of 60 /60
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gaya hidup modern saat ini sangat mempengaruhi pola hidup sehat seseorang, tingkat mobilitas yang tinggi menyebabkan stress yang tidak jarang mengakibatkan seseorang mengkonsumsi alcohol dan menjadi perokok berat, perubahan pola makan, konsumsi makanan yang serba instan dan praktis, banyaknya restoran yang menyajikan makanan cepat saji semakin menjamur. Hal ini mengakibatkan timbulnya beragam masalah kesehatan seperti obesitas (kegemukan), penyakit degeneratif ataupun penyakit yang banyak menyebabkan kematian di dunia seperti kanker kolorektal. Kanker kolorektal dan merupakan tumor ganas yang timbul dari dinding bagian dalam usus besar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2012, Sekitar 30% dari kematian akibat kanker disebabkan oleh lima risiko perilaku dan makanan: indeks massa tubuh yang tinggi, buah dan sayuran yang rendah, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau, penggunaan alkohol. Sekitar 70% dari semua kematian akibat kanker pada tahun 2008 terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan data WHO (2008), bahwa sekitar 13 % dari seluruh kematian di dunia disebabkan olek kanker atau sekitar 7,9 juta jiwa yang meninggal pada tahun 2007. Jenis 1

ASKEP KANKER KOLORETAL

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asuhan keperawatan pada pasien kanker kolon

Text of ASKEP KANKER KOLORETAL

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang

Gaya hidup modern saat ini sangat mempengaruhi pola hidup sehat seseorang, tingkat mobilitas yang tinggi menyebabkan stress yang tidak jarang mengakibatkan seseorang mengkonsumsi alcohol dan menjadi perokok berat, perubahan pola makan, konsumsi makanan yang serba instan dan praktis, banyaknya restoran yang menyajikan makanan cepat saji semakin menjamur. Hal ini mengakibatkan timbulnya beragam masalah kesehatan seperti obesitas (kegemukan), penyakit degeneratif ataupun penyakit yang banyak menyebabkan kematian di dunia seperti kanker kolorektal.Kanker kolorektal dan merupakan tumor ganas yang timbul dari dinding bagian dalam usus besar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2012, Sekitar 30% dari kematian akibat kanker disebabkan oleh lima risiko perilaku dan makanan: indeks massa tubuh yang tinggi, buah dan sayuran yang rendah, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau, penggunaan alkohol. Sekitar 70% dari semua kematian akibat kanker pada tahun 2008 terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Berdasarkan data WHO (2008), bahwa sekitar 13 % dari seluruh kematian di dunia disebabkan olek kanker atau sekitar 7,9 juta jiwa yang meninggal pada tahun 2007. Jenis kanker tersering penyebab mortalitas tiap tahunnya adalah : kanker paru 1,4 juta mortalitas/tahun, lambung 866.000 mortalitas/tahun, kolon 677.000 mortalitas/tahun, liver 653.000 mortalitas/tahun, dan payudara 548.000 mortalitas/tahun. Menurut data dari CDC (2008), terdapat 142.950 orang di Amerika Serikat didiagnosis dengan kanker kolorektal, dari jumlah tersebut pria 73.183 orang dan wanita 69.767 orang. Dan 52.857 orang di Amerika Serikat meninggal karena kanker kolorektal, pria 26.933 orang dan wanita 25.924 orang.Peningkatan insiden kanker ini akan memberikan pengaruh dalam memberikan asuhan keperawatan karena setiap penderita kanker memberikan respon yang bervariasi dan dipengaruhi oleh pengalaman, persepsi tentang makna penyakit kanker, pengetahuan, mekanisme koping individu dan, latar belakang budaya sehingga dalam berespon dapat menjadi adaptif atau maladaptive, untuk itu diperlukan dukungan dari orang terdekat,keluarga dan petugas kesehatan terutama profesi keperawatan Baradero & Wilfrid (2008). Pelayanan perawatan pasien kanker sangat tergantung pada respon dan perjalanan penyakit sehingga tujuan perawatan untuk mempertahankan fungsi, mengurangi penderitaan dan mengoptimalkan kualitas hidup penderita. Berdasarkan hal tersebut diatas, kelompok mencoba membahas lebih mendalam tentang kanker kolorektal.B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini terdiri dari:

1. Tujuan umum

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk meningkatan kompentensi mahasiswa magister keperawatan dalam asuhan keperawatan pada klien dengan masalah onkologi khususnya kanker kolorektal.2. Tujuan khusus.

Adapun tujuan khusus penulisan makalah tentang asuhan keperawatan pada kanker kolorektal adalah mahasiswa magister diharapkan mampu memahami dan menjelaskan tentang:a. Epidemiologi kanker kolorektal

b. Biologi sel kanker : etiologi, patofisiologi dan tanda gejala kanker kolorektal

c. Pemeriksaan diagnostic pada kanker kolorektal

d. Terapi pada kaknker kolorektal

e. Komplikasi atau kedarutan akibat kanker kolorektal

f. Proses keperawatan pada kanker kolorektal.

C. Ruang Lingkup Penulisan

Ruang lingkup penulisan makalah tentang asuhan keperawatan pada kenker kolorektal meliputi latar belakang masalah yang merupakan factor predisposisi penyebab kanker dan data statistic penderita kanker kolorektal yang dbahas pada bab I latar belakang makalah ini. Sedangkan konsep biologi kanker kolorektal, pemeriksaan diagnostic, terapi, komplikasi dan pendekatan asuhan keperawatan kanker kolorektal dibahas pada tinjauan teoritis.BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Medik

1. Pengertian

Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh terganggunya kontrol regulasi pertumbuhan sel-sel normal. Kanker dapat menyebabkan mutilasi dan kematian pada individu. Dahulu, fokus kanker adalah incurability (tidak dapat disembuhkan), sehingga timbul perasaan tidak berdaya dan putus asa (Mary Baradero, 2008).

Kanker adalah istilah umum untuk kelompok besar penyakit yang dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh dengan penciptaan cepat sel-sel abnormal yang tumbuh melampaui batas-batas mereka yang biasa, dan kemudian dapat menyerang bagian-bagian yang berdampingan dari tubuh dan menyebar ke organ lain. WHO (2012)

Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum.

Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip.2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Kolon

Secara klinis kolon sering kali dibagi rnenjadi 2 bagian, yaitu kiri dan kanan. Kolon belahan kanan mencakup sekum, kolon asenden dan 2/3 kanan kolon transversal; kolon belahan kiri mencakup 1/3 kiri kolon transversal, kolon desenden dan kolon sigmoid. Paruh kanan kolon berlumen lebar, di antaranya diametei lumen sekum dapat mencapai 7,5cm. Paruh kiri kolon berlumen sempit, paling sempit di perbatasan rektosigmoid, diameternya 2,5 cm, tumor di daerah tersebut paling mudah menyebabkan obstruksi usus. Bila kolon terobstruksi total oleh tumor, karena keberadaan katup ileosekal, kolon yang terobstruksi mengalami kedua ujungnya tertutup, karena banyak bakteri dalam kolon maka obstruksi menjadi semakin serius. Sekum paling dekat ke dinding anterior abdomen, kolon transversal dan kolon sigmoid memiliki mesenterium sehingga memiliki mobilitas besar, secara klinis sering digunakan untuk kolostomi

Kolon paruh kanan dipasok darah dari afteri mesenterika superior bercabang arteri ileokolika, arteri kolika dekstra dan arteri kolika rnedia; kolon paruh kiri diperdarahi arteri mesenterika inferior, bercabangkan arteri kolika sinistra dan 2 atau 3 ramus arteri sigmoideus, vena dan arteri berjalan seiring, masing-masing melalui vena mesenterika superior dan vena mesenterika inferior bermuara ke vena porta. Tunika mukosa kolorektal tidak memiliki saluran limfe, jaringan limfatik dimulai dari tunika submukosa, melalui kelenjar limfe dinding kolon, kelenjar limfe parakolika, kelenjar limfe media masuk ke kelenjar limfe sentral.

Kolon paruh kanan dipersarafi nervus vagus, paruh kiri dipersarafi nervus pelvis. Serabut simpatis berasal dari ganglion simpatis lumbalis.

Fungsi utama kolon paruh kanan adalah menyerap air, glukosa, garam anorganik dan sebagian asam empedu, sedangkan kolon paruh kiri terutama adalah storasi dan ekskresi feses. Selain itu kolon dapat mensekresikan mukus alkalis untuk melicinkan mukosa, juga mensekresikan beberapa hormon seri gastrointestinal

Rektum dan Kanalis Analis

Panjang rektum sekitar 12-15 cm. Rektum tidak lurus, dilihat dari lateral dapat fleksura sakral dan fleksura perineal; dari aspek anteroposterior dari atas ke bawah terdapat belokan kanan, kiri, kanan. Karena adanya belokan tersebut, maka ketika rectum dibebaskan saat operasi karsinoma rectal, jarak tepi tumor rektal ke tepi anal dapat bertambah panjang 2-3 cm, sehingga kasus tertentu karsinoma rektal yang preoperative dianggap perlu dilakukan reseksi gabungan rektoanal perineal, saat itu dapat berubah menjadi operasi konservasi anus.

Mesorektum adalah jaringan ikat, lemak, neurovaskular dan limfatik peri rectal yang dibungkus pars viseral fasia pelvic. Lesi sebaran intramesenterium dari karsinoma rektal umumnya terbatas dalam pars visceral fasia pelvik. Maka operasi karsinoma rectal harus mereseksi secara utuh rectum dan mesorektum, untuk mencegah rekurensi local.

Panjang kanalis analis sekitar 3 cm, ke atas berhubungan dengan rektum, ujung bawah adalah anus. Di sekeliling kanalis analis terdapat otot sfinkter internal dan eksternal. Sfinkter eksternal adalah otot sadar, ditembus oleh serabut otot longitudinal rektal dan levator ani, dan terbagi menjadi bagian subkutis, superfisial dan profunda Yang terpenting adalah bagian profunda menyatu dengan otot puborektal, berinsersio ke simfisis pubis, bila berkerut menarik ke anterosuperior. Bila terpotong akan timbul inkontinensia alvi.

Rektum dan kanalis analis diperdarahi oleh arteri rektalis superior, arteri rektalis inferior, arteri kanalis analis dan arteri sakralis media. Rektum dan kanalis analis memiliki 2 pleksus venosus: pleksus venosus rektalis superior diatas linea dentata menyatu ke vena rektalis superior melalui vena mesenterika inferior bermuara ke vena porta; pleksus venosus rektalis inferior di bawah linea dentata menyatu menjadi sebuah cabang kecil melalui vena rektalis media langsung bermuara ke vena iliaka interna atau melalui vena rektalis inferior, vena pudenda intema bermuara ke vena iliaka interna.

Kanker di setiap segmen rektum semuanya terutama bermetastasis limfogen ke atas melalui jalur kelenjar limfe pararekti, kelenjar limfe para arteri rektalis superior, kelenjar limfe para afteri mesenterika inferior. Kanker rectum di atas refleksi peritoneum hanya jika jalur drainase limfatik ke atas tersumbat kanker, akan bennetastasis ke bawah yaitu ke kelenjar limfe para arteri analis di fosa isiorektal, bilateral ke kelenjar limfe para arteri rektalis inferior kemudian ke kelenjar limfe obturator. Tapi saluran limfatik rectum di bawah refleksi peritoneum selain drainase ke atas, juga terdapat jalur drainase ke arah bilateral dan ke bawah. Oleh karena itu kanker rectum di bawah refleksi peritoneum harus dipikirkan untuk reseksi trans perineum.

Saluran lirnfatik kanalis analis dan kulit perianal dapat berdrainase ke kelenjar limfe inguinal, lalu ke atas hingga kelenjar limfe iliaka ekstema; juga dapat melalui kelenjar limfe para arteri analis di fosa isiorektal, lalu ke kelenjar limfe iliaka interna.

Rektum di bawah linea dentata dipersarafi saraf spinal, sensasi peka; di atas linea dentate dipersarafi sistem saraf vegetatif. Saraf yang berkaitan dengan operasi rectum adalah nervus hipogastrik inferior dan nervus splanknik pelvik yang masing-masing mengatur fungsi ejakulasi dan ereksi, waktu operasi harus hati-hati, jangan tercedera.

Fungsi faal rektum dan kanalis analis adalah defekasi, rektum dapat mensekresi mukus untuk membantu keluamya feses. Rektum juga dapat menyerap sejumlah air, garam,glukosa dan sebagian obat. Segmen bawah rekrum merupakan bagian terpenting bagi timbulnya refleks defekasi, suatu mata rantai penting dalam fungsi defekasi. Oleh karena itu pasca reseksi total rektum, walaupun otot sfinkter dipertahankan, karena hilangnya bagian refleks defekasi, tetap dapat timbul inkontinensia alvi.

3. Epidemiologi

Insiden Colorectal Cancer (CRC) dan tingkat kematian sangat bervariasi di seluruh dunia. Secara global, CRC adalah kanker yang paling sering didiagnosis lebih banyak pada laki-laki dari pada wanita, dengan lebih dari 1,2 juta kasus baru dan 608.700 kematian diperkirakan telah terjadi pada tahun 2008. Di Amerika Serikat, baik kejadian dan kematian telah perlahan tapi pasti menurun. Setiap tahun sekitar 143.460 kasus baru kanker usus besar didiagnosis, terdapat 103.170 adalah kanker usus besar dan rektum ; 40.290 orang. Setiap tahun, sekitar 51.690 orang Amerika meninggal karena CRC, atau sekitar 9 persen dari semua kematian akibat kanker.Insiden - Secara global, kejadian CRC bervariasi lebih dari 10 kali lipat. Tingkat insiden tertinggi di Australia dan Selandia Baru, Eropa dan Amerika Utara, dan tingkat terendah ditemukan di Afrika dan Asia Tengah.Perbedaan-perbedaan geografis tampaknya akibat dari perbedaan eksposur makanan dan lingkungan yang berpengaruh pada kerentanan genetik. Berdasarkan penelitian kanker gastrointestinal yan dikutip dari European Journal of Cancer Prevention: Januari 2011, skrining dilakukan pada populasi yahudi pada tahun 1980 -2008. Pada pasien yang berada di bawah 50 tahun, tidak ada peningkatan yang signifikan dalam kejadian kecuali untuk pria yang lahir di Israel (P = 0,05). Pada pasien berusia antara 50 dan 74 atau lebih dari 75 tahun ada peningkatan insiden (P