67
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap kalimat memiliki unsur-unsur atau satuan yang lebih kecil yang tersusun sesuai dengan kaidah sebuah bahasa. Unsur-unsur atau satuan dari kalimat itu tersusun secara beruntun dan memiliki fungsi masing-masing. J.W.M Verhaar dalam bukunya Asas-Asas Linguistik Umum (1996:261), menyatakan bahwa susunan beruntun adalah tata urutan segmen-segmen tuturan. Contohnya dalam kalimat bahasa Prancis (selanjutnya disebut bP) Françoise le regardait en haussant les épaules, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia (selanjutnya disebut bI) Françoise melihatnya sambil mengangkat bahu, subjek Françoise mendahului objek le 1 , predikat dalam kalimat ini adalah regardait, sedangkan en haussant les epaules adalah keterangan. Letak masing-masing unsur dalam kalimat ini jika diacak atau ditukar dapat menyebabkan kalimat di atas tidak berterima. Menurut Drs. Abdul Chaer dalam bukunya Linguistik Umum (2007:240), unsur-unsur kalimat itu secara sintaksis atau struktur terdiri dari kata, frasa, klausa, hingga menjadi sebuah kalimat utuh. Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar, sedangkan dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil. Susunan kata akan membentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frasa. Frasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif, tetapi fungsinya tidak melebihi klausa. Susunan frasa akan membentuk satuan sintaksis yang lebih tinggi yaitu klausa. Klausa memiliki tataran di atas frasa dan di 1 Dalam bP, objek langsung atau tak langsung cenderung terletak mendahului verba.

BAB I PENDAHULUAN - etd.repository.ugm.ac.idetd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/81963/potongan/introduction.pdf · Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar, sedangkan

  • Upload
    lamminh

  • View
    227

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap kalimat memiliki unsur-unsur atau satuan yang lebih kecil yang tersusun

sesuai dengan kaidah sebuah bahasa. Unsur-unsur atau satuan dari kalimat itu tersusun

secara beruntun dan memiliki fungsi masing-masing. J.W.M Verhaar dalam bukunya

Asas-Asas Linguistik Umum (1996:261), menyatakan bahwa susunan beruntun adalah

tata urutan segmen-segmen tuturan. Contohnya dalam kalimat bahasa Prancis

(selanjutnya disebut bP) Françoise le regardait en haussant les épaules, dan

terjemahannya dalam bahasa Indonesia (selanjutnya disebut bI) ‘Françoise melihatnya

sambil mengangkat bahu’, subjek Françoise mendahului objek le1, predikat dalam

kalimat ini adalah regardait, sedangkan en haussant les epaules adalah keterangan.

Letak masing-masing unsur dalam kalimat ini jika diacak atau ditukar dapat

menyebabkan kalimat di atas tidak berterima.

Menurut Drs. Abdul Chaer dalam bukunya Linguistik Umum (2007:240),

unsur-unsur kalimat itu secara sintaksis atau struktur terdiri dari kata, frasa, klausa,

hingga menjadi sebuah kalimat utuh. Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan

terbesar, sedangkan dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil. Susunan

kata akan membentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frasa. Frasa didefinisikan

sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif,

tetapi fungsinya tidak melebihi klausa. Susunan frasa akan membentuk satuan

sintaksis yang lebih tinggi yaitu klausa. Klausa memiliki tataran di atas frasa dan di

1Dalam bP, objek langsung atau tak langsung cenderung terletak mendahului verba.

2

bawah kalimat. Klausa merupakan susunan sintaksis berupa runtutan kata-kata

berkonstruksi predikatif. Runtutan kata pada sebuah klausa harus disertai setidaknya

dengan satu verba agar dapat dianggap sebagai klausa. Klausa yang diakhiri dengan

tanda baca titik (.) akan menjadi sebuah kalimat. Hal yang penting atau menjadi dasar

dalam sebuah kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. Pada kalimat yang

terdiri dari beberapa klausa, klausa satu dan klausa lainnya dihubungkan dengan

konjungsi atau penghubung.

Klausa dan kalimat memiliki cakupan yang sangat luas. Klausa dapat

dibedakan jenisnya berdasarkan statusnya dalam kalimat, misalnya klausa utama atau

klausa atasan, yaitu klausa yang memiliki posisi inti di dalam kalimat, dan klausa

bawahan, yaitu klausa yang merupakan bagian dari klausa utama. Kalimat dapat

dibedakan sesuai dengan klausa yang terkandung di dalamnya, menjadi kalimat

majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.

Berbicara lebih jauh mengenai kalimat, semua bahasa menurut J.W.M.

Verhaar memiliki sistem verbal yang biasa disebut kala, aspek, dan modus. Kala,

aspek, dan modus ini saling bekerja sama dalam sintaksis klausa. Kala menunjukkan

waktu keadaan atau tindakan yang diungkapkan oleh verba dalam hubungan dengan

saat penuturan. Aspek menunjukkan segi arti verba yang berkaitan dengan dimulainya,

berlangsungnya, terjadinya, diulang tidaknya, selesai tidaknya, atau adanya hasil atau

tidaknya dari tindakan tersebut. Modus mengungkapkan sikap penutur terhadap apa

yang dituturkannya, maksudnya sikap kepastian, kesangsian, pertanyaan,

pengingkaran, dan pandangan tentang riil tidaknya dari apa yang diungkapkan oleh

verba.

Tiap bahasa memiliki aturan kebahasaan yang berbeda-beda, misalnnya

bahasa-bahasa di Asia Tenggara yang memiliki induk bahasa melayu dan sansekerta

3

tentunya cukup berbeda dengan beberapa bahasa di Eropa yang merupakan rumpun

bahasa latin dan roman. Pada umumya bahasa Eropa merupakan bahasa verbal,

sedangkan bI merupakan bahasa non verbal. Lebih jelas melihat perbedaan bahasa

satu dengan bahasa lainnya dapat dilakukan dengan membandingkan karya sastra

terjemahan dengan teks aslinya. Penerjemahan merupakan pengubahan dari suatu

bentuk ke dalam bentuk lain, atau pengubahan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain,

dan sebaliknya (Kamus online Merriam-Webster Dictionary). Meskipun demikian,

perlu ditekankan bahwa penerjemahan yang baik tidak serta merta menerjemahkan

kata per kata pada bahasa sumber (selanjutnya disebut bSu) ke bahasa sasaran

(selanjutnya disebut bSa), tetapi juga harus meringkasnya dan mengungkapkan

kembali dengan bSa yang baik agar pesan yang disampaikan oleh penulis dapat

diterima oleh pembaca. Perbedaan karya sastra terjemahan dan versi aslinya mencakup

banyak hal, baik dari tataran sintaksis seperti kata, frasa, klausa, kalimat, maupun

makna atau arti. Misalnya bI tidak memiliki sistem kala secara morfologis dan bukan

merupakan bahasa verbal. Pengertian kala dalam bI terletak pada konstituen periferal

yang sesuai menurut Verhaar (Asas-Asas Linguistik Umum, 1996:241). Contohnya

dalam kalimat ‘Saya pergi ke Surabaya kemarin’ dan ‘Ayah mencuci mobil besok

pagi’, kata yang dicetak tebal menjelaskan keterangan waktu dan merupakan periperal

leksikal. BP menjelaskan kala dengan adanya konjugasi verba sesuai dengan kapan

suatu tindakan itu terjadi karena bP merupakan bahasa verbal. Contohnya kalimat Je

suis allée à Surabaya, Je vais à Surabaya, dan J’irai à Surabaya tentunya

memberikan keterangan yang berbeda, meskipun jika diterjemahkan secara kata per

kata dalam bI, je ‘saya’; suis allée, vais, irai, ‘pergi; à Surabaya, ‘ke Surabaya’

menjelaskan tindakan yang sama tanpa memperhatikan kalanya. Jika diartikan secara

keseluruhan, kalimat pertama, Je suis allée à Surabaya, menjelaskan sesuatu yang

4

telah lampau. Tindakan yang dilakukan dalam kalimat ini telah terjadi di masa lalu.

Kalimat kedua, Je vais à Surabaya, menjelaskan suatu tindakan yang terjadi saat ini

atau akan terjadi. Kalimat kedua, J’irai à Surabaya, menjelaskan sesuatu yang akan

terjadi di masa depan. Tindakan ini belum terlaksana. Meskipun tidak terdapat

keterangan kala secara periferal dalam ketiga kalimat bP itu, keterangan kala dapat

diketahui secara morfologis dari perbedaan bentuk verba ketiga kalimat itu.

Perbedaan lain bP dan bI adalah modus. Modus merupakan kategori gramatikal

dalam bentuk verba yang mengungkapkan suasana psikologis perbuatan menurut

tafsiran pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya

(Kridalaksana, 2008 : 156). BP mengkategorikan modus menjadi dua, yaitu le mode

personnel (modus persona) dan le mode impersonnel (modus impersona). Le mode

personnel terdiri dari l’indicatif (modus yang menyatakan afirmasi), le subjonctif

(modus kata kerja yang menyatakan keraguan, kemauan, perasaan, dsb), l’imperatif

(bentuk suruh atau perintah), dan le conditionnel (bentuk kata kerja dalam modus

bersyarat), sedangkan le mode impersonnel terdiri dari l’infinitif, le participe, dan le

gérondif. Perbedaan dari personnel dan impersonnel adalah ada tidaknya peran subjek

atau pelaku ‘persona’ pada pembentukan modus itu. BI tidak memiliki bentuk modus

impersona. Bahkan dalam Kamus Perancis Indonesia oleh Winarsih Arifin dan Farida

Soemargono, tidak ada definisi khusus mengenai pengertian l’infinitif, le participe,

dan le gérondif. Penelitian ini akan membahas lebih lanjut mengenai modus gérondif.

Modus gérondif sering digunakan dalam bP lisan maupun tulisan. Dalam bentuk

tulisan kerap ditemukan dalam artikel surat kabar, majalah, dan karya sastra misalnya

dalam novel.

5

Bentuk gérondif adalah bentuk participe présent yang diawali dengan preposisi

en2. Participe présent merupakan bentuk kata kerja yang menjelaskan suatu tindakan

yang dilakukan subyek saat itu juga. Ciri-ciri dari participe présent adalah verba yang

diikuti dengan sufiks –ant sehingga menjadi nomina. Bentuk gérondif menyatakan dua

kegiatan atau tindakan dalam satu kalimat atau klausa. Kalimat dalam bentuk ini

merupakan bentuk kompleks. Contohnya adalah sebagai berikut :

(1) Il riait doucement en me frottant la nuque. (BT : 17)

‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok tengkukku.’ (LK : 18)

Kalimat di atas terdiri dari dua klausa, yaitu Il riait doucement dan en me

frottant la nuque. Klausa utama pada contoh di atas merupakan klausa yang verbanya

tidak dalam bentuk gérondif, yaitu Il riait doucement, sedangkan klausa en me frottant

la nuque merupakan klausa bawahan karena dituliskan dalam bentuk gérondif.

Dari segi semantis, ketika diterjemahkan ke dalam bI, gérondif memiliki

fungsi dan makna yang berbeda-beda, karena bI tidak memiliki bentuk ini. Pada

contoh kalimat di atas, gérondif memiliki makna ‘sambil’ yang dalam bI, kata sambil

memiliki makna ‘menyatakan tindakan yang dilakukan bersamaan’. Di bawah ini

merupakan contoh gérondif yang memiliki makna yang berbeda.

(2) Il s’était cassé la jambe, la veille au soir, en revenant de faire les Rois, chez

un voisin. (MB : 36)

‘Kakinya patah kemarin sorenya, waktu ia pulang sehabis merayakan Pesta

Raja-Raja di tempat salah seorang tetangga.’ (MB : 23)

Pada contoh di atas, kata gérondif en revenant memiliki arti ‘waktu ia

pulang’ dalam bI. Kata waktu dalam bI memiliki sinonim ‘ketika’ yang menjelaskan

2Hingga abad 18, gérondif bisa digunakan tanpa membubuhkan en di depannya menurut buku Grammaire du

Français karya D. Denis dan A. Sancier-Chateau.

6

keterangan waktu. Contoh lain bentuk gérondif yang memiliki fungsi dan arti yang

berbeda adalah sebagai berikut.

(3) Emma, de temps à autre, se rafraichissait les joues en y appliquant la

paume de ses mains, qu’elle refroidissait après cela sur la pomme de fer des

grands chenets. (MB : 47)

‘Emma, sesekali, menyejukkan pipinya dengan telapak tangannya yang

sesekali didinginkannya kembali pada tombol besi tempat kayu bakar

perapian.’ (MBt : 33)

Frasa gérondif se rafraichissait les joues en y appliquant la paume de ses

mains diterjemahkan menjadi ‘menyejukkan pipinya dengan telapak tangannya’. Kata

en appliquant, merupakan bentuk gérondif dan terjemahannya adalah ‘dengan’. Kata

dengan dalam bI digunakan untuk menjelaskan keterangan cara. Frasa di atas secara

lengkap diterjemahkan menjadi ‘menyejukkan pipinya dengan telapak tangannya’,

artinya subjek dalam kalimat ini, yaitu Emma, menyejukkan pipinya dengan

menggunakan telapak tangannya.

Penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk gérondif akan dijelaskan pada Bab

II. Data yang diambil dari penelitian ini adalah dua novel prancis yang telah

diterjemahkan dalam bI, yaitu Bonjour Tristesse (Sagan: 1954) dan Madame Bovary

(Gustave Flaubert : 1856) serta terjemahannya dalam bI yang diambil dari novel

terjemahan Lara Kusapa (Nadya: 2009) dan Madame Bovary (Winarsih Arifin : 1990).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang, rumusan masalah yang muncul adalah

sebagai berikut.

1. Bagaimanakah analisis sintaksis dan semantik modus gérondif yang ada dalam

novel Bonjour Tristesse dan Madame Bovary?

7

2. Bagaimanakah pergeseran terjemahannya dalam bI?

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Skripsi ini membahas tentang modus gérondif yang dianalisis secara sintaksis,

semantik dan pergeseran terjemahan. Di awal pembahasan dimulai dengan analisis

sintaksis, yaitu pembahasan tentang klausa utama dan klausa bawahan kalimat yang

mengandung gérondif serta posisi gérondif dalam sebuah kalimat. Analisis secara

semantik dilakukan dengan mengklasifikasikan gérondif makna terjemahannya dalam

kalimat, karena ketika diterjemahkan dalam bI, makna gérondif menjadi beragam.

Teori makna yang digunakan adalah teori tentang makna gérondif Olivier (1978:326)

dan teori hubungan makna yang timbul sebagai akibat pertemuan klausa satu dengan

klausa lain oleh Ramlan (1987:59-88). Pembahasan terakhir adalah analisis pergeseran

terjemahan bentuk gérondif dari bP ke bI. Analisis pergeseran terjemahan

menggunakan teori pergeseran terjemahan atau translation shift milik Catford karena

dianggap paling sesuai dengan penelitian ini.

1.4 Landasan Teori

1.4.1 Sintaksis

Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar-kata dalam

tuturan. Tataran sintaksis mencakup kata, frasa, klausa, dan kalimat. Menurut Ramlan

(2005:19), sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang membahas seluk beluk

wacana. Satuan wacana tersebut terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat. Dalam

sebuah kalimat terdiri dari beberapa unsur yang berupa klausa, frasa, dan kata.

Ilmuwan lain, Kridalaksana (2008:223), mengungkapkan bahwa sintaksis merupakan

bagian dari subsistem bahasa yang mencakup pengaturan dan hubungan antara kata

8

dengan kata, atau dengan satuan – satuan yang lebih besar itu dalam bahasa,

sedangkan Verhaar (2008:161) menganggap bahwa sintaksis membahas hubungan

gramatikal antar kata dalam kalimat.

Selain itu, sintaksis juga membahas struktur dalam kalimat yang mencakup

fungsi, kategori, dan peran. Maka dari itu, kajian linguistik yang membahas tentang

subjek, predikat, objek, dan keterangan berkenaan dengan fungsi sintaksis. Istilah

nomina, verba, adjektiva, dan numeralia berkenaan dengan kategori, sedangkan peran

mencakup istilah pelaku, penderita, dan penerima.

Dalam kalimat dikenal istilah kalimat verbal dan non verbal. Sehubungan

dengan kalimat verbal, dikenal pula istilah kala, aspek, dan modus, namun karena

penelitian ini fokus pada modus saja. Modus menurut Chaer mengungkapkan sikap

penutur terhadap apa yang dituturkannya, maksudnya sikap kepastian, kesangsian,

pertanyaan, pengingkaran, dan pandangan tentang riil tidaknya dari apa yang

diungkapkan oleh verba. Modus memiliki fungsi untuk mengekspresikan perilaku

penutur terkait dengan pernyataannya (Grevisse, 1980:708). Hal ini merupakan ragam

cara yang digunakan oleh subjek untuk mengembangkan dan menjelaskan suatu

perbuatan. Sesuai dengan ada tidaknya subjek atas persona, dalam bP, modus dibagi

menjadi dua, yaitu modus personnel dan impersonnel.

1.4.2 Semantik

Semantik berkaitan dengan makna dalam tataran fonologi, morfologi, dan

sintaksis. Menurut Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena

turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat

dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi. Verhaar (1983:124)

mengatakan bahwa semantik berarti teori makna atau teori arti. Makna dapat dibagi

9

menjadi tiga menurut Abdul Chaer (2007:289), yaitu makna leksikal, gramatikal, dan

kontekstual. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski

tanpa konteks apapun. Sebaliknya, makna gramatikal adalah makna yang muncul

setelah terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan

kalimatisasi. Sedangkan makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata

yang berada di dalam satu konteks.

1.4.3 Terjemahan

Terjemahan merupakan aktivitas mengalihkan pesan bSu ke dalam bSa.

Banyak sekali ilmuwan yang menderskripsikan terjemahan. Catford (1965:20)

mendefinisikan terjemahan sebagai proses transfer teks dari bahasa sumber ke dalam

padanannya dalam bahasa sasaran. Hasil penerjemahan ini berupa padanan terdekat

bahasa sumber dalam bahasa sasaran yang mengutamakan makna dan selanjutnya

bentuk. (Nida, 1974:12). Bahasa sumber (bSu) merupakan bahasa yang diterjemahkan,

sedangkan bahasa sasaran (bSa) merupakan bahasa hasil terjemahan. Nida & Taber

(1969:105) menyampaikan bahwa ketika mengalihkan bSu ke bSa, seorang

penerjemah memperhatikan berbagai penyesuaian, yaitu penyesuaian struktur dan

penyesuaian semantis. Penyesuaian itu tak jarang menyebabkan pergeseran

terjemahan. Pergeseran terjemahan kerap kali terjadi agar pesan dalam bSu dapat

tersampaikan dengan baik ke dalam bSa, terlebih jika bSa memiliki karakteristik yang

berbeda dengan bSu. Dalam pandangan Catford, penerjemah tidak mengalihkan

makna tetapi mengganti makna dalam bSu dengan makna dalam bSa karena dua

ujaran atau kata dalam kedua bahasa itu tidak memiliki arti atau makna yang sama

persis (Fawcet, 1997:54-55). Catford lebih lanjut mengkategorikan pergeseran

10

terjemahan menjadi dua pergeseran utama, yaitu pergeseran tingkat dan pergeseran

kategori yang akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab II.

1.5 Tinjauan Pustaka

Amanatus Zahroh (2012) dalam skripsinya yang berjudul Participe Présent

Bahasa Prancis dan Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia : Studi Kasus Roman

Bonjour Tristesse membahas mengenai terjemahan participe présent dengan

menggunakan data novel Bonjour Tristesse dan terjemahannya. Ia fokus pada analisis

makna terjemahan participe présent termasuk gérondif. Perbedaan skripsi Amanatus

Zahroh dan skripsi ini adalah, skripsi ini fokus meneliti modus gérondif yang

dianalisis secara struktur, makna, dan terjemahan.

Denta Yuliansah (2013) dalam skripsinya yang berjudul Pergeseran Semantis

Penerjemahan Unsur-Unsur Seksual dalam Komik Titeuf membahas tentang

pergeseran makna yang terjadi dalam penerjemahan komik berbahasa prancis Titeuf

ke dalam bahasa Indonesia, terutama penerjemahan kata-kata, frasa, klausa, atau

kalimat yang mengandung unsur seksual. Skripsi Denta Yuliansah memberikan

masukan mengenai analisis pergeseran terjemahan pada skripsi ini.

Winnalia Lim (2014) dalam skripsinya yang berjudul Konstruksi Bahasa

Prancis dan Indonesia : Cerminan Pola Pikir membahas mengenai terjemahan

bentuk aktif-pasif dalam bP ke bI, serta membandingkan keduanya. Menerjemahkan

membutuhkan penyesuaian dari bSu ke bSa, serta bahasa merupakan cerminan pola

pikir dari suatu bangsa yang menggunakannya. Skripsi Winnalia Lim memberikan

masukan pada skripsi ini mengenai penerjemahan bSu ke bSa yang memerlukan

penyesuain.

11

1.6 Metode Penelitian

Penelitian dalam skripsi ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu pengumpulan data

atau penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data seperti yang

dikemukakan oleh Sudaryanto (1993).

- Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah bentuk gérondif dalam novel Bonjour

Tristesse dan Madame Bovary, serta versi terjemahannya dalam bahasa

Indonesia, Lara Kusapa dan Madame Bovary. Tahap ini dilakukan dengan

metode simak kemudian dilanjutkan dengan teknik catat (Sudaryanto,

1993:33). Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan sesuai dengan

makna pada terjemahannya.

- Analisis data

Analisis data yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode padan

atau juga bisa disebut metode identitas. Pembahasan awal menganalisis klausa

utama dan klausa bawahan serta posisi gérondif dalam kalimat, dilanjutkan

dengan analisis makna terjemahan gérondif yang menggunakan teknik hubung

banding dan teknik ganti. Teori hubungan makna yang digunakan adalah teori

Olivier dan Ramlan. Analisis terakhir adalah analisis pergeseran terjemahan

secara leksikal dan gramatikal menggunakan teori pergeseran terjemahan

Catford.

- Penyajian hasil

Setelah metode pengumpulan data dan analisis data dilakukan, hasil

penelitian dipaparkan, disertai dengan kesimpulan dan kartu data pada bab

akhir.

12

1.7 Sistematika Penyajian

Skripsi ini terdiri dari tiga bab, yaitu :

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, ruang

lingkup permasalahan, landasan teori, tinjauan pustaka, metode

penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II Pembahasan lebih lanjut mengenai kerangka teori penelitian. Penelitian

ini menggunakan teori sintaksis yang terdiri dari kalimat, klausa, dan

modus gérondif; semantik yang terdiri analisis makna dan terjemahan ;

serta pergeseran terjemahan

Bab III Analisis modus gérondif secara sintaksis, yaitu menganalisis klausa

atasan dan klausa bawahan, dan posisi gérondif dalam kalimat; secara

semantik yaitu analisis makna dan terjemahan gérondif; serta analisis

pergeseran terjemahan gérondif.

Bab IV Penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan pada Bab III.

Selain itu juga disertakan abstrak dalam bP dan bahasa Inggris sebelum Bab I,

resumée atau kesimpulan dalam bI dan bP pada Bab IV, serta lampiran yang berisi

data penelitian.

13

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Sintaksis

Tata bahasa terdiri dari morfologi dan sintaksis. Menurut J.M.W Verhaar

(1996:161), morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata, dan sintaksis

berurusan dengan tatabahasa di antara kata-kata dalam tuturan. Kata sintaksis berasal

dari kata Yunani sun = ‘dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara

etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau

kalimat. Ramlan (1981:1) mengatakan bahwa sintaksis ialah bagian atau cabang dari

ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa. Selain itu,

sintaksis juga berkenaan dengan fungsi, kategori, dan peran. Sintaksis berurusan

dengan hubungan antar-kata di dalam kalimat. Dalam tataran sintaksis, kata atau mot

dalam bP merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen

pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frasa. BP menyebut frasa bukan

phrase yang berarti kalimat, melainkan group de mots karena frasa merupakan

sekumpulan kata yang memiliki satu fungsi tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia online, kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang

merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam

berbahasa. Maka kata hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu

dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu

frasa, klausa, dan kalimat.

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat

nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi

sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1994:22). Menurut Ramlan (1987:151) frasa adalah

14

satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas unsur

klausa. Adapun Verhaar (1999:292) mendefinisikan frasa sebagai kelompok kata yang

merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang. Sementara itu, menurut

Koentjoro (dalam Baehaqie, 2008: 14), frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri atas

dua kata atau lebih dari dua kata yang tidak berciri klausa dan pada umumnya menjadi

pembentuk klausa. Contoh frasa atau group de mots dalam bP adalah hier soir, demain

matin, chapeau noir. Contoh frasa dalam bI adalah baju merah, rumah mewah, tadi

pagi, dan anak kecil. Tataran lain dalam sintaksis yang lebih tinggi dari kata dan frasa,

yaitu kalimat dan klausa, akan dijelaskan lebih lanjut pada sub bab berikut.

2.1.1 Kalimat

Kata ‘kalimat’ tampaknya tidak asing lagi di telinga kita, terlebih jika kita

membicarakan tentang paragraf. Kalimat berkaitan dengan satuan-satuan sintaksis

yang lebih kecil di dalamnya seperti kata, frasa, dan klausa. Dapat dikatakan bahwa

kalimat merupakan satuan sintaksis yang disusun oleh konstituen dasar, yang biasanya

berupa klausa, dapat berjumlah satu atau lebih, dan dilengkapi konjungsi bila

diperlukan, dan disertai dengan intonasi final (Abdul Chaer, 2007:240). Ia juga

menyatakan bahwa, hal yang penting dalam sebuah kalimat adalah intonasi final,

karena konjungsi atau banyaknya klausa hanya menyesuaikan saja. Intonasi final

memberikan ciri pada sebuah kalimat itu, dapat berupa titik yang memberikan intonasi

deklaratif, tanda tanya yang memberikan intonasi interogatif, dan tanda seru yang

memberikan intonasi seru. Menurut banyaknya klausa, kalimat dibagi menjadi kalimat

tunggal dan kalimat majemuk yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

1. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

15

Kalimat tunggal atau phrase simple dan kalimat majemuk atau phrase

complexe dibedakan atas banyaknya klausa yang ada di dalam sebuah kalimat.

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya memiliki satu klausa. Contoh dari

kalimat tunggal dalam bI dan bP adalah sebagai berikut :

(4) Adikku suka makan tengah malam.

(5) Perempuan itu selalu menyapu halaman di pagi hari.

(6) Il s’appelle Chanson.

‘Namanya Chanson.’

(7) Jacqueline habite à Lyon.

‘Jacqueline tinggal di Lyon.’

Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu klausa.

Dalam kalimat majemuk biasanya hanya menuliskan satu subjek dan

merangkap dua tindakan dengan kata hubung. Pada kasus tertentu bisa

menimbulkan keambiguan misalnya ‘Aku makan dan minum di rumah setiap

hari’. Pada contoh kalimat itu, ‘makan dan minum’ merupakan perluasan dari

‘makan’ ditambah ‘minum’, maka kalimat tersebut dianggap hanya memiliki

satu klausa, tetapi jika konstruksi tersebut dianggap sebagai hasil proses

penggabungan dua buah kalimat yang disertai pelesapan, maka kalimat

tersebut dianggap sebagai kalimat majemuk, yang prosesnya adalah ‘Aku

makan di rumah setiap hari’ digabungkan dengan ‘Aku minum di rumah setiap

hari’, dengan pelesapan pada subjek, keterangan tempat, dan keterangan waktu

sehingga menjadi konstruksi ‘Aku makan dan minum di rumah setiap hari’.

Sehubungan dengan sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat,

kalimat majemuk dibedakan menjadi kalimat majemuk koordinatif atau setara,

kalimat majemuk subordinatif atau bertingkat, dan kalimat majemuk

kompleks. Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-

klausanya memiliki status yang setara. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk

16

koordinatif dihubungkan dengan penghubung atau konjungsi koordinatif

misalnya dan, atau, tetapi, lalu, dan namun. Contoh dari kalimat majemuk

koordinatif:

(8) Elle est en train de manger et mon pere vient.

‘Ia sedang makan dan ayahku datang.’

(9) Il vient et prend des bonbons.

‘Ia datang dan membawa permen.’

(10) Aku memasak lalu makan dengan lahap.

(11) Kakek itu mencintai dan mengayomi anjingnya selama

bertahun-tahun.

Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat yang merupakan hasil

dari penggabungan dua klausa atau lebih dimana klausa satu merupakan klausa

utama atau atasan, sedangkan lainnya merupakan klausa bawahan. Klausa

atasan memiliki posisi inti dalam sebuah kalimat, sedangkan klausa bawahan

merupakan pelengkap dari klausa inti. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk

subordinatif dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, seperti karena,

meskipun, walaupun, ketika, namun, dsb. Contoh dari kalimat majemuk

subordinatif dalam bP dan bI:

(12) Bien qu’il soit riche, il n’aime pas faire du shopping.

‘Meskipun ia kaya, ia tidak suka berbelanja.’

(13) Quand j’etais à Malang, ma mere travaillait à Surabaya.

‘Ketika saya berada di Malang, ibu saya bekerja di Surabaya.’

(14) Aku tidak lagi makan ayam karena aku seorang vegetarian.

(15) Ia ingin mendaki gunung, namun Ibunya tidak mengizinkannya.

Contoh pertama pada kalimat (12) di atas berasal dari klausa il n’aime

pas faire du shopping dan il soit riche. Lalu kalimat di atas digabungkan

dengan penghubung bien que (meskipun) dan klausa il n’aime pas faire du

shopping sebagai klausa utama. Pada umumnya, klausa yang mengandung

konjungsi subordinatif merupakan klausa bawahan. Dalam beberapa kalimat,

17

posisi klausa satu dan klausa lainnya bisa dibalik sehingga klausa utama dan

klausa bawahan dapat dibalik. Misalnya pada kalimat Quand j’étais à Malang,

ma mère a travaillé à Surabaya. Klausa di samping terdiri dari ma mère a

travaillé à Surabaya sebagai klausa utama dan J’étais à Malang sebagai klausa

bawahan. Klausa-klausa dalam kalimat ini dapat dibalik dan menjadikan

klausa J’étais à Malang menjadi klausa utama.

(16) J’étais à Malang quand ma mère a travaille à Surabaya.

‘Saya berada di Malang ketika ibu saya bekerja di Surabaya.’

Kalimat majemuk kompleks atau campuran adalah kalimat yang terdiri

dari tiga klausa atau lebih, dimana ada klausa yang dihubungkan secara

koordinatif dan ada juga yang dihubungkan secara subordinatif. Contohnya

dalam bP dan bI adalah :

(17) Je mange toujours au restaurant parce que je rentre en retard à

la maison et je ne sais pas comment faire la cuisine.

‘Saya selalu makan di luar karena saya pulang larut malam dan

saya tidak bisa memasak.’

(18) Kemarin aku telah pergi ke rumah Naselia dan

menghubunginya, namun ia tidak berada di rumah karena

Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit.

Klausa memiliki peran penting dalam pembentukan kalimat kompleks.

Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai klausa.

2.1.2 Klausa

Klausa adalah satuan gramatikal yang memiliki tataran di atas frasa dan di

bawah kalimat, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek

dan predikat, dan berpotensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana, 1993:110),

sedangkan menurut Drs. Abdul Chaer dalam bukunya Linguistik Umum, klausa adalah

18

satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif yang di dalam

konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frasa yang berfungsi sebagai predikat;

dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, atau keterangan. Dalam bI, serangkaian

kata dapat dikatakan klausa apabila terdapat predikat, sedangkan dalam bP, dalam

sebuah klausa harus terdapat subjek atau nomina dan verba. Untuk uraian lebih lanjut,

perhatikan contoh di bawah ini :

(19) Il riait doucement en me frottant la nuque. (BT : 17)

‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok tengkukku.’ (LK : 18)

(20) A cinq heures, mon père arriva avec Elsa. (BT : 23)

‘Pukul lima, ayah kembali bersama Elsa.’ (LK : 25)

Pada contoh (19) dan terjemahannya, terdapat dua klausa dalam 1 kalimat,

yaitu Il riait doucement (Ia terkekeh lirih) dan en me frottant la nuque (sambil

menggosok-gosok tengkukku). Pada contoh (20) dan terjemahannya terdapat 1 klausa

saja karena hanya memiliki 1 verba pada mon père arriva avec Elsa (ayah kembali

bersama Elsa).

Sebuah kalimat dapat terdiri dari dua klausa atau lebih. Klausa-klausa dalam

kalimat itu dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi. Klausa terikat yang

diawali dengan konjungsi subordinatif biasanya disebut dengan klausa subordinatif

atau klausa bawahan. Pada sebuah kalimat, klausa ini berfungsi melengkapi klausa

utama atau klausa atasan. Klausa utama ini bersifat klausa inti dalam sebuah kalimat,

yang posisinya di atas klausa bawahan. Klausa utama dapat berdiri sendiri, sedangkan

klausa bawahan merupakan pendukung dari klausa utama. Kehadiran klausa bawahan

sangat bergantung pada klausa utama atau atasannya.

Menurut Verhaar, umumnya pada bahasa terdapat sistem verbal yang lazim

disebut sistem kala, aspek, dan modus. Kala menunjukkan waktu keadaan atau

tindakan yang diungkapkan oleh verba dalam hubungan dengan saat penuturan. Tidak

semua bahasa di dunia ini memiliki sistem kala, contohnya bI yang tidak memiliki

19

sistem kala. Pada bahasa-bahasa yang memiliki sistem kala seperti bP, untuk

menyatakan suatu tindakan yang terjadi hari ini dan kemarin terdapat perbedaan

bentuk verba. Misalnya Je mange du pain dan J’ai mangé du pain. Meskipun tidak

disertai keterangan waktu, pembaca akan mengerti bahwa kalimat pertama

menyatakan tindakan aktual atau yang terjadi saat ini, sedangkan pada kalimat kedua

menyatakan tindakan yang sudah terjadi di masa lalu. Dalam bI, untuk menjelaskan

kegiatan yang terjadi pada masa lalu, saat ini, atau masa depan tidak terdapat

perbedaan pada verba, hanya ada penambahan keterangan waktu untuk menjelaskan

kapan sebuah peristiwa atau tindakan terjadi. Misalnya Aku makan sekarang, Aku

makan kemarin, Aku makan nanti malam. Hal yang membedakan ketiga kalimat bI di

atas hanyalah keterangan waktu sekarang, kemarin, dan nanti malam.

Aspek menunjukkan segi arti verba yang berkaitan dengan kapan dimulainya,

berlangsungnya, terjadinya, diulang tidaknya, selesai tidakya, ada tidaknya hasil dari

suatu keadaan atau tindakan. Aspek-aspek verbal menurut Verhaar dapat dibagi atas

aspek yang menyangkut beberapa segi dari apa yang diungkapkan oleh verba, yaitu

permulaan, penyelesaian, hasil, keberlangsungan, pengulangan, kebiasaan, keterikatan

pada saat yang tak terbagi, dan keadaan.

Modus mengungkapkan sikap penutur terhadap apa yang dituturkannya,

maksudnya sikap kepastian, kesangsian, pertanyaan, pengingkaran, dan pandangan

tentang riil tidaknya dari apa yang diungkapkan oleh verba. Modus memiliki fungsi

untuk mengekspresikan perilaku penutur terkait dengan pernyataannya (Grevisse,

1980:708). Hal ini merupakan ragam cara yang digunakan oleh subjek untuk

mengembangkan dan menjelaskan suatu perbuatan.

20

BP mengenal dua bentuk modus, yaitu modus personnel atau persona dan

modus impersonnel atau impersona. Penjelasan lebih lanjut mengenai modus adalah

sebagai berikut.

1. Modus Persona

Modus persona adalah modus yang mengacu pada subyeknya. Modus persona

terbagi menjadi :

a. Modus indicatif adalah modus yang mengungkapkan keyakinan,

pernyataan, pendapat, pikiran, rasa percaya, dalam waktu saat ini,

lampau, atau masa depan. Contohnya adalah : Je mange du bonbon ;

Mon papa dort ; Il boit du café.

b. Modus subjonctif adalah modus yang digunakan untuk membentuk anak

kalimat yang didahului atau dihubungkan dengan kata que dan berfungsi

untuk mengungkapkan keraguan, kemungkinan, harapan, hipotesa,

keinginan, kesukaan dan ketidaksukaan. Verba dalam modus ini

dikonjugasikan dalam bentuk subjonctif. Contohnya adalah : Je veux que

tu viennes avec moi ; Il doute qu’elle parte.

c. Modus conditionnel adalah modus yang digunakan untuk

mengungkapkan pengandaian, dugaan, atau bisa juga kesopanan.

Contohnya adalah : Je voudrais réserver une chambre avec deux lits ;

S’il était riche, il se marierait avec moi.

d. Modus imperatif adalah modus yang menyatakan perintah, saran,

tegahan, atau larangan. Contohnya adalah : Ne fume pas! ; Il ne faut pas

entrer !

21

2. Modus impersonnel atau impersona adalah modus yang tidak mengacu pada

subjek atau tidak menggambarkan sikap seseorang. Modus ini juga tidak

mengindikasikan keterangan waktu. Modus impersona terdiri dari :

a. Modus participe merupakan bentuk adjectif atau kata sifat dari suatu

verba. Modus ini dibagi menjadi dua, yaitu participe présent dan

participe passé. Menurut Olivier (1978 : 325-327) dalam buku

Grammaire Française, menyatakan bahwa bentuk participe présent

memiliki empat fungsi, yaitu sebagai kata benda, sebagai kata sifat,

sebagai preposisi, dan sebagai kata kerja. Participe passé merupakan

bentuk lampau dari participe présent.

b. Modus infinitif dalah bentuk nomina dari verba. Terdapat dua macam

infinitif yaitu infinitif présent dan infinitif passé.

i. Infinitif présent digunakan untuk aksi yang sedang dilakukan.

Contoh : Il est triste de savoir ses nouvelles.

ii. Infinitif passé menyatakan aksi yang telah terlaksana. Contoh : Il

est triste d’avoir suses nouvelles.

c. Modus gérondif adalah bentuk participe présent yang diawal dengan

preposisi en. Dalam sebuah kalimat, bentuk gérondif bersifat adverbial,

sehingga sebagian besar gérondif memiliki memiliki fungsi sebagai

complément circonstanciel atau keterangan. Penelitian ini akan fokus

membahas tentang modus gérondif, sehingga teori mengenai modus

gérondif akan dipaparkan lanjut dalam sub bab berikut.

2.1.2.1 Modus Gérondif

Dalam bP modern, bentuk gérondif terdiri dari participe présent yang

diawali dengan preposisi en. Kata en menjadi penanda dari bentuk gérondif.

22

Dalam buku Grammaire du Français, oleh D. Denis dan A. Sancier-Château,

dijelaskan bahwa sebelum abad ke-18, bentuk gérondif tidak menggunakan

preposisi en, sehingga secara sekilas tampak seperti participe présent, hanya saja

participe présent memiliki fungsi adjectival, sedangkan gérondif memiliki fungsi

adverbial. Maka dari itu para ilmuwan bahasa modern memutuskan untuk

membubuhkan preposisi en pada bentuk gérondif agar lebih mudah

membedakannya dengan participe présent. Contoh dari bentuk gérondif yang

belum disertai dengan preposisi en adalah sebagai berikut.

(21) Hannes pousse une fausse note

Quand Schulz vient portant un baquet. (G. Apollinaire)

Kata gérondif yang bergaris bawah di atas apabila dituliskan dengan bP modern

akan menjadi ‘Quand Schulz vient en portant un baquet’. Hal lain yang perlu

diperhatikan dalam membedakan gérondif dan participe présent adalah, gérondif

berhubungan dengan verba atau predikat pada klausa inti sedangkan participe

présent berhubungan dengan subjek. Gérondif terdiri dari gérondif présent dan

gérondif passé. Gérondif présent menjelaskan dua kejadian yang terjadi

bersamaan pada kala présent. Contohnya sebagai berikut.

(22) Mon père se leva, rougit presque et la suivi en parlant des bienfaits

de la sieste. (BT : 38)

‘Ayah berdiri, nyaris merona, dan membuntuti Elsa sambil

bergumam.’ (LK : 42)

Sedangkan gérondif passé menjelaskan tindakan yang telah terjadi di masa

lampau. Contohnya sebagai berikut.

(23) En ayant vendue sa maison, elle a gagné beaucoup d’argent.

‘Karena menjual rumahnya, ia mendapatkan banyak uang.’

23

Selain gérondif présent dan gérondif passé, D. Denis dan A. Sancier-

Château menyatakan bahwa gérondif juga terdiri dari bentuk aktif dan pasif.

Gérondif aktif menyatakan tindakan aktif sedangkan gérondif pasif menyatakan

tindakan pasif. Contohnya sebagai berikut.

a. Gérondif aktif :

(24) Elle lui sourit en passant et prit son manteau. (BT : 48)

‘Anne tersipu-sipu seraya melewatinya dan mengambil

mantel.’(LK : 51)

b. Gérondif pasif :

(25) En étant aimée par ses amis, elle obtient beaucoup de cadeaux

pour son anniversaire.

‘Karena disukai oleh teman-temannya, ia banyak mendapatkan

kado di hari ulang tahunnya.’

Apabila diilihat secara sekilas, gérondif passé dan gérondif pasif memiliki

kemiripan, terlebih jika bentuk gérondif passé menggunakan verba être pada

bentuk participe passé-nya. Hal yang perlu dicermati adalah, pada gérondif passé,

klausa lainnya dalam kalimat itu dinyatakan dalam bentuk passé seperti passé

composé, imparfait, atau juga dalam bentuk conditionnel, sedangkan pada

gérondif pasif, semua verba participe passé didahului dengan verba être yang

menyatakan bentuk pasif dan biasanya diikuti oleh kata par untuk menjelaskan

agen atau pelaku.

Gérondif memiliki peran penting dalam sintaksis verba atau sebagai

complément du verbe atau pelengkap verba, yang terdiri dari complément d’objet

atau pelengkap objek, complément d’agent atau pelengkap agen, dan complément

circonstanciel atau keterangan. Contohnya sebagai berikut.

1. Seb. complément d’objet :

(26) Tout en étant apprécié de tous pour son dévouement, il a beaucoup

d’ennemies.

24

‘Sementara ia banyak dikagumi karena pengorbanannya, ia

memiliki banyak musuh.’

2. Seb. complément d’agent :

(27) Il ne sera apprécié qu’en étant plus serviable.

‘Ia akan lebih dihargai jika suka menolong.’

3. Seb. complément circonstanciel :

(28) Sitôt qu’il reconnut Rodolphe, il s’avança vivement, et lui dit en

souriant d’un air aimable. (MB : 190)

‘Begitu ia mengenali Rodolphe, ia maju dengan cepat. Dan dengan

senyum ramah ia menegur.’ (MBt : 162)

Jika secara sintaksis gérondif memilik peran sebagai complément du verbe,

berdasarkan makna, gérondif memiliki beberapa fungsi. Menurut Olivier (1978 :

326), gérondif memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Tindakan atau perbuatan yang dilakukan secara bersamaan, memiliki arti

yang sama dengan en meme temps que dan pendant que. Contoh :

(29) Il riait doucement en me frottant la nuque. (BT : 17)

‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok tengkukku.’ (LK : 18)

(30) Nastasie descendit les marches en grelottant, et alla ouvrir la

serrure et les verrous, l’un après l’autre. (MB : 35)

‘Nastasia turun tangga. Ia menggigil kedinginan. Ia membuka kunci,

dan palang pintu satu demi satu.’ (MBt : 22)

2. Menyatakan keterangan waktu. Dalam bP, keterangan waktu dapat

dinyatakan dengan kata quand atau en même temps que, sedangkan dalam bI

dapat dinyatakan dengan kata ketika, pada waktu, dan saat.

(31) J’avais posé sa valise sur une chaise et, en me retournant vers elle,

je reçus un choc. (BT : 22)

‘Aku baru meletakkan kopernya di atas kursi, dan ketika berpaling

menghadap Anne, aku terkesiap.’ (LK : 23)

25

(32) En finissant, j’étais à peu près persuadée qu’Anne n’y pourrait pas

résister, que la réconciliation était imminente. (BT : 148)

‘Ketika selesai, aku hampir yakin Anne takkan tahan membacanya

dan rekonsiliasi pasti terjadi.’ (LK : 158)

3. Menyatakan sebab-akibat. Dalam kalimat yang menyatakan sebab- akibat

terdapat setidaknya dua klausa, yaitu klausa yang menyatakan sebab dan

klausa yang lain menyatakan akibat.

(33) Anne me blessait en la meprisant. (BT : 43)

‘Aku tersinggung Anne melecehkannya.’ (LK : 47)

(34) En voyageant trop souvent, j’ai manqué des classes.

‘Karena sering berlibur, saya sering absen di kelas.’

4. Menyatakan keterangan cara atau alat. Keterangan cara merupakan

keterangan yang menyatakan cara, sarana, atau bagaimana suatu tindakan

dilakukan.

(35) Je me dirigeai vers elle en affectant un air gêné, par pure politesse.

(BT : 60)

‘Aku mendekatinya dengan tampang pura-pura malu, murni demi

sopan santun.’ (LK : 64)

(36) Et qu’en épousant une femme de son âge, il échappait a cette

catégorie des hommes sans date de naissance dont il faisait partie.

(BT : 98)

‘Dan dengan menikahi wanita sepantarannya, Ayah terusir dari

kategori pria-pria tanpa tanggal lahir.’ (LK : 104)

5. Menggantikan Bien que, Quoique. Dalam bI, bien que atau quoique

memiliki makna meskipun atau walaupun. Kata meskipun atau walaupun

menjelaskan suatu hal yang bertentangan.

(37) Tout en étant en colère contre, il ne voulait pas le punir.

‘Meskipun sedang marah, ia tidak ingin menghukumnya.’

(38) Si elle était devenue une fille des rues en étant née dans son milieu,

là, elle aurait eu du mérite.(BT : 43)

26

‘Kalau dia jadi cewek jalanan padahal lahir dari lingkungan borjouis,

itu baru patut diacungi jempol.’ (LK : 47)

Pada penelitian ini, penerjemahan gérondif tak hanya meliputi kelima makna di

atas, namun gérondif memiliki makna yang lebih beragam. Penelitian ini

menggunakan teori dari Ramlan (1987 :59-88) mengenai hubungan makna yang

timbul sebagai akibat pertemuan klausa satu dengan klausa lainnya, baik klausa atasan

maupun bawahan. Menurutnya penelitian yang dilakukannya, diperoleh 17 hubungan

makna, yaitu :

1. Makna ‘Penjumlahan’

Makna ‘penjumlahan’ dalam kalimat dapat dinyatakan dengan kata

hubung et dalam bP atau dan, serta, dan lagipula dalam bI. Contohnya adalah

sebagai berikut.

(39) Tous les matins, je prends le petit déjeuner et lis le journal.

‘Setiap pagi, saya menyantap sarapan dan membaca koran.’

Kalimat (37) di atas menyatakan bahwa setiap pagi subjek je ‘saya’ memiliki

dua kebiasaan yaitu prend le petit déjeuner menyantap sarapan dan lis le journal

‘membaca koran’. Hubungan ‘menyantap sarapan’ dan ‘membaca koran’

merupakan hubungan makna penjumlahan yang bersifat menjumlahkan,

menambah, atau menggabungkan dua tindakan yang berbeda. Selain

penjumlahan verba atau tindakan, kata dan dapat digunakan untuk

menggabungkan nomina, adjektiva, atau keterangan.

2. Makna ‘Perturutan’

Makna ‘perturutan’ adalah makna yang menyatakan peristiwa, keadaan,

atau perbuatan yang dilakukan secara berurutan atau berturut-turut. Makna

27

perturutan dapat dinyatakn dengan kata hubung lalu atau kemudian.

Contohnya:

(40) Cet après midi, ma sœur est allée chez maman, ensuite elle est

allée au centre commercial pour faire du shopping.

‘Siang tadi kakakku pergi ke rumah ibu, kemudian ia pergi ke

mall untuk berbelanja.’

Kalimat (38) di atas menyatakan urutan peristiwa, yaitu est allée chez maman

‘pergi ke rumah ibu’ yang dilanjutkan dengan est allée au centre comercial pour

faire du shopping ‘pergi ke mall untuk berbelanja’ dan menggunakan kata

ensuite ‘kemudian’ sebagai kata penghubung. Kata kemudian dapat digantikan

dengan kata lalu.

3. Makna ‘Pemilihan’

Makna ‘pemilihan’ menyatakan bahwa hanya ada satu dari beberapa kata

yang disebut yang dapat dipilih. Kata-kata itu dapat berupa nomina, verba,

adjektiva, dsb, misalnya :

(41) Vous voulez au marché ou à la place ?

‘Kamu ingin pergi ke pasar atau alun-alun ?’

Pada contoh kalimat (39) di atas terdapat pilihan, au marché ‘pergi ke pasar’

atau à la place ‘pergi ke alun-alun’. Kata hubung yang digunakan adalah ou

‘atau’. Dalam bI, dapat juga digunakan kata hubung baik… maupun.

4. Makna ‘Perlawananan’

Makna ‘perlawanan’ adalah makna yang menyatakan perihal yang

bertentangan antara klausa-klausa dalam sebuah kalimat. Hubungan

pertentangan ini dapat dinyatakan dengan kata hubung mais, par contre, bien

que, au contraire, dan quoique dalam bP, dan tetapi, tapi, akan tetapi, hanya,

28

padahal, melainkan, sedangkan, sebaliknya, meskipun, walaupun, dan

biarpun dalam bI. Contohnya adalah :

(42) Elle n’est pas belle mais il l’aime bien.

‘Dia tidak cantik namun pria itu mencintainya.’

(43) Bien qu’il soit riche, il habite dans une petite maison.

‘Meskipun ia kaya, ia tinggal di rumah kecil.’

Klausa-klausa pada kalimat (40) dan kalimat (41) merupakan klausa

yang memiliki makna berlawanan kemudian dihubungkan dengan kata

hubung namun pada kalimat (40) dan meskipun pada kalimat (41).

5. Makna ‘Lebih’

Untuk menjelaskan hubungan makna ‘lebih’, perhatikan contoh berikut :

(44) Elle est vraiment riche, en plus elle a été donnée deux grands

maison après la morte de ses parents.

‘Ia sangat kaya, bahkan ia mendapat dua rumah besar dari orang

tuanya yang telah meninggal.’

Pernyataan klausa kedua, en plus elle a été donnée deux grands maison après la

morte de ses parents, ‘bahkan ia mendapat dua rumah besar dari setelah orang

tuanya meninggal’ pada klausa di atas melebihi apa yang dinyatakan pada klausa

sebelumnya, elle est vraiment riche ‘ia sangat kaya’. Pada kalimat (42) untuk

menggabungkan dua klausa ini digunakan kata hubung en plus dalam bP atau

bahkan dalam bI.

6. Makna ‘Waktu’

Makna waktu menyatakan keterangan waktu, yaitu waktu terjadinya

sebuah tindakan, waktu dimulainya atau berakhirnya pada klausa inti dalam

sebuah kalimat. Kata hubung dalam bP yang biasa digunakan untuk menyatakan

29

hubungan makna ‘waktu’ adalah quand, en attendant, lorque, tandis que, apres,

avant de, depuis, dsb, sedangkan dalam bI dapat dinyatakan dengan ketika, pada

waktu, sementara itu, sejak, sebelum, sesudah, dsb. Contohnya adalah sebagai

berikut.

(45) Quand mon frere était petit, il adore Harry Potter.

‘Ketika kakakku masih kecil, ia mengagumi Harry Potter.’

Klausa pertama pada kalimat (43) quand mon frère etait petit ‘ketika

kakakku masih kecil’, menjelaskan keterangan waktu, ditandai dengan adanya

kata quand atau ketika.

7. Makna ‘Perbandingan’

Makna ‘perbandingan’ menyatakan suatu perbandingan antara apa yang

dinyatakan pada klausa utama dan klausa bawahan. Untuk membandingakn dua

klausa dalam kalimat digunakan kata hubung plus… que, mieux que, pire que,

moins, dsb dalam bP atau lebih… daripada dalam bI. Contohnya adalah sebagai

berikut.

(46) Benjamin aime la France mieux que l’Espagne.

‘Benjamin lebih suka Prancis daripada Spanyol.’

Kalimat (44) menyatakan perbandingan kesukaan oleh subjek Benjamin

antara negara Prancis atau Spanyol. Kata hubung yang digunakan adalah mieux

que atau daripada.

8. Makna ‘Sebab’

Makna ‘sebab’ adalah ketika klausa bawahan menyatakan sebab atau

alasan terjadinya peristiwa pada klausa utama yang dinyatakan dengan kata

30

hubung parce que, car, comme, dalam bP atau karena dalam bI. Contohnya

adalah sebagai berikut.

(47) Comme elle est grande et belle, elle devient mannequine.

‘Karena ia tinggi dan cantik, ia menjadi model.’

Kata hubung comme dalam bP diletakkan di awal kalimat untuk

menyatakan sebab. Pada kalimat (45), klausa comme elle est grande et belle

‘karena ia tinggi dan cantik’ merupakan sebab dari klausa setelahnya, elle

deviant mannequine ‘ia menjadi model’.

9. Makna ‘Akibat’

Kebalikan dari makna ‘sebab’, makna ‘akibat’ menjelaskan akibat atau

hasil dari apa yang dinyatakan pada klausa inti. Hubungan makna ini dinyatakan

dengan kata hubung de sorte que, jusqu’à, sorte que, afin que, dan pour que

dalam bP atau hingga, sehingga, dan sampai dalam bI. Contohnya adalah

sebagai berikut :

(48) Il était en colere puis m'a frappé la main jusqu'à ecchymoses.

‘Ia marah kemudian memukul tanganku hingga lebam.’

Klausa m'a frappé la main jusqu'à ecchymoses ‘memukul tanganku hingga

lebam’ pada kalimat (46) menyatakan akibat atau hasil dari tindakan pada klausa

sebelumnya.

10. Makna ‘Syarat’

Makna ‘syarat’ terjadi apabila klausa bawahan menyatakan syarat bagi

terlaksananya tindakan atau hal pada klausa utama yang dapat dinyatakan

dengan kata hubung si atau à condition que dalam bP atau jika, kalau, dan bila

dalam bI. Contohnya adalah :

31

(49) Si vous êtes en avance, je ne vous donnerai pas un dossier.

‘Kalau Anda datang lebih awal, saya tidak akan memberi tugas.’

Pada kalimat (47), klausa si vous etes en avance ‘kalau Anda datang lebih

awal’ merupakan syarat tindakan pada klausa selanjutnya je ne vous donnerai

pas un dossier ‘saya tidak akan memberi tugas’. Kata hubung pada kalimat ini

adalah si atau jika.

11. Makna ‘Pengandaian’

Makna pengandaian terjadi apabila klausa bawahan menyatakan suatu

pengandaian yang tidak mungkin terlaksana pada klausa inti. Makna

pengandaian juga menyatakan harapan di masa depan. Kata hubung yang

digunakan untuk menyatakan ‘pengandaian’ adalah si, en supposant dalam bP

atau andaikan, seandainya, sekiranya, dan seumpama dalam bI. Contohnya

adalah :

(50) Si j’etais riche, je voudrais aller en Europe.

‘Andaikan saja saya kaya, saya pasti pergi ke Eropa.’

Kalimat (48) merupakan pernyataan keinginan yang tidak tercapai, yaitu

subjek je ‘saya’ berandai-andai apabila ia kaya, ia akan pergi ke Eropa. Dalam

kalimat ini digunakan kata hubung si atau andaikan.

12. Makna ‘Harapan’

Makna ‘harapan’ menyatakan sesuatu yang diharapkan dengan

dilaksanakan atau dikerjakannya tindakan pada klausa utama dan dinyatakan

dengan kata hubung pour que, que, dan afin de dalam bP atau agar, supaya, dan

biar dalam bI. Contohnya adalah sebagai berikut.

(51) Il m’a donnée un bracelet d’or pour que je l’aime.

32

‘Ia memberiku gelang emas agar aku mencintanya.’

Pada kalimat (49), subjek il melakukan tindakan pada klausa il m’a donnée

un bracelet d’or ‘ia memberiku gelang emas’ yang tujuannya adalah supaya

tindakan pada klausa setelahnya pour que je l’aime ‘agar aku mencintainya’

terlaksana dengan kata hubung pour que atau agar.

13. Makna ‘Penerang’

Makna ‘penerang’ terjadi apabila klausa bawahan menerangkan salah satu

unsur yang dapat berupa kata atau frasa nominal pada klausa utama, misalnya :

(52) C’est un homme que j’aime toujours.

‘Itu pria yang kucintai selamanya.’

Pada kalimat (50), klausa que j’aime toujours ‘yang kucintai selamanya’

merupakan penjelas dari kata un homme atau pria. Dalam bP, makna penerang

ini dapat disebut juga complément yang biasanya dinyatakan dengan kata

hubung que dan qui atau yang dalam bI.

14. Makna ‘Isi’

Makna ‘isi’ adalah ketika klausa bawahan menyatakan apa yang dikatakan,

dipikirkan, dinyatakan, dijelaskan, atau dikemukakan pada klausa inti. Kata

hubung yang digunakan adalah que dalam bP atau bahwa dalam bI, misalnya :

(53) Je commence de comprendre que ma vie est vraiment belle

grâce à ta presence.

‘Aku mulai memahami bahwa hidupku sangat indah dengan

kehadiranmu.’

Klausa ma vie est vraiment belle grâce à ta presence ‘hidupku sangat

indah dengan kehadiranmu’ merupakan penjelasan dari klausa sebelumnya je

33

commence de comprendre ‘aku mulai memahami’ yang dihubungkan dengan

kata hubung que atau bahwa.

15. Makna ‘Cara’

Makna ‘cara’ adalah apabila klausa bawahan menyatakan cara atau

bagaimana perbuatan pada klausa utama terjadi. Kata penghubung yang

digunakan adalah avec atau gérondif dalam bP atau dengan dalam bI.

Contohnya :

(54) Je peux vivre heureusement même avec ton histoire précédente.

‘Aku bisa hidup bahagia meski dengan kisah masa lalumu.’

Kalimat (52) menjelaskan klausa je peux vivre heuresement ‘aku bisa

hidup bahagia’ meskipun dengan klausa avec ton histoire précédente ‘dengan

kisah masa lalumu’ sebagai keterangan cara. Kata hubung yang digunakan

adalah avec atau dengan.

16. Makna ‘Perkecualian’

Makna ‘perkecualian’ menyatakan suatu perkecualian atau sesuatu yang

dikecualikan dari apa yang dinyatakan pada klausa utama. Kata hubung yang

digunakan adalah sans dan sauf dalam bP atau kecuali dan selain dalam bI,

misalnya :

(55) Je ne veux pas manger sauf que tu m’achetès de repas.

‘Aku tidak ingin makan kecuali kamu membelikanku makanan.’

Kalimat (53) menyatakan tindakan pada klausa je ne veux pas manger ‘aku

tidak ingin makan’ yang tidak akan dilakukan kecuali tindakan pada klausa

kedua tu m’achètes de repas ‘kamu membelikanku makanan’ dilakukan dengan

kata hubung sauf que atau kecuali.

34

17. Makna ‘Kegunaan’

Hubungan makna ‘kegunaan’ terjadi apabila klausa bawahan menyatakan

kegunaan. Kata hubung yang digunakan adalah pour dan à propose de dalam bP

atau untuk dan guna dalam bI, contohnya :

(56) Je vais aller en France pour continuer mes etudes à Grenoble

‘Saya akan pergi ke Prancis untuk melanjutkan sekolah saya di

Grenoble.’

Klausa pour continuer mes etudes à Grenoble ‘untuk melanjutkan sekolah

saya di Grenoble’ menyatakan tujuan dari klausa je vais aller en Frace ‘saya

akan pergi ke Prancis’ yang menggunakan kata hubung pour atau untuk.

2.2 Semantik

Semantik adalah cabang linguistik yang meneliti tentang arti atau makna,

seperti yang juga diungkapkan oleh Lehrer (1974:1). Menurut Lehrer, semantik

merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek

struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan

antropologi. Verhaar (1983:124) mengatakan bahwa semantik berarti teori makna atau

teori arti. Batasan yang hampir sama ditemukan pula dalam Ensiklopedia Britanika

(Encyclopaedia Britanica, Vol. 20, 1965:313) yang terjemahannya “Semantik adalah

studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistik dengan hubungan proses

mental atau simbol dalam aktifitas bicara.” Berdasarkan penjelasan ini dapat

disimpulkan bahwa semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna.

Makna atau arti hadir dalam tatabahasa (morfologi dan sintaksis) maupun leksikon.

Semantik dapat dibagi menjadi semantik leksikal dan semantik gramatikal.

Menurut Abdul Chaer, makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada

leksem meski tanpa konteks apapun. Makna ini merupakan makna yang sebenarnya,

35

sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Makna leksikal dapat

dikatakan juga sebagai makna yang ada di dalam kamus. Sebaliknya, makna

gramatikal adalah makna yang muncul setelah terjadi proses gramatikal, seperti

afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan kalimatisasi. Berikut ini adalah penjelasan lebih

lanjut mengenai semantik leksikal dan gramatikal.

2.2.1 Semantik Leksikal

Kearns (2000:3) menyatakan bahwa makna leksikal adalah makna dari kata

itu sendiri, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang semantik leksikal disebut

“leksikologi”. Semantik leksikal menyangkut makna leksikal yaitu makna yang

terdapat pada leksem dan tidak terikat pada konteks apa pun. Misalnya leksem

apel memiliki makna leksikal ‘sejenis buah-buahan’. Sementara itu, Pateda

(2001:74) mengatakan bahwa semantik leksikal cenderung lebih fokus pada

pembahasan sistem makna yang terdapat dalam kata. Pendapat yang sama

diutarakan oleh Saeed (2000), bahwa kajian tentang makna kata disebut juga

kajian semantik leksikal.

Penjelasan di atas mengindikasikan bahwa makna leksikal adalah makna

sebenarnya, yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita. Hal inilah

yang menyebabkan banyak orang mengatakan bahwa makna leksikal adalah

makna kamus.

2.2.2 Semantik Gramatikal

Menurut Kridalaksana (1984 : 120), makna gramatikal adalah hubungan

antara unsur-unsur bahasa dalam satuan yang lebih besar, misalnya hubungan

antara kata dengan kata yang lain dalam frasa atau kalimat. Contohnya adalah kata

genting yang bisa berarti sejenis benda yang terletak di atas rumah atau

36

menggambarkan suasana yang tidak baik. Dalam kalimat ‘Ayah membeli genting

untuk memperbaiki rumahnya’, kata genting diartikan sebagai benda ‘genting’,

bukan suasana ‘genting’. Berbeda dengan kalimat ‘Suasana genting terjadi ketika

bencana longsor itu terjadi’, kata genting di sini menjelaskan suasana.

Makna gramatikal hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti

proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.

Setiap bahasa mempunyai sarana atau alat gramatikal tertentu untuk menyatakan

makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal. Untuk menyatakan makna

jamak bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata teman yang

bermakna ‘seorang teman’ dan menjadi ‘banyak teman’ ketika dituliskan berulang

menjadi teman-teman. Dalam bP, proses komposisi atau proses penggabungan

dalam juga banyak melahirkan makna gramatikal. Misalnya, makna gramatikal

komposisi le tour tidak sama dengan komposisi la tour. Meskipun hanya berbeda

pada masculin dan feminin, yaitu le dan la, kedua kata itu memiliki makna yang

berbeda. Le tour memiliki arti ‘sebuah perjalanan’, sedangkan la tour memiliki

arti ‘menara’.

2.3 Terjemahan

Catford (1965 : 20) mendefinisikan terjemahan sebagai proses transfer teks dari

bahasa sumber ke dalam padanannya dalam bahasa sasaran. Hasil penerjemahan ini

berupa padanan terdekat bahasa sumber dalam bahasa sasaran yang mengutamakan

makna dan selanjutnya bentuk. (Nida, 1974 : 12). Bahasa sumber (bSu) merupakan

bahasa yang diterjemahkan, sedangkan bahasa sasaran (bSa) merupakan bahasa hasil

terjemahan. Nida & Taber (1969:105) menyampaikan bahwa ketika mengalihkan bSu

ke bSa, seorang penerjemah memperhatikan berbagai penyesuaian, yaitu penyesuaian

struktur dan penyesuaian semantis. Kedua bentuk penyesuaian ini mengakibatkan

37

pergeseran. Penyesuaian struktur akan mengakibatkan pergeseran bentuk

bahasa,sedangkan penyesuaian semantis akan mengakibatkan pergeseran makna.

Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pergeseran terjemahan.

1.4.3.1 Pergeseran Terjemahan

Penelitian ini menggunakan teori pergeseran terjemahan Catford. Catford

membagi pergeseran terjemahan menjadi dua, yaitu pergeseran tataran (gramatikal dan

leksikal) serta pergeseran kategori.

1. Pergeseran Tataran Gramatikal(Grammatical Level Shift)

Pergeseran gramatikal terjadi karena tidak ada padanan setara dari bSu ke bSa

dalam tataran gramatikal. Contohnya adalah sebagai berikut.

a. Pergeseran bentuk jamak menjadi bentuk tunggal dalam bSa. Contohnya

adalah :

(57) En attendant, nous coulions des jours heureux : je multipliais les

occasions d’exciter mon père sur Elsa. (BT : 137)

‘Sementara itu, kami melewati hari-hari nan bahagia : aku makin

sering memperoleh kesempatan mengilik-ngilik Ayah mengenai

Elsa.’ (LK : 146)

b. Pergeseran bentuk tunggal menjadi bentuk jamak dalam bSa.

(58) Je me mis à répéter ce mot de débauche, sourdement, en me

regardant les yeux, et, tout à coup, je me vis sourire. (BT : 54)

‘Aku mengucapkan kata meliar itu berulang-ulang dengan suara

parau, seraya menatap mataku, dan tiba –tiba kulihat wajahku

menyeringai.’ (LK : 58)

c. Pergeseran bentuk kalimat aktif menjadi kalimat pasif dalam bSa.

Contohnya adalah :

(59) Eh ! laisse-moi donc ! fit-elle en la repoussant du coude. (MB :

162)

‘"Ayo, pergi ah !" kata Emma dan anak itu ditolaknya dengan

sikunya.’ (MBt : 137)

38

d. Pergeseran bentuk kalimat pasif menjadi kalimat aktif dalam bSa.

Contohnya adalah :

(60) “Pour ça... Il faudrait que ta mère soit un peu un peu moins

dissipée avec ses migraines..” (Komik Titeuf, hlm. 16)

‘"Untuk itu, mamamu harus mengurangi migrennya."’ (Komik

Titeuf terjemahan, hlm. 15)

e. Pergeseran kala. BI tidak mengenal kala seperti bP sehingga terjadi

pergeseran kala. Contohnya adalah :

(61) Ce cher Cyril n’y tenait plus, dit-il en riant. (BT : 94)

‘"Si Cyril sudah tak tahan," celetuknya sambil terkekeh.’ (LK : 99)

2. Pergeseran Tataran Leksikal(Lexical Level Shift)

Pergeseran leksikal terjadi karena tidak adanya padanan setara dari bSu ke bSa

dalam tataran leksikal. Contohnya adalah sebagai berikut.

(62) “Regarde! T’as le overkill warriors qui te tombent dessus. Tu dois le

scracher!” (Komik Titeuf, hlm. 19)

‘"Lihat! Overkill Warriors menyerang. Kamu harus scrach mereka!"’

3. Pergeseran Kategori(Category Shift)

Catford membagi pergeseran kategori menjadi empat, yaitu pergeseran struktur

(structure shift), pergeseran kelas (class shift), pergeseran satuan (unit shift), dan

pergeseran intra-system (intra-system shift).

a. Pergeseran struktur adalah pergeseran dalam tataran sintaksis yang terjadi

karena perbedaan struktur antara bSu dan bSa. Contohnya adalah sebagai

berikut.

(63) Ses sanglots redoublaient. Le sud-américain se mit à pleurer aussi,

en répétant : « nous étions si heureux, si heureux ». (BT : 52)

‘Sedu-sedunya semakin menjadi-jadi. Si Amerika Serikat ikut-

ikutan meratap, terus membeo : « Betapa bahagia kita selama ini,

betapa bahagia.”’ (LK : 55)

39

b. Pergseran kelas kata adalah pegeseran yang terjadi pada tingkat kelas kata

dari bSu ke bSa. Contohnya adalah sebagai berikut.

(64) Dans son exaspération, M. Bovary père, brisant une chaise contre

les pavés, accusa sa femme d’avoir fait le malheur de leur fils en

l’attelant à une haridelle semblable, dont les harnais ne valaient

pas la peau. (MB : 43)

‘Karena jengkelnya, Tuan Bovary tua membanting kursi ke ubin

sampai patah berkeping-keping, menuduh istrinya telah

mencelakakan anak mereka karena dijadikan pasangan dari kuda

tua bangka semacam itu, yang seluruh abah-abahnya belum senilai

kulitnya.’ (MBt : 30)

c. Pergeseran satuan terjadi karena pergeseran tingkat satuan gramatikal yang

rendah ke satuan gramatikal yang lebih tinggi atau sebaliknya dalam proses

penerjemahan. Tingkat satuan ini mencakup kata, frasa, klausa, atau

kalimat. Contohnya adalah sebagai berikut.

(65) “C’est des conneries!” (Komik Titeuf, 2 : 6)

‘"Ngibul!"’ (Komik Titeuf terjemahan, 1 : 5)

d. Pergeseran intra-system ataua sistem bahasa adalah pergeseran-pergeseran

yang terjadi di dalam sistem bahasa antara bahasa sumber dengan bahasa

sasaran. Bahasa sumber dan bahasa sasaran terkadang memiliki sistem-

sistem yang kira-kira sama, tetapi pergeseran sistem bahasa dapat terjadi

saat penerjemahan melibatkan sistem bahasa yang berbeda. Contohnya

adalah sebagai berikut.

(66) Comme j’ai été sage ! se disait-elle en songeant aux écharpes.

(MB : 149)

‘"Aku tadi tahu diri juga !"’ katanya dalam hati, teringat syal-syal

tadi. (MBt : 126)

40

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Analisis Sintaksis

Analisis Sintaksis pada pembahasan ini meliputi analisis klausa utama dan

klausa bawahan pada kalimat yang mengandung bentuk gérondif serta posisi gérondif

dalam kalimat. Pembahasan lebih lanjut akan dipaparkan pada sub bab berikut.

3.1.1 Klausa Utama dan Klausa Bawahan Kalimat Gérondif

Setiap kalimat majemuk memiliki setidaknya dua klausa dalam sebuah kalimat,

begitu juga dengan kalimat yang mengandung gérondif menjelaskan beberapa

tindakan yang berbeda karena terdapat lebih dari satu verba. Apabila verba-verba

tersebut dipisahkan dan dijabarkan menjadi klausa lengkap dengan subjek dan

predikat, serta objek atau keterangan, maka akan terbentuk beberapa klausa.

Contohnya adalah sebagai berikut.

(67) Il riait doucement en me frottant la nuque. (BT : 17)

‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok tengkukku.’ (LK : 18)

(68) Je me révélai à mon tour plus lentement en regardant Anne. (BT : 60)

‘Aku sendiri bangkit dengan lebih lambat seraya menatap Anne.’ (LK :

65)

Kalimat (67) di atas menjelaskan dua tindakan, yaitu riait, dan frottant, yang

dilakukan oleh subjek il ‘ia’. Bentuk gérondif di atas dapat dipisah dan dijabarkan

menjadi klausa yang lebih kompleks menjadi seperti berikut.

(67a) Il riait doucement

‘Ia terkekeh lirih’

Il me frottait la nuque

‘Ia menggosok-gosok tengkukku’

41

Klausa yang dicetak tebal adalah klausa utama, sedangkan klausa di bawahnya

adalah klausa bawahan. Klausa ‘Il me frottait la nuque’ merupakan klausa bawahan

karena pada kalimat aslinya dituliskan dalam bentuk gérondif sehingga menduduki

klausa bawahan. Kalimat Il riait doucement en me frottant la nuque merupakan

kalimat majemuk bertingkat karena terdiri dari satu klausa utama dan satu klausa

bawahan.

Pada kalimat (68), Je me révélai à mon tour plus lentement en regardant Anne,

dan terjemahannya ‘Aku sendiri bangkit dengan lebih lambat seraya menatap Anne’,

terdapat tindakan yang dilakukan oleh subjek je ‘aku’, yaitu révélai ‘bangkit’ dan

regardant ‘menatap’. Bentuk gérondif di atas jika dipisah dan diuraikan dalam bentuk

klausa yang lebih kompleks akan menjadi seperti berikut.

(68a) Je me révélai à mon tour plus lentement

‘Aku sendiri bangkit dengan lebih lambat’

Je regardai Anne

‘Aku menatap Anne’

Tindakan yang dituliskan dalam bentuk gérondif merupakan klausa bawahan,

Tindakan révélai ‘bangkit’ merupakan tindakan utama, sedangkan tindakan regardai

‘menatap’ merupakan tindakan pendukung dari tindakan utama. Kalimat (68)

merupakan kalimat majemuk bertingkat karena terdiri dari satu klausa utama dan satu

klausa bawahan.

Dalam satu kalimat bisa terdiri dari beberapa klausa hingga lebih dari dua

klausa, begitu juga kalimat yang mengandung gérondif. Di bawah ini akan dijabarkan

beberapa contoh kalimat ber-gérondif yang menjelaskan lebih dari dua tindakan,

yaitu :

42

(69) L’un d’eux, qui semblait plus considérable, prenait, tout en marchant,

quelques notes sur un album. (MB : 190)

‘Salah seorang dari mereka yang kelihatannya lebih berwibawa,

membuat catatan di dalam sebuah album sambil berjalan.’ (MBt : 162)

(70) Elle monta les marches de son escalier en se tenant à la rampe, et, quand

elle fut dans sa chambre, se laissa tomber dans un fauteuil. (MB : 162)

‘Emma menaiki anak-anak tangga rumahnya sambil berpegang pada

susuran tangan. Waktu ia sampai di kamarnya, ia mengempaskan diri ke

atas kursi besar.’ (MBt : 137)

Pada kalimat (69) terdapat tiga tindakan yang dilakukan oleh subjek L’un d’eux

‘salah seorang dari mereka’ yaitu semblait ‘kelihatannya’, prenait ‘membuat’, dan

marchant ‘berjalan’. Tindakan gérondif marchant ‘berjalan’ merupakan tindakan yang

dilakukan secara bersamaan dengan tindakan prendre ‘membuat’, sedangkan tindakan

semblait ‘kelihatannya’ merupakan complément du nom atau pelengkap dari subjek

L’un d’eux ‘salah seorang dari mereka’. Begitu juga dengan kalimat (70) yang terdapat

empat tindakan yang dilakukan oleh subjek Elle ‘Emma’ (kata ganti dari tokoh Emma)

dalam satu kalimat, yaitu monta ‘menaiki’, se tenant ‘berpegang’, fut, dan se laissa

‘menghempaskan diri’. Bentuk gérondif en se tenant ‘sambil berpegang’ menjelaskan

tindakan yang dilakukan secara bersamaan dengan monta ‘menaiki’, sedangkan

tindakan lainnya, fut dan se laissa ‘menghempaskan diri’, merupakan tindakan yang

dilakukan setelah tindakan monta ‘menaiki’ dan se tenant ‘berpegang’, diperjelas

dengan adanya kata penghubung et ‘dan’ dalam kalimat itu. Kalimat (69) dan kalimat

(70) jika dipisah dan dijabarkan dalam klausa yang lebih kompleks akan menjadi

seperti berikut.

(69a) L’un d’eux prenait quelques notes sur un album

‘Salah seorang dari mereka yang kelihatannya lebih berwibawa’

L’un d’eux semblait plus considérable

‘Salah satu dari mereka membuat catatan di dalam sebuah album’

L’un d’eux marchait

‘Salah satu dari mereka berjalan’

(70a) Elle monta les marches de son escalier

43

‘Emma menaiki anak-anak tangga rumahnya’

Elle se tint à la rampe

‘Emma berpegang pada susuran tangan’

Elle fût dans sa chambre

‘Emma sampai pada kamarnya’

Elle se laissa tomber dans un fauteuil

‘Ia menghempaskan diri ke atas kursi besar’

Pada (69a) dan (70a), klausa yang dicetak tebal merupakan klausa utama,

menjelaskan tindakan yang menjadi prioritas dalam kalimat-kalimat itu, sedangkan

klausa yang lainnya merupakan klausa bawahan, menjelaskan tindakan-tindakan lain

yang mendukung tindakan utama. Kalimat (69) merupakan kalimat majemuk

campuran karena di dalam kalimat terdapat satu klausa utama dan dua klausa bawahan

sebagai pelengkap subjek dan pendukung klausa utama. Kalimat (70) juga merupakan

kalimat majemuk campuran, karena terdiri dari satu klausa utama dan tiga klausa

bawahan sebagai pedukung tindakan utama dan tindakan yang dilakukan secara

berurutan.

3.1.2 Posisi Gérondif

Dalam sebuah kalimat, gérondif dapat terletak di awal, di tengah-tengah, atau

di akhir kalimat. Letak gérondif yang bermacam-macam itu juga dapat disebabkan

oleh penting atau tidaknya informasi yang disampaikan oleh penutur. Informasi

Penjelasan lebih lanjut mengenai posisi gérondif akan dijelaskan beserta contoh di

bawah ini.

(71) Je me révélai à mon tour plus lentement en regardant Anne. (BT : 60)

‘Aku sendiri bangkit dengan lebih lambat seraya menatap Anne.’ (LK :

65)

(72) Il riait doucement en me frottant la nuque. (BT : 17)

‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok tengkukku.’ (LK : 18)

44

Kalimat (71) dan (72) menjelaskan dua tindakan yang dilakukan oleh subjek je

‘aku’ dan il ‘ia’ yaitu révélai ‘bangkit’ dan regardant ‘menatap’ pada kalimat (71)

serta riait ‘terkekeh’ dan frottant ‘menggosok-gosok’ pada kalimat (72). Salah satu

kesamaan dari kedua kalimat di atas adalah posisi gérondif yang sama-sama terletak di

akhir kalimat. Posisi gérondif di akhir kalimat itu tentunya juga berpengaruh pada

seberapa penting informasi tindakan dalam kalimat. Dalam sebuah kalimat, informasi

yang dianggap paling penting diungkapkan di awal kalimat, sedangkan informasi

yang dianggap kurang penting diungkapkan setelahnya. Begitu juga pada contoh

kalimat (71), Je me révélai à mon tour plus lentement en regardant Anne, dan kalimat

(72) Il riait doucement en me frottant la nuque, tindakan révélai pada kalimat (71) dan

tindakan riait ‘terkekh’ pada kalimat (72) dianggap lebih penting karena letaknya di

depan, sedangkan tindakan gérondif en regardant ‘sambil menatap’ pada kalimat (71)

dan en frottant ‘samabil menggosok-gosok’ pada kalimat (72) yang letaknya di

belakang merupakan tindakan yang kurang penting. Letak klausa gérondif pada

kalimat (71) dan (72) bukan berarti tidak bisa ditukar, meskipun tidak mengurangi

maknanya, namun tindakan yang lebih penting atau informasi yang ditekankan

menjadi berubah, misalnya :

(71a) En regardant Anne, je me révélai à mon tour plus lentement.

‘Seraya menatap Anne, aku sendiri bangkit dengan lebih lambat.’

(72a) En me frottant la nuque, il riait doucement.

‘Sambil menggosok-gosok tengkukku, ia terkekeh lirih.’

Pada kalimat (71a) dan (72a), gérondif terletak di awal kalimat. Makna kalimat

(71a) dan (72a) dengan kalimat asalnya tetap sama dan tidak ada yang berkurang,

namun pada kalimat (71a) dan (72a), tindakan gérondif di awal kalimat menjadi

tindakan yang dianggap lebih penting daripada tindakan lainnya.

45

Selain di awal dan di akhir kalimat, gérondif juga memungkinkan untuk

diletakkan di tengah-tengah, namun perlu diperjelas dengan tanda baca koma (,) agar

tidak menimbulkan perubahan makna. Lebih jelasnya lihat contoh berikut.

(71b) Je me révélai à mon tour en regardant Anne plus lentement.

‘Aku sendiri bangkit, sambil melihat Anne, dengan lebih lambat.’

(71c) Je me révélai à mon tour, en regardant Anne, plus lentement.

‘Aku sendiri bangkit, sambil melihat Anne, dengan lebih lambat.’

(72b) Il riait en me frottant la nuque doucement.

‘Ia terkekeh sambil menggosok-gosok tengkukku pelan-pelan1.’

(72c) Il riait, en me frottant la nuque, doucement.

‘Ia terkekeh, sambil menggosok-gosok tengkukku, lirih.’

Penempatan gérondif seperti pada kalimat (71b) dan (72b) tidak

memungkinkan karena akan menimbulkan perubahan makna atau keambiguan. Pada

kalimat (71) dan (71a), frasa à mon tour merupakan COI dan plus lentement

merupakan keterangan dari me revelai ‘bangkit’, sedangkan en regardant Anne

‘sambil menatap Anne’ merupakan tindakan lain yang dilakukan bersamaan dengan

tindakan me revelai ‘bangkit’. Jika gérondif diletakkan di antara objek dan keterangan

seperti pada kalimat (72b), maka frasa plus lentement ‘lebih lambat’ akan dikira

sebagai penjelas dari tindakan en regardant Anne ‘sambil menatap Anne’, bukan dari

tindakan utama Je me révélai ‘Aku sendiri bangkit’. Frasa plus lentement ‘lebih

lambat’ pada kalimat (72b) menjelaskan tindakan pada klausa Je me révélai à mon

tour ‘Aku sendiri bangkit’, sedangkan frasa ‘plus lentement’ ‘lebih lambat’ pada

kalimat (72c) menjelaskan tindakan pada frasa en regardant Anne ‘sambil menatap

Anne’.

1 Pada novel terjemahannya, ‘doucement’ diartikan sebagai ‘lirih’ karena menjelaskan tentang suara,

sedangkan pada (72b) kata ‘doucement’ diartikan sebagai ‘pelan-pelan’ karena verba sebelumnya adalah ‘menggosok’gosok, sehingga tidak dapat menggunakan kata ‘lirih’ yang merupakan kata sifat dari indra suara.

46

Jika kalimat (71) dan kalimat (72) diucapkan dengan bahasa lisan, maka akan

lebih mudah dimengerti dengan bantuan penekanan intonasi, tetapi jika diungkapkan

dengan bahasa tulis akan menimbulkan keambiguan. Maka dari itu perlu diberi tanda

baca koma (,) seperti kalimat (71c) dan (72c) agar tidak menimbulkan perubahan

makna.

Pada kalimat (71), Je me révélai à mon tour plus lentement en regardant Anne

‘Aku sendiri bangkit dengan lebih lambat seraya menatap Anne’, dan kalimat (72), Il

riait doucement en me frottant la nuque ‘Ia terkekeh lirih sambil menggosok-gosok

tengkukku’, menjelaskan dua tindakan dalam sebuah kalimat dan letak klausa gérondif

dapat ditukar seperti pada uraian sebelumnya. Namun apabila dalam sebuah kalimat

terdapat lebih dari dua klausa, gérondif tidak bisa serta merta ditempatkan di awal atau

di akhir kalimat. Contohnya adalah sebagai berikut.

(73) Des hirondelles passaient en poussant de petits cris, coupaient l’air au

tranchant de leur vol, et rentraient vite dans leurs nids jaunes, sous les

tuiles du larmier. (MB : 157)

‘Burung-burung layang-layang lewat dengan pekik pendek-pendek,

membelah udara dengan sayapnya, dan bergegas pulang ke sarang-sarang

kuning mereka di bawah genting talang.’ (MBt : 133)

Gérondif pada kalimat (73) menjelaskan tindakan poussant ‘pekik’ yang

dilakukan secara bersamaan dengan tindakan passaient ‘lewat’oleh oleh subjek Des

hirondelles ‘burung-burung layang-layang’. Bentuk gérondif pada kalimat (73) dapat

dipindahkan sebelum subjek dan menambahkan tanda baca koma (,) untuk

memperjelas, namun gérondif tidak memungkinkan dipindahkan di akhir kalimat atau

setelah klausa lainnya, karena maknanya akan berbeda. Perhatikan pemaparan berikut

ini.

(73a) En poussant de petits cris, des hirondelles passaient, coupaient l’air au

tranchant de leur vol, et rentraient vite dans leurs nids jaunes, sous les

tuiles du larmier.

47

‘Dengan pekik pendek-pendek, burung-burung layang-layang lewat,

membelah udara dengan sayapnya, dan bergegas pulang ke sarang-sarang

kuning mereka di bawah genting talang.’

(73b) Des hirondelles passaient, coupaient l’air au tranchant de leur vol, et

rentraient vite dans leurs nids jaunes, sous les tuiles du larmier en

poussant de petits cris.

‘Burung-burung layang-layang lewat, membelah udara dengan sayapnya,

dan bergegas pulang ke sarang-sarang kuning mereka di bawah genting

talang dengan pekik pendek-pendek.’

Kalimat (73a) memiliki makna yang sama dengan kalimat (73), yaitu bentuk

gérondif merupakan tindakan yang dilakukan bersamaan dengan tindakan passaient

‘lewat’. Sedangkan dengan menempatkan gérondif di akhir kalimat seperti pada

kalimat (73b), maka gérondif menjelaskan tindakan yang dilakukan bersamaan dengan

tindakan rentrait ‘bergegas pulang’. Selain tidak dapat dipindahkan secara serta merta

dalam kalimat yang mengandung beberapa verba dengan banyak tindakan, gérondif

juga tidak bisa dipindah dalam kalimat yang menjelaskan peristiwa atau tindakan yang

dilakukan secara berurutan. Contohnya adalah sebagai berikut.

(74) Elle me regarda avec ficcite un instant, puis sourit mystérieusement en

détournant la tête. (BT : 35)

‘Sejenak ia menatapku lekat-lekat, lantas tersenyum misterius,

melengos.’ (LK : 38)

Kalimat (74) menjelaskan tiga tindakan, yaitu regarda ‘menatap’, sourit

‘tersenyum’, dan détournant ‘melengos’. Bentuk gérondif en détournant menjelaskan

tindakan yang dilakukan bersamaan dengan tindakan sourit ‘tersenyum’, namun kedua

tindakan ini dilakukan setelah tindakan regarda ‘menatap’ karena adanya kata

penghubung puis yang memiliki arti ‘lantas’ atau ‘kemudian’, yaitu penghubung yang

menjelaskan tindakan yang terjadi berurutan. Bentuk gérondif en détournant la tête

hanya bisa dipindahkan setelah kata puis, karena jika dipindakan di awal kalimat,

maka tindakan ini bukan lagi menjelaskan tindakan yang dilakukan bersamaan dengan

48

tindakan sourit ‘tersenyum’, melainkan tindakan yang dilakukan bersamaan dengan

tindakan regarda ‘menatap’ dan urutan kegiatannya menjadi berbeda. Contoh :

(74a) Elle me regarda avec ficcite un instant, puis, en détournant la tête, sourit

mystérieusement.

‘Sejenak ia menatapku lekat-lekat, lantas (sambil) melengos, tersenyum

misterius.’

(74b) En détournant la tête, elle me regarda avec ficcite un instant, puis sourit

mystérieusement.

‘(Sambil) melengos, sejenak ia menatapku lekat-lekat, lantas tersenyum

misterius.’

Kalimat (74a) dan (74b) memiliki pengertian yang berbeda. Kalimat (74a)

menjelaskan tindakan yang sama dengan kalimat (74), hanya saja gérondif ditulis

sebelum sourit mystérieusement ‘tersenyum misterius’, sedangkan kalimat (74b),

tindakan en détournant la tête ‘melengos’ tidak dilakukan secara bersamaan dengan

tindakan sourit ‘tersenyum’ seperti pada kalimat (74) dan (74a), melainkan yang

dilakukan secara bersamaan dengan tindakan regarda ‘menatap’. Dengan begitu,

gérondif hanya bisa dipindahkan pada tataran klausanya sendiri saja dan tidak bisa

dipindahkan ke dalam klausa lainnya, karena tindakan yang terjadi secara berurutan

harus diungkapkan secara runtut untuk menjelaskan serangkaian kegiatan yang

berurutan.

Dalam beberapa kasus, gérondif dapat diletakkan di awal atau di akhir kalimat

meskipun di dalam kalimat itu terdapat banyak klausa yang menjelaskan beberapa

tindakan, yaitu ketika gérondif merupakan latar belakang dari serangkaian peristiwa

tersebut. Contohnya adalah sebagai berikut.

(75) Dans la voiture, en revenant, mon père prit ma main et la serra dans la

sienne. (BT : 152)

‘Di mobil, dalam perjalanan pulang, Ayah meraih tanganku dan terus

meremasnya.’ (LK : 163)

49

(76) En rentrant, il prit Anne dans ses bras, la garde quelques instants contre

lui, les yeux fermés. (BT : 113)

‘Begitu tiba, ia menarik Anne dalam dekapannya, berlama-lama

memeluknya dengan mata terpejam.’ (LK : 119)

Pada kalimat (75) dan (76), gérondif menyatakan keterangan waktu yaitu

‘dalam perjalanan pulang’ atau ‘ketika pulang’ dan ‘begitu tiba’ atau ‘ketika tiba’.

Tindakan ini merupakan latar belakang dari tindakan lainnya, artinya tindakan lain

dalam kedua kalimat tersebut terjadi lebih singkat daripada tindakan gérondif.

Gérondif dalam kalimat ini dapat diletakkan di awal maupun di akhir kalimat,

misalnya :

(75a) En revenant dans la voiture, mon père prit ma main et la serra

dans la sienne.

‘Dalam perjalanan pulang di mobil, Ayah meraih tanganku dan terus

meremasnya.’

(75b) Mon père prit ma main et la serra dans la sienne dans la voiture en

revenant.

‘Ayah meraih tanganku dan terus meremasnya di mobil dalam perjalanan

pulang.’

(76a) Il prit Anne dans ses bras, la garde quelques instants contre lui, les yeux

fermés en rentrant.

‘Ia menarik Anne dalam dekapannya, berlama-lama memeluknya

dengan mata terpejam begitu tiba.’

(76b) Il prit Anne dans ses bras, en rentrant, la garde quelques instants contre

lui, les yeux fermés.

‘Ia menarik Anne dalam dekapannya begitu tiba, berlama-lama

memeluknya dengan mata terpejam.’

Letak gérondif pada kalimat (75a), (75b), (76a) dan (76c) di atas berbeda-beda,

namun tetap berterima dan tidak menyebabkan perbedaan arti, hanya saja informasi

mengenai tindakan yang lebih ditekankan atau dianggap lebih penting menjadi

berubah. Pada kalimat (75a), klausa En revenant dans la voiture ‘Dalam perjalanan

pulang di mobil’, diungkapkan terlebih dahulu sehingga informasi itu dianggap lebih

penting daripada klausa mon père prit ma main et la serra dans la sienne ‘Ayah

50

meraih tanganku dan terus meremasnya’ yang diungkapkan setelahnya, sedangkan

pada kalimat (75b), klausa mon père prit ma main et la serradans la sienne ‘Ayah

meraih tanganku dan terus meremasnya’ dianggap lebih penting karena diungkapkan

terlebih dahulu daripada klausa En revenant dans la voiture‘Dalam perjalanan pulang

di mobil’ . Begitu juga dengan kalimat (76a) dan (76b).

3.2 Analisis Semantik dan Terjemahan

Analisis semantik pada penelitian ini meliputi analisis makna semantik dan

terjemahan gérondif yang diambil dari novel BT dan MB serta novel terjemahannya

dalam bI, LK dan MBt, sedangkan analisis terjemahan membahas tentang pergeseran

terjemahan bentuk gérondif dari sumber data yang terkumpul. Bentuk gérondif

memiliki fungsi untuk menyatakan tindakan yang dilakukan bersamaan, namun dalam

penerjemahan, maknanya bisa berkembang sesuai dengan konteks dan penyesuaian

terhadap bSa. Penyesuaian ini bisa juga disebabkan oleh kata, frasa, atau klausa

sebelum dan sesudah gérondif. Pada analisis makna juga dilakukan teknik ganti, yaitu

mengganti gérondif dengan kata lain yang memiliki makna setara. Penjelasan lebih

lanjut mengenai analisis makna gérondif akan dipaparkan pada sub bab berikut.

3.2.1 Makna Semantik dan Terjemahan Gérondif

Dari data yang diambil, sebagian besar bentuk gérondif menyatakan makna

sambil atau seraya, keterangan cara, keterangan waktu, dan sebab akibat, seperti yang

dikemukakan oleh Olivier (1978 : 326) tentang fungsi gérondif, meskipun pada data

juga terdapat terjemahan lain pada bentuk gérondif. Selain teori Olivier, digunakan

pula teori Ramlan (1987 : 59) tentang hubungan makna pada kalimat majemuk.

Berikut ini adalah pengklasifikasian gérondif menurut maknanya semantik dan

terjemahannya.

51

1. Menyatakan Makna ‘Sambil’ dan ‘Seraya’

Fungsi gérondif yang paling banyak ditemukan dari sumber data penelitian

ini adalah menyatakan makna ‘sambil’ dan ‘seraya’, misalnya :

(77) Elle lui sourit en passant et prit son manteau. (BT : 48)

‘Anne tersipu-sipu seraya melewatinya dan mengambil mantel.’

(LK : 51)

(78) Charles, assis devant Emma, dit en se frottant les mains d’un air

heureux. (MB : 89)

‘Charles yang duduk berhadapan dengan Emma, berkata dengan

muka bahagia sambil menggosok-gosok tangannya.’ (MBt : 71)

Pada kalimat (77) dan (78), kata en passant ‘seraya melewatinya’ dan en se

frottant ‘sambil menggosok-gosok’ merupakan bentuk gérondif yang

diterjemahkan menjadi ‘sambil’ dan ‘seraya’ dalam bI, artinya menyatakan dua

tindakan atau lebih yang dilakukan secara bersamaan. Untuk menyatakan tindakan

yang dilakukan secara bersamaan juga dapat diungkapkan dengan kata-kata

berikut yang memiliki arti yang sama.

(77a) Elle lui sourit pendant qu’elle passait et prit son manteau.

‘Anne tersipu-sipu seraya melewatinya dan mengambil mantel.’

(78a) Charles, assis devant Emma, dit en même temps qu’il frotta les

mains d’un air heureux.

‘Charles yang duduk berhadapan dengan Emma, berkata dengan

muka bahagia sambil menggosok-gosok tangannya.’

Pada kalimat (77a) dan (78a), bentuk gérondif digantikan dengan pendant

que dan en même temps que yang memiliki arti serupa, yaitu makna ‘sambil’ atau

‘seraya’ yang menyatakan tindakan yang dilakukan bersamaan. Kata pendant que

pada kalimat (77a) diikuti dengan bentuk imparfait, yang artinya tindakan passait

berlangsung lebih lama daripada tindakan sourit ‘tersipu-sipu’ dan prit

mengambil’ yang dituliskan dalam bentuk passé simple, sedangkan pada kalimat

52

(78a), tidak ada tindakan yang melatarbelakangi atau berlangsung lebih lama

daripada tindakan lainnya karena semua tindakan dituliskan dengan passé simple.

Pada kasus-kasus tertentu, gérondif yang menyatakan makna ‘sambil’ tidak

bisa diterapkan pada semua verba atau tindakan. Beberapa tindakan tertentu tidak

bisa dilakukan secara bersamaan dengan tindakan lain, contohnya :

(79) En dansant, je respirai son parfum familier d’eau de Cologne, de

chaleur, de tabac. (BT : 46)

‘Seraya berdansa, aku menghirup wanginya yang akrab, campuran

eau de cologne, panas tubuhnya dan tembakau.’ (LK : 49)

(79a) En dormant, je respirai son parfum familier d’eau de Cologne, de

chaleur, de tabac.

‘Seraya tidur, aku menghirup wanginya yang akrab, campuran eau

de cologne, panas tubuhnya, dan tembakau.’

(79b) En nageant, je respirai son parfum familier d’eau de Cologne, de

chaleur, de tabac.

‘Seraya berenang, aku menghirup wanginya yang akrab, campuran

eau de cologne, panas tubuhnya, dan tembakau.’

Dari ketiga kalimat di atas, kalimat (79), (79a), dan (79b), secara struktur,

susunannya tidak ada yang salah, namun hanya kalimat (79) saja yang berterima

atau dipahami maksudnya, karena pada kalimat (79a) dan (79b) tindakan dormant

‘tidur’ dan nageant ‘berenang’ tidak dapat dilakukan secara bersamaan tindakan

lainnya. Ketika manusia tidur, manusia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Meskipun manusia tetap menghirup udara atau bernafas ketika tidur, tetapi

manusia tidak bisa menyadari aroma apa yang ia hirup ketika tidur. Tindakan itu

dapat dilakukan ketika manusia telah terbangun. Begitu juga dengan ketika

berenang. Berenang merupakan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran

penuh, tetapi berenang merupakan salah satu kegiatan olahraga yang dilakukan di

dalam air dimana manusia tidak menghirup dan mendefinisikan aroma parfum

ketika di dalam air.

53

2. Menyatakan Makna ‘Sebab’

Bentuk gérondif juga dapat diartikan sebagai pernyataan ‘sebab’, misalnya :

(80) Je pensai tristement qu’elle n’était descendue qu’en entendant la

voiture. (BT : 24)

‘Dengan murung kupikir, ia turun karena mendengar deru mobil.’ (LK

: 25)

(81) Dans son exaspération, M. Bovary père, brisant une chaise contre les

pavés, accusa sa femme d’avoir fait le malheur de leur fils en

l’attelant à une haridelle semblable, dont les harnais ne valaient pas

la peau. (MB : 43)

‘Karena jengkelnya, Tuan Bovary tua membanting kursi ke ubin

sampai patah berkeping-keping, menuduh istrinya telah mencelakakan

anak mereka karena dijadikan pasangan dari kuda tua bangka

semacam itu, yang seluruh abah-abahnya belum senilai kulitnya.’

(MBt : 30)

Pada kalimat (80) dan (81), gérondif memiliki arti ‘karena’ yang dalam bI,

digunakan untuk menyatakan ‘sebab’. Sebagai pembanding, bentuk gérondif

dalam kedua kalimat tersebut juga dapat diungkapkan dengan kata lain yang

memiliki makna yang sama, yaitu :

(80a) Je pensai tristement qu’elle était descendue parce qu’elle entendit

la voiture.

‘Dengan murung kupikir, ia turun karena ia mendengar deru

mobil.’

(LK : 25)

(81a) Dans son exaspération, M. Bovary père, brisant une chaise contre

les pavés, accusa sa femme d’avoir fait le malheur de leur fils

parce qu’elle l’attela à une haridelle semblable, dont les harnais

ne valaient pas la peau.

‘Karena jengkelnya, Tuan Bovary tua membanting kursi ke ubin

sampai patah berkeping-keping, menuduh istrinya telah

mencelakakan anak mereka karena ia menjadikan mereka pasangan

dari kuda tua bangka semacam itu, yang seluruh abah-abahnya

belum senilai kulitnya.’

Kata parce que digunakan untuk menyatakan ‘sebab’ karena memiliki arti

‘karena’ dan dapat menggantikan gérondif pada kalimat (80) dan (81), namun kata

54

parce que diikuti dengan struktur yang lebih kompleks, yaitu subjek dan predikat,

tidak seperti gérondif. Gérondif pada kata di atas diterjemahkan menjadi makna

‘sebab’ karena terdapat klausa yang menyatakan sebab dan klausa yang

menyatakan akibat. Klausa yang mengandung gérondif dalam kalimat menyatakan

sebab, sedangkan klausa lainnya menyatakan akibat. Contohnya pada kalimat

(80), Je pensai tristement qu’elle n’était descendue qu’en entendant la voiture

‘Dengan murung kupikir, ia turun karena ia mendengar deru mobil’ klausa ber-

gérondif yang digaris bawahi menyatakan sebab dari klausa sebelumnya. Peran

klausa ber-gérondif sebagai tindakan ‘sebab’ dalam kalimat yang menyatakan

sebab-akibat tidak dapat diganggu gugat. Apabila klausa pada kalimat (80) yang

mengandung bentuk gérondif dimaknai sebagai tindakan akibat, maka arti kalimat

ini menjadi berbeda. Terjemahan asli kalimat di atas dalam novel LK menjelaskan

subyek ‘ia’ turun disebabkan oleh suara deru mobil. Apabila posisi sebab-

akibatnya dibalik menjadi ‘Dengan murung kupikir, karena ia turun, ia mendengar

deru mobil’ maka artinya adalah karena subjek ia turun, maka ia mendengar deru

mobil. Jika ia tidak turun, maka kemungkinan besar ia tidak mendengar deru

mobil.

Selain parce que dan bentuk gérondif, kalimat sebab-akibat dapat

dinyatakan dengan comme dan car. Penggunaan kata comme diletakkan di awal

kalimat, misalnya Comme elle entendait la voiture, elle est descendué, dan kata

car ‘Karena ia mendengar deru mobil, ia turun’ dapat digunakan di awal ataupun

di tengah, tetapi hanya digunakan pada ragam tulis.

3. Menyatakan Makna ‘Waktu’

Bentuk gérondif dapat digunakan untuk menyatakan keterangan waktu,

contohnya adalah sebagai berikut.

55

(82) Enfin, je la compris et je me sentis aussi froide, aussi impulsante

qu’en la lisant pour la première fois. (BT : 64)

‘Alhasil aku memahaminya, dan aku merasa sedingin, setakberdaya

saat membacanya pertama kali.’ (LK : 69)

(83) Vus de si près, ses yeux lui paraissaient agrandis, surtout quand elle

ouvrait plusieurs fois de suite ses paupières en s’éveillant ; (MB :

61)

‘Kalau dilihat sedekat itu, mata Emma jadi tampak makin besar

olehnya, apalagi apabila pelupuk matanya berkedip-kedip pada

waktu bangun.’ (MBt : 47)

Pada kalimat (82) dan (83), bentuk gérondif diterjemahkan menjadi ‘saat’

dan 'pada waktu’ yang menunjukkan keterangan waktu dalam bI. Kedua kata itu

memiliki sinonim dengan ketika. Penerjemahan ini cukup tepat karena ada frasa

atau klausa sebelum atau sesudahnya yang mendukung, misalnya pada kalimat

(82) terdapat frasa pour la premiere fois ‘pertama kali’ yang merupakan

keterangan waktu dan kata quand ‘pada’ yang mengawali klausa quand elle

ouvrait plusieurs fois de suite ses paupières en s’éveillant ‘apalagi apabila

pelupuk matanya berkedip-kedip pada waktu bangun’ pada kalimat (83). Gérondif

pada kalimat (82) dan (83) di atas dapat digantikan dengan kata quand seperti

dalam kalimat berikut yang memiliki arti yang sama.

(82a) Enfin, je la compris et je me sentis aussi froide, aussi impulsante que

la premiere fois quand je la lisa.

‘Alhasil aku memahaminya, dan aku merasa sedingin, setakberdaya

saat pertama kali membacanya.’

(83a) Vus de si près, ses yeux lui paraissaient agrandis, surtout quand elle

ouvrait plusieurs fois de suite ses paupières quand elle s’éveillait.

‘Kalau dilihat sedekat itu, mata Emma jadi tampak makin besar

olehnya, apalagi apabila pelupuk matanya berkedip-kedip pada

waktu ia bangun.’

Perbedaan dari gérondif pada kalimat (82) dan (83) dengan kalimat (82a)

dan (83a) adalah, kata quand diikuti dengan subjek dan predikat. Kata quand

56

biasanya digunakan untuk menyatakan tindakan atau peristiwa yang menjadi latar

belakang, contohnya pada kalimat En me retournant vers elle, je reçus un choc,

klausa yang digaris bawahi menyatakan tindakan yang melatarbelakangi tindakan

je reçus un choc. Namun, ada pula gérondif yang menyatakan makna quand dan

menjelaskan beberapa tindakan atau peristiwa yang berdurasi sama, misalnya :

(84) Emma se sentait faible en marchant …(MB : 133)

Emma merasa lemah waktu berjalan. (MBt : 111)

Pada kalimat (84) kedua verba menjelaskan dua tindakan se sentait ‘merasa’

dan marchant ‘berjalan’. Dari kedua tindakan itu tidak ada yang menjadi latar

belakang karena tindakan ‘merasa lelah’ tidak hanya terjadi seketika, melainkan

terjadi selama ia berjalan.

4. Menyatakan Makna ‘Cara’

Bentuk gérondif dapat digunakan untuk menyatakan makna ‘cara’ atau

sarana dari sebuah tindakan yang dalam bI keterangan cara dapat diungkapkan

dengan kata secara, dengan, dan melalui. Kata sembari dan sambil juga bisa

digunakan untuk menyatakan keterangan cara. Contoh bentuk gérondif yang

menyatakan keterangan cara adalah sebagai berikut.

(85) Et qu’en épousant une femme de son âge, il échappait à cette

catégorie des hommes sans date de naissance dont il faisait partie.

(BT : 98)

‘Dan dengan menikahi wanita sepantarannya, Ayah terusir dari

kategori pria-pria tanpa tanggal lahir.’ (LK : 104)

(86) Emma, de temps à autre, se rafraichissait les joues en y appliquant

la paume de ses mains, qu’elle refroidissait après cela sur la pomme

de fer des grands chenets. (MB : 47)

‘Emma, sesekali, menyejukkan pipinya dengan telapak tangannya

yang sesekali didinginkannya kembali pada tombol besi tempat kayu

bakar perapian.’ (MBt : 33)

57

Gérondif pada kalimat (85) dan (86) menyatakan ‘cara’ yang bermakna

‘dengan’. Penerjemahan gérondif menjadi keterangan cara di atas cukup tepat,

didukung dengan adanya klausa yang menyatakan hasil pada kalimat (85), il

échappait à cette catégorie des hommes sans date de naissance dont il faisait

partie ‘Ayah terusir dari kategori pria-pria tanpa tanggal lahir’ dan adanya benda

yang berfungsi sebagai alat pada kalimat (86), yaitu la paume de ses mains

‘dengan telapak tangannya’. Dalam bP dapat digunakan kata avec untuk

menyatakan ‘cara’, tetapi kata avec diikuti dengan kata benda atau kata sifat,

bukan kata kerja atau verba. Contohnya pada kalimat (85) dan (86), kalimat (85)

tidak tepat jika menggunakan kata avec, menjadi avec epouser une femme de son

âge, il échappait à cette catégorie des hommes sans date de naissance dont il

faisait partie, karena tidak berterima. Kalimat (86) dapat menggunakan kata avec

dengan merubah sedikit strukturnya agar dapat berterima, tanpa merubah artinya,

menjadi Emma, de temps à autre, appliquait les joues avec la paume de ses main

pour se rafraichir, qu’elle refroidissait après cela sur la pomme de fer des grands

chenets.

5. Menyatakan Makna ‘Perlawanan’

Fungsi bentuk gérondif selain fungsi-fungsi di atas adalah menyatakan

‘perlawanan’, yang dalam bP biasa dinyatakan dengan bien que, quoique.

Konjungsi yang menyatakan ‘perlawanan’ dalam bI dinyatakan dengan kata

meskipun, walaupun, biarpun, namun, dan padahal. Pada sumber data hanya

ditemukan satu kalimat yang menyatakan ‘perlawanan’, yaitu :

(87) Si elle était devenue une fille des rues en etant née dans son milieu,

là, elle aurait eu du mérite. (BT : 43)

‘Kalau dia jadi cewek jalanan padahal lahir dari lingkungan borjouis,

itu baru patut diacungi jempol.’ (LK : 47)

58

Gérondif pada kalimat (87) dituliskan dalam kala plus-que-parfait memiliki

makna ‘padahal’ yang merupakan konjungsi untuk menyatakan pertentangan. Bentuk

gérondif di atas memiliki makna yang sama dengan kalimat berikut.

(87a) Si elle était devenue une fille des rues quoiqu’elle soit née dans son

milieu, là, elle aurait eu du mérite.

‘Kalau dia jadi cewek jalanan namun lahir dari lingkungan borjouis,

itu baru patut diacungi jempol.’

Kata quoique pada kalimat (87a) memiliki arti yang sama dengan gérondif

pada kalimat (87), hanya saja quoique diikuti dengan subjek dan predikat. Dalam

kalimat pertentangan, terdapat klausa yang menyatakan perlawanan atau hal yang

bertentangan dari klausa lainnya. Contohnya pada kalimat (87), Si elle était

devenue une fille des rues en étant née dans son milieu, là, elle aurait eu du

mérite ‘Kalau dia jadi cewek jalanan namun lahir dari lingkungan borjouis, itu

baru patut diacungi jempol’, terdapat dua klausa yang maknanya bertentangan,

yaitu klausa elle était devenue une fille des rues, ‘dia jadi cewek jalanan’ dan

klausa en etant née dans son milieu2, ‘padahal lahir dari lingkungan borjouis’

3.

Cewek jalanan tentunya bertentangan dengan lingkungan borjouis, dan subjeknya

sama, yaitu elle. Untuk menggabungkan kedua klausa yang bertentangan itu,

digunakanlah konjungsi ‘bien que’, ‘quoique’, atau dalam bI namun, meskipun,

walaupun, padahal untuk menggabungkan hal yang bertentangan atau

berlawanan.

2 Pada novel BT, diceritakan bahwa subyek ‘elle’ merupakan wanita yang berasal dari kalangan ‘borjouis’,

dituliskan dengan frasa ‘son milieu’ yang artinya tempat ia berasal. 3 Kaum borjouis berasal dari kata ‘bourgeois / bourgeoise’, adalah warga kota yang memiliki kedudukan

istimewa setelah abad pertengahan. Sedangkan sebelum abad pertengahan, kaum ini merupakan golongan rakyat berharta tetapi bukan merupakan bangsawan atau pendeta. (Kamus Perancis Indonesia)

59

Selain menyatakan makna-makna di atas seperti yang dikemukakan oleh

Olivier, pada sumber data ditemukan penerjemahan kalimat gérondif yang merupakan

kalimat majemuk juga diterjemahkan menjadi makna ‘penjumlahan’, makna

‘perurutan’, makna ‘akibat’, makna ‘syarat’, dan makna ‘pengandaian’. Penelitian ini

menggunakan teori Ramlan tentang hubungan makna antar klausa pada kalimat

majemuk. Pembahasan lanjut mengenai makna gérondif adalah sebagai berikut.

6. Menyatakan Makna ‘Penjumlahan’

Gérondif yang menyatakan makna penjumlahan menjelaskan beberapa

tindakan yang digabungkan dalam sebuah kalimat yang maknanya bisa juga

tindakan yang dilakukan secara bersamaan atau berurutan, namun pada

terjemahannya, konjugasi yang digunakan adalah kata dan, misalnya :

(88) Mon père et moi, c’eut été d’une balle dans la tête en laissant une

notice explicative destinée à troubler à jamais le sang et le sommeil

des responsable. (BT : 150)

‘Ayah dan aku pasti memilih peluru di kepala, serta meninggalkan

surat penjelasan bertujuan merecoki selamanya tidur orang-orang

yang bertanggung jawab.’ (LK : 160)

Terjemahan gérondif pada kalimat (88) menyatakan makna ‘penjumlahan'

dengan digunakannya kata konjugasi serta yang menyatakan penjumlahan,

penambahan, atau penggabungan. Sebagai buktinya, gérondif pada kalimat (88) di

atas dapat diganti dengan kata berikut.

(88a) Mon père et moi, c’eut été d’une balle dans la tête, et nous avons

laissé une notice explicative destinée à troubler à jamais le sang et

le sommeil des responsable. (BT : 150)

‘Ayah dan aku pasti memilih peluru di kepala, serta kami

meninggalkan surat penjelasan bertujuan merecoki selamanya tidur

orang-orang yang bertanggung jawab.’ (LK : 160)

60

Kata et pada kalimat (88a) memiliki arti yang setara dengan gérondif pada

kalimat (88), hanya saja setelah kata et tidak diikuti dengan participe présent dan

subjeknya ditulis. Penerjemahan kalimat (88) cukup tepat karena dalam kalimat

itu merupakan kalimat majemuk setara yang biasanya digabungkan dengan

konjungsi dan, serta, atau, dsb.

7. Menyatakan Makna ‘Perturutan’

Seperti pada pembahasan sebelumnya, makna ‘perturutan’ menjelaskan

tindakan atau keadaan yang dilakukan secara berurutan. Konjungsi yang

digunakan untuk menjelaskan makna ‘perturutan’ dalam bI adalah lalu dan

kemudian, seperti pada terjemahan kalimat berikut :

(89) Ses sanglots redoublaient. Le sud Américain se mit à pleurer aussi,

en répétant : « nous étions si heureux, si heureux ». (BT : 52)

‘Sedu-sedunya semakin menjadi-jadi. Si Amerika Serikat ikut-ikutan

meratap, terus membeo : "Betapa bahagia kita selama ini, betapa

bahagia."’ (LK : 55)

Pada kalimat (89) meskipun terjemahan gérondif dilenyapkan, gérondif

dapat diterjemahkan menjadi makna ‘perturutan’ dengan menambahkan kata lalu

atau kemudian sebelum kata terus, menjadi :

(89a) Sedu-sedunya semakin menjadi-jadi. Si Amerika Serikat ikut-ikutan

meratap, kemudian terus membeo : « Betapa bahagia kita selama ini,

betapa bahagia”.

(89b) Sedu-sedunya semakin menjadi-jadi. Si Amerika Serikat ikut-ikutan

meratap, lalu terus membeo : « Betapa bahagia kita selama ini,

betapa bahagia”.

Terjemahan pada kalimat (89a) dan (89b) tetap berterima meski dengan

menambahkan kata kemudian atau lalu. Gérondif pada kalimat (89) memiliki

makna yang setara dengan kalimat berikut.

61

(89c) Ses sanglots redoublaient. Le sud Américain se mit à pleurer aussi,

ensuite répéta : « nous étions si heureux, si heureux ».

‘Sedu-sedunya semakin menjadi-jadi. Si Amerika Serikat ikut-ikutan

meratap, kemudian terus membeo : "Betapa bahagia kita selama ini,

betapa bahagia."’

Kalimat (89c) memiliki makna yang setara dengan kalimat (89) dengan

menggunakan kata ensuite yang menggantikan gérondif, namun kata ensuite

diikuti dengan verba participe passé.

8. Menyatakan Makna ‘Akibat’

Kebalikan dengan makna ‘sebab’, makna ‘akibat’ menyatakan konsekuensi

atau hasil dari klausa yang menyatakan ‘sebab’. Dalam sumber data ditemukan

gérondif yang diterjemahkan menjadi makna ‘akibat’, yaitu :

(90) Il avança un peu le visage de sorte que nos lèvres, en venant à se

toucher, se reconnurent. (BT : 92)

‘Cyril menyorongkan wajahnya sedikit hingga bibir kami

bersentuhan, saling mengenali.’ (LK : 97)

Kalimat (90) diterjemahkan menjadi makna ‘akibat’ dengan adanya kata

hingga yang memaparkan hasil dari tindakan pada klausa sebelumnya meski tidak

terdapat kata hubung sebab seperti karena pada klausa sebelumnya. Gérondif pada

kalimat (90) memiliki makna yang setara dengan kalimat berikut.

(90a) Il avança un peu le visage de sorte que nos lèvres, vinrent à se

toucher, se reconnurent. (BT : 92)

‘Cyril menyorongkan wajahnya sedikit hingga bibir kami

bersentuhan, saling mengenali.’ (LK : 97)

Kalimat (90a) menghilangkan gérondif dan mengganti bentuk venir dari

participle présent menjadi passé simple sesuai pada kala waktu yang digunakan

pada kalimat itu. Tidak ada penambahan konjungsi yang menyatakan ‘akibat’

karena sudah terdapat frasa de sorte que yang merupakan konjungsi akibat.

62

9. Menyatakan Makna ‘Syarat’

Pernyataan makna ‘syarat’ merupakan pernyataan suatu hal dalam klausa

bawahan yang merupakan syarat dari terjadinya sebuah peristiwa pada klausa

utama. Intinya, peristiwa atau tindakan yang ada pada klausa utama tidak akan

terjadi jika tindakan pada klausa bawahan tidak terjadi. Dalam sumber data

ditemukan gérondif yang diterjemahkan menjadi makna ‘syarat’, misalnya :

(91) Les mots « faire l’amour » ont une séduction à eux, très verbale, en

les séparant de leur sens. (BT : 114)

‘Jika menilik maknanya secara umum, kata-kata faire l’amour atau

berbuat cinta memiliki pesona tersendiri yang teramat verbal.’ (LK :

121)

(92) En s’attachant M. Bovary par des politesses, c’était gagner sa

gratitude, et empêcher qu’il ne parlât plus tard, s’il s’apercevait de

quelque chose. (MB : 129)

‘Kalau Tuan Bovary dapat dipikatnya dengan segala macam sopan

santun itu, artinya budinya dapat dipupuk, maka kalau nanti ada

yang ketahuan olehnya, ia akan tercegah membuka mulut.’ (MBt :

107)

Gérondif pada kalimat (91) dan (92) menyatakan makna ‘syarat’ dengan

penggunaan kata kalau pada penerjemahannya. Gérondif pada kedua kalimat di

atas dapat diganti dengan kalimat berikut yang memiliki makna setara.

(91a) Les mots « faire l’amour » ont une séduction à eux, très verbale, si

on les separe de leur sens. (BT : 114)

‘Jika menilik maknanya secara umum, kata-kata faire l’amour atau

berbuat cinta memiliki pesona tersendiri yang teramat verbal.’ (LK :

121)

(92b) S’il put attacher M. Bovary par des politesses, c’était gagner sa

gratitude, et empêcher qu’il ne parlât plus tard, s’il s’apercevait de

quelque chose. (MB : 129)

‘Kalau Tuan Bovary dapat dipikatnya dengan segala macam sopan

santun itu, artinya budinya dapat dipupuk, maka kalau nanti ada

yang ketahuan olehnya, ia akan tercegah membuka mulut.’ (MBt :

107)

63

Pernyataan makna ‘syarat’ dapat menggunakan kata si seperti pada kalimat

(91a) dan (92b), meskipun beberapa kalimat kurang tepat jika pernyataan syarat

menggunakan kata si dan lebih tepat dengan menggunakan gérondif. Kalimat

(91a) dan (92b) memiliki makna yang sama dengan kalimat (91) dan 92), hanya

saja kata si diikuti dengan klausa yang lebih kompleks dengan subjek dan verba.

10. Menyatakan Makna ‘Pengandaian’

Kalimat pengandaian adalah kalimat yang menyatakan keinginan atau

angan-angan. Pengandaian terjadi karena beberapa sebab, yaitu keinginan atau

harapan yang ingin tercapai, keinginan yang tidak terjadi karena sesuatu, dan

penyesalan terhadap sesuatu yang telah terjadi. Keinginan atau harapan di sini

tidak selalu sesuatu positif, tetapi juga bisa kemungkinan negatif yang terjadi di

masa depan. Gérondif yang menyatakan pengandaian dalam sumber data adalah

sebagai berikut.

(93) Si nous nous étions suicidés – en admettant que nous en ayons le

courage (BT : 150)

‘Seandainya kami yang bunuh diri – taruhlah kami punya keberanian

itu.’ (LK : 160)

Kalimat pengandaian pada kalimat (93) ini merupakan kalimat pengandaian

yang tidak tercapai, artinya peristiwa dalam kalimat itu tidak terjadi. Hal ini bisa

terlihat pada penggunaan kala imparfait dalam bP, sedangkan pada peristiwa yang

belum terjadi, kalimat pengandaian diucapkan dalam kala present atau future.

64

3.3 Pergeseran Makna Gérondif dalam Terjemahan

Dalam sumber data, ditemukan penerjemahan gérondif yang mengalami

pergeseran makna. Pergeseran makna itu ada yang berupa pergeseran dalam tataran

gramatikal dan tataran leksikal. Contoh pergeseran itu adalah sebagai berikut.

3.3.1 Pergeseran Tataran Gramatikal

1. Pergeseran bentuk tunggal menjadi bentuk jamak

(94) Pour lui épargner de la dépense, sa mère lui envoyait chaque

semaine, par le messager, un morceau de veau cuit au four,

avec quoi il déjeunait le matin, quand il était rentré à l’hôpital,

tout en battant la semelle contre le mur. (MB : 31)

‘Untuk mengurangi pengeluaranya, ibunya setiap minggu

menitipkan kepada tukang pengantar sepotong daging anak sapi

yang telah dibakar di tungku. Dan Charles menyantapnya untuk

makan siang setelah pulang dari rumah sakit, sambil mengentak-

entakkan sol sepatu ke dinding.’ (MBt : 18)

(95) Quel pauvre homme ! quel pauvre homme ! disait-elle tout bas,

en se mordant les lèvres. (MB : 97)

‘"Kasihan ! Kasihan dia !" katanya pelan-pelan sambil

menggigit-gigit bibir.

Gérondif pada kalimat 94) dan (95) mengalami pergeseran bentuk

tunggal ke bentuk jamak. Kata en battant pada kalimat (94) dan en se mordant

pada kalimat (95) diterjemahkan menjadi ‘sambil mengentak-entakkan’ dan

‘sambil menggigit-gigit’. Dalam bI, kata yang diulang seperti ‘mengentak-

entakkan’ menyatakan tindakan yang dilakukan lebih berkali-kali, sehingga

pergeseran terjemahan kedua gérondif di atas masuk dalam kategori ini.

2. Pergeseran bentuk aktif menjadi kalimat pasif dalam bSa.

(96) Si bien qu’on ne crut pas au château outrepasser les bornes de

la condescendance, ni d’autre part commettre une maladresse,

en invitant le jeune ménage. (MB : 78)

‘Di kastil pun orang tidak akan menganggap ia kelewat

merendahkan diri, ataupun membuat keteledoran apabila

pasangan muda ini diundang.’ (MBt : 61)

65

(97) En s’attachant M. Bovary par des politesses, c’était gagner sa

gratitude, et empêcher qu’il ne parlât plus tard, s’il s’apercevait

de quelque chose. (MB : 129)

‘Kalau Tuan bovary dapat dipikatnya dengan segala macam

sopan santun itu, artinya budinya dapat dipupuk, maka kalau

nanti ada yang ketahuan olehnya, ia akan tercegah membuka

mulut.’ (MBt : 107)

Pada kalimat (96) dan (97), bentuk gérondif mengalami pergeseran

makna bentuk aktif menjadi bentuk pasif. Gérondif ‘en invitant’ pada kalimat

(96) dan en s’attachant pada kalimat (97) dituliskan dalam bentuk aktif, karena

tidak ada verba être yang diikuti dengan participe passé seperti pada penulisan

bentuk pasif dalam bP. Jika diartikan secara kata per kata, kata en invitant dan

en s’attachant diartikan menjadi ‘dengan mengundang’ dan ‘dengan memikat’,

namun pada terjemahannya, gérondif berubah menjadi bentuk pasif dengan

adanya prefiks4 di- pada kata terjemahannya, yaitu diundang dan dipikatnya.

- Pergeseran kala

(98) Si elle était devenue une fille des rues en étant née dans son

milieu, là, elle aurait eu du mérite. (BT : 43)

Kalau dia jadi cewek jalanan padahal lahir dari lingkungan

borjouis, itu baru patut diacungi jempol. (LK : 47)

BI adalah bahasa yang tidak memiliki sistem kala, sehingga bentuk kala

passé composé dalam bP pada kalimat (98) di atas yang dituliskan dalam

bentuk gérondif en étant née diterjemahkan dengan kata lahir saja yang

penulisannya sama baik untuk menjelaskan kejadian di masa lalu atau saat ini.

4 Prefiks adalah istilah untuk menyebut imbuhan awalan dari pembentukan kata dasar dalam bI. Selain prefiks,

juga terdapat sufiks untuk menyebut imbuhan di akhir kata, konfiks untuk menyebut imbuhan di awal dan akhir kata. serta infiks untuk menebut imbuhan yang dibubuhkan di tengah-tengah kata.

66

3.3.2 Pergeseran Kategori

1. Pergeseran struktur

(99) A table même, elle apportait son livre, et elle tournait les

feuillets, pendant que Charles mangeait en lui parlant. (MB :

92)

‘Sampai ke meja makan dibawanya bukunya, dan dibuka-

bukanya halamannya sementara Charles makan sambil

bercakap-cakap kepadanya.’ MBt : 75)

Jika diuraikan, bentuk gérondif pada kalimat (99) adalah

en+COI+verba participe présent. Terjemahan dari gérondif di atas adalah

‘sambil bercakap-cakap kepadanya’. Dalam BP, objek langsung maupun tak

langsung lebih lazim diletakkan sebelum verba, namun dalam bI, objek selalu

terletak setelah verba. Pada terjemahan ini terjadi pergeseran secara struktur.

2. Pergeseran kelas kata

(100) Aussi n’étais-je nullement tendue en l’écoutant parler. (BT :

121)

‘Jadi, aku sama sekali tidak dibuat kikuk oleh kata-kata nyonya

Webb.’ (LK : 129)

Pada kalimat (100) di atas, verba écoutant pada bentuk gérondif en

l’écoutant parler diterjemahkan menjadi ‘kata-kata nyonya Web’ yang

merupakan nomina. Pergeseran ini adalah pergeseran verba menjadi nomina

yang merupakan pergeseran kelas kata.

3. Pergeseran satuan

(101) Nastasie descendit les marches en grelottant, et alla ouvrir la

serrure et les verrous, l’un après l’autre. (MB : 35)

‘Nastasia turun tangga. Ia menggigil kedinginan. Ia membuka

kunci, dan palang pintu satu demi satu.’ (MBt : 22)

(102) Noirs à l’ombre et bleu fonce au grand jour, ils avaient comme

des couches de couleurs successives, et qui, lus épaisses dans le

fond, allaient en s’éclaircissant vers la surface de l’émail. (MB :

61)

67

‘Hitam dalam keteduhan dan biru tua di cahaya cerah, mata itu

seakan-akan terdiri dari beberapa lapisan warna yang tindih

menindih, yang mula-mula gelap di bagian dalam menjadi

makin terang dekat permukaan mata.’ (MBt : 47)

Kata grelottant pada kalimat (101) diterjemahkan mejadi ‘menggigil

kedinginan’ dan s’eclaircissant pada kalimat (102) diterjemahkan menjadi

‘menjadi makin terang’. Pergeseran ini merupakan pergeseran kata menjadi

frasa, sehingga masuk dalam kategori pergeseran satuan. Pada sumber data

terdapat contoh pergeseran frasa menjadi kata, yaitu :

(103) Elle me regarda avec ficcite un instant, puis sourit

mystérieusement en détournant la tète. (BT : 35)

Sejenak ia menatapku lekat-lekat, lantas tersenyum misterius,

melengos. (LK : 38)

Bentuk gérondif en détournant la tète merupakan frasa yang

terjemahannya berubah menjadi kata melengos. Jika diartikan secara kata per

kata, frasa en detournant la tête diartikan menjadi ‘sambil membelokkan

kepala’, namun bI memiliki kata yang menjelaskan aktivitas itu, yaitu kata

melengos. Pergeseran ini merupakan pergeseran satuan, yaitu pergeseran frasa

menjadi kata.