of 44 /44
15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Asuransi 1. Pengertian Asuransi Istilah asuransi berasal dari bahasa Belanda ”Verzekering atau Assurantie”. Oleh R Sukardono diterjemahkan dengan pertanggungan, dalam bahasa Inggris disebut Insurance”. Istilah asuransi dan pertanggungan mempunyai persamaan pengertian, istilah pertanggungan ini umum dipakai dalam literatur hukum dan kurikulum perguruan tinggi hukum di Indonesia, sedangkan istilah asuransi banyak dipakai dalam praktik dunia usaha. Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai dalam perundang- undangan dan perusahaan perasuransian.Istilah perasuransian berasal dari kata “asuransi” diberi imbuhan per-an, maka muncullah istilah hukum “perasuransian” yang berarti segala usaha yang berkenaan dengan asuransi. Usaha yang berkenaan dengan asuransi ada 2 (dua) jenis, yaitu 13 : a. Asuransi dibidang kegiatan asuransi disebut usaha asuransi (insurance business). Perusahaan yang menjalankan usaha asuransi disebut Perusahaan Asuransi (insurance company). 13 Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hlm 5.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Asuransi ...eprints.umm.ac.id/52619/36/BAB II.pdf · Sumber hukum kepailitan maupun dasar hukum kepailitan bukan tentang diaturnya

  • Author
    others

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Asuransi ...eprints.umm.ac.id/52619/36/BAB...

  • 15

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Tinjauan Umum tentang Asuransi

    1. Pengertian Asuransi

    Istilah asuransi berasal dari bahasa Belanda ”Verzekering atau

    Assurantie”. Oleh R Sukardono diterjemahkan dengan pertanggungan,

    dalam bahasa Inggris disebut ”Insurance”. Istilah asuransi dan

    pertanggungan mempunyai persamaan pengertian, istilah pertanggungan

    ini umum dipakai dalam literatur hukum dan kurikulum perguruan tinggi

    hukum di Indonesia, sedangkan istilah asuransi banyak dipakai dalam

    praktik dunia usaha.

    Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai

    dalam perundang- undangan dan perusahaan perasuransian.Istilah

    perasuransian berasal dari kata “asuransi” diberi imbuhan per-an, maka

    muncullah istilah hukum “perasuransian” yang berarti segala usaha yang

    berkenaan dengan asuransi. Usaha yang berkenaan dengan asuransi ada 2

    (dua) jenis, yaitu

    13 :

    a. Asuransi dibidang kegiatan asuransi disebut usaha asuransi

    (insurance business). Perusahaan yang menjalankan usaha

    asuransi disebut Perusahaan Asuransi (insurance company).

    13 Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,

    2006, hlm 5.

  • 16

    b. Usaha dibidang kegiatan penunjang usaha asuransi disebut

    usaha penunjang usaha asuransi. Perusahaan yang menjalankan

    usaha penunjang usaha asuransi disebut Perusahaan Penunjang

    Asuransi.

    Menurut ketentuan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum

    Dagang (KUHD) pertanggungan atau asuransi adalah suatu perjanjian

    dengan mana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang

    tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan suatu

    penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau

    kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya

    karena suatu peristiwa yang tak tertentu. Menurut Abdulkadir

    Muhammad14, berdasarkan definisi tersebut dapat di uraikan unsur-unsur

    asuransi atau pertanggungan sebagai berikut:

    1) Unsur pihak-pihak Subjek asuransi adalah pihak-pihak dalam

    asuransi, yaitu penanggung dan tertanggung yang mengadakan

    perjanjian asuransi. Penanggung dan tertanggung memiliki hak dan

    kewajiban.Penanggung wajib memikul risiko yang dialihkan

    kepadanya dan berhak memperoleh pembayaran premi. Sedangkan

    tertanggung wajib membayar premi dan berhak memperoleh

    perlindungan dan ganti rugi atas harta miliknya.

    2) Unsur status Penanggung harus berstatus sebagai perusahaan badan

    hukum, dapat berbentuk Perseroan Terbatas (PT), Perusahaan

    14 Abdulkadir Muhammad, Ibid, hlm. 8

  • 17

    Perseroan (Persero) atau Koprasi. Tertanggung berstatus sebagai

    perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang sebagai pemilik

    atau pihak berkepentingan atas harta benda yang diasuransikan.

    3) Unsur objek Objek asuransi dapat berupa benda, hak atau

    kepentingan yang melekat pada benda dan sejumlah uang yang

    disebut sebagai premi.

    4) Unsur peristiwa Peristiwa asuransi adalah perbuatan hukum berupa

    persetujuan atau kesepakatan bebas antara penanggung dan

    tertanggung mengenai objek asuransi, peristiwa tidak pasti

    (evenemen) yang mengancam benda asuransi dan syarat-syarat yang

    berlaku dalam asuransi.

    5) Unsur hubungan asuransi Hubungan asuransi yang terjadi antara

    penanggung dan tertanggung adalah keterikatan (legally bound) yang

    timbul karena persetujuan atau kesepakatan bebas. Keterikatan

    tersebut berupa kesediaan secara sukarela dari penanggung dan

    tertanggung untuk memenuhi kewajiban dan hak masing-masing

    terhadap satu sama lain, yang artinya sejak tercapainya kesepakatan

    asuransi tertanggung terikat dan wajib membayar premi asuransi

    kepada penanggung dan sejak itu pula penanggung menerima

    pengalihan risiko.

    Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor

    2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian (UUUP)

    “asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak

    atau lebih dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri

  • 18

    kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk

    memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,

    kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau

    tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan

    di derita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang

    tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang

    didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang

    dipertanggungkan”.

    Dari pengertian di atas, di dalam bukunya Djoko Prakoso dan I

    Ketut Murtika,15 Emmy Pangaribuan berpendapat sebagai berikut:

    “Pertanggungan adalah suatu perjanjian dimana penanggung

    dengan menikmati suatu premi mengikatkan dirinya terhadap

    tertanggung untuk membebaskan diri dari kerugian karena

    kehilangan, kerugian atau ketiadaan keuntungan yang

    diharapkan yang akan dapat diderita olehnya karena suatu

    kejadian yang belum pasti”.

    Asuransi ialah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-

    kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (substitusi)

    kerugian-kerugian yang belum pasti.16

    Asuransi adalah upaya yang dapat dimanfaatkan untuk

    mengatasi kemungkinan timbul kerugian akibat terjadi peristiwa yang

    tidak pasti dan tidak diinginkan. Melalui perjanjian asuransi

    kemungkinan peristiwa yang menimbulkan kerugian yang mengancam

    kepentingan tertanggung itu dialihkan kepada Perusahaan Asuransi

    selaku penanggung dan sebagai imbalannya tertanggung bersedia untuk

    membayar sejumlah premi yang telah disepakati. Dalam hal ini,

    tertanggung yang berkepentingan akan merasa aman dari ancaman

    15Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, Hukum Asuransi Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta,

    1992, hlm. 22 16 H. Abbas Salim, Asuransi dan Managemen Resiko, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,

    1998, hlm. 1

  • 19

    kerugian, sebab jika kerugian itu betul-betul terjadi penanggunglah yang

    akan menggantinya.17

    Pengertian asuransi menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 40

    Tahun 2014 Tentang Perasuransian yang berbunyi :

    “Asuransi adalah perjanjian antara 2 pihak, yaitu perusahaan

    asuransi dan pemegang polis yang menjadi dasar bagi penerimaan

    premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk :

    a. Memberikan pergantian kepada tertanggung atau pemegang

    polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul,

    kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada

    pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau

    pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak

    pasti; atau

    b. Memberikan pembayaran yang di dasarkan pada

    meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang

    didasarakan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang

    besarnya telah ditetapkan dan/atau di dasarkan pada hasil

    pengelolaan dana

    Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan NOMOR 23/POJK.05/2015

    Tingkat Premi atau Kontribusi dinilai mencukupi, apabila:

    1. tidak terlalu rendah sehingga sebanding dengan manfaat yang

    diperjanjikan dalam Polis Asuransi yang bersangkutan;

    17 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit hlm. 162

  • 20

    2. penerapan tingkat Premi atau Kontribusi secara berkelanjutan tidak

    akan membahayakan tingkat solvabilitas Perusahaan; dan

    3. penerapan tingkat Premi atau Kontribusi secara berkelanjutan tidak

    akan merusak iklim kompetisi yang sehat.

    Tingkat Premi atau Kontribusi dinilai berlebihan apabila sedemikian

    tinggi sehingga sangat tidak sebanding dengan manfaat yang

    diperjanjikan dalam Polis Asuransi yang bersangkutan. Penerapan tingkat

    Premi atau Kontribusi dinilai bersifat diskriminatif apabila tertanggung

    dengan luas penutupan yang sama serta dengan jenis dan tingkat risiko

    yang sama dikenakan tingkat Premi atau Kontribusi yang berbeda.18

    2. Jenis Asuransi

    Asuransi pada umumnya dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:

    Asuransi Kerugian dan Asuransi Jiwa.

    a. Asuransi Kerugian terdiri dari:

    1) Asuransi Kebakaran;

    2) Asuransi Kehilangan dan Kerusakan;

    3) Asuransi laut;

    4) Asuransi Pengangkutan;

    5) Asuransi Kredit.

    b. Asuransi Jiwa terdiri dari

    1) Asuransi Kecelakaan;

    18Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan NOMOR 23/POJK.05/2015 Tentang

    Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi Pasal 3huruf a

  • 21

    2) Asuransi Kesehatan;

    3) Asuransi Jiwa Kredit.

    Pertanggungan jiwa adalah perjanjian timbal balik diantara penutup

    (pengambil) asuransi dengan penanggung, dengan mana penutup

    (pengambil) asuransi mengikatkan diri selama jalannya pertanggungan

    membayar uang premi kepada penanggung, sedangkan penanggung

    sebagai akibat langsung meninggalnya orang yang jiwanya

    dipertanggungkan atau telah lampau jangka waktu yang diperjanjikan,

    mengikatkan diri untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada orang

    yang ditunjuk oleh penutup (pengambil asuransi sebagai penikmatnya)19.

    Risiko kehidupan yang tidak tentu yang akan dialami oleh setiap

    manusia sebagai ciptaan Tuhan adalah kematian, “Risiko pribadi berkaitan

    dengan kerugian yang menimpa manusia pribadi, misalnya, karena

    meninggal dunia, kecelakaan, usia tua, dan sebagainya”20.

    Dalam menghindari risiko dari peristiwa terhadap jiwa seseorang,

    dapat dilakukan dengan mengalihkan suatu risiko tersebut dengan suatu

    pertanggungan pada perusahaan asuransi jiwa, Dessy Danarti mengatakan,

    “Perusahaan asuransi jiwa adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam

    penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya

    seseorang yang dipertanggungkan”21.

    19 Abdulkadir Muhammad, 2002. Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung,, hlm.

    195-196. 20 Man Suparman Sastrawidjaja, 2012. Aspek-Aspek Hukum Asuransi, dan Surat Berharga,

    Alumni, Bandung, hlm. 6. 21 Dessy Danarti, 2011. Jurus Pintar Asuransi – Agar Anda Tenang, Aman, dan Nyaman,

    Gmedia, Yogyakarta, hlm. 48.

  • 22

    Perjanjian asuransi jiwa disamping memberikan media perlindungan

    juga menjadi media investasi. Apabila terjadi peristiwa (evenement)

    meninggalnya tertanggung, maka penanggung wajib membayarkan uang

    santunan berupa dana pertanggungan, namun apabila sampai berakhirnya

    jangka waktu asuransi tidak terjadi suatu evenement atau peristiwa

    meninggalnya tertanggung, maka penanggung wajib membayarkan

    sejumlah uang pengembalian kepada tertanggung22.

    Asuransi jiwa berakhir bukan berakhir pada saat tertanggung

    meninggal dunia, melainkan setelah penanggung membayarkan uang

    santunan kepada penerima manfaat/ahli waris. Pasal 1234 Kitab Undang-

    undang Hukum Perdata menentukan, “tiap-tiap perikatan adalah untuk

    memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat

    sesuatu”. Dalam konteks perjanjian asuransi, subjeknya adalah perjanjian

    untuk berbuat sesuatu. “Bagi penanggung yaitu janji penanggung untuk

    memberikan penggantian atas kerugian atau kehilangan atau tanggung

    jawab yang timbul atau manfaat asuransi yang sah”. Asuransi jiwa

    berakhir sejak penanggung melunasi uang santunan sebagai akibat dari

    meninggalnya tertanggung. “Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir sejak

    terjadinya evenement yang diikuti dengan pelunasan klaim”23.

    Pada masa asuransi jiwa berakhir tanpa terjadi evenemen, pemegang

    polis atau tertunjuk berhak mendapatkan pengembalian sejumlah uang

    tertentu dari penanggung sesuai dengan perjanjian dalam polis. Ketentuan

    22 Abdulkadir Muhammad, Op Cit, hlm. 198 23 Abdulkadir Muhammad, Loc.Cit.

  • 23

    tersebut diatur dalam Pasal 1 ayat (1) huruf b UU No. 40 Tahun 2014 yang

    menyatakan: “……memberikan pembayaran yang didasarkan pada

    hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan

    atau didasarkan atass hasil pengelolaan dana”.

    Kewajiban-kewajiban dari pemegang polis atau pengambil asuransi

    antara lain24:

    1) Kewajiban membayar premi kepada penanggung. Ketentuan

    mengenai kewajiban membayar premi bagi pemegang polis

    asuransi kepada penanggunng diatur dalam Pasal 246 KUHD

    dan Pasal 1 ayat (1) UU Perasuransian. Premi merupakan

    kewajiban pemegang polis untuk membayarnya kepada

    penanggung sebagai kontra prestasi dari ganti kerugian atau

    uang santunan yang akan penanggung berikan padanya, premi

    merupakan syarat esensial dalam perjanjian asuransi.

    2) Kewajiban untuk memberikan keterangan-keterangan yang

    diperlukan oleh penanggung dengan itikad baik. Adanya

    ketentuan yang mewajibkan kepada pemegang polis supaya

    memberitahukan tentang keadaan objek yang akan

    diasuransikannya dengan dilandasi iktikad baik.

    24 Man Suparman Sastrawidjaja, Aspek-aspek Hukum Asuransi dan Surat Berharga, Cet. 2,

    Alumni, Bandung, 2003, hlm. 32

  • 24

    3. Dasar Hukum Asuransi

    Adapun dasar hukum asuransi adalah sebagai berikut :

    a. Kitab Undang-Undang KUHPerdata diantaranya Pasal 1138, 1320

    b. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Pasal 246, 255, 256, 257,

    258

    c. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha

    Perasuransian

    d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian

    e. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan NOMOR 23/POJK.05/2015

    Undang-Undang yang mengatur tentang asuransi yang pailit :

    Dalam lampiran Undang-Undang No.4 tahun 1998 pasal 1 ayat (1)

    mendefinisikan agak berbeda dalam ketentuan yang baru yang artinya

    “Debitur yang mempunyai dua atau lebih debitur dan tidak membayar

    sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan

    pailit dengan putusan pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud

    dalam pasal (2) baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan

    seorang atau lebih krediturnya. Pengertian mengenai kepailitan ini banyak

    ditafsirkan dari berbagai perspektif namun pengertian itu tidak lepas dari

    esensi yang mengartikan bahwa seperti apa yang sudah tercantum dalam

    Undang-Undang Kepailitan No 37 tahun 2004 adalah:sita umum atas

    semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya

    dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas

    sebagaimana diatur dalam undang-undang ini (Pasal 1 ayat (1).

  • 25

    Sumber hukum kepailitan maupun dasar hukum kepailitan bukan

    tentang diaturnya hukum kepailitan, tetapi dasar mengapa dapat dilakukan

    penyitaan terhadap harta benda atau harta kekayaan Debitor pailit, Adapun

    yang dimaksud dengan dasar atau sumber yang mendasari dari hukum

    kepailitan di Indonesia antara lain mengacu pada:

    1) Pasal 1131 KUH perdata yang berbunyi: Segala kebendaan si

    berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang

    sudah ada maupun yang akan ada di kemudian hari, menjadi

    tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Dari ketentuan

    tersebut dapat diketahui bahwa debitor bertanggung jawab terhadap

    utang-utangnya, tanggung jawab tersebut di jamin dengan harta yang

    ada dan yang akan ada di kemudian hari, baik harta ynag bergerak

    maupun harta ynag tidak bergerak. Ketentuan ini merupakn tanggung

    jawab atas utang debitor. Asas ini untuk melindungi kreditor, supaya

    seimbang dengan hak yang sudah diberikan kepada debitor.

    2) Pasal 1132 KUH Perdata yang berbunyi

    Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-ssama bagi semua

    orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-

    benda itu di bagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar

    kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para

    berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk di dahulukan. Pasal di

    atas meerupakan alasan untuk menentukan beberapa hal dalam

    hubungan dengan utang piutang yaitu:

  • 26

    a) Jaminan kebendaan berlaku bagi semua kreditor;

    b) Apabila debitor tidak melaksanakan kewajibannya kebendaan

    tersebut akan di jual.

    c) Hasil penjualan di bagikan kepada kreditor berdasarkan besar

    kecilnya piutang (Asas keseimbangan atau pondspondsgewijs);

    d) Terdapat kreditor yang didahulukan dalam memperoleh

    bagiannya (Kreditor Preferent dan Kreditor separatis)

    3) Het Herziene Indonesche Reglement (HIR)

    4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

    penundaan kewajiban pembayaran.

    4. Polis Asuransi

    Dalam uraian bab terdahulu telah dikemukakan Pasal 255

    KUHDagang menyebutkah bahwa suatu perjanjian asuransi harus dibuat

    secara tertulis dalam suatu akta yang dinamakan polis. Kesimpulan

    minimal dari pasal tersebut adalah bahwa polis merupakan syarat mutlak

    pada perjanjian asuransi. Akan tetapi kesimpulan tersebut belum

    maksimal setelah dilakukan penafsiran secara sistematis dengan

    memperhatikan Pasal 257 dan Pasal 258 KUHDagang, sebagaimana telah

    diutarakan pada bab di muka, Berdasarkan kedua pasal dimaksud

    diperoleh kesimpulan maksimal bahwa polis dalam perjanjian asuransi

    tidak merupakan syarat mutlak, tetapi hanya merupakan alat bukti saja.

    Meskipun demikian sesuai dengan asas kebebasan berkontrak yang

  • 27

    tersimpul dari Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata diperkenankan saja

    apabila para pihak memperjanjikan bahwa perjanjian asuransi baru

    berlangsung setelah polis selesai atau setelah diserahkan kepada

    tertanggung. Dalam hal yang demikian berarti polis dijadikan sebagai

    syarat mutlak pada perjanjian asuransi yang bersangkutan. 25

    a. Fungsi Polis

    Memuat kesepakatan, syarat-syarat khusus dan janji-janji

    khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban para

    pihak (penanggung dan tertanggung) dalam mencapai tujuan

    asuransi. Dengan demikian, polis merupakan alat bukti tertulis

    tentang telah terjadinya perjanjian asuransi antara tertanggung dan

    penanggung.

    Mengingat fungsinya sebagai alat bukti tertulis maka para

    pihak (khususnya Tertanggung) wajib memperhatikan kejelasan isi

    polis dimana sebaiknya tidak mengandung kata-kata atau kalimat

    yang memungkinkan perbedaan interpretasi sehingga dapat

    menimbulkan perselisihan (dispute).

    b. Isi Polis

    Menurut ketentuan pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali

    mengenai asuransi jiwa harus memuat syarat-syarat khusus berikut

    ini:

    25Dr. Man Suparman Sastrawidjaja, S.H., S.U & Endang S.H, 1997, Hukum Asuransi

    Perlindungan Tertanggung Asuransi Deposito Usaha Perasuranisan, Bandung,Penerbit Alumni.,

    hlm. 144.

  • 28

    1) Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi;

    2) Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga;

    3) Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan;

    4) Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan);

    5) Bahaya-bahaya/ evenemen yang ditanggung oleh penanggung;

    6) Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi

    tanggungan penanggung;

    7) Premi asuransi;

    8) Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh

    penanggung dan segala janji-janji khusus yang diadakan antara

    para pihak, antara lain mencantumkan BANKER’S CLAUSE,

    jika terjadi peristiwa (evenemen) yang menimbulkan kerugian

    penanggung dapat berhadapan dengan siapa pemilik atau

    pemegang hak.

    Untuk jenis asuransi kebakaran Pasal 287 KUHD menentukan

    bahwa di dalam polisnya harus pula menyebutkan:

    1. Letak barang tetap serta batas-batasnya;

    2. Pemakaiannya;

    3. Sifat dan pemakaian gedung-gedung yang berbatasan, sepanjang

    berpengaruh terhadap obyek pertanggungan;

    4. Harga barang-barang yang dipertanggungkan;

  • 29

    5. Letak dan pembatasan gedung-gedung dan tempat-tempat

    dimana barang-barang bergerak yang dipertanggungkan itu

    berada.

    4. Batalnya Asuransi

    Suatu pertanggungan atau asuransi karena pada hakekatnya

    adalah merupakan suatu perjanjian maka ia dapat pula diancam dengan

    resiko batal atau dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat syahnya

    perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

    Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila dalam

    perjanjian asuransi:

    1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila

    tertanggung tidak memberitahukan hal-hal yang diketahuinya

    sehingga apabila hal itu disampaikan kepada penanggung akan

    berakibat tidak ditutupnya perjanjian asuransi tersebut (Pasal 251

    KUHD);

    2. Memuat suatu kerugian yang sudah ada sebelum perjanjian asuransi

    ditandatangani (Pasal 269 KUHD);

    3. memuat ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan

    melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari segala

    kewajibannya yang akan datang (Pasal 272 KUHD);

    4. Terdapat suatu akalan cerdik, penipuan, atau kecurangan si

    tertanggung (Pasal 282 KUHD);

  • 30

    5. Apabila obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-

    undangan tidak boleh diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik

    kapal Indonesia atau kapal asing yang digunakan untuk mengangkut

    obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak

    boleh diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).

    Terhadap pelanggaran ketentuan yang dilakukan Penanggung dan

    Tetanggung dapat dikenakan sanksi berupa: Sanksi Administratif,

    (berlaku hanya untuk perusahaan perasuransian, bukan pada

    tertanggung); dan Sanksi Pidana.

    Setiap Perusahaan Perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan

    dalam Peraturan Pemerintah No.73 tahun 1992 tertanggal 30 Oktober

    1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (“PP No.73/1992”)

    serta peraturan pelaksanaannya yang berkenaan dengan:

    1. Perizinan usaha;

    2. Kesehatan keuangan;

    3. Penyelenggaraan usaha;

    4. Penyampaian laporan;

    5. Pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi atau tentang

    pemeriksaan langsung;

    dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan kegiatan usaha dan

    sanksi pencabutan izin usaha (Pasal 37 PP No.73/1992).

    Tanpa mengurangi ketentuan Pasal 37, maka terhadap:

  • 31

    1. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang tidak

    menyampaikan laporan keuangan tahunan dan laporan operasional

    tahunan dan atau tidak mengumumkan neraca dan perhitungan laba

    rugi, sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan

    denda administratif Rp. 1.000.000 (satu juta Rupiah) untuk setiap

    hari keterlambatan;

    2. Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi

    yang tidak menyampaikan laporan operasional tahunan sesuai

    dengan jangka waktu yang ditetapkan dikenakan denda

    administratif Rp. 500.000 (lima ratus ribu Rupiah) untuk setiap

    hari keterlambatan (Pasal 38 PP No.73/1992).26

    B. Tinjauan Umum tentang Kepailitan

    1. Pengertian Kepailitan

    Pengertian atau definisi kepailitan yang terdapat dalam Pasal 1

    angka 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut UU-

    KPKPU) adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor pailit yang

    pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah

    pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-

    Undang ini.

    26Peraturan Pemerintah No.73 tahun 1992 tertanggal 30 Oktober 1992 tentang

    Penyelenggaraan Usaha Perasuransian

  • 32

    Kepailitan juga diartikan sebagai suatu proses dimana27:

    1. Seorang Debitor yang mempunyai kesulitan keuangan untuk

    membayar utangnya dinyatakan pailit oleh pengadilan, dalam hal

    ini Pengadilan Niaga dikarenakan Debitor tersebut tidak dapat

    membayar utangnya.

    2. Harta Debitor dapat dibagikan kepada para Kreditor sesuai dengan

    peraturan kepailitan.

    Kepailitan adalah suatu kenyataan bahwa kegiatan usaha global

    seperti sekarang ini tidak mungkinterisolir dari masalah-masalah lain.

    Suatu perusahaan yang dinyatakan pailit pada saat ini akan mempunyai

    imbas dan pengaruh buruk bukan hanya perusahaan itu saja melainkan

    berakibat global. Sebagai contoh, ketika Dirut Yamaichi Securities pada

    tanggal 1 Desember 1995 mengumumkan kebangkrutan perusahaannya

    pada suatu konferensi pers di Tokyo, Jepang laksana diguncang bom

    atom lagi. Bahkan dampaknya bersifat mengglobal. Dari kasus ini dapat

    dilihat banyak yang akan jadi korban bila perusahaan itu dinyatakan

    pailit.

    Secara terminologi kepailitan bukanlah sesuatu hal yang baru untuk

    dunia pelaku usaha, hanya saja yang menjadi problematika sering kali

    kepailitan dimaknai secara umum dan tidak tepat yakni bubarnya atau

    dilikuidasinya suatu badan usaha oleh kalangan umum. Bambang

    Kesowo mengemukakan bahwa ada berbagai pihak salah memahami

    27 Rudi A. Lontoh, et al., 2001. Penyelesaian Utang Piutang Melalui Pailit atau Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung: Alumni, hlm. 23

  • 33

    bahwa kepailitan sama artinya dengan likuidasi dan pembubaran. Bahkan

    sebagian dari masyarakat umum beranggapan kepailitan sebagai vonis

    yang berbau tindakan kriminal yang merupakan suatu cacat hukum atas

    subjek hukumnya28.

    Menurut Hartini bahwa kata pailit berasal dari bahasa Perancis

    “failite” yang berarti kemacetan pembayaran. dalam bahasa Belanda

    dipergunakan istilah dan dalam hukum Anglo America, undang-

    undangnya dikenal dengan Bankcruptcy29.

    Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak mampu untuk

    melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para

    kreditor. Keadaan demikian pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan

    kondisi keuangan (financial distress) dari usaha debitor yang mengalami

    kemunduran30.

    Kata pailit berasal dari bahasa perancis “failite” yang berarti

    kemacetan pembayaran. Dalam bahasa Belanda digunakan istilah

    “failliet”. Sedang dalam hukum Anglo America, undang-undangnya

    dikenal dengan Bancruptcy Act. Dalam pengertian kita, merujuk aturan

    lama yaitu pasal 1 ayat (1) Peraturan Kepailitan atau Faillisement

    Verordening S. 1905-217 jo 1906. 348 menyatakan31:

    “setiap berutang (debitur) yang ada dalam keadaan berhenti

    membayar, baik atas laporan sendiri maupun atas permohonan

    28 Dr. M. Hadi Shubhan, 2008. Hukum Kepailitan (Prinsip, Norma, dan Praktik di

    Peradilan), Cet. I, Penerbit Kencana Prenada media Group, Jakart, hlm. 2 29 Rahayu Hartini, 2012, Hukum Kepailitan Cet. Ketiga, Malang; UMM Pers, hlm. 4. 30 Dr. M. Subhan, 2009. Hukum Kepailitan (Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan) Cet.

    II, Penerbit Kencana Prenadamedia Group, Jakarta, hlm. 1. 31 Prof. Dr. Rahayu Hartini, 2012. Hukum Kepaitan, UMM Press , hlm 4

  • 34

    seseorang atau lebih berpiutang (kreditur), dengan putusan hakim

    dinyatakan dalam keadaan pailit”.

    Ini agak berbeda pengertiannya dengan ketentuan yang baru yaitu

    dalam lampiran UU No. 4 Th. 1998 pasal 1 ayat (1), yang

    menyebutkan32:

    “Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak

    membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat

    ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan yang

    berwenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, baik atas

    permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih

    krediturnya”.

    Pengertian Kepailitan menurut UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004

    adalah: sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan

    dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan hakim

    Pengawas sebahaimana diatur dalam Undang-Undang ini (Pasal 1 ayat

    (1)).

    Lembaga kepailitan merupakan salah satu kebutuhan pokok di

    dalam aktivitas bisnis karenaadanya status pailit merupakan salah satu

    sebab pelaku bisnis keluar dari pasar. Apabila pelaku bisnis sudah tidak

    mampu lagi untuk bermain di arena pasar, maka dapat keluar dari pasar.

    Di dalam hal seperti inilah kemudian lembaga kepailtan itu berperan.33

    Pandangan seperti itu memang secara ekonomis dapat diterima,

    bila dikemas di dalam peraturan hukum maka peraturan itu secara tepat

    kepentingan yang dilihat dari sudut pandang ekonomis namun hal seperti

    32Ibid 33 Sudargo Gautama,1998. Komentar Atas Peraturan Kepailitan Untuk Indonesia,

    Bandung:Citra Aditya Bakti,, hlm 205

  • 35

    ini jelas tidak sesuai dengan era global seperti sekarang ini. Menurut

    Peter, aturan main bentuk perangkat hukum di dalam kegiatan bisnis

    meliputi 3 hal yaitu:

    1. Aturan hukum yang memberi landasan hukum bagi keberadaan

    lembaga-lembaga yang mewadahi bisnis dalam arena pasar

    (substantive legal rules).

    2. Aturan hukum yang mengatur perilaku (behavior) para pelaku bisnis

    dalam melaksanakan setiap transaksi bisnis,

    3. Aturan hukum yang memungkinkan pelaku keluar dari pasar. Kata

    pailit berasal dari bahasa Perancis “failite” berarti kemacetan

    pembayaran. Dalam bahasa Belanda digunakan istilah “failite”.

    Sedang dalam hukum Anglo America, undang-undangnya dikenal

    dengan Bankcrupty Act. Dalam pengertian kita, merujuk aturan lama

    yaitu pasal 1 ayat (1) Peraturan Kepailitan Faillisement Verordening

    S. 1990-217 jo 1905-348 menyatakan : “Setiap berutang (debitor)

    yang ada dalam keadaan berhenti membayar, baik atas laporan

    sendiri maupun atas permohonan seseorang atau lebih berpiutang

    (kreditor), dengan putusan hakim dinyatakan dalam keadaan

    pailit”.34

    Ketentuan yang baru yaitu dalam lampiran UU No.4 Th.1998

    pasal 1 ayat (1), yang menyebutkan : “Debitor yang mempunyai dua

    atau lebih kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah

    34 Sri Rejeki Hartono, 2000. Hukum Perdata Sebagai Dasar Hukum Kepaitan Modern,

    Jakarta: Majalah Hukum Nasional, hlm 81

  • 36

    jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan

    pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, baik

    atas permohonan sendiri, maupun atas permintaan seorang atau lebih

    kreditor.35

    Pernyataan pailit tersebut harus melalui proses pemeriksaan

    dipengadilan setelah memenuhi pesyaratan di dalam pengajuan

    permohonan. Keterbatasan pengetahuan perihal ilmu hukum khususnya

    hukum kepailitan yang berasal dari hukum asing, juga istilah pailit yang

    jarang sekali dikenal oleh masyarakat kalangan bawah maupun

    pedesaan yang lebih akrab dengan hukum adatnya, istilah bangkrut

    lebih kenal. Masyarakat desa tidak berpikir untuk memohon ke

    pengadilan agar dirinya dinyatakan pailit. Para pedagang kecil jika ia

    sudah tidak dapat berdagang lagi, karena modalnya habis dan ia tidak

    dapat membayar utangutangnya, laluia mengatakan bahwa dirinya

    sudah bangkrut. Tidak demikian halnya bagi perusahaan/pedagang

    besar, pengertian istilah kebangkrutan maupun pailit telah mereka

    ketahui.

    Dilihat dari beberapa arti kata atau pengertian kepailitan tersebut

    diatas maka esensi kepailitan secara singkat dapat dikatakan sebagai

    sita umum atas harta kekayaan debitor baik yang pada waktu

    pernyataan pailit maupun yang diperoleh selama kepailitan berlangsung

    untuk kepentingan semua kreditor yang pada waktu kreditor dinyatakan

    35 Sri Sumantri Hartono, 1981. Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran,

    Yogyakarta:Liberty,, hlm 42.

  • 37

    pailit mempunyai hutang, yang dilakukan dengan pengawasan pihak

    yang berwajib.36

    Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia telah ada sejak

    berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van

    Koophandel) Buku III tentang Ketidakmampuan Pedagang yang hanya

    berlaku bagi pedagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara

    Perdata (Reglement op de Rechtsvordering Staatblads 1847-52 jo.

    1849-63) Buku III Bab VII tentang Keadaan Nyata-Nyata Tidak

    Mampu yang berlaku bagi orang-orang bukan pedagang. Dua aturan

    kepailitan tersebut kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-

    Undang tentang Kepailitan (Faillissements Verordening Staatblads

    1905 Nomor 217 jo. Staatblads 1906 Nomor 348) yang berlaku bagi

    semua orang, baik pedagang maupun bukan pedagang, baik

    perseorangan maupun badan hukum.

    2. Sejarah Hukum Kepailitan

    Lembaga hukum Kepailitan, bukan merupakan lembaga yang baru

    dalam sistem hukum Indonesia. Menurut sejarah berlakunya Peraturan

    mengenai Kepailitan di Indonesia, Sri Redjeki Hartono memilahnya

    menjadi 3 (tiga) masa yakni masa sebelum Faillisement Verordening

    36 Khairandy, 2002. Perlindungan Dalam Undang-Undang Kepailitan, Jakarta:Jurnal

    Hukum Bisnis, hlm 94.

  • 38

    berlaku, masa berlakunya Faillisements Verordening itu sendiri dan masa

    berlakunya UU Kepailitan yang sekarang ini37.

    a. Sebelum berlakunya Faillisements Verordening

    Sebelum Faillisements Verordening berlaku, dulu Hukum

    Kepailitan itu diatur dalam dua tempat yaitu dalam:

    1) Wet Book Van Koophandel atau WVK buku ketiga yang

    berjudul “Van de Voorzieningen in geval van Onvormogen van

    kooplieden” atau peraturan tentang ketidakmampuan pedagang.

    Peraturan ini adalah peraturan Kepailitan bagi pedagang.

    2) Reglement op de Rechtsvoordering (RV). S. 1847-52 bsd 1849-

    63, Buku ketiga bab ketujuh dengan judul “Van den staat Von

    Kenneljk Onvermogen atau tentang Keadaan nyata-nyata tidak

    mampu.

    b. Masa Berlakunya Faillisements Verordening

    Mengenai kepailitan diatur dalam Faillisements Verordening

    (S.1905-271 bsd S.1906-348). Peraturan Kepailitan ini sebenarnya

    hanya berlaku bagi golongan Eropa, golongan Cina dan golongan

    Timur Asing (S. 1924-556). Bagi golongan Indonesia asli (pribumi)

    dapat saja menggunakan Faillisements Verordening ini dengan cara

    melakukan penundukan diri. Dalam masa ini untuk kepailitan

    berlaku Faillisementes Verordening 1905-217 yang berlaku bagi

    semua orang, baik bagi pedagang maupun bukan pedagang, baik

    37 Sri Rejeki Hartono, 2012. Hukum Kepailitan, UMM Press, Malang, hlm. 8

  • 39

    perseorangan maupun badan hukum. Sejarah peraturan kepailitan di

    Indonesia sejalan dengan apa yang terjadi di Belanda melalui asas

    konkordansi (Pasal 131 IS), yakni dimulai dengan berlakunya “Code

    de Commerce” (tahun 1811-1838) kemudian pada tahun 1893

    diganti dengan Faillisementswet 1893 yang berlaku pada 1

    September 1896.

    c. Masa Berlakunya Undang- Undang Kepailitan Produk Hukum

    Nasional

    Setelah berlakunya Fv. S. 1905 No. 217 jo S. 1906 No. 348,

    Republik Indonesia mampu membuat sendiri peraturan kepailitan

    meskipun masih tambal sulam sifatnya, yakni sudah ada 3 (tiga)

    peraturan perundangan yang merupakan produk hukum nasional

    dimulai dari terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

    Undang (PERPU) No. 1 tahun 1998 tentang Perubahan Atas

    Undang-undang tentang Kepailitan yang kemudian ditingkatkan

    menjadi Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 dan terakhir pada

    tanggal 18 November 2004 disempurnakan lagi dengan Undang-

    Undang No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban pembayaran Utang.

    3. Dasar Hukum Kepailitan

    Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia telah ada sejak

    berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van

  • 40

    Koophandel) Buku III tentang Ketidakmampuan Pedagang yang hanya

    berlaku bagi pedagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata

    (Reglement op de Rechtsvordering Staatblads 1847-52 jo. 1849-63) Buku

    III Bab VII tentang Keadaan Nyata-Nyata Tidak Mampu yang berlaku

    bagi orang-orang bukan pedagang38.

    Adapun dasar hukum bagi suatu kepailitan adalah sebagai

    berikut39:

    a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, diantaranya Pasal 1139,

    1149, 1134;

    b. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, diantaranya Pasal 396, 397,

    399, 400, 520;

    c. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;

    d. Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

    e. Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan;

    f. Perundang-Undangan Di Bidang Pasar Modal, Perbankan, BUMN,

    dan lain-lain.

    4. Tujuan Hukum Kepailitan

    Adapun tujuan dari hukum kepailitan itu sendiri adalah sebagai

    berikut40:

    38 Rahayu Hartini, 2012, Hukum Kepailitan Cet. Ketiga, Malang; UMM Pers, hlm. 8 39 Munir Fuady, 2010. Hukum Kepailitan Dalam Teori Dan Praktek, PT. Citra Aditya

    Bakti, Bandung, hlm. 10.

  • 41

    a. Melindungi para Kreditor konkuren untuk memperoleh hak mereka

    sehubungan dengan berlakunya asas jaminan, bahwa semua harta

    Debitor baik bergerak maupun tidak bergerak, baik yang telah ada

    maupun yang baru akan ada dikemudian hari menjadi jaminan bagi

    perikatan Debitor yaitu yang memberikan fasilitas dan prosedur

    untuk mereka dapat memenuhi tagihan-tagihannya terhadap Debitor.

    Menurut hukum indonesia asas jaminan tersebut di jamin dalam

    Pasal 1131 KUH Perdata. Hukum kepailitan menghindarkan saling

    rebut di antara Kreditornya terhadap harta Debitor berkenaan dengan

    asas jaminan tersebut. tanpa adanya Undang-Undang kepailitan,

    akan terjadi Kreditor yang lebih kuat akan mendapat bagian yang

    lebih banyak dari Kreditor yang lemah.

    b. Menjamin agar pembagian harta kekayaan Debitor di antara para

    Kreditornya sesuai dengan asas pari passi membagi secara

    proposional harta kekayaan Debitor kepada para Kreditor Konkuren

    berdasarkan pertimbangan besarnya tagihan masing-masing Kreditor

    tersebut. didalam hukum indonesia asas pari passu di jamin dalam

    Pasal 1332 KUH Perdata.

    c. Mencegah agar Debitor tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang

    dapat merugikan kepentingan para Kreditor. Dengan dinyatakan

    seorang Debitor pailit, Debitor menjadi tidak lagi memiliki

    kewenangan untuk mengurus dan memindah tangguhkan harta

    40 Sutan Remy Sjadeini. 2009. ” Memahami Undang-Undang No.34 Tahun 2004 Tentang

    Kepailitan.Cet Ke III. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. hlm. 38.

  • 42

    kekayaan yang dengan putusan pailit itu status hukum dari harta

    kekayaan Debitor menjadi harta pailit.

    5. Syarat-syarat Pernyataan Pailit

    Untuk dapat dinyatakan pailit, seseorang debitur harus memenuhi

    syarat-syarat sebagai berikut:

    a. Debitur mempunyai dua atau lebih kreditur

    b. Tidak membayar sedikitnya satu utang jatuh waktu dan dapat ditagih

    c. Atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau

    lebih krediturnya.

    Dalam UUK No. 37 Tahun 2004, ketentuan mengenai pihak yang

    dapat mengajukan permohonan pailit ada 6 (enam) pihak selain ke lima

    pihak yang telah disebut di atas masih ditambah satu pihak lagi yaitu

    Menteri Keuangan.

    Selengkapnya mengenai pihak-pihak yang dapat mengajukan

    permohonan pailit ke pengadilan seperti diatur dalam pasal 2 ayat (1)-(5)

    UUKepailitan No. 37 Tahun 2004 berikut ini41:

    Ayat (1) : Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak

    membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan

    dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan

    baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan

    seorang atau lebih krediturnya.

    41 Rahayu Hartini, Op Cit, hal 31

  • 43

    Ayat (2) : Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat juga

    diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.

    Ayat (3) : Dalam hal debitur adalah baank, permohonan pernyataan

    pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia.

    Ayat (4) : Dalam hal debitur adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek,

    Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan

    dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat

    diajukan pleh Badan Pengawas Pasar Modal.

    Ayat (5) : Dalam hal debitur adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan

    Reasuransi, dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara

    yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan

    pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri

    Keuangan.

    Syarat-syarat agar suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit adalah

    sebagai berikut 42:

    a. Adanya hutang;

    b. Minimal satu dari hutang sudah jatuh tempo;

    c. Minimal satu dari hutang dapat ditagih;

    d. Adanya debitur;

    e. Adanya kreditur;

    f. Kreditur lebih dari satu;

    42 Munir Fuady, Op.cit., hlm. 9

  • 44

    g. Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan khusus yang disebut

    dengan Pengadilan Niaga;

    h. Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh yang berwenang yaitu :

    1) Pihak debitur;

    2) Satu atau lebih kreditur;

    3) Jaksa untuk kepentingan umum;

    4) Bank Indonesia, apabila debiturnya bank;

    5) Bapepam, apabila debiturnya perusahaan efek.

    i. Dan syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang-

    Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang.

    6. Asuransi dalam Kaitannya dengan Asas Kepailitan

    Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai dalam

    perundang-undangan dan Perusahaan Perasuransian. Istilah perasuransian

    berasal dari kata “asuransi” yang berarti pertanggungan atau

    perlindungan atas suatu objek dari ancaman bahaya yang menimbulkan

    kerugian. Apabila kata “asuransi” diberi imbuhan per-an, maka muncul

    istilah hukum “perasuransian”, yang berarti segala usaha yang berkenaan

    dengan asuransi43.

    Usaha asuransi juga didefinisikan dalam Undang-Undang No. 2

    Tahun 1992 Pasal 2 huruf (a) tentang usaha perasuransian yaitu usaha

    jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan

    43 Abdulkadir Muhammad, 2006. Hukum Asuransi Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti,

    hlm. 5.

  • 45

    premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat

    pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena

    suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau matinya

    seseorang44.

    Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma

    adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen

    dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus

    dilakukan. Norma-norma adalah produk dan aksi manusia yang

    deliberative. Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat

    umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam

    bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun

    dalam hubungan dengan masyarakat. Aturan-aturan itu menjadi batasan

    bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap

    individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan aturan tersbut menimbulkan

    kepastian hukum45.

    Menurut Gustav Radbruch, hukum harus mengandung 3 (tiga) nilai

    identitas, yaitu sebagai berikut:

    1. Asas kepastian hukum (rechmatigheid), Asas ini meninjau dari sudut

    yuridis.

    2. Asas keadilan hukum (gerectigheit), Asas ini meninjau dari sudut

    filosofis, dimana keadilan adalah kesamaan hak untuk semua orang

    di depan pengadilan.

    44 Abdulkadir Muhammad, 2011, Hukum Asuransi Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya

    Bakti, hlm. 6. 45 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 58

  • 46

    3. Asas kemanfaatan hukum (zwechmatigheid) atau doelmatigheid atau

    utility.

    1. Asas Kepastian Hukum

    Menurut Kelsen, hukum adalah sebuah Sistem Norma. Norma

    adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das

    sollen, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang

    harus dilakukan. Norma-norma adalah produk dan aksi manusia

    yang deliberatif. Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang

    bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku

    dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu

    maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Aturan-aturan itu

    menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan

    tindakan terhadap individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan

    aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum46.

    Menurut Gustav Radbruch, hukum harus mengandung 3 (tiga)

    nilai identitas, yaitu sebagai berikut47:

    1. Asas kepastian hukum (rechtmatigheid), Asas ini

    meninjau dari sudut yuridis.

    2. Asas keadilan hukum (gerectigheit), Asas ini meninjau

    dari sudut filosofis, dimana keadilan adalah kesamaan hak

    untuk semua orang di depan pengadilan.

    3. Asas kemanfaatan hukum (zwech matigheid atau

    doelmatigheid atau utility)

    Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian

    hukum dan kemanfaatan hukum. Kaum Positivisme lebih

    46 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 158 47 Dwika, “Keadilan Dari Dimensi Sistem Hukum”, http://hukum.kompasiana.com.

    (02/04/2011)

    http://hukum.kompasiana.com/

  • 47

    menekankan pada kepastian hukum, sedangkan Kaum Fungsionalis

    Mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya dapat

    dikemukakan bahwa “summum ius, summa injuria, summa lex,

    summa crux” yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai,

    kecuali keadilan yang dapat menolongnya, dengan demikian

    kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan hukum satu-satunya

    akantetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah keadilan48.

    2. Asas Keadilan

    Sesungguhnya konsep keadilan sangat sulit mencari tolak

    ukurnya karena adil bagi satu pihak belum tentu dirasakan oleh

    pihak lainnya. Kata keadilan berasal dari kata adil, yang berarti dapat

    diterima secara obyektif49.

    Menurut L.J Van Apeldoorn mengatakan bahwa,”keadilan tidak

    boleh dipandang sama arti dengan persamarataan, keadilan bukan

    berarti bahwa tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama50.”

    Maksudnya keadilan menuntut tiap-tiap perkara harus ditimbang

    tersendiri, artinya adil bagi seseorang belum tentu adil bagi yang

    lainnya. Tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara

    damai jika ia menuju peraturan yang adil, artinya peraturan dimana

    terdapat keseimbangan antara kepentingan-kepentingan yang

    48 Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: memahami dan memahami hukum, Laksbang

    Pressindo, Yogyakarta, 2010, hal 59 49 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996, hlm. 19. 50 L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, terj. Oetarid Sadino, (Jakarta: Pradnya

    Paramita, 1993), hlm. 11.

  • 48

    dilindungi, dan setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang

    menjadi bagiannya.

    Keadilan tidak boleh dipandang sama arti dengan

    persamarataan. Keadilan bukan berarti bahwa tiap-tiap orang

    memperoleh bagian yang sama....Jika hukum semata-mata

    menghendaki keadilan, jadi semata-mata mempunyai tujuan

    memberi tiap-tiap orang apa yang patut diterimanya, maka ia tak

    dapat membentuk peraturan-peraturan umum....Tertib hukum yang

    tak mempunyai peraturan umum, bertulis atau tidak bertulis adalah

    tidak mungkin. Tak adanya peraturan umum, berarti ketidaktentuan

    yang sungguh-sungguh, mengenai apa yang disebut adil atau tidak

    adil. Ketidaktentuan itu akan menyebabkan perselisihan. Jadi hukum

    harus menentukan peraturan umum, harus menyamaratakan.

    Keadilan melarang menyamaratakan; keadilan menuntut supaya tiap-

    tiap perkara harus ditimbang tersendiri....makin banyak hukum

    memenuhi syarat, peraturan yang tetap, yang sebanyak mungkin

    meniadakan ketidakpastian, jadi makin tepat dan tajam peraturan

    hukum itu, makin terdesaklah keadilan. Itulah arti summum ius,

    summa iniuria, keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilan yang

    tertinggi51.

    Untuk mengukur sebuah keadilan, menurut Fence M. Wantu

    mengatakan, “adil pada hakekatnya menempatkan sesuatu pada

    51 Ibid

  • 49

    tempatnya dan memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi

    haknya, yang didasarkan pada suatu asas bahwa semua orang sama

    kedudukannya di muka hukum (equality before the law)52.” Oleh

    karena itu penekanan yang lebih cenderung kepada asas keadilan

    dapat berarti harus mempertimbangkan hukum yang hidup di

    masyarakat, yang terdiri dari kebiasaan dan ketentuan hukum yang

    tidak tertulis. Hakim dalam alasan dan pertimbangan hukumnya

    harus mampu mengakomodir segala ketentuan yang hidup dalam

    masyarakat berupa kebiasaan dan ketentuan hukum yang tidak

    tertulis, manakala memilih asas keadilan sebagai dasar memutus

    perkara yang dihadapi.

    3. Asas Kemanfaatan

    Hukum merupakan urat nadi dalam kehidupan suatu bangsa

    untuk mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Bagi

    Hans Kelsen sebagaimana dikutip Mohamad Aunurrohim

    mengatakan bahwa, “...hukum itu dikonstruksikan sebagai suatu

    keharusan yang mengatur tingkah laku manusia sebagai makhluk

    rasional. Masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau

    penegakan hukum. Hukum itu untuk manusia, maka pelaksanaan

    hukum atau penegakkan hukum harus memberi manfaat atau

    kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai justru karena hukumnya

    52 Fence M. Wantu, “Mewujukan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan Dalam

    Putusan Hakim di Peradilan Perdata, Jurnal Dinamika Hukum, (Gorontalo) Vol. 12 Nomor 3,

    September 2012, hlm. 484

  • 50

    dilaksanakan atau ditegakkan malah akan timbul keresahan di dalam

    masyarakat itu sendiri53.

    Putusan hakim akan mencerminkan kemanfaatan, manakalah

    hakim tidak saja menerapkan hukum secara tekstual belaka dan

    hanya mengejar keadilan semata, akan tetapi juga mengarahkan pada

    kemanfaatan bagi kepentingan pihak-pihak yang berperkara dan

    kepentingan masyarakat pada umumnya. Artinya, hakim dalam

    menerapkan hukum, hendaklah mempertimbangkan hasil akhirnya

    nanti, apakah putusan hakim tersebut membawa manfaat atau

    kegunaan bagi semua pihak54.

    Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum

    dan kemanfaatan hukum. Kaum Positivisme lebih menekankan pada

    kepastian hukum, sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan

    kemanfaatan hukum, dan sekiranya dapat dikemukakan bahwa “summon

    ius, summa injuria, summa lex, summa crux” yang artinya adalah hukum

    yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat menolongnya,

    dengan demikian kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan hukum

    satu-satunya akan tetapi tujuan hukum yang substantive adalah

    keadilan55.

    Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus diperhatikan,

    yaitu: kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan. Ketiga unsur tersebut

    53 Sudikno Mertokususmo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty,

    2005), hlm. 160. 54 Ibid 55 Dosminikus Rato, Filasafat Hukum Mencari dan Memahami Hukum, PT Presindo,

    Yogyakarta, 2010, hlm. 59

  • 51

    harus ada kompromi, harus mendapat perhatian secara proporsional

    seimbang. Tetapi dalam praktek tidak selalu mudah mengusahakan

    kompromi secara proporsional seimbang antara ketiga unsur tersebut.

    Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya

    dan akhirnya timbul keresahan. Tetapi terlalu menitik beratkan pada

    kepastian hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya kaku

    dan akan menimbulkan rasa tidak adil.

    Adanya kepastian hukum merupakan harapan bagi pencari keadilan

    terhadap tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum yang

    terkadang selalu arogansi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak

    hukum. Karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan tahu

    kejelasan akan hak dan kewajiban menurut hukum. Tanpa ada kepastian

    hukum maka orang akan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tidak

    mengetahui perbuatanya benar atau salah, dilarang atau tidak dilarang

    oleh hukum. Kepastian hukum ini dapat diwujudkan melalui penoramaan

    yang baik dan jelas dalam suatu Undang-Undang dan akan jelas pula

    penerapannya.

    7. Akibat Hukum Putusan Kepailitan

    Kepailitan mengakibatkan debitur yang dinyatakan pailit

    kehilangan segala hak perdata ini diberlakukan oleh Pasal 24 (1)

    Undang-Undang Kepailitan dan PKPU terhitung sejak saat keputusan

  • 52

    pernyataan pailit diucapkan. Hal ini juga berlaku bagi suami atau isteri

    dari debitur pailit yang kawin dalam persatuan harta kekayaan56.

    Putusan kepailitan adalah bersifat serta merta dan konstitutif yaitu

    meniadakan keadaan dan menciptakan keadaan hukum baru57. Dengan

    pailitnya pihak debitur, banyak akibat yuridis yang diberlakukan

    kepadanya oleh undang-undang. Akibat-akibat yuridis tersebut berlaku

    kepada debitur dengan 2 (dua) model pemberlakuan, yaitu58:

    a. Berlaku Demi Hukum

    Beberapa akibat yuridis yang berlaku demi hukum (by the operation

    of law) segera setelah pernyataan pailit dinyatakan atau setelah

    pernyataan pailit mempunyai kekuatan hukum tetap ataupun setelah

    berakhirnya kepailitan. Dalam hal ini, pengadilan niaga, hakim

    pengawas, kurator, kreditur, dan pihak lain yang terlibat dalam

    proses kepailitan tidak dapat memberikan andil secara langsung

    untuk terjadinya akibat yuridis tersebut.

    b. Berlaku Secara Rule Of Season

    Maksud dari pemberlakuan model ini adalah bahwa akibat hukum

    tersebut tidak otomatis berlaku, tetapi baru berlaku jika diberlakukan

    oleh pihak-pihak tertentu setelah mempunyai alasan yang wajar

    untuk diberlakukan

    56 Gunawan Widjaja, 2009. Risiko Hukum & Bisnis Perusahaan Pailit, Cetakan pertama,

    Penerbit Forum Sahabat, Jakarta, hlm 46. 57 Rahayu Hartini, 2007. Hukum Kepailitan Edisi Revisi, UMM Press, Malang, hlm. 103 58 Munir Fuady, Op.cit., hlm.61

  • 53

    Beberapa akibat hukum terhadap perbuatan hukum yang dilakukan

    oleh debitur :

    a. Akibat kepailitan terhadap debitur pailit dan hartanya

    Akibat kepailitan hanyalah terhadap kekayaan debitur, dimana

    debitur tidaklah berada dibawah pengampuan. Debitur tidaklah

    kehilangan kemampuannya untuk melakukan perbuatan hukum

    menyangkut dirinya, kecuali apabila perbuatan hukum tersebut

    menyangkut pengurusan dan pengalihan harta bendanya yang telah

    ada. Apabila menyangkut harta benda yang akan diperolehnya,

    debitur tetap dapat melakukan perbuatan hukum menerima harta

    benda yang akan diperolehnya itu kemudian menjadi bagian dari

    harta pailitnya59. Sejak tanggal putusan pernyataan pailit itu untuk

    diucapkan, debitur demi hukum kehilangan hak untuk menguasai

    dan mengurus kekayaannya yang termasuk harta pailit.

    b. Akibat hukum terhadap seluruh perikatan yang dibuat oleh debitur

    pailit

    Semua perikatan debitur yang terbit sesudah putusan pernyataan

    pailit, tidak lagi dapat membayar dari harta pailit, kecuali perikatan

    tersebut menguntungkan harta pailit (Pasal 25 Undang-Undang

    Kepailitan dan PKPU). Tuntutan mengenai hak dan kewajiban yang

    menyangkut harta pailit harus diajukan oleh atau kurator. Dalam hal

    tuntutan tersebut diajukan atau diteruskan oleh atau terhadap debitur

    59 Sultan Remi Syahdeini, Op.Cit., hlm. 257.

  • 54

    pailit maka apabila tuntutan tersebut mengakibatkan suatu

    penghukuman terhadap debitur pailit, penghukuman tersebut tidak

    mempunyai akibat hukum terhadap harta pailit (Pasal 26 Undang-

    Undang Kepailitan dan PKPU).

    Selama berlangsungnya kepailitan, tuntutan untuk memperoleh

    pemenuhan perikatan dari harta pailit yang ditujukan terhadap

    debitur pailit, hanya dapat diajukan dengan mendaftarkannya untuk

    dicocokkan (Pasal 27 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU).

    8. Jenis-jenis Kreditur

    Pada dasarnya, kedudukan para kreditur sama (paritas

    creditorum) dan karenanya mereka mempunyai hak yang sama atas

    hasil eksekusi budelnya pailit sesuai dengan besarnya tagihan

    mereka masing-masing (pari passu pro rata parte). Namun asas

    tersebut dapat dikecualikan yakni untuk golongan kreditur yang

    memenang hak anggunan atas kebendaan dan golongan kreditur

    yang haknya didahulukan berdasarkan Undang-Undang Kepailitan

    dan PKPU dan peraturan perundang-undangan lainnya. Oleh

    karenanya, kreditur dapat dikelompokkan sebagai berikut60:

    1) Kreditur separatis

    Merupakan kreditur pemegang hak jaminan kebendaan, yang

    dapat bertindak sendiri yang tidak terkena akibat putusan

    pernyataan pailit debitur, sehingga hak-hak eksekusi kreditur

    60 Imran Nating, 2005. Peranan dan Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan

    Pemberesan Harta Pailit, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 43-52.

  • 55

    separatis ini tetap dapatdijalankan seperti tidak ada kepailitan

    debitur. Kreditur separatis dapat menjual sendiri barang-barang

    yang menjadi jaminan, seolah-olah tidak ada kepailitan. Debitur

    mengambil hasil penjualan ini sebesar piutangnya, sedangkan

    jika ada sisanya disetorkan ke kas kurator. Jika hasil penjualan

    tersebut tidak mencukupi, maka kreditur separatis itu, untuk

    tagihan yang belum dibayar dapat memasukkan kekurangannya

    sebagai kurator bersaing.

    2) Kreditur preferen/istimewa

    Merupakan kreditur yang piutangnya mempunyai kedudukan

    istimewa dan mendapat hak untuk memperoleh pelunasan

    terlebih dahulu dari penjualan harta pailit. Kreditur ini berada di

    bawah pemegang hak tanggungan dan gadai. Menurut Pasal

    1133 KUHPerdata, hak istimewa adalah suatu hak yang oleh

    undang- undang diberikan kepada seorang berpiutang sehingga

    tingkatnya, semata-mata berdasarkan sifat piutangnya.

    3) Kreditur Konkuren

    Kreditur konkuren/bersaing memiliki kedudukan yang sama dan

    berhak memperoleh hasil penjualan harta kekayaan debitur, baik

    yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari setelah

    sebelumnya dikurangi dengan kewajiban membayar piutang

    kepada para kreditur pemegang hak jaminan dan para kreditur

  • 56

    dengan hak istimewa secara proporsional menurut perbandingan

    besarnya piutang masing-masing kreditur.

    Akibat hukum terhadap eksekusi atas harta kekayaan debitur pailit

    Menurut Pasal 31 UU Kepailitan dan PKPU, putusan pernyataan

    pailit mempunyai akibat bahwa segala putusan hakim menyangkut

    setiap bagian harta kekayaan debitur yang telah diadakan sebelum

    diputuskannya pernyataan pailit harus segera dihentikan dan sejak

    saat yang sama pula tidak satu putusan pun mengenai hukuman

    paksaan badan dapat dilaksanakan. Segala putusan mengenai

    penyitaan, baik yang sudah maupun yang belum dilaksanakan,

    dibatalkan demi hukum, bila dianggap perlu, hakim pengawas dapat

    menegaskan hal itu dengan memerintahkan pencoretan.

    Jika dilihat, dalam pasal tersebut bahwa setelah ada pernyataan

    pailit, semua putusan hakim mengenai suatu bagian kekayaan debitur

    apakah penyitaan atau penjualan, menjadi terhenti. Semua sita

    jaminan maupun sita eksekutorial menjadi gugur, bahkan sekalipun

    pelaksanaan putusan hakim sudah dimulai, maka pelaksanaan itu

    harus dihentikan.

    Menurut Pasal 33 UU Kepailitan dan PKPU, apabila hari

    pelelangan untuk memenuhi putusan hakim sudah ditetapkan,

    kurator atas kuasa hakim pengawas dapat melanjutkan pelelangan

    barang tersebut dan hasilnya masuk dalam harta pailit.

  • 57

    Akibat kepailitan teradap pasangan debitur pailit Debitur pailit

    yang pada saat dinyatakan pailit sudah terikat dalam suatu

    perkawinan dan adanya persatuan harta, kepailitan juga dapat

    memberikan akibat hukum terhadap pasangannya (suami/istrinya).

    Dalam hal suami atau istri yang dinyatakan pailit, istri atau suaminya

    berhak mengambil kembali semua benda bergerak dan tidak

    bergerak yang merupakan harta bawaan dari istri atau suami dan

    harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan.

    Jika benda milik istri atau suami telah dijual suami/istri dan

    harganya belum dibayar atau uang hasil penjualan belum tercampur

    dalam harta pailit, maka istri atas suami berhak mengambil kembali

    uang hasil penjualan tersebut.

    Pada prinsipnya, sebagai konsekuensi dan PKPU, seperti diuraikan

    di atas maka setiap dan seluruh perbuatan hukum, termasuk

    perikatan antara debitur yang dinyatakan pailit dengan pihak ketiga

    yang dilakukan sesudah pernyataan pailit, tidak akan dan tidak dapat

    dibayar dari harta pailit, kecuali apabila perikatan-perikatan tersebut

    mendatangkan keuntungan bagi harta kekayaan itu.

    9. Pihak yang mengajukan pailit perusahaan asuransi

    Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat OJK, adalah

    lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain,

    yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan,

  • 58

    pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana

    dimaksud dalam Undang Undang ini.

    Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2011 (Pasal 55) :

    Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang

    pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar

    Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan

    Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan

    Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke OJK.

    Peraturan OJK Nomor 28/ POJK.05/2015 Tentang

    pembubaran,likuidasi, dan kepailitan perusahaan asuransi, perusahaan

    asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan perusahaan reasuransi

    syariah, Dalam Pasal 2 ayat 1 Perusahaan wajib menghentikan kegiatan

    usaha serta menyelenggarakan RUPS untuk memutuskan Pembubaran

    dan membentuk Tim likuidasi sejak pencabutan izin usaha perusahaan.