Click here to load reader

ARTIKEL - Universitas Pendidikan Ganesha

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ARTIKEL - Universitas Pendidikan Ganesha

TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS XI IPA
SMA NEGERI 1 GIANYAR DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH
ARTIKEL
Oleh
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI BEBAS TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 GIANYAR
DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran inkuiri bebas terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA ditinjau dari sikap ilmiah. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Gianyar. Subjek penelitian berjumlah 240 orang siswa. Sebagai sampel diambil sebanyak 88 orang siswa dengan teknik random sampling. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan experiment the equivalent posttest only control group design. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar dan kuesioner sikap ilmiah. Data yang diperoleh dan dianalisis berupa nilai hasil post tes yang dilaksanakan setelah pemberian perlakuan (treatment) sedangkan pemberian kuesioner sikap ilmiah dilaksanakan sebelum pemberian perlakuan (treatment). Data hasil penelitian dianalisis dengan ANAVA dua jalur, kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey. Semua pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran inkuiri bebas lebih tinggi dari hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional; (2) Hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran inkuiri bebas lebih tinggi dari hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional untuk siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi; (3) Hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional lebih tinggi dari hasil belajar kimia siswa yang belajar melalui model pembelajaran inkuiri bebas untuk siswa yang memiliki sikap ilmiah rendah; (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah siswa. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri bebas berpengaruh terhadap hasil belajar kimia ditinjau dari sikap ilmiah. Kata Kunci: model pembelajaran inkuiri bebas, hasil belajar kimia, sikap ilmiah.
Abstract The study aimed describing the contribution of free inquiry instructional model towards chemistry learning achievement of the students Class XI IPA viewed from their scientific attitude. The study was conducted at class XI IPA SMA Negeri 1 Gianyar by utilizing an equivalent post-test only control group design and involving a
3
3
total number of 240 students. There were about 88 students selected as the samples based by using a quasi experiment technique. The data were collected by using a post test (achievement test) which was administered after the treatment had been conducted, while questionnaires was administered prior to the treatment. The analysis was made by using two-tailed ANAVA, followed by Tukey-test with 0.05 significant level. The results indicated that: (1) the chemistry learning achievement of the students joining free inquiry instructional model was found higher than that of the students joining a conventional model; (2) the chemistry learning achievement of the students having high level of scientific attitude joining free inquiry instructional model was found higher than that of the students joining a conventional model; (3) the chemistry learning achievement of the students having higher than that of the students joining a conventional model; there was an interacting models of instruction with the students’ scientific attitudes. Based on the findings it could be concluded that the free inquiry instructional model contribute towards the students’ chemistry learning achievement viewed from their scientific attitudes. Key-words: free inquiry instructional model, chemistry learning achievement, scientific attitude. A. Pendahuluan
Pembelajaran kimia di sekolah
perhatikan produk tanpa memperdulikan
minimnya model pembelajaran kon-
kebanyakan pembelajaran masih
pasif. Akhirnya kondisi yang ada di
SMA Negeri 1 Gianyar tidak sesuai
antara harapan dengan kenyataan,
kimia siswa masih menunjukkan
atau masih ren- dah. Hal ini terlihat dari
hasil nilai murni ujian tengah semester
(UTS) atau ujian akhir semester (UAS)
ganjil tahun pelajaran 2010/2011 dari
enam kelas nilai rata-rata kelas XI I.A1
adalah 60,83 tertinggi 80 dan terendah
40; kelas XI I.A2 nilai rata-rata 59,88
tertinggi 80 dan terendah 35; kelas XI
I.A3 nilai rata-rata 60,38 tertinggi 75
dan terendah 40; kelas XI I.A4 nilai
rata-rata 60,25 tertinggi 75 dan terendah
40; kelas XI I.A5 nilai rata-rata 53,63
tertinggi 75 dan terendah 35; dan kelas
XI I.A6 nilai rata-ratanya adalah 54,17
4
3
(Sumber: Wakasek Kurikulum SMA
diubah orientasinya, dari pembelajaran
berorientasi pada guru (teacher-cente-
red) menjadi pembelajaran berorientasi
dipilih sebagai variabel moderator
erat dengan model pembelajaran inkuiri
bebas yang diteliti pengaruhnya
ilmiah siswa yang diukur dan dikem-
bangkan pada penelitian ini seperti
sikap kritis, fleksibel, terbuka, tekun,
teliti, rasa ingin tahu, objektif, dan jujur.
Rumusan masalah dalam pene-
perbedaan hasil belajar kimia siswa
yang mengikuti model pembelajaran
pembelajaran konven- sional?
sikap ilmiah siswa terhadap hasil belajar
kimia?
pada yang mengikuti pembelajaran
sikap ilmiah tinggi?
pada yang mengikuti pembelajaran
sikap ilmiah rendah?
dalah: (1) Mengalisis dan mendeskrip
sikan hasil belajar kimia siswa ang
mengikuti model pembelajaran inkuiri
mengikuti pembelajaran konvensional.
hasil belajar kimia.
mengikuti model pembelajaran
yang mengikuti pembelajaran
mengikuti model pembelajaran
yang mengikuti pembelajaran
terbimbing (guided inquiry); (2) inkuiri
bebas (free inquiry); (3) inkuiri bebas
yang dimodifikasikan (modified free
inquiry) inkuiri bebas yang
dimodifikasikan (modified free inquiry).
(1) model pembelajaran inkuiri
terbimbing (guided inquiry). Model
pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu
guru membimbing siswa melakukan
kegiatan dengan memberi pertanyaan
mengidentifikasi masalah dan
merancang proses penyelidikan.
Beberapa karakteristik yang
(a) siswa mengembangkan kemampuan-
belajar adalah proses pengamatan
kemudian mengarahkan pada perangkat
mengontrol ketersediaan materi dan
pertanyaan-pertanyaan tanpa bimbingan
berfungsi sebagai laboratorium, (f)
kebermaknaan didapatkan oleh siswa
melalui interaksi dengan siswa lain. (3)
model pembelajaran inkuiri bebas yang
dimodifikasikan (modified free inquiry).
sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri
terbimbing dan pendekatan inkuiri
guru melakukan langkah untuk
membina suasana atau iklim
dilakukan guru dalam tahap orientasi ini
adalah: (a) Menjelaskan topik,
(b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan
mencapai tujuan. Pada tahap ini
dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta
langkah merumuskan masalah sampai
jawabannya. (3) Merumuskan hipotesis.
Hipotesis adalah jawaban sementara
Sebagai jawaban sementara, hipotesis
perlu diuji kebenarannya. (4)
Menguji hipotesis adalah menentukan
diperoleh berdasarkan pengumpulan
Tabel 2.1 Sintak Model Pembelajaran Inkuiri Bebas
NO Fase Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
(1) Meminta siswa untuk
siswa, yang kemudian diteruskan
sampai guru sudah merasa bahwa apa
yang telah diajarkan sudah dipahami
oleh siswa. Model pembelajaran
konvensional berpusat pada guru
(teacher centered), dalam proses
berfikir di atas dapat dirumuskan 4
hipotesis penelitian yang akan diuji
kebenarannya dalam penelitian ini,
kimia siswa yang mengikuti
model pembelajaran inkuiri bebas
model pembelajaran konvensional
pembelajaran inkuiri bebas dan
belajar kimia
kimia siswa yang mengikuti
model pembelajaran inkuiri bebas
model pembelajaran konvensional
ilmiah tinggi (4) Terdapat
perbedaan hasil belajar kimia
siswa yang mengikuti model
pembelajaran inkuiri bebas dari
pembelajaran konvensional untuk
rendah
seperti skema berikut.
(Sumber: Sugiyono, 2008)
Keterangan:
X : Treatment atau perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen dengan model
pembelajaran inkuiri bebas. O 1 : Tes akhir (post test); O2 : Tes akhir (post test)
yang diberikan pada kelas kontrol sesudah treatment
Kelompok siswa juga dipilih
berdasarkan sikap ilmiah dalam
model pembelajaran inkuiri bebas
model pembelajaran inkuiri bebas
model pembelajaran konvensional
model pembelajaran konvensional
Gianyar sebanyak 240 orang siswa,
yang terbagi menjadi 6 kelas
Sampel diambil dari populasi
dengan teknik random sampling
kelas sampel dengan menggunakan
(UAS) ganjil tahun pelajaran
2010/2011. Berdasarkan hasil uji
XI IPA2 (42 siswa) dan kelas XI IPA3
(40 siswa) sebagai kelas kontrol, kelas
XI IPA1 (42 siswa) dan kelas XI IPA4
(40 siswa) sebagai kelas eksperimen
dengan jumlah sampel sebanyak 164
siswa. Diambil 27 % dari jumlah
siswa yang memiliki nilai sikap ilmiah
tinggi dan 27 % kelompok siswa yang
memiliki nilai sikap ilmiah rendah.
Prosedur Penelitian
alir sebagai berikut:
Bagan Alir Penelitian
Merancang Perangkat Pembelajaran ( RPP, LKS model inkuiri bebas dan konvensional, serta
tes hasil belajar dan kuisioner sikap ilmiah )
Implementasi rancangan model pembelajaran inkuiri bebas pada kelas ksperimen
Implementasi rancangan model pembelajaran
konvensional
Mengadakan postes hasil belajar siswa pada kelompok kelas eksperimen dan kelas kontrol
Analisis Data
Mengambil data sikap ilmiah menggunakan kuisioner pada kelompok kelas eksperimen dan kelas
kontrol
12
3
yang digunakan peneliti guna
memperoleh data, antara lain :
mengambil data melalui kuesioner.
untuk kuisioner didalam penskorannya
untuk aturan yang positif
d(4), e(5), sedangkan untuk aturan
yang negatif penskorannya adalah: a
(5), b(4), c(3), d(2), e(1).
(2) Tes Soal Pilihan Ganda. Hasil
belajar kimia tentang materi koloid
yang diukur dengan menggunakan tes
pilihan ganda dengan skor (1) bila
siswa menjawab benar dan skor (0)
bila siswa menjawab salah.
Teknik analisis data dalam
penelitian ini sesuai hipotesisnya,
dengan menggunakan teknik analisis
sebagai berikut:
mengikuti model pembelajaran
yang mengikuti model
model pembelajaran inkuiri bebas
hasil belajar kimia
mengikuti model pembelajaran
tinggi
mengikuti model pembelajaran
yang mengikuti model
pembelajaran konvensional untuk
rendah
keempat hipotesis penelitian tersebut
; Hipotesis (2) H0 : Int A X B = 0
;Hipotesis (3) H0 : µA1B1 = µA2B1
;Hipotesis (4)H0 : µA1B2 = µA2B2
(Ha) penelitian ini adalah sebagai
berikut: Hipotesis (1) Ha : µA1 >
µA2 ; Hipotesis (2) ;Ha : Int A X B ≠ 0; Hipotesis (3) Ha : µA1B1 >
µA2B1; Hipotesis (4) Ha : µA1B2 <
µA2B2. Keterangan: µA1 = hasil
dengan model pembelajaran inkuiri
yang belajar dengan model
belajar melalui model pembelajaran
kimia siswa yang memiliki sikap imiah
rendah yang belajar melalui model
pembelajaran inkuiri bebas. µA2B1 =
belajar melalui model pembelajaran
konvensional. µA2B2 = hasil belajar
rendah yang belajar melalui model
pembelajaran konvensional.
Hasil Penelitian
sikap ilmiah datanya dibedakan
kelompok siswa dengan sikap ilmiah
tinggi yang belajar dengan model
pembelajaran inkuiri bebas; (2) data
untuk kelompok siswa dengan sikap
ilmiah tinggi yang belajar dengan
model pembelajaran konvensional; (3)
dengan model pembelajaran inkuiri
dengan sikap ilmiah rendah yang
belajar dengan model pembelajaran
konvensional.
Sebaran Frekuensi Data Hasil Belajar Siswa Skor yang dicapai oleh siswa
yang memiliki sikap ilmiah tinggi
yang belajar dengan model
pembelajaran inkuiri bebas mencapai
rata-rata (mean) 85,60 dan standar
deviasinya 4,29, sedangkan untuk
rendah belajar dengan model
pembelajaran inkuiri bebas mencapai
rata-rata (mean) 77,30 dan standar
deviasinya 9,54 Untuk siswa yang
memiliki sikap ilmiah tinggi yang
14
3
dengan model pembelajaran
7,77. Distribusi frekuensi serta
untuk kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol disajikan dalam
Interval Mean Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
frekuensi (f)
Persentase (%)
67-71 69 1 2,27 1 2,27 72-76 74 7 15,91 12 27,27 77-81 79 15 34,10 12 27,27 82-86 84 18 40,90 15 34,10 87-91 89 3 6,82 4 9,10
Jumlah 44 100 44 100
Gambar 4.1 Histogram Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar
Mean
15
3
frekuensi (f)
Persentase (%)
67-71 69 1 2,27 1 2,27 72-76 74 9 20,45 10 22,73 77-81 79 13 29,55 14 31,82 82-86 84 18 40,90 15 34,10 87-91 89 3 6,82 4 9,10
Jumlah 44 100 44 100
Gambar 4.2 Histogram Nilai Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar
Skor Kategori Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
frekuensi (f)
Persentase (%)
85-100 Sangat tinggi 16 36,37 5 11,36 70-84 Tinggi 27 61,36 38 86,37 55-69 Sedang 1 2,27 1 2,27
40-54 Rendah 0 0 0 0 0-39 Sangat Rendah 0 0 0 0
Jumlah 44 100 44 100 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Siswa dari Nilai Hasil Belajar
Skor Kategori Kelompok SIT Kelompok SIR
frekuensi (fo)
Persentase (%)
Mean
16
3
85-100 Sangat tinggi 16 36,36 5 11,36 70-84 Tinggi 28 63,64 37 84,09 55-69 Sedang 0 0 2 4,55
40-54 Rendah 0 0 0 0 0-39 Sangat Rendah 0 0 0 0
Jumlah 44 100 44 100 Keterangan fo = frekuensi
Dari Tabel 4.6 di atas terlihat
bahwa data hasil belajar kelompok
siswa yang memiliki sikap ilmiah
tinggi berkategori tinggi sampai
kategori sangat tinggi, sedangkan
ilmiah rendah berkategori sedang
memiliki persentase yang berbeda.
dan simpangan baku dari data hasil
belajar siswa, untuk siswa yang
belajar dengan model pembelajaran
belajarnya adalah 83,90 dan
data ini rata-rata nilai hasil belajar
siswa yang belajar dengan model
pembelajaran inkuiri bebas berkategori
Nilai Hasil Belajar Siswa
Tabel 4.7 Ringkasan Hasil Belajar Uji Normalitas Data
Variabel Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistik Df Signifikan Statistik Df Signifikan
HB INK 0,096 44 0,200* 0,948 44 0,045 HB KON 0,172 44 0,002* 0,954 44 0,080 INK SIT 0,174 22 0,083* 0,885 22 0,015 INK SIR 0,284 22 0,002* 0,886 22 0,007 KON SIT 0,203 22 0,019* 0,943 22 0,223 KON SIR 0,184 22 0,051* 0,934 22 0,147
Dari Tabel 4.7 di atas terlihat bahwa
nilai statistik Kolmogorov-Smirnov
menunjukkan keseluruhan variabel
Wilk menunjukkan keseluruhan
secara keseluruhan sebaran data hasil
belajar siswa berdistribusi normal.
17
3
hitung (X 2 hitung ) = 0,36. Dari daftar
distribusi chi kuadrat, nilai Chi kuadrat
tabel (X 2 tabel ) pada taraf signifikansi (
= 0,05) untuk db = 1 sebesar 3,84.
Dengan demikian X 2 hitung < X 2
tabel ini
homogen.
FA(0,05) (1,84) = 3,96 pada taraf
kepercayaan 0,05 dengan dbA dan dbD
masing-masing 1 dan 84.
Hipotesis nul yang berbunyi:
mengikuti model pembelajaran inkuiri
mengikuti model pembelajaran
yang belajar melalui model
pembelajaran inkuiri bebas dengan
berbunyi “Hasil belajar kimia
kelompok siswa yang belajar
mengikuti model pembelajaran inkuiri
bebas lebih tinggi dibandingkan
model pembelajaran konvensional.”
Untuk lebih jelasnya rangkuman
dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8 Rangkuman ANAVA Dua Jalur
Sumber Variasi
dk JK MK F hitung F tabel Keterangan
Antar A 1 131,301 131,301 6,973 3,960 Signifikan Antar B 1 264,256 264,256 14,034 3,960 Signifikan Inter AB 1 513,157 513,157 27,252 3,960 Signifikan
Dalam 84 1581,606 18,830 Total 87 2490,320
Hasil perhitungan menghasil-
kan FA(hitung) = 6,97 ternyata lebih besar dari nilai FA(tabel) = FA() (dbA, dbD) =
FA(0,05) (1,84) = 3,96 pada taraf
18
3
masing-masing 1 dan 84.
pembelajaran konvensional untuk siswa
tinggi dari hasil belajar siswa kelompok
siswa yang belajar melalui model
pembelajaran konvensional bagi
dari pada siswa yang mengikuti model
pembelajaran konvensional untuk siswa
dapat diterima (H0 ditolak) pada taraf
signifikansi 5 %. Dilakukan uji lanjut
dengan uji Tukey. Uji Tukey
menghasilkan Qhitung = 7,89 terrnyata
22 pada taraf signifikansi = 0,05.
Dengan hasil tersebut H0 ditolak dan H1
diterima. Hal ini berarti siswa yang
memiliki sikap ilmiah tinggi yang
belajar melalui model pembelajaran
model pembelajaran konvensional.
Tabel 4.9 Data Hasil Belajar Kimia Ditinjau dari Sikap Ilmiah Tinggi Siswa
Statistik Model Pembelajaran Qhitung Qtabel
( = 0,05) Inkuiri Konvensional
Rata-rata 85,60 78,30
FA(0,05) (1,84) = 3,96 pada taraf
kepercayaan 0,05 dengan dbA dan dbD
masing-masing 1 dan 84. Berdasarkan
analisis tersebut, hipotesis nul yang
berbunyi: “Hasil belajar kimia siswa
yang mengikuti model pembelajaran
mengikuti model pembelajaran
melalui model pembelajaran inkuiri
siswa kelompok siswa yang belajar
melalui model pembelajaran
yang mengikuti model pembelajaran
siswa yang mengikuti model
dengan uji Tukey. Ringkasan
perhitungan dengan uji Tukey
disajikan pada Tabel 4.10 beikut.
Tabel 4.10 Data Hasil Belajar Kimia Ditinjau dari Sikap Ilmiah Rendah Siswa
Statistik Model Pembelajaran Qhitung Qtabel
( = 0,05)
RJKD 18,83
df 22
signifikansi = 0,05. Dengan hasil
sikap ilmiah rendah yang belajar
melalui model pembelajaran inkuiri
belajar melalui model pembelajaran
besar dari FAB(tabel) = 3,96 untuk taraf
signifikansi 5 %. Hal ini menunjukkan
bahwa terdapat interaksi antara model
pembelajaran dan sikap ilmiah
signifikansi 5 %. Sehingga H0 ditolak
20
3
ilmiah dengan hasil belajar siswa dapat
disajikan pada Gambar 4.5 berikut.
Estimated Marginal Mean of Hasil Belajar
Gambar 4.5 Profil Interaksi Antara Model Pembelajaran dan Sikap Ilmiah terhadap Hasil Belajar Siswa
Dari Gambar 4.5 di atas menunjukkan
adanya pola perpotongan garis yang
berarti adanya interaksi antara model
pembelajaran dan sikap ilmiah
(SIT) yang mengikuti model
pembelajaran inkuiri bebas hasil
signifikan 3,96. Angka ini bernilai
lebih besar dari 0,05. Jadi, dapat
ditarik kesimpulan bahwa model
pembelajaran yang diterapkan yaitu
model pembelajaran konvensional
yang belajar mengikuti model
pembelajaran inkuiri bebas dengan
siswa yang mengikuti model
ilmiah tinggi. Uji Tukey nilai Qhitung
sebesar 7,89 dan Qtabel pada taraf
signifikansi 5% dengan dk = 22
SIR SIT
A2= Konvensional
perhitungan maka H0 ditolak dan H1
diterima, hal ini berarti bahwa siswa
yang belajar mengikuti model
pembelajaran inkuiri bebas pada
tinggi hasil belajarnya lebih tinggi dari
pada siswa yang belajar mengikuti
model pembelajaran konvensional.
Karena Qhitung lebih besar dari Qtabel
dengan df = 22 pada taraf signifikansi
= 0,05, ternyata H0 ditetolak dan H1
diterima. Ini berarti hasil belajar kimia
siswa yang mengikuti model
siswa yang mengikuti model
pembelajaran inkuiri bebas pada
ilmiah rendah.
pengaruh interaksi antara model
kimia. ajar.
simpulan sebagai berikut.
antara model pembelajaran inkuiri
bebas dan model pembelajaran
dari pada model pembelajaran
antara hasil belajar kimia siswa yang
mengikuti model pembelajaran inkuiri
model pembelajaran konvensional
sikap ilmiah tinggi. Hasil belajar siswa
yang mengikuti model pembelajaran
pembelajaran konvensional. 3) Hasil
mengikuti model pembelajaran inkuiri
siswa yang mengikuti model
rendah.
22
3
model pembelajaran dengan sikap
beberapa saran sebagai berikut:
disarankan, menggunakan model
meningkatkan efektifitas proses
pembelajaran kimia guna
pada akhirnya dapat meningkatkan
dengan memperhatikan jumlah siswa
melakukan percobaan, jangan terlalu
menjadi bahan pertimbangan.
dan terlibat langsung dalam proses
pembelajaran sehingga konsep-konsep
Daftar Rujukan Depdiknas. 2011. Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran. http://www .pojokfisika uniflor.blogspot.com/ 2011/02/pendekatan-inkuiri-dalam- pembelajaran.html. diunduh 21 April 2011. Sanjaya, Wina, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Subrata, I Wayan. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry dan Pengetahuan Awal Siswa Terhadap Hasil Belajar Fisika Kelas X SMA Negeri 1 Sidemen, Tesis. (tidak diterbitkan) Singaraja: Undiksha. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Penerbit Alfabeta, Bandung.
23
3
24
3
25
3
26
3
27
3
28
3
29
3
30
3
31
3
32
3
33
3
34
3
35
3
36
3
37
3
38
3
39
3
40
3
41
3
42
3
43
3
44
3
45
3
46
3
47
3
48
3
49
3
50
3
51
3
52
3
53
3
54
3
55
3
56
3
57
3
58
3
59
3
60
3
61
3
62
3
63
3
64
3
65
3
66
3
67
3
68
3
69
3
70
3
71
3
72
3
73
3
74
3
75
3
76
3
77
3
78
3
79
3
80
3
81
3
82
3
83
3
84
3
85
3
86
3
87
3
88
3
89
3
90
3
91
3
92
3
93
3
94
3
95
3
96
3
II. Standart Kompetensi
5. Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari
III. Kompetensi Dasar
5.1 Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya.
IV.Indikator Pembelajaran
secara dispersi
2. Mengidentifikasi fase terdispersi dan medium pendispersi dari sistem koloid
3. Melakukan percobaan untuk membuat sistem koloid dengan cara dispersi
V. Tujuan Pembelajaran
untuk membuat sistem koloid secara dispersi
2. Melalui diskusi siswa dapat mengidentifikasi fase terdispersi dan medium
pendispersi dari sistem koloid
3. Melalui percobaan siswa dapat membuat sistem koloid dengan cara dispersi
VI. Materi Ajar
97
3
Dilihat ukuran partikelnya, sistem koloid terletak antara larutan sejati dan
suspensi kasar. Oleh karena itu, pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu: cara dispersi dan kondensasi.
Pada cara dispersi ini partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid dengan
cara mekanik, listrik, atau peptisasi. Partikel kasar dipecah sampai halus, kemudian
didispersikan ke dalam suatu medium pendispersi. Cara pemecahan partikel semacam
ini disebut cara mekanik. Cara lain pemecahan partikel kasar yang juga cara mekanik
yaitu pengocokan atau pengadukan jika partikel yang didispersikan berwujud cair.
Sol belerang dapat dibuat dengan cara dispersi. Mula-mula belerang digerus sampai
halus, kemudian belerang halus ini didispersikan ke dalam air (sebagai medium),
terbentuk suatu sistem koloid
1
Orientasi
Pendahuluan
101
3
(1) Kimia untuk SMA dan MA Kelas XI: Budi Utami, Agung Nugroho Catur
saputro, Lina Mahardiani, Sri Yamtinah, Bakti Mulyani.
(2) Memahami Kimia SMA/MA Untuk Kelas XI Semester 1 dan 2: Irvan Permana
(3) Mari Belajar untuk SMA/MA Kelas XI IPA: Crys Fajar Partana, Antuni Wiyarsi (4) Kimia untuk kelas XI: Sri Sudiono, S.Si., M.Si, Drs. Sri Juari Santoso, M.Eng.,
Ph.D.Eng, Deni Pranowo, S.Si., M.Si
X. Alat dan Media
XI. Prosedur Penilaian
b. Bentuk instrumen: Tes Pilihan ganda
2. Aspek yang dinilai: Psikomoto
Format PenilaianPsikomotor dalam Praktikum
102
3
a. Amat baik = 5, Baik = 4, Sedang = 3, Kurang = 2 dan Sangat kurang = 1
b. Nilai yang…