Aturan Adat Istiadat Batak

Embed Size (px)

Text of Aturan Adat Istiadat Batak

ATURAN ADAT ISTIADAT BATAKPatokan dan Aturan Adat (Ruhutruhut Paradaton) Patokan dan aturan adat adalah acuan atau cerminan untuk melaksanakan adat didalam sukacita maupun dukacita yang pelaksanaannya harus didasarkan pada falsafah DALIHAN NATOLU serta memperhatikan nasihat nenek moyang ( Poda Ni Ompunta) * Jolo diseat hata asa diseat raut ( di bicarakan sebelum dilaksanakan) * Sidapot solup do na ro (mengikuti adat suhut setempat) * Aek Godang tu aek laut, dos ni roha nasaut (Musyawarah mufakat ). Pasal 1 1. Pada acara pesta perkawinan yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang aopat : a. Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos : 1. Ulos Pansamot : Orang tua pengantin 2. Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin 3. Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin 4. Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin b. Pihak Parboru (pengantin perempuan) yang terima sinamot : 1. Sijalo Bara / Paramai : Abang / adik pengantin 2. Sijalo Upa Tulang : Tulang pengantin 3. Sijalo Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin atau Simandokhon Ito pengantin *(sesuai Hasuhuton&Tonggo Raja). 4. Sijalo Upa Pariban : Kakak atau Namboru Pengantin c. Urutan Pelaksanaan: 1. Ulos Hela diberikan setelah Ulos Pansamot. 2. Sijalo Paramai diberikan setelah sinamot nagok diterima Suhut Parboru. 2. Pada acara Adat Perkawinan yang harus diperhatikan : a. Tintin marangkup diberikan kepada Tulang Pengantin pria, bila perkawinan dengan

Pariban Kandung (Boru Tulang), tidak ada Tintin Marangkup. b. Jumlah Tintin Marangkup, sesuai kesepakatan demikian Panandaion bila ada. c. Ulos yang diturunkan (tambahan) tidak boleh melebihi tanggungan Parboro. d. Uang Pinggan Panungpunan, disesuaikan dengan besarnya Sinamot. e. Undangan pada acara adat Boru Sihombing atau Bere Sihombing, suhu suhu Ompu yang menerima Sinamot / Tintin Marangkup / Upa Tulang , wajib memberikan ulos Herbang, selain yang memberi ulos Herbang, boleh memberi uang (pembeli ulos). Pasal 2 Pada Acara Adat Kematian (meniggal dunia), ulos yang berjalan dan acara sesuai tingkat kematian : 1. Meninggalnya dari usia anak-anak sampai usia berkeluarga : a. Anak-anak dan Boru Sihombing remaja : Lampin atau Saput dari orangtua. b. Remaja / Pemuda Sihombing : Saput dari Tulang-nya. c. Kembali dari makan tidak ada acara adat lagi. 2. Meninggal Suami / Isteri : a. Tingkat kematian ditetapkan dalam Parrapoton / Tonggo Raja. b. Ulos Saput / Tutup Batang Suami dari Tulang-nya, Ulos Tujung/ Sampetua Istri dari Hula hula. c. Ulos Saput / Tutup Batang Istri dari Hula hula, Ulos Tujung/ Sampetua Suami dari Tulangnya. d. Urutan pelaksanaan : Saput lebih dulu baruTujung (berubah sesuai kondisi). e. Tingkat kematian Sarimatua, kembali dari makam ada Acara Buka Tujung, bagi yang masih menerima Tujung. f. Tingkat kematian Saurmatua, kembali dari makam ada Acara Buka Hombung. g. Suami meninggal, Tulang-nya Siungkap Hombung; Istri meninggal, Hula-hulanya. Pasal 3 Parjambaran Pada setiap Acara Adat Pesta Perkawinan dan kematian berjalan Parjambaran, pada

dasarnya sebelum pelaksanaan harus dibicarakan lebih dahulu : 1. PARJAMBARAN DI ACARA ADAT PESTA PERKAWINAN, PANJUHUTI-NYA PINAHAN / SIGAGAT DUHUT. a. Mengkawinkan anak laki laki : - Bila adatnya alap jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro - Bila adatnya Taruhon Jual : Osang utuh diparanak, untuk diberikan kepada hula-hula (Sijalo Tintin Marangkup), ihur-ihur (Upa Suhut) diparanak dan diberikan Ulak Tando Parboru, Somba somba dan soit dibagi dua dan parngingian (kiri) di Paranak : (1). Somba somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot. (2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale-ale, Dongan Sahuta, dll. (3). Parngingian / Parsanggulan untuk Boru / Bere. (4). Ikan (dengke) dari Parboru untuk Hasuhuton. b. Mengawinkan anak Perempuan : - Bila adatnya Taruhon Jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro. - Bila adatnya Taruhon Jual : Osang Utuh di Parboru untuk diberikan ke Hula-hula dan Tulang Rorobot. Ihur ihur (Upa Suhut) di Parboru untuk Hasuhuton Somba somba dan Soit dibagi dua dan parngingian(kanan) di Parboru : (1). Somba somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot. (2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale ale, Dongan Sahuta, dll. (3). Parsanggulan / Parngingian untuk Boru / Bere. 2. PARJAMBARAN DI ACARA KEMATIAN SARI / SAURMATUA, BOAN SIGAGAT DUHUT (Contoh) : Ulaon : Borsak Simonggur. Hasuhuton : Hutagurgur. Bona ni Hasuhutin : Tuan Hinalang.

Suhut Bolon : Datu Parulas. A. DONGASABUTUHA 1. Panambuli : Anggi Doli Hariara. 2. Pangalapa / Pamultak : Raung Nabolon. 3. Panambak / Sasap : Dongan Tobu. 4. Ihur ihur / Upa Suhut : Datu Parulas. 5. Uluna / Sipitudai : Jambar Raja (Parsadaan dan Punguan) Orang biasanya diberikan ke Protokol dan Sitoho-toho. 6. Ungkapan : Haha Doli Suhut Bolon. 7. Gonting : Anggi Doli Suhut Bolon. B. BORU / BERE / IBEBERE 1 . Tanggalan Rungkung Partogi : Boru ni Prsadaan. 2. Tanggalan Rungkung Mangihut : Boru ni Punguan. 3. Tanggalan Rungkung Bona bona : Boru Diampuan/Bere Ibebere. C. HULA HULA 1. Tulan Bona : Pangalapan Boru/Hula-hula Tangkas. 2. Tulan Tombuk : Namamupus/Tulang. 3. Somba somba Siranga : Tulang Rorobot, Bona Tulang, Bona Hula. Somba somba Nagok :Bona na ari. 4. Tulan :P arsiat (Hula-hula, Haha Anggi, & Anak Manjae) D. DONGAN SAHUTA / RAJA NARO. 1. Botohon : Sipukkha Huta/Dongan Sahuta. 2. Ronsangan : Pemerintah setempat. 3. Soit Nagodang : Paariban, Ale-ale, Pangula ni Huria, Partungkoan. 4. Bonian Tondi : Pangalualuan ni Nipi (teman curhat).

5. Sitoho-toho : Surung-surung ni namanggohi adat (orang yang sering datang). 6. Pohu : Penggenapi isi tandok Hula-hula 7. Sohe/Tanggo : Penggenapi jambar yang belum dapat, dan lain-lain. 3. PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN A. NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU) 1. Osang-osang : rahang bawah 2. Parngingian : kepala bagian atas 3. Haliang : leher 4. Somba-somba : rusuk 5. Soit : persendian 6. Ihur-ihur/Upa Suhut : bagian belakang sampai ekor Parjambaran Namarmiak miak di Humbang (Oleh : Ompu Natasya L. Toruan )

Na marmiak-miak B. SIGAGAT DUHUT 1. Uluna/Sipitu dai : kepala atas dan bawah (tanduk namarngingi dan osang) 2. Panamboli : potongan leher (sambolan)

3. Pangalapa/Pultahan : perut bagian bawah (tempat belah) 4. Panambak/Sasap : pangkal paha depan 5. Ungkapan : pangkal rusuk depan 6. Gonting : pinggul/punggul 7. Upa Suhut / Ihur-ihur : bagian belakang sampai ekor 8. Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan) 9. Tulan Bona : paha belakang 10. Tulan Tombuk : pangkal paha belakang 11. Somaba-somba Siranga : rusuk-rusuk besar 12. Somaba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang) 13. Tulan : kaki di bawah dengkul 14. Botohon : paha depan 15. Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk) 16. Soit Nagodang : persendian 17. Bonian Tondi : pangkal rusuk iga 18. Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah 19. Pohu : bagian-bagian kecil 20. Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan Parjambaran Sigagat Duhut di Humbang ( Oleh Drs. Togap L. Toruan)

Si gagat duhut Pasal 4 MANGADATI Mangadati adalah pelaksanaan menerima.membayar adat perkawinan (marunjuk) yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya, dimana kedua belah pihak orangtua sepakat, adatnya dilaksanakan kemudian dan atau kawin lari (mangalua) dimana acara ini dilaksanakan pihak pengantin laki-laki ( Paranak). Karena itu mangadati tidak sama dan bukanlah manjalo sulang-sulang ni pohompu. A. Tahapan yang harus dipenuhi sebelum Mangadati : 1. Pada acara partangiangan (pengucapan syukur) pemberkatan nikah, Paranak wajib mengantar Ihur-ihur kepada pihak pengantin perempuan (Parboru) sebagai bukti bahwa putrinya telah di-paraja (dijadikan istri). 2. Pihak paranak melakukan acara manuruk-nuruk (suruk-suruk) meminta maaf dengan membawa makanan adat kepada pihak Parboru(hula-hula). 3. Pihak Paranak melakukan pemberitahuan rencana mangadati kepada pihak Parboru, dengan membawa makan adat. Acara ini merancang (mangarangrangi) Somba ni uhum: (sinamot), ulos herbang, dan yang berkaitan dengan mangadati. B. Acara mangadati dilaksanakan di tempat pihak Paranak, sehinga pelaksanaan sama dengan pesta adat taruhon jual, yakni pihak Parboru datang dalam rombongan membawa beras, ikan, dan ulos. C. Parjambaran: Sidapotsolup do naro Pasal 5 MENDAMPINGI, MANGAMAI, MANGAIN Pengertian umum adalah suatu proses untuk perkawinan campuran antara anaka / boru

dengan anak/boru suku/bangsa lain (Marga Sileban), dimana pelaksanaanya dilakukan sesuai dengan adat Batak. Penerapannya dilakukan sesuai tahapan dan aturan masing-masing sebagai berikut : MENDAMPINGI. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak, Marga Sileban cukup meminta kepada satu keluarga Sihombing yang mau mendampingi dengan fungsi sebagai wakil/juru bicara/Raja parhata, dengan demikian : 1. Mendampingi Parboru, Sijalo Sinabot harus Marga Sileban, yang mendampingi hanya menerima uang kehormatan saja. 2. Mendampingi Paranak, Sijalo Ulos Suhi ni Ampang Naopat harus keluarga suku lain (Marga Sileban), yang mendampingi hanya menerima Ulos Pargomgom. 3. Yang mendampingi tidak boleh melakukan Tonggo / Ria Raja dan Papungu Tumpak. MANGAMAI . Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan na marmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangamai dihadapan Dongan Tubu, Boru/Bere, Dongan Sahuta. Dengan restu hadirin, yang Mangamai mangupa dengan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan tahapan adat perkawinan yang dimaksud pihak Marga Sileban, kemudian Marga Sileban memberikan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua hadirin. Sehingga yang diamai dengan yang Mengamai sudah menjadi Dongan Sahundulan yang sifatnya permanen. Dalam hal Mangamai Paranak, yang menerima ulos diatur sebagai berikut : Ulos Pansamot : Orangtua kandung Marga Sileban. Ulos Paramaan : Yang Man