Click here to load reader

ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI PADA NY. R …lib.ui.ac.id/file?file=digital/20351543-PR-Manggarsari.pdf · Tabel 3.5 Implementasi Diagnosa Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit

  • View
    223

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI PADA NY. R...

  • UNIVERSITAS INDONESIA

    ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI PADA NY. R

    DENGAN KANKER KOLOREKTAL DI LANTAI 5 BEDAH

    RSPAD GATOT SOEBROTO

    KARYA ILMIAH AKHIR NERS

    MANGGARSARI, S. Kep

    0806334054

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

    UNIVERSITAS INDONESIA

    DEPOK

    JULI 2013

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • UNIVERSITAS INDONESIA

    ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI PADA NY. R

    DENGAN KANKER KOLOREKTAL DI LANTAI 5 BEDAH

    RSPAD GATOT SOEBROTO

    KARYA ILMIAH AKHIR NERS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

    MANGGARSARI, S. Kep

    0806334054

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

    UNIVERSITAS INDONESIA

    DEPOK

    JULI 2013

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • ii

    HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

    Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya sendiri,

    dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

    telah peneliti nyatakan dengan benar.

    Nama : Manggarsari

    NPM : 0806334054

    Tanda Tangan :

    Tanggal : 5 Juli 2013

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • iii

    HALAMAN PENGESAHAN

    Laporan penelitian ini diajukan oleh :

    Nama : Manggarsari

    NPM : 0806334054

    Program Studi : Ilmu Keperawatan

    Judul Skripsi : Asuhan Keperawatan Kolostomi pada Ny. R dengan

    Kanker Kolorektal di Lantai 5 Bedah RSPAD Gatot

    Soebroto

    Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai

    bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners Sarjana Ilmu

    Keperawatan pada Program Studi Profesi, Fakultas Ilmu Keperawatan,

    Universitas Indonesia.

    DEWAN PENGUJI

    Pembimbing : Masfuri, S.Kp., MN ( )

    Penguji : Ns. Merri Silaban, S. Kep ( )

    Ditetapkan di : Jakarta

    Tanggal : 5 Juli 2013

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • iv

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

    memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Karya Ilmiah Akhir Ners yang

    berjudul Asuhan Keperawatan Kolostomi pada Ny. R dengan Kanker Kolorektal

    di Lantai 5 Bedah RSPAD Gatot Soebroto ini dapat saya selesaikan. Penulisan ini

    dilakukan dalam rangka memenuhi tugas akhir Mata Ajar Karya Ilmiah Akhir

    Ners Program Profesi Ners di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

    Saya menyadari bahwa terdapat banyak hambatan dan kesulitan yang dialami

    selama proses pembuatan Karya Ilmiah Akhir Ners ini, namun dengan bantuan

    dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penyusunan laporan ilmiah akhir ini

    dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin

    mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Ibu Riri Maria S.Kp., MANP selaku koordinator mata ajar Karya Ilmiah

    Akhir Ners

    2. Bapak Masfuri S.Kp., MN selaku pembimbing dalam mata ajar KKMP

    Peminatan KMB serta penulisan Karya Ilmiah Akhir Ners yang senantiasa

    memberikan bimbingan, masukan, motivasi serta membantu saya dalam

    menelaah permasalahan terkait kasus yang dikelola, memberikan arahan

    dalam menentukan evidence based practice yang tepat dan sesuai, dan

    segala hal lain yang terjadi dalam proses penyusunan karya ilmiah ini

    berlangsung;

    3. Ibu Ns. Merri Silaban S.Kep selaku kepala ruangan lantai 5 Bedah RSPAD

    Gatot Soebroto, beserta kakak-kakak perawat yang telah banyak

    membimbing dan memberikan suatu lingkungan pembelajaran yang baik

    kepada saya dan kelompok selama praktik di lantai 5 Bedah;

    4. Bapak dan Ibu saya, kedua kakak kandung, kakak ipar dan keponakan

    kecil saya, serta adik asuh saya yang telah tiada, yang telah memberikan

    dukungan baik secara materi maupun motivasi serta mendoakan demi

    kelancaran penyelesaian penelitian ini;

    5. Teman-teman kelompok peminatan bedah, di lantai 5 bedah RSPAD Gatot

    Soebroto yang selama kurang lebih sembilan minggu bersama-sama

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • v

    berbagi ilmu, wawasan, kebahagiaan, keceriaan serta kebingungan dalam

    kelompok;

    6. Sahabat teman begitu dekat yang tetap memberikan support besar

    meskipun tak berbentuk, yang masing-masing juga berjibaku dalam

    menyelesaikan tulisannya sesuai peminatan masing-masing;

    7. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu namun sangat

    membantu kelancaran proses pelaksanaan penelitian ini.

    Saya berharap semoga Allah SWT berkenan memberikan segala

    rahmatnya kepada seluruh pihak yang telah mambantu dalam proses

    penyusunan skripsi ini. Saya pun meminta maaf atas segala kekurangan

    yang ada, baik dalam diri saya, ataupun pada laporan penelitian ini.

    Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan

    ilmu.

    Depok, 5 Juli 2013

    Peneliti

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • vi

    HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

    TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

    Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di

    bawah ini:

    Nama : Manggarsari

    NPM : 0806334054

    Fakultas : Ilmu Keperawatan

    Jenis karya : Karya Ilmiah Akhir Ners (KIA-N)

    demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada

    Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-

    Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

    Asuhan Keperawatan Kolostomi pada Ny. R dengan Kanker Kolorektal di

    Lantai 5 Bedah RSPAD Gatot Soebroto

    beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti

    Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/

    formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan

    memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

    penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

    Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

    Dibuat di : Depok

    Pada tanggal : 5 Juli 2013

    Yang menyatakan

    (Manggarsari)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • vii Universitas Indonesia

    ABSTRAK

    Nama : Manggarsari

    Program studi : Ilmu Keperawatan

    Judul : Asuhan Keperawatan Kolostomi pada Ny. R dengan Kanker

    Kolorektal di Lantai 5 Bedah RSPAD Gatot Soebroto

    Kolostomi merupakan salah satu pilihan tindakan pembedahan pada kanker

    kolorektal yang dapat menimbulkan komplikasi dan perubahan konsep diri pasien.

    Penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu diketahui dan

    diperhatikan perawat dalam melakukan perawatan kolostomi. Hasil yang

    didapatkan dari penulisan berdasarkan aplikasi asuhan keperawatan pada pasien

    kolostomi Ny. R menunjukkan bahwa perawatan pasien dengan kolostomi yang

    perlu diperhatikan meliputi cara dan waktu mengganti kantong kolostomi,

    membersihkan stoma dan kulit peristomal, memantau kondisi stoma, dan

    melakukan irigasi kolostomi. Hal lain yang juga perlu dilakukan ialah

    memberikan edukasi terkait diet yang dibutuhkan pasien yang memiliki stoma,

    serta kebutuhan aktivitas pasien.

    Kata kunci: kanker kolorektal, kolostomi, perawatan

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • viii Universitas Indonesia

    ABSTRACT

    Name : Manggarsari

    Study Program: Nursing

    Title : Nursing Care of Colostomy for Mrs. R with Colorectal Cancer

    Case in Surgical Ward 5th Floor RSPAD Gatot Soebroto

    Colostomy is one of the surgical procedures that can be done in colorectal cancer

    patient, which can cause complication and changing in self concept. This paper

    was made to identify things that must be concerned by nurse in caring colostomy

    patient. Based on the application to a patient, Mrs. R, the result indicated that

    when caring colostomy patient, it is important to know well and concern about

    how and when to change colostomy pouch, clean stoma and peristomal skin,

    observing stoma, and doing colostomy irrigation. Educating what kind of dietary

    management and their activity need are also important to be done by patient with

    stoma.

    Keywords: caring, colostomy, colorectal cancer

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • ix Universitas Indonesia

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

    HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii

    KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv

    HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................. vi

    ABSTRAK ........................................................................................................... vii

    DAFTAR ISI ........................................................................................................ ix

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi

    DAFTAR SKEMA ............................................................................................... xii

    DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii

    DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xiv

    BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

    1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 3

    1.3 Manfaat Penulisan ..................................................................................... 4

    BAB 2 TINJAUAN TEORI ............................................................................... 5

    2.1 Kanker Kolorektal pada Masyarakat Perkotaan ....................................... 5

    2.2 Kanker Kolorektal .................................................................................... 6

    2.2.1 Definisi ............................................................................................ 6

    2.2.2 Etiologi dan Faktor Resiko ............................................................... 7

    2.2.3 Patofisiologi ..................................................................................... 8

    2.2.4 Pemeriksaan dan Diagnosis ............................................................. 11

    2.2.5 Penatalaksanaan .............................................................................. 13

    2.3 Kolostomi ................................................................................................ 14

    2.3.1 Definisi ........................................................................................... 14

    2.3.2 Jenis ................................................................................................ 15

    2.3.3 Masalah Kesehatan yang Terjadi akibat Kolostomi ......................... 17

    2.3.4 Komplikasi Stoma ........................................................................... 19

    2.3.5 Asuhan Keperawatan Pasien dengan Kolostomi .............................. 23

    BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA .......................................... 31

    3.1 Pengkajian Keperawatan .......................................................................... 31

    3.1.1 Informasi Umum ............................................................................. 31

    3.1.2 Anamnesa ....................................................................................... 14

    3.1.3 Pengkajian dengan Pendekatan Sistem Tubuh ................................. 14

    3.2 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................ 35

    3.3 Daftar Terapi Medis ................................................................................. 36

    3.4 Analisa Data ............................................................................................. 37

    3.5 Rencana Asuhan Keperawatan ................................................................. 39

    3.6 Implementasi Keperawatan ...................................................................... 43

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • x Universitas Indonesia

    BAB 4 ANALISA MASALAH ........................................................................... 46

    4.1 Profil Lahan Praktik ................................................................................. 46

    4.2 Analisa terkait Keperawatan Kesehatan Masalah Perkotaan ..................... 47

    4.3 Analisa Asuhan Keperawatan pada Pasien Kolostomi dengan Kanker

    Kolorektal ................................................................................................ 48

    BAB 5 PENUTUP ............................................................................................... 53

    5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 53

    5.2 Saran ........................................................................................................ 53

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 55

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • xi Universitas Indonesia

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Loop Colostomy ................................................................................ 15

    Gambar 2.2 End Colostomy ................................................................................. 16

    Gambar 2.3 End Colostomy dan Fistula Mukus .................................................... 16

    Gambar 2.4 Allergic Contact Dermatitis .............................................................. 17

    Gambar 2.5 Infeksi Candida albicans .................................................................. 18

    Gambar 2.6 Retraksi Stoma ................................................................................. 20

    Gambar 2.7 Hernia Peristomal ............................................................................. 21

    Gambar 2.8 Prolaps pada Stoma .......................................................................... 21

    Gambar 2.9 Nekrosis pada Stoma ........................................................................ 22

    Gambar 2.10 Stenosis pada Stoma ....................................................................... 22

    Gambar 2.11 Kantong Kolostomi ......................................................................... 23

    Gambar 2.12 Cara Mengosongkan Kantong Kolostomi ........................................ 24

    Gambar 2.13 Water Container, Tube, Cone & Plastic Sleeve ................................ 26

    Gambar 2.14 Irigasi Kolostomi ............................................................................ 27

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • xii Universitas Indonesia

    DAFTAR SKEMA

    Skema 2.1 Bagan Patofisiologi Kanker Kolorektal ............................................... 10

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • xiii Universitas Indonesia

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1 Stadium dan Prognosis Kanker Kolorektal ............................................ 12

    Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratoriom Ny. R ................................................. 35

    Tabel 3.2 Daftar Terapi Medikasi Ny. R ............................................................... 36

    Tabel 3.3 Analisa Data dan Masalah Keperawatan Ny. R ...................................... 37

    Tabel 3.4 Implementasi Diagnosa Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi

    Kurang dari Kebutuhan Tubuh ......................................................... 43

    Tabel 3.5 Implementasi Diagnosa Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit ........... 44

    Tabel 3.6 Implementasi Diagnosa Keperawatan Inkontinensia Alvi ....................... 43

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • xiv Universitas Indonesia

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Satuan Acara Pembelajaran Perawatan Kolostomi

    Lampiran 2 Leaflet Perawatan Kolostomi

    Lampiran 3 Biodata Penulis

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 1 Universitas Indonesia

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Kanker usus besar atau kanker kolorektal adalah salah satu dari penyakit

    kanker dengan prevalensi yang cukup tinggi. Kanker kolorektal merupakan

    keganasan atau pertumbuhan sel abnormal pada area usus besar dan rektum.

    Jumlah penderita kanker usus besar dan rektum cukup banyak di Indonesia,

    khususnya di perkotaan. Kanker usus besar merupakan jenis kanker ketiga

    terbanyak di Indonesia menurut Depkes dengan jumlah kasus 1,8 dalam

    100.000 penduduk (RS Dharmais, n.d). Rahmianti (2013) menuliskan, sekitar

    608.000 orang di dunia meninggal akibat kanker kolorektal setiap tahun

    menurut World Healh Organization (WHO), sedangkan di Indonesia sendiri,

    pada setiap tahunnya sekitar 1.666 orang meninggal akibat kanker kolorektal.

    Kanker kolorektal menjadi penyakit ketiga terbanyak yang ada di ruang

    perawatan lantai 5 Bedah RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada bulan Mei

    2013. Contoh lain, yaitu pada negara Amerika, setiap individu dinyatakan

    memiliki resiko terkena kanker kolorektal sebanyak kurang lebih 6% (Zhang,

    2008). Faktor resiko kanker kolorektal lebih sering terdapat pada gaya hidup

    masyarakat di perkotaan, diantaranya ialah obesitas, diet tinggi lemak,

    konsumsi daging merah, konsumsi makanan olahan, kurangnya konsumsi

    buah dan sayur, konsumsi alkohol, merokok dan kurangnya olahraga secara

    teratur dan terukur (Newton, 2009).

    Penatalaksanaan pada kanker kolorektal meliputi penatalaksanaan medis,

    bedah dan keperawatan. Penatalaksanaan bedah dilakukan tergantung pada

    tingkat penyebaran dan lokasi tumor itu sendiri. Salah satu tindakan bedah

    yang dilakukan adalah dengan pembentukan kolostomi. Mayers (1996) dalam

    Simanjuntak & Nurhidayah (2007) menyebutkan bahwa alasan paling sering

    dilakukannya tindakan kolostomi adalah adanya karsinoma pada kolon dan

    rektum dimana karsinoma adalah tumor ganas yang tumbuh dari jaringan

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 2

    Universitas Indonesia

    epitel. Kolostomi memungkinkan feses tetap keluar dari kolon meskipun

    terjadi obstruksi pada kolon yang diakibatkan oleh massa tumor.

    Kolostomi merupakan pembuatan stoma atau lubang pada kolon atau usus

    besar (Smeltzer & Bare, 2002). Indonesian Ostomy Association (INOA)

    mengatakan bahwa jumlah kasus yang menggunakan stoma terus meningkat,

    dan penyebab tersering di Indonesia sendiri adalah karena keganasan

    (Indonesian Ostomy Association, 2010). Kurnia (2012) memaparkan, sekitar

    100.00 orang yang dilakukan indikasi pemasangan stoma pada umumnya

    disebabkan oleh kanker kolorektal, kanker kandung kemih, kolitis ulseratif,

    penyait Crohn, diverticulitis, obstruksi, inkontinensia urin dan fekal, dan

    trauma. Indikasi pemasangan kolostomi pada neonatus dan dewasa tentu

    berbeda. Lukong, Jabo, dan Mfuh (2012) melakukan penelitian terhadap 38

    neonatus, dan indikasi pemasangan kolostomi yang ditemukan adalah karena

    malformasi anorektal (97,4%) dan atresia kolon (2,6%).

    Penyebab terbanyak dari indikasi pembuatan kolostomi adalah karena kanker

    atau keganasan. The Union for International Cancer Control (UICC)

    mengumumkan adanya hari kanker sedunia pada tahun 2005, seiring dengan

    tingginya angka kejadian kanker di dunia. Jenis kanker, menurut UICC

    kebanyakan dapat dicegah dengan cara menjaga gaya hidup sehat masyarakat

    perkotaan, yaitu menjaga pola makan sehat dan berat badan ideal, melakukan

    olahraga secara rutin, teratur dan terukur, serta mengurangi asupan alkohol

    (Anna, 2011).

    Santos (2001) dalam Simanjuntak & Nurhidayah (2007) mengatakan bahwa

    pembentukan stoma atau kolostomi dapat berdampak pada perubahan peran,

    harga diri, body image, seksual dan hubungan sosial. Penelitian yang

    dilakukan Mckenzie (2006) juga menunjukkan bahwa 50% pasien merasa

    tubuh mereka berada di luar kontrol, 45% merasakan bahwa stoma mengatur

    hidup mereka, 47% merasa hilang rasa percaya diri, dan 55% merasa bahwa

    tidak ada seorang pun yang dapat merasakan bagaimana memiliki stoma

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 3

    Universitas Indonesia

    (Kurnia, 2012). Klien dengan kolostomi akan beresiko untuk mengalami

    gambaran diri negatif. Oleh karena itu selama perawatan, perawat perlu

    memberikan dukungan agar pasien dapat menyesuaikan diri dalam pencapaian

    gambaran diri yang positif.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat klien dengan kolostomi

    ialah terkait perubahan pada eliminasi BAB klien, meliputi perubahan

    konsistensi serta frekuensi BAB klien. Klien akan merasakan adanya

    perubahan tersebut, dan disinilah fungsi perawat sebagai edukator untuk

    menjelaskan perubahan-perubahan tersebut agar klien dapat menerima dengan

    baik. Edukasi yang diberikan tidak hanya berupa cara perawatan kolostomi,

    namun juga meliputi apa yang harus dilakukan klien terkait dietnya agar

    pengeluaran fesesnya tidak mengganggu kegiatannya. Selain sebagai edukator,

    fungsi care giver juga dapat dijalankan terkait mengembalikan pola eliminasi

    BAB klien seperti sedia kala, salah satunya dengan irigasi kolostomi. Irigasi

    kolostomi merupakan sebuah tindakan dimana sejumlah cairan dimasukkan

    melalui stoma untuk mengosongkan usus besar. Irigasi dapat mengosongkan

    kolon dari gas, mukus, dan feses sehingga klien dapat beraktivitas dengan

    nyaman sesudahnya (Smeltzer & Bare, 2002). Karya ilmiah ini akan

    membahas mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan kolostomi

    khususnya pada penderita kanker kolorektal.

    1.2 Tujuan Penulisan

    1.2.1 Tujuan Umum

    Menganalisis masalah kesehatan pada masyarakat perkotaan pada

    kanker kolorektal dengan kondisi terpasang kolostomi

    1.2.2 Tujuan Khusus

    a. Menganalisis masalah kesehatan masyarakat perkotaan pada kasus

    kelolaan: kanker kolorektal

    b. Menganalisis aplikasi asuhan keperawatan pasien dengan kolostomi

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 4

    Universitas Indonesia

    1.3 Manfaat Penulisan

    Hasil penulisan ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien.

    Peningkatan pelayanan ini khususnya pada peran perawat sebagai edukator

    dan care giver kepada pasien yang memiliki kolostomi dengan kasus kanker

    kolorektal. Peran perawat sebagai edukator dalam hal ini terkait pengetahuan

    tentang penyakit kanker kolorektal, dan perawatan kolostomi, untuk kemudian

    disampaikan kepada klien dan keluarga sebagai pendidikan kesehatan. Peran

    perawat sebagai care giver dalam hal ini terkait asuhan keperawatan

    mengembalikan pola eliminasi BAB klien dengan melakukan irigasi

    kolostomi.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 5 Universitas Indonesia

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Kanker Kolorektal pada Masyarakat Perkotaan

    Presentase penduduk perkotaan biasa dinyatakan sebagai urbanisasi.

    Urbanisasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pertumbuhan alami penduduk

    daerah perkotaan, migrasi dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan, dan

    reklasifikasi desa perdesaan menjadi desa perkotaan (Proyeksi Penduduk, n.d).

    Indonesia diperkirakan oleh PBB menjadi negara keempat dengan perkiraan

    urbanisasi terbanyak setelah negara India, China, Nigeria dan Amerika Serikat

    (The President Post Indonesia, 2013). Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi

    negara ke 5 dengan presentase urban tertinggi. Kenyataan di dunia

    menunjukkan bahwa pola hidup masyarakat dunia memang sudah sangat

    berubah. Hal ini diakibatkan oleh proses globalisasi, kemajuan teknologi,

    komunikasi dan transportasi yang canggih dan sebagainya. Pola hidup

    manusia zaman sekarang tidak lagi terpusat pada wilayah pedesaan tetapi

    semakin beralih ke pusat-pusat perkotaan (The President Post Indonesia,

    2013).

    Potter & Perry (2005) memaparkan bahwa faktor resiko yang terdapat pada

    lingkungan internal individu dalam masyarakat meliputi faktor genetik,

    fisiologis, usia, gaya hidup, kebiasaan dan perilaku makan, kebiasaan olahraga

    dan aktivitas, dan stres emosional. Faktor resiko kanker kolorektal lebih sering

    terdapat pada gaya hidup masyarakat di perkotaan, diantaranya ialah obesitas,

    diet tinggi lemak, konsumsi daging merah, konsumsi makanan olahan,

    kurangnya konsumsi buah dan sayur, konsumsi alkohol, merokok dan

    kurangnya olahraga secara teratur dan terukur (Newton, 2009). Kota yang

    memiliki jumlah penduduk dan tingkat aktivitas yang tinggi, masyarakat di

    dalamnya akan memiliki faktor resiko lebih dibandingkan desa. Seiring

    dengan bertambahnya penduduk di kota, bertambah pula kendaraan, sehingga

    dulu orang bisa jalan beberapa kilometer dalam sehari namun saat ini orang

    akan lebih memilih naik kendaraan. Dari segi perilaku makan, dulu orang

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 6

    Universitas Indonesia

    banyak makan makanan berserat, seperti sayur-sayuran, sedangkan saat ini

    lebih banyak makan makanan siap saji (fast food) yang tinggi lemak. Spesialis

    pencernaan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran

    Universitas Indonesia Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM)

    mengatakan bahwa perubahan lingkungan tempat tinggal masyarakat saat ini

    juga dapa mempengaruhi faktor resiko kanker kolorektal (Kartika, 2013).

    Contohnya, perubahan bentuk toilet dari toilet jongkok ke toilet duduk. Pakar

    pencernaan mengatakan bahwa BAB dengan berjongkok dapat membuat

    sfingter ani lebih rileks, sekaligus meluruskan posisi kolon sehingga

    memudahkan proses buang air (Kartika, 2013).

    Nancy Milio (1981) dalam Allender & Spradley (2001) memaparkan sebuah

    framework dalam memandang pola atau gaya hidup masyarakat yang kurang

    sehat. Milio mengatakan pola-pola perilaku populasi dan individu yang

    membentuk populasi adalah hasil seleksi kebiasaan dari pilihan yang terbatas.

    Milio berpendapat, pemerintah dan kebijakan kelembagaan, seharusnya

    menetapkan berbagai pilihan sehat kepada mayarakat untuk akhirnya

    masyarakat membuat pilihan pribadi. Hal ini lebih menekankan pada faktor-

    faktor penentu kesehatan masyarakat dan mencoba untuk mempengaruhi

    masyarakat melalui kebijakan publik.

    2.2 Kanker Kolorektal

    2.2.1 Definisi

    Kanker adalah sebuah proses penyakit yang ditandai dengan adanya sel

    abnormal yang ditransformasikan oleh mutasi genetik dari sel DNA

    (Smeltzer & Bare, 2002). Kanker kolorektal adalah kanker yang

    terdapat pada kolon dan rektum. Zhang (2008) mengatakan kanker

    kolorektal merupakan bentuk malignansi yang terdapat pada kolon

    asending, transversal, desending, sigmoid dan rektal. Kanker kolorektal

    dapat didefinisikan sebagai keganasan atau pertumbuhan sel abnormal

    pada area usus besar (kolon) dan rektum.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 7

    Universitas Indonesia

    2.2.2 Etiologi dan Faktor Resiko

    Penyebab pasti dari kanker kolorektal belum diketahui secara pasti

    (Black & Hawks, 2009). Kejadian kanker kolorektal pada pria ataupun

    wanita tidak memiliki perbedaan yang signifikan, begitupun dengan

    etnik. Black & Hawks dalam bukunya memaparkan, memang terjadi

    prevalensi dan tingkat mortalitas tinggi pada keturunan Amerika dan

    Afrika, namun ini mungkin disebabkan karena mayoritas dari mereka

    melakukan diet tinggi lemak, makanan olahan dan kurangnya asupan

    buah dan sayuran.

    Mutasi gen dipercaya menjadi salah satu etiologi dari kanker kolorektal

    yang dapat diturunkan, yang biasa disebut sebagai Inherited Familial

    Colorectal Cancer Syndromes. Sindrom ini terdiri dari dua tipe, yakni

    Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dan Hereditary Nonpolyposis

    Cancer Colorectal Cancer (HNPCC). FAP memiliki karakteristik

    berupa kecenderungan dalam pertumbuhan polip kolon secara multipel

    (bahkan ratusan). Sembilan puluh persen dari pasien yang memiliki

    FAP yang belum mendapat perawatan akan mengalami kanker

    kolorektal pada usia 45 tahun (Zhang, 2008). Hereditary Nonpolyposis

    Cancer Colorectal Cancer atau HNPCC menurut Black (2009) dapat

    menyebabkan kanker kolorektal karena adanya lesi atau luka pada

    kolon. Berbeda dengan FAP, biasanya individu dengan HNPCC dapat

    mengalami kanker kolon pada usia 20 tahun, dengan rerata kejadian

    pada usia 48 tahun (mendapat diagnosa kanker kolorektal).

    Inflamasi usus, khususnya Ulcerative Colitis (UC) ataupun penyakit

    Crohn adalah etiologi atau faktor resiko yang juga terdapat pada kanker

    kolorektal. Penyakit inflamasi usus adalah kumpulan penyakit kronik

    (UC dan Crohns disease) yang menyebabkan terjadinya inflamasi dan

    atau ulserasi pada usus besar, yang menimbulkan nyeri pada perut,

    diare, demam dan penurunan BB (Smeltzer & Bare, 2002). Individu

    yang terkena UC selama 10 hingga 20 tahun, akan mendapat resiko atau

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 8

    Universitas Indonesia

    kemungkinan terjadinya kanker kolorektal 0,5% per tahunnya, dan 1

    persen per tahun setelah 20 tahun setelah munculnya UC (Zhang, 2008).

    Empat puluh tahun setelah munculnya UC, kemungkinan untuk

    terjadinya kanker kolorektal meningkat menjadi 30%. Penyakit Crohn

    juga menunjukkan faktor resiko yang serupa dengan UC pada kejadian

    kanker kolorektal.

    Kondisi gaya hidup masyarakat perkotaan sebagian besar menjadi

    faktor resiko dari penyakit kanker kolorektal. Hal ini disebabkan karena

    gaya hidup masyarakat perkotaan dan modern meliputi konsumsi tinggi

    lemak, makanan olahan, konsumsi protein hewan dan rendah serat, serta

    kurangnya aktivitis atau olahraga fisik yang teratur dan terukur (Potter,

    1999 dalam Ruddon, 2007). Faktor resiko kanker kolorektal lebih

    sering terdapat pada gaya hidup masyarakat di perkotaan, diantaranya

    ialah gaya hidup masyarakat, obesitas, diet tinggi lemak, konsumsi

    daging merah, konsumsi makanan olahan, kurangnya konsumsi buah

    dan sayur, konsumsi alkohol, merokok dan kurangnya olahraga secara

    teratur dan terukur (Newton, 2009). Beberapa penelitian bahkan

    memaparkan bahwa kurangnya konsumsi buah dan sayuran merupakan

    faktor resiko utama dari kanker kolorektal (Stewart & Kleihues, 2003

    dalam Ruddon, 2007).

    2.2.3 Patofisiologi

    Keberadaan sel kanker pada seseorang tidak hanya berasal dari efek

    karsinogen seseorang, baik yang didapat dari luar ataupun dari dalam

    tubuh manusia itu sendiri. Kanker kolorektal khususnya, memiliki

    hubungan terhadap kondisi feses dari individu, serta riwayat penyakit

    yang diderita, dimana kondisi tersebut merupakan dampak dari faktor

    resiko yang ada pada individu seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

    Kanker pada kolon dan rektum dapat diawali dengan adanya riwayat

    polip pada individu. Polip merupakan massa dari jaringan yang

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 9

    Universitas Indonesia

    menonjol pada lumen usus (Smeltzer & Bare, 2002). Polip yang tidak

    diatasi atau dilakukan intervensi, dapat berubah menjadi maligna. Polip

    yang telah berubah menjadi ganas tersebut akan menyerang dan

    menghancurkan sel yang normal dan meluas di jaringan sekitarnya.

    Manusia pada dasarnya memiliki zat karsinogen atau zat pemicu kanker

    pada tubuh. Efek karsinogen akan semakin meningkat apabila mendapat

    penyebab kanker dari luar. Zat karsinogen juga berpotensi untuk

    menyebabkan proliferasi sel kanker. Corwin (2001) menyatakan,

    kurangnya asupan antioksidan dengan minimnya konsumsi buah dan

    sayuran yang mengandung antioksidan (seperti vitamin E, vitamin C,

    dan beta karoten) dapat mengurangi perlindungan sel terhadap efek

    karsinogen. Buah dan sayuran yang segar memiliki enzim aktif yang

    dapat memelihara dan meningkatkan pertumbuhan sel yang sehat.

    Kondisi feses yang kurang baik juga dapat memicu terjadinya kanker

    kolon. Aktivitas atau olahraga yang kurang teratur dan terukur dapat

    mengakibatkan feses menjadi lebih lama berada di kolon atau rektum,

    terlebih jika individu melakukan diet rendah serat. Kondisi ini dapat

    mengakibatkan toksin yang terdapat dalam feses mencetuskan

    pertumbuhan sel kanker (Corwin, 2001). Feses yang mengandung

    banyak lemak juga dapat memicu sel kanker. Tingginya lemak dalam

    feses diakibatkan oleh konsumsi tinggi lemak seperti daging. Feses

    yang mengandung banyak lemak dapat mengubah flora dalam feses

    menjadi bakteri Clostrida & Bakteriodes yang mempunyai enzim 7-alfa

    dehidrosilase yang mencerna asam menjadi asam Deoxycholi dan

    Lithocholic (yang bersifat karsinogenik) meningkat dalam feses.

    Massa kanker yang terdapat pada kolon ataupun rektum akan

    menyebabkan adanya sumbatan atau obstruksi, yang mengakibatkan

    evakuasi feses yang terhambat atau tidak lengkap setelah defekasi.

    Akibat lebih lanjutnya ialah konstipasi, distensi atau nyeri abdomen,

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 10

    Universitas Indonesia

    hingga feses berdarah. Apabila massa kanker ini tidak dideteksi sejak

    dini dan dibiarkan, maka besar kemungkinan sel kanker akan

    melakukan metastasis. Metastasis pada sel kanker kolorektal terdiri dari

    penyebaran langsung, penyebaran limfogen, dan hematogen. Proses

    patofisiologi serta metastasis sel kanker dapat dilihat pada bagan 2.1

    berikut.

    Skema 2.1 Bagan patofisiologi kanker kolorektal

    (Sumber: Corwin, 2001; Smeltzer & Bare, 2002; Zhang, 2008)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 11

    Universitas Indonesia

    2.2.4 Pemeriksaan dan Diagnosis

    Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan abdomen

    dan colok dubur. Pemeriksaan abdomen dapat dilakukan dengan palpasi

    abdomen (tumor kecil atau tahap dini akan sulit teraba). Palpasi

    abdomen dapat juga untuk memeriksa adanya manifestasi klinis

    konstipasi, distensi dan nyeri tekan abdominal. Pemeriksaan colok

    dubur dilakukan untuk mengetahui langsung adanya massa pada

    rektum. Pemeriksaan ini biasanya akan terasa nyeri pada pasien, oleh

    karena itu pada saat pemeriksaan baiknya disertai dengan teknik

    relaksasi napas dalam pada pasien.

    Prosedur diagnostik yang dapat dilakukan untuk pemeriksaan kanker

    kolorektal adalah pengujian darah samar pada feses, foto kolon dengan

    enema barium atau kontras ganda, proctosigmoideoscopy (pemeriksaan

    rektum dan sigmoid dengan memasukkan selang berlampu melalui

    anus), dan kolonoskopi (pemeriksaan dengan serat optik). Smeltzer &

    Bare (2002) merekomendasikan pemeriksaan untuk individu dewasa

    dengan usia 50 tahun ke atas agar melakukan pemeriksaan kolonoskopi

    setiap 5-10 tahun serta pemeriksaan feses. Biopsi atau pengambilan

    sampel jaringan juga dapat dilakukan sebagai deteksi. Enam puluh

    persen dari kasus kolorektal dapat diidentifikasi melalui biopsi atau

    pengujian feses (Yamada et al, 1999 dalam Smeltzer & Bare, 2002).

    Pemeriksaan lain untuk deteksi kanker ialah pemeriksaan

    Carcinoembryogenic Antigen (CEA). Carcinomryogenic antigen dapat

    menjadi indikator untuk mendiagnosis kanker kolon, namun perlu

    diketahui bahwa tidak semua lesi pada kanker mensekresikan CEA

    (Corwin, 2001). Sel tumor ataupun kanker pada kolon dapat

    menyebabkan peningkatan level CEA, dimana normalnya akan kembali

    normal dalam 48 jam.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 12

    Universitas Indonesia

    Diagnosis kanker kolorektal berdasarkan stadium dan prognosisnya

    dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.

    Tabel 2.1 Stadium dan Prognosis Kanker Kolorektal

    (Sumber: Sudoyo, dkk, 2006)

    STADIUM Derajat Hispatologi

    Dukes TNM Derajat

    A T1N0M0 I Kanker terbatas pada

    mukosa/submukosa

    B1 T2N0M0 I Kanker mencapai muskularis

    B2 T2N0M0 II Kanker cenderung melewati lapisan

    serosa

    C TXN1M0 III Invasi ke dalam sistem limfe/KGB

    D TXNXM1 IV Metastasis tahap lanjut & penyebaran

    yang luas

    Keterangan:

    Tumor Primer (T)

    - T0: Tidak ada bukti tumor primer

    - T1: Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya

    - T2: Tumor > 2 cm tetap tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya

    - T3: Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya

    Nodus Limfe Regional (N)

    - N0: Tidak ada metastasis nodus limfe regional

    - N1: Metastasis ke nodus limfe yang dapat digerakkan

    Metastasis Jauh (M)

    - M0: Tidak ada metastasis yang jauh

    - M1: Metastasis jauh

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 13

    Universitas Indonesia

    2.2.5 Penatalaksanaan Kanker Kolorektal

    Penatalakasanaan pada pasien dengan kanker kolorektal meliputi

    penatalaksanaan medis, bedah dan keperawatan. Penatalaksanaan medis

    meliputi kemoterapi dan terapi radiasi. Kemoterapi merupakan terapi

    modalitas untuk mengeliminasi sel kanker. Idealnya, agen kemoterapi

    akan menyerang dan menghentikan pertumbuhan sel tumor, namun

    pada kenyataannya sel yang sehat juga ikut dimatikan. Efek ini

    akhirnya menimbulkan rasa mual, muntah dan rambut rontok. terapi

    medis yang kedua yaitu terapi radiasi. Terapi radiasi menggunakan

    radiasi terionisasi seperti sinar-X atau gamma (). Terapi radiasi

    memiliki tingkat penyembuhan yang tinggi untuk kasus kanker. Sinar

    radiasi yang dikirimkan akan diabsorbsi oleh sel, sehingga akan terjadi

    kehancuran pada mutasi DNA. Dosis dari radiasi biasanya dihitung

    dengan jumlah energi yang diserap per unit massa dangan standar unit

    atau satuan gray (Gy), atau satu joule per kilogram (Zhang, 2008).

    Ketika sampai pada sel tumor, dosis pada radiasi akan terbatas pada

    kerusakan di sel sehat yang ada di sekitar area radiasi.

    Seseorang yang mendapat terapi radiasi harus menjaga agar kulit pada

    area yang di radiasi tidak terkena dengan air karena dapat merusak kulit

    tersebut. Reaksi tidak langsung antara molekul air dengan ion pada

    sinar radiasi akan menjadi tidak stabil. Elektron yang mengelilingi atom

    hidrogen dan oksigen akan terpental keluar dari orbitnya, membuat

    molekul OH kekurangan elektron, menjadi OH- dan atom hidrogen

    menjadi kelebihan elektron (H+) (Tjokronagoro, 2004). Ion ini bersifat

    tidak stabil dan berubah menjadi H radikal dan OH radikal. Ion-ion

    radikal ini bersifat menyebabkan kerusakan pada inti sel yang berujung

    pada kematian sel.

    Penatalaksanaan bedah terhadap pasien kanker kolorektal meliputi

    reseksi segmental dan pembuatan kolostomi. Reseksi segmental dengan

    anastomosis dibutuhkan untuk mengangkat tumor dan sebagian kolon

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 14

    Universitas Indonesia

    yang terkena pertumbuhan tumor, berikut dengan pemuluh darah dan

    limfanya. Pengangkatan rektum (yang terkena kanker) tanpa merusak

    anus disebut sebagai Low anterior Resection (LAR). Pada operasi ini,

    setelah pengangkatan, kolon proksimal akan dihubungkan dengan

    bagian rektum. Operasi ini biasa dilakukan pada pasien dengan kanker

    kolorektal stadium II atau III pada bagian atas rektum (dekat

    perbatasan dengan kolon). Pembedahan lain yaitu pembedahan

    kolostom. Pembedahan kolostomi dapat berupa kolostomi sigmoid dan

    pengangkatan sebagian sigmoid, rektum dan sfingter ani. Pada pasien

    palliative care, kolostomi ataupun ileostomi permanen biasanya dibuat

    dengan tanpa mengangkat organ yang terkena kanker.

    Penatalaksanaan keperawatan terhadap pasien kanker kolorektal

    meliputi pemenuhan kebutuhan dasar pasien. Tindakan keperawatan

    yang dapat dilakukan adalah (Smeltzer & Bare, 2002):

    a Mempertahankan eliminasi pasien

    b Mempertahankan atau meningkatkan kenyamanan

    c Meningkatkan toleransi aktivitas

    d Membantu pemberian nutrisi optimal

    e Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

    f Melakukan perawatan kulit, luka dan kolostomi (pasca bedah)

    2.3 Kolostomi

    2.3.1 Definisi

    Kolostomi adalah pembuatan stoma atau lubang pada kolon atau usus

    besar (Smeltzer & Bare, 2002). Melville & Baker (2010) mengatakan

    kolostomi merupakan tindakan pembedahan untuk membuka jalan usus

    besar ke dinding abdomen anterior. Akhir atau ujung dari usus besar

    yang dikeluarkan pada abdomen disebut sebagai stoma. Stoma itu

    sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti mulut. Stoma bersifat

    basah, mengkilat dan permukaannya berwarna merah, seperti membran

    mukosa pada oral. Stoma tidak memiliki ujung syaraf sehingga tidak

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 15

    Universitas Indonesia

    terlalu sensitif terhadap sentuhan ataupun nyeri. Akan tetapi stoma kaya

    akan pembuluh darah dan mungkin dapat berdarah jika dilakukan

    pengusapan. Hal ini termasuk normal, hanya perlu diwaspadai jika

    darah yang keluar terus menerus dan dalam jumlah banyak.

    Kolostomi memungkinkan pasien dengan kanker kolorektal melakukan

    proses eleminasi BAB dengan lancar. Akan tetapi, berbeda dengan

    proses eliminasi normal, pasien tidak dapat mengontrol pengeluaran

    feses. Feses yang keluar dari stoma akan ditampung pada kantung

    kolostomi yang direkatkan pada abdomen. Pada awal pembedahan,

    konsistensi feses akan nampak lebih cair, namun akan membaik secara

    bertahap hingga mencapai konsistensi yang normal, sesuai dengan letak

    stoma pada kolon.

    2.3.2 Jenis Kolostomi

    a Loop Stoma atau transversal

    Loop stoma merupakan jenis kolostomi yang dibuat dengan

    membuat mengangkat usus ke permukaan abdomen, kemudian

    membuka dinding usus bagian anterior untuk memungkinkan jalan

    keluarnya feses. Biasanya pada loop stoma selama 7 hingga 10 hari

    pasca pembedahan disangga oleh semacam tangkai plastik agar

    mencegah stoma masuk kembali ke dalam rongga abdomen.

    Gambar 2.1 di bawah menunjukkan gambar dari loop stoma.

    Gambar 2.1 Loop Colostomy

    (Sumber: Melville & Baker, 2010)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 16

    Universitas Indonesia

    b End Stoma

    End stoma merupakan jenis kolostomi yang dibuat dengan

    memotong usus dan mengeluarkan ujung usus proksimal ke

    permukaan abdomen sebagai stoma tunggal. Usus bagian distal

    akan diangkat atau dijahit dan ditinggalkan dalam rongga

    abdomen. Gambar 2.2 menunjukkan gambar dari end stoma.

    Gambar 2.2 End Sigmoid

    (Sumber: Mellville & Baker, 2010)

    c Fistula Mukus

    Fistula mukus merupakan bagian usus distal yang dikeluarkan ke

    permukaan abdomen sebagai stoma nonfungsi. Biasanya fistula

    mukus terdapat pada jenis stoma double barrel dimana segmen

    proksimal dan distal usus di keluarkan ke dinding abdomen sebagai

    dua stoma yang terpisah, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3

    berikut.

    Gambar 2.3 End Colostomy dan Fistula Mukus

    (Sumber: Mellville & Baker, 2010)

    d Tube Caecostomies

    Stoma pada Tube Caecostomies bukan merupakan stoma dari

    kolon, karena kolon tidak dikeluarkan hingga ke permukaan

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 17

    Universitas Indonesia

    abdomen. Tipe kolostomi ini menggunakan kateter foley yang

    masuk ke dalam sekum hingga ujung apendiks pasca operasi

    apendiktomi melalui dinding abdomen. Kateter ini membutuhkan

    irigasi secara teratur untuk mencegah sumbatan

    2.3.3 Masalah Kesehatan yang Terjadi akibat Kolostomi

    Masalah yang banyak terjadi pasca pembuatan kolostomi adalah

    iritasi pada kulit di sekitar stoma (Smeltzer & Bare, 2002). Iritasi pada

    area kulit peristomal banyak terjadi terutama pada lansia, disebabkan

    oleh lapisan epitel dan lemak subkutan yang semakin tipis karena

    proses penuaan sehingga kulit menjadi semakin mudah mengalami

    iritasi (Smeltzer & Bare, 2002). Pada dasarnya, bahan pada kantong

    kolostomi yang menempel pada permukaan kulit sudah didesain agar

    tidak menyebabkan iritasi pada kulit (WOCN, 2008). Ostomate

    (individu yang memiliki stoma) dengan kulit yang sensitif mungkin

    membutuhkan tes skin patch jika mengeluhkan adanya beberapa

    reaksi terhadap penempelan beberapa kantong kolostomi. Gambar 2.4

    menunjukkan gambar area kulit yang mengalami alergi terhadap

    pemasangan kantong kolostomi.

    Gambar 2.4 Allergic Contact Dermatitis

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    Individu yang memiliki stoma memiliki resiko terkena infeksi

    Candida albicans yang biasa dikenal sebagai infeksi ragi atau jamur

    (Eucomed, 2012). Hal ini dikarenakan kulit peristomal memiliki

    karakteristik hangat, lembap dan tertutup (oleh kantong kolostomi)

    dimana lingkungan ini kondusif terhadap pertumbuhan jamur. Kulit

    yang terkena infeksi ini akan berubah menjadi kemerahan dan terasa

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 18

    Universitas Indonesia

    gatal. Medikasi topical antifungal dapat dioleskan pada area yang

    terkena infeksi. Gambar 2.5 menunjukkan gambar kulit peristomal

    yang terkena infeksi Candida albicans.

    Gambar 2.5 Infeksi Candida albicans

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    Rasa gatal, panas dan seperti terbakar pada area penempelan kantong

    kolostomi mengindikasikan adanya lecet, ruam ataupun infeksi pada

    kulit (WOCN, 2008). Hal terpenting dalam pencegahan infeksi pada

    kulit adalah dengan melakukan perawatan kulit peristomal dengan

    baik. Pemasangan kantong kolostomi yang sesuai dengan stoma

    merupakan pencegahan utama terjadinya iritasi dan infeksi pada kulit.

    Skin barrier (dalam bentuk salep ataupun bedak) dapat diberikan pada

    area peristomal 30 detik sebelum kantong kolostomi ditempelkan

    pada kulit (Smeltzer & Bare, 2002).

    Masalah lain yang biasa dikeluhkan oleh ostomate adalah pengeluaran

    gas dan bau dari stoma, konstipasi dan diare (Eucomed, 2012).

    Pengeluaran gas dan bau pada stoma menjadi masalah pada ostomate

    karena berbeda dengan pengeluaran melalui anus, pengeluarannya

    melalui stoma tidak dapat dikontrol. Gas yang terdapat pada saluran

    pencernaan didapatkan dari beberapa jenis makanan seperti makanan

    berpengawet, brokoli, kubis, jagung, timun, bawang, dan lobak. Gas

    juga didapatkan dari menelan udara (secara tak sengaja) pada saat

    berbicara, makan, merokok dan sebagainya (Eucomed, 2012). Oleh

    karena itu ostomate dianjurkan untuk mengunyah makanan secara

    perlahan untuk meminimalkan udara yang masuk. Bau pada gas atau

    feses yang dikeluarkan juga dapat diakibatkan oleh beberapa makanan

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 19

    Universitas Indonesia

    seperti telur, keju, ikan, bawang, dan kubis (Canada Care Medical,

    n.d).

    Konstipasi dapat terjadi pada ostomate akibat diet yang tidak

    seimbang, serta intake makanan berserat ataupun cairan yang kurang

    (Gutman, 2011). Apabila ostomate mengalami konstipasi maka perlu

    peningkatan asupan makanan berserat seperti gandum, sayur dan buat,

    serta asupan cairan. Hampton (2007) merekomendasikan minimal

    konsumsi 8-10 gelas air per hari, atau 1,5 hingga 2 liter air per hari

    (dapat termasuk teh, kopi ataupun jus). Melakukan aktivitas fisik

    ringan seperti bersepeda, jogging juga dapat membantu meningkatkan

    pergerakan bowel dan mengatasi konstipasi.

    Diare merupakan bertambahnya kompisisi cairan pada feses disertai

    dengan frekuensi BAB yang meningkat dari kebiasaan normal

    individu (Eucomed, 2012). Akibat dari diare adalah hilangnya cairan

    dan elektrolit pada tubuh indvidu. Diare umumnya terjadi pada pasien

    dengan ileostomi namun dapat terjadi juga pada klien dengan

    kolostomi. Individu dengan pembuatan stoma di kolon asenden dan

    transversal akan mengalami perubahan konsistensi feses seperti diare,

    namun hal ini normal karena penyerapan air pada kolon asenden dan

    transversal masih minimal. Penatalaksanaan diare, seperti halnya

    konstipasi, meliputi manajemen diet. Pada saat diare terjadi, individu

    akan beresiko kehilangan banyak kalium, sehingga butuh asupan

    makanan mengandung kalium seperti pisang, jeruk, tomat, ubi,

    kentang, dan gandum (Canada Care Medical, n.d).

    2.3.4 Komplikasi Stoma

    Komplikasi atau masalah pada stoma dapat muncul setelah

    pembedahan kolostomi, di antaranya paling banyak terjadi pada tahun

    pertama pasca pembedahan (Truven Health Analytics, 2012).

    Beberapa komplikasi akan dijelaskan sebagai berikut:

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 20

    Universitas Indonesia

    a Retraksi Stoma

    Retraksi merupakan kondisi dimana stoma tertarik ke dalam

    abdomen. Retraksi dapat terjadi bila kolon tidak segera aktif pasca

    pembedahan kolostomi. Bertambahnya berat badan juga

    memungkinkan untuk terjadinya retraksi. Tipe kantong kolostoma

    harus disesuaikan agar pas dengan bentuk stoma setelah terjadi

    retraksi. Retraksi belum menjadi sebuah komplikasi berat dari

    stoma jika retraksi stoma ke dalam abdomen < 5 cm dari batas

    permukaan abdomen. Gambar berikut merupakan contoh dari

    retraksi stoma.

    Gambar 2.6 Retraksi Stoma

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    b Hernia Peristomal

    Hernia dapat terjadi bila ada bagian dari kolon di dalam abdomen

    yang menekan atau menonjol di area sekitar stoma. Hernia akan

    tampak semakin jelas ketika pasien sedang duduk, batuk ataupun

    mendesak abdomen (peningkatan tekanan intra abdomen).

    Beberapa pasien membutuhkan penggunaan sabuk khusus,

    ataupun rekomendasi untuk operasi guna memperbaiki kondisi

    hernia tersebut. Gambar berikut merupakan contoh hernia

    peristomal.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 21

    Universitas Indonesia

    Gambar 2.7 Hernia Peristomal

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    c Prolaps

    Prolaps dapat terjadi akibat proses pembukaan dinding abdomen

    yang terlalu lebar, fiksasi bowel pada dinding abdomen yang tidak

    adekuat ataupun akibat peningkatan tekanan intra abdomen.

    Prolaps yang disertai dengan iskemia atau obstruksi bowel,

    ataupun prolaps yang berulang dapat direkomendasikan untuk

    pembedahan ulang. Gambar stoma yang mengalami prolaps akan

    ditampilkan pada gambar 2.8.

    Gambar 2.8 Prolaps pada Stoma

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    d Perdarahan

    Perdarahan stoma segera setelah operasi disebabkan oleh

    hemostasis yang tidak adekuat selama konstruksi stoma. Penyebab

    lain yang mungkin mengakibatkan perdarahan adalah adanya

    penyakit penyerta hipertensi portal, trauma oleh ujung tube saat

    irigasi atau pencukuran area sekitar abdomen atau cedera.

    Perdarahan ringan kadang memerlukan agen hemostasis topical,

    atau hanya penekanan langsung. Perdarahan masif atau berulang

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 22

    Universitas Indonesia

    memerlukan penanganan faktor penyebab perdarahan, sedangkan

    pasien dengan hipertensi portal memerlukan sclerotheraphy atau

    portosystemic shunting.

    e Iskemik dan Nekrosis Stoma

    Iskemik dan nekrosis stoma dapat terjadi akibat adanya penekanan

    pada pembuluh darah sekitar stoma. Stoma yang baru dibuat

    melalui operasi harus di observasi setiap 4 jam sekali untuk

    mengkaji kondisi stoma, apakah suplai darah ke stoma adekuat

    atau tidak. Stoma yang tersuplai darah yang baik berwarna merah

    ataupun pink. Stoma yang berwarna ungu, coklat atau hitam

    menunjukkan adanya suplai darah yang inadekuat. Stoma yang

    sudah nekrotik membutuhkan operasi sebagai intervensi utama.

    Gambar 2.9 Nekrosis pada Stoma

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    f Stenosis

    Stenosis merupakan penyempitan atau konstriksi pada ujung

    stoma. Hal ini dapat terjadi akibat adanya pembentukan jaringan

    scar di sekitar stoma yang menyebabkan stoma berangsur

    terhimpit dan menyempit. Gambar 2.10 menunjukkan stoma yang

    mengalami stenosis.

    Gambar 2.10 Stenosis pada Stoma

    (Sumber: Eucomed, 2012)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 23

    Universitas Indonesia

    2.3.5 Asuhan Keperawatan Pasien dengan Kolostomi

    a Perawatan Kolostomi

    Kolostomi akan mulai berfungsi optimal sekitar 3-6 hari pasca

    pembedahan (Smeltzer & Bare, 2002). Perawatan kolostomi yang

    rutin akan dilakukan oleh pasien ataupun care giver baik di rumah

    sakit ataupun di rumah ialah mengganti kantong kolostomi dan

    membersihkan stoma. Kantong kolostomi adalah wadah untuk

    menampung feses yang keluar dari stoma. Kantong kolostomi

    dibuat dari material disposable atau digunakan hanya sekali, lalu

    dibuang. Jenis kantong kolostomi saat ini cukup beragam.

    Kantong kolostomi yang biasa digunakan ialah kantong kolostomi

    one-piece tertutup yang jika terisi harus segera dibuang dan

    diganti. Kantong kolostomi one-piece drainable memungkinkan

    pasien untuk membuang feses yang ada dalam kantong dengan

    membuka lubang yang ada di bawah kantong, seperti yang terlihat

    pada gambar 2.11 berikut.

    Gambar 2.11 Kantong Kolostomi

    (keterangan gambar dari kiri ke kanan: kantong one-piece

    drainable,kantong one-piece tertutup, drainable pouch untuk

    sistem two-pieces, flange untuk sistem two-pieces)

    (Sumber: Gutman, 2011)

    Perawatan kolostomi yang pertama ialah cara mengganti kantong

    kolostomi dan membersihkan area stoma. Kantong kolostomi

    sebaiknya dikosongkan atau diganti ketika kantong sudah terisi

    1/3 bagian agar pasien tetap nyaman dengan kantong

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 24

    Universitas Indonesia

    kolostominya. Kantong kolostomi yang dapat dikosongkan,

    dibersihkan dan digunakan kembali adalah jenis kantong

    kolostomi two-piece system atau kantong yang memiliki lubang

    drainase di bawahnya. Truven Health Analytics Inc. (2012)

    memaparkan, kantong kolostomi harus dikosongkan jika sudah

    1/3 atau 1/2 penuh. Kantong kolostomi yang penuh akan menjadi

    berat dan dapat merusak perlengketan kantong kolostomi dengan

    kulit abdomen, selain itu kantong akan beresiko untuk robek atau

    rusak karena beban dalam kantong meningkat. Kantong

    kolostomi yang penuh juga akan membuat benjolan di balik

    pakaian dan dapat mengganggu penampilan. Kantong kolostomi

    drainable dapat dikosongkan dengan menekan bagian bawah

    kantong, kemudian mengeluarkan feses langsung ke dalam toilet.

    Kemudian kantong dapat dibersihkan atau dibilas meskipun

    Truven Health Analytics Inc mengatakan hal ini tidak begitu

    penting untuk dilakukan. Gambar 2.12 menunjukkan cara

    mengosongkan kantong kolostomi.

    Gambar 2.12 Cara Mengosongkan Kantong Kolostomi

    (Sumber: Truven Health Analytics Inc, 2012)

    Burch (2008) dalam Burch (2013) menyatakan mayoritas pasien

    dengan kolostomi mengganti kantong kolostominya 3 kali sehari

    hingga 3 kali seminggu, dengan rata-rata penggantian kolostomi

    secara rutin selama satu hari sekali. Ketika akan mengganti

    dengan kantong yang baru, perhatikan ukuran dari lubang kantong

    kolostomi. Ukuran lubang kantong kolostomi harus sesuai dengan

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 25

    Universitas Indonesia

    stoma, beri kelonggaran sekitar 1/8 inci atau sekitar 0,3 cm

    (Canada Care Medical, n.d). Penggantian kantong kolostomi

    dimulai dengan melepaskan perlekatan kantong kolostomi dengan

    kulit abdomen secara perlahan sambil sedikit menekan kulit

    abdomen yang menempel dengan kantong, kemudian bersihkan

    stoma. Stoma dibersihkan dengan air, jika ingin menggunakan

    sabun, gunakan sabun yang tidak mengandung minyak ataupun

    parfum karena dapat mengiritasi (Truven Health Analytics Inc,

    2012). Kulit di sekitar stoma harus dijaga agar tetap kering.

    Perawatan kolostomi erat kaitannya dengan perawatan kulit.

    Perawatan kulit di sekitar stoma dilakukan bersamaan dengan

    penggantian kantong kolostomi. Beberapa orang menggunakan air

    hangat saat melepaskan kantong stoma dari kulit abdomen, agar

    lebih mudah dan nyaman pada kulit. Terkadang kulit akan terlihat

    kemerahan atau lebih gelap segera setelah perekat kantong

    kolostomi dilepaskan, namun akan segera normal beberapa menit

    (WOCN Society, 2008). Hal ini dimungkinkan karena terjadi

    penekanan pada area kulit selama kantong terpasang, atau kantong

    kolostomi dilepaskan secara cepat dari kulit abdomen.

    Pasien ataupun care giver dapat sekaligus mengobservasi stoma

    setiap mengganti kantong kolostomi. Stoma yang normal akan

    terlihat merah atau pink terang, lembap, tidak mengerut dan

    tampak seperti membran mukosa oral (Borwell, 2011). Stoma

    normal akan memiliki produksi feses, tidak ada sumbatan serta

    tidak ada nyeri. Stoma yang tidak sehat atau mengalami nekrosis

    ditunjukkan dengan warna hitam atau biru kehitaman. Permukaan

    stoma yang tidak sehat akan tampak kering, terdapat darah yang

    terus keluar, stoma menonjol atau masuk ke dalam sebanyak 5

    cm, ujung stoma mengerut, sedikit atau tidak ada produksi feses

    dan terdapat nyeri pada area stoma.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 26

    Universitas Indonesia

    Hal lain yang perlu diperhatikan dalam perawatan kolostomi ialah

    terkait perubahan eliminasi BAB. Pasien dengan kolostomi tidak

    dapat mengontrol BAB sehingga akan beresiko mengalami

    gangguan eliminasi BAB. Tindakan perawatan yang dapat

    dilakukan adalah irigasi kolostomi. Irigasi kolostomi merupakan

    suatu cara untuk mengeluarkan isi kolon (feses), yang dilakukan

    secara terjadwal dengan memasukkan sejumlah air dengan suhu

    yang sama dengan tubuh (hangat) (Putri, 2011). Irigasi

    memungkinkan pasien untuk menjadwalkan pengeluaran feses

    dari stomanya. Pergerakan bowel baiknya dalam keadaan regular

    dan bebas dari masalah saat akan dilakukan irigasi kolostomi.

    Irigasi kolostomi tidak dapat dilakukan bila pasien mengalami

    iritasi pada ususnya, prolaps stoma, hernia peristomal ataupun

    komplikasi stoma lainnya (Putri, 2011). Irigasi stoma juga tidak

    dapat dilakukan pada stoma yang terdapat pada kolon asenden dan

    tranversal.

    Alat yang dapat digunakan untuk proses irigasi kolostomi meliputi

    kontainer atau wadah air, tube (selang untuk mengalirkan cairan),

    cone dan plastic sleeve (Burch, 2013). Plastic sleeve berguna

    untuk mengalirkan keluaran feses dan cairan irigasi ke dalam

    toilet.

    Gambar 2.13 Water Container, Tube, Cone & Plastic Sleeve

    (Sumber: Gutman, 2011)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 27

    Universitas Indonesia

    Cara melakukan irigasi adalah sebagai berikut (Burch, 2013;

    Putri, 2011; Smeltzer & Bare, 2002):

    Isi wadah dengan air hangat, tinggikan setinggi bahu (posisi

    duduk di toilet)

    Alirkan cairan irigasi hingga ke ujung selang (membuang

    udara yang ada di sepanjang selang)

    Posisikan kantong stoma (plastic sleeve) ke toilet

    Olesi pelumas atau pelicin cone (jelly) sebelum masuk ke

    stoma

    Masukkan cone kedalam stoma dengan perlahan, kemudian

    alirkan cairan sebanyak 300-500cc

    Untuk hasil yang maksimal, alirkan kembali 500cc-1000cc,

    tahan selama 10 detik setelah cairan mengalir

    Biarkan feses, cairan dan flatus keluar dari stoma menuju

    toilet melalui sleeve selama 10-15 menit.

    Tutup kantong atau ganti kantong dengan kantong kolostomi

    biasa dan bereskan alat.

    Gambar 2.14 Irigasi Kolostomi

    (Sumber: Smeltzer & Bare, 2002)

    Setelah irigasi selesai dilakukan, pasien dapat melakukan

    aktivitas, meskipun selama 30-45 menit akan tetap ada

    pengeluaran baik feses, cairan ataupun flatus. Setelah bersih,

    kantong kolostomi dapat diganti kembali seperti biasa. Readding

    (2006) dalam Burch (2013) mengatakan ketika irigasi selesai

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 28

    Universitas Indonesia

    dilakukan, small cap untuk stoma dapat digunakan untuk

    memungkinkan pasien terbebas dari pengeluaran feses dan flatus

    hingga irigasi selanjutnya.

    b Diet Nutrisi

    Pasien dengan kolostomi tidak dapat mengontrol pengeluaran

    feses dan flatus, oleh karena itu edukasi terkait nutrisi perlu

    diberikan kepada pasien agar terhindar dari gangguan odor

    ataupun konsistensi feses yang tidak normal. Beberapa hal yang

    perlu diperhatikan terkait nutrisi pada pasien dengan kolostomi

    ialah (Canada Care Medical, n.d; Gutman, 2011) :

    Mengurangi makanan yang menimbulkan bau, yaitu kubis,

    kol, keju, telur, ikan, kacang polong, bawang, jengkol, pete

    Mengurangi makanan yang mengandung gas seperti dengan

    brokoli, kubis, bawang, timun, jagung dan lobak, serta makan

    secara perlahan dengan mulut tertutup untuk meminimalkan

    udara yang masuk ke dalam sistem pencernaan.

    Menambah makanan yang mengandung potassium seperti

    pisang, daging (non lemak), jeruk, tomat, kentang jika

    mengalami diare. Kurangi konsumsi keju, selai kacang, dan

    susu.

    Mengatasi konstipasi (jika terjadi) dengan menambah

    makanan tinggi serat

    Makan tiga kali sehari penting untuk meningkatkan aktivitas

    usus dan mencegah produksi gas

    Gangguan pada pencernaan dapat juga berasal dari tekanan

    emosional, stress, atau kurangnya aktivitas fisik

    c Toleransi Aktivitas

    Individu dengan kolostomi dapat beraktivitas sebagaimana

    individu lainnya. Hanya saja dalam pemilihan jenis olahraga,

    hindari olahraga yang membutuhkan kontak fisik yang keras yang

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 29

    Universitas Indonesia

    mungkin dapat menyebabkan cedera pada abdomen (khususnya

    stoma). Ostomate juga dapat melakukan olahraga renang dengan

    memilih desain baju renang yang menutupi kantong kolostomi

    yang terpasang pada abdomen, serta desain baju yang sedikit ketat

    agar lebih nyaman saat berenang. Kantong kolostomi harus tetap

    terpasang saat berenang untuk menjaga kebersihan stoma. Perekat

    waterproof dapat ditambahkan untuk lebih merekatkan kantong

    kolostomi pada kulit abdomen, jika dibutuhkan. Kantong

    kolostomi baiknya dikosongkan sesaat sebelum berenang,

    kemudian hindari makan berat atau banyak sebelum melakukan

    olahraga renang.

    Ostomate dapat melakukan traveling, tentunya dengan persiapan

    penggantian kantong kolostomi yang cukup. Bagi ostomate yang

    melakukan irigasi secara rutin, tetap harus berhati-hati dalam

    penggunaan air untuk irigasi. Apabila air yang ada di lokasi

    travelling mungkin dinyatakan tidak aman untuk dikonsumsi,

    maka jika ingin digunakan untuk kolostomi, air tersebut harus

    direbus terlebih dahulu, kemudian di diamkan dalam temperatur

    ruangan dan dapat digunakan untuk irigasi (Canada Care

    Medical, n.d).

    d Support Sosial

    Individu yang baru memiliki stoma biasanya akan ragu dan

    bertanya, bagaimana mereka dapat hidup dengan stoma pada

    tubuhnya, apakah mereka masih dapat menjalin hubungan dengan

    keluarga, relasi ataupun partner kerja, serta apa yang akan terjadi

    bila tiba-tiba kantong kolostomi yang sedang terpasang robek

    (Burch, 2013). Ketidakyakinan ini dapat diantisipasi dengan

    adanya kehadiran perawat spesialis ataupun support group (Ferrer

    et al, 2010 dalam Burch, 2013). Berbagi pada orang yang

    dipercaya, teman, keluarga, perawat, guru spiritual, serta orang

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 30

    Universitas Indonesia

    lain yang juga memiliki stoma dapat mengurangi

    ketidaknyamanan tersebut. Selain support sosial, ostomate juga

    harus memiliki pandangan positif terhadap hidupnya, kesabaran

    dan sensasi humor untuk menghadapi setiap situasi sosial yang

    dirasakan terkait kolostominya.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 31 Universitas Indonesia

    BAB III

    LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

    3.1 Pengkajian Keperawatan

    3.1.1 Informasi Umum

    1. Nama Klien : Ny. R

    2. Usia : 31 tahun

    3. Tanggal Lahir : 6 Mei 1982

    4. Jenis Kelamin : Perempuan

    5. Suku Bangsa : Sunda

    6. Agama : Islam

    7. Tanggal Masuk : 27 Maret 2013

    8. Diagnosa Medis : Adenoca. Rektosigmoid T4NXM1 1/3 distal

    3.1.2 Anamnesa

    1. Keluhan Utama

    Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual (+), muntah (-), klien

    merasa berat badannya menurun. Klien mengatakan kulit di area

    selangkangan menghitam dan kering, terkadang nyeri di area

    tersebut. Klien juga mengeluhkan dirinya sering bolak-balik ke

    kamar mandi untuk BAK, klien bingung mengapa ia menjadi sering

    BAK. Klien mengeluhkan sering BAB tiba-tiba dengan waktu yang

    tak teratur melalui lubang kolostominya. Klien saat ini sedang

    mendapat terapi radiasi hari ke-20 dan kemoterapi oral hari pertama.

    2. Alasan Masuk / dirawat di RS

    Klien merupakan klien rujukan dari rumah sakit lain. Klien

    mengeluhkan ada benjolan yang pecah pada area bokong hingga

    keluar nanah dan lendir yang berbau. Klien mengeluhkan BAB

    campur darah 1 bulan SMRS.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 32

    Universitas Indonesia

    3. Riwayat Penyakit Sebelumnya

    Klien mengatakan 2 bulan SMRS merasakan ada benjolan (polip)

    pada area bokong dan anus, kemudian atas saran orang tua, dioleskan

    benjolan tersebut dengan kentang, akhirnya benjolan tersebut pecah.

    Penyakit penyerta HT, DM, Asma disangkal. Tidak ada keluarga

    yang menderita sakit tumor atau sejenisnya.

    Klien sebelum masuk rumah sakit tidak begitu suka mengkonsumsi

    sayuran dan buah. Klien merasa dulu sering mengalami susah BAB

    atau konsistensi feses yang terlalu padat, namun tidak sampai nyeri

    atau tegang pada abdomen. Klien suka mengkonsumsi aneka olahan

    daging. Klien tidak ada kegemaran terhadap olahraga.

    3.1.3 Pengkajian dengan Pendekatan Sistem Tubuh

    1. Aktivitas/Istirahat

    Klien bekerja sebagai guru SD. Klien senang bercakap-cakap.

    Akktivitas di waktu senggang neliputi membaca, mengobrol dengan

    orang sekitar. Waktu tidur tidak tentu, klien merasa cukup dengan

    tidurnya, dan tidak merasa sulit tidur. Namun akhir-akhir ini klien

    tidak dapat tidur kurang lebih sejak pukul 2 dini hari hingga subuh

    karena sakit pada area selangkangan. Klien terlihat sedikit lemas, dan

    sering merasa bosan karena sudah berada di RS sejak lama. Keadaan

    umum baik, kesadaran compus mentis, rentang gerak baik,

    deformitas (-), tremor (-), postur saat berdiri kaki agak

    mengangkang, kekuatan otot 5555 | 5555

    5555 | 5555

    2. Sirkulasi

    Tidak ada riwayat hipertensi / sakit jantung pada klien. Edema

    periorbital (-), edema ekstremitas (-), kesemutan (-), kebas (-). TD:

    100/70 mmHg, MAP: 80 mmHg, Frekuensi nadi: 80x/menit, Suhu:

    36C. Bunyi jantung S1 & S2, murmur (-), gallop (-). Warna kulit

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 33

    Universitas Indonesia

    pada telapak tangan pink kemerahan, pengisian kapiler

  • 34

    Universitas Indonesia

    menghabiskan seluruh porsi makanannya, namun jika mualnya

    kambuh, ia bisa tidak makan sama sekali di pagi hari, hanya habis

    setengah porsi di siang hari, dan 3/4 porsi pada malam hari. Klien

    mengatakan tidak suka makan yang manis-manis saat ini karena

    merasa mual. Klien mengatakan dalam satu hari dapat minum 1800

    hingga 2640 cc air putih (hitungan 1 botol air minum). Berat badan

    klien SMRS 51 kg, 1 minggu sebelum pengkajian 44 kg, berat saat

    ini 41 kg. TB: 160 cm. IMT: 16,20kg/m2. LILA: 20 cm. Klien

    sedang mendapat terapi radiasi, hari ke 20.

    5. Hygiene

    Klien mandi 2x sehari di kamar mandi, namun hanya mengelap

    badan (karena area selangkangan dan lateral kanan abdomen tidak

    boleh dibasuh air). Klien menggunakan pembalut karena terkadang

    keluar cairan dan lendir dari anusnya. Klien menggosok gigi setiap

    mandi pagi dan sebelum tidur, serta mengganti pakaiannya setiap

    hari.

    6. Neurosensori

    Klien tidak mengeluhkan sakit kepala, status mental baik, kesadaran

    compus mentis, orientasi waktu, tempat dan orang: baik, klien

    kooperatif, memori saat ini dan masa lalu baik, penggunaan alat

    bantu baca (-), lensa kontak (-), alat bantu dengar (-), pupil isokor,

    reaksi pupil 2mm/2mm.

    7. Nyeri

    Klien mengeluhkan nyeri pada area selangkangan, dengan skala 2-3.

    Biasanya terasa lebih sakit di malam hari, menyebabkan klien

    terbangun dini hari. Klien terlihat mengerutkan muka saat nyeri

    datang. Klien tampak berjalan perlahan dan mengangkang, dan

    melindungi area yang sakit saat berbaring di tempat tidur.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 35

    Universitas Indonesia

    8. Pernapasan

    Klien tidak mengeluhkan sesak, tidak ada riwayat merokok. Klien

    tidak sedang batuk, bunyi napas vesikuler, wheezing (-), ronki (-),

    krekels (-), RR:18x/menit, tidak ada penggunaan otot bantu napas,

    klien asianosis.

    9. Keamanan

    Klien tidak memiliki riwayat alergi, suhu badan 36C, integritas kulit

    baik, hanya pada bokong, perut dan selangkangan tampak kering,

    dan kehitaman. Kulit pada area selangkangan tampak mengelupas

    dan kemerahan.

    10. Interaksi Sosial

    Klien berinteraksi dengan sesama pasien di kamar rawat dengan

    baik. Pada saat maghrib (setelah sholat) klien memandu pasien yang

    ada di kamar untuk mengaji. Pasien yang ada di sebelah Ny. R

    merasa senang dengan keberadaan Ny. R yang dapat dijadikan

    teman ngobrol, berbagi cerita serta memberikan support.

    3.2 Pemeriksaan Penunjang

    Pemeriksaan penunjang pada Ny.R meliputi:

    1. Pemeriksaan Laboratorium (4 Mei 2013)

    Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratoriom Ny. R

    Jenis Pemeriksaan Nilai Keterangan

    Hematologi:

    Hemoglobin

    Hematokrit

    Eritrosit

    Leukosit

    Trombosit

    MCV

    MCH

    MCHC

    11,5 g/dl

    36 %

    4,3 juta/ul

    4300/ul

    227.000/ul

    84fL

    27 pg

    32 g/dl

    Menurun

    Menurun

    Normal

    Menurun

    Normal

    Normal

    Normal

    Normal

    Kimia Klinik

    SGOT

    SGPT

    14 U/L

    10 U/L

    Normal

    Normal

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 36

    Universitas Indonesia

    Ureum

    Kreatinin

    Na

    K

    Cl

    21 mg/dL

    0,7 mg/dL

    141 mmol/L

    4,3 mmol/L

    101 mmol/L

    Normal

    Normal

    Normal

    Normal

    Normal

    2. Pemeriksaan Histopatologi (27 Maret 2013)

    Hasil: Rektosigmoid adenocarcinoma poorly differentiated

    3. Pemeriksaan MSCT-Scan abdomen (22 Maret 2013)

    Hasil: Massa isodens inhomogen daerah rectosigmoid yang berbatasan

    langsung dengan uterus dan memberikan enchancement inhomogen,

    hepatomegali ringan, suspek metastase ke lien, gambaran ileus obstruktif

    partial, MSCT-scan gallbladder, pancreas, ginjal dan vesica urinaria dalam

    batas normal.

    3.3 Daftar Terapi Medis

    Tabel 3.2 Daftar Terapi Medikasi Ny. R

    Nama Obat Rute Frekuensi Waktu Pemberian

    (Jam)

    Rantin Oral 2 x 1 18.00, & 06.00

    Tramadol Oral 3 x 1 12.00, 18.00, & 06.00

    Neurobion Oral 2 x 1 18.00, & 06.00

    Sangobiad Oral 2 x 1 18.00, & 06.00

    Meloderm Topikal 2 x 1 18.00, & 06.00

    Radiocare Topikal 1 x 1 06.00

    Xeloda Oral 2 x 2 20.00 & 07.00

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 37

    Universitas Indonesia

    3.4 Analisa Data

    Tabel 3.3 Analisa Data dan Masalah Keperawatan Ny. R

    No Data Masalah Keperawatan

    1 DS: Klien mengatakan

    - Mual, tidak nafsu makan

    - Sering tidak sarapan, makan siang hanya

    habis 1/2 porsi, makan malam tidak habis

    satu porsi

    - Merasa berat badannya menurun, sebelum

    masuk RS BB 51 kg, seminggu lalu 44 kg

    DO:

    - Klien tampak kurus

    - BB: 41 kg, TB: 160 cm, IMT: 16,02 kg/m2

    - LILA: 20 cm

    - Klien mengalami penurunan BB sebanyak

    3 kg dalam satu minggu (dari 44 kg menjadi

    41 kg)

    - Klien mendapat terapi radiasi, hari ke 20

    - Klien mendapat kemoterapi oral, hari ke 1

    Ketidakseimbangan

    nutrisi kurang dari

    kebutuhan tubuh

    2 DS: klien menyatakan

    - Sakit pada kulit dekat stoma dan

    selangkangan, kulit juga terasa kering

    - kadang tetap membasuh selangkangan

    dengan air karena merasa kurang bersih jika

    hanya dengan tisu basah

    DO:

    - Kulit pada area perut dan selangkangan

    tampak kehitaman dan kering

    - Tampak luka pada kulit pinggiran stoma

    berukuran 0,3 cm, pus (-), darah (-)

    - Terdapat kulit yang kemerahan dan

    mengelupas pada area selangkangan

    - Kien mendapat terapi radiasi, hari ke 20

    Kerusakan Integritas

    Kulit

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 38

    Universitas Indonesia

    - Klien tampak berjalan perlahan dan

    mengangkang

    3 DS: Klien mengatakan:

    nyeri pada area selangkangan, serta nyeri

    pada area luka di pinggiran stoma jika

    dipegang atau terkena gesekan

    DO:

    - Skala nyeri 2 pada selangkangan jika

    menggerakkan kaki

    - Skala nyeri 2-3 pada luka di pinggiran

    stoma jika dipegang, ditekan atau terkena

    gesekan

    - Klien tampak berjalan perlahan dan

    mengangkang

    - Klien tampak melindungi area yang sakit

    saat berbaring di tempat tidur

    Nyeri Akut

    4 DS: Klien mengatakan

    - Sering BAB tiba-tiba dengan waktu yang

    tidak tentu

    - Frekuensi BAB dalam sehari 4-5x

    - Ingin BAB hanya 1-2x sehari seperti orang

    normal

    - Merasa terganggu dengan pola

    eliminasinya saat ini

    DO:

    - Klien memiliki stoma/kolostomi pada

    abdomen kuadran kiri bawah

    - Bising usus 5x/menit

    Inkontinensia alvi

    (Gangguan eliminasi

    fekal)

    5 DS: Klien mengatakan

    - Sering bolak balik kamar mandi untuk

    BAK

    - Merasa bingung kenapa ia jadi sering

    Gangguan eliminasi urin

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 39

    Universitas Indonesia

    BAK

    - BAK 5-6x sehari

    DO:

    - Klien mendapat terapi radiasi di area

    abdomen bawah, hari ke 20

    3.5 Rencana Asuhan Keperawatan

    1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 x 24 jam, klien

    menunjukkan tanda-tanda:

    - Klien menghabiskan satu porsi makan pagi, siang dan malam setiap

    harinya

    - Klien tidak mengalami penurunan BB

    - Adanya penambahan BB, IMT target: 16,5 kg/m2

    Intervensi mandiri:

    - Pantau asupan makanan setiap hari. Rasional: mengidentifikasi

    kekuatan/defisiensi nutrisi berdasarkan asupan makanan

    - Timbang BB serta hitung IMT berkala. Rasional: Mengidentifikasi status

    nutrisi klien berdasarkan perhitungan IMT

    - Awasi anoreksia, mual, muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan

    terapi dan obat. Awasi frekuensi, volume dan konsistensi feses. Rasional:

    mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah

    untuk meningkatkan pemasukan nutrisi

    - Dorong dan berikan periode istirahat yang sering. Rasional: Membantu

    menghemat tenaga, dan menurunkan kebutuhan metabolik

    - Motivasi oral hygiene. Rasional: Meningkatkan nafsu makan

    - Ciptakan suasana makan yang menyenangkan, makan bersama keluarga

    yang menunggu / berkunjung, atau pasien lain di ruangan. Rasional:

    Membuat kondisi makan yang lebih menyenangkan dan dapat

    meningkatkan masukan nutrisi

    Intervensi kolaborasi:

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 40

    Universitas Indonesia

    - Rujuk ke ahli gizi untuk penentuan komposisi diet. Rasional: Memberi

    bantuan perencanaan diet dengan nutrisi adekuat

    - Berikan medikasi anti emetic sesuai indikasi. Rasional: mengurangi rasa

    mual

    - Awasi pemeriksaan lab seperti BUN, protein serum, albumin. Rasional:

    nilai yang rendah menunjukkan adanya malnutrisi.

    2. Kerusakan Integritas Kulit

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 x 24 jam klien

    menunjukkan tanda-tanda:

    - Integritas kulit membaik: kulit dalam kondisi lembap dan tidak kering,

    tidak ada kulit yang mengelupas dan kemerahan

    - Tidak terjadi lecet atau luka baru pada kulit

    Intervensi mandiri:

    - Pantau kondisi kulit, area yang terkena terapi radiasi serta kulit di sekitar

    kantong kolostomi. Rasional: Mengidentifikasi kondisi integritas kulit

    untuk menentukan terapi yang diberikan.

    - Beri perawatan kulit dengan sering, minimalkan kelembapan akibat

    ekskresi dari stoma. Rasional: terlalu kering atau lembap, dapat merusak

    kulit dan menciptakan kondisi bagi mikroorganisme untuk mempercepat

    kerusakan (terutama dalam kondisi lembap)

    - Pantau kondisi stoma, edukasi klien terkait karakteristik stoma yang sehat

    dan tidak sehat, dan cara membersihkannya. Rasional: Membantu klien

    mengenali tanda awal luka atau infeksi, infeksi pada stoma akan

    berpengaruh pada kulit di sekitar stoma

    Intervensi Kolaborasi:

    - Beri & oleskan cream radiasi pada kulit yang terkena radiasi serta lotion

    untuk kulit yang menjadi tempat perekatan dengan katong kolostomi,

    berikan bedak bila perlu. Rasional: menjaga kelembapan kulit dan

    mencegah tumbuhnya jamur pada skin barrier kantong kolostomi

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 41

    Universitas Indonesia

    3. Nyeri Akut

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 x 24 jam klien

    menunjukkan tanda-tanda:

    - Skala nyeri berkurang menjadi 0-1 pada area selangkangan, skala 0-1

    pada luka di pinggiran stoma

    - Klien dapat melakukan teknik relaksasi tarik napas dalam dengan baik

    dan benar

    Intervensi mandiri:

    - Observasi dan catat lokasi nyeri, berat (skala 0-10), frekuensi dan

    presipitasi nyeri. Rasional: Membantu membedakan penyebab nyeri dan

    memeberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan luka, terjadinya

    komplikasi, dan keefektifan intervensi.

    - Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan

    lampu, mengurangi tingkat kebisingan, membatasi pengunjung, anjurkan

    klien untuk istirahat dengan posisi yang nyaman menurut klien. Rasional:

    Memberikan rasa nyaman pada klien.

    - Anjurkan menggunakan teknik relaksasi latihan napas dalam. Rasional:

    Menggunakan istirahat, memusatkan kembali perhatian dapat

    meningkatkan koping

    4. Inkontinensia Alvi

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 x 24 jam klien

    menunjukkan tanda-tanda:

    - Pengeluaran feses dapat dikendalikan, 1-2x sehari

    - Terbentuknya kebiasaan defekasi rutin yang teratur

    Intervensi mandiri:

    - Kaji pola BAB klien setiap hari. Rasional: mengetahui pola eleminasi

    klien serta respon klien

    - Edukasi dan demonstrasi cara irigasi kolostomi sederhana. Rasional:

    mengajarkan cara melakukan irigasi sederhana, agar klien dapat melakukan

    irigasi meskipun tidak berada di RS

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 42

    Universitas Indonesia

    - Evaluasi respon klien setelah dilakukannya irigasi sederhana. Rasional:

    mengetahui perasaan klien terhadap proses irigasi dan tindak lanjut

    selanjutnya yang diinginkan klien

    - Bantu lakukan irigasi kolostomi teratur setiap hari jika memungkinkan.

    Rasional: membantu klien dalam membiasakan diri melakukan irigasi

    kolostomi sebelum dirinya mampu secara mandiri

    5. Gangguan Eliminasi Urin

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 x 24 jam klien

    menunjukkan tanda-tanda:

    - Klien tidak mengeluhkan terkait frekuensi BAKnya

    - Kebutuhan cairan klien terpenuhi dengan baik

    Intervensi mandiri:

    - Monitor intake dan output cairan. Rasional: deteksi dini

    ketidakseimbangan cairan tubuh akibat peningkatan frekuensi BAK

    - Monitor frekuensi, jumlah dan karakteristik urin saat BAK. Rasional:

    membantu mengidentifikasi status keseimbangan cairan tubuh klien.

    - Motivasi klien untuk menekan atau menahan urinasi semampu klien.

    Rasional: Mempertahankan kemampuan kandung kemih dan sfingter uretra

    untuk menahan urin

    - Edukasi klien untuk minimalkan minum sebelum tidur di malam hari.

    Rasional: Meminimalkan gangguan untuk tidur

    - Edukasi klien terkait penyebab gangguan pola eliminasi BAK. Rasional:

    Memberikan ketenangan pada klien, agar klien tidak merasa terganggu

    dengan kondisi saat ini.

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 43

    Universitas Indonesia

    3.6 Implementasi Keperawatan

    Diagnosa Keperawatan : Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

    Tabel 3.4 Implementasi Diagnosa Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

    Tanggal 20 Mei 2013 pkl 15.45 Tanggal 22 Mei 2013 pkl 08.40 Tanggal 23 Mei 2013 pkl 15.45

    Implementasi:

    a. Mengkaji asupan makanan hari ini b. Mengkaji adanya mual/muntah c. Memotivasi klien meningkatkan asupan makanan,

    dengan menambah lauk yang klien sukai di luar

    pantangan diet klien

    d. Menimbang BB & menghutung IMT e. Kolaborasi ahli gizi Evaluasi:

    S: klien mengatakan tidak mual hari ini, sarapan dan

    makan siang habis satu porsi, plus jeruk satu buah

    O: klien tempak kurus, lemas (-), lemah (-). BB: 43kg,

    TB: 160cm, IMT: 16,80kg/m2. Diet makan hari ini

    dinaikkan oleh ahli gizi menjadi dari 1700 kkal

    menjadi 2100 kkal ditambah susu protein 26

    g/hari

    A: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

    masih terjadi: IMT belum mencapai target (17,0

    kg/m2)

    P: Motivasi asupan makanan cemilan, kamis

    23/5/2013 timbang BB dan hitung IMT, kolaborasi

    anti emetik pukul 18.00

    Implementasi:

    a. Mengkaji asupan makanan hari ini

    b. Mengkaji adanya mual/muntah

    c. Memotivasi klien meningkatkan asupan makanan

    d. Memotivasi keluarga (suami klien) untuk

    membantu klien meningkatkan asupan makanan

    dengan menyediakan makanan yang disukai klien

    dan menemani klien saat makan

    Evaluasi:

    S: klien mengatakan tidak mual dan muntah hari ini,

    sarapan habis satu porsi

    O: klien tempak kurus, lemas (-), lemah (-). IMT

    terakhir (20 Mei 2013): 16,80kg/m2

    A: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

    masih terjadi: IMT belum mencapai target (17,0

    kg/m2)

    P: Motivasi asupan makanan cemilan, kamis

    23/5/2013 timbang BB dan hitung IMT,

    kolaborasi anti emetik pukul 18.00

    Implementasi:

    a. Mengkaji asupan makanan hari ini

    b. Memotivasi klien meningkatkan asupan makanan

    c. Menimbang BB & menghutung IMT

    d. Memberi reinforcement positif atas penambahan

    BB klien

    Evaluasi:

    S: klien mengatakan tidak mual hari ini, sarapan dan

    makan siang habis satu porsi, klien minum susu

    yang diberikan ahli gizi tadi pagi. Klien

    mengatakan senang BBnya bertambah (setelah

    dilakukan pengukuran)

    O: klien tempak kurus, lemas (-), lemah (-). BB:

    44kg, TB: 160cm, IMT: 17,19 kg/m2

    A: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

    kebutuhan teratasi: IMT sudah mencapai target

    (17,0 kg/m2)

    P: Motivasi asupan makanan cemilan, sabtu 25 Mei

    2013 (sebelum pulang) timbang BB kembali,

    motivasi meningkatkan BB di rumah hingga 48-

    56 kg (IMT 18,75-21,88 kg/m2)

    Asuhan keperawatan ..., Manggarsari, FIK UI, 2013

  • 44

    Universitas Indonesia

    Diagnosa Keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit

    Tabel 3.5 Implementasi Diagnosa Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit

    Tanggal 20 Mei 2013 pkl 15.45 Tanggal 22 Mei 2013 pkl 08.30