BAB II KONTROL DIRI DAN PERILAKU SOSIAL A. Kajian Teori ...sc. situasi sosial yang kemudian dapat mengatur

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KONTROL DIRI DAN PERILAKU SOSIAL A. Kajian Teori ...sc. situasi sosial yang kemudian dapat...

  • 11

    BAB II

    KONTROL DIRI DAN PERILAKU SOSIAL

    A. Kajian Teori

    1. Kontrol Diri

    a. Pengertian Kontrol Diri

    Skala kontrol diri mengungkap seberapa besar kontrol diri

    dalam diri yang mengacu pada teori kontrol personal Averill. Averill

    (1973 : 286-303) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol

    personal, yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif

    (Control Cognitive), dan mengontrol keputusan (Decisional Control).

    Calhoun dan Acocella (Ghufron, 2010 : 21) mendefinisikan

    kontrol diri (self control) sebagai pengaturan proses-proses fisik,

    psikologis, dan perilaku seseorang dengan kata lain serangkaian

    proses yang membentuk dirinya sendiri. Goldfried dan Merbaum

    dalam (Ghufron, 2010: 22) telah mendefinisikan kontrol diri sebagai

    suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan

    mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah

    konsekuensi positif.

    Kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam

    kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya. Selain itu, juga

    kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku

    sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam

    melakukan sosialisasi kemampuan untuk mengendalikan perilaku,

    kecenderungan menarik perhatian, keinginan mengubah perilaku agar

    sesuai untuk orang lain, menyenangkan orang lain, selalu konform

    dengan orang lain, dan menutupi perasaannya (Ghufron, 2010: 21).

    Dalam Kartini Kartono (2009), self-control atau kotrol diri

    adalah mengatur sendiri tingkah laku yang dimiliki. Kontrol diri juga

  • 12

    menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitif

    untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan

    hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan. Menurut Mahoney

    dan Thoresen dalam Ghufron (2010 : 23), kontrol diri merupakan

    jalinan secara utuh yang dilakukan individu terhadap lingkungannya.

    Individu dengan kontrol diri tinggi sangat memperhatikan cara-cara

    yang tepat untuk berperilaku dalam situasi yang bervariasi. Individu

    cenderung akan mengubah perilakunya sesuai dengan permintaan

    situasi sosial yang kemudian dapat mengatur kesan yang dibuat

    perilakunya lebih responsif terhadap petunjuk situasional, lebih

    fleksibel, berusaha untuk memperlancar interaksi sosial, bersikap

    hangat, dan terbuka (Ghufron, 2010 : 23).

    Berk (1993) mengemukakan bahwa self control adalah

    kemampuan individu untuk menahan keinginan dan dorongan sesaat

    yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan

    norma sosial. Sementara Messina dan Messina (2003) menyatakan

    bahwa pengendalian diri merupakan seperangkat tingkah laku yang

    terfokus pada keberhasilan mengubah diri pribadi, menangkal self-

    destructive, perasaan mampu pada diri sendiri, perasaan outonomy,

    atau bebas dari pengaruh orang lain, kebebasan menentukan tujuan,

    kemampuan untuk memisahkan perasaan dan pikiran rasional,

    seperangkat tingkah laku yang terfokus pada tanggung jawab pribadi

    (Daniel Goleman, 1996).

    Menurut Chaplin sebagaimana dikutip oleh Rahmat Aziz

    dalam jurnal Psikologi Islami mengemukakan bahwa kontrol diri (self

    control) adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah

    lakunya sendiri, kemampuan untuk menekan atau menghambat

    dorongan yang ada. Sementara itu menurut Marvin dan Merbaum

    bahwa kontrol diri secara fungsional didefinisikan sebagai konsep

    dimana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan untuk

    mengontrol tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara atau

  • 13

    teknik yang digunakan, melainkan juga berdasarkan konsekuensi dari

    apa yang mereka lakukan (Aziz, 2005: 156).

    Berdasarkan pengertian-pengertian dari beberapa ahli tersebut

    dapat disimpulkan bahwa kontrol diri berkaitan dengan bagaimana

    individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dari dalam

    dirinya. Kontrol diri melibatkan kemampuan untuk memanipulasi diri

    baik untuk mengurangi maupun meningkatkan perilakunya. Logue

    mengatakan bahwa pembentukan self control dipengaruhi oleh faktor

    genetik dan miliu. Anak-anak keturunan orang yang impulsif akan

    mempunyai kecenderungan berperilaku impulsif. Faktor miliu yang

    mempengaruhi perkembangan self control antara lain perilaku orang

    tua yang diamati anak, gaya pengasuhan, termasuk aspek budaya. Usia

    turut mempengaruhi kondisi kontrol diri pada anak. Kanak-kanak

    cenderung lebih impulsif dibanding anak yang lebih dewasa, artinya

    sejalan dengan bertambahnya usia anak, kemampuan mengen-dalikan

    diri akan semakin baik. Hal ini terjadi karena anak mengalami proses

    adaptasi ketika dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut

    kontrol diri (Logue,1995).

    Pembentukan self control sudah diawali sejak masa kanak-

    kanak, ketika anak masih dalam buaian orang tuanya. Dalam hal ini

    orang tua menjadi pembentuk pertama self control pada anak. Cara

    orang tua menegakkan disiplin, cara orang tua merespon kegagalan

    anak, gaya berkomunikasi, cara orang tua mengekspresikan

    kemarahan (penuh emosi atau mampu menahan diri) merupakan awal

    anak belajar tentang kontrol diri. Sejalan dengan bertambahnya usia

    anak, bertambah luas pula komunitas sosial mempengaruhi anak, serta

    bertambah banyak pengalaman-pengalaman sosial yang dialami. Anak

    belajar dari lingkungan bagaimana cara orang merespon terhadap

    suatu keadaan, anak belajar bagaimana merespon ketidaksukaan atau

    kekecewaan, bagaimana merespon kegagalan, bagaimana orang-orang

  • 14

    mengekspresikan keinginan atau pandangannya yang menuntut

    kemampuan kontrol diri.

    Dari berbagai kejadian, ada orang yang dapat mengendalikan

    diri secara baik, ada pula orang yang pengendalian dirinya rendah,

    setiap perilaku akan memberikan efek tertentu dan anak bisa belajar

    dari semua itu termasuk dari efek yang ditimbulkan dari suatu

    perilaku. Sebagaimana Bandura menyatakan bahwa seseorang tidak

    hanya belajar dari mengamati perilaku orang lain, tetapi juga belajar

    dari efek yang ditimbulkan oleh suatu perilaku (Bandura, 1977).

    Self control mempunyai peran besar untuk pembentukan

    perilaku yang baik dan kontruktif, Gul dan Pesendofer (2000)

    menyatakan fungsi pengendalian diri adalah untuk menyelaraskan

    antara keinginan pribadi self interest dengan godaan (temptation).

    Kemampuan seseorang mengendalikan keinginan-keinginan diri dan

    menghindari godaan ini sangat berperan dalam pembentukan perilaku

    yang baik. Ada kecenderungan manusiawi dalam diri anak untuk

    berperilaku semaunya, ada kecenderungan anak untuk menentang

    aturan, tidak patuh pada orang tua serta menuruti kemauan sendiri.

    Malas belajar, menyontek, tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR),

    menonton TV/film berjam-jam, bermain game, pulang larut malam,

    minuman keras adalah godaan-godaan yang mengganggu anak. Godaan

    tersebut dapat ditangkal dengan self control yang baik (Hart & Matsuba,

    2008 : 1048-1061).

    Gilliot et.al (2002) menyebutkan bahwa pengendalian diri

    dipengaruhi oleh emotion regulation antara lain: active distraction,

    pasive waiting, information gathering, comfort seeking, focus on dealy

    object, peach anger. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-

    anak yang dibesarkan dari keluarga miskin lebih sulit menahan diri

    (delayed gratification), resiliensi (kemampuan menghadapi stres dan

    tantangan hidup) yang lebih rendah, lebih aktif secara seksual, dan

    juga lebih tidak mengindahkan metode-metode pengamanan yang

  • 15

    dapat mencegah kehamilan atau penyakit menular seksual (Hart &

    Matsuba, 2008 : 1048-1061).

    Menurut Hanley dan Spatis menyatakan bahwa salah satu

    usaha untuk meningkatkan kontrol diri adalah dengan melakukan

    meditasi. Meditasi menurut Wals adalah atau metode latihan yang

    digunakan untuk melatih perhatian agar dapat meningkatkan taraf

    kesadarn, dan selanjutnya dapat membawa proses mental yang lebih

    terkontrol. Sementara itu Ornstein (1985) mengungkapkan bahwa

    esensi meditasi adalah usaha untuk membatasi kesadaran pada satu

    objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu. Dari kedua

    pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa meditasi dapat diartikan

    sebagai sekelompok teknik atau metode latihan yang digunakan untuk

    melatih perhatian agar terpusat dengan menggunakan objek stimuli

    yang tidak berubah pada waktu tertentu, sehingga kesadarannya

    menyatu dan proses mentalnya dapat dikontrol yang pada akhirnya

    perilaku seseorang akan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

    Kontrol diri merupakan kemampuan untuk mengatur membimbing

    dan mengarahkan bentuk-bentuk perilaku melalui pertimbangan

    kognitif sehingga bisa membawa ke arah positif (Hurlock, 2002).

    Kontrol diri melibatkan kemampuan untuk menahan keinginan dan

    menunda kepuasan termasuk kemampuan untuk memanipulasi diri,

    baik untuk mengurangi maupun meningkatkan perilaku (Bukhori,