemajuan teknologi dan

ilmu struktur membuat bangunan dibangun dengan orientasi vertikal. Bangunan yang menjulang

tinggi memiliki kelebihan memaparkan keindahan kota atau pemandangan dari ketinggian

sehingga jangkauan pengelihatan menjadi lebih luas dan jauh. Hal ini yang membuat bangunan

berorientasi vertikal menjadi tren di kota-kota besar terutama untuk menikmati keindahan di

malam hari ketika lampu kota menyala. Tren tempat dengan pemandangan kota dari titik

ketinggian bangunan membuat ruang aktivitas manusia banyak terletak pada ketinggian. Banyak

tempat berkumpul sosial seperti kafe, restoran, bar, serta hiburan lainnya yang diletakkan pada

lantai-lantai atas bangunan atau rooftop. Hal ini memicu keinginan manusia untuk mengunjungi

tempat-tempat tinggi. Tidak hanya itu, banyak pula manusia yang tinggal atau bekerja di

bangunan tinggi. Namun, apakah semua manusia dapat merasa nyaman menempati ruang yang

terletak pada ketinggian?

Acrophobia adalah takut akan ketinggian yang merupakan salah satu fobia yang umum

ditemukan dan menjadi fobia terbanyak ke-3 di dunia1. Manusia dengan fobia ini merasa takut

secara ekstrem yang diikuti dengan panik, stres, dan/atau depresi jika berada di tempat yang

tinggi. Manusia dengan acrophobia merasa tidak nyaman berada di tempat tinggi dan ketakutan

ini menjadi penghambat bagi diri mereka untuk menikmati keindahan kota atau pemandangan

dari ketinggian serta mengikuti tren masa kini dengan maraknya tempat sosial yang berada di

ketinggian.

Ketinggian merupakan kedalaman secara vertikal dan hubungan manusia yang pertama

terhadap ruang adalah dengan merasakan adanya kedalaman dengan kesadaran akan dimensi,

sehingga persepsi akan kedalaman menjadi penting dalam bahasan ini. Ketinggian memiliki ilusi

visual bagi manusia, dengan adanya distorsi visual terhadap apa yang dilihat manusia yang mana

1fearof.net,(26Februari2016)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 3: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

3

Universitas Indonesia

ketika manusia berada di titik ketinggian, saat melihat kebawah, skala pengelihatan manusia

menjadi berbeda, antara yang dilihat dengan jarak dekat di sekelilingnya dengan yang jarak jauh

atau dalam hal ini adalah yang berada dibawah yang terlihat lebih kecil. Fenomena ini

dipersepsikan oleh manusia yang memiliki fobia ketinggian melalui indera yang dimilikinya.

Pada manusia dengan acrophobia, indera yang mendominasi adalah indera pengelihatan,

sehingga apa yang dilihat oleh manusia sangat berpengaruh terhadap persepsinya.

Ilusi visual merupakan salah satu teknik manipulasi yang membuat indera pengelihatan

kita menangkap kualitas yang berbeda akan suatu hal. Dalam hal ini, ilusi visual menjadi

pendekatan arsitektur dalam perannya untuk memicu persepsi manusia yang menjadi faktor

tangible yang menjadi salah satu aspek yang memengaruhi persepsi manusia. Penggunaan teori

ilusi visual yaitu teori Müller Lyer untuk mengkaji aspek utama yang membentuk ruang. Aspek

lain yang memengaruhi perbedaan persepsi manusia dalam suatu ruang juga dipengaruhi oleh

faktor intangible yaitu pengalaman dan memori yang membuat manusia memiliki persepsi yang

berbeda-beda dan bersifat subjektif.

Penggunaan ilusi visual pada ruang berpengaruh terhadap penciptaan pengalaman ruang

yang akan dirasakan manusia. Sebagai contoh, ruang dapat terasa lebih besar atau lebih kecil dari

ukuran sebenarnya dengan proporsi, material, atau komposisi tertentu. Penggunaan ilusi visual

memicu adanya ambiguitas persepsi manusia dikarenakan faktor yang tangible dan intangible

sehingga membuat manusia yang berada diruang tersebut merasakan pengalaman ruang yang

berbeda-beda. “Analytical reflection starts fromourexperienceof theworldandgoesback to

the subject…”.2 Sehingga pada skripsi ini, kegiatan mengalami ruang menjadi penting terkait

proses perseptual manusia.

Pada skripsi ini, saya ingin membahas mengenai keterkaitan antara persepsi manusia yang

takut akan ketinggian, faktor-faktor yang menyebabkan rasa takut (tangible dan intangible), serta

peran arsitektur dalam memanipulasi ruang dengan menggunakan ilusi visual. Sebagai studi

kasus saya mengambil beberapa subjek manusia dengan acrophobia (acrophobics) dan manusia

yang tidak memiliki fobia akan ketinggian untuk mengkaji faktor yang memicu rasa takut dari

dalam diri manusia (intangible), serta dua studi kasus yaitu tempat berkumpul sosial yang berada

2Ponty,Marleau.PhenomenologyofPerception.(Hlm.ix)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 4: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

4

Universitas Indonesia

di ketinggian dan yang saya ambil adalah restoran rooftop untuk melihat peran arsitektur sebagai

faktor tangible.

Landasan Teori

Acrophobia merupakan ketakutan akan ketinggian. Menurut Oxford Dictionary,

“acrophobia /ˌakrəˈfəʊbɪə/ noun: Extreme or irrational fear of heights.” Menurut 3Hyperdictionary, Manusia dengan acrophobia disebut dengan acrophobic.”acrophobic.

Definition: [adj]suffering fromacrophobia.”Acrophobia merupakan fobia yang umum dialami

oleh manusia dan menjadi fobia ke-3 terbanyak di dunia,4 sehubungan dengan meningkatnya

pembangunan dengan orientasi vertikal. Dalam membahas acrophobia, saya menggunakan teori

“takut” karena acrophobia merupakan salah satu jenis fobia, yang mana merupakan perasaan

takut ekstrem yang spesifik terhadap suatu objek, keadaan, atau situasi tertentu.5 Rasa takut

merupakan hal manusiawi yang pasti dimiliki oleh manusia, namun skala takut yang dimiliki

manusia berbeda-beda. Takut merupakan suatu emosi yang dimiliki manusia yang dipengaruhi

oleh interaksi sosial dan pengalaman. Takut merupakan proyeksi dari persepsi manusia dan

persepsi manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dari dalam diri manusia

berupa pengalaman dan memori yang bersifat intangible serta faktro eksternal yang merujuk

pada lingkungan fisik yang bersifat tangible. Kedua faktor ini memiliki pengaruh yang saling

memengaruhi dalam proses persepsi manusia. Proses persepsi manusia terdiri dari sensasi,

persepsi, identifikasi, dan aksi. Pada fenomena persepsi, yang terjadi adalah hubungan aktif dari

subjek dan objek dimana yang menjadi fokus utama adalah hubungan persimpangan dari subjek

dan objek tersebut. Objek yang disensasikan oleh indera-indera yang dimiliki manusia yang

diterima secara apa adanya, diolah oleh otak manusia yang dibumbui oleh faktor intangible yaitu

pengalaman dan memori yang menjadi persepsi, kemudian di identifikasi dengan

menghubungkan dengan kejadian di masa lalu.

3"acrophobia."MeaningofAcrophobic.2013.Hyperdictionary.com.23Februari2016.4“acrophobia.”http://www.fearof.net.23Februari20165“phobia.”OxfordDictionaries.2016.Oxforddictionaries.com.15Maret.2016.

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 5: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

5

Universitas Indonesia

Dalam mengalami ruang, acrophobics sangat dipengaruhi oleh indera pengelihatannya.

Rasa takut yang dialami oleh acrophobics dipengaruhi oleh faktor tangible dan intangible yang

merupakan faktor utama persepsi manusia.

Keberadaan manusia pada ruang membuat adanya fenomena persepsi yang mana pada

fenomena ini terjadi hubungan antara manusia dengan ruang tersebut. Manusia dengan alat

inderanya menerima informasi dengan adanya stimulus, pada proses ini manusia sadar dan hadir

pada ruang tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan sensasi. Kesadaran dan kehadiran

manusia pada suatu ruang membuat manusia dapat menyerap informasi-informasi yang ada

secara mentah dan sederhana. Kemudian informasi tersebut dikirim dan diolah oleh otak manusia

dengan adanya faktor intangible yang berasal dari dalam diri manusia, berupa memori dan

karakter seseorang. Informasi tersebut diolah dan dicerna dengan adanya faktor intangible

tersebut, dan pada proses inilah persepsi didapatkan karena pada proses ini, faktor intangible

manusia berbeda-beda secara individual. Persepsi yang didapatkan masih berupa adjektif atau

kata sifat yang dirasakan oleh manusia. Kemudian manusia memaknai informasi adjektif tersebut

yang kemudian menjadi kata benda yang dapat diaplikasikan pada dunia nyata, proses ini adalah

proses recognition. Setelah pemberian makna, manusia merespon informasi atas keapaan dari

ruang tersebut dengan aksi atau gerakan.

Gambar 1. Bagan Kesimpulan Faktor Acrophobia (sumber: ilustrasi pribadi, diolah berdasarkan ‘Philosophy of Fear’ oleh Sara Svensen)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 6: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

6

Universitas Indonesia

Gambar 2. Kesimpulan Proses Perseptual (Sumber: illustrasi pribadi, diolah berdasarkan Perceptual Perception oleh Dr. Michael Proulx,

Phenomenology of Perception oleh Marleau Ponty, dan Sense of Space oleh David Morris)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 7: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

7

Universitas Indonesia

Ketinggian menawarkan pengalaman ruang yang berbeda bagi manusia, dengan perluasan

jangkauan pandang dibandingkan pada dataran. Hal ini yang membuat proses persepsi pada

acrophobia mengacu pada indera pengelihatan sehingga visual memiliki peran penting. Respon

arsitektur terkait dengan visual manusia yaitu dengan menggunakan ilusi sebagai pendekatan

arsitektur. Teori Müller-Lyer merupakan ilusi yang membahas mengenai panjang suatu garis

yang dapat terlihat berbeda karena elemen garis bantu lain. Ilusi akan panjang dan kedalaman ini

juga terpapar pada ilusi Ames Room yang menjadi salah satu terapan Müller-Lyer, serta pada

perspektif yang menjadi cara pandang manusia. Terkait teori Gestalt (Closure), manusia dalam

melihat ruang dengan perspektif memiliki informasi kosong yang mana manusia cenderung

mengisi informasi kosong tersebut dengan interpretasinya yang memberikan peluang bagi

arsitektur untuk memengaruhi persepsi manusia.

Studi Kasus dan Analisis

Dalam mengkaji faktor intangible yang memicu rasa takut pada acrophobics, saya

mewawancarai subjek acrophobics dan non-acrophobics untuk mengkaji perbedaan yang ada.

Saya mengambil 5 subjek acrophobics dan 5 subjek non-acrophobics dengan pertanyaan yang

sama. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengalaman dan memori dari

masa lalu yang berhubungan dengan masa kini yang menjadi salah satu faktor yang

memengaruhi persepsi manusia. Selain itu, terkait dengan faktor tangible, saya juga melihat

gestur subjek untuk menganalisis respon terhadap ruang.

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 8: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

8

Universitas Indonesia

(sumber: olahan pribadi berdasarkan hasil wawancara dan gestur)

Tabel 1. Wawancara dan Gestur Subjek Acrophobics

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 9: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

9

Universitas Indonesia

(sumber: olahan pribadi berdasarkan hasil wawancara dan gestur)

Tabel 2. Wawancara dan Gestur Subjek Non-Acrophobics

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 10: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

10

Universitas Indonesia

Studi kasus yang digunakan dalam skripsi ini adalah Skye dan The 18 Restaurant & Lounge

yang merupakan restoran dan tempat berkumpul sosial yang berada pada lantai paling tinggi

bangunan atau rooftop, yang merupakan bagian luar dari atap bangunan. Kedua tempat ini

merupakan tempat yang menjadi tren di masa kini dengan maraknya pembangunan arsitektur

yang berorientasi secara vertikal dan menggunakan ketinggian untuk memaparkan keindahan

pemandangan kota dari ketinggian sehingga menarik pengunjung. Skye Restaurant & Bar

merupakan restoran rooftop tertinggi di Jakarta dan The 18 Restaurant & Lounge merupakan

restoran rooftop tertinggi di Bandung.

Saya menganalisis studi kasus yang mengaplikasikan subjek acrophobics dan non-

acrophobics terhadap dua studi kasus yang terkait yaitu Skye Restaurant & Bar dan The 18

Restaurant & Lounge. Analisis studi kasus ini dilakukan dengan melihat pembagian zona,

konsep, dan elemen arsitektur utama yaitu pengalas, penopang, dan penutup. Tinjauan ini

melihat sifat utama dari elemen arsitektur yaitu solid dan void serta material solid atau transparan

yang dapat menghalangi atau memperluas jangkauan pandang manusia. Hal ini terkait dengan

indera pengelihatan manusia sebagai reseptor utama (bab 2.2.3) dan mendominasi dalam

mempersepsikan ruang terkait rasa takut akan ketinggian

Kedua studi kasus merupakan rooftop tertinggi pada kota masing-masing yaitu dengan Skye

merupakan rooftop tertinggi di Jakarta yang terletak di lantai 56 Menara BCA dan The 18

Restaurant & Lounge merupakan rooftop tertinggi di Bandung yang terletak di lantai 18 Trans

Luxury Hotel Bandung atau pada ketinggian 80m. Perbedaan antara Skye dan The 18 Restaurant

& Lounge terletak pada elemen arsitekturnya. Pada The 18 Restaurant & Lounge, elemen

arsitektur banyak menggunakan elemen kaca terutama pada pembatas dan penutup atas,

sedangkan pada Skye Bar & Restaurant elemen kaca hanya pada pembatas dan tidak di semua

sisi.

Ruang yang terletak pada ketinggian ini membuat manusia yang berada pada ruang ini

manusia memiliki jarak pandang yang sangat luas dan dengan perbedaan skala yang jauh dalam

pengelihatan manusia antara objek yang berada pada ruang tersebut dan objek yang berada

disekeliling ruang. Hal ini memberikan peluang bagi manusia untuk merasa takut akan

ketinggian dengan apa yang ditangkap dari indera pengelihatannya karena merupakan keadaan

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 11: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

11

Universitas Indonesia

yang berbeda dari kehidupan sehari-harinya yang mana jangkauan pengelihatan manusia lebih

kecil pada keadaan normal atau diruang yang datar dibandingkan ketika berada pada ketinggian.

Skye Bar & Restaurant dapat membuat acrophobics tidak merasa takut saat duduk dan

menikmati hidangan atau sedang melakukan kegiatan di ruang tersebut karena pembatas ruang

dan perbatasan ketinggian memiliki jarak sekitar 2 meter sampai 3 meter sehingga pembatas

tidak langsung berhadapan dengan ketinggian melainkan memiliki ekstensi pengalas. Perasaan

takut terjadi hanya saat berjalan di area sirkulasi karena terdapat perbedaan ketinggian yaitu

lebih tinggi 60cm pada area sirkulasi dari area duduk yaitu zona outdoor

Gambar 3. Zona dan Elemen Arsitektur pada Skye (sumber: olahan pribadi berdasarkan survei)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 12: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

12

Universitas Indonesia

Pembatas ketinggian pada Skye Bar & Restaurant cenderung rendah yaitu kurang lebih

40cm namun karena adanya jarak antara perbatasan ketinggian dengan pembatas yang

memberikan jarak antara perbatasan ketinggian dengan ruang kegiatan membuat acrophobics

menjadi merasa aman karena pemandangan kota Jakarta dapat tetap dengan jelas terlihat dan

terasa seperti tanpa ada batas, ekstensi pengalas yang menjadi jarak antara pembatas dan

perbatasan ketinggian tersebut menghalangi pandangan manusia ke arah bawah sehingga

manusia dengan acrophobia bisa tetap menikmati pemandangan dan mereduksi rasa takut.

Gambar 4. Potongan Skye dan View (ilustrasi pribadi berdasarkan survey, foto render dan asia-bars.com)

Gambar 5. Zona dan Elemen Arsitektur pada The 18 Restaurant & Lounge (sumber: olahan pribadi berdasarkan survei, foto pribadi)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 13: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

13

Universitas Indonesia

The 18 Restaurant & Lounge memiliki pembatas bermaterial kaca yang berbatasan langsung

dengan ambang ketinggian, walau ada ekstensi perpanjangan berupa struktur dengan lebar sekiar

60cm dan tinggi sekitar 20cm, namun pandangan tetap dapat melihat kebawah, kecuali jika

sedang duduk. Hal ini yang membuat acrophobics merasa takut karena mereka jarak pandang

mereka menjadi luas dan memungkinkan untuk melihat kebawah.

Indera pengelihatan menjadi indera yang berperan utama dan berpengaruh besar manusia

dalam mempersepsikan keadaan terhadap acrophobics atau orang dengan ketakutan tertentu

sehingga terjadi false input atau distorsi visual yang membuat informasi menjadi salah atau

dengan kata lain terdapat ilusi secara visual. Kesalahan informasi ini yang dipengaruhi oleh

faktor intangible dari internal diri manusia dapat di respon oleh faktor tangible yaitu elemen

arsitektur yang dilihatnya dengan memberikan manipulasi keamanan. Pada bab berikut saya akan

melakukan eksplorasi ilusi visual mengenai kedalaman. Elemen ruang berpengaruh sebagai

penghalang atau penembus pengelihatan manusia. Elemen arsitektur pada ruang merupakan

Gambar 6. Potongan dan View The 18 Restaurant & Lounge (sumber: olahan pribadi berdasarkan survei. foto probadi dan render)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 14: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

14

Universitas Indonesia

objek yang diterima oleh indera pengelihatan manusia secara apa adanya yang dapat membuat

pandangan manusia menjadi semakin luas atau menjadi terbatas.

Perasaan takut yang dialami acrophobics maupun non-acrophobics yang berada pada tempat

tinggi dipengaruhi besar oleh indera pengelihatan. Adanya pembatas akan terasa percuma dan

memicu perasaan tidak aman jika pandangan masih dapat menembus jauh. Perbedaan pada

subjek acrophobics dan non-acrophobics adalah pada subjek acrophobics, subjek tidak berani

sama sekali dan memiliki ketakutan berlebih dengan respon panik, lemas, atau flight

(menghindar).

Respon flight sering digunakan dengan tujuan melindungi diri dari apa yang membuatnya

bahaya, cara yang dilakukan dapat berupa freeze atau terdiam di tempat yang menurutnya aman

yakni kurang lebih 2 meter dari ambang batas ketinggian atau membuat batas tersendiri yaitu

kurang lebih 3 meter dari ambang batas ketinggian. Upaya melindungi diri atau self-defense yang

dilakukan acrophobics juga dapat berupa mengarahkan pengelihatannya ke atas atau ke depan,

bukan ke bawah. Subjek non-acrophobics tidak merasa takut pada tempat tinggi dengan adanya

pembatas, baik berupa pegangan, material solid, maupun material transparan. Adanya pengalas

dengan material solid tidak membuat subjek non-acrophobics merasa takut, namun material

transparan yang memungkinkan pandangan tembus jauh kebawah memicu perasaan takut

terhadap subjek non-acrophobics, tetapi subjek non-acrophobics dapat melampaui perasaan

takutnya dengan beradaptasi pada ruang. Respon awal yang didapatkan pada subjek non-

acrophobics pada tempat yang memiliki pengalas dengan material transparan adalah freeze

namun dalam jeda beberapa detik subjek non-acrophobics mulai menggerakan badannya,

berpindah tempat, dan beraktivitas normal.

Eksplorasi

Pada eksplorasi ilusi Müller-Lyer, saya mengeksplorasi garis karena dalam teori ini garis

menjadi faktor utama dalam pembentukan ilusi. Müller-Lyer yang merupakan ilusi mengenai

panjang garis utama yang merupakan garis yang sama panjang dapat terlihat berbeda dengan

adanya elemen garis. Elemen garis tambahan merupakan garis yang terhubung dan menjadi

sebuah bentuk yang memiliki arah dan sudut memiliki kedalaman yang dapat menjadi ekstensi

dari garis utama sehingga dapat terjadi adanya ilusi.

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 15: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

15

Universitas Indonesia

Dari empat variabel yang dieksplorasi dari karakter garis, didapatkan bahwa semakin tipis

garis dengan ketebalan yang sama, dengan sudut yang lancip, dan semakin pendek garis utama,

serta jenis garis yang putus-putus, semakin terlihat ilusi visual akan perbedaan panjang dari

kedua garis utama yang sebenarnya sama. Garis menjadi elemen penting karena merupakan

elemen pembentuk dan mendasar pada suatu bidang. Dari sudut perspektif yang tegak lurus

didapatkan bahwa ruang terlihat datar dan elemen ruang memiliki garis yang sejajar, namun jika

sudut pandang bergeser maka terlihat adanya distorsi-distorsi garis yang menjadikan ruang

tersebut asimetris dan mulai terlihat trik ilusi visual yang ada. Dari sini didapatkan bahwa

perspektif merupakan aspek yang perlu dieksplorasi karena perspektif merupakan cara manusia

melihat dalam kehidupan nyata. Dari hasil penerapan teori Müller-Lyer pada gambar perspektif

pada studi kasus, didapatkan bahwa adanya koneksi antar garis Müller-Lyer dengan arah panah

yang berbeda.

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 16: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

16

Universitas Indonesia

Perspektif yang menjadi cara melihat manusia ini dipengaruhi dengan adanya karakter

garis pembentuk ruang itu terkait dengan panjang, sudut, ketebalan, kedalaman, proporsi, dan

kontinuitas. Garis ini membentuk bidang atau objek solid yang bersifat keseluruhan dan dari

hasil analisis didapatkan adanya closure atau teori gestalt sebagai cara manusia melihat. Manusia

cenderung mengisi informasi parsial atau informasi yang hilang dengan interpretasinya. Hal ini

terkait dengan teori persepsi yang mana faktor intangible (pengalaman dan memori) seseorang

memengaruhi persepsinya. Informasi yang didapatkan dari ilusi visual ini merangsang indera

pengelihatan manusia untuk menyederhanakan apa yang dilihatnya dan inilah yang membuat

terjadinya distorsi visual akibat penyederhanaan informasi sehingga informasi yang didapat

secara parsial dan informasi yang didapat secara menyeluruh berbeda. Distorsi visual ini terjadi

pada saat manusia melihat ruang yaitu dengan perspektif. Distorsi visual ini membuka peluang

untuk manusia menjadi merasa takut akan persepsinya karena salah informasi namun juga dapat

menjadi peluang bagi arsitektur untuk melakukan perannya yaitu melakukan manipulasi

sehingga menciptakan informasi baru.

Gambar 7. Penerapan Muller-Lyer pada studi kasus (The 18 Restaurant & Lounge) (sumber: olahan pribadi berdasarkan survei. dokumen pribadi)

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 17: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

17

Universitas Indonesia

Kesimpulan

Dalam mengkaji faktor yang memicu rasa takut manusia akan ketinggian, didapatkan

bahwa takut yang merupakan persepsi manusia memiliki dua faktor yaitu tangible dan

intangible. Terkait dengan hipotesa awal, persepsi manusia selain dipengaruhi oleh keberadaan

ruang (faktor tangible) juga dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri manusia berupa pengalaman

dan memori. Arsitektur yang berperan sebagai faktor tangible memiliki pengaruh yang sama

besar dengan faktor intangible yang terdapat dalam diri manusia. Arsitektur menyajikan

informasi, memaparkan kemungkinan, karena variabel terikat dalam konteks ini merupakan

faktor dari dalam diri manusia yakni faktor internal yaitu memori. Arsitektur berperan sebagai

variabel bebas yang dapat merespon variabel terikat tersebut. Arsitektur dapat memanipulasi

keadaan, memberikan keambiguitasan ruang atas perbedaan subjektifitas persepsi individu,

sehingga mengupayakan pengalaman ruang yang dialami manusia yang bersifat positif.

Dalam proses persepsi yang dilakukan manusia terhadap ruang, terjadi hubungan timbal

balik antara manusia dan ruang sehingga kedua faktor ini menjadi faktor penting dan utama yang

memengaruhi hasil persepsi. Ruang memberikan informasi dan stimulus-stimulus yang dapat

diterima oleh manusia dengan sensasi, persepsi, pemaknaan, dan aksi. Respon, gerakan, atau aksi

yang dilakukan manusia merupakan cerminan dari perasaan takutnya, dan perasaan takut

manusia merupakan cerminan dari persepsinya. Persepsi manusia dipengaruhi besar oleh memori

sehingga menjadi subjektif tiap individu dan menjadi tantangan bagi arsitek untuk merancang

arsitektur yang dapat memberikan pengalaman ruang yang bersifat positif bagi manusia sebagai

pengguna. Faktor eksternal yang berada di luar diri manusia yakni keberadaan ruang dan elemen

arsitektur yang mengisi ruang tersebut menjadi faktor tangible yang bersifat nyata yang

kemudian dipersepsikan oleh manusia dengan diolah berdasarkan faktor internal yang berada

dari dalam diri manusia yakni memori yang smenjadi faktor intangible yang memengaruhi hasil

persepsi. Memori yang dapat berupa emosi dan perasaan dapat menyentuh alam bawah sadar

manusia untuk melakukan pemaknaan terhadap sesuatu dan memengaruhi respon yang dilakukan

manusia terhadap ruang. Acrophobia, takut akan ketinggian. Perasaan takut ini berada sebagai

faktor intangible manusia saat mempersepsikan sesuatu. Ketakutan ini menjadi salah satu

sensible consciousness dan intellectual consciousness manusia karena telah perasaan takut yang

berkembang sejak lama telah menyentuh emosi dalam diri sehingga berhubungan dengan alam

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 18: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

18

Universitas Indonesia

bawah sadar manusia, sementara kejadian-kejadian relevan yang mendukung yang tersimpan

dalam memori tersimpan diotak. Faktor ini menjadi faktor yang membuat persepsi manusia

dengan acrophobia merasakan takut yang berlebihan dengan respon yang berlebihan.

Ruang yang menjadi faktor tangible terbentuk dari garis-garis. Hubungan antara garis

yang membentuk ruang tersebut dilihat oleh manusia dengan adanya perspektif. Hal ini

memberikan peluang bagi manusia untuk mempersepsikan dan menginterpretasikan informasi

yang diberikan oleh ruang. Perspektif yang menjadi cara melihat manusia ini dipengaruhi dengan

adanya karakter garis pembentuk ruang itu terkait dengan panjang, sudut, ketebalan, kedalaman,

proporsi, dan kontinuitas, serta dengan penggunaan material dari elemen arsitektur yang ada

antara solid dan void yang mana transparnsi membuat manusia merasa takut karena terdapat

pengalaman ruang yang berbeda dan perbedaan tersebut membuat manusia harus beradaptasi

terlebih dahulu kepada ruang. Dalam proses adaptasi ini terdapat perbedaan persepsi yang mana

terdapat beberapa manusia yang tidak dapat mentoleransi pengalaman ruang yang baru karena

dianggapnya sebagai ancaman sehingga membuatnya merasa takut. Peran arsitektur disini adalah

untuk mengalihkan fokus manusia terutama dari indera pengelihatannya, sehingga pandangan

manusia dapat dibelokkan dari situasi nyata ke kondisi perspektif. Dengan permainan ilusi

sebuah arsiektur bertingkat tinggi memiliki kesempatan untuk memberikan ruang bagi manusia

yang takut akan ketinggian untuk turut merasakan pengalaman ruang yang bersifat positif.

Ilusi visual digunakan karena dalam kasus acrophobia, subjek acrophobics dipengaruhi

besar oleh indera pengelihatan dan pengelihatan menjadi reseptor utama dalam proses persepsi.

Dapat disimpulkan bahwa dalam ilusi visual, garis merupakan elemen yang esensial dalam

kehidupan sehari-hari manusia, dalam kehidupan yang tiga dimensi maupun dalam gambar dua

dimensi garis tetap menjadi elemen penting yang fundamental karena garis merupakan elemen

penyusun utama. Konfigurasi dari garis dan bidang dapat menciptakan ilusi volume dan

kedalaman ruang bagi pengamat. Informasi yang didapatkan dari ilusi visual ini merangsang

indera pengelihatan manusia untuk menyederhanakan apa yang dilihatnya dan inilah yang

membuat terjadinya distorsi visual akibat penyederhanaan informasi sehingga informasi yang

didapat secara parsial dan informasi yang didapat secara menyeluruh berbeda. Distorsi visual ini

terjadi pada saat manusia melihat dalam bentuk perspektif. Distorsi visual ini membuka peluang

untuk manusia menjadi merasa takut akan persepsinya karena salah informasi namun juga dapat

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 19: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

19

Universitas Indonesia

menjadi peluang bagi arsitektur untuk melakukan perannya yaitu melakukan manipulasi

sehingga menciptakan informasi baru. Aplikasi ilusi visual dalam bentuk arsitektur dapat

dilakukan dengan menggunakan material yang tepat pada elemen arsitektur dan dengan bentuk,

skala, dan proporsi yang tepat. Simetris yang kerap masih menjadi standar keindahan dan

menjadi titik aman desain bisa jadi bergeser dan unsur estetika, kebutuhan manusia, dan

ergonomi dapat didapatkan melalui desain yang asimetris atau terselipkan manipulasi berupa

ilusi visual yang menyajikan pengalaman ruang yang lebih dinamis.

Kritik dan Saran

Eksplorasi yang dilakukan merupakan hasil kajian dari bukan ahli melainkan oleh

mahasiswa dan bersifat subjektif. Dapat dilakukan beberapa eksplorasi lain atau eksplorasi

lanjutan serta wawancara dengan subjek acrophobics yang lebih banyak untuk mendapatkan

hasil yang lebih maksimal.

Daftar Referensi Buku: Davidoff, J. B. (1975). Differences in Visual Perception. London: Granada Publishing.

Fish, W. (2009). Perception, Hallucination, and Illusion. New York: Oxford University Press.

Morris, D. (2004). Sense of Space. New York: State University of New York Press.

Goldstein, E. B. (2013). Sensation and Perception. Cengage Learning.

Gordon, I. E. (2004). Theories of Visual Perception. New York: Psychology Press.

Ponty, M. (1981). Phenomenology of Perception. Aalborg: Aalborg Universitetsbibliotek.

Restle, F., & Decker, J. (1977). Perception & Psychophysics. Bloomington: Indiana University.

Svendsen, S. (2008). Philosophy of Fear. London: Reaktion Books Ltd.

T., D., Herskovit, M. J., & Segall, M. H. (1966). The Influence of Culture on Visual Perception. New York: Bobbs-Merrill Co.

Wiederhold, B. K., & Stephane Bouchard. (2014). Series in Anxiety and Related Disorders. San Diego: Springer.

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016

Page 20: ARSITEKTUR ACROPHOBIA Peran Arsitektur dalam Merespon …

20

Universitas Indonesia

Dokumen Online: Adolph, K., K.S., K., & V., L. (n.d.). Fear of Heights in Infants?

Boeree, G. (2000). Gestalt Psychology. Retrieved April 2, 2016, from webspace.ship.edu

Gibson, E. J., & Walk, R. D. (1960). The "Visual Cliff". Retrieved Mei 2016, from kokdemir.info: www.kokdemir.info/courses/psk301/docs/GibsonWalk_VisualCliff(1960).pdf

Odonnell, M. J. (n.d.). Gestalt Theory of Perception. Retrieved Maret 2016, from courseweb.stthomas.edu: http://courseweb.stthomas.edu/mjodonnell/cojo232/pdf/gestalt.pdf

Palmer, S. (2008). Phobias - What, Who, Why and How to Help. London: British Psychological Society. bps.org.uk/systems/files/documents/phobias_information_leaf

Pressey, A. W. (1967). A Theory of the Muller-Lyer Illusion. Manitoba: University of Manitoba.

Proulx, D. M. (n.d.). Perceptual Perception. Retrieved Maret 21, 2016, from psychology.about.com

Rutledge, A. (2009). Andy Rutledge. Retrieved April 2, 2016, from wwww.andyrutledge.com/closure/php

Searle, J. (2005). The Phenomenological Illusion.

The Muller-Lyer Illusion. (n.d.). Retrieved Maret 2016, from rit.edu: www.rit.edu/cla/gssp400/muller/muller.html

Tesis, Disertasi: Ekosiwi, E. K. (2009). Ilusi dalam Seni. Universitas Indonesia, Jakarta.

Website: A Dictionary of Nursing. (2016). Retrieved Februari 23, 2016, from

www.encyclopedia.com/doc/1O62-acrophobia.html Oxford Dictionaries. (2016). Retrieved Februari 23, 2016, from

www.oxforddictionaries.com/definition/english/acrophobia

Meaning of Acrophobic. (2016). Retrieved Februari 23, 2016, from www.hyperdictionary.com/dictionary /acrophobic

fearof.net. (n.d.). Retrieved Februari 2016, from fearof.net

The Law of Closure. (2016). Retrieved April 2, 2016, from vocabulary.com

Arsitektur acrophobia ..., Cut Alisha Shabrina Zagloel, FT UI, 2016