Click here to load reader

BAB II GERAKAN OIKOUMENE DALAM AGAMA KRISTEN …library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/17/jtptiain-gdl-s1... · bahwa di dalam agama Kristen ada sebuah konsep yang merupakan

  • View
    232

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of BAB II GERAKAN OIKOUMENE DALAM AGAMA KRISTEN...

  • 16

    BAB II

    GERAKAN OIKOUMENE DALAM AGAMA KRISTEN

    A. Pengertian Oikoumene

    Istilah Oikoumene nyaris diartikan sebagai universal atau inter-

    iman, yang sesungguhnya keliru. Makna aslinya adalah bumi yang

    dihuni. Kata oikos dalam bahasa Yunani berarti rumah, mene adalah

    bumi. Pemahaman tentang hal ini dalam kehidupan batin gereja

    sejajar dengan konsep ahl al-kitab dalam Islam. Istilah Oikoumene

    merupakan istilah misi yang analog dengan dinamisme konsep ahl al-

    kitab dan berpusat pada pesan iman. Paulus meringkas pesan ini

    sebagai, sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu bahwa Yesus

    adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu. Bahwa Allah telah

    membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan

    diselamatkan (Rm. 10 : 9). Jadi sesungguhnya Oikoumene merupakan

    istilah untuk menggambarkan misi keKristenan, gerakan Oikoumene

    untuk mendiami bumi yang kepadanya Injil diberitakan. Itu semacam

    parafrase bagian akhir Injil Matius, untuk pergi dan membaptis bangsa-

    bangsa (Mat. 28 : 18 20) atau bagian pembuka kisah para Rasul kamu

    akan menjadi saksiku .... sampai ke ujung bumi (Kis. 1 : 8). 1

    Kata Oikoumene mempunyai dua arti yang saling terkait.

    Pertama sesuai arti harfiahnya, ialah rumah kediaman. Kedua,

    maknanya adalah dunia yang dihuni manusia. Jadi gerakan

    Oikoumene adalah gerakan untuk menjadikan dunia ini sebuah rumah

    hunian bagi manusia sebagai sebuah keluarga besar. Istilah Oikoumene

    1 Geogre B. Grose dan Benjamin J. Hubbard (ed.), Tiga Agama Satu Tuhan : Sebuah

    Dialog, Terj. Santi Indra Astuti, Mizan, Bandung, 1998, hlm. 227

  • 17

    terdapat dalam Alkitab, dan digunakan oleh gereja-gereja, terutama di

    Barat setelah berakhirnya Perang Dunia II. 2

    Dalam tradisi agama Kristen, ada yang disebut dengan istilah

    Oikoumene (bahasa Yunani, Oikos = rumah, monos = satu; Oikoumene

    = satu rumah). Istilah ini mengalami beberapa penyesuaian dengan

    konteks perkembangan keKristenan sedunia. Tadinya hanya sebatas

    lingkungan keKristenan di wilayah kerajaan Romawi, tetapi kemudian

    menunjuk pada keKristenan secara umum. Dari situ berkembang lagi

    menjadi gereja-gereja (=agama Kristen) dan agama-agama non Kristen,

    dan berkembang lagi sampai kepada hubungan gereja-gereja dengan

    ideologi-ideologi. Gerakan ini sangat dikenal dengan gerakan

    Oikoumene. Gerakan yang peduli pada relasi-relasi antar denominasi

    gereja (keKristenan) antara agama Kristen dengan agama-agama lain,

    ideologi-ideologi bahkan tentang lingkungan hidup dan seluruh ciptaan

    Allah. 3

    Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik benang merah,

    bahwa di dalam agama Kristen ada sebuah konsep yang merupakan

    solusi untuk para pemeluknya dalam menyikapi adanya pluralisme

    agama, yaitu gerakan Oikoumene. Dan semua pengartian-pengartian

    tentang Oikoumene seperti yang tersebut di atas menuju kepada satu

    arah yaitu semacam kesadaran baru bahwa seluruh manusia di muka

    bumi ini tidak mungkin untuk menganut agama Kristen. Mereka

    mengumpamakannya seperti sebuah rumah yang terdiri dari banyak

    bilik (kamar). Namun rumah dengan banyak bilik tersebut merupakan

    satu kesatuan yang bisa saling berinteraksi dengan baik.

    2 Victor I. Tanja, Pluralisme Agama dan Problem Sosial (Diskursus Tiologi tentang Isu-

    isu Kontemporer), Pustaka Cidesindo, Jakarta, 1998, hlm. 154 3 Th. Sumartana, Noegroho Agoeng, Zuly Qodir (ed.), Pluralisme, Konflik dan

    Perdamaian (Studi Bersama Antar Iman), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hlm. 94 - 95

  • 18

    B. Sejarah dan Perkembangan Gerakan Oikoumene

    Oikoumene adalah kata dari bahasa Yunani, yaitu Partitium Preasentis passivum femium dari kata kerja oikeo, yang berarti tinggal, berdiman atau yang mendiami. Oleh karena itu arti harfiah kata Oikoumene adalah yang didiami. Tetapi particium ini telah mempunyai arti khusus sebagai kata benda. Arti pertama adalah geografis, dunia yang didiami (LK. 4 : 5, Rom. 10 : 18, Lbr. 1 : 6 dan lain-lain). Kemudian kata Oikoumene juga mendapat arti politik : kekaisaran Romawi (Kis. 24 : 5) dan semua penduduknya (Kis. 17 : 6).4

    Oikoumene sesungguhnya merupakan istilah untuk

    menggambarkan keKristenan, gerakan Oikoumene untuk mendiami

    bumi yang kepadanya Injil diberitakan. Itu semacam parafrase bagian

    akhir Injil Matius, untuk pergi dari membabtis bangsa-bangsa (Mat. 28 :

    18-20) atau bagian pembuka kisah para rasul, kamu akan menjadi

    saksiku sampai ke ujung bumi (Kis. 1 : 8). 5

    Penggunaan dan pemahaman istilah Oikoumene mengalami

    proses yang sangat dinamis. Semula Oikoumene hanya untuk menyebut

    ke-Kristenan di wilayah kerajaan Romawi, berkembang lagi sampai

    pada dataran Oikoumene ditujukan untuk agama-agama non Kristen,

    ideologi-ideologi lain, bahkan tentang lingkungan dan seluruh ciptaan

    Allah.6

    Orang-orang Yunani kunopun mengenal istilah Oikoumene

    untuk menyebut daerah yang terbentang dari Nil dan Oxus sebagai pusat

    Oikoumene (yang menurut Alfred Koeber berarti komplek agraria

    historis dari Afro Eurasia di bumi). 7 Namun jika Oikoumene

    diartikan dalam arti yang sesungguhnya, maka dapat ditarik akar-akar

    4 Dr. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Sejarah, Dokumen-dokumen dan

    Tema-tema Gerakan Oikoumene), BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000, hlm. xvii 5 George B. Grose dan Bejamin J. Hubbard (ed.), op. cit., hlm. 227 6 Bonawiratma, Iman, Pendidikan dan Perubahan Sosial, Kanisius, Yogyakarta, 1991,

    hlm. 12 7 Nurcholis Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paradigma, Jakarta, 1995, hlm. 93

  • 19

    yang melatarbelakangi gerakan Oikoumene (keseluruhan orang-orang

    Kristen) yaitu adanya perpecahan di kalangan orang-orang Kristen.

    Perpecahan itu terlihat secara nyata, pada zaman reformasi gereja

    Katolik Roma untuk pertama kali (sejak Khisma dengan gereja ortodoks

    Yunani tahun 1054), umat Kristen dihadapkan pada ancaman

    perpecahan secara besar-besaran.

    Walaupun Luther dengan cepat dikucilkan dari gereja (1612), namun tetap diusahakan mencari perdamaian dengan pengikut-pengikutnya kaum Injil demi kesatuan kaum Kristen terhadap ancaman Turki. Usaha-usaha ini yang didorong oleh pertimbangan-pertimbangan politik menghasilkan pembicaraan-pembicaraan agama di Leipzig (1539), Hagenau (1540), Worms (1540) dan Regensburg Ratizbon (1561) di wilayah kekaisaran Jerman dan Colloguium di Poissy (1561) di Perancis tetapi persetujuan tidak dicapai. 8

    Perlu dijelaskan di sini hal-hal mendasar yang membedakan

    antara Kristen Katolik dan Protestan, faktor-faktor ini pula yang menjadi

    sebab awal perpecahan di kalangan orang-orang Kristen sekaligus faktor

    pendorong adanya Kristen Protestan. Menurut orag-orang Katolik,

    gereja-gereja adalah jalan ke Kristus dengan jabatan dan sakramen-

    sakramen. Sedangkan menurut orang-orang Protestan, Kristus adalah

    jalan ke gereja, dengan penekanan menurut firman dan iman. Di

    samping itu juga, terjadinya kehidupan mewah dalam istana Paus

    melebihi kemewahan raja-raja Perancis dan Inggris, sementara itu

    perubahan sosial politik sangat tajam, sehingga kedudukan para

    rohaniawan kehilangan monopoli dalam masyarakat. Pada puncaknya

    gereja ternyata menyalahgunakan wewenangnya, antara lain karena

    menjual idulgensi (penghapusan siksa, dosa) dan absolusi kepada para

    jemaat gereja. Hal ini menyebabkan kejengkelan para anggota jemaat

    8 Dr. Christian De Jonge, op. cit., hlm. 3

  • 20

    dan pemimpin gereja, terutama di Jerman yang dipelopori oleh Marthin

    Luther. 9

    Demikianlah sekilas gambaran penyebab perpecahan yang ada

    di kalangan umat Kristen yang kemudian memunculkan konsep gerakan

    Oikoumene yang muncul di kalangan orang-orang Kristen Protestan.

    Kembali kepada pembahasan gerakan Oikoumene, seperti yang

    dijelaskan di atas, bahwa meskipun kaum Injili memisahkan diri dari

    Roma, namun tetap ada kesadaran, baik di kalangan Protestan maupun

    di kalangan Katolik-Roma bahwa satu warisan menjadi milik bersama,

    yaitu warisan gereja kuno. Timbul kesadaran bahwa usaha-usaha untuk

    memulihkan perpecahan yang diakibatkan reformasi harus bertolak dari

    warisan bersama. Kesadaran ini hidup khususnya di kalangan kaum

    humanis, cendekiawan Katolik maupun Protestan yang mengecam

    keadaan gereja Katolik Roma pada zaman itu karena telah menyimpang

    dari ajaran dan praktek gereja kuno.

    Pada abad ke-17 dan ke-18 pertama-tama usaha-usaha dari

    abad reformasi dilanjutkan. Dapat disebutkan dua macam usaha, yang

    pertama dalam mencari titik persatuan dalam warisan gereja kuno. Ini

    jalan yang diikuti oleh Hugo Crotius (1583 1645) dan juga oleh teolog

    Lutheran George Calixtus (1586 1656). Yang terakhir merumuskan

    bahwa kesatuan kaum Kristen sebaiknya dilihat dalam warisan gereja

    kuno selama lima abad pertama, consensus guinguesaecularis. Warisan

    ini dapat membantu gereja Katolik-Roma untuk meniadakan

    penyimpangan-penyimpangan yang muncul pada abad pertengahan

    dengan hasil yang pasti tidak akan berbeda jauh dengan hasil reformasi.

    Usaha kedua, adalah untuk merumuskan semacam daftar pasal-pasal

    iman yang dianggap azazi untuk iman Kristen (artikel-artikel

    9 Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama (Bagian II : Pendekatan Budaya terahdap

    Yahudi, Kristen Katolik, Protestan dan Islam), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 128

  • 21

    fundamental), yang harus diterima secara mutlak, sedangkan pasal-pasal

    iman yang dianggap tidak azazi tidak boleh menjadi alasan perpecahan

    di antara orang-orang Kristen. Metode ini antara lain diusahakan oleh

    John Dury (Duraeus, 1595 1680). 10

    Usaha pertama seperti dikatakan di atas, terlalu intelektualistis

    untuk diterima secara umum di gereja-gereja, sedangkan untuk usaha

    kedua waktunya belum matang. Gereja-gereja masih terlalu

    mengindahkan rumusan-rumusan konfesional masing-masing.

    Pada abad ke-19, kita dapat melihat 4 macam usaha yang dapat

    disebut usaha untuk mempersatukan orang-orang Kristen dari gereja-

    gereja yang berbeda. Yang pertama adalah usaha mempersatukan orang-

    orang Kristen dari gereja-gereja yang mempunyai dasar teologis atau

    konfensional yang sama. Usaha kedua adalah usaha untuk

    mempersatukan orang-orang Kristen Protestan dalam satu perhimpunan.

    Usaha ketiga adalah apa yang disebut Voluntary Movement (gerakan-

    gerakan sukarela). Gerakan ini mempunyai pandangan, bahwa bukan

    konferensi gereja yang penting, melainkan iman murni kepada juru

    selamat. Usaha yang keempat berkaitan dengan yang ketiga, yaitu usaha

    untuk bekerjsama di bidang pengabaran Injil. 11

    Usaha-usaha ini bermuara pada konferensi pengabaran Injil

    sedunia di Edinburgh (14 23 Juni 1910). 12 Konperensi pengabaran

    Injil sedunia ini dipelopori oleh John Raleigh Mott (1865 1655),

    seorang metodis dari Amerika Serikat dan Joseph H. Olgham (1874

    1969) dari Skotlandia.

    Pokok-pokok yang dibahas di Edinburg adalah : 1. Pengabaran

    Injil di seluruh dunia; 2. Gereja di lapangan pengabaran Injil; 3.

    10 Dr. Christian De Jonge, op. cit., hlm. 4-5 11 Ibid., hlm. 6-7 12 Dr. Christian De Jonge, Dr. Jam S. Aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja, BPK

    Gunung Mulia, Jakarta, 1993, hlm. 51

  • 22

    Pendidikan dan pengKristenan; 4. Berita Kristen dan agama-agama

    bukan Kristen; 5. Persiapan para pengkabar Injil; 6. Hubungan dengan

    pangkal di dalam negeri (homebase); 7. Hubungan dengan

    pemerintah; kerjasama dan keesaan. Disepakati untuk menunjuk suatu

    continuation committe (Panitia penerus, panitia yang melanjutkan) yang

    diberi tugas meneliti kemungkinan-kemungkinan untuk membentuk

    suatu panitia pengabaran Injil internasional. 13

    Keputusan ini di kemudian hari ternyata berarti langkah awal

    di sejarah Oikoumene, sehingga konperensi pengabaran Injil sedunia di

    Edinburg 1910 dilihat sebagai saat kelahiran gerakan Oikoumene. Untuk

    selanjutnya sejarah perlu mencatat momentum penting yang kemudian

    setelah adanya komperensi pengabaran Injil sedunia di Edinburg 1910

    momentum inilah yang kemudian menjadi spirit/jiwa gerakan

    Oikoumene baik yang bertujuan ke dalam yaitu kesatuan bagi orang-

    orang Kristen maupun tujuan pengabaran Injil/kerjasama dengan agama-

    agama lain, ideologi-ideologi lain, bidang politik, sosial dan ekonomi

    bahkan keseluruhan ciptaan Allah. Momentum tersebut adalah Edinburg

    (I) International Missionary Council 1921 1961; Edenburg (II)

    Gerakan Faith and Order (1910 1937; Edinburg (III) Gerakan Life

    and Work (1919 1937); World Alliance (1914 1948) dan

    pembentukan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1937 1948). Berikut

    uraian dari masing-masing momentum tersebut :

    13 Dr. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja op. cit., hlm. 10

  • 23

    Edenburg (I) International Missionary Council 1921 - 1961

    Continuation committe yang ditunjuk di Edenburg 1910 mulai

    pekerjaannya, namun karena pecahnya perang dunia pertama (1914

    1918) pembentukan panitia pengabaran Injil terlambat. Baru pada tahun

    1921 di Lake Mohorik, New York, dapat didirikan Internasional

    Missionary Council (IMC), Dewan Pengabaran Injil Internasional yang

    berpusat di London dan New York ketuanya adalah John Mott,

    sekretarisnya JH. Oldham, anggota-anggota Dewan Pengabaran Injil

    internasional bukan orang perorang melainkan organisasi-organsasi

    kerjasama di bidang pengabaran Injil Nasional yang mulai didirikan

    sejak di Edinburg, seperti Dewan-dewan Kristen Nasional di India,

    Jepang, Korea, Tiongkok. 14 Namun selama perang Dunia Pertama

    masih terlihat kecenderungan gereja-gereja berpikir secara nasional saja,

    seraya memungkiri pertalian dan dasarnya yang melewati segala batas

    bangsa dan negeri. 15

    Meskipun demikian masih terlihat adanya usaha baik untuk

    kesatuan orang-orang Kristen ataupun kesatuan pengabaran Injil, hal ini

    terlihat dari terlaksananya komperensi yang dipelopori oleh

    International Missionary Council (IMC) di Yerussalem, 23 Maret 8

    April 1928. jumlah peserta dari gereja-gereja muda (istilah-istilah

    yang dipergunakan untuk pertama kali) adalah 50, seperlima dari 250

    peserta. Dari Indonesia T.S. Gunung Mulia yang hadir. Yang

    dibicarakan adalah hubungan antara gereja-gereja muda dan tua

    (relations between the yonger and older churches), hubungan dengan

    agama-agama lain (yang menyatakan perubahan dalam sikap terhadap

    dan pemahaman teologis mengenai agama-agama lain dan mengenai

    14 Ibid., hlm. 13 15 H. Berkhof, Sejarah Gereja, terj. I.H. Enklaar, BPK : Gunung Mulia, Jakarta, 1995,

    hlm. 339

  • 24

    tugas pengabaran Injil), sekularisasi (yang dilihat sebagai bahaya lebih

    besar dari agama-agama kafir) serta komprehensive approach to the

    jews (pendekatan menyeluruh). Didirikan committe on the christian

    approach to the jews (panitia pendekatan Kristen terhadap orang-orang

    Yahudi). 16

    Gagasan komprehensife bertolak dari pendapat bahwa Injil

    menyangkut seluruh manusia, yaitu jiwanya, hubungannya dengan

    sesama manusia dan dunia sekitarnya. Oleh sebab itu pengabaran Injil

    tidak boleh membatasi diri pada pemberitaan firman pada orang

    perorangan. Pengabaran Injil juga termasuk pekerjaan seosial, medis,

    pendidikan, singkatnya kegiatan-kegiatan yang mencakup segala bidang

    kehidupan (pelayanan total dengan Injil total, kepada manusia total).17

    Usaha kedua, terlihat di Tambaran 12 29 Desember 1938. Di

    sini perwakilan gereja-gereja muda seimbang dengan perwakilan gereja-

    gereja tua. Masing-masing 189 dan 182 orang. Dari Indonesia hadir

    sembilan orang pribumi, antara lain Dr. J. Leimina dan Mh. Mr. A.L.

    Fransz. Yang memainkan peranan besar dalam konperensi ini adalah

    bukunya Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a Non Chritian

    World. Di dalam bukunya ditujukan peleburan semua agama dalam

    suatu persaudaraan yang mencakup seluruh dunia. 18

    Usaha ketiga, diadakannya komperensi Whitby (Kanada), 5

    24 Juni 1947. Temanya adalah The Christian Witness in a

    Revolutionary World (Kesaksian Kristen dalam dunia yang

    revolusioner). Gereja-gereja tua dan muda mulai saling mengakui

    sebagai Partner in Obedience (mitra dalam ketaatan) yang sama-sama

    diperhadapkan dengan tugas mengabarkan Injil di seluruh dunia. Dari

    16 Christian De Jonge, Menuju Keesaan op. cit., hlm. 14 17 Ibid. 18 Ibid.

  • 25

    istilah partner in obidience menjadi nyata bahwa perbedaan-perbedaan

    status antara dua jeis gereja ini. 19

    Usaha keempat, konperensi Willingen (Jerman) 5 12 Juli

    1952, dengan tema The Missionary Obligation of the Church

    (kewajiban gereja untuk mengabarkan Injil). Dibicarakan soal

    nasionalisme yang dihadapi gereja-gereja di negara-negara yang baru

    merdeka atau yang sedang memperjuangkan kemerdekaan. Usaha

    kelima, terlihat dari komponen si Achimota (Graha, Afrika) 28

    Desember 8 Januari 1958. Temanya adalah The Christian Mission at

    This Hour (misi Kristen pada saat ini). Diputuskan untuk

    mengintegrasikan IMC dengan DCD. Didirikan Theological Education

    Fund (TEF, Dana Pendidikan) untuk pendidikan teologi di Asia, Afrika

    dan Amerika Serikat. 20

    Kalau kita meninjau kembali sejarah IMC sampai Achimota,

    perubahan zaman dapat dilihat dalam pokok-pokok pembahasan dan

    tema-tema sebelum perang dunia kedua dapat dilihat pengaruh

    dekolonisasi dan nasionalisme di dunia ketiga pada kalangan perkabaran

    Injil. Dalam pemahaman baru tentang perkabaran Injil yang dirumuskan

    kesamaan hak dan derajat antara orang-orang Kristen tua dan muda

    mulai ditekankan. Sekaligus diperjuangkan pendewasaan dan

    kemandirian gereja-gereja. Sesudah perang dunia kedua perkembangan

    ini dilanjutkan dengan penekanan pada perkabaran Injil sebagai tugas

    bersama di seluruh gereja sebagai pengkabar Injil. Pemisahan antara

    gereja dan perkabaran Injil ditiadakan. Pemahaman tentang perkabaran

    Injil sebagai pemberitaan firman keselamatan diperluas dan mulai

    mencakup dimensi sosial, ekonomis dan politik. Namun demikian

    polarisasi yang semakin meningkat antara kaum ekouminikal dan

    19 Ibid., hlm. 16 20 Ibid.

  • 26

    evangelikal menunjukkan bahwa tidak semua kalangan perkabaran Injil

    setuju dengan perluasan pemahaman mengenai tugas perkabaran Injil

    ini.

    Edinburg (II) : Gerakan Faith and Order (iman dan tata Gereja)

    Komperensi perkabaran Injil sedunia di Edinburg (1910)

    adalah komperensi untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi

    bersama di bidang perkabaran Injil. Semua hal yang dapat mempersulit

    pembicaraan ini dihindari, sehingga soal-soal yang menyangkut iman

    dan tata gereja, hal-hal yang membedakan gereja-gereja tidak

    dibicarakan. Namun dirasa oleh para peserta bahwa suasana

    perundingan pada komperensi Edinburg telah begitu baik dan perasaan

    persaudaraan telah begitu dalam sehingga untuk masa depan diharapkan

    langkah-langkah yang lebih maju menuju keesaan. Untuk mengambil

    langkah-langkah ini perbedaan-perbedaan di bidang teologi dan tata

    gereja perlu dibahas.

    Untuk usaha menyelenggarakan suatu konperensi sedunia

    mengenai iman dan tata negara (world conference in Faith and Order)

    dipelopori oleh Charles H. Brent (1862 1929) seorang uskup dari

    Protestan Episcopal Church di Amerika. Tujuan Faith and Order, yang

    dirumuskan oleh Brent, adalah jalan menuju keesaan gereja. Brent

    melihat gerejanya sendiri sebagai titik permulaan untuk gerakan Faith

    and Order. Gerejanya harus mengundang gereja-gereja lain untuk

    menghadiri konperensi mengenai pokok ini. Dan akhir tahun 1910

    gerejanya memutuskan menunjuk suatu panitia yang harus mengundang

    tata gereja dari gereja lain untuk membicarakan persoalan-persoalan di

    bidang iman dan tata gereja untuk mencari jalan menuju keesaaan

    gereja. Pada tahun 1912 delegasi penitia ini mengunjungi gereja-gereja

  • 27

    Anglikan di Inggris dan memperoleh dukungan untuk rencana

    konperensi sedunia mengenai iman dan tata gereja. 21

    Konperensi persiapan sempat diadakan di Amerika, tetapi baru

    sesudah perang dunia pertama panitia dapat mengunjungi Eropa. Akan

    tetapi selama perang di Amerika penitia tetap bekerja untuk

    mempersiapkan usaha-usaha lebih lanjut sesudah perang. Pada tahun

    1919 delegasi dari Episcopal Churgh pergi ke Eropa dan mengunjungi

    banyak gereja, yaitu gereja Anglikan, gereja-gereja Protestan, tetapi juga

    gereja-gereja ortodoks dan gereja Katolik-Roma. Gereja Katolik-Roma

    tidak mau ikut serta, sebab Paus menganggap diri lambang keesaan

    gereja yang telah terwujud dalam gereja Katolik-Roma. Respon gereja-

    gereja ortodoks jauh lebih positif, kecuali gereja di Rusia, yang sedang

    menderita karena revolusi komunis. Semua gereja ortodoks menyatakan

    kerelaan untuk ikut serta. 22

    Dari 12 20 Agustus 1920 diadakan di Jenewa konperensi

    persiapan untuk konperensi sedunia mengenai iman dan tata gereja.

    Diundang wakil-wakil dari penitia-penitia dan komisi yang ikut serta

    dalam pekerjaan panitia Episcopal Church. Yang hadir adalah wakil-

    wakil dari 70 gereja dari 40 negara, termasuk gereja-gereja ortodoks.

    Diputuskan untuk menunjuk continuation committe, yang diketuai oleh

    Brent dengan Gardiner sebagai sekretaris, untuk persiapan konperensi

    sedunia. Dengan demikian Faith and Order menjadi gerakan yang

    didukung oleh banyak gereja dari berbagai latar belakang. Yang akan

    diundang nanti adalah semua gereja Which Confess Our Lord Jesus

    Christ As God Saviour (yang mengaku Tuhan kita Yesus Kristus

    21 Ibid., hlm. 19-20 22 Ibid., hlm. 21

  • 28

    sebagai Allah dan juru selamat), suatu rumusan yang kemudian diambil

    alih oleh dewan-dewan gereja sedunia pada tahun 1948. 23

    Pada 3 20 Agustus 1927 konperensi pertama Faith and Order

    diselenggarakan di Lausanne, Swis, dengan Brent sebagai ketua dan

    A.E. Garwie sebagai wakil ketua (karena kesehatan Brent terlalu lemah)

    yang hadir 394 orang, sebagian besar mewakili 108 gereja dari semua

    latar belakang konperensional kecuali Katolik-Roma. Dibicarakan tujuh

    pokok yang telah dipersiapkan oleh continuation committee Jenewa,

    yaitu : 1. The call to unity (panggilan untuk keesaan); 2. The churchs

    message to the world-the gospel (amanat gereja bagi dunia Injil); 3. The

    nature of the church (sifat gereja); 4. The churchs ministry (pelayanan

    gereja); 6. The sacrament (sakramen-sacramen); 7. The unity of christen

    dom and the place of the different churches in it (keesaan keKristenan

    dan tempat gereja-gereja yang berbeda di dalamnya). Tentu masih

    banyak perbedaan pendapat sehingga konperensi lebih sibuk dengan

    inventarisasi perbedaan-perbedaan. 24

    Pada konperensi Faith and Order yang pertama perbedaan

    yang paling banyak dibicarakan adalah pertanyaan pokok. Apakah

    gereja adalah jalan ke kristus dengan jabatan dan sakramen-sakramen

    seperti dikatakan gereja-gereja Ortodoks dan Anglikan atau kristus

    adalah jalan ke gereja, dengan penekanan dan pemberitaan firman dan

    iman, seperti dikatakan gereja-gereja protestan.

    Pada hakekatnya hasil segala perundingan tak seberapa besar.

    Tampaklah jurang yang dalam antara gereja-gereja yang menganggap

    Injil terutama sebagai pemberi hidup baru dengan sakramen

    (teristimewa gereja Ortodoks Timur dan juga separuh gereja Anglikan),

    dengan gereja-gereja yang terutama memandang Injil selaku suatu berita

    23 C. De Jonge J.S. Aritonang, Apa dan Bagaimana op. cit., hlm. 52 24 Christian De Jonge, Menuju Keesaan op. cit., hlm. 23

  • 29

    yang harus dikabarkan (gereja-gereja Lutheran dan Calvinis). 25 Akan

    tetapi juga ada hasil positif tercapai kesepakatan mengenai laporan dua

    (amanat gereja bagi dunia Injil), yang sekaligus menyatakan bahwa para

    peserta menyadari bahwa hakekat gereja adalah mengabarkan Injil di

    dunia, hakekat misioner.

    Komperensi Faith and Order yang kedua diadakan di Edinburg

    dari 3 10 Agustus 1937. yang hadir adalah 504 peserta, 443 wakil

    resmi dari gereja-gereja dan tamu-tamu. Pokok-pokok yang dibicarakan

    : 1. The grace of our lord Jesus Christ (kasih karunia Tuhan kita Yesus

    Kristus); 2. The church of christ and the word of God (gereja Kristus

    dalam firman Allah); 3. The church of christ ministry and sacraments

    (gereja kristus : Pelayanan dan sakramen-sakramen); 4. The churchs

    unity in life and Worship (keesaan gereja di dalam kehidupan dan

    peribadatan); pokok ini kemudian dibagi dua, sehingga ditambahkan : 5.

    The communion of holyman, persekutuan orang-orang kudus. 26

    Jelas suasana di gerakan Faith and Order telah menjadi lebih

    terbuka. Pembicaraan tentang perbedaan-perbedaan lebih terbuka juga

    tentang kasih karunia Kristus dicapai kesepakatan. Di Edinburg,

    ekseologi merupakan pokok diskusi yang paling hanyat. Diskusi

    berpusat pada successio apostolico (penggantian rasuli). Apakah

    kontinuitas gereja tergantung dari orang-orang (uskup-uskup) yang

    memelihara warisan ajaran rasuli, seperti yang dikatakan gereja-gereja

    Ortodoks dan Anglikan, atau dari ajaran rasuli itu sendiri yang disimpan

    oleh gereja, seperti dikatakan gereja-gereja Protestan ? walaupun

    perbedaan-perbedaan tetap ada, namun akhirnya dikeluarkan suatu

    pernyataan dimana gereja-gereja peserta bahwa dalam Yesus Kristus

    25 H. Berkhof, op. cit., hlm. 340 26 Christian De Jonge, Menuju Keesaan op. cit., hlm 23

  • 30

    keesaan yang sedang dicari gereja-gereja adalah menemukan dan

    mewujudkan kembali keesaan dasariah ini.

    T. Tatlow, seorang teolog dari gereja Anglikan yang terlibat

    dalam Faith and Order, menyebutkan 12 hal sebagai hasil gerakan Faith

    and Order27 antara lain : 1. Faith and Order berhasil menciptakan

    suasana dimana wakil-wakil dari gereja-gereja yang berbeda-beda dapat

    berdiskusi bersama pokok-pokok yang sensitif. 2. Peserta-peserta

    konperensi-konperensi Faith and Order mengalami keesaan rohani

    dalam kristus, tanda una sancta (gereja yang satu dan kudus) yang

    dikejar. 3. Faith and Order menyadarkan peserta bahwa perpecahan-

    perpecahan gerejani bukan hal biasa melainkan dosa. 4. Dimulai proses

    perkenalan; orang belajar menganai tradisi-tradisi yag sangat berbeda

    dari gereja asal mereka, dan sekaligus menyadari dengan lebih dalam

    warisan gereja sendiri. 5. Tumbuh kesadaran bahwa di belakang

    perbedaan-perbedaan besar ada keesaan, seperti menjadi nyata dalam

    pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di Lausanne dan Edinburg. 6.

    Pernyataan ini bukan hasil kompromi, sebab perbedaan-perbedaan tidak

    disembunyikan. 7. Ternyata sulit bagi gereja-gereja untuk merumuskan

    apa yang membedakan mereka, namun jelas bahwa gereja, jabatan serta

    sakramen dan kasih karunia merupakan persoalan pokok. 8. Yang

    menjadikan diskusi mengenai pokok-pokok di atas sulit, adalah

    kenyataan bahwa teologi gereja berakar dari kehidupannya. Orang tidak

    dapat mengganti teologi gereja lain, kalau mereka tidak ikut serta dalam

    kehidupannya. 9. Berhubungan dengan itu semakin disadari bahwa

    faktor-faktor non teologis (historis, sosial, ekonomi, etnis) memainkan

    peranan penting dalam perbedaan-perbedaan antara gejala-gejala. 10.

    Karena pengaruh faktor-faktor non teologis ini, maka sulit untuk

    27 Ibid., hlm. 24-25

  • 31

    menentukan sampai dimana diskusi-diskusi teologis di Faith and Order

    memajukan persatuan antara gereja-gereja dan memainkan peranan

    dalam persatuan-persatuan yang terjadi. Faith and Order sendiri tidak

    mau menyatukan gereja-gereja, hanya mendorong gereja-gereja untuk

    bersatu. 11. Faith and Order memajukan hubungan Oikoumene antara

    teolog-teolog dari gereja-gereja yang berbeda. 12. Gerakan Faith and

    Order memperlihatkan perkembangan-perkembangan menuju keesaan

    yang terjadi di banyak gereja yang masih terjadi.

    Segi kuat dari Faith and Order adalah bahwa sejak awalnya

    sudah melibatkan gereja-gereja dalam pembicaraan-pembicaraannya dan

    untuk memperoleh bagi peserta-peserta status wakil resmi dari gereja-

    gereja mereka masing-masing. Dengan demikian gerakan ini langsung

    berakar dalam gereja-gereja dan tidak terbatas pada orang perorang

    pribadi yang berminat pada Oikoumene. Segi kuat lainnya bahwa Faith

    and Order langsung memahami Oikoumene secara luas dan melibatkan

    gereja-gereja ortodok (dan Katolik-Roma, tetapi tanpa hasil dalam

    pembicaraan-pembicaraan.

    Dalam Faith and Order sebelum perang dunia II penekanan

    dalam pembicaraan-pembicaraan gereja lebih menyangkut perbedaan-

    perbedaan antara gereja-gereja. Tetapi lambat laun timbul kesadaran,

    pertama-tama bahwa keesaan gereja secara khusus lebih nampak dalam

    aksi-aksi gereja keluar, di dunia juga tumbuh kesadaran bahwa,

    walaupun gereja-gereja terpecah belum dalam dunia ini, mereka pada

    dasarnya esa dalam Kristus, sebab merupakan perwujudan tubuh Yesus

    Kristus yang Esa.

    Dengan demikian keesaan gereja tidak lagi dilihat sebagai titik

    akhir gerakan Oikoumene, melainkan sebagai titik tolak. Sesuai dengan

    pengakuan iman, orang-orang Kristen percaya bahwa mereka adalah

    satu gereja yang kudus, am dan rasuli (una sancta etclesia catholica et

  • 32

    apostolica), dipersingkat sebagai una sancta, suatu istilah yang dipakai

    untuk menunjuk kepada gereja yang dipercayai) dan oleh sebab itu

    diberi tugas untuk menampakkan keesaan ini dalam suatu proses

    pernyatuan antara gereja-gereja. Gerakan Oikoumene dipahami sebagai

    kesaksian mengenai gereja-gereja yang esa dari pengakuan iman, sedang

    perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam sejarah gereja dilihat sebagai

    hasil dosa manusia.

    Edinburg (III) Gerakan Life and Work (Kehidupan dan Usaha)

    1919 1937; World Alliance 1914 - 1948

    Pra sejarah Life and Work terdapat dalam aksi Kristen dibidang

    sosial pada abad ke-19, banyak organisasi Kristen melibatkan diri dalam

    aksi sosial pada waktu itu. Timbullah kesadaran bahwa dalam

    menghadapi sosial-soal sosial orang-orang Kristen harus bekerjasama.

    Oleh sebab itu banyak organisasi merupakan hasil kerjasama antara

    orang-orang Kristen dari gereja-gereja yang berbeda.

    Seorang pelopor yang patut disebut adalah J.H. Wicher (1808

    1881) yang terlibat dalam perkabaran Injil. Gerakan keKristenan praktis

    bekerja pada dua bidang yaitu, bidang sosial ekonomi dan bidang

    perdamaian internasional. Di bidang sosial ekonomi diusahakan

    perubahan-perubahan struktural dalam masyarakat sesuai dengan

    gagasan-gagasan Kristen. Untuk mengatasi ketidak adilan sosial

    ekonomi. Sebagai contoh dapat disebut tokoh-tokoh sosialisme Kristen

    di Swiss, Hermann Kutter (1869 1931) dan Leonhard Ragas (1868

    1945), dan gerakan social Gospel (Injil Sosial) dengan pelopornya

    Water Raunchenbusch (1861 1918) di Amerika Serikat. Di bidang

    perdamaian internasional diusahaka untuk menonjolkan peranan

    bersama gereja-gereja dalam mencari penyelesaikan persoalan-persoalan

    politik. World Alliance adalah salah satu organisasi di bidang ini. Life

  • 33

    and Work, Natahan Soderblom (1866 1931) adalah pendeta Luther di

    Swedia dan seorang ahli ilmu-ilmu agama yang kenamaan. Pada tahun

    1914 ia menjadi uskup agung gereja Lutheran Swedia di Uppsala, suatu

    kedudukan yang memeberikan kemungkinan untuk berperan sebagai

    pemimpin gereja dibidang Oikoumene, khususnya melalui usaha-usaha

    kerja sama dibidang sosial politik. 28

    Sejarah lahirnya Life and Work berhubungan erat dengan suatu

    organisasi Kristen Internasional yang lain yaitu World Alliance for

    Promoting International Friendship Through the Churches (persekutuan

    sedunia untuk memajukan persahabatan internasional melalui gereja-

    gereja) yang didirikan pada tahun 1914 1948.

    Penting dalam sejarah Life and Work adalah konperensi yang

    diadakan pada tahun 1919 di Oud-Wassehaar (suatu pusat konperensi di

    negeri Belanda dekat Den Haag). Sebenarnya konperensi ini merupakan

    pertemuan pengurus world Alliance, tetapi di sinilah Soderblom

    mengusulkan untuk mendirikan suatu Ecumeninal Council yang

    beranggota gereja-gereja, untuk membahas soal-soal praktis. Tujuannya

    tak beda jauh yang telah mencari keesaan gereja juga, tetapi Soderblom

    berpendapat bahwa kerja sama di bidang praktis (pada waktu itu timbul

    nama Life and Work) mungkin dapat berhasil dengan lebih mudah. Di

    belakang usul-usul Soderblom ada gagasan-gagasan mengenai keesaan

    dan peranan gereja, yang dikemukakan dalam beberapa tulisan dari

    tahun 1919. Keesaan gereja tidak hanya nyata dalam kesepakatan di

    bidang iman dan tata gereja, tetapi juga, dan lebih dulu, dalam keesaan

    tindakan dan kesaksian di dalam dan terhadap dunia untuk

    mempersatukan serta memperdamaikan manusia dan mencari

    penyelesaian masalah-masalah sosial. Gereja-gereja harus bersatu dalam

    28 Ibid., hlm. 27-28

  • 34

    usaha ini, juga supaya kesaksian Kristen betul-betul berwibawa di dunia.

    Persoalan-persoalan yang dihadapi dunia terlalu urgen untuk menunggu

    kesaksian gereja-gereja melalui percakapan-percakapan tentang iman

    dan tata gereja. Akhirnya pada tanggal 19 30 Agustus 1925 diadakan

    The Universal Christian Conference on Life and Work (Konperensi

    Kristen Universal tentang Kehidupan dan Pekerjaan) di Stockholm,

    Swedia yang dihadiri oleh 661 wakil gereja-gereja dan organisasi-

    organisasi Kristen dari 37 negara. Ketuanya adalah Soderblom, dan Dr.

    Adolph Keller dari Swiss, seorang tokoh Oikoumene yang penting,

    menjadi salah satu sekretaris. Enam pokok dibicarakan oleh Nicaea

    Etika ini (penunjuk kepada konsili Oikoumene) yakni; 1. The general

    obligation of the Church in the light of gods plan for the world

    (Kewajiban umum gereja dalam terang rencana Allah bagi dunia); 2.

    The Church and economic and industrial problems (gereja dan masalah-

    masalah ekonomi dan industri); 3. The church and social and moral

    problems (gereja dan hubungan-hubungan internasional); 5. The church

    and Christian education (gereja dan pendidikan Kristen); 6. Methods of

    Cooperative and federative efforts by the Christian Communions

    (metode-metode tentang usaha-usaha kerjasama dan federasi oleh

    persekutuan-persekutuan Kristen). 29

    Gerakan untuk kehidupan dan usaha telah dimengerti, juga

    bahwa dalam memperbincangkan masalah-masalah praktek, perbedaan

    ajaran perlu diperhatikan. Pada tahun 1937 gerakan ini mengadakan lagi

    suatu konperensi sedunia, sekarang di Oxford (dihadiri oleh 425 wakil

    dari 40 negeri). Pokok umum Gereja Bangsa Negara

    memperlihatkan perubahan pendirian dan tujuan dibandingkan

    konperensi di Stockholm. Biarpun kesimpulan-kesimpulan konperensi

    29 Ibid., hlm. 29-30

  • 35

    ini agak kabur, tetapi sungguh penting bahwa gereja-gereja telah

    bermusyawarah bersama-sama dan bahu membahu mau

    memperdengarkan suara Injil di tengah-tengah masyarakat hidup bangsa

    manusia. Hal ini terlihat pada tahun-tahun perang kontak Oikoumene itu

    telah menunjukkan manfaatnya yang besar dalam praktek. Dari pusat

    organisasi-organisasi Oikoumene di Jenewa, dan juga oleh gereja-gereja

    sendiri banyak pertolongan diberikan kepada kaum pengungsi, orang

    tawanan dan daerah-daerah zending yang ditinggalkan dengan tidak

    mempunyai pengantar-pengantar; juga mengadakan hubungan antara

    negeri-negeri yang terpisah oleh garis-garis peperangan. 30 Dan

    kegiatan-kegiatan ini tanpa memperdulikan perbedaan agama, ras, suku

    bangsa dan perbedaan-perbedaan yang lain.

    Sementara, World Alliance didirikan sebagai akibat konperensi

    internasional yang diadakan di Kontanz, Jerman (2 3 Agustus 1914).

    Konperensi ini salah satu diantara sekian banyak yang diadakan pada

    awal abad ke-20 untuk memajukan perdamaian dan persahabatan

    internasional, khususnya dalam keadaan tegang dalam politik

    internasional menjelang perang dunia pertama. Sesudah perang dunia

    pertama World Alliance membicarakan pada konperensi-konerensi

    sosial internasional seperti liga bangsa-bangsa (League of Nations),

    perlucutan senjata, nasionalisme dan internasionalisme. Sebelum perang

    dunia kedua beberapa konperensi diadakan (Praha 1928, Cambridge

    1931, Chamby, Swis 1935, Narvik, Norwegia 1938). Di Praha

    ditentukan bahwa world Alliance mencoba mempegaruhi melalui

    dewan-dewan gereja-gereja nasional dan kerjasama antar gereja-gereja,

    parlemen-parlemen dan pemerintah-pemerintah untuk mencari

    hubungan baik dan damai dengan negara-negara lain. Usaha-usaha yang

    30 H. Berkhof, op. cit., hlm. 341

  • 36

    diperlukan adalah : 1. Memperjuangkan kebebesan agama-agama; 2.

    Melawan halangan untuk gereja-gereja, sekolah-sekolah dan institusi-

    institusi Kristen; 3. Mencari penyelesaian untuk konflik-konflik gerejani

    dan politik yang memecahkan gereja-gereja; 4. Memajukan hubungan-

    hubungan persahabatan internasional antara gereja-gereja dan jemaat-

    jemaat; 5. Mencari perdamaian; 6. Mendukung usaha-usaha yang

    memajukan keadilan dalam hubungan antar bangsa. 31

    Segi Faith and Order dan Life and Work serta world Alliance

    dalam gerakan Oikoumene dapat dibedakan tetapi tidak dapat

    dipisahkan. Itu mejadi jelas dari sejarah karena sejak permulaan Life and

    Work dicari hubungan dengan Faith and Order. Menjelang sidang

    Edinburg dan Oxford menjadi jelas bahwa kedua gerakan semakin

    dekat, sehingga tidak hanya alasan ekonomi (menghemat karena pada

    tahun 30-an abad ini dunia dilanda oleh resesi ekonomi yang juga

    mempengaruhi keuangan gereja) tetapi juga alasan Oikoumene

    mendorong kedua gerakan untuk bergabung dalam suatu Dewan Gereja-

    Gereja seDunia. Ini perkembangan logis sebab sejak awal ketiga

    gerakan ini mau mempersatukan gereja-gereja dan melibatkan gereja-

    gereja secara resmi.

    Dalam sejarah gerakan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa

    kerjasama praktis lebih mudah dibanding dengan kesepakatan teologis

    jelas dari sejarah Oikoumene, tetapi juga tidak semata-mata karena

    doctrine devides but service unites (ajaran memisahkan tetapi

    pelayanan memersatukan). Ajaran menyangkut akar-akar iman,

    sehingga khususnya di sana kesepakatan sulit tercapai. Akan tetapi

    kalau tercapai tujuan Oikoumene untuk sebagian besar telah

    diwujudkan. Kerjasama tidak banyak dilihat sebagai jalan gampang

    31 Christian De Jonge, Menuju Keesaan . op. cit., hlm. 31

  • 37

    tetapi sebagai segi lain dari hakekat gereja-gereja yang dipanggil untuk

    memperdamaikan dan melayani dalam keesaan. Dua segi saling

    melengkapi.

    C. Implikasi Gerakan Oikoumene

    Dari pembicaraan mengenai sejarah dan perkembangan

    gerakan Oikoumene, dapat ditemukan adanya perubahan atau pergeseran

    pemahaman gerekan Oikoumene. Untuk lebih jelasnya pembahasan

    tentang implikasi gerakan Oikoumene akan terlihat dari uraian berikut.

    Istilah Oikoumene mulai muncul dari berabad-abad yang lalu.

    Oikoumene digunakan untuk menyebut wilayah persatuan orang-orang

    Kristen di lingkungan kerajaan Romawi. Ketika masa-masa reformasi

    gereja yang menyebabkan perpecahan secara besar-besaran di kalangan

    orang-orang Kristen, Oikoumene kembali digunakan untuk menyebut

    sebuah usaha penyatuan orang-orang Kristen (seperti yang sudah

    dijelaskan pada sub bab sejarah dan perkembangan gerakan

    Oikoumene).

    Usaha dari masa reformasi ini terus diupayakan pada abad ke

    17 sampai pada abad ke 19. Pada masa ini orang-orang Kristen

    berbicara tentang gereja di seluruh dunia, yaitu dunia mediterranian

    kuno. Oikoumene untuk membedakan dengan majlis gereja lokal. Ketika

    orang-orang Kristen dari berbagai daerah yang berbeda saling bertemu

    untuk membicarakan aspek-aspek keyakinan dan disiplin, pertemuan-

    pertemuan tersebut diakui sebagai Ecumenical Councils yang

    mewakili dari Oikoumene seluruh dunia tentang waktu dan pengalaman

    mereka.32

    32Mukti Ali, Agama Dalam Pergumulan Masyarakat Dunia, Tiara Wacana, Yogyakarta,

    1998, hlm. 6

  • 38

    Pada abad ke 20 kata Oikoumene memperoleh makna yang

    baru, kata ini diterapkan pada kelahiran gerakan baru untuk

    menjembatani erpecahan historis gereja-gereja Kristen yang berbeda,

    untuk mengekspresikan penyatuan keimanan orang Kristen dengan

    keseluruhan dunia yang di dalanmnya terdapat banyak agama selain

    agama Kristen.33

    Sebelum perang dunia ke II, gerakan Oikoumene sangat

    ditekankan pada penyatuan dalam tindakan-tindakan di dunia.

    Walaupun hal itu penting sekali, tetapi tidak dapat dihindari kesan

    bahwa dengan demikian persoalan-persoalan eklesiologis sedikit

    dihindari. Kesepakatan dalam bertindak ternyata lebih mudah

    diwujudkan dari keesaan antara gereja-gereja. Namun demikian dirasa

    juga bahwa justru keesaan gerejawi yang nampak adalah pelayanan

    yang terpenting di dalam dunia dimana umat manusia hidup terpecah

    dan dalam permusuhan. Gereja harus menjadi satu untuk

    mempersatukan seluruh umat manusia.34

    Penting untuk perkembangan pemahaman mengenai

    Oikoumene adalah pernyataan yang ditetapkan oleh Sidang Raya di New

    Delhi yang biasanya dikutip sebagai pernyataan All In Each Place. Di

    dalamnya dikatakan bahwa gereja yang esa menjadi nampak dimana

    saja, orang-orang yang dibaptis dalam nama Kristus dan mengakui

    Kristus sebagai Tuhan, dikumpulkan oleh Ruh Kudus untuk menjadi

    sebuah persekutuan yang mengaku, memberitakan Injil, merayakan

    perjamuan Kudus, berdoa dan melayani bersama. Di sini ditekankan

    kembali gagasan gereja mula-mula bahwa setiap gereja lokal mewakili

    gereja se-dunia, gereja dari pengakuan iman. Pemahaman ini dilihat

    33Ibid. 34 Cristian D. Jonge, Jan S. Aritonang, op. cit., hlm. 54

  • 39

    sebagai dasar saling mengakui dan saling menerima antara gereja-gereja

    anggota DGD.35

    Bertolak dari pemahaman ini, gereja-gereja mulai mencari

    perluasan dasar keesaan dan perwujudan keesaan yang nampak pada

    penerimaan pihak-pihak lain, baik yang berasal dari gereja lain maupun

    dari agama-agama lain.

    Disadari bahwa keesaan yang nampak secara sempurna tidak

    mungkin segera tercapai, tetapi hanya terwujud melalui suatu proses.

    Oleh karena itu, panitian persiapan untuk konferensi Faith and Order

    yang ke dua di Edinburgh (1937) menguraikan dalam laporan tentang

    The Meaning of Unity tiga model keesaan yang ebrturut-turut dapat

    dilewati. Tahap pertama adalah Cooperative Action , aksi bersama.

    Tahap kedua adalah Mutual Recognition and Intercommonion, yaitu

    saling mengakui dan merayakan perjamuan Kudus bersama. Tahap

    terakhir dan tujuan utama dalam mengusahakan keesaan gereja adalah

    Corperate or Organic Union , yang dipahami sebagai keesaan dalam

    keanekaragaman sebagaimana terdapat dalam suatu tubuh. Setiap

    anggota tubuh memiliki ciri yang berbeda-beda, tetapi tetap anggota

    seluruh tubuh, sedangkan keesaan tubuh tidak menghalangi

    keanekaragaman dalam karunia-karunia yang dimiliki masing-masing

    anggota.36

    Dalam makalahnya Ecumenis as Reflections on Models of

    Cristian Unity (Oikuomene sebagai refleksi tentang model-model

    keesaan Kristen), Paul Crow menyebut lima model keesaan gereja yang

    telah dikembangkan di kalangan Oikoumene.37 Yang pertama adalah

    Organic or Corporate Unity (Edinburgh 1937), yang berarti bahwa

    35 Ibid. 36Cristian D. Jonge, op. cit., hlm. 136. 37 Ibid., hlm. 139-140

  • 40

    yang dicari adalah keesaan gereja sebagaimana terdapat dalam sebuah

    organisme atau tubuh. Istilah organis dipakai untuk menolak sifat statis

    dalam keesaan. Keesaan gereja bertumbuh dan menjadi semakin dalam.

    Istilah Corporate dipakai untuk menolak keseragaman. Ditekankan

    tugas panggilan yang harus dilakukan bersama, dan diharapkan bahwa

    setiap gereja dapat mengembang pada pelaksanaan tugas ini sesuai

    dengan ciri khas masing-masing gereja. Model kedua Conciliar

    Fellowship yang sudah disebut di atas. Dimaksudkan untuk

    memperdalam gagasan pertama. Ditekankan bahwa keesaan gereja

    juyga harus nampak dalam keputusan-keputusan yang diambil bersama.

    Model ketiga adalah Reconciled Diversity , kepelbagaian yang

    diperdalam. Istilah ini muncul pada tahun 70-an di kalangan World

    Confensional Familier.

    Model keempat yaitu Communion of Communion. Gagasan

    ini timbul di kalangan gereja Katolik-Roma. Di cita-citakan suatu gereja

    yang esa dalam ajaran dan tindakan bersama yang tetap memperlihatkan

    keanekaragaman tipe-tipe gereja.

    Dari uraian di atas jelas bahwa pemahaman mengenai

    Oikoumene mengalami perubahan. Dua macam pergeseran dapat

    diamati. Pertama terlihat pergeseran dari keseragaman ke arah

    keanekaragaman. Disadari bahwa konsensus total mengenai ajaran,

    liturgi, tata gereja, dan sebagainya dapat menimbulkan bahaya bahwa

    kekeyaan masing-masing gereja tidak cukup diberi tempat dalam gereja

    yang esa. Kesadaran bahwa aliran-alirang yang dapat dibedakan dalam

    ke-Kristenan masing-masing memelihara unsur-unsur yang hakiki dari

    iman Kristen, menimbulkan keinginan untuk mencari bentuk keesaan

    yang memelihara kekayaan.

    Pergeseran kedua adalah pergeseran dari segi institusional

    kepada segi pelayanan. Dirasa bahwa mencari kesepakatan mengenai

  • 41

    ajaran, tata gereja, dan sebagainya masih terlalu melihat gereja terlepas

    dari dunia. Gereja tidak menjadi esa demi dirinya sendiri melainkan

    demi dunia. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa gerakan

    Oikoumene mempunyai dua tujuan. Pertama, tujuan internal di kalangan

    orang-orang Kristen yang terpecah dengan mengupayakan kesatuan.

    Kesatuan yang dimaksud bukanlah terwujud ketika di dunia ini hanya

    terdapat satu gereja saja, melainkan kesatuan dalam hal pengakuan

    iman. Tujuan yang kedua adalah untuk mendapatkan kesepakatan dalam

    bertindak atau suikap keberagamaan umat Kristenm terhadap umat

    beragama lain untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia.

    D. Pembentukan Dewan Gereja-gereja Sedunia 1937 1948 Sebagai Lembaga Gerakan Oikoumene

    Gagasan-gagasan untuk mendirikan suatu dewan gereja-gereja

    mulai dikemukakan sejak perang dunia pertama. Semangat untuk

    mendirikan dewan karena dirasa perlu untuk mendirikan suatu

    persekutuan gereja-gereja sebagai jiwa untuk kerjasama antara bangsa-

    bangsa. Namun suatu persekutuan waktu untuk itu belum tiba. Kedua

    organisasi Oikoumene yang mempunyai relasi yang paling resmi dengan

    gereja-gereja, Faith and Order dan Life and Work, dua-duanya merasa

    bahwa sebaiknya kedua organisasi untuk sementara waktu bekerja seara

    terpisah supaya tujuan mereka bersama, yaitu mempersatukan gereja-

    gereja jangan dibahayakan. Akan tetapi sejak tahun 1928 iklim berubah

    dan orang mulai mencari jalan untuk mewujudkan kerjasama yang lebih

    akrab. Sejak 1933 organisasi-organisasi Oikoumene seperti Faith and

    Order dan Life and Work, bersama dengan IMC, Worl Alliance, WSCF

    dan YMCA sedunia mulai membicarakan kemungkinan untuk

  • 42

    mendirikan suatu organisasi Oikoumene yang menckaup semua bidang

    pelayanan gereja.

    Faktor-faktor yang mendukung perkembangan ini adalah resesi

    ekonomi dan keadaan politik internasional. Karena resesi ekonomi juga

    gereja-gereja mengalami kesulitan keuangan, sehingga dirasa lebih

    bijaksana untuk mengkonsentrasikan semua kegiatan Oikoumene dalam

    suatu wadah. Keadaan politik internasional, khususnya munculnya

    negara-negara totaliter, memperhadapkan gereja-gereja dengan suatu

    ancaman yang sebaiknya dihadapi bersama. Sekaligus dapat dilihat

    bahwa Life and Work dan Faith and Order mulai saling mendekati,

    karena yang pertama menjadi semakin sadar akan dasar teologis untuk

    pelayanan praktis dan yang kedua akan implikasi-implikasi teori iman

    dan tata gereja untuk pekerjaan gereja di dunia ini.

    Yang menjadi pelopor usaha ini adalah William Temple dari

    gerakan Faith and Order, yang mengusulkan pada tahun 1935 untuk

    membentuk suatu dewan Oikoumene internasional gereja-geerja, dan

    Joseph Oldham yang pada tahun 1936 mengusulkan dalam rapat Life

    and Work bahwa konperensi Life and Work di Oxford dan konperensi

    Faith and Order di Edinburg dimanfaatkan juga untuk membicarakan

    masa depan gerakan Oikoumene. Baik di Oxford maupun Edinburg

    menerima rencana ini dan masing-masing sidang menunjuk tujuh wakil

    dan tujuh pengganti untuk duduk dalam panitia empat belas yang harus

    mempersiapkan Dewan gereja-gereja sedunia dan mencari dukungan

    gereja-gereja untuk rencana ini. 38

    Rencana untuk mengadakan sidang raya DGD yang pertama

    pada tahun 1941 digagalkan karena perang dunia kedua (1939 1945).

    Akan tetapi ketiga kantor DGR berada di kota yang tidak diduduki,

    38 Ibid., hlm. 35-36

  • 43

    sedang kantor pusat di Jenewa berada dalam negara netral, yang dapat

    mengadalan hubungan-hubungan dengan semua pihak yang berperang.

    Oleh sebab itu World Council of Churches in Process of Formation

    (DGD dalam proses pembentukan) dapat mengadakan komunikasi

    dengan gereja-gereja pada kedua belah pihak. Hubungan yang terus

    menerus dengan gereja yang mengaku di Jerman dirasa sangat penting.

    Diusahakan untuk menolong pengungsi-pengungsi, khususnya orang-

    orang Yahudi, yang melarikan diri ke Swis, juga diusahakan, bersama

    dengan organisasi-organisasi Kristen dan umum (seperti palang merah)

    untuk membantu dimana saja bantuan diperlukan. Untuk tawanan-

    tawanan perang diadakan persediaan literatur Kristen yang dapat dipakai

    untuk ibadah-ibadah di kamp-kamp tawanan. Didirikan Departement of

    Reconstruction and Inter Church Aid (Departemen Rekontruksi dan

    Bantuan Antar Gereja) untuk pembangunan sesudah perang. Karena

    semua kegiatan ini hubungan antara gereja-gereja di negara-negara yang

    berperang tidak terputus. 39

    Ini berbeda dengan perang dunia pertama, ketika gereja-gereja

    begitu mendukung pemerintahannya masing-masing sehingga hubungan

    dengan orang-orang Kristen dari pihak lain hampir dianggap

    penghianatan. Sekarang hampir semua gereja setuju bahwa tugas pokok

    gereja adalah mencari amal juga disadari bahwa apa yang terjadi

    sesudah perang dunia pertama, yaitu kecurigaan antara gereja-gereja

    dari negara-negara yang dikalahkan dan gereja-gereja dari negara-

    negara yang menang harus dihindari. Pengalaman bersama selama

    perang menyebabkan bahwa gerakan Oikoumene justru semakin maju

    dan tidak mundur seperti yang dikhawatirkan. Kehadiran gereja pada

    masa perang dalam banyak hal bersifat Oikoumene.

    39 Ibid., hlm. 37

  • 44

    Pada tahun 1948 DGD didirikan yang merupakan a fellowship

    of churches which accept our Lord Jesus Christ as God and saviar

    (persekutuan gereja-gereja yang menerima Tuhan kita Yesus Kristus

    sebagai Allah dan Juru selamat). 40 Pada tanggal 22 23 Agustus 1948

    di Amsterdam itu sekaligus merupakan sidang raya DGD yang pertama.

    Jumlah gereja yang hadir sebanyak 147 gereja dari 44 negara. Jumlah

    wakil resmi adalah 351, tetapi ada banyak hadirin yang lain. Delegasi

    dari Asia cukup besar, tetapi dari Afrika masih kurang. Peninjau-

    peninjau Katolik-Roma yang diundang tidak mendapat izin dari gereja

    mereka untuk hadir. Dari gereja-gereja Ortodoks hanya gereja Yunani

    Ortodoks yang menjadi anggota. Gereja-gereja Protestan yang sangat

    ortodoks tidak ikut serta. Sebagian gereja ini (khususnya di Amerika

    Serikat) mendirikan pada tahun 1948, International Council Of

    Christian Churches (ICCC, Dewan Gereja-Gereja Kristen Internasional)

    sebagai lawan DGD. 41 Dalam sidang raya pertama belum seluruhnya

    menjadi jelas. Ditolak bahwa DGD mengambil alih tugas dan

    wewenang gereja. DGD juga tidak boleh disamakan dengan una sancta.

    DGD dalam wadah dimana gereja-gereja dapat berkumpul, dalam suatu

    persekutuan rohani, untuk berunding dan mencari jalan keesaan yang

    lebih sempurna.

    Sidang raya DGD II diadakan di Evanston (USA< dekat

    Chicago). 15 31 Agustus 1954. Temanya adalah Christ, the hope of

    the world (Kristus, harapan dunia) yang hadir adalah 502 utusan dari

    132 dan 163 gereja anggota DGD. Delegasi dari Indonesia sebanyak 11

    orang. Ada enam seksi, yaitu : 1. Faith and Order Our oneness in

    christ and our disunity as churches (iman dan tata gereja keesaan kita

    40 Christian de Jonge, Jan S. Aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja , op. cit., hlm. 53 41 Christian de Jonge, Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja, BPK. Gungung Mulia,

    Jakarta, 1989, Tabel II dan hlm. 90.

  • 45

    dalam kristus dan perpecahan kita sebagai gereja); 2. Evangelism The

    mission of the church to those out side her life (penginjilan

    Pengabaran Injil gereja kepada orang-orang yang ada di luar

    kehidupannya); 3. Social Question The Responsible society in a world

    perspective (masalah-masalah sosial masyarakat yang bertanggung

    jawab di dalam perspektif seluruh dunia); 4. International affairs

    Christians in the struggle for world community (perkara-perkara

    internasional orang-orang Kristen dalam pergumulan terhadap

    masyarakat Dunia); 5. Inter Group Relations The Chruch amid Rasial

    and Ethnic Tensions (Hubungan-hubungan antar kelompok gereja di

    tengah-tengah ketegangan ras dan suku); 6. The Laity The Christian in

    his vocation (kaum awam orang Kristen dalam panggilannya). 42

    Sidang raya DGD III New Delhi (19 Noveber 15 Desember

    1961) adalah sidang raya pertama yang diadakan di luar dunia Barat.

    Oleh sebab itu sangat disadari bahwa di dunia masih banyak agama lain

    dan bahwa gereja berada di tengah-tengah dunia dengan banyak agama

    dan banyak kebduayaan. Temanya adalah Jesus Christ, the light of the

    world (Yesus Kristus, terang Dunia) lebih dari 1000 orang, diantaranya

    577 utusan resmi yang mewakili hampir 200 gereja anggota, menghadiri

    sidang raya ini. Tema dibahas dalam 3 seksi, yakni witness, service dan

    unity (Kesaksian, pelayanan dan keesaan). Belum dibicarakan soal

    dialog dengan agama lain, tetapi disadari bahwa agama Kristen bukan

    agama Barat saja. Dibicarakan teologi Asia dan hubungan Kristus

    dengan agama-agama lain. Beberapa peristiwa penting yang terjadi pada

    sidang raya New Delhi43 :

    a. Penggabungan antara IMC dan DGD. Kerjasama antara kedua

    lembaga Oikoumene ini sejak permulaan erat dan telah menjadi

    42 Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja op. cit., hlm. 41 43 Ibid., hlm. 42-44

  • 46

    semakin erat, sehingga central committe DGD pada rapatnya di New

    Hoven,. Amerika Serikat (1957) dan IMC pada konperensi di Graha

    (1958) telah memutuskan untuk bergabung. Dalam penggabungan

    ini menjadi nyata bahwa gereja-gereja Barat dan gereja-gereja dari

    Asia serta Afrika sama penting di gerakan Oikoumene. Tidak ada

    lagi perbedaan antara gereja-gereja yang mengkabarkan Injil dan

    gereja-gereja hasil perkabaran Injil. Khususnya gereja dari Asia dan

    Afrika senang dengan keputusan ini. Sebab mereka merasa bahwa di

    dalam DGD hak yang sama dengan gereja Barat lebih nyata dari

    IMC, yang dibebani sejarah perkabaran Injil yang kadang-kadang

    peternalistik. Demikian juga lebih nyata bahwa perkabaran Injil

    adalah tugas untuk setiap gereja dan bahwa tugas untuk

    mengabarkan Injil tidak lepas dari tugas mengesakan gereja.

    b. Gereja-gereja Ortodoks Rusia, Rumania, Bulgaria, Polandia menjadi

    anggota, sehingga unsur ortodoks sangat diperkuat (sebelumnya

    hanya gereja Ortodoks Yunani yang menjadi anggota) dan menjadi

    lebih nyata bahwa gerakan Oikoumene bukan hal protestan saja.

    c. Selain itu beberapa gereja dari dunia ketiga menjadi anggota dan

    juga satu gereja pentakosta dari Chili. Dengan demikian keanggotaan

    DGD diperluas ke arah dunia ketiga dan ke arah keKristenan

    pentakostal. Perkembangan ini kemudian menyebabkan perubahan

    dalam suasana gerakan Oikoumene.

    d. Karena gereja-gereja ortodoks menjadi anggota DGD, dirasa perlu

    untuk memperluas dasar DGD. Dasar 1948 berbunyi : The world

    council of Churches is a Fellowship of Churches which accept our

    Lord Jesus Christ as God and savior according to the scriptures and

    therefore sext to fulfil together their common calling to the glory of

    one god, father, son and holy spirit.

  • 47

    e. Hadir untuk pertama kali pada sidang raya DGD peninjau-peninjau

    dari gereja Katolik-Roma, sebagai hasil sikap lebih terbuka gereja

    ini.

    f. Didiskusikan apakah DGD harus membicarakan soal-soal politik

    yang menyebabkan perbedaan pendapat antara gereja-gereja

    anggota, seperti soal Israel, yang membedakan gereja-gereja Barat

    dan gereja-gereja Arab, dan masalah Afrika Selatan (Apartheid;

    pembunuhan orang-orang hitam dalam peristiwa sharpeville, 1960)

    g. Di keluarkan pernyataan tentang keesaan Oikoumene gereja-gereja

    yang biasanya dikutip sebagai All in Each place. Penting untuk

    dicatat bahwa melalui dokumen ini DGD untuk pertama kalinya

    menunjuk ke arah mana keesaan gereja dapat diwujudnyatakan.

    Sidang raya DGD IV diadakan di Uppsala, Swedia 4 20 Juli

    1968, ada hadir sama seperti di ew Delhi, peninjau-peninjau Roma. Di

    sini komite pusat menyediakan uang untuk pemberantasan rasisme

    (mendahulukan suatu suku bangsa berdasarkan rasnya) dan untuk

    gerakan-gerakan kemerdekaan. 44 Ada enam seksi yaitu : 1. The holy

    spirit and the catholicity of the church (Roh Kudus dan katolisitas

    gereja); 2. Renewal in mission (pembaharuan dalam perkabaran Injil); 3.

    World Economic and social development (ekonomi dunia dan

    perkembangan masyarakat); 4. Toward justice and peace in

    international affairs (menuju keadilan dan perdamaian dalam perkara-

    perkara internasional); 6. Toward new styles of living (menuju gaya

    hidup baru), seksi ini membahas lingkungan hidup, penghematan dan

    pendobrakan pola hidup yang konsumtif. 45

    Sidang raya DGD V diadakan di Nairobi, Kenya, dari 23

    Novmeber 10 Desember 1975. yang hadir sekitar 2300 orang,

    44 H. Berkhof, op. cit., hlm. 343 45 Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja op. cit., hlm. 45

  • 48

    diantaranya 676 utusan resmi 286 gereja anggota. Antara lain

    dibicarakan di sana tentang hak-hak manusia, dan percakapan antara

    gereja-gereja dengan agama lain. 46 Untuk pertama kalinya utusan-

    utusan/wakil-wakil dari agama lain diundang. Ada enam seksi yaitu : 1.

    Confessing christ today, mengaku Kristus dewasa ini (perkabaran Injil);

    2. What unity requires, apa yang dibutuhkan oleh untuk keesaan; 3.

    Seeking community, mencari persekutuan (dialog antar kepercayaan-

    kepercayaan, kebudayaan-kebudayaan dan ideologi-ideologi); 4.

    Education for Liberation and community (pendidikan untuk pembebasan

    dan persekutuan); 5. Structures of injustice and struggles for liberation

    (struktur-struktur ketidakadilan dan perjuangan-perjuangan untuk

    pembebesan); 6. Human development, pembangunan manusia

    (kekuasaan, teknologi, kualitas hidup). 47

    Sidang raya DGD VI diadakan di Vancouver, Kanada, 24 Juli

    10 Agustus 1983, yang hadir sekitar 3000 peserta, diantaranya wakil-

    wakil 314 gereja. Temanya adalah Jesus christ, the life of the world

    (Yesus Kristus, kehidupan dunia). Tema ini dibahas dalam 8 seksi yaitu

    : 1. Witnessing in a Devided world, bersaksi dalam dunia yang terbagi-

    bagi (perkabaran Injil); 2. Taking steps toword unity, mengambil

    langkah-langkah menuju keesaan; 3. Moving toward participation,

    bergerak menuju ke partisipasi (dibahas diskriminasi, pengangguran,

    emansipasi wanita), 4. Heading and sharing life in community,

    menyembuhkan dan membagikan kehidupan di dalam persekutuan; 5.

    Confronting threats ti peace and survival, menghadapi ancaman-

    ancaman demi perdamaian dan kelangsungan hidup; 6. Struggling for

    justice and human dignity, berjuang demi keadilan dan martabat

    manusia; 7. Learning in community, belajar dalam persekutuan

    46 H. Berkhof, op. cit., hlm. 345 47 Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja op. cit., hlm. 45-46

  • 49

    (pendidikan); 8. Communicating with conviction, berkomunikasi dengan

    keyakinan. 48

    E. Aplikasi Konsep Gerakan Oikoumene Lahirnya gerakan Oikoumene membawa angin segar untuk

    dapat mewujudkan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

    Meskipun implikasi dari konsep gerakan Oikoumene beranekaragam

    melalui serangkaian proses dalam mencari format yang tepat sesuai

    dengan perkembangannya, namun aplikasinya sudah dirasakan

    manfaatnya.

    Hal ini terlihat pada tahun-tahun perang, kontak Oikoumene itu

    telah menunjukkan manfat yang sangat besar di dalam prakteknya. Dari

    pusat organisasi-organisasi Oikoumene di Jenewa, dan juga oleh gereja-

    gereja sendiri banyak pertolongan di berikan kepada kaum pengungsi,

    orang-orang tawanan dari daerah Zending yang ditinggalkan dengan

    tidak mempunyai pengantar-pengntar, juga mengadakan hubungan antar

    negara-negara yang terpisah oleh garis peperangan.49 Kegiatan ini tanpa

    memperdulikan perbedaan agama, ras, suku bangsa dan perbedaan-

    perbedaan yang lain.

    Selain manfaat yang telah disebutkan di atas, gerakan ini

    menimbulkan ggasan untuk mengadakan dialog dengan umat beragama

    lain. Kata dialog antar umat beragama menunjuk kepada pertemuan

    serta percakapan antara orang-orang yang berbeda agama yang diadakan

    untuk saling mengenal dan saling belajar mengenai agama yang

    diyakini. Antara dialog dan pekabaran Injil terdapat hubungan erat.

    Timbul kesadaran bahwa kesaksian mengenai Kristus bukan gerakan

    satu arah saja, dari yang bersaksi kepada yang menerima saksi ini,

    48 Ibid., hlm. 46 49 H. Berkhof, op. cit., hlm. 341

  • 50

    seakan-akan orang Kristen sudah tahu segala-galanya dan orang-orang

    yang bukan Kristen tidaki tahu apa-apa. Orang-orang bukan Kristen

    juga mempunyai iman serta keyakinan dan tidak mungkin

    memberitakan Injil tanpa memberi perhatian penuh kepada keyakinan

    dan iman ini. Namun kata dialog tidak semata-mata dimaksudkan

    sebagai kata halus untuk pekabaran Injil. Usaha untuk mengadakan

    dialog didorong oleh pendapat bahwa bagaimanapun juga cara terbaik

    untuk bersaksi mengenai iman sendiri kepada orang lain, perlu orang-

    orang yang berbeda agama, saling mengenal dan mengerti dalam dunia

    dimana komuniaksi dan pergaulan antar manusia semakin intensif.50

    Hal itu pada saat sekarang menumbuhkan ide Oikoumene

    global, yang tidak hanya membawa bentuk penyatuan antara orang-

    orang Kristen tetapi juga penyatuan seluruh keyakinan yang berbeda di

    dunia. Dialog antar iman antar anggota keimanan yang berbeda telah

    meningkatkan kesadaran dimensi global dalam persoalan agama. Para

    teolog terkemuka, juga para pemikir agama, mulai membahas persoalan-

    persoalan global, yang menekankan saling keterkaitan dalam ide-ide

    keagamaan dan kehidupan spiritual seperti dalam permasalahan

    ekonomi.51

    Gagasan untuk mengadakan dialog dengan orang-orang dari

    agama lain sebenarnya terdengar sejak permulaan gerakan Oikoumene

    pada konperensi pekabaran Injil di Edinburgh (1910) dan dapat didengar

    juga pada konperensi IMC di Yerussalem (1928) dan Tambaran (1938).

    Dialog pada waktu itu terutama dilihat sebagai usaha untuk mengambil

    yang paling baik dari semua agama. Pada Sidang Raya DGD di

    Evanston (1954), dalam laporan mengenai Evangelism muncul motif

    baru untuk mengadakan dialog. Dikatakan bahwa kebangkitan agama-

    50Cristian D. Jonge, op.cit., hlm. 181-182 51Mukti Ali, op.cit., hlm. 6

  • 51

    agama lain dan ideologi-ideologi sesudah perang dunia ke II memaksa

    gereja untuk memikirkan cara-cara lain untuk mengkomunikasikan

    Injil.52

    Dalam diskusi tentang peranan orang-orang Kristen di Nattion-

    Building timbul kesadaran bahwa selain ideologi juga agama

    memainkan peran penting. Pada tahun 1967 diadakan konsultasi di

    Kandy (Sri Langka) tentang Christians in Dialogue With Man of Other

    Faiths (orang-orang Kristen dalam dialog dengan orang-orang yang

    berkepercayaan lain). Pada tahun 1970 untuk pertama kalinya dapat

    diadakan konsultasi dengan penganut agama-agama lain (Hindu, Budha,

    Islam) yang diadakan di kota Ajaltun di Libanon. Sebelumnya hanya

    diadakan konperensi-konperensi bilateral khususnya dengan orang-

    orang Islam (Bharndoun, Libanon 1955 ; Alexaderia, Mesir 1955,

    diadakan World Fellowship of Muslim and Christians, persekutuan

    orang-orang Islam-Kristen sedunia). Pada tahun 1971 diputuskan untuk

    membentuk sub unit khusus, dalam unit Faith and Witness untuk

    dialog dengan nama Dialogue With People of Ulang Faiths and

    Ideologies, yang diperoleh oleh Sumartha.53

    F. Tantangan dan Hambatan Gerakan Oikoumene

    Memang konflik agama dan politik merupakan bagian integral

    setiap yang dialami masyarakat. Majid Tehranian (1995 : 283) yang

    mengelompokkan modernisasi menjadi 6 tahap, mengatakan bahwa

    Tahap keenam modernisasi ditandai dengan adanya pilihan-pilihan

    ideologis yang terentang. Antara dialog versus perbenturan peradapan;

    Oikoumene versus fundamentalis; dan kapitalis totalitarian versus

    komunitarian. Ideologi-ideologi ini memandang planet bumi sebagai

    52Cristian D. Jonge, op. cit., hlm. 182-183 53Ibid., hlm. 183-184

  • 52

    sistem organis yang menyatu secara tunggal atau sebagai perangkat

    peradaban, agama atau blok regional yang saling berbenturan. 54

    Pada uraian sebelumnya, sudah disinyalir tentang adanya

    tantangan dan hambatan di dalam gerakan Oikoumene. Pada umumnya

    tidak ada perbedaan yang psinsipil antara keyakinan yang dimiliki dan

    diajarkan gerkan Injili (yang kemudian mempelopori adanya gerakan

    Oikoumene) dengan yang diaut oleh gereja-gereja arus utama. Memang

    begitulah halnya, dan justru karena itulah gerakan Injili bisa masuk dan

    merembes ke ana-mana karena tidak ada satu gerejapun yang berpegang

    pada Alkitab dan ajaran pada reformator (yang biasa disebut ajaran

    ortodoks atau ortodoksi), yang sering berbeda adalah gaya

    penyampaiannya atau penekanannya dan penafsiran atas beberapa

    pokok, misalnya tentang kemutlakan Alkitab, tentang arti keselamatan

    (apakah hanya jiwa atau seluruh keberadaan manusia, apakah baru

    terwujud nanti di surga atau sudah mulai terwujud di sunia ini. Apakah

    bersifat pribadi atau kolektif dan mencakup seluruh ciptaan), tentang

    makna dan tujuan perjanjian (apakah sama dengan mengKristenkan dan

    menumbuhkan gereja, atau memberlakukan damai sejahtera yang dari

    Allah dalam setiap bidang kehidupan).

    Perbedaan-perbedaan ini tentu bisa dipertajam bila masing-

    masing pihak menganggap penafsirannya yang paling benar seraya

    menyerang dan mempersalahkan penafsiran pihak lain. Ini misalnya kita

    lihat dalam pertentangan antara kubu Ekuiminal (Oikoumenekal) yang

    antara lain diwakili oleh WCC/DGD, CWF dan WARC versus kubu

    Injili yang antara lain diwakili oleh NAE, WEF dan LCWE yang

    54Abu Zahra (ed.), Politik Demi Tuhan (Nasionalisme Religius di Indonesia), Pustaka

    Hidayah, Bandung, 1999, hlm. 89

  • 53

    berkobar terutama sejak akhir 1960-an, kendati sejak 1980-an ada upaya

    memperdamaikannya. 55

    Dalam bidang diskusi Oikoumene, Dewan Gereja se-Dunia

    telah menjadi sadar akan adanya rasa ketidakpuasan yang cukup

    tersebar, terutama antara ahli-ahli kitab, tentang cara kitab yang

    digunakan dalam paper-paper (kertas-kertas kerja) penelitian

    Oikoumene sesudah perang. Bahkan pada puncaknya, rasa

    ketidakpuasan itu mengakibatkan suatu keretakan yang cukup

    mendalam antara ahli-ahli Evangelis dan teolog-teolog. Maka adanya

    keretakan ini merupakan sebab utama, mengapa Dewan Gereja-gereja

    se-Dunia memulai suatu penelitian Oikoumene yang baru tentang

    kewibawaan Alkitab. Dokumen penelitian, yang disiapkan untuk

    merangsang riset itu, dapat dibaca dalam the Ekumenical Review No. 21

    tahun 1969 halaman 135 166. 56 Jelas dari dokumen penelitian tersebut

    bahwa para penyusunnya telah undur dari konsep bahwa hanya Alkitab

    yag merupakan unsur pemersatu, yang dimiliki bersama oleh gereja-

    gereja yang masih berpisah.

    Hambatan lain terlihat dari perlawanan terhadap penggabungan

    antara IMC dan DGD muncul di kalangan gereja-gereja Ortodoks dan

    kaum Evangelikal. Gereja-gereja Ortodoks khawatir bahwa

    penggabungan ini membuka pintu untuk proselitisme (memenangkan

    orang dari gereja-gereja lain). Seperti telah dialami mereka dari pihak

    Katolik-Roma dan Protestan. Kaum Evangelikal melihat dalam

    keputusan New Delhi bukti lagi bahwa gereja-gereja Oikoumene telah

    melupakan tugas mengkabarkan Injil. Mereka mengadakan kongres

    internasional di Lausanne (1974) dan pada pertemuan continuation

    55 Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, BPK.

    Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hlm. 252 56 James Barr, Alkitab di Dunia Modern, (terj. I.J. Cairns), Gunung Mulia, Jakarta, 1993,

    hlm. 15-16

  • 54

    committee Gerakan Lausanne ini di Mexico (1975) Consultative

    Council of World Evangelicals (Dewan Penasehat Kaum Injili

    Sedunia).57

    Perlawanan itu juga muncul dari sikap gereja Katolik-Roma

    yang dengan tegas menyatakan bahwa keesaan Kristen itu terlihat dari

    kepaulusan artinya Paus sendiri adalah merupakan lambang dari orang-

    lambang Kristen yang bersatu.

    Seperti yang dijelaskan di atas bahwa banyak orang Kristen

    Evangelis yang memandang gereja Oikoumene sebagai sebuah gerakan

    kompromis dan pelecehan terhadap keyakinan Kristen. Maka di

    samping gerakan menuju rekonsiliasi diantara orang-orang Kristen,

    terdapat juga gerakan Evangelis sebagai protes atas kecenderungan itu,

    dan karenanya, meski beberapa perpecahan lama sedang ditanggulangi,

    atau setidaknya dimoderatkan, namun perpecahan yang lain muncul

    sampai taraf tertentu. Beberapa komentatator tentang keadaan dunia

    Kristen pada masa sekarang menyatakan bahwa ada dua bentuk agama

    Kristen yang berlaku; pertama Oikoumene, sebuah bentuk yang tidak

    hanya membentuk gereja-gereja Kristen Protestan yang telah mapan

    tetapi juga gereja-gereja Ortodoks, bahkan gereja Katolik-Roma (sebuah

    gerakan yang bersikap terbuka terhadap ideologi-ideologi lain, agama-

    agama lain, sosial politik, ekonomi) bahkan memandang seluruh dunia

    beserta isinya sebagai keseluruhan ciptaan Allah yang menjadi lapangan

    perkabaran Injil. Yang kedua Evangelis. 58

    Hambatan dari dalam muncul ketika berhadapan dengan

    persoalan konferensional di dalam gerakan Oikoumene. Pemahaman

    yang lebih menjurus menuju kepada pemahaman baru muncul pada abad

    57 Christian de Jonge, Menuju Keesaan op. cit., hlm. 17-18 58 Hugh Goddard, Menepis Standar Ganda (Membangun Saling Pengertian Muslim-

    Kristen), Adipura, Yogyakarta, 2000, hlm. 173-174

  • 55

    pertengahan lalu, ketika kata Oikoumene mulai diartikan sebagai rela

    untuk melampaui dan mengatasi batas-batas konfensional yang

    memisahkan orang-roang Kristen. Pemahaman ini tidak langsung

    diterima. Pada umumnya pada kira-kira tahun 1920 kata Oikoumene

    masih dimengerti dalam arti tradisional, yakni secara geografis atau

    berhubungan dengan gereja, sebagai sinonim dengan katolik, universal,

    berwibawa. Namun, khususnya karena usaha Natahan Soderblom,

    seorang pelopor Life and Work. Pemahaman modern mulai diterima

    secara umum. Mulai disadari bahwa gereja belum Oikoumene kalau

    masih ada tembok-tembok pemisah antara gereja-gereja Protestan,

    gereja-gereja Ortodoks dan gereja Katolik-Roma, seperti yang telah

    dijelaskan panjang lebar pada uraian-uraian sebelumnya. 59

    Jadi, arti dari kata Oikoumene tidak lagi menunjuk kepada

    seuatu kenyataan, seperti dahulu, tetapi kepada suatu tujuan yang

    hendak dicapai melalui suatu usaha dan pergumulan atau melalui suatu

    wadah yang terorganisir dengan baik.

    59 Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja op. cit., hlm. xviii