33
ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI (BPH) § Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat,disebabkan ole h karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat melipu tijaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretrapars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ). § BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara u mum pada pria lebihtua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai der ajat obstruksi uretral dan pembatasanaliran urinarius ( Marilyn n, E.D, 2000 : 671 ). Etiologi Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diket ahui. Namun yangpasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hor mon androgen. Faktor lain yang eratkaitannya dengan BPH adalah pr oses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain : 1). Dihydrotestosteron Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel danstroma dari kelenjar prostat me ngalami hiperplasi . 2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estro gen dan penurunantestosteron yang mengakibatkan hiperplasi str oma. 3). Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth fac tor dan penurunantransforming growth factor beta menyebabkan h iperplasi stroma dan epitel. 4). Berkurangnya sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup str oma dan epiteldari kelenjar prostat . 5). Teori sel stem Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 :38 ).

Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI (BPH)

§ Benigna   Prostat   Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat,disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputijaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretrapars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).

§ BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebihtua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasanaliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).

EtiologiPenyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yangpasti kelenj

ar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang eratkaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :1). Dihydrotestosteron

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel danstroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .

2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteronPada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunantestosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.

3). Interaksi stroma - epitelPeningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunantransforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.

4). Berkurangnya sel yang matiEstrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epiteldari kelenjar prostat.

5). Teori sel stemSel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 :38 ).

4. Gejala Benigna Prostat HiperplasiaGejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :1. Gejala Obstruktif yaitu :

a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.

b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.

c. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu

untuk dapat melampaui tekanan di uretra.e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

2. Gejala Iritasi yaitu :

Page 2: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

a. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari

(Nocturia) dan pada siang hari.c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

1. DiagnosisUntuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain1). Anamnesa

Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary TractSymptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminaldribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejalairitatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.

2) Pemeriksaan Fisik§ Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapatmeningkat pad

a keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampaisyok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.

§ Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahuiadanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser padakeadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen danklien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui adatidaknya residual urin.

§ Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktururetra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis.

§ Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis§ Rectal touch /

pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukankonsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :a). Derajat I = beratnya ± 20 gram.b). Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.c). Derajat III = beratnya > 40 gram.

3) Pemeriksaan Laboratorium§ Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar guladigunakan untuk

memperoleh data dasar keadaan umum klien.§ Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.§ PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting

diperiksa sebagai kewaspadaanadanya keganasan.4) Pemeriksaan Uroflowmetri

Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran urindapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :a). Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.

b). Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.c). Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.

5) Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologika). BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang.b). USG (Ultrasonografi),

digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume danbesar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaandapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.

c). IVP (Pyelografi Intravena)Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis.

d) Pemeriksaan PanendoskopUntuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli.

2. PenatalaksanaanModalitas terapi BPH adalah :

Page 3: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1). ObservasiYaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiaptahun tergantung keadaan klien

2). MedikamentosaTerapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berattanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi(misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dangolongan supresor androgen.

3). PembedahanIndikasi pembedahan pada BPH adalah :a). Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.b). Klien dengan residual urin > 100 ml.c). Klien dengan penyulit.d). Terapi medikamentosa tidak berhasil.e). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.Pembedahan dapat dilakukan dengan :a). TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 - 95 % )b). Retropubic Atau Extravesical Prostatectomyc). Perianal Prostatectomyd). Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

4). Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, TerapiUltrasonik .

B. Diagnosa keperawatan.Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut :Pre Operasi :1). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran

prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.

2). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.

3). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis..4). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah5). Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan

kurangnya informasiPost Operasi :1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter,

irigasi kandung kemih sering.3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan

B. Rencana Asuhan Keperawatan 1. Sebelum Operasia. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran 

prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat.1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi3) Kriteria hasil :

Berkemih dalam jumlah yang cukup, tidak teraba distensi kandung kemih

4) Rencana tindakan dan rasional1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih

Page 4: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

2. Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urinaR / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi3. Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih

R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal

4. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung.R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri

5. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan

b. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.1). Tujuan

Nyeri hilang / terkontrol.2). Kriteria hasil

Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasidan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tampak rileks,tidur / istirahat dengan tepat.

3). Rencana tindakan dan rasionala) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 - 10 ).

R / Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih / masase urinsekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung lebihberat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ).

b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebasdari lekukan dan bekuan.R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkanresiko distensi / spasme buli - buli.

c). Pertahankan tirah baring bila diindikasikanR/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.

d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi,pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik.R / Menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian dandapat meningkatkan kemampuan koping.

f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodikR / Menghilangkan spasme

c. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis.1). TujuanKeseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.2). Kriteria hasilMempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -

tanda vital stabil, nadiperifer teraba, pengisian perifer baik, membran mukosa lembab dan keluaranurin tepat.

3). Rencana tindakan dan rasionala). Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.

R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.

b). Pantau masukan dan haluaran cairan.R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.

Page 5: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

c). Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,

R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemikd). Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi

R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.

g). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh:Hb / Ht, jumlah sel darah merah. Pemeriksaan koagulasi, jumlah trombosiR/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Serta

dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktorpembekuan darah,

d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.1). Tujuan

Pasien tampak rileks.

2). Kriteria hasilMenyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.

3). Rencana tindakan dan rasionala). Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya

R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantub). Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.c). Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.

R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah

e. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi1). Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya.2). Kriteria hasil

Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam program pengobatan.

3). Rencana tindakan dan rasionala). Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian.R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan.b) Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien

R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.

II. Sesudah operasi1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P

Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.Kriteria hasil :

- Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.- Ekspresi wajah klien tenang.- Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.- Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.- Tanda – tanda vital dalam batas normal.

Rencana tindakan :

Page 6: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.

2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.

R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48

jam.R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.

4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.R/ Mengurang kemungkinan spasmus.

5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.R / Mengurangi tekanan pada luka insisi

6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat

meningkatkan kemampuan koping.7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan

pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi

kandung kemih dengan peningkatan spasme.8. Observasi tanda – tanda vital

R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut.9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )

R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .Kriteria hasil:- Klien tidak mengalami infeksi.- Dapat mencapai waktu penyembuhan.- Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.Rencana tindakan:1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.

R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksiAnjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.R/ Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan

mempertahankan fungsi ginjal. Pertahankan posisi urobag dibawah.R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.

3. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.R/ Mencegah sebelum terjadi shock.

4. Observasi urine: warna, jumlah, bau.R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.

5. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.

3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.Kriteria hasil:- Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan .- Tanda – tanda vital dalam batas normal .- Urine lancar lewat kateter .

Page 7: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Rencana tindakan:1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda –

tanda perdarahan .R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan

2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateterR/ Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan

kandung kemih3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi .

R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan .

4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang – kurangnya satu minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas .

R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .

6. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan warna urineR/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen .

4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankanKriteria hasil:- Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .- Klien menyatakan pemahaman situasi individual .- Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .- Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.Rencana tindakan :1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P

terhadap seksual .R/ Untuk mengetahui masalah klien .2 . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dankejadian

ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .

R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan

lanjutan .R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik.

5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasiTujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .Kriteria hasil:- Klien akan melakukan perubahan perilaku.- Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.- Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .

Rencana tindakan:1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan .

Page 8: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan

mengedan pada waktu BAB3. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.

R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.

R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .

R/ Untuk membantu proses penyembuhan .6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.Kriteria hasil:

- Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.- Klien mengungkapan sudah bisa tidur .- Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .Rencana tindakan:1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk

menghindari.R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .

2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat

3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan

4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .

DAFTAR PUSTAKADoenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G.,

2000. Rencana Asuhan Keperawatan : PedomanUntuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, PenerbitBuku Kedokteran EGC.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta,Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas KedokteranAirlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. SurabayaSoeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta

Page 9: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. 1. Pengertian BPH  adalah  pembesaran    progresif   dari  kelenjar  prostat  ( secara 

umum  pada  pria  lebih  tua  dari  50  tahun  )  menyebabkan   berbagai   derajat  obstruksi  uretral   dan  pembatasan    aliran  urinarius   ( Marilynn,  E.D,  2000 : 671 ).

Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Kapita Selekta,2000).

1. 2. Etiologi

Penyebab  yang  pasti  dari  terjadinya  BPH  sampai  sekarang  belum  diketahui. 

Namun  yang  pasti  kelenjar  prostat  sangat  tergantung  pada  hormon 

androgen.  Faktor  lain  yang  erat  kaitannya   dengan  BPH  adalah  proses 

penuaan  Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :

1).       Dihydrotestosteron(DHT)

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen  menyebabkan  epitel  dan 

stroma  dari  kelenjar  prostat  mengalami  hiperplasi .

2).       Perubahan  keseimbangan  hormon  estrogen  -  testoteron

Pada  proses  penuaan  pada  pria  terjadi  peningkatan  hormon  estrogen  dan 

penurunan   testosteron  yang  mengakibatkan  hiperplasi  stroma.

3).       Interaksi  stroma  -  epitel

Peningkatan  epidermal  gorwth  factor  atau  fibroblast   growth    factor  dan 

penurunan  transforming  growth  factor  beta  menyebabkan  hiperplasi  stroma 

dan  epitel.

4).       Berkurangnya  sel  yang  mati

Estrogen  yang  meningkat  menyebabkan   peningkatan  lama  hidup  stroma  dan 

epitel  dari  kelenjar  prostat.

5).       Teori  kebangkitan Kembali (reawakening) atau reinduksi dari kemampuan

mesenkim sinus urogenital  untuk berproliferasi  dan membentuk jaringan prostat.

1. 3. Patofisiologi

Peningkatan Sel Sterm            Peningkatan 5 Alfa reduktase    

ProsesMenua                         Interaksi Sel Epitel dan Stroma                     

Berkurangnya sel yang mati

Ketidakseimbangan hormon

( Estrogen dan testoteron )

Page 10: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Penyempitan Lumen Ureter Protatika

Menghambat Aliran Urina

Retensi Urina                                                                          Peningkata tekanan

intra vesikal

Hidro

Ureter                                                                                 Hiperirritable pada

bladder

Hidronefritis                                                                 Peningkatan Kontraksi Otot

detrusor dari buli-buli

Penurunanan                                                                   Hipertropi Otot

detrusor,trabekulasi

Fungsi  ginjal

Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli

Frekuensi                     Intermiten                  

Disuria             Urgensi  Hesistensi       

Terminal dribling

1. 4. Anatomi Dan Fisiologi

Spincter externa mengelilingi urethra di bawah vesica urinaria pada wanita, tetapi

pada laki-laki terdapat kelenjar prostat yang berada dibelakang spincter penutup

urethra. Prostat mengekskresikan cairannya ke dalam urethra pada saat ejakulasi,

cairan prostat ini memberi makanan kepada sperma. Cairan ini memasuki urethra

pars prostatika dari vas deferens.

Page 11: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Prostat dilewati oleh :

1. Ductus ejakulatorius, terdiri dari 2 buah berasal dari vesica seminalis bermuara ke urethra.

2. Urethra itu sendiri, yang panjangnya 17 – 23 cm.

Secara otomatis besarnya prostat adalah sebagai berikut :

1. Transversal : 1,5 inchi

2. Vertical : 1,25 inchi

3. Anterior Posterior : 0,75 inchi

Prostat terdiri dari 5 lobus yaitu :

1. Dua lobus lateralis

2. Satu lobus posterior

3. Satu lobus anterior

4. Satu lobus medial

Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar, letaknya di bawah kandung

kemih. Normal beratnya prostat pada orang dewasa diperkirakan 20 gram.

Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu

1. Rectal grading

Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong.

Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan rectal

toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan

rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade

sebagai berikut :

1. 0 – 1 cm……….: Grade 0

2. 1 – 2 cm……….: Grade 1

3. 2 – 3 cm……….: Grade 2

4. 3 – 4 cm……….: Grade 3

5. Lebih 4 cm…….: Grade 4

Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena benjolan

masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading maka

didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan

macam tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi

yang baik adalah T.U.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade

3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical.

1. Clinical grading dan

Page 12: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine.

Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh

kemih sampai selesai, kemudian dimasukkan catheter ke dalam kandung kemih

untuk mengukur sisa urine.

1. Sisa urine 0 cc……………….…… Normal

2. Sisa urine 0 – 50 cc…………….… Grade 1

3. Sisa urine 50 – 150 cc……………. Grade 2

4. Sisa urine >150 cc………………… Grade 3

5. Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4

6. Intra urethra grading.

Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.

Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi

bidang dari urology yang spesifik.

Efek yang dapat terjadi akibat hypertropi prostat:

1. Terhadap urethra

Bila lobus medius membesar, biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars

prostatika bertambah panjang, dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka

perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.

1. Terhadap vesica urinaria

Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses

kompensasi, dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami

depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula.

Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang

hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada otot-otot

tersebut.

Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus, ini akan membentuk suatu post

prostatika pouch, ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kemih dibelakang

medial lobe.

Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine yang

tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya batu-batu di

kandung kemih.

1. Terhadap ureter dan ginjal

Kalau keadaan urethra vesica valve baik, maka tekanan ke ekstra vesikel tidak

diteruskan ke atas, tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke atas,

Page 13: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

akibatnya otot-otot calyces, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropy dan akan

mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.

1. Terhadap sex organ

Mula-mula libido meningkat, teatapi akhirnya libido menurun.

1. 5. Gejala Benigne Prostat Hyperplasia

Berdasarkan gradenya, terbagi menjadi 4 grade yaitu :

1. Pada grade 1 (congestic)

1. Mula-mula pasien berbulan atau beberapa tahun susah kemih dan mulai mengedan.

2. Kalau miksi merasa puas.

3. Urine keluar menetes dan pancaran lemah.

4. Nocturia

5. Urine keluar malam hari lebih dari normal.

6. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.

7. Pada cytoscopy kelihatan hyperemia dari orificium urethra interna. Lambat laun terjadi varices akhirnya bisa terjadi perdarahan (blooding)

1. Pada grade 2 (residual)

1. Bila miksi terasa panas.

2. Dysuri nocturi bertambah berat.

3. Tidak bisa buang air kecil (kemih tidak puas).

4. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kemih.

5. Terjadi panas tinggi dan bisa menggigil.

6. Nyeri pada daerah pinggang (menjalar ke ginjal).

7. Pada grade 3 (retensi urine)

1. Ischuria paradosal.

2. Incontinensia paradosal.

8. Pada grade 4

1. Kandung kemih penuh.

2. Penderita merasa kesakitan.

3. Air kemih menetes secara periodik yang disebut over flow incontinensia.

4. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor, karena bendungan yang hebat.

5. Dengan adanya infeksi penderita bisa menggigil dan panas tinggi sekitar 40-41°C.

6. Selanjutnya penderita bisa koma.

Page 14: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Dari kapita selekta, 2000. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat

Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi

menjadi dua yaitu :

1. Gejala Obstruktif yaitu :

1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.

2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.

3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.

4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.

5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

2. Gejala Iritasi yaitu :

1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.

2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

1. 6. Komplikasi1. Perdarahan

2. Inkotinensia

3. Batu kandung kemih

4. Retensi urine

5. Impotensi

6. Epididimitis

7. Haemorhoid, hernia, prolaps rectum akibat mengedan

8. Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi

9. Hydronefrosis

Hal-hal yang harus dilakukan pada pasien setelah pulang dari rumah sakit adalah ;

1. Latihan berat, mengangkat berat dan sexual intercourse dihindari selama 3 minggu setelah dirumah.

2. Tidak boleh membawa kendaraan.

3. Mengedan pada saat defekasi harus dihindari, faeces harus lembek kalau perlu pemberian obat untuk melembekkan faeces.

4. Menganjurkan banyak minum untuk mencegah statis dan infeksi dan membuat faeces lembek.

1. 7. Pemeriksaan Penunjang

Page 15: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. Pemeriksaan  Laboratorium

Pemeriksaan  darah  lengkap,  faal  ginjal,  serum  elektrolit  dan  kadar  gula  digunakan  untuk  memperoleh  data  dasar  keadaan  umum  klien.

Pemeriksaan  urin  lengkap  dan  kultur.

PSA  (Prostatik  Spesific  Antigen)  penting diperiksa  sebagai  kewaspadaan  adanya  keganasan.

1. Pemeriksaan  Uroflowmetri

Salah  satu  gejala  dari  BPH  adalah  melemahnya  pancaran  urin.  Secara 

obyektif  pancaran  urin  dapat  diperiksa  dengan  uroflowmeter  dengan  penilaian

:

Flow  rate  maksimal  >  15 ml / dtk    =  non  obstruktif.

Flow  rate  maksimal 10 – 15  ml / dtk =  border  line.

Flow  rate  maksimal  <  10 ml / dtk    =  obstruktif.

1. Pemeriksaan  Imaging  dan  Rontgenologik

BOF  (Buik  Overzich ) :Untuk  melihat  adanya  batu  dan  metastase  pada  tulang.

USG  (Ultrasonografi), digunakan  untuk  memeriksa  konsistensi,  volume  dan    besar  prostat  juga  keadaan  buli – buli  termasuk  residual  urin.  Pemeriksaan  dapat  dilakukan  secara  transrektal,  transuretral  dan  supra  pubik.

IVP  (Pyelografi  Intravena)

Digunakan  untuk  melihat  fungsi  exkresi  ginjal  dan  adanya  hidronefrosis.

Pemeriksaan  Panendoskop

Untuk    mengetahui   keadaan  uretra  dan  buli – buli.

1. Pemeriksaan CT- Scan dan MRI

Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya

pembesaran prostat, sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat

memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada

berbagai bidang irisan, namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal

biayanya.

1. Pemeriksaan sistografi

Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan

urine ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran

kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas

apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica.

Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat

dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat

ke dalam urethra.

Page 16: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. 8. Diagnosa banding

Oleh karena adanya proses miksi tergantung pada kekuatan kontraksi detrusor,

elastisitas leher kandung kemih dengan tonus ototnya dan resistensi urethra yang

merupakan faktor dalam kesulitan miksi. Kelemahan detrusor disebabkan oleh

kelainan saraf (kandung kemih neurologik) misalnya : Lesi medulla spinalis,

penggunaan obat penenang. Kekakuan leher vesica disebabkan oleh proses fibrosis,

sedangkan resistensi urethra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas,

tumor di leher kandung kemih, batu di urethra atau striktur urethra.

1. 9. Penatalaksanaan

Modalitas  terapi  BPH  adalah :

1).       Observasi

Yaitu  pengawasan  berkala  pada  klien  setiap  3 – 6   bulan  kemudian  setiap 

tahun  tergantung  keadaan  klien

2).       Medikamentosa

Terapi  ini  diindikasikan  pada  BPH  dengan  keluhan  ringan,  sedang,  dan  berat 

tanpa  disertai  penyulit. Obat  yang  digunakan    berasal    dari:   phitoterapi  

(misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens,  dll),  gelombang  alfa  blocker  dan 

golongan   supresor   androgen.

3).       Pembedahan

Indikasi  pembedahan  pada  BPH  adalah :

a).    Klien  yang  mengalami  retensi  urin  akut  atau  pernah  retensi  urin  akut.

b).    Klien  dengan  residual  urin  >  100  ml.

c).    Klien  dengan  penyulit.

d).   Terapi  medikamentosa  tidak  berhasil.

e).    Flowmetri  menunjukkan  pola  obstruktif.

Pembedahan  dapat  dilakukan  dengan :

a).    TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 – 95  % )

Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang langsung

mengelilingi urethra. Jaringan yang direseksi hanya sedikit sehingga tidak terjadi

perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu lama. Rectoscope disambungkan

Page 17: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

dengan arus listrik lalu di masukkan ke dalam urethra.Kandung kemih di bilas terus

menerus selama prosedur berjalan.Pasien mendapat alat untuk masa terhadap

shock listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di tempatkan pada bawah

paha.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan dan tempat-tempat

perdarahan di tutup dengan cauter.

Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di lengkapi balon 30

ml.Setelah balon catheter di kembangkan, catheter di tarik ke bawah sehingga

balon berada pada fosa prostat yang bekerja sebagai hemostat.Ukuran catheter

yang besar di pasang untuk memperlancar pengeluaran gumpalan darah dari

kandung kemih.

Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur dengan garam

fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli bedah.Tujuan dari irigasi konstan

ialah untuk membebaskan kandung kemih dari ekuan darah yang menyumbat aliran

kemih.Irigasi kandung kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila tidak

keluar bekuan dari kandung kemih.Kemudian catheter bisa dibilas biasa tiap 4 jam

sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah operasi.Setelah

catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine dan waktu tiap kali

berkemih.

b).    Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy

Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal bawah tapi kandung

kemih tidak dibuka.

c).    Perianal Prostatectomy

Dilakukan pada dugaan kanker prostat, insisi dibuat diantara scrotum dan rectum.

d).   Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

Metode operasi terbuka, reseksi supra pubic kelenjar prostat diangkat dari urethra

lewat kandung kemih.

4).       Alternatif  lain  (misalnya:  Kriyoterapi,  Hipertermia,  Termoterapi,  Terapi 

Ultrasonik.

10. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan pasien dengan hipertropi prostat melalui pendekatan proses

keperawatan yang terdiri dari pengkajian keperawatan, perencanaan keperawatan,

pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

1. Pengkajian Keperawatan1. Anamnesa

Page 18: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Kumpulan  gejala  pada  BPH  dikenal  dengan  LUTS  (Lower  Urinary  Tract 

Symptoms)  antara  lain:

1. Nyeri pada daerah tindakan operasi.

2. Pusing.

3. Perubahan frekuensi berkemih.

4. Urgensi.

5. Dysuria

6. Flatus negatif.

7. Luka tindakan operasi pada daerah prostat.

8. Retensi, kandung kemih penuh.

9. Inkontinensia

10. Bibir kering.

11. Puasa.

12. Bising usus negatif.

13. Ekspresi wajah meringis.

14. Pemasangan catheter tetap.

15. Gelisah.

16. Informasi kurang.

17. Urine berwarna kemerahan.

1. Pemeriksaan  Fisik

Dilakukan  dengan  pemeriksaan  tekanan  darah,  nadi  dan  suhu.  Nadi  dapat  meningkat  pada  keadaan  kesakitan  pada  retensi  urin  akut,  dehidrasi  sampai  syok  pada  retensi  urin  serta  urosepsis  sampai  syok – septik.

Pemeriksaan  abdomen  dilakukan  dengan  tehnik  bimanual  untuk  mengetahui  adanya  hidronefrosis,  dan  pyelonefrosis.  Pada  daerah  supra  simfiser  pada  keadaan  retensi  akan  menonjol.  Saat  palpasi  terasa  adanya  ballotemen  dan  klien  akan  terasa  ingin  miksi. Perkusi  dilakukan  untuk  mengetahui  ada  tidaknya  residual  urin.

Penis  dan  uretra  untuk  mendeteksi  kemungkinan  stenose  meatus,  striktur  uretra,  batu  uretra,  karsinoma  maupun  fimosis.

Pemeriksaan  skrotum  untuk  menentukan  adanya  epididimitis

Rectal  touch / pemeriksaan  colok  dubur  bertujuan  untuk  menentukan  konsistensi  sistim  persarafan  unit  vesiko  uretra  dan  besarnya  prostat.  Dengan  rectal  toucher  dapat  diketahui  derajat  dari  BPH,  yaitu :

a).    Derajat  I   =  beratnya  ±  20 gram.

b).    Derajat  II  =  beratnya  antara  20 – 40  gram.

c).    Derajat  III =  beratnya  > 40  gram.

1. Diagnosa keperawatan.

Page 19: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah     sebagai  berikut  :

1. Pre Operasi :

1. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.

2. Nyeri  ( akut )  berhubungan  dengan  iritasi  mukosa  buli –   buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.

3. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan  pasca obstruksi diuresis..

4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

6. Post Operasi :

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

3. Resiko tinggi  cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan

4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.

5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan

1. Intervensi

Pre Operasi

1)   Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran

prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk

berkontraksi secara adekuat, ditandai dengan :

1. Perubahan frekuensi berkemih.

2. Urgensi.

3. Dysuria.

4. Pemasangan catheter tetap.

5. Urine berwarna kemerahan.

Tujuan : Klien mengatakan tidak ada keluhan, dengan kriteria :

1. Catheter tetap paten pada tempatntya.

2. Tidak ada sumbatan aliran darah melalui catheter.

Page 20: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

3. Berkemih tanpa aliran berlebihan.

4. Tidak terjadi retensi pada saat irigasi.

Rencana tindakan dan rasional

1)      Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.

R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih

2)      Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina

R /  Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi

3)      Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih

R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam  saluran perkemihan  yang dapat

mempengaruhi fungsi ginjal

4)      Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung.

R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan

ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri

5)      Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)

R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan

2)   Nyeri  ( akut )  berhubungan  dengan  iritasi  mukosa  buli –   buli, distensi

kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.

Tujuan : Nyeri  hilang  /  terkontrol.

Kritera  hasil :

Klien  melaporkan  nyeri  hilang  /  terkontrol,  menunjukkan  ketrampilan 

relaksasi  dan   aktivitas  terapeutik  sesuai  indikasi  untuk  situasi  individu. 

Tampak rileks,  tidur  /  istirahat  dengan  tepat.

Rencana tindakan  dan  rasional

1. Kaji nyeri,  perhatikan  lokasi,  intensitas  ( skala  0 – 10 ).

R / Nyeri  tajam,  intermitten  dengan  dorongan  berkemih  /  masase  urin  sekitar 

kateter  menunjukkan  spasme  buli-buli,  yang  cenderung  lebih berat  pada 

pendekatan  TURP  ( biasanya  menurun  dalam  48 jam ).

Page 21: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. Pertahankan patensi  kateter  dan  sistem  drainase.  Pertahankan   selang  bebas  dari  lekukan  dan  bekuan.

R/ Mempertahankan  fungsi  kateter  dan  drainase  sistem,  menurunkan  resiko 

distensi  /  spasme  buli – buli.

1. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan

R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.

1. Berikan  tindakan  kenyamanan  ( sentuhan  terapeutik,      pengubahan  posisi,  pijatan  punggung )  dan aktivitas  terapeutik.

R /   Menurunkan  tegangan  otot,  memfokusksn  kembali  perhatian dan  dapat 

meningkatkan  kemampuan  koping.

1. Berikan  rendam  duduk  atau  lampu  penghangat  bila  diindikasikan.

R/ Meningkatkan   perfusi  jaringan  dan  perbaikan  edema  serta   meningkatkan 

penyembuhan         ( pendekatan  perineal ).

1. Kolaborasi  dalam pemberian  antispasmodik

R / Menghilangkan  spasme

3)   Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi

diuresis.

Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.

Kriteria hasil : Mempertahankan  hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda 

vital  stabil,  nadi  perifer  teraba,  pengisian perifer baik,  membran   mukosa 

lembab  dan   keluaran  urin  tepat.

Rencana tindakan dan rasional

a).    Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.

R/  Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl

cukupan  jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.

b).    Pantau  masukan  dan  haluaran  cairan.

R/  Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.

c).      Awasi  tanda-tanda  vital,  perhatikan  peningkatan  nadi dan pernapasan,

penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,

R/  Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik

Page 22: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

d).     Tingkatkan tirah baring  dengan kepala lebih tinggi

R/  Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.

e).      Kolaborasi  dalam  memantau  pemeriksaan  laboratorium  sesuai  indikasi, 

contoh:

Hb / Ht,  jumlah  sel  darah  merah. Pemeriksaan  koagulasi,  jumlah  trombosit

R/           Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan  penggantian. Serta

dapat  mengindikasikan  terjadinya  komplikasi misalnya  penurunan  faktor 

pembekuan  darah,

4)   Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi

prosedur bedah.

Tujuan : Pasien tampak rileks.

Kriteria hasil

Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang

yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.

Rencana  tindakan  dan  rasional

a). Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya

R/   Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu

b). Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

R /  Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.

c). Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.

R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah

5)   Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan kurangnya informasi

Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya.

Kriteria  hasil

Page 23: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam

program pengobatan.

Rencana   tindakan   dan   rasional

1. Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian.

R /  Membantu pasien dalam mengalami perasaan.

1. Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien

R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi

terapi.

Post operasi

1)   Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada

TUR-P

Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria hasil :

1. Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.

2. Ekspresi wajah klien tenang.

3. Klien akan menunjukkan ketrampilan  relaksasi.

4. Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.

5. Tanda – tanda vital dalam batas normal.

Rencana tindakan :

1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.

R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.

1. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.

R/ Menentukan terdapatnya spasmus  sehingga obat – obatan bisa   diberikan

1. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.

R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.

1. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.

R/ Mengurang kemungkinan spasmus.

1. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.

Page 24: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

R / Mengurangi tekanan pada luka insisi

1. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.

R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat

meningkatkan kemampuan koping.

1. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.

R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi

kandung kemih dengan peningkatan spasme.

1. Observasi tanda – tanda vital

R/  Mengetahui perkembangan lebih lanjut.

1. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )

R / Menghilangkan nyeri dan mencegah  spasmus kandung kemih.

2)   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama

pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .

Kriteria hasil:

1. Klien tidak mengalami infeksi.

2. Dapat mencapai waktu penyembuhan.

3. Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.

Rencana tindakan:

1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.

R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi

1. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.

R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan

mempertahankan fungsi ginjal.

1. Pertahankan posisi urobag dibawah.

R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung

kemih.

Page 25: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

1. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.

R/ Mencegah sebelum terjadi shock.

1. Observasi urine: warna, jumlah, bau.

R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.

1. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.

R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.

3)   Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .

Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.

Kriteria hasil:

1. Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan .

2. Tanda – tanda vital dalam batas normal .

3. Urine lancar lewat kateter .

Rencana tindakan:

1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan .

R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui  tanda – tanda perdarahan

1. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter

R/  Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan

kandung kemih

1. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk   memudahkan defekasi .

R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan

perdarahan .

1. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang – kurangnya satu minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .

1. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi  dilepas .

R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik,

menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .

1. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan  warna urine

Page 26: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah

kerusakan jaringan yang permanen .

4)   Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten

akibat dari TUR-P.

Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan

Kriteria hasil:

1. Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .

2. Klien menyatakan pemahaman situasi individual .

3. Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .

4. Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.

Rencana tindakan :

1. Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .

R/ Untuk mengetahui masalah klien .

1. Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan  kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)

R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi

seksual

1. Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .

R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan

1. Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .

R / Untuk mengklarifikasi  kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan

yang spesifik.

5)   Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat

lanjutan .

Kriteria hasil:

1. Klien akan melakukan perubahan perilaku.

2. Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.

3. Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .

Page 27: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

Rencana tindakan:

1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan .

1. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6  minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.

R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi

kebutuhan mengedan pada waktu BAB

1. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.

R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .

1. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.

R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .

1. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .

R/ Untuk membantu proses penyembuhan .

6)   Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.

Kriteria hasil:

1. Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.

2. Klien mengungkapan sudah bisa tidur .

3. Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .

Rencana tindakan:

1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.

R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan

perawatan .

1. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .

R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat

1. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.

R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan

1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).

Page 28: Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi

R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .

1. Implementasi

Pada langkah ini, perawat memberikan asuhan keperawatan, yang pelaksanaannya

berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan pada langkah

sebelumnya (intervensi).

1. Evaluasi Keperawatan.

Asuhan keperawatan dalam bentuk perubahan prilaku pasien merupakan focus dari

evaluasi tujuan.

DAFTAR  PUSTAKA1. Doenges, M.E., Marry, F..M  and  Alice, C.G., 2000. Rencana  Asuhan 

Keperawatan :  Pedoman  Untuk  Perencanaan  Dan  Pendokumentasian  Perawatan  Pasien. Jakarta, Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.

2. Long, B.C., 1996.  Perawatan  Medikal  Bedah : Suatu  Pendekatan  Proses  Keperawatan. Jakarta,  Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.

3. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

4. Basuki B Purnomo, 2000, Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD), Jakarta.

5. Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Editor, Irawati. S, Edisi : 9, EGC ; Jakarta.

6. Kumpulan Kuliah, 2010, Modul Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan, Cirebon.

7. Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires dkk, EGC ; Jakarta.

8. Jong, Wim de, dan Syamsuhidayat R, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor : R. Syamsuhidajat, Wim De Jong, Edisi revisi : EGC ; Jakarta.