BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian .2. Situasi tutur Rustono (1999:25) mengemukakan

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian .2. Situasi tutur Rustono (1999:25) mengemukakan

9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

Penelitian mengenai pelanggaran prinsip kerja sama dan implikatur sudah

banyak dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan

terlebih dahulu dan relevan dengan masalah yang diteliti penulis dalam penelitian

ini akan dipaparkan sebagai berikut.

Waluyo (2009) dalam skripsinya yang berjudul Pelanggaran Prinsip Kerja

Sama dan Prinsip Kesopanan Dalam Percakapan Lum Kelar di Radio SAS FM

menyimpulkan penelitian sebagai berikut, pertama, ditemukan adanya

pelanggaran terhadap prinsip kerjasa dalam tuturan Lum Kelar. Pelanggaran

prinsip kerjasama terjadi terhadap empat maksim, yaitu (a) pelanggaran maksim

kuantitas, (b) pelanggaran maksim kualitas, (c) pelanggaran maksim relevansi,

dan (d) pelanggaran maksim pelaksanaan. Pelanggaran prinsip kerja sama yang

paling banyak terjadi terhadap maksim kualitas. Kedua, ditemukan adanya

pelanggaran terhadap prinsip kesopanan dalam percakapan Lum Kelar.

Pelanggaran hanya terjadi terhadap lima maksim dari enam maksim yang tercakup

dalam prinsip ini. Pelanggaran-pelanggaran yang dimaksud adalah (a) pelanggaran

maksim kebijaksanaan, (b) pelanggaran maksim penerimaan, (c) pelanggaran

maksim kemurahan, (d) pelanggaran maksim kerendahan hati,dan (e) pelanggaran

maksim kecocokan. Pelanggaran terhadap maksim kesimpatian tidak ditemukan

dalam penelitian ini. Ketiga, tuturan Lum Kelar mengandung beberapa macam

implikatur percakapan. Implikatur-implikatur tersebut digunakan antara lain

10

untuk (a) menegaskan, (b) mengeluh, (c), menciptakan humor, (d) menyindir, (e)

memastikan, (f) menolak, (g) menyombongkan diri, (h) mengejek, dan (i)

menyatakan rasa kesal. Dalam percakapan Lum Kelar, implikatur percakapan

terbanyak digunakan untuk humor. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk

menarik minat pendengar, agar mau mendengarkan Lum Kelar dari awal hingga

akhir.

Nurul Hidayati (2010) dalam skripsi yang berjudul, Implikatur

Percakapan sebagai Unsur Pengungkapan Humor dalam Komedi OKB di

Trans 7 (Sebuah Tinjauan Pragmatik) menyimpulkan penelitian sebagai berikut

terdapat 4 bentuk pelanggaran prinsip kerja sama yang terdapat dalam komedi

OKB. Pelanggaran itu meliputi pelanggaran maksim kuantitas,

pelanggaran maksim kualitas, pelanggaran maksim relevansi

(hubungan), dan pelanggaran maksim cara (pelaksanaanan). Pelanggaran

prinsip kerja sama yang terjadi didominasi oleh pelanggaran terhadap

maksim cara (palaksanaan), hal ini terjadi karena cara bertutur yang tidak

secara langsung, ambigu, berkepanjangan dan tidak teratur.

Pada pelanggaran prinsip kerja sama yang terdapat dalam komedi OKB di

Trans 7 terdapat 10 implikatur sebagai unsur pengungkapan humor. Implikatur itu

meliputi menyindir, mengejek, menolak, menunjukkan suatu keadaan/

memberitahu, menyarankan, berjanji, berspekulasi, mengeluh, mengkritik, dan

menyombongkan diri. Di dalam komedi OKB implikatur sebagai unsur

pengungkapan humor yang terjadi didominasi oleh implikatur menyindir dan

mengejek yang menimbulkan jenis humor satire dan implikatur yang lain

menimbulkan jenis humor plesetan, sinisme, dan guyon parikena.

11

Durratun Nasihah Assholihah (2012) dalam skripsi yang berjudul,

Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Implikatur dalam Talk Show Provocative

Proactive di Metro TV menyimpulkan penelitian sebagai berikut, pertama, dari

analisis yang dilakukan pada talk show PP di Metro TV terdapat

pelanggaran prinsip kerja sama. Pelanggaran tersebut meliputi empat maksim

yang dikemukakan oleh Grice yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim

relevansi, dan maksim pelaksanaanan. Kedua, implikatur yang terdapat dalam

talk show PP di Metro TV sebanyak 19 jenis implikatur. Implikatur tersebut

adalah implikatur berjanji, implikatur kebanggaan, implikatur pemberitahuan,

implikatur alasan, implikatur harapan, implikatur tidak setuju, implikatur

sindiran, implikatur mengkritik, implikatur keraguan, implikatur pertanyaan,

implikatur gurauan, implikatur rayuan, implikatur perintah, implikatur

memuji, implikatur larangan, implikatur tawaran, implikatur pemberian saran,

implikatur ejekan, dan implikatur simpulan.

Penelitian-penelitian di atas merupakan kajian yang pernah mengkaji obyek

penelitian membahas mengenai masalah pelanggaran prinsip kerja sama dan

implikatur. Letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah

pada sumber data. Dalam penelitian ini sumber data penelitian berupa tuturan

yang diperoleh dari acara Raja Gombal di Trans 7.

Adanya ruang lingkup pemakaian bahasa yang diteliti berbeda, maka

kemungkinan hasil yang diperoleh pun akan berbeda. Dengan demikian,

penelitian ini membahas pelanggaran prinsip kerja sama dan implikatur dengan

sumber data penelitian yang berbeda dari penelitian terdahulu.

12

B. Landasan Teori

1. Pragmatik

Definisi pragmatik dalam Kamus Linguistik ada dua. Pertama, pragmatik

adalah syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam

komunikasi. Kedua, pragmatik adalah aspek-aspek pemakaian bahasa atau

konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran

(Harimurti Kridalaksana, 2008:176-177).

Yule mendefinisikan pragmatik ke dalam 4 definisi (dalam Indah Fajar

Wahyuni, 2006: 3-4). Pertama menurutnya pragmatik adalah studi tentang

maksud penutur. Hal tersebut karena pragmatik mempelajari makna yang

disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh petutur. Kedua, pragmatik adalah

studi tentang makna kontekstual. Pendekatan ini menjelaskan tentang bagaimana

cara penutur mengatur apa yang ingin mereka katakan dan disesuaikan dengan

orang yang diajak berbicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Ketiga,

pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan

daripada yang dituturkan. Keempat, pragmatik adalah studi tentang ungkapan dari

jarak hubungan. Keakraban antara penutur dan petutur mengisyaratkan adanya

pengalaman yang sama.

Menurut Kreidler dalam bukunya Introducing English Semantics (1998:

18), menyatakan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang

berhubungan dengan arti. Perbedaan antara pragmatik dan semantik dapat

ditunjukkan dari penyusun atau aspek kajian secara umum. Keduanya

berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa dengan

tepat. Dan memberikan batasan mengenai pengertian pragmatik, yaitu:

13

The chief focus of pragmatics is a persons ability to derive meanings

from specific kinds of speech situations-to recognize what the speaker is referring

to, to relate new information to what has gone before, to interpret what is said

from background knowledge about the speaker and the topic of discourse, and to

infer or fill in information that the speaker takes for granted and doesnt bother

to say. (Kreidler, 1998: 19)

Pernyataan di atas dapat diartikan bahwa fokus utama pragmatik adalah

kemampuan seseorang untuk mengartikan suatu tuturan berdasar situasi tutur

tertentu. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahui maksud pembicaraan penutur,

menghubungkan informasi baru dengan apa yang telah terjadi sebelumnya,

menyimpulkan atau 'mengisi' informasi yang penutur tuturkan sehingga tidak

perlu repot-repot untuk mengatakannya secara mendetail berdasar latar belakang

pengetahuan penutur dan mitra tutur mengenai topik pembicaraan.

Prakmatik menurut Levinson dalam Kunjana Rahardi (2005:48) adalah studi

bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Konteks yang

dimaksud tergramatisasi dan terkodifikasi sehingga tidak dapat dilepaskan dari

struktur bahasanya. Batasan Levinson mengenai pragmatic, yaitu:

Pragmatics is the study of those relations between language and context that

are grammaticalized, or encoded in the structure of a language (Levinson,

1983:9)

Pemberian batasan dalam ilmu pragmatik juga dilakukan oleh Leech (dalam

edisi terjemahan M. D. D. Oka, 1993:8) bahwa pragmatik merupakan studi

tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations).

Pragmatik mempelajari makna secara eksternal atau makna yang terikat

dengan konteks. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur

bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di

dalam komunikasi (I Dewa Putu Wijana, 1996: 1).

14

Rustono (1999:4) mendefinikan pragmatik sebagai bidang linguistik yang

mengkaji hubungan timbal balik antara fungsi dan bentuk. Di dalam batasan yang

sederhana itu, secara implisit tercakup penggunaan bahasa, komunikasi, konteks,

dan penafsiran.

2. Situasi tutur

Rustono (1999:25) mengemukakan bahwa Situasi tutur adalah situasi yang

melahirkan tuturan. Di mana tuturan merupakan akibat yang disebabkan oleh

situasi tutur. Maksud dari sebuah tuturan yang sebenarnya hanya bisa

teridentifikasi apabila kita mengetahui situasi tutur yang melatarbelakangi dan

mendukungnya.

Leech men