of 100/100
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan Indonesia saat ini memasuki tahap baru dalam demokrasi pemerintahan. Jatuhnya orde baru pada tahun 1998 menjadi titik balik sistem pemerintahan saat ini, dimulai dengan reformasi segala bidang hingga keluarnya peraturan pemerintahan tentang desentralisasi wewenang yang biasa disebut otonomi daerah. Otonomi daerah mengharuskan pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pembangunan di daerahnya. UU No.25/1999 dan UU No.34/2000 serta PP pendukungnya telah mengatur dengan terperinci sumber-sumber pembiayaan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Pada dasarnya, menurut ketentuan yang ada tersebut, sumber-sumber keuangan pemerintah daerah terdiri atas: 1. pendapatan asli daerah, 2. dana perimbangan, yang terdiri atas: dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan bagi hasil (pajak); terutama PBB, BPHTB dan PPh perseorangan, maupun bukan pajak; khususnya bagi hasil yang berasal dari sumber daya alam), dan 3. pinjaman daerah. Sejalan dengan adanya otonomi daerah pemerintah juga mulai melakukan perubahan sistem keuangan daerah dimulai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, dan aturan pelaksanaannya, khususnya PP Nomor 105 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah/Pemahaman... · PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... adalah berupa laporan perhitungan anggaran, nota perhitungan, laporan arus kas,

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah/Pemahaman... · PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan Indonesia saat ini memasuki tahap baru dalam demokrasi

pemerintahan. Jatuhnya orde baru pada tahun 1998 menjadi titik balik sistem

pemerintahan saat ini, dimulai dengan reformasi segala bidang hingga keluarnya

peraturan pemerintahan tentang desentralisasi wewenang yang biasa disebut otonomi

daerah.

Otonomi daerah mengharuskan pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas

pembangunan di daerahnya. UU No.25/1999 dan UU No.34/2000 serta PP

pendukungnya telah mengatur dengan terperinci sumber-sumber pembiayaan

pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Pada dasarnya,

menurut ketentuan yang ada tersebut, sumber-sumber keuangan pemerintah daerah

terdiri atas:

1. pendapatan asli daerah,

2. dana perimbangan, yang terdiri atas: dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan

bagi hasil (pajak); terutama PBB, BPHTB dan PPh perseorangan, maupun bukan

pajak; khususnya bagi hasil yang berasal dari sumber daya alam), dan

3. pinjaman daerah.

Sejalan dengan adanya otonomi daerah pemerintah juga mulai melakukan

perubahan sistem keuangan daerah dimulai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Daerah, dan aturan pelaksanaannya, khususnya PP Nomor 105

1

tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah maka

mulai tahun anggaran 2001, telah terjadi pembaharuan di dalam manajemen keuangan

daerah. Dengan adanya otonomi ini, daerah diberikan kewenangan yang luas untuk

mengurus rumah tangganya sendiri dengan sedikit campur tangan pemerintah pusat.

Pemerintah daerah mempunyai hak dan kewenangan yang luas untuk menggunakan

sumber-sumber keuangan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi

masyarakat yang berkembang di daerah.

Laporan pertanggungjawaban keuangan yang harus dibuat oleh Kepala Daerah

adalah berupa laporan perhitungan anggaran, nota perhitungan, laporan arus kas, dan

neraca daerah. Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan daerah ini

diberlakukan sejak 1 Januari 2001. Sebelum bergulirnya otonomi daerah,

pertanggungjawaban laporan keuangan daerah yang harus disiapkan oleh Pemerintah

daerah hanya berupa laporan perhitungan anggaran dan nota perhitungan dan sistem

yang digunakan untuk menghasilkan laporan tersebut adalah MAKUDA (Manual

Administrasi Keuangan Daerah) yang diberlakukan sejak tahun 1981.

Kedua jenis laporan yaitu neraca daerah dan laporan arus kas tidak mungkin

dapat dibuat tanpa didasarkan pada suatu standar akuntansi yang berterima umum di

sektor pemerintahan. Untuk mengatasi itu pemerintah mengeluarkan PP no.24 tahun

2005 yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintah yang digunakan instansi

pemerintah di pusat dan daerah, untuk menuju akuntabilitas laporan keuangan.

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), yang ditetapkan dengan Peraturan

Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005, menggunakan basis kas menuju akrual (cash

towards accrual). Basis ini mengharuskan penyajian aset, kewajiban, dan ekuitas

dengan basis akrual sedangkan pendapatan, belanja, dan pembiayaan menggunakan

basis kas. Aset, kewajiban, dan ekuitas merupakan unsur neraca sedangkan

pendapatan, belanja, dan pembiayaan merupakan unsur laporan realisasi anggaran.

Dengan kata lain, neraca disajikan dengan basis akrual dan Laporan Realisasi

Anggaran disajikan dengan basis kas.

Beberapa penelitian mengenai akuntansi sektor publik telah banyak dilakukan.

Namun penelitian mengenai Standar Akuntansi Pemerintah baru dimulai sejak

dikeluarkan PP no. 24 tahun 2005. Sulastri (2006) dalam penelitiannya melakukan

penelitian mengenai tingkat pemahaman mahasiswa akuntansi PTN dan PTS terhadap

standar akuntansi pemerintahan. Kemudian Dwijayanti (2007) melakukan penelitian

dengan melakukan evaluasi terhadap implementasi PP no.24 tahun 2005 di

Kabupaten Temanggung khususnya implementasi terhadap PSAP 01, PSAP 02,

PSAP 03, PSAP 04.

Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian Sulastri (2006) yang meneliti

pemahaman mahasiswa akuntansi terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan.

Hasilnya adalah sebagian besar mahasiswa akuntansi memahami Standar Akuntansi

Pemerintahan. Tidak terdapat perbedaan pemahaman antara mahasiswa akuntansi di

Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya terletak pada sampel yang digunakan. Sulastri (2006) menggunakan

sampel mahasiswa akuntansi sedangkan penelitian ini sampelnya adalah mahasiswa

akuntansi dan aparat pemerintah. Alasan penambahan sampel staff instansi daerah

karena staff instansi daerah merupakan pengguna langsung Standar Akuntansi

Pemerintah. Di tangan staff instansi daerah akan dihasilkan laporan keuangan baik

yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan atau sebaliknya. Oleh karena

itu, kualitas aparat pemerintah merupakan kunci utama dalam menghasilkan laporan

keuangan yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Untuk menyusun

laporan keuangan yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dibutuhkan

sumber daya manusia yang handal. Sumber daya manusia tersebut dapat dibagi

menjadi 2 (dua), yaitu aparat pemerintah sebagai pengguna langsung Standar

Akuntansi Pemerintahan dan mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan

pemerintahan.

Untuk melaksanakan penelitian ini, penulis memilih Kabupaten Banyumas

sebagai objek lokasi penelitiannya dikarenakan belum adanya penelitian serupa di

Kabupaten Banyumas. Penulis ingin mengetahui pemahaman aparat pemerintah

daerah Kabupaten Banyumas terhadap standar akuntansi pemerintahan dan hasil

penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penilaian kinerja pemerintah

daerah dan sejauh mana sosialisasi peraturan pemerintah terebut dilaksanakan.

Dari latar belakang di atas, maka penelitian ini mengambil judul Pemahaman

Staff Instansi Daerah dan Mahasiswa Akuntansi terhadap Standar Akuntansi

Pemerintahan. (Studi Komparatif antara Mahasiswa Akuntansi dan Staff Instansi

Daerah).

B. Perumusan Masalah

Dari pokok-pokok pembahasan latar belakang yang telah dijabarkan, maka dapat

dirumuskan hal pokok yang menjadi permasalahan sebagai berikut.

1. Apakah mahasiswa akuntansi memiliki pemahaman standar akuntansi

pemerintahan sesuai yang tercantum dalam PP no. 24 tahun 2005?

2. Apakah staff instansi pemerintah daerah sub bagian akuntansi dan keuangan

memiliki pemahaman standar akuntansi pemerintahan sesuai yang tercantum

dalam PP no. 24 tahun 2005?

3. Apakah terdapat perbedaan pemahaman antara mahasiswa akuntansi dengan staff

instansi pemerintah daerah sub bagian akuntansi dan keuangan terhadap standar

akuntansi pemerintahan sesuai yang tercantum dalam PP no. 24 tahun 2005?

C. Tujuan Penelitian

Dari berbagai pembahasan di atas penulis ingin memberikan gambaran secara

umum pemahaman staff pemerintah daerah mengenai standar akuntansi pemerintah.

Penelitian ini digunakan juga sebagai pelengkap dari penelitian sebelumnya yaitu

penelitian Sulastri (2006) mengenai pemahaman standar akuntansi pemerintahan.

Sehingga dapat diketahui bagaimana tingkat pemahaman staff instansi daerah di

Kabupaten Banyumas serta dapat digunakan membandingkan dengan penelitian lain

di daerah yang berbeda dengan obyek penelitian yang sama.

Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui adakah perbedaan pemahaman antara

staff instansi daerah sebagai pengguna standar akuntansi pemerintah dengan

mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan pemerintah.

D. Manfaat Penelitian

Penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat menambah wawasan

mengenai akuntansi sektor publik dan secara umum dapat memberikan gambaran

pemahaman staff instansi daerah mengenai Standar Akuntansi Pemerintahan yang

diselenggarakan dalam otoritas dan wewenang Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Penelitian ini juga dapat dikembangkan oleh penulis lain sebagai referensi atau dasar

untuk penelitian berikutnya mengenai akuntansi sektor publik.

BAB II

LANDASAN TEORI

E. Pemahaman

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), pemahaman adalah mengerti benar

(akan) suatu atau tahu benar (akan) suatu hal. Sedangkan menurut Bloom dalam Winkle

(1991) dalam Sulastri (2006) pemahaman merupakan bagian dari ranah kognitif yang

merupakan sasaran evaluasi hasil belajar, mencakup kemampuan untuk menangkap

makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam

menguraikan isi pokok sebuah bacaan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang adalah lingkungan

dimana individu itu berada. Purwanto (1990) menyatakan bahwa lingkungan merupakan

salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Selain itu, aktivitas

manusia itu sendiri dalam perkembangannya turut menentukan atau memainkan peran

juga.

F. Pengertian Akuntansi

Akuntansi diartikan sebagai proses mengidentifikasi, mengukur, dan menyampaikan

informasi keuangan entitas ekonomi, sebagai bahan informasi dalam hal pertimbangan

pengambilan kesimpulan oleh para pemakai. Dari berbagai sudut pandang akuntansi

dapat dikategorikan sebagai berikut.

1. Sebagai penyedia jasa

Akuntansi memberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, informasi

7

kuantitatif yang membantu mereka untuk mengambil keputusan mengenai pelepasan

dan penggunaan sumber daya di dalam kesatuan bisnis dan juga bukan bisnis.

2. Sebagai disiplin ilmu deskriptif atau analitis

Akuntansi mengidentifikasikan sejumlah besar kejadian dan transaksi yang

merupakan ciri dari aktivitas ekonomi.

3. Sebagai suatu sistem informasi

Akuntansi mengumpulkan dan mengkomunikasikan informasi ekonomi mengenai

suatu entitas bisnis atau kesatuan lain kepada beraneka ragam pihak yang keputusan

dan tindakannya berkaitan dengan aktivitas tersebut.

G. Laporan Keuangan

1. Akuntansi keuangan

Akuntansi Keuangan merupakan proses yang berakhir pada pembuatan laporan

keuangan menyangkut perusahaan secara keseluruhan untuk digunakan baik oleh

pihak-pihak internal maupun pihak eksternal. Pemakai laporan keuangan ini meliputi

investor, kreditor, manajer, serikat pekerja, dan badan-badan pemerintah.

2. Akuntansi Manajerial

Akuntansi Manajerial merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran, analisis, dan

pengkomunikasian informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen untuk

merencanakan, mengevaluasi, dan mengendalikan operasi sebuah perusahaan.

Laporan keuangan merupakan sarana utama untuk mengkomunikasikan informasi

keuangan kepada pihak luar perusahaan. Pada umumnya laporan keuangan meliputi:

neraca, laporan perhitungan laba-rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas

pemilik atau pemegang saham.

H. Standar Akuntansi Keuangan

Tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang berguna

bagi investor, kreditor, dan pemakai lain yang potensial dalam mengambil keputusan

rasional mengenai investasi, kredit, dan yang sejenisnya. Laporan keuangan merupakan

sarana utama untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak luar

perusahaan. Pada umumnya laporan keuangan meliputi: neraca, laporan perhitungan

laba-rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuaitas pemilik atau pemegang saham.

Akuntan menyiapkan laporan keuangan multi guna yang sesuai dengan prinsip-

prinsip akuntansi yang diterima umum (GAAP). Badan penyusunan standar yang utama

adalah Finansial Accounting Standards Board (FASB). Kelompok utama lainnya yang

terlibat dalam proses penyusunan standar adalah American Institut Of Certifield Publik

Accountants (AICPA), Governmental Accounting Standard Board (GASB), Securities

And Exchange Commision (SEC), American Accounting Assosiation (AAA). Financial

Executife Institute (FEI), Institute Of Management Accountants (IMA), dan

International Accounting Standards Committee (IASC).

FASB mengeluarkan standar, interpretasi, pernyataan konsep laporan keuangan,

dan buletin teknis. Prinsip-prinsip akuntasi yang diterima umum adalah prinsip-prinsip

akuntansi yang mempunyai dukungan otoritatif yang besar, seperti standar dan

interpretasi FASB, pendapat dan interpretasi APB, buletin riset akuntansi CAP dan

pengumuman otoritatif lainnya.

Di Indonesia standar akuntansi keuangan yang berlaku adalah Prinsip akuntansi

Indonesia kemudian diganti Standar Akuntansi Keuangan. Suwardjono dalam Sulastri

(2006) mengemukakan bahwa standar akuntansi harus dikembangkan sesuai tujuan yang

ingin dicapai dalam pelaporan keuangan dengan penalaran yang jelas. Terdapat beberapa

karakteristik yang melekat pada seperangkat standar akuntansi.

1. Standar akuntansi menunjukkan pedoman pedoman umum yang lengkap

tentang fungsi akuntansi sebagai alat mengungkapkan informasi keuangan suatu

perusahaan.

2. Standar akuntansi harus dikembangkan mengikuti praktik akuntansi yang sedang

berjalan, karena praktik akuntansi yang sedang berjalan itupun sering dilandasi

oleh prinsip dan konsep yang dalam beberapa hal saling bertentangan dan secara

teoritis tidak konsisten.

3. Standar akuntansi tidak bertentangan atau mendorong pelanggaran terhadap

ketentuan hukum dan perundangan yang berlaku, tetapi penyusunan standar

akuntansi tidak harus menganut konsep, pengertian, pendekatan, kebijakan, dan

praktik hukum atau yuridis tersebut.

4. Standar akuntansi harus merupakan alat di bidang usaha dan keuangan, dapat

diandalkan dan relevan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Standar akuntansi juga harus logis dan dikembangkan atas dasar penalaran yang jelas

sehingga dapat diterima oleh mereka yang berkepentingan.

I. Standar Akuntansi pemerintahan

Standar Akuntansi Pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan

dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Standar Akuntansi

Pemerintahan disusun dan dikembangkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan,

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara.

Standar Akuntansi Pemerintahan dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar

Akuntansi Pemerintahan yang terdiri dari 11 pertanyaan sebagai berikut ini.

1. PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan

Laporan keuangan untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan dengan

basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, transfer, dan

pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas

dana.

Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan yang dimaksudkan untuk

memenuhi kebutuhan pengguna, yang dimaksud dengan pengguna adalah

masyarakat, legislatif, lembaga pemeriksa atau pengawas, pihak yang memberi atau

berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman, serta pemerintah. Laporan

keuangan meliputi laporan keuangan yang disajikan terpisah atau bagian dari

laporan keuangan yang disajikan dalam dokumen publik lainnya seperti laporan

tahunan.

Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi

keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan

umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi

keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas

pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan

mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan

pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna

untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan

atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan:

a. menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,

kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;

b. menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya

ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;

c. menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan

sumber daya ekonomi;

d. menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap

anggarannya;

e. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai

aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;

f. menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai

penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;

g. menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan

entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.

Komponen-komponen yang terdapat dalam suatu set laporan keuangan

pokok adalah:

a. Laporan Realisasi Anggaran;

b. Neraca;

c. Laporan Arus Kas; dan

d. Catatan atas Laporan Keuangan.

2. PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran

Tujuan pelaporan realisasi anggaran adalah memberikan informasi tentang

realisasi dan anggaran entitas pelaporan secara tersanding. Penyandingan

antara anggaran dan realisasinya menunjukkan tingkat ketercapaian target-target

yang telah disepakati antara legislatif dan eksekutif sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

Laporan Realisasi Anggaran menyediakan informasi yang berguna dalam

memprediksi sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan

pemerintah pusat dan daerah dalam periode mendatang dengan cara menyajikan

laporan secara komparatif. Laporan Realisasi Anggaran dapat menyediakan

informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi perolehan dan

penggunaan sumber daya ekonomi:

a. telah dilaksanakan secara efisien, efektif, dan hemat;

b. telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD); dan

c. telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Laporan Realisasi Angggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai

berikut.

a. Pendapatan

Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum

Negara/Daerah serta diklasifikasikan menurut jenis pendapatannya.

b. Belanja

Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas

Umum Negara/Daerah. Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi

(jenis belanja), organisasi, dan fungsi.

c. Transfer

Transfer terdiri dari transfer masuk dan transfer keluar. Transfer masuk adalah

penerimaan uang dari entitas pelaporan lain. Sedangkan transfer ke luar adalah

pengeluaran uang dari entitas pelaporan ke entitas pelaporan lain seperti dana

perimbangan oleh pemerintah pusat dan dana bagi hasil oleh pemerintah

daerah.

d. Surplus atau defisit

Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode

pelaporan sedangkan defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan

belanja selama satu periode pelaporan.

e. Penerimaan pembiayaan

Penerimaan pembiayaan merupakan semua penerimaan Rekening Kas Umum

Negara/Daerah antara lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan

obligasi pemerintah, hasil privatisasi perusahaan negara/daerah, penerimaan

kembali pinjaman yang diberikan kepada fihak ketiga, penjualan investasi

permanen lainnya, dan pencairan dana cadangan. Penerimaan pembiayaan

dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan

penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah

dikompensasikan dengan pengeluaran).

f. Pengeluaran pembiayaan

Pengeluaran pembiayaan merupakan pengeluaran Rekening Kas Umum

Negara/Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada pihak ketiga,

penyertaan modal pemerintah, pembayaran kembali pokok pinjaman dalam

periode tahun anggaran tertentu, dan pembentukan dana cadangan.

g. Pembiayaan netto

Pembiayaan netto merupakan selisih antara penerimaan pembiayaan setelah

dikurangi pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran tertentu.

h. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA / SiKPA)

Selisih lebih/ kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama

satu periode pelaporan.

3. PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas

Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai sumber,

penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi, dan saldo

kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Informasi ini disajikan untuk

pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan. Informasi arus kas juga

berguna sebagai indikator jumlah arus kas di masa yang akan datang, serta

berguna untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat

sebelumnya.

Klasifikasi arus kas menurut aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan,

pembiayaan, dan non anggaran memberikan informasi yang memungkinkan para

pengguna laporan untuk menilai pengaruh dari aktivitas tersebut terhadap posisi kas

dan setara kas pemerintah. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk

mengevaluasi hubungan antar aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan,

pembiayaan, dan nonanggaran.

a. Metode Langsung

Metode ini mengungkapkan pengelompokan utama penerimaan dan

pengeluaran kas bruto.

b. Metode Tidak Langsung

Dalam metode ini, surplus atau defisit disesuaikan dengan transaksi-

transaksi operasional nonkas, penangguhan (deferral) atau pengakuan

(accrual) penerimaan kas atau pembayaran yang lalu/yang akan datang, serta

unsur pendapatan dan belanja dalam bentuk kas yang berkaitan dengan

aktivitas investasi aset nonkeuangan dan pembiayaan.

4. PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan dapat

dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca tertentu

ataupun manajemen entitas pelaporan. Oleh karena itu, laporan keuangan mungkin

mengandung informasi yang dapat mempunyai potensi kesalahpahaman di

antara pembacanya. Untuk menghindari kesalahpahaman, laporan keuangan harus

dibuat catatan atas laporan keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan

pengguna dalam memahami laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan menyajikan informasi tentang penjelasan

pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai, antara lain:

a. menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,

pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD, berikut kendala

dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;

b. menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;

c. menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan

dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas

transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;

d. mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar

Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka

laporan keuangan;

e. mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang

timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan

belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas;

f. menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian

yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

5. PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan

Persediaan merupakan aset yang berwujud:

a. barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan

operasional pemerintah;

b. bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses

produksi;

c. barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau

diserahkan kepada masyarakat,

d. barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada

masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan.

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan

untuk digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak

habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti

komponen bekas. Dalam hal pemerintah memproduksi sendiri, persediaan juga

meliputi barang yang digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku

pembuatan alat-alat pertanian.

Persediaan harus diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan atau

kepenguasaannya berpindah. PSAK no. 14 menyatakan bahwa persediaaan harus

diukur berdasarkan biaya atau realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of

cost and net realizable value) sedangkan menurut PSAP no.05 persediaan disajikan

sebesar:

a. biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;

b. biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

c. nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti

donasi/rampasan.

6. PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi

Pemerintah melakukan investasi dengan beberapa alasan antara lain

memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan dalam jangka

panjang dan memanfaatkan dana yang belum digunakan untuk investasi jangka

pendek dalam rangka manajemen kas.

Investasi pemerintah dibagi atas dua yaitu investasi jangka pendek dan

investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan kelompok aset

lancar sedangkan investasi jangka panjang merupakan kelompok aset nonlancar.

Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi apabila

memenuhi salah satu kriteria:

a. kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa

pontensial di masa yang akan datang atas suatu investasi

tersebut dapat diperoleh pemerintah; dan

b. nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara

memadai (reliable).

Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat

membentuk nilai pasar, dalam hal investasi yang demikian nilai pasar

dipergunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar. Sedangkan untuk

investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat dipergunakan nilai

nominal, nilai tercatat, atau nilai wajar lainnya.

Penilaian investasi pemerintah dilakukan dengan tiga metode berikut ini.

a. Metode biaya

Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya

perolehan. Penghasilan atas investasi tersebut diakui sebesar

bagian hasil yang diterima dan tidak mempengaruhi besarnya

investasi pada badan usaha/badan hukum yang terkait.

b. Metode ekuitas

Dengan menggunakan metode ekuitas pemerintah mencatat

investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau

dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah setelah tanggal

perolehan. Bagian laba kecuali dividen dalam bentuk saham yang

diterima pemerintah akan mengurangi nilai investasi pemerintah dan

tidak dilaporkan sebagai pendapatan. Penyesuaian terhadap

nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi

kepemilikan investasi pemerintah, misalnya adanya perubahan yang

timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.

c. Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan

Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan digunakan terutama untuk

kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.

Penggunaan metode tersebut didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

a. kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya;

b. kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20%

tetapi memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode

ekuitas;

c. kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas;

d. kepemilikan bersifat nonpermanen menggunakan metode nilai bersih

yang direalisasikan.

7. PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap

Aset tetap sering merupakan suatu bagian utama aset pemerintah, dan

karenanya signifikan dalam penyajian neraca. Termasuk dalam aset tetap

pemerintah adalah sebagai berikut ini.

a. Aset tetap yang dimiliki oleh entitas pelaporan namun dimanfaatkan

oleh entitas lainnya, misalnya instansi pemerintah lainnya, universitas,

dan kontraktor.

b. Hak atas tanah

Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau

fungsinya dalam aktivitas operasi entitas. Berikut adalah klasifikasi

aset tetap yang digunakan:

a. tanah;

b. peralatan dan mesin;

c. gedung dan bangunan;

d. jalan, irigasi, dan jaringan;

e. aset Tetap Lainnya; dan

f. konstruksi dalam Pengerjaan.

Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan

memenuhi kriteria:

a. mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;

b. biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;

c. tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan

d. diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset

tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai

aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.

8. PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan

Suatu entitas akuntansi yang melaksanakan pembangunan aset tetap untuk

dipakai dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan/atau masyarakat, dalam

suatu jangka waktu tertentu, baik pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara

swakelola atau oleh pihak ketiga wajib menerapkan standar ini.

Sifat aktivitas yang dilaksanakan untuk konstruksi pada umumnya

berjangka panjang sehingga tanggal mulai pelaksanaan aktivitas dan tanggal

selesainya aktivitas tersebut biasanya jatuh pada periode akuntansi yang

berlainan.

Konstruksi dalam pengerjaan mencakup tanah, peralatan dan mesin, gedung

dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya yang proses

perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu

tertentu dan belum selesai. Perolehan melalui kontrak konstruksi pada umumnya

memerlukan suatu periode waktu tertentu. Periode waktu perolehan tersebut bisa

kurang atau lebih dari satu periode akuntansi. Perolehan aset dapat dilakukan

dengan membangun sendiri (swakelola) atau melalui pihak ketiga dengan kontrak

konstruksi.

Konstruksi dalam pengerjaan d i c a t a t s e s u a i d e n g a n h a r g a

p e r o l e h a n n y a d a n biasanya merupakan aset yang dimaksudkan digunakan

untuk operasional pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka

panjang dan oleh karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap. Konstruksi dalam

pengerjaan dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika kriteria berikut

ini terpenuhi:

a. konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan; dan

b. dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan.

9. PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban

Pernyataan Standar ini mengatur hal-hal sebagai berikut ini.

a. Akuntansi Kewajiban Pemerintah termasuk kewajiban jangka pendek

dan kewajiban jangka panjang yang ditimbulkan dari Utang Dalam Negeri

dan Utang Luar Negeri.

b. Perlakuan akuntansi untuk transaksi pinjaman dalam mata uang asing.

c. Perlakuan akuntansi untuk transaksi yang timbul dari

restrukturisasi pinjaman.

d. perlakuan akuntansi untuk biaya yang timbul dari utang

pemerintah.

Sedangkan kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata

uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang Rupiah. Penjabaran mata

uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.

10. PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan

Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa

Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan suatu entitas harus

menerapkan Pernyataan Standar ini untuk melaporkan pengaruh kesalahan,

perubahan kebijakan akuntansi, dan peristiwa luar biasa.

Pernyataan Standar ini berlaku untuk entitas pelaporan dalam menyusun

laporan keuangan yang mencakup laporan keuangan semua entitas akuntansi,

termasuk badan layanan umum, yang berada di bawah pemerintah pusat/daerah.

Kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan pada satu atau beberapa

periode sebelumnya mungkin baru ditemukan pada periode berjalan. Kesalahan

mungkin timbul dari adanya keterlambatan penyampaian bukti transaksi anggaran

oleh pengguna anggaran, kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam

penerapan standar dan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta,

kecurangan, atau kelalaian.

Para pengguna perlu membandingkan laporan keuangan dari suatu entitas

pelaporan dari waktu ke waktu untuk mengetahui trend posisi keuangan, kinerja,

dan arus kas. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang digunakan harus

diterapkan secara konsisten pada setiap periode. Perubahan di dalam perlakuan,

pengakuan, atau pengukuran akuntansi sebagai akibat dari perubahan atas

basis akuntansi, Kriteria kapitalisasi, metode, dan estimasi, merupakan contoh

perubahan kebijakan akuntansi. Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus

dilakukan hanya apabila penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda

diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi

pemerintahan yang berlaku, atau apabila diperkirakan bahwa perubahan tersebut

akan menghasilkan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan,

atau arus kas yang lebih relevan dan lebih andal dalam penyajian laporan

keuangan entitas.

11. PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran,

Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan konsolidasian

disajikan untuk periode pelaporan yang sama dengan periode pelaporan keuangan

entitas pelaporan dan berisi jumlah komparatif dengan periode sebelumnya.

Pemerintah pusat menyampaikan laporan keuangan konsolidasian dari semua

kementerian negara/lembaga kepada lembaga legislatif.

Konsolidasi yang dimaksud oleh Pernyataan Standar ini dilaksanakan dengan

cara menggabungkan dan menjumlahkan akun yang diselenggarakan oleh entitas

pelaporan dengan entitas pelaporan lainnya dengan atau tanpa mengeliminasi akun

timbal balik. Entitas pelaporan menyusun laporan keuangan dengan

menggabungkan laporan keuangan seluruh entitas akuntansi yang secara

organisatoris berada di bawahnya. Dalam hal konsolidasi dilakukan tanpa

mengeliminasi akun-akun yang timbal-balik, maka nama-nama akun yang timbal

balik, dan estimasi besaran jumlah dalam akun yang timbal balik dicantumkan

dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Suatu entitas pelaporan ditetapkan di dalam peraturan perundang-undangan,

yang umumnya bercirikan sebagai berikut ini.

a. Entitas tersebut dibiayai oleh APBN atau dibiayai oleh APBD atau

mendapat pemisahan kekayaan dari anggaran.

b. Entitas tersebut dibentuk dengan peraturan perundang-undangan.

c. Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat pemerintah yang diangkat

atau pejabat negara yang ditunjuk atau yang dipilih oleh rakyat.

d. Entitas tersebut membuat pertanggungjawaban baik langsung maupun

tidak langsung kepada wakil rakyat sebagai pihak yang menyetujui

anggaran.

Sedangkan entitas akuntansi adalah pengguna anggaran/pengguna barang yang

menyelenggarakan akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan

sehubungan dengan anggaran/barang yang dikelolanya yang ditujukan kepada

entitas pelaporan.

J. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005, standar akuntansi

pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan

menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan demikian, standar akuntansi

pemerintahan merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya

meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia. Menurut Awami

(2005), Keberadaan standar diharapkan meningkatkan kualitas laporan keuangan yang

disusun pemerintah daerah. Masyarakat yang maju, investor, DPRD, pemerintah pusat,

dan BPK sebagai pihak yang meminta laporan keuangan dengan dilandasi undang-

undang dapat mendorong agar pemerintah daerah dapat menyajikan dan menyampaikan

laporan keuangan sesuai dengan standar.

Pada akhirnya, laporan keuangan pemerintah daerah benar-benar dapat dipakai

sebagai wujud tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah.

Sistem yang rapi, transparan, dan akuntabel, membuat korupsi menjadi mustahil dan

membuat koruptor mati angin.

Untuk menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi

pemerintahan dibutuhkan sumber daya manusia yang handal. Sumber daya manusia

tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu aparat pemerintah sebagai pengguna langsung

standar akuntansi pemerintahan dan mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan

pemerintah.

Penelitian mengenai standar akuntansi pemerintahan pernah dilakukan Dwijayanti

(2007) yang mengambil objek penelitian di Kabupaten Temanggung mengenai

implementasi standar akuntansi pemerintahan khususnya PSAP 01, PSAP, 02, PSAP, 03,

dan PSAP 04. Hasil penelitian ini adalah Kabupaten Temanggung belum sepenuhnya

melaksanakan standar akuntansi pemerintahan sesuai PP no 24 tahun 2005, melainkan

masih banyak menggunakan pedoman dari Kepmendagri no. 29. tahun 2002 terutama

dalam penyusunan anggaran.

Budisantoso (2008) melaksanakan penelitian mengenai persepsi staf Pemerintah

Kabupaten Sragen terhadap standar akuntansi pemerintah, dalam penelitiannya staf

pemerintah Kabupaten Sragen memberikan persepsi positif mengenai penerapan standar

akuntansi pemerintahan sesuai PP no. 24 tahun 2005. Budisantoso (2008) juga

menjelaskan persepsi positif staff instansi daerah belum sejalan dengan penerapan standar

akuntansi pemerintahan dalam praktik akuntansi keuangan daerah di Kabupaten Sragen.

Kedua penelitian tersebut menemukan bukti bahwa dalam penerapan standar

akuntansi pemerintahan di masing-masing daerah mempunyai kendala, yaitu proses

implementasi standar akuntansi pemerintahan memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang

cukup banyak, dan kurangnya sosialisasi standar akuntansi pemerintahan serta kurang

kesiapan sumber daya manusia dikarenakan tenaga keuangan yang berasal dari disiplin

ilmu akuntansi masih terbatas.

Sulastri (2006) melakukan penelitian mengenai pemahaman mahasiswa akuntansi di

perguruan tinggi negeri dan swasta terhadap standar akuntansi pemerintahan. Hasil

penelitian tersebut adalah mahasiswa akuntansi perguruan tinggi dan swasta tidak

berbeda dalam pemahamannya terhadap standar akuntansi pemerintahan.

Pemahaman terhadap standar akuntansi pemerintahan oleh staff pemerintah daerah

dan mahasiswa akuntansi sangat erat kaitannya dengan keberhasilan tujuan akuntansi

pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

pemahaman seseorang adalah lingkungan dimana individu itu berada dimana keduanya

memiliki lingkungan yang berbeda dalam mempelajari standar akuntansi pemerintahan.

Purwanto (1990) menyatakan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi perkembangan manusia. Selain itu, aktivitas manusia itu sendiri dalam

perkembangannya turut menentukan atau memainkan peran juga. Alder dalam

Suryabrata (1993) menyatakan bahwa faktor lingkungan lebih dominan mempengaruhi

perkembangan manusia dibandingkan faktor pembawaan.

Instansi pemerintahan dan lingkungan pendidikan memiliki karakter yang berbeda.

Karakter tersebut mungkin dalam bentuk kesempatan riset dan program-program

peningkatan pengetahuan yang lainnya. Latar belakang pendidikan juga mempengaruhi

terhadap pemahaman seseorang tentang suatu hal. Kustono dalam Sulastri (2006) berhasil

membuktikan dari hasil penelitiannya bahwa perbedaan institusi berpengaruh terhadap

persepsi dosen akuntansi terhadap kesetaraan PABU dan SAK.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini selain bertujuan untuk mengetahui pemahaman

aparat pemerintah dan mahasiswa akuntansi terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan,

peneliti juga ingin meneliti apakah terdapat perbedaan pemahaman antara staff

pemerintah sebagai pengguna dan mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan

pemerintah dalam memahami Standar Akuntansi Pemerintahan. maka dapat dirumuskan

suatu hipotesis sebagai berikut.

Ha1 : Terdapat perbedaan antara staff instansi pemerintah sub bagian keuangan

dengan mahasiswa akuntansi dalam memahami Standar Akuntansi

Pemerintahan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

K. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu rencana kerja yang terstruktur dalam hal

hubungan-hubungan antar variabel secara komprehensif yang dibuat sedemikian rupa

agar hasil penelitian dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada

(Alva, 2005). Tujuannya adalah memahami beberapa aspek yang berbeda, yang

relevan untuk mendesain suatu studi penelitian, menjamin keakuratan penelitian,

meningkatkan kepercayaan diri dalam melakukan penelitian, dan menjamin

kemampuan generalisasi dari penelitian (sekaran, 2000).

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey lapangan (field

research) yang dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi dalam

lingkungan sebenarnya (sekaran, 2000). Menurut Jogiyanto (2004) survey adalah

pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada

responden individu. Penelitian ini menggunakan data primer. Metode survey yang

digunakan bersifat menyeluruh dan meluas tanpa mengkhususkan perhatiannya pada

gejala tertentu di dalamnya, sehingga data yang dikumpulkan dari sejumlah sampel

tertentu dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat

pengumpulan data.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Jogiyanto (2004) menjelaskan

penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau

mendefinisikan siapa yang terlibat di dalam suatu kegiatan, apa yang dilakukannya,

kapan dilakukan, di mana dan bagaimana melakukannya.

32

L. Populasi, Sampel, Teknik Sampling

Populasi adalah jumlah keseluruhan individu (Singarimbun dan Effendi dalam

Alva, 2005). Sedangkan, menurut Sekaran (2000) populasi menunjuk pada seluruh

orang, kejadian, atau segala sesuatau yang berkaitan dengan masalah yang akan

diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah staff instansi Pemerintah Kabupaten

Banyumas dan mahasiswa PTN dan PTS di Surakarta.

Tabel I di bawah ini merupakan gambaran demografi dari instansi yang menjadi

objek dalam penelitian ini. Instansi Pemerintah Kabupaten Banyumas terdiri dari 2

sekretariat, 24 unit kerja yang terdiri dari 14 Dinas daerah dan 10 Lembaga teknis

daerah.

Tabel I Demografi Instansi Penerima Kuesioner

No UNIT KERJA ALAMAT 1. Sekretariat Daerah Jl. Kabupaten No1 Purwokerto 2. Sekretariat DPRD Jl. Kabupaten No. 1 Purwokerto

DINAS DAERAH ALAMAT 1. Dinas Tenaga Kerja dan

Transmigrasi (Disnakertrans )

Jl. Pemuda No. 24 Purwokerto

2. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

3. Dinas Kesehatan Jl. Balai Pengobatan No. 3 Purwokerto

4. Dinas Pendidikan Jl. Perintis Kemerdekaan No. 75 Purwokerto

5. Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi

Jl. Warga Bakti No. 3 Purwokerto

6. Dinas Perhubungan Jl. Margantara No. 460 Tanjung Purwokerto

7. Dinas Pekerjaan Umum ( DPU )

Jl. Gatot Subroto No. III-5 Purwokerto

8. Dinas Lingkungan Hidup Jl. Gerilya Barat No. 5 Purwokerto

Dilanjutkan.

9. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Jl. Dr. Suparno No. 24 Purwokerto

10. Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Jl. Gatot Subroto No. 102 Purwokerto

11. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Jl. Jend. Soedirman 196 Purwokerto

12. Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

13. Dinas Pertanian Tanaman Pangan

Jl. Gatot Subroto No. 108 Purwokerto

14. Dinas Peternakan dan Perikanan

Jl. A. Yani No. 30 A Purwokerto

LEMTEKDA ALAMAT 1. Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda)

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

2. Badan Penelitian Pengembangan, Telematika dan Arsip Daerah.

Jl. Masjid No. 8 Purwokerto

3. Badan Pengawasan Daerah ( Bawasda ) Kab. Banyumas

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45B Purwokerto

4. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah ( BPKD )

Jl. Kabupaten No. 1 Purwokerto

5. Badan Kepegawaian Daerah (BKD)

Jl. Dr. Suparno No. 25 Purwokerto

6. Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana (BKCKB)

Jl. Jend. Soedirman No. 320 A Purwokerto

7. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglimas)

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

8. Rumah sakit Umum (RSU) Banyumas

Jl. Rumah Sakit No. 1 Banyumas

9. Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi (KPPI)

Jl. Kawedanan Purwokerto

Dilanjutkan.

Tabel I (lanjutan)

10. Kantor Pendidikan dan Pelatihan

Jl. Raya Km. 13 Baturaden

Data Alamat Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas ( Sumber : www.Banyumaskab.go.id ) Sampel adalah bagian dari populasi yang terdiri dari elemen yang diharapkan

memliki karakteristik yang mewakili populasinya (Sekaran, 2000). Sementara

menurut Djarwanto dan Subagyo (1985) sampel adalah sebagian populasi yang

karakteristiknya hendak diselidiki, dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi

di mana jumlahnya lebih sedikit daripada jumlah populasinya. Jogiyanto (2004)

mengatakan bahwa sampel harus mempunyai kriteria akurat dan presisi, dimana

dikatakan akurat yaitu sampel yang tidak bias, sedangkan presisi yaitu sampel yang

mempunyai presisi tinggi adalah sampel yang mempunyai kesalahan pengambilan

sampel (sampling error) yang rendah.

Tipe sampling design yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan

menggunakan pendekatan purposive sampling. Metode ini dilakukan dengan

mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kriteria yang

digunakan berdasarkan pertimbangan (judgment).

Berdasarkan judgment sampling yang bertujuan mendapatkan keakuratan data

untuk mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan penelitian tersebut maka pengambilan

sampel dalam penelitian ini adalah staff keuangan daerah yang memiliki masa jabatan

di atas 2 tahun dan pendidikan minimal Diploma Tiga. Sedangkan untuk mahasiswa

pengambilan sampelnya adalah mahasiswa semester empat ke atas terlebih yang

sudah menempuh mata kuliah akuntansi pemerintahan.

Tabel I (lanjutan)

Dari keterangan di atas, penulis mempunyai gambaran umum mengenai sampel

yang akan digunakan dalam penelitian ini terutama dalam mengambil sampel yang

berkaitan dengan Pemerintahan Kabupaten Banyumas dan mahasiswa akuntansi di

Surakarta sesuai dengan tujuan pemilihan sampling dengan menggunakan metode

judgement sampling.

M. Pengukuran Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah pengukuran terhadap pemahaman staff

instansi Kabupaten Banyumas dan pemahaman mahasiwa akuntansi terhadap Standar

Akuntansi Pemerintahan. Kuesioner diajukan kepada responden dengan memberikan

beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pemahaman responden terhadap

standar akuntansi pemerintahan. Seluruh pernyataan akan diukur dengan skala

dichomous. Hal ini dilakukan untuk menghindari pernyataan tidak tahu pada skala

median karena scope penelitian di daerah yang notabene menganut budaya netral

dalam memberikan suatu pernyataan sehingga akan menimbulkan efek bias pada hasil

penelitian.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang

diadopsi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sulastri (2006), Untuk

perbaikan dan pengembangan kuesioner, maka terdapat penambahan dan

pengurangan materi pertanyaan sebelumnya dengan materi pertanyaan baru.

Bagian pertama dari kuesioner ini yaitu berisi pernyataan yang merupakan

identitas responden meliputi nama, jenis kelamin, jenjang pendidikan, jabatan, bidang

pekerjaan, dan lama bekerja khusus untuk staff instansi daerah. Kuesioner untuk

mahasiswa berisikan nama, jenis kelamin, NIM, serta keterangan sudah atau belum

pernah mengikuti mata kuliah akuntansi sektor publik. Bagian pertama ini digunakan

untuk mengidentifikasikan sampel yang diharapkan oleh penulis dalam tujuannya

mendapatkan akurasi data sehubungan dengan topik utama penelitian tersebut yaitu

mengenai Standar Akuntansi Pemerintahan.

Bagian kedua berisikan pernyataan kuesioner yang berisi pernyataan mengenai

pemahaman responden tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sesuai yang

dijabarkan sebagai berikut.

a. Pertanyaan no.1, 2, dan 3 digunakan untuk mengukur pemahaman staff instansi

Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan

no.1.

b. Pertanyaan nomor 4, 5, dan 6 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiwa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 2.

c. Pertanyaan nomor 7, 8, dan 33 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 3.

d. Pertanyaan nomor 9, 10, dan 11 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 4.

e. Pertanyaan nomor 12, 13 dan 14 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 5.

f. Pertanyaan nomor 15, 16, dan 17 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 6.

g. Pertanyaan nomor 18, 19, dan 20 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 7.

h. Pertanyaan nomor 21, 22, dan 23 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 8.

i. Pertanyaan nomor 24, 25, dan 26 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 9.

j. Pertanyaan nomor 27, 28, dan 29 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 10.

k. Pertanyaan nomor 30, 31 dan 32 digunakan untuk mengukur pemahaman staff

instansi Pemda dan mahasiswa terhadap Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan no. 11.

Dalam kuesioner ini terdapat beberapa pertanyaan negatif yang tertuang pada

pertanyaan nomor 2, 4, 10, 14, 17, 19, 27, 33. Semakin banyak yang menjawab salah

pada item pertanyaan, maka semakin tinggi pemahaman staff instansi pemerintah

daerah terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan.

Pertanyaan dikelompokkan menurut item permasalahan tertentu, hal ini bertujuan

untuk menghindari rasa lelah dan bosan responden dalam menjawab tiap item

pertanyaan sehingga memudahkan responden dalam memberikan jawaban-jawaban

yang optimal (Suparmoko,1999).

E. Metode Analisis Data

Dalam analisa data penulis menggunakan bantuan SPSS v16 for windows. Dengan

melakukan beberapa pengujian sebagai berikut.

1. Uji Validitas dan Realibilitas

Sebelum melakukan pengujian hipotesis maka dilakukan uji kualitas terhadap

data penelitian dengan menggunakan uji validitas dan reliabilitas

a. Uji Validitas

Santosa dan Ashari (2005) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran

yang menunjukan sejauh mana instrumen pengukur mampu mengukur apa

yang ingin diukur. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan uji validitas

Karl Pearson.

Keterangan :

rxy = indeks konsistensi internal untuk butir ke-I,

n = banyaknya subyek yang dikenai tes (instrumen),

X = skor untuk butir ke-i (dari subyek),

Y = total skor (dari subyek).

Suatu instrumen disebut konsisten jika kesemua butir dalam instrument

tersebut mengukur hal yang sama dan menunjukkan kecenderungan yang

sama pula, atau dapat dikatakan harus ada korelasi positif antara skor masing-

masing butir tersebut. Konsistensi internal masing-masing butir dapat dilihat

dari korelasi antara skor butir-butir tersebut dengan skor totalnya. Jika indeks

konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0.3 maka butir tersebut harus

dibuang atau dengan kata lain butir tersebut tidak valid. (Budiyono, 2003)

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan ketelitian suatu alat ukur. Alat ukur

dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya, konsisten atau stabil. Mengenai

reliabilitas yang dimaksud pada prinsipnya menunjukkan sejauh mana

pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila

dilakukan kembali untuk mengukur terhadap subyek yang sama.

Reliabilitas soal dinyatakan dengan indeks reliabilitas (r11) diukur dengan

rumus Kuder dan Richardson 20 yang dikenal dengan rumus K-R 20 yang

dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan :

r11 = indeks reliabilitas tes secara keseluruhan,

p = proporsi subyek yang menjawab benar,

q = proporsi subyek yang menjawab salah,

n = jumlah butir soal, dan

s2 = variansi total.

Setelah diperoleh harga r11 kemudian dikonsultasikan dengan tabel r

product moment. Apabila r11 lebih besar dari rtabel dikatakan instrumen

tersebut reliabel. Namun ada cara lain yang lebih sederhana dan mudah, yaitu

menggunakan interpretasi terhadap koefisien korelasi yang diperoleh atau

nilai r, digunakan patokan dari Arikunto (2002) sebagai berikut ini.

Besarnya nilai r Interpretasi

Antara 0,800 sampai dengan 1,000 Tinggi

Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup

Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Agak rendah

Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah

Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat rendah

2. Pengujian Hipotesis

a. Proporsi

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, maka untuk mengetahui

jawaban dari permasalahan yang pertama digunakan metode analisis statistik

deskriptif. Jogiyanto (2004), Statistik deskriptif merupakan statistik yang

menggambarkan fenomena atau karakteristik dari data. Karaktristik data yang

digambarkan adalah karakteristik distribusinya. Adapun analisis yang digunakan

dalam penelitian ini adalah proporsi dan rata rata (mean). Jawaban dari

kuesioner yang disebar diberi skor dan dinyatakan dalam persentase.

Pemberian skor pada masing masing item pertanyaan dengan kriteria untuk

jawaban benar diberi skor 1 (satu) dan jawaban salah diberi skor 0 (nol). Setelah

itu, Melakukan analisis proporsi pada setiap item pertanyaan dengan

menggunakan rumus sebagai berikut ini.

X P =

N Keterangan :

P = Proporsi,

X = Jumlah Responden dengan kriteria, dan

N = Jumlah Responden secara keseluruhan.

Setiap pertanyaan digabungkan berdasarkan kelompok, dalam hal ini

pertanyaan dikelompokkan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan. Kemudian, menghitung rata-rata persentase tiap item pertanyaan.

Sehingga akan diketahui masing-masing tingkat pemahaman satff instansi daerah

Kabupaten Banyumas dan mahasiwa akuntansi terhadap Standar Akuntansi

Pemerintah.

Standar yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil analisis proporsi

adalah segabai berikut ini.

Tabel III.1

Interpretsi hasil analisis proporsi

Besarnya persentase Intrepretasi

80% sampai dengan 100%

70% sampai dengan 79%

60% sampai dengan 69%

40% sampai dengan 59%

0% sampai dengan 39%

Sangat baik atau sangat tinggi

Baik atau tinggi

Cukup

Kurang

Gagal

(Sumber: Sub Bagian Pendidikan Fakultas Ekonomi UNS)

b. Uji Normalitas

Untuk menguji apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak,

maka digunakan uji normalitas (Kolmogorof-Smirnov) pada SPSS 16 for

windows.

c. Uji Hipotesis

Sesuai dengan tujuan penelitian ini sebelumnya, penelitian ini tidak hanya

bertujuan untuk mengetahui pemahaman staff instansi daerah dan mahasiwa

akuntansi terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan. Penelitian ini juga untuk

menguji perbedaan pemahaman antar aparat pemerintah dan mahasiswa

akuntansi.

Oleh karena itu, pengujian yang digunakan ada 2 macam yaitu uji beda rata-

rata dengan teknik uji statistik parametrik dan uji statistik non parametrik, jika

parameter dan populasi terdistribusi normal maka digunakan uji Independent

Samples T-Test dan apabila parameter dan populasi tidak terdistribusi normal

maka menggunakan uji Mann-Whitney Test (uji U) (Purnomo, 2006).

Pedoman yang dapat digunakan untuk menerima dan menolak hipotesis yang

diusulkan adalah sebagai berikut ini.

a. Penghitungan dengan menggunakan uji Mann-Whitney Test (uji U)

1. Dengan menggunakan level signifikan 0,05, maka diperoleh p-value.

Jika p-value lebih dari 0,05 berarti Ha diterima.

2. Ha ditolak jika p-value lebih besar dari nilai 0,05.

b. Penghitungan dengan menggunakan Independent Samples T-Test

1. jika t-hitung > t-tabel maka, Ha diterima dan disimpulkan terdapat

perbedaan kelompok satu dengan kelompok dua.

2. jika t-hitung < t-tabel maka, Ha ditolak dan disimpulkan tidak terdapat

perbedaan antara kelompok satu dengan kelompok dua.

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Pengumpulan data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman staff instansi pemerintah

daerah dan mahasiswa akuntansi terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan. Selain

itu, peneliti juga ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan anatara staff instansi

pemerintah daerah dan mahasiswa akuntansi dalam memahami Standar Akuntansi

Pemerintahan.

Penelitian ini mengambil sampel dari populasi staff instansi pemerintahan di

Kabupaten Banyumas dan mahasiswa akuntansi di UNS dan UMS yang telah

mengambil atau sedang mengambil mata kuliah Akuntansi Sektor Publik. Data

penelitian ini diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada staff instansi

pemerintah di Kabupaten Banyumas dan mahasiswa akuntansi di UNS dan UMS.

Alat penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner.

Langkah pertama yang dilakukan pada penelitian ini adalah merancang kuesioner.

Langkah selanjutnya adalah membuat surat pengantar penelitian dan melakukan

penyebaran kuesioner kepada para responden.

Penyebaran kuesioner kepada staff instansi pemerintah dilakukan secara

langsung kepada bagian keuangan dan akuntansi di Kabupaten Banyumas dengan

memberikan maksud dan tujuan penelitian serta menjelaskan cara pengisian. Sampel

staff instansi daerah yang digunakan dalam penelitian ini adalah, staff keuangan

daerah yang memiliki masa jabatan di atas 2 tahun dan pendidikan minimal Diploma.

44

Berdasarkan Perda Kabupaten Bnayumas No. 11 tahun 2002 tentang Susunan

Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Kabupaten Banyumas, perangkat daerah

terdiri dari 2 Unit Kerja, 14 Dinas Daerah, dan 10 Lembaga Teknis Daerah :

Tabel IV.1 Diskripsi Responden Staff instansi Pemerintah Berdasarkan Nama Instansi

No UNIT KERJA ALAMAT 1. Sekretariat Daerah Jl. Kabupaten No1 Purwokerto 2. Sekretariat DPRD Jl. Kabupaten No. 1 Purwokerto

DINAS DAERAH ALAMAT 1. Dinas Tenaga Kerja dan

Transmigrasi (Disnakertrans )

Jl. Pemuda No. 24 Purwokerto

2. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

3. Dinas Kesehatan Jl. Balai Pengobatan No. 3 Purwokerto

4. Dinas Pendidikan Jl. Perintis Kemerdekaan No. 75 Purwokerto

5. Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi

Jl. Warga Bakti No. 3 Purwokerto

6. Dinas Perhubungan Jl. Margantara No. 460 Tanjung Purwokerto

7. Dinas Pekerjaan Umum ( DPU )

Jl. Gatot Subroto No. III-5 Purwokerto

8. Dinas Lingkungan Hidup Jl. Gerilya Barat No. 5 Purwokerto

9. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Jl. Dr. Suparno No. 24 Purwokerto

10. Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Jl. Gatot Subroto No. 102 Purwokerto

11. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Jl. Jend. Soedirman 196 Purwokerto

12. Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

13. Dinas Pertanian Tanaman Pangan

Jl. Gatot Subroto No. 108 Purwokerto

14. Dinas Peternakan dan Perikanan

Jl. A. Yani No. 30 A Purwokerto

Dilanjutkan

LEMTEKDA ALAMAT 1. Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda)

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

2. Badan Penelitian Pengembangan, Telematika dan Arsip Daerah.

Jl. Masjid No. 8 Purwokerto

3. Badan Pengawasan Daerah ( Bawasda ) Kab. Banyumas

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45B Purwokerto

4. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah ( BPKD )

Jl. Kabupaten No. 1 Purwokerto

5. Badan Kepegawaian Daerah (BKD)

Jl. Dr. Suparno No. 25 Purwokerto

6. Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana (BKCKB)

Jl. Jend. Soedirman No. 320 A Purwokerto

7. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglimas)

Jl. Prof. Dr. Suharso No. 45 Purwokerto

8. Rumah sakit Umum (RSU) Banyumas

Jl. Rumah Sakit No. 1 Banyumas

9. Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi (KPPI)

Jl. Kawedanan Purwokerto

10. Kantor Pendidikan dan Pelatihan

Jl. Raya Km. 13 Baturaden

Sumber : www.banyumaskab.go.id

Penyebaran kuesioner kepada mahasiswa akuntansi dilakukan secara langsung di

UNS dan UMS dengan memastikan bahwa mahasiswa yang bersangkutan adalah

mahasiswa akuntansi yang telah mengambil atau sedang mengambil mata kuliah

Akuntansi Sektor publik. Penyebaran dilakukan dengan memberikan sedikit

Tabel IV.1 (lanjutan)

penjelasan tentang cara pengisian kuesioner. Kuesioner yang disebar untuk

mahasiswa akuntansi kembali kurang lebih 1 (satu) minggu setelah penyebaran.

Jumlah kuesioner yang disebar untuk staff instansi daerah Pemerintah

Kabupaten Banyumas adalah 130 kuesioner yaitu masing-masing dinas/lembaga 5

kuesioner. Sementara itu, terdapat 2 lembaga pemerintahan daerah yang tidak

memberikan partisipasinya dalam pengambilan data yaitu BKD (Badan

Kepegawaian Daerah) dan Bawasda (Badan Pengawasan Daerah). Pengambilan data

mahasiswa akuntansi adalah 130 kuesioner. Kuesioner yang kembali dan dapat

diolah dari staff instansi pemerintah adalah 65 kuesioner, sedangkan dari mahasiswa

akuntansi adalah 73 kuesioner. Tidak semua kuesioner dapat dianalisis. Kuesioner

yang tidak lengkap pengisiannya serta tidak sesuai dengan sampel yang ditentukan

dinyatakan gugur. Distribusi kuesioner, jumlah yang kembali dan jumlah yang dapat

dianalisis sebagai berikut ini.

Tabel IV.2

Distribusi kuesioner

Responden Disebar Kembali Tidak Sah

Sah

Staff instansi Pemerintah 130 120 55 65

Mahasiswa akuntansi 130 73 0 73

Total 260 193 55 138

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Dari tabel IV.1 dapat diketahui bahwa dari total 260 kuesioner yang

disebar terdapat total 193 kuesioner yang kembali. Dilihat dari tingkat pengembalian

kuesioner, maka total kuesioner yang kembali adalah cukup (74 %).

B. Deskripsi Responden

Responden penelitian ini adalah staff instansi pemerintah daerah dan

mahasiswa akuntansi. Berikut ini adalah gambaran umum mengenai masing

masing responden.

Tabel IV.3 Diskripsi Responden Staff instansi Pemerintah Berdasarkan Nama Instansi

No UNIT KERJA Dibagikan Kembali sah Tidak sah

1. Sekretariat Daerah 5 5 3 2 2. Sekretariat DPRD 5 5 3 2 DINAS DAERAH 1. Dinas Tenaga Kerja dan

Transmigrasi (Disnakertrans ) 5 5 2 3

2. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

5 3 1 2

3. Dinas Kesehatan 5 5 5 0 4. Dinas Pendidikan 5 5 2 3 5. Dinas Sumber Daya Air,

Pertambangan dan Energi 5 5 2 3

6. Dinas Perhubungan 5 4 1 3 7. Dinas Pekerjaan Umum

( DPU ) 5 5 4 1

8. Dinas Lingkungan Hidup 5 5 2 3 9. Dinas Pariwisata dan

Kebudayaan. 5 5 5 0

10. Dinas Perindustrian dan Perdagangan

5 5 2 3

11. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

5 5 3 2

12. Dinas Kehutanan dan Perkebunan

5 5 1 4

13. Dinas Pertanian Tanaman Pangan

5 5 3 2

14. Dinas Peternakan dan Perikanan

5 5 2 3

Dilanjutkan.

LEMTEKDA 1. Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda)

5 5 2 3

2. Badan Penelitian Pengembangan, Telematika dan Arsip Daerah.

5 5 2 3

3. Badan Pengawasan Daerah ( Bawasda ) Kab. Banyumas

5 5 0 0

4. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah ( BPKD )

5 5 4 1

5. Badan Kepegawaian Daerah (BKD)

5 5 0 0

6. Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana (BKCKB)

5 3 2 1

7. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglimas)

5 5 4 1

8. Rumah sakit Umum (RSU) Banyumas

5 5 4 1

9. Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi (KPPI)

5 5 3 2

10. Kantor Pendidikan dan Pelatihan

5 5 3 2

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Dari tabel IV.2 dapat diketahui tingkat pengembalian dan sah atau tidaknya

kuesioner dalam penelitian. Sah dan tidaknya kuesioner dalam penelitian

dikarenakan sampel dari populasi yang diharapkan oleh penulis dapat mewakili

tujuan penelitian ini, yaitu staff instansi pemerintah daerah yang memiliki masa kerja

lebih dari 2 tahun dan minimal pendidikan adalah diploma ke atas.

Dari beberapa dinas dan Lemtekda terdapat 2 Lemtekda yang tidak berpartisipasi

dalam penelitian ini, yaitu BAWASDA (Badan Pengawasan Daerah ) dan BKD

Tabel IV.2 Lanjutan

(Badan Kepegawaian Daerah) dikarenakan birokrasi dari lembaga tersebut yang

tidak memungkinkan menerima penelitian di instansinya.

Tabel IV.4 Diskripsi Responden Mahasiswa Berdasarkan Angkatan Kuliah

No Angkatan

Responden 2006 2005 2004 2003 2002

1 Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)

20 23 0 0 0

2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

0 8 17 1 4

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Dari tabel IV.3 dapat diketahui bahwa jumlah responden mahasiswa akuntansi

UNS untuk angkatan kuliah 2006 sebanyak 20 mahasiswa (46.51%). Jumlah ini lebih

sedikit daripada responden angkatan kuliah 2005 sebanyak 23 responden (54.49%).

Adapun responden mahasiswa akuntansi UMS untuk angkatan kuliah 2005 sebanyak

8 responden (26.67%). Responden mahasiswa akuntansi untuk angkatan kuliah 2004

sebanyak 17 responden (56.67%). Responden mahasiswa akuntansi untuk angkatan

kuliah 2003 sebanyak 1 responden (3.33%). Sedangkan responden mahasiswa

akuntansi untuk angkatan kuliah 2002 sebanyak 4 responden (13.33%).

C. Hasil analisis data

1. Uji Validitas

Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur untuk melakukan tugasnya

mencapai sasarannya. Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa validitas

menunjukkan seberapa nyata suatu pengujian mengukur apa yang seharusnya

diukur. Pengukuran dikatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata atau

benar.

Pengujian ini dilakukan dengan menguji tiap-tiap butir pertanyaan. Data yang

digunakan selanjutnya adalah data yang valid. Sebaliknya, data yang tidak

memenuhi kriteria valid tidak akan digunakan untuk pengujian selanjutnya.

Berikut ini adalah hasil pengujian validitas untuk masing-masing butir pertanyaan

dalam setiap PSAP.

1. PSAP No. 01 : Penyajian Laporan Keuangan

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur penyajian laporan

keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) dalam

rangka meningkatkan keterbandingan laporan keuangan baik terhadap

anggaran, antar periode, maupun antar entitas. Pernyataan ini diwakili oleh 3

(tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut

dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.5 Hasil Uji Validitas PSAP No.01

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Unsur-unsur laporan keuangan 0,373**

valid

2. Basis akuntansi 0,326** valid

3. Periodeisasi penyajian laporan keuangan 0,441** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

2. PSAP No. 02 : Laporan Realisasi Anggaran

Tujuan standar Laporan Realisasi Anggaran adalah menetapkan dasar-

dasar penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk pemerintah dalam rangka

memenuhi tujuan akuntabilitas sebagaimana ditetapkan oleh peraturan

perundang-undangan. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah

dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti

terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.6 Hasil Uji Validitas PSAP No.02

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Pos pos dalam laporan realisasi anggaran

0,172* valid

2. Pengakuan pendapatan 0,285** valid

3. Pengakuan belanja 0,434** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

3. PSAP No. 03 : Laporan Arus Kas

Tujuan Pernyataan Standar laporan arus kas adalah mengatur penyajian

laporan arus kas yang memberikan informasi historis mengenai perubahan

kas dan setara kas suatu entitas pelaporan dengan mengklasifikasikan arus kas

berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan

nonanggaran selama satu periode akuntansi. Pernyataan ini diwakili oleh 3

(tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir

tersebut dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.7 Hasil Uji Validitas PSAP No.03

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Entitas penyusun laporan arus kas

0,250** valid

2. Metode penyajian laporan arus kas operasi

0,313** valid

3. Entitas penyusun laporan arus kas 0,213** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

4. PSAP No. 04 : Catatan atas laporan Keuangan

Tujuan Pernyataan Standar ini mengatur penyajian dan pengungkapan

yang diperlukan pada Catatan atas Laporan Keuangan. Pernyataan ini

diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir,

ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.8 Hasil Uji Validitas PSAP No.04

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Kewajiban menyajikan catatan atas laporan keuangan

0,372**

valid

2. Ketidakharusan memiliki referensi silang

0,336** valid

3. Pengungkapan dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan akuntansi

0,455** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

5. PSAP No. 05 : Akuntansi Persediaan

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur perlakuan

akuntansi untuk persediaan dan informasi lainnya yang dianggap perlu

disajikan dalam laporan keuangan. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga)

pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut

dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.9 Hasil Uji Validitas PSAP No.05

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Pengakuan persediaan 0,334** valid

2. Penyajian nilai persediaan 0,266** valid

3. Penyajian nilai persediaan 0,165* valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

6. PSAP No. 06 : Akuntansi Investasi

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur perlakuan

akuntansi untuk investasi dan pengungkapan informasi penting lainnya yang

harus disajikan dalam laporan keuangan. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga)

pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut

dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.10 Hasil Uji Validitas PSAP No.06

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Pengakuan pengeluaran untuk investasi jangka pendek

0,325** valid

2. Pengakuan pengeluaran untuk investasi jangka panjang

0,317* valid

3. Penilaian investasi dengan metode ekuitas

0,299** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

7. PSAP No. 07 : Akuntansi aset tetap

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk

aset tetap. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan

uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti terlihat

pada tabel berikut ini.

Tabel IV.11 Hasil Uji Validitas PSAP No.07

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Penilaian aset tetap 0,272** valid

2. Akun yang termasuk dalam aset tetap

0,283* valid

3. Masa manfaat aset tetap 0,320* valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

8. PSAP No. 08 : Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan

Tujuan Pernyataan Standar Konstruksi Dalam Pengerjaan adalah

mengatur perlakuan akuntansi untuk konstruksi dalam pengerjaan dengan

metode nilai historis. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah

dilakukan uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti

terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.12 Hasil Uji Validitas PSAP No.08

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Pengakuan konstruksi dalam pengerjaan

0,205* valid

2. Pencatatan konstruksi dalam pengerjaan

0,225** valid

3. Perpindahan dari konstruksi dalam proses ke aset tetap

0,283** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

9. PSAP No. 09 : Akuntansi Kewajiban

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan akuntansi

kewajiban meliputi saat pengakuan, penentuan nilai tercatat, amortisasi, dan

biaya pinjaman yang dibebankan terhadap kewajiban tersebut. Pernyataan ini

diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas tiap butir,

ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.13 Hasil Uji Validitas PSAP No.09

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Pengakuan kewaijban 0,361** valid

2. Kewajiban dalam mata uang asing

0,443** valid

3. Penjabaran mata uang asing 0,468** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

10. PSAP No. 10 : Koreksi kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi dan

peritiwa luar biasa

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan akuntansi atas

koreksi kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi, dan peristiwa luar biasa.

Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan uji

validitas tiap butir, ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti terlihat pada

tabel berikut ini.

Tabel IV.14 Hasil Uji Validitas PSAP No.10

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Saat dilakukan perubahan kebijakan

0,329** valid

2. Saat dilakukan koreksi 0,404** valid

3. Pengungkapan perubahan kebijakan

0,375** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

11. PSAP No. 11 : Laporan Keuangan Konsolidasian

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur penyusunan laporan

keuangan konsolidasian pada unit-unit pemerintahan dalam rangka

menyajikan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial

statements) demi meningkatkan kualitas dan kelengkapan laporan keuangan

dimaksud. Pernyataan ini diwakili oleh 3 (tiga) pertanyaan. Setelah dilakukan

uji validitas tiap butir, ketiga butir tersebut dinyatakan valid seperti terlihat

pada tabel berikut ini.

Tabel IV.15 Hasil Uji Validitas PSAP No.11

Item pertanyaan Korelasi

Pearson

keterangan

1. Unsur unsur laporan keuangan konsolidasi

0,456** valid

2. Proses pembuatan laporan keuangan konsolidasi

0,255** valid

3. Penyajian laporan keuangan konsolidasi

0,323** valid

Sumber:Data primer diolah, 2008

2. Uji reliabilitas

Nunnaly (1967) dalam Ghozali (2007: 42) menyatakan bahwa suatu

konstruk atau variabel dianggap reliabel jika memberikan nilai Cronbachs

Alpha lebih besar dari nilai 0,60. Setelah dilakukan uji reliabilitas, variabel

tersebut reliabel seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel IV.16 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Koefisien Cronbachs Alpha

Keterangan

Pemahaman 0,717 Reliabel

Sumber: data primer diolah, 2008

3. Analisis proporsi

Setelah data dikumpulkan kemudian dilakukan analisis proporsi dan rata-

rata. Analisis dilakukan terhadap setiap responden dan pertanyaan yang telah

dikelompokkan berdasarkan item yang terdapat dalam PSAP. Setelah dilakukan

analisis tiap responden dan pertanyaan berdasarkan jenis PSAP, dilanjutkan

dengan analisis rata-rata gabungan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat

pemahaman staff instansi pemerintah dan mahasiswa akuntansi terhadap Standar

Akuntansi Pemerintahan serta banyaknya staff instansi pemerintah dan mahasiswa

akuntansi yang memahami Standar Akuntansi Pemerintahan. Semakin tinggi

persentase maka semakin tingggi pula pemahaman dan responden yang

memahami Standar Akuntansi Pemerintahan. Berikut ini adalah analisis jawaban

responden terhadap kuesioner yang diajukan.

1. PSAP No. 01 : Penyajian Laporan Keuangan

Tabel IV.17 Analisis PSAP No. 01 berdasarkan responden

Pemahaman PSAP

Staff instansi Pemerintah Mahasiswa Akuntansi 1 73,84 % 74,42 %

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Untuk mengetahui pemahaman staff instansi pemerintah dan

mahasiswa akuntansi terhadap PSAP No.01 tentang penyajian laporan

keuangan digunakan 3 (tiga) pertanyaan. Pertama, Sebuah laporan keuangan

pemerintahan terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus

Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Kedua, Basis akuntansi yang

digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu basis akrual. Ketiga,

Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Dari

tabel IV.16 dapat diketahui bahwa pemahaman staff instansi pemerintahan

terhadap penyajian laporan keuangan sebesar 73,84 %, sedangkan

pemahaman mahasiswa akuntansi sebesar 74,8%. Hal ini menunjukkan

bahwa sebagian besar jawaban dari responden adalah benar. Namun, jika

dilihat dari tingkat pemahaman, analisis tersebut menunjukkan bahwa

pemahaman staff instansi pemerintah dan mahasiswa akuntansi terhadap

penyajian laporan keuangan adalah baik.

Tabel IV.18 Analisis PSAP No. 01 berdasarkan tiap pertanyaan

Staff instansi Pemerintah

Mahasiswa Akuntansi Pertanyaan

Benar Salah Benar Salah Pertanyaan No.1 67,67 % 32,23 % 95,89 % 4,11 % Pertanyaan No.2 70,76 % 29,24 % 42,47 % 57,53 % Pertanyaan No.3 83,07% 16,93 % 86,30 % 13,70 % Rata - rata 73,84 % 26,16 % 74,89 % 25,11 %

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Dari tabel IV.17 dapat diketahui besarnya staff instansi pemerintah dan

mahasiswa akuntansi yang memahami PSAP No.01 tentang penyajian

laporan keuangan. Untuk staff instansi pemerintah, pertanyaan nomor 1 (satu)

dipahami oleh 67,67 % staff instansi pemerintah. Artinya cukup banyak staff

instansi pemerintah yang memahami unsur unsur laporan keuangan.

Pertanyaan nomor 2 (dua) dipahami oleh 70,76 % staff instansi pemerintah.

Artinya cukup banyak staff instansi pemerintah yang memahami basis

akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintahan. Pertanyaan

nomor 3 (tiga) dipahami oleh 83,07 % staff instansi pemerintah. Artinya

banyak staff instansi pemerintah yang memahami periodesasi penyajian

laporan keuangan. Secara umum, cukup banyak staff instansi pemerintah

yang memahami PSAP No. 01 tentang penyajian laporan keuangan yaitu

sebesar 73,84 %. Secara umum cukup banyak staff instansi pemerintah yang

memahami unsur unsur laporan keuangan dan basis akuntansi yang

digunakan dalam laporan keuangan pemerintahan.

Untuk mahasiswa akuntansi, pertanyaan nomor 1 (satu) dipahami

oleh 95,89% mahasiswa akuntansi. Artinya sangat banyak mahaiswa

akuntansi yang memahami unsur unsur laporan keuangan. Pertanyaan

nomor 2 (dua) dipahami oleh 42,47% mahasiswa akuntansi. Artinya

mahasiswa akuntansi yang memahami basis akuntansi yang digunakan dalam

laporan keuangan pemerintahan adalah kurang. Pertanyaan nomor 3 (tiga)

dipahami oleh 86,30% mahasiswa akuntansi. Artinya sangat banyak

mahasiswa akuntansi yang memahami periodesasi penyajian laporan

keuangan. Secara umum, banyak mahasiswa akuntansi yang memahami

PSAP No. 01 tentang penyajian laporan keuangan yaitu sebesar 74,89%.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pemahaman mahasiswa

akuntansi terhadap basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan

pemerintahan. Karena mahasiswa akuntansi yang memahaminya bisa

dikatakan kurang.

2. PSAP No. 02 : Laporan Realisasi Anggaran

Tabel IV.19 Analisis PSAP No. 02

Pemahaman PSAP Staff instansi Pemerintah Mahasiswa Akuntansi

2 82,05 % 66,21 % Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Untuk mengetahui tingkat pemahaman staff instansi pemerintah dan

mahasiswa akuntansi terhadap PSAP No.02 digunakan 3 (tiga) pertanyaan.

Pertama, Laporan Realisasi Anggaran hanya mencakup pos-pos pendapatan,

belanja, dan surplus atau defisit. Kedua, Pendapatan diakui pada saat diterima

pada Rekening Kas Umum Negara atau Daerah. Ketiga, Belanja diakui pada

saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara atau Daerah.

Dari tabel IV.18 dapat diketahui bahwa pemahaman staff instansi

pemerintahan terhadap laporan realisasi anggaran sebesar 82,05 %,

sedangkan pemahaman mahasiswa akuntansi sebesar 66,21%. Hal ini

menunjukkan bahwa sebagian besar jawaban dari responden adalah benar.

Namun, jika dilihat dari tingkat pemahaman, analisis tersebut menunjukkan

bahwa pemahaman staff instansi pemerintah terhadap laporan realisasi

anggaran adalah sangat baik, sedangkan mahasiswa akuntansi adalah cukup.

Tabel IV.20 Analisis PSAP No. 02

Staff instansi Pemerintah

Mahasiswa Akuntansi Pertanyaan

Benar Salah Benar Salah Pertanyaan No.4 63,07 % 36,93 % 45,21% 54,79% Pertanyaan No.5 98,46 % 1,54 % 73,97% 26,03% Pertanyaan No.6 84,61 % 15,39 % 79,45% 20,55% Rata - rata 82,05 % 17,95 % 66,21% 33,79%

Sumber:Data primer yang diolah, 2008

Dilanjutkan.

Tabel IV.20 Lanjutan

Dari tabel IV.19 dapat diketahui besarnya staff instansi pemerintah

dan mahasiswa akuntansi yang memahami PSAP No.02 tentang laporan

realisasi anggaran. Untuk staff instansi pemerintah, pertanyaan nomor 4

(empat) dipahami oleh 63,07 % staff instansi pemerintah. Artinya cukup

banyak staff instansi pemerintah yang memahami pos pos dalam laporan

realisasi anggaran. Pertanyaan nomor 5 (lima) dipahami oleh 98,46 % staff

instansi pemerintah. Artinya sangat banyak staff instansi pemerintah yang

memahami pengakuan pendapatan. Pertanyaan nomor 6 (enam) dipahami

oleh 84,61 % staff instansi pemerintah. Artinya sangat banyak staff instansi

pemerintah yang memahami pengakuan belanja. Secara umum, banyak staff

instansi pemerintah yang memahami PSAP No. 02 tentang laporan realisasi

anggaran yaitu sebesar 82,05 %.