Bab 2 - dokumentasi tri kahyangan desa pakraman ubung

  • View
    237

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Bab 2 - dokumentasi tri kahyangan desa pakraman ubung

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

BAB II KAJIAN TEORI

Penduduk Bali yang jumlahnya 2.300.000 jiwa menempati area seluas 5632,86 Km2. Rata-rata kepadatannya 410 jiwa/Km2 merupakan kepadatan yang tinggi,

terutama di Kota Denpasar. Keramah-tamahan penduduk dan rasa kekeluargaan yang akrab menjadikan solidaritas yang tinggi dan bentuk-bentuk kegotong-royongan di berbagai sektor. Ajaran-ajaran agama Hindu yang dianut oleh penduduknya menjiwai dan melatarbelakangi arsitekturnya. Penduduk yang cenderung bertempat tinggal di ruang-ruang modern, untuk keperluan aktivitas adat dan agama tetap memerlukan bangunan-bangunan dengan arsitektur tradisional. Agama, adat dan kepercayaan, melatar belakangi ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan melandasi agama bila agama dianut untuk stabilitas kepercayaan yang ilmiah. Jelas bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan perimbangan dalam sistem-sistem religi dan pengetahuan yang harmonis. Sistem religi berpedoman pada Panca Srada sebagai pokok-pokok kepercayaan dan Panca Yadnya sebagai pokok-pokok pelaksanaan upacara keagamaan. Dari Panca Srada timbul sistem religi yang memupuk stabilitas kepercayaan dan sistem pengetahuan yang mengilmiahkan kepercayaan , adat dan ajaran agama. Dari Panca Yadnya timbul sistem religi yang menganut tata cara, tata nilai dan simbol-simbol religi yang menuju sasaran. Sistem pengetahuan yang mengajarkan proses, elemen dan sarana sebagai sistem komunikasi ritual yang diilmiahkan. Agama perlu dipelajari dan pengetahuan perlu dilandasi warna-warna agama. Dalam kehidupan masyarakat di Bali, kesenian adalah sebagian dari kehidupannya. Kesenian sebagai bagian dari kebudayaan, sebagaimana kebudayaan kesenian juga lahir dari hubungan manusia dengan alamnya. Kesenian dengan cabang-cabangnya seni rupa, seni bangunan, seni suara, dan seni gerak, 1 Dokumentasi Tri Kahyangan Desa Pakraman Ubung Denpasar

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

perwujudannya juga mencerminkan manusia dan alam lingkungannya. Seni dalam perwujudannya ada yang ditampilkan dalam bentuk satu dua cabang, ataupun gabungan dari beberapa cabang. Misalnya seni tari, padanya terbangun seni bangunan, seni rupa, seni suara dan lain-lain. 1 II.1 Konsep Pemujaan dalam Agama Hindu Ciri pokok kehidupan beragama adalah percaya dan bhakti pada Tuhan Yang Maha Esa. Kemahakuasaan Tuhan tidak terbatas. Oleh karena itu manusia yang terbatas tidak mungkin mampu menjangkau ke-Maha Kuasaa Tuhan yang tiada terbatas itu. Meskipun demikian manusia yang terbatas inipun berusaha mendekatkan dirinya pada ke-Maha Kuasaan Tuhan. Upaya untuk mendekatkan diri pada ke-Maha Kuasan Tuhan bertujuan agar manusia dapat mendayagunakan kepercayaannya pada Tuhan Yang Maha Kuasa itu untuk meningkatkan mutu hidupnya. Meskipun ke-Maha Kuasaan Tuhan itu tiada terbatas, dilukiskan pula beberapa ke-Maha Kuasaan dalam kitab Wrhaspati Tattwa. Dalam kitab ini ada empat ke-Maha Kuasaan yang dapat disadari oleh penganut agama Hindu. Empat ke-Maha Kuasaan Tuhan itu disebut Cadu Sakti, yaitu : 1. Prabhu Sakti ialah : Tuhan itu menguasai segala-galanya. Tidak ada yang tidak terjangkau oleh kekuasaan Tuhan. 2. Wibhu Sakti ialah : Tuhan itu maha ada, Tuhan itu ada dimana-mana. Tidak ada ruang dan waktu di luar Tuhan. Bahkan ruang dan waktu itu ciptaan Tuhan dan berada di dalam Tuhan. 3. Jnyana Sakti ialah : Tuhan yang Mahatau. Tidak ada yang dtidak diketahui oleh Tuhan. 4. Krya Sakti ialah : Tuhan itu Maha Kerja. Tidak ada pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh Tuhan. Itulah empat kemahakuasaan Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu. Manusia dengan alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Bhagawadgita III, 10 dijelaskan Tuhan atau Prajapati menciptakan manusia (1

Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Taman Rumah Tinggal Tradisionil Bali, 1996: 12-14

2

Dokumentasi Tri Kahyangan Desa Pakraman Ubung Denpasar

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

Praja) berdasarkan Yadnya. Tuhan menciptakan alam (kamadhuk) sebagai sumber kehidupan manusia. Keharmonisan itu akan terjadi apabila Tuhan atau Prajapati, Praja (manusia) dan alam (kamadhuk) berhubungan secara timbal balikberdasarkan Yadnya. Manusia dapat hidup karena yadnya Tuhan dan alam. Karena itulah manusia harus kembali pada Tuhan berdasarkan Yadnya. Salah satu cara untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan adalah dengan jalan menuju Tuhan itu sendiri. Dalam diri manusia ada atma yang merupakan percikan Tuhan (Paramatma). Puncak perjuangan manusia kembali pada Tuhan adalah bersatunya Atma dengan Paramatma. Sehubungan dengan itu ada istilah yang disebut dengan manusia suci. Manusia yang suci bila telah meninggalkan kehidupan dunia ini, rohnya (atmanya) diyakini berada di alam Ketuhanan. Atma yang telah mencapai alam Ketuhanan yaitu : atma yang lepas dari ikatan jasmaninya (stula sarira) dan ikatan badan astral (suksma sarira). Atma yang demikian itu disebut dalam berbagai pustaka sebagai Dewa Pitara. Dewa Pitara itu ialah Pitara yang telah mencapai alam kedewaan. Dewa Pitara inilah dapat dipuja oleh manusia hidup di dunia ini menurut ajaran agama Hindu. Pemujaan Dewa Pitara ini juga bertujuan untuk membantu manusia menuju bersatunya Atma dengan Paramatma. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja roh suci (Dewa Pitara). Umat Hindu dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa akan dirasakan mudah apabila dilakukan sesuai dengan bentuk kehidupan mereka masing-masing. Oleh karena itu seorang petani akan memuja Tuhan dalam fungsinya melindungi kaum tani, demikian pula seterusnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya bermacam-macam bentuk tempat pemujaan. Di dalam kitab suci Weda Sruti dalam berbagai syairnya disebutkan kewjiban untuk memuja Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala manifestasinya. Disamping memuja Tuhan, Weda membenarkan pula memuja orang suci atau roh suci leluhur.

3

Dokumentasi Tri Kahyangan Desa Pakraman Ubung Denpasar

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

Di bawah ini merupakan kutipkan syair kitab suci Weda yang tergolong kitab suci Weda Sruti yakni kitab Sweta Swatara Upanisad, II, 5 dan 17, sebagai berikut : 5. Yuje wam brahma purwyam Nambir wisloka etu patheya sureh Sruwantu wiswe amrtasya Putra ae dhamani diwyani tasthuh yang artinya : Puja kami tujukan kepada Brahma yang paling kami muliakan Semoga doa dan puja kami seperti yang telah diucapkan Oleh orang-orang suci yang bijaksana dapat didengar oleh Brahma, oleh Prajapati, serta oleh putra-putra yang maha abadi yang menempati surga sebagai tempat tinggalnya 17. yo dewo gnau yo psu yo wiswam bhu wanam awiwisa ya asodhisu yo wanas patisutasmai dewaya namonamah. yang artinya : Kepada seorang mahasuci yang seperti seorang Mahadewa, yang ada di dalam api, ada di dalam air, yang telah memasuki alam semesta, yang ada di dalam tanaman obat-obatan yang tumbuh setiap tahun, yang ada di daerah-daerah hutan, yang ada di dalam pohon-pohonan, kepada orang suci ini sampaikanlah persembahanmu, pujalah dia. Dua syair Upanisad ini merupakan sekelumit syair dari banyak syair-syair Weda yang mengajarkan tentang pemujaan Tuhan (Brahman) dengan segala manifestasinya. Disamping itu dibenarkan pula adanya pemujaan roh suci seseorang. Roh suci itu karena telah mencapai alam Ketuhanan bahkan telah luluh bersatu dengan kesucian Tuhan wajib disembah dan dipuja. Hal inilah yang menyebabkan pemujaan yang dilakukan oleh umat Hindu ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya serta roh suci leluhur. 4 Dokumentasi Tri Kahyangan Desa Pakraman Ubung Denpasar

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

Bahkan Tuhan lebih banyak dipuja sesuai dengan fungsiNya. Di dalam kekawin Ramayana 1,3 ada disebutkan sebagai berikut : Gunamanta sang Dasaratha Wruh sira ring Weda bhakti ring dewa Tar malupeng pitra puja Masih ta sireng swagotra kabeh yang artinya : Amat utama sang Dasaratha Beliau pandai tentang Weda dan bakti kepada Dewa (Tuhan) Tidak pernah lupa memuja leluhur Amat kasih Beliau dengan seluruh keluarganya. Kutipan kekawin Ramayana ini merupakan pertanda bahwa pemujaan Tuhan dan leluhur dilaksanakan pula oleh umat Hindu di Indonesia. Kenyataan umat Hindu dimanapun berada selalu memuja Tuhan, dewa-dewa dan roh suci. 2

II.2

Tempat Pemujaan di Bali Tempat-tempat suci yang di dalam agama Hindu disebut Pura Kahyangan, Candi, atau Mandira itu ada dua macam, yaitu : 1. Pura tempat untuk memuja dan mengagungkan kebesaran Tuhan Hyang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasinya disebut Pura Kahyangan.

2

Wiana, Ketut, Palinggih di Pamerajan, milik Pemda Tingkat I Bali Proyek Penyuluhan dan Penerbitan Buku Agama, 1989: 1-4

5

Dokumentasi Tri Kahyangan Desa Pakraman Ubung Denpasar

MK : ARSITEKTUR BALI 1

2011

2. Pura atau tempat suci untuk memuja roh leluhur yang sudah dipandang suci atau roh para Rsi yang dianggap telah menjadi dewa-dewa atau bhatara bhatari ini disebut Pura Dadia, Pura Kawitan atau Pura Pedharman. Tujuan dan fungsi dari pura sebagai tempat suci yang dibangun secara khusus menurut peraturan-peraturan yang telah ditentukan secara khusus pula ialah untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi serta prabhawanya untuk mendapatkan waranugraha. Juga pura itu merupakan tempat kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan dalam hubungan agama. Adapun pura atau kahyangan itu terdiri dari pada Pura / Kahyangan Tiga, Pura / Kahyangan Jagat. Yang disebut Pura Kahyangan Tiga ialah pura tempat memuja Hyang Widhi didalam manifestasinya sebagai triwisesa, yaitu Pura Desa/Bale Agung untuk Brahma sebagai pencipta, Pura Puseh atau Sagara untuk Wisma sebagai pemelihara, dan Pura Dalem untuk Bhatari Duarga sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai Pralina. Itulah sebabnya Pura Dalem terletak dekat kuburan sebagai simbol peleburan atau pralina. Dan setiap