Artikel Semantik

  • View
    415

  • Download
    8

Embed Size (px)

Text of Artikel Semantik

BAB I HAKEKAT SEMANTIK

PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat Pada pembelajaran semantik pasti muncul pertanyaan apa hakekat semantik? Apa perbedaan antara istilah semntik dengan istilah makna? dan bagaimana hakekat semantik filsafat? Relevansi

Materi ini, ada hubungannya dengan pemaknaan tentang bunyi bahasa, kata dan kalimat serta wacana dalam bahasa Indonesia.

Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan:

1.

Hakekat semantk;

2. Perbedaan istilah semantik dan istilah makna ; dan 3. Bagaimana yang dimaksud dengan semantik dan filsafat?

URAIAN MATERI

Pengertian Semantik Kata semantik di dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris semantics dari bahasa Yunani sema (nomina: tanda); atau dari verba samaino (menandai, berarti). Semantik ada pada ketiga tataran bahasa (fonologi, morfologi,

1

sintaksis, dan leksikon. Morfologi dan sintaksis termasuk ke dalam gramatika atau tata bahasa. Menurut Alfred Korzybski (filsuf Amerika), semantik terdiri atas dua yaitu semantik general dan semantik ukir (dalam Parera, 1990: 13). Pembahasan ruang lingkup semantik cukup luas, namun ada beberapa topik yang harus mendapatkan perhatian dan menjadi pokok bahasan dalam pembelajaran semantik. Berikut ini akan diuraikan topik-topik tentang semantik.

Makna, Arti, dan Erti

Semantik adalah ilmu tentang makna, tetapi kata makna tidak persis sama dengan kata arti dan erti dalam penggunaannya. Misalnya, dalam kalimat berikut: 1. Apa arti kata canggih? 2. Saya belum menangkap arti kedipan mata ibu tadi. 3. Kata-kata orang itu mempunyai arti tertentu bagi pendengarnya. 4. Itu berarti Anda harus datang pada hari pernikahannya. 5. Usahanya belum berarti apa-apa di masa sekarang ini. Kata erti hanya didervasikan dalam bentuk mengerti dan pengertian. Kata arti dalam kalimat nomor (1), (2), (3), dan (5) di atas masih dapat disubstitusi dengan kata makna dan bentuk berarti dalam kalimat (4) tidak dapat digantikan oleh bentuk bermakna. Pemahaman makna (bahasa Inggris: sense) dibedakan dari arti (bahasa Inggris: meaning) di dalam semantik. Kata makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Menurut Palmer (1976:30) kata makna hanya menyangkut intra bahasa. Sejalan dengan kata

Lyons (1977: 204) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubunganhubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dengan kata-kata yang lain. Kata arti dalam hal ini menyangkut makna leksikal yang cenderung terdapat di dalam kamus sebagai leksikon.

2

Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya agar dapat saling mengerti. Kata makna mempunyai tiga tingkat keberadaan, yakni: Pertama : makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan. Kedua : makna menjadi isi dari suatu kebahasaan. Ketiga : makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu. Pada tingkat pertama dan kedua makna dilihat dari segi hubungannya dengan penutur, dan pada tingkat ketiga makna lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi. Sehubungan dengan tiga tingkat keberadaan makna itu, Samsuri (1985) mengungkapkan adanya garis hubungan antara: maknaungkapan-makana. Wallace dan Chafe (1973) mengungkapkan pula bahwa berpikir tentang bahasa, sekaligus melibatkan makna. Mempelajari makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa dalam suatu masyarakat bahasa saling mengerti. Menyusun kalimat yang dapat dimengerti pemakai bahasa dituntut untuk menaati kaidah gramatikal, atau tunduk kepada kaidah pilihan kata menurut sistem leksikal yang berlaku di dalam suatu bahasa. Di dalam bahasa Indonesia selain kata arti, ada pula kata bentuk erti, di samping kata makna. Di dalam studi semantik bahasa Indonesia bentuk dasar erti pemakaiannya terbatas, dan secara pragmatik ditemukan kata MENGERTI (verba aktif), DIMENGERTI (sinonim dengan dipahami-verba pasif?), PENGERTIAN (nominal < mengerti + -an), dan ketiga bentukan mempunyai hubungan makna generik PAHAM. Makna sebuah kalimat tidak hanya bergantung pada sistem gramatikal dan leksikal saja, tetapi bergantung pula kepada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan kata (diksi) dan susunan gramatikalnya, sering tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana. Contoh pemahaman ekspresi terima kasih (bahasa Belanda: DANK) bermakna tidak mau (dalam situasi jamuan makan dan minum, bila kita ditawari sesuatu dalam jamuan tersebut). dalam bahasa serumpun sering pula situasi dan acuannya berbeda. Bagi masyarakat bahasa yang mengenal tingkat

3

sosial (hubungan penyapa/pembicara-pesapa/lawan bicara), bukan hanya ikatan wacana saja yang menentukan makna kalimat, tetapi faktor ekstralinguistik dapat menentukan makna kalimat. Faktor penyapa-pesapa menuntut pilihan kata yang tepat. Masalah tersebut masuk ke dalam bidang sosiolinguistik dilihat dari segi hubungan masyarakat bahasa yang diatur bahasanya berdasarkan tingkat sosial para pemakainya, dari segi pemakaian bahasanya termasuk ke dalam bidang pragmatik (dengan pemahaman pragmatik language in use). Dalam hal diksi pilihan laksem berdasarkan makna yang tepat dari segi latar komunikasi. Semantik menjangkau wawasan yang luas, termasuk di luar j,ngkauan bahasa bila menyangkut dunia referensi dan inferensi sebagai makna yang dimaksud. Filosof dan linguis mencoba menjelaskan tiga hal yang berhubungan dengan makna, yakni: 1. Makna kata secara alamiah (inheren < inherent) 2. Mendeskripsikan makna kalimat secara alamiah termasuk makna kategorial. 3. Menjelaskan proses komunikasi. (lihat pula Kempson, 1977:1) Kempson (1977) dalam hal ini melihat kemungkinan untuk menjelaskan makna dari segi kata, kaliamat, dan apa yang diperlukan penyapa untuk berkomunikasi. Makna kata dari kamus adalah makna leksikal atau keterangan dari laksem tersebut. dalam kehidupan sehari-hari makana suatu kata tidak hanya makna leksikal yang dimilikinya, melainkan menjangkau yang lebih luas. Menurut Lyons (1977) dan Palmer (1974) mengatakan makna kata tidak lepas dari makna lain , merupakan makna gramatikal sesuai dengan hubungan antar unsur, misalnya makna idiom, peribahasa, majas, metafora, dan ungkapan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak kata dengan bermacam ragam makna bila dihubungkan dengan kata lainnya, mengakibatkan suatu kata A dihubungkan dengan kata B menghasilkan C. Misalnya: 1. Tolong saya belikan amplop 2. Beri saja dia amplop, urusannya akan beres. Kata amplop pada kaliamat (1) dan (2) sebagai kata A, dan unsur yang bergantung dapat ditafsirkan B, dan C sebagai keseluruhan ekspresi yang dihasilkan. Pada kaliamt (1) amplop bermakna pembungkus surat , dan pada

4

kalimat (2) bermakna uang suap. Pada hakikatnya makna muncul karena hubungan antarunsur. Misalnya, kata PEREMPUAN (per-empu-an < empu: gelar kehormatan (tuan): orang ahli, terutama membuat keris) yang secara leksikal memilki makna sama dengan WANITA (wanic- Sansekerta). Kata PEREMPUAN mempunyai makna yang berbeda bila dipertimbangkan dalam hubungannya dengan unsur lain secara gramatkal: (1) Perempuan itu ibu saya. (2) Ih, dasar perempuan. (3) Kalian ini perempuan jalanan. Makna emotif yang mucul sebagai ekspresi pada kalimat (1) adalah halus budi bahasanya, dan keibuan. Ekspresi yang muncul pada kalimat (2), dan (3) adalah makna sebaliknya: makna rakus, tamak, kupu-kupu malam dan lain-lain.

Semantik dan Filsafat

Filsafat sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktifitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Pada situasi yang demikian bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar media proses berpikir maupun penyampai hasil pikiran. W.D Whitney (dalam Aminuddin, 1988:18), mengungkapkan bahwa language is not only neceassry for the formulation of thought but is part of the thinking process itself. Lebih lanjut juga dikatakan... we cannot get outside language to reach thought, nor outside thought to reach language. Selain itu filsoof Bertrand Russel mengatakan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Oleh sebab itu kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri agar antara keduanya dapat berhungan secara tepat dan benar (Alston dalam Aminuddin, 1988:19). Sehubungan dengan hal tersebut, bahasa memang masih memiliki sejumlah

5

kekurangan. Bahasa sehari-hari yang biasa digunakan misalnya, bila dikaitkan dengan filsafat mengandung kelemahan vagueness (makna samar-samar), inexplicitness (makna yang tak dimengerti), ambiuguity (makna lebih dari satu), context-depedence (makna tergantung konteks), end misleadingness (makna menyesatkan). Vagueness adalah sifat bahasa yang mengandung makna dalam sustu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Misalnya, penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar, tidak akan setepat dan sejelas dibandingkan dengan bersama-sama mengamati secara langsung aneka warna bunga mawar. Ambiuguity berkaitan dengan ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Misalnya, kata bunga dapat berkaitan dengan bunga mawar, bunga melati, bunga anggrek, atau gadis. Demikian pula menentukan makna tinggi, bisa, mampu, seorang harus mengetahui di mana konteks kata itu berada. Dalam dunia kepenyairan ketaksaan makna ini dmanfaatkan oleh para penyair untuk memperkaya gagasan yang disampaikannya. Pernyataan Gunawan Mohammad melalui puisinya. Akupun tahu: sepi kita semula Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata