31
11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA KERANGKA PEMIKIRAN DAN PROPOSISI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Teori Peran (Role Teory) Menurut Biddle dan Thomas dalam Arisandi, peran adalah serangkaian rumusan yang membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu (https://rinawahyu42.wordpress.com/2011/06/07/teori-peran- rhole-theory/). Sementara Peranan adalah fungsi sesuatu dalam kehidupan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Bruce J. Cohen dalam Theory and Problem of Introduction to Sociology mendefinisikan peranan sebagai perilaku yang diharapkan oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu (Cohen,1992:76). Sedang menurut Soerjono Soekanto Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status) (Soekanto,1990:268). apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia telah menjalankan peranan. Paul B. Harton dan Chester L Hunt dalam bukunya Sosiologi (Harton,1996:118) menyatakan bahwa untuk mempelajari tentang peran sekurang- kurangnya kita harus menyertakan dua aspek : pertama, kita harus belajar melaksanakan kewajiban dan menuntut hak-hak suatu peran. Kedua, kita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA KERANGKA PEMIKIRAN DAN … · b. Peranan sebagai pemimpin (Leader), dalam peranan ini atasan bertindak sebagai pemimpin. Ia melakukan hubungan interpersonal

  • Upload
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

  • 11

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA KERANGKA PEMIKIRAN DAN PROPOSISI

    2.1 Tinjauan Pustaka

    2.1.1 Teori Peran (Role Teory)

    Menurut Biddle dan Thomas dalam Arisandi, peran adalah serangkaian

    rumusan yang membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang

    kedudukan tertentu (https://rinawahyu42.wordpress.com/2011/06/07/teori-peran-

    rhole-theory/).

    Sementara Peranan adalah fungsi sesuatu dalam kehidupan (Kamus Besar

    Bahasa Indonesia, 2008). Bruce J. Cohen dalam Theory and Problem of

    Introduction to Sociology mendefinisikan peranan sebagai perilaku yang

    diharapkan oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu

    (Cohen,1992:76). Sedang menurut Soerjono Soekanto Peranan (role) merupakan

    aspek dinamis kedudukan (status) (Soekanto,1990:268). apabila seseorang

    melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia telah

    menjalankan peranan.

    Paul B. Harton dan Chester L Hunt dalam bukunya Sosiologi

    (Harton,1996:118) menyatakan bahwa untuk mempelajari tentang peran sekurang-

    kurangnya kita harus menyertakan dua aspek : pertama, kita harus belajar

    melaksanakan kewajiban dan menuntut hak-hak suatu peran. Kedua, kita

  • 12

    harus memiliki sikap, perasaan dan harapan-harapan yang sesuai dengan peran

    tersebut. Sebab Peranan disini lebih menunjukkan pada suatu fungsi, penyesuaian

    diri, dan merupakan suatu proses. Konsepsi peran mengandaikan seperangkat

    harapan. Kita diharapkan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu dan

    mengharapkan orang lain untuk bertindak dengan cara-cara tertentu pula.

    Setiap individu memiliki berbagai peranan dalam pergaulan hidupnya,

    peranan tersebut menjadi penentu terhadap apa yang mesti diperbuatnya

    dalam masyarakat serta kesempatankesempatan apa yang diberikan oleh

    masyarkat kepadanya. Peran ini oleh Biddle dan Thomas disepadankan

    dengan pembawaan “lakon” dalam sebuah panggung sandiwara

    (Suhardono,1994:7).

    Yakni sebagaimana patuhnya seorang pelaku terhadap skenario, instruksi

    sutradara, peran sesama pelaku, serta pendapat dan reaksi umum penonton. Dalam

    kehidupan sosial, seorang pelaku peran juga mengalami hal yang sama, yaitu harus

    patuh terhadap skenario yang berupa norma-norma sosial, tuntutan dan kaidah-

    kaidah sosial. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku yang berhubungan

    dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.

    2.1.2 Perangkat Peran (role set)

    Perangkat peran merupakan suatu konstelasi (kumpulan sifat/susunan)

    berbagai peran yang saling berkaitan yang beberapa diantaranya mungkin

    memerlukan berbagai bentuk penyesuaian yang drastis. Istilah role set ini

    digunakan untuk menunjukkan bahwa satu status tidak hanya mempunyai satu

    peran tunggal, akan tetapi mempunyai sejumlah peran yang saling berhubungan dan

    cocok (Harton, 1996:120) . Misalnya seorang polisi adalah juga merupakan seorang

    ayah, seorang kepala keluarga, warga Negara, seorang tetangga, dan lain

  • 13

    sebagainya. Seperangkat peran ini mengacu pada hubunganhubungan seseorang

    dengan orang lain yang pada waktu itu ia sedang menjalankan berbagai peranan

    yang berhubungan dengan status tertentu. Berbagai peran yang berjalan bersamaan

    ini terkadang membutuhkan kompetensi tertentu, akan tetapi dapat juga

    meningkatkan kepuasan hidup seseorang.

    2.1.3 Perilaku Peran

    Perilaku peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang

    melakukan peran tersebut. Dalam kata lain perilaku peran adalah perilaku aktual

    seseorang yang memerankan suatu peran, dan yang dipengaruhi oleh penyajian

    peran yang dramatis, dimana orang itu bertindak dengan suatu usaha yang sengaja

    untuk menyajikan citra yang diinginkan bagi orang lain. Perilaku peran bisa jadi

    berbeda dari perilaku yang diharapkan. Sebab antara seseorang dengan orang

    lainnya tidaklah sama dalam cara memandang peran, sifat kepribadian seseorang

    mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan melaksanakan perannya.

    Disamping itu tidak semua orang yang mengisi suatu peran merasa sama terikatnya

    kepada peran tersebut, sehingga tidak akan ada dua individu yang memerankan satu

    peran tertentu dengan cara yang benar-benar sama.

    2.1.4 Konflik Peran

    Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang yang

    menduduki posisi tertentu dalam organisasi atau kelompok. Harapan peran berasal

    dari tuntutan dari tugas atau pekerjaan itu sendiri dan uraian tugas, peraturan

    peraturan dan standar. Jika keseluruhan harapan peran tidak dengan jelas

  • 14

    menunjukkan tugas-tugas apa yang seharusnya dilaksanakan seseorang dan

    bagaimana individu seharusnya berprilaku, maka akan terjadi kekacauan peran.

    Kekacauan peran dapat disebabkan baik oleh harapan-harapan peran yang tidak

    memadai maupun harapan-harapan peran yang tidak bersesuaian. Harapan peran

    yang tidak konsisten menciptakan konflik peran bagi seseorang.

    Menurut Robbins and Judge yang diterjemahkan oleh Saraswati dan Sirait

    (2015:183) konflik peran adalah suatu situasi yang mana individu dihadapkan oleh

    ekspektasi peran yang berbeda-beda. Menurut Kreitner and Kinicki yang

    diterjemahkan oleh Biro Bahasa Alkemis (2014:15), konflik peran terjadi ketika

    anggota tatanan peran yang berbeda mengharapkan hal yang berbeda dari penerima

    peran.

    Handoko (2012:349) mengatakan bahwa konflik peran dalam diri individu

    yaitu sesuatu yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang

    pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai permintaan

    pekerjaan saling bertentangan atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih

    dari kemampuannya.

    2.1.4.1 Upaya-upaya Menghindari Konflik Peran

    Menurut para ahli, individu yang mengalami konflik antara peran yang

    berkepanjangan akan bersaing mencari metode untuk mengurangi konflik atau

    mengurangi ketegangan dirasakan antara peran. Bruening and Dixon dalam Lubis

    mengemukakan bahwa metode tersebut mencakup:

    1. Penyesuaian waktu atau usaha yang terlibat dalam peran sehingga mereka

    yang berada dalam konflik langsung kurang antara konflik satu dengan

  • 15

    konflik lainnya. Sebagai contoh, seseorang mungkin berhenti bekerja untuk

    mencurahkan lebih banyak waktu untuk keluarga dan dapat mengurangi

    ketegangan.

    2. Metode lain yaitu mengubah sikap seseorang terhadap konflik dari pada

    mengurangi konflik itu sendiri. Misalnya, memutuskan untuk merasa

    kurang bersalah dengan kurangnya waktu yang dihabiskan untuk anak-anak.

    3. Mencari dan mengandalkan dukungan organisasi juga merupakan metode

    untuk mengatasi dan mengurangi konflik peran. Misalnya, organisasi

    memberikan tunjangan keluarga seperti cuti keluarga.

    Bruening and Dixon dalam Lubis (2014:17)

    Menurut Horton dan Hunt dalam Liliweri (2011:289), resolusi konflik

    adalah sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental dalam

    memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi tejadinya konflik, kemudian

    membuat penyelesaian terhadap konflik. Resolusi konflik yang dapat diartikan

    sebagai penyelesaian konflik (Conflict Resolution) adalah usaha yang dilakukan

    untuk menyelesaikan konflik dengan cara mencari kesepakatan antara pihak-pihak

    yang terlibat di dalam konflik. Resolusi konflik memiliki tujuan agar kita

    mengetahui bahwa konfik itu ada dan diarahkan pada keterlibatan berbagai pihak

    dalam isu-isu mendasar sehingga dapat diselesaikan secara efektif. Selain itu, agar

    kita memahami gaya dari resolusi konflik dan mendefinisikan kembali jalan pintas

    kearah pembaharuan penyelesaian konflik.

    Menurut Horton dan Hunt dalam Liliweri (2011:291), seseorang mungkin

    tidak memandang suatu peran dengan cara yang sama sebagaimana orang lain

    memandangnya. Sifat kepribadian seseorang mempengaruhi bagaimana orang itu

    merasakan peran tersebut. Tidak semua orang yang mengisi suatu peran merasa

    sama terikatnya kepada peran tersebut, karena hal ini dapat bertentangan dengan

    peran lainnya. Semua faktor ini terpadu sedemikian rupa, sehingga tidak ada dua

    individu yang memerankan satu peran tertentu dengan cara yang benar-benar sama.

  • 16

    2.1.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruih Konflik Peran

    Menurut Sedarmayanti (2013:255) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

    konflik peran sebagai berikut :

    1. Masalah Komunikasi

    Hal ini diakibatkan salahnya pengertian yang berkenaan dengan kalimat,

    bahasa yang kurang atau sulit dimengerti atau informasi yang mendua dan

    tidak lengkap serta gaya individu yang tidak konsisten.

    2. Masalah Struktur Organisasi

    Hal ini disebabkan karena adanya pertarungan kekuasaan antar departemen

    dengan kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan,

    persaingan untuk memperebutkan sumber daya-sumber daya yang terbatas

    atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan

    kerja untuk mencapai tujuan mereka.

    3. Masalah Pribadi

    Hal ini disebabkan, karena tidak sesuai dengan tujuan atau nilai-nilai sosial

    pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka,

    dan perbedaan dalam nilai-nilai persepsi.

    Berdasarkan teori yang di ungkapkan oleh sedarmayanti faktor-faktor yang

    dapat mempengaruhi konflik peran merupakan masalah komunikasi, masalah ini

    merupakan masalah klasik dalam peran suatu pemimpin. Pemimpin seharusnya

    dapat menyesuaikan kalimat yang di ungkapkan oleh bawahannya dan mampu

    konsisten apa yang ia katakan. Masalah struktur organisasi, hal ini juga pemimpin

    dapat memperhatikan penempatan bawahannya agar tidak ada konflik karena suatu

    pengankatan jabatan. Masalah pribadi, pemimpin dapat mengatur bawahannya agar

    tidak ada kecemburuan melalui perbedaan-perbedaan yang didapatkan oleh

    pemimpin kepada bawahannya.

  • 17

    2.1.5 Indikator Peran

    Indikator peranan merupakan aspek-aspek yang menjadi ukuran dalam

    suatu peranan. Ukuran-ukuran tersebut dijadikan tolok ukur dalam suatu peranan.

    Indikator ataupun ukuran peranan sangat diperlukan karena akan bermanfaat baik

    bagi banyak pihak. Adapun survei literatur mengenai indikator yang menjadi

    ukuran peranan adalah sebagai berikut.

    Menurut Mintzberg dalam buku Pengantar Manajemen Dan buku

    Kepemimpinan Dalam Manajemen yang di tulis oleh Siswanto dan Miftah Thoha

    (2012: 21 dan 12), ada tiga peran yang dilakukan pemimpin dalam organisasi yaitu:

    1. Peran Antar peribadi (Interpersonal Role), dalam peranan antar pribadi, atasan harus bertindak sebagai tokoh, sebagai pemimpin dan sebagai

    penghubung agar organisasi yang dikelolahnya berjalan dengan lancar.

    Peranan ini oleh Mintzberg dibagi atas tiga peranan yang merupakan

    perincian lebih lanjut dari peranan antarpribadi ini. Tiga peranan ini

    dijelaskan sebagai berikut:

    a. Peranan sebagai tokoh (Figurehead), yakni suatu peranan yang dilakukan untuk mewakili organisasi yang dipimpinnya didalam

    setiap kesempatan dan persoalan yang timbul secara formal.

    b. Peranan sebagai pemimpin (Leader), dalam peranan ini atasan bertindak sebagai pemimpin. Ia melakukan hubungan interpersonal

    dengan yang dipimpin, dengan melakukan fungsi-fungsi pokoknya

    diantaranya pemimpin, memotifasi, mengembangkan, dan

    mengendalikan.

    c. Peranan sebagai pejabat perantara (Liaison Manager), disini atasan melakukan peranan yang berinteraksi dengan teman sejawat, staf,

    dan orang-orang yang berada diluar organisasinya, untuk

    mendapatkan informasi.

    2. Peranan Yang Berhubungan Dengan Informasi (Informational Role), peranan interpersonal diatas meletakkan atasan pada posisi yang unik

    dalam hal mendapatkan informasi.

    Peranan interpersonal diatas Mintzberg merancang peranan kedua

    yakni yang berhubungan dengan informasi ini. Peranan itu terdiri dari

    peranan-peranan sebagai berikut:

    a. Peran pemantau (Monitor), peranan ini mengidentifikasikan seorang atasan sebagai penerima dan mengumpulkan informasi.

    Adapun informasi yang diterima oleh atasan ini dapat dikelompokkan

    atas lima kategori berikut :

  • 18

    1) Internal operations, yakni informasi mengenai kemajuan pelaksanaan pekerjaan didalam organisasi, dan semua peristiwa

    yang ada hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut.

    2) Peristiwa-peristiwa diluar organisasi (external events), informasi jenis ini diterima oleh atasan dari luar organisasi,

    misalnya informasi dari langganan, hubungan-hubungan

    pribadi, pesaing- pesaing, asosiasi-asosiasi dan semua informasi

    mengenai perubahan atau perkembangan ekonomi, politik, dan

    teknologi,yang semuanya itu amat bermanfaat bagi organisasi.

    3) Informasi dari hasil analisis, semua analisis dan laporan mengenai berbagai isu yang berasal dari bermacam-macam

    sumber sangat bermanfaat bagi atasan untuk diketahui.

    4) Buah pikiran dan kecenderungan, atasan memerlukan suatu sasaran untuk mengembangkan suatu pengertian atas

    kecenderungan-kecenderungan yang tumbuh dalam

    masyarakat, dan mempelajari tentang ide-ide atau buah pikiran

    yang baru.

    5) Tekanan-tekanan, atasan perlu juga mengetahui informasi yang ditimbulkan dari tekanan-tekanan dari pihak-pihak terteentu.

    a. Sebagai diseminator, peranan ini melibatkan atasan untuk menagani proses transmisi dari informasi-informasi

    kedalam organisasi yang dipimpinnya.

    b. Sebagai juru bicara (Spokesman), peranan ini dimainkan manajer untuk menyampaikan informasi keluar lingkungan

    organisasinya.

    3. Peranan Pengambil Keputusan (Decisional Role), dalam peranan ini atasan harus terlibat dalam suatu proses pembuatan strategi di dalam

    organisasi yang di pimpinnya. Mintzberg berkesimpulan bahwa

    pembagian besar tugas atasan pada hakikatnya digunakan secara penuh

    untuk memikirkan sisitem pembuatan strategi organisasinya.

    Keterlibatan ini disebabkan karena:

    a. Secara otoritas formal adalah satu-satunya yang diperbolehkan terlibat untuk memikirkan tindakan-tindakan yang penting atau

    yang baru dalam organisasinya.

    b. Sebagai pusat informasi, atasan dapat memberikan jaminan atas keputusan yang terbaik, yang mencerminkan pengetahuan yang

    terbaru dan nilai-nilai organisasi.

    c. Keputusan-keputusan yang strategis akan lebih mudah diambil secara terpadu dengan adanya satu orang yang dapat melakukan

    kontrol atas semuanya.

    Siswanto (2012 : 21).

  • 19

    Berdasarkan pendapat siswanto dan Miftah Toha di atas Peran pemimpin

    yang dikelompokkan atas tiga bagian yaitu: peran antar pribadi, peran yang

    berhubungan dengan informasi, peran pengambil keputusan. Dari ketiga tersebut

    bahwa peran seorang pemimpin sudah mendekati sempurna bila itu semua

    dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

    Ada empat peranan atasan/manajer yang di kelompokkan kedalam pembuatan

    keputusan:

    1) Peranan sebagai entrepreneur, dalam peranan ini Mintzberg mengemukakan peranan entrepreneur dimulai dari aktifitas melihat

    atau memahami secara teliti persoalan-persoalan organisasi yang

    mungkin bisa digarap.

    2) Peranan sebagai penghalau gangguan (disturbance handler), peranan ini membawa atasan untuk bertanggung jawab terhadap organisasi

    ketika organisasinya terancam bahaya, misalnya: akan bubar, terkena

    gosip, isu-isu kurang baik, dan sebagainya.

    3) Peranan sebagai pembagi sumber (resource allocator), membagi sumber dana adalah suatu proses pembuatan keputusan. Di sini seorang

    atasan mengambil peranan dalam mengabil keputusan kemana sumber

    dana yang akan didistribusikan ke bagian-bagian dari organisasinya.

    Sumber dana ini meliputi sumber yang berupa uang, waktu, perbekalan

    tenaga kerja dan reputasi.

    4) Peranan sebagai negosiator, peranan ini meminta kepada atasan untuk aktif berpatisipasi dalam arena negosiasi.

    Miftah Thoha (2012 :12).

    Berdasarkan pendapat Miftah Toha di atas Peranan yang dikelompokkan

    dalam pengambilan keputusan merupakan suatu gambaran mengenai hasil kerja

    seseorang atau organisasi dalam mencapai suatu tujuan, dalam melaksanakan

    pekerjaannya harus sesuai dengan prinsip – prinsip yang telah dikemukakan oleh

    Miftah thoha yang diterapkan pada suatu pimpinan, instansi pemerintahan atau

    organisasi kelompok.

  • 20

    Menurut Kusnadi (2002: 20) ada tiga peran yang dilakukan pemimpin

    dalam organisasi, yaitu:

    1. Peran pribadi (interpersonal role), mengacu pada hubungan antara

    pemimpin dengan yang lain baik dalam organisasi maupun diluar

    organisasi, dalam hal ini pemimpin memiliki peranan yang berbeda, yaitu

    :

    a. Figuran, bertindak sebagai simbol organisasi.

    b. Peran pemimpin, bertindak untuk mendorong agar pegawai bekerja

    secara produktif, efektif, dan efisien dan mempengaruhi mereka bekerja

    secara optimal untuk mencapai tujuan.

    2. Peranan berkaitan dengan informasi (Informasi Role) dimana pimpinan

    merupakan titik sentral bagi lalu lintas hubungan kerjasama antar

    pegawai yang berada dalam lingkupnya, dalam hal ini pimpinan

    dilibatkan dalam tiga hal yaitu:

    a. Memantau secara terus menerus, memperoleh data, pesan atau

    informasi dari dalam dan luar organisasi yang dianggap relevan.

    b. Menyebarkan informasi yang diperoleh selanjutnya disebarluaskan

    keseluruh organisasi.

    c. Sebagai juru bicara.

    3. Peran Keputusan (Decision Role), dalam hal ini pimpinan memainkan

    empat peranan wiraswasta, penanganan gangguan, pengalokasian

    sumber daya, dan juru runding.

    Kecamatan sebagai organisasi publik yang dipimpin oleh seorang camat

    mempunyai peran dalam pembinaan penyelenggaraan pemerintah desa/kelurahan.

    Oleh karena itu pihak kecamatan dengan camat sebagai pimpinan harus mengambil

    langkah-langkah atau aktifitas-aktifitas yang akan diambil dalam membina

    penyelenggaraan pemerintah kecamatan tersebut.

    Dalam menjalankan peranannya sebagai Pembina penyelenggaraan

    pemerintahan desa camat juga harus membangun komunikasi yang baik terhadap

    pemerintahan Kelurahan agar pemerintah kelurahan bisa berkonsultasi jika ada

    kesulitan kesulitan kerja. Rongers 1981 (dalam Cangara; 2007) mengatakan bahwa

    Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau

  • 21

    melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya

    akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.

    Harold D. Lasswell (dalam Cangara; 2007) salah seorang peletak dasar ilmu

    komunikasi lewat ilmu politik menyebutkan tiga fungsi dasar yang menjadi

    penyebab, mengapa menusia perlu berkomunikasi:

    1. Hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya.

    2. Upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

    3. Upaya untuk melakukan transformasi warisan sosial.

    Harold D. Lasswell (dalam Cangara; 2007)

    Ketiga fungsi diatas menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam

    berhubungan dengan sesama anggota anggota masyarakat.

    Jadi Komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan umat

    manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. Pendek kata,

    sekarang ini keberhasilan dan kegagalan orang dalam mencapai sesuatu yang

    diinginkan termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya dalam

    berkomunikasi.

    Begitu juga dengan halnya dalam proses pembinaan, timbulnya proses

    tersebut karena pihak Pembina berusaha untuk mengadakan hubungan atau

    komunikasi dengan yang dibina, dalam hal ini adalah pemerintah Kecamatan

    Mempura, keberhasilan pembinaan tersebut sangat ditentukan oleh hasil dari

    komunikasi itu sendiri.

  • 22

    2.1.6 Pengertian Koordinasi

    Pada sebuah organisasi setiap pimpinan perlu untuk mengkoordinasikan

    kegiatan kepada anggota organisasi yang diberikan dalam menyelesaikan tugas.

    Dengan adanya penyampaian informasi yang jelas, pengkomunikasian yang tepat,

    dan pembagian pekerjaan kepada para bawahan oleh manajer maka setiap individu

    bawahan akan mengerjakannya sesuai dengan wewenang yang diterima. Tanpa

    adanya koordinasi setiap pekerjaan dari indivudu karyawan maka tujuan

    perusahaan tidak akan tercapai.

    Menurut Ismail Solihin (2009: 91 ), karateristik pertama dari organisasi

    adalah adanya koordinasi upaya dari sumber daya manusia yang terlibat dalam

    organisasi. Penggabungan yang terkoordinasi dengan baik akan menghasilkan

    sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan upaya perseorangan.

    Hasibuan (2009 : 85) berpendapat bahwa : “koordinasi adalah kegiatan

    mengarahkan, mengintegrasikan, dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen

    dan pekerjaan-pekerjaan para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi”.

    Menurut Yohanes Yahya (2006 : 95), koordinasi adalah proses

    pengintegrasian tujuan dan kegiatan pada satuan yang terpisah pada suatu

    organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.

    Menurut Handoko (2003 : 195), koordinasi adalah proses pengintegrasian

    tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen-

    departemen atau bidang-bidang fungsional) pada suatu organisasi untuk mencapai

    tujuan secara efesien dan efektif.

  • 23

    Menurut G.R Terry dalam Hasibuan ( 2009 : 85) berpendapat bahwa

    koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah

    dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu

    tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.

    Menurut Manullang (2008: 72) koordinasi adalah usaha mengarahkan

    kegiatan seluruh unit-unit organisasi agar tertuju untuk memberikan sumbangan

    semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan dengan

    adanya koordinasi akan terdapat keselarasan aktivitas diantara unit-unit organisasi

    dalam mencapai tujuan organisasi.

    Menurut Richard L. Daft (2011 : 30) koordinasi (coordination) mengacu

    pada kualitas kolaborasi di antara departemen. Menurut Manullang ( 2008: 72-73),

    koordinasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Empat cara utama dalam usaha

    memelihara koordinasi adalah sebagai berikut:

    1. Mengadakan pertemuan resmi antara unsur-unsur atau unit yang harus

    dikoordinasikan. Dalam pertemuan seperti ini, dibahas dan diadakan

    pertukaran pikiran dari pihak-pihak yang bersangkutan dengan tujuan

    mereka akan berjalan seiring dan bergandengan dalam mencapai suatu

    tujuan.

    2. Mengangkat seseorang, suatu tim atau panitia koordinator yang khusus

    bertugas melakukan kegiatan-kegiatan koordinasi, seperti memberi

    penjelasan atau bimbingan kepada unit-unit yang dikoordinasikan.

    3. Membuat buku pedoman yang berisi penjelasan tugas dari masing-

    masing unit. Buku pedoman seperti itu diberikan kepada setiap unit untuk

    dipedomani dalam pelaksanaan tugas masing-masing.

    4. Pimpinan atau atasan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan

    bawahannya dalam rangka pemberian bimbingan, konsultasi, dan

    pengarahan. Melakukan kegiatan koordinasi dengan berbagai cara seperti

    tersebut diatas adalah amat perlu sebab adanya kegiatan koordinasi dapat

    menghindarkan terjadi konflik mengurangi duplikasi tugas, meniadakan

    pengangguran, melenyapkan kepentingan unit sendiri dan memperkukuh

    kerja sama. Dengan setiap koordinasi diharapkan akan tercipta suasana kerja

    sama, kesatuan tindakan dan kesatuan tujuan akhir.

  • 24

    Berdasarkan pengertian dari Manullang bahwa koordinasi mengadakan

    pertemuan setelah itu bertukar pikiran sehingga tujuan tercapai. Mengangkat

    seseorang untuk memimpin suatu koordinasi untuk memberikan penjelasan atau

    bimbingan. Membuat buku pedoman untuk dibagikan pada setiap unit. Pimpinan

    mengadakan pertemuan-pertemuan dengan rangka pemberian bimbingan,

    konsultasi dan arahan. Diharapkan setelah adanya koordinasi akan tercipta suasana

    kerja sama, kesatuan tindakan dan kesatuan tujuan akhir.

    2.1.6.1 Kebutuhan Akan Koordinasi

    Kegiatan-kegiatan dari satuan-satuan organisasi berbeda dalam kebutuhan

    integrasi. Kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan akan

    komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-

    macam satuan pelaksananya. Bila tugas-tugas tersebut memerlukan aliran informasi

    antar satuan, derajat koordinasi yang tinggi adalah paling baik. Derajat koordinasi

    yang tinggi ini sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak

    diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling

    ketergantungan adalah tinggi. Koordinasi juga sangat dibutuhkan bagi organisasi-

    organisasi yang menetapkan tujuan yang tinggi.

    Ada tiga macam saling ketergantungan di antara satuan-satuan organisasi

    menurut Yohanes Yahya (2006 :95) yaitu:

    1. Saling ketergantungan yang menyatu

    2. Saling ketergantungan yang berurutan

    3. Saling ketergantungan timbal balik

  • 25

    2.1.6.2 Masalah-Masalah Pencapaian Koordinasi yang Efektif

    Peningkatan spesialisasi akan menaikkan kebutuhan akan koordinasi.

    Tetapi semakin besar derajat spesialisasi, semakin sulit bagi manajer/pimpinan

    untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan khusus dari satuan-satuan yang

    berbeda.

    Menurut YohanesYahya (2006 : 95), ada empat tipe perbedaan dalam sikap

    dan cara kerja yang mempersulit tugas-tugas organisasi secara efektif sebagai

    berikut:

    1. Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu

    2. Perbedaan dalam orientasi waktu

    3. Perbedaan dalam orientasi antar pribadi

    4. Perbedaan dalam formalitas struktur

    2.1.6.3 Tipe Koordinasi

    Umumnya organisai memiliki tipe koordinasi yang dipilih dan disesuaikan

    dengan kebutuhan atau kondisi-kondisi tertentu yang diperlukan untuk

    melaksanakan tugas agar pencapaian tujuan tercapai dengan baik.

    Menurut Hasibuan (2009: 86-87) Tipe koordinasi dibagi menjadi dua

    bagian besar :

    a. Koordinasi vertikal

    b. Koordinasi horizontal.

  • 26

    Kedua tipe ini biasanya ada dalam sebuah organisasi. Makna kedua tipe

    koordinasi ini dapat dilihat dari penjelasan di bawah ini:

    a. Koordinasi vertikal (vertikal coordination) adalah kegiatan-kegiatan penyatuan,

    pengarahan yang dilakukan oleh atasan terhadap kegiatan unit- unit, kesatuan-

    kesatuan kerja yang ada di bawah wewenang dan tanggung jawabnya. Tugasnya

    atasan mengkoordinasi semua aparat yang ada di bawah tanggung jawabnya secara

    langsung. Koordinasi vertikal ini secara relatif mudah dilakukan, karena atasan

    dapat memberikan sanksi kepada pegawai yang sulit diatur.

    b. Koordinasi horizontal (horizontal coordination)adalah mengkoordinasikan

    tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan

    terhadap kegiatan-kegiatan dalam tingkat koordinasi (pegawai) yang setingkat.

    Koordinasi horizontal ini dibagi atas interdisciplinory dan interrelated.

    Interdisciplinary adalah suatu koordinasi dalam rangka mengarahkan,

    menyatukan tindakan-tindakan, mewujudkan, dan menciptakan disiplin antara unit

    yang satu dengan unit yang lain secara intern maupun ekstra pada unit-unit yang

    sama tugasnya.

    Intenelated adalah koordinasi antar badan (instansi) unit-unit yang

    fungsinya berbeda, tetapi instansi yang satu dengan yang lain saling bergantung

    atau mempunyai kaitan secara intern atau ekstern yang levelnya setaraf. Koordinasi

    horizontai ini relatif sulit dilakukan, karena koordinator tidak dapat memberikan

    sanksi kepada pejabat yang sulit diatur sebab kedudukannya setingkat/setara.

  • 27

    2.1.6.4 Tujuan Koordinasi

    Apabila dalam organisasi dilakukan koordinasi secara efektif maka ada

    beberapa manfaat yang didapatkan. Jelas manfaat koordinasi sangat menentukan

    terselenggaranya usaha yang telah diprogramkan untuk mencapai hasil yang

    diharapkan. Tetapi apabila koordinasi tidak melaksanakan atas departemen dan

    pembagian kerja akan menimbulkan organisai yang berjalan sendiri-sendiri tanpa

    ada kesatuan arah.

    Koordinasi penting dalam suatu organisasi seperti apa yang dikatakan

    hasibuan :

    1. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, percekcokan dan kekembaran

    atau kekosongan pekerjaan.

    2. Agar orang-orang dan pekerjaannya diselaraskan serta diarahkan untuk

    pencapaian tujuan organisasi.

    3. Agar sarana dan prasarana dimanfaatkan untuk mencapai tujuan.

    4. Supaya semua tugas, kegiatan dan pekerjaan terintegrasi kepada sasaran

    yang diinginkan. Hasibuan (2009:86).

    2.1.7 Pengertian Camat

    Pengertian camat menurut Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

    tentang Pemerintahan Daerah, pada pasal 1 angka 24 disebutkan:“Kecamatan atau

    yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah dari Daerah kabupaten/kota

    yang dipimpin oleh camat, Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun

    1996 Tentang Pedoman dan Tata Kerja Pemerintahan Kecamatan Pada Pasal 2

    Disebutkan: “Camat sebagai kepala wilayah yang memimpin penyelenggaraan

    pemerintahan di tingkat kecamatan yang berada dibawah dan bertanggung jawab

    kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan.

  • 28

    2.1.7 Tugas pokok dan fungsi camat

    Sebagai kepala wilayahnya, maka seorang camat mempunyai tugas yang

    disebut pada PP No 17 Tahun 2018 pasal 10 yaitu :

    Camat dalam memimpin Kecamatan bertugas meliputi:

    a. menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di tingkat Kecamatan

    sesuai dengan ketentuan peraturan penrndang-undangan yang mengatur

    pelaksanaan urusan pemerintahan umum;

    b. mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat, meliputi:

    1. partisipasi masyarakat dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan di desa/Kelurahan dan Kecamatan;

    2. sinkronisasi program kerja dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah dan swasta di wilayah kerja

    Kecamatan;

    3. efektivitas kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kecamatan; dan

    4. pelaporan pelaksanaan tugas pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja Kecamatan kepada bupati/wali kota;

    c. mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban

    umum, meliputi:

    1. sinergitas dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan instansi vertikal di wilayah Kecamatan;

    2. harmonisasi hubungan dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat; dan

    3. pelaporan pelaksanaan pembinaan ketenteraman dan ketertiban kepada bupati/wali kota;

    d. mengoordinasikan penerapan dan penegakan Peraturan Daerah dan

    Peraturan Kepala Daerah,meliputi:

    1. sinergitas dengan perangkat daerah yang tugas dan fungsinya di bidang penegakan peraturan perundang-undangan dan/atau

    Kepolisian Negara Republik Indonesia; dan

    2. pelaporan pelaksanaan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali

    kota;

    e. mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum,

    meliputi:

    1. sinergitas dengan perangkat daerah dan/atau instansi vertikal yang terkait;

    2. pelaksanaan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum yang melibatkan pihak swasta; dan

    3. pelaporan pelaksanaan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota;

  • 29

    f. mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat

    Kecamatan, meliputi:

    1. sinergitas perencanaan dan pelaksanaan dengan perangkat daerah dan instansi terkait;

    2. efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di tingkat Kecamatan; dan

    3. pelaporan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat Kecamatan kepada bupati/wali kota;

    g. membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa sesuai

    dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur desa;

    h. melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah

    kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja perangkat daerah

    kabupaten/kota yang ada di Kecamatan, meliputi:

    1. perencanaan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan; 2. fasilitasi percepatan pencapaian standar pelayanan minimal di

    wilayahnya;

    3. efektivitas pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan; dan

    4. pelaporan pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota melalui sekretaris

    daerah; dan

    i. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

    undangan.

    (PP 17 Tahun 2018 pasal 10 tentang Kecamatan)

    Berdasarkan pengertian diatas, bahwa Kecamatan yang dipimpin oleh

    Camat dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/walikota bisa

    mengendalikan tugas pokok dan fungsi yang lebih dari yang diharapkan dimulai

    dari mengkoordinasikan kegiatan penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban

    umum, penerapan dan penegakan peraturan daerah, pemeliharaan prasana dan saran

    pelayanan umum, pemberdayaan masyarakat sampai dengan melaksananakan

    pelayanan terhadap masyarakat.

  • 30

    2.1.8 Perda Kota Bandung No 11 Tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan

    Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan

    Pada bab viii ketentuan sanksi Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang

    melanggar sebagaimana dimaksud dalam Peraturan daerah ini selain dapat

    dikenakan sanksi administrasi, dikenakan juga pembebanan biaya paksaan

    penegakan hukum sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini.

    Pasal 49 ayat 1 poin s setiap orang atau badan hukum yang melakukan

    perbuatan berupa :

    “membuat gaduh sekitar tempat tinggal atau membuat sesuatu yang dapat

    mengganggu ketentraman orang lain, seperti suara binatang, suara musik, suara

    kendaraan dan lain-lain dikenakan pembebanan biaya paksaan penegakan hukum

    sebesar Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah), dan/atau sanksi

    administrasi berupa penahanan untuk sementara waktu Kartu Tanda Penduduk, atau

    Kartu Identitas Kependudukan lainnya, dan/atau pengumuman di media masa”.

    Pasal 49 ayat 2 Pelaksanaan sanksi administrasi dan pembebanan biaya

    paksa penegakan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk tindakan

    represif non yustisial.

    Untuk pembayaran sanksi administratif pada pelanggaran diatas maka ada

    pada Pasal 49 a :

    1. Biaya paksaan penegakan hukum sebagaimana dimaksud Pasal 49 ayat

    (1) dibayarkan kepada Kas Daerah selambat-lambatnya dalam jangka

    waktu 3 x 24 jam sejak ditetapkan.

  • 31

    2. Apabila pembayaran tidak dilaksanakan dalam jangka waktu sebagaimana

    dimaksud pada ayat (1), maka dapat dikenakan sanksi administrasi dan/atau

    sanksi pidana.

    Setiap pelanggar baik dari perseorangan maupun badan hukum tidak

    menghapuskan kewajiban pelanggar dan tidak menghapuskan kewenangan

    penyidik untuk melakukan penyidikan ada pada Pada Pasal 49 poin b sebagaimana

    sebagai berikut :

    1. Pembayaran pembebanan biaya paksa penegakan hukum tidak

    menghapuskan kewajiban pelanggar untuk tetap melakukan ketentuan

    Peraturan Daerah ini.

    2. Pembayaran biaya paksa penegakan hukum tidak menghapuskan

    kewenangan Penyidik untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran

    Peraturan Daerah ini.

    Bagi pelangggar yang dikenakan sanksi akan memperoleh haknya,

    pelanggar yang membangkan akan di pidana selama kurang lebih 3 bulan adapun

    penjelasan perdanya ada pada Pasal 49 poin c sebagai berikut :

    1. Pelanggar yang dikenakan sanksi administrasi, dapat memperoleh kembali

    haknya setelah pelanggar membayar biaya paksaan penegakan hukum dan

    melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam ketentuan

    Peraturan Daerah ini.

    2. Setiap pelanggar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) selain

    dikenakan biaya paksaan penegakan hukum dan sanksi administrasi, juga

  • 32

    dapat diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau

    denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

    3. Penyidik berwenang untuk tidak melanjutkan proses penyidikan terhadap

    pelanggar Peraturan Daerah ini apabila pelanggar telah membayar biaya

    penegakan hukum dan telah memenuhi kewajiban, keharusan atau tidak

    melakukan tindakan yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Peraturan

    Daerah ini.

    2.1.9 Definisi Ketenteraman dan Ketertiban

    Ketenteraman dan ketertiban, berasal dari kata dasar “tentram” dan “tertib”

    yang pengertiannya menurut W.J.S Poerwadarminta (1976:256) adalah : “Tentram

    ialah aman atau (tidak rusuh, tidak dalam kekacauan) misalnya didaerah yang aman,

    orang-orang bekerja dengan senang, tenang (tidak gelisah, tenang hati, pikiran).

    Selanjutnya Tertib ialah aturan, peraturan yang baik. Ketertiban artinya aturan

    peraturan, kesopanan, peri kelakuan yang baik dalam pergaulan, keadaan serta

    teratur baik.

    Pada lain hal yang dimaksud dengan ketenteraman dan ketertiban umum

    dalam Pasal 13 Ayat (1) Huruf C Undang-Undang No.12 Tahun 2008 menetapkan

    bahwa “ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat pada ketentuan ini

    termasuk penyelenggaraan perlindungan masyarakat”. Definisi tersebut

    menunjukkan bahwa ketenteraman dan ketertiban, menunjukkan suatu keadaan

    yang mendukung bagi kegiatan pemerintah dan rakyatnya dalam melaksanakan

    pembangunan.

  • 33

    Sedangkan menurut Pasal 1 Angka 10 Peraturan Pemerintah Nomor 6

    Tahun 2010 ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat adalah suatu keadaan

    dinamis yang memungkinkan pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat

    dapat melakukan kegiatannya dengan tenteram, tertib, dan teratur.

    Berdasarkan beberapa definisi di atas ketertiban umum adalah suatu

    keadaan yang aman, tenang dan bebas dari gangguan atau kekacauan yang

    menimbulkan kesibukan dalam bekerja untuk mencapai kesejahteraan masyarakat

    seluruhnya yang berjalan secara teratur sesuai hukum dan norma-norma yang ada.

    Hal ini menunjukkan pula bahwa ketenteraman ketertiban masyarakat sangat

    penting dan menentukan dalam kelancaran jalannya pemerintahan, pelaksanaan

    pembangunan serta pembinaan kemasyarakatan dalam suatu wilayah atau daerah

    sehingga tercapainya tujuan pembangunan yang diharapkan untuk kesejahteraan

    masyarakat.

    2.1.10 Pengertian Cafe (Kafe)

    Menurut Kamus Istilah Pariwisata Dan Perhotelan (2003:66) Cafe (E)

    adalah Restoran dengan menu terbatas. cafe (F) adalah istilah lain dari Coffee yang

    biasa dipakai untuk menyebut istilah Coffee Shop. Artinya tempat makan dan

    minum yang menyediakan menu cepat dan sederhana serta menyediakan minuman

    ringan untuk orang yang santai atau menunggu sesuatu.

    Pengertian kafe (cafe) menurut Longman. Restoran kecil yang melayani

    atau menjual makanan ringan dan minuman, kafe biasanya digunakan orang untuk

    rileks (Dictionary of English Language and Culture)

  • 34

    Sedangkan Menurut Budiningsih (2009:51) cafe atau cape adalah suatu

    restoran kecil yang berada di luar hotel. cafe memiliki pilhan makanan yang sangat

    terbatas dan tidak menjual minuman yang beralkohol tinggi, tetapi tersedia

    minuman sejenis bir, soft drink, teh, kopi, rokok, cake, cemilan, dan lain-lain.

    Restoran murah yang menyediakan makanan yang mudah dimasak/dihidangkan

    kembali (The New Dictionary and Theosaurus)

    Tempat yang menyediakan makanan dan minuman yang mendekati

    restaurant dalam sistem pelayanan yang di dalamnya terdapat hiburan alunan

    musik, sehingga kafe dapat digunakan sebagai tempat yang santai dan untuk

    berbincang-bincang. (Building Planning & Desain)

    Kafe (Cafe) merupakan tempat yang enak digunakan sebagai tempat untuk

    berkumpul atau sekedar bersantai untuk melepas lelah sehabis beraktivitas. Kafe

    biasanya menyediakan makanan dan minuman ringan sebagai hidangan dan juga

    ada live musik sebagai tambahan untuk hiburan bagi para pengunjung yang datang.

    perbedaan cafe dengan tempat makan yang lain adalah kafe yang lebih

    mengutamakan hiburan dan kenyamanan pengunjung.

    Saat ini sudah kafe-kafe yang menghadirkan live music. Hiburan tersebut

    dapat membuat pengunjung kafe tidak cepat bosan. Jam buka kafe secara umum

    dimulai dari pagi sampai malam (10.00-22.00) atau ada pula kafe yang dibuka mulai

    dari sore hari (18.00-02.00). Tempat yang biasanya dipakai untuk membuka kafe

    adalah Rumah yang didekorasi dan ditata dengan baik, dan gerai atau ruang pusat

    belanja, perkantoran, ruang publik dan lain sebagainya.

  • 35

    Sebuah kafe mempunyai beberapa persyaratan ruang yang dilihat dari segi

    keamanan, keselamatan, kenikmatan, dan kesehatan. Dengan adanya

    perkembangan jaman, kafe ini semakin luas, artinya kafe tidak saja menjadi tempat

    menikmati makanan dan minuman tetapi juga menjadi tempat bersosialisasi dan

    mencari teman baru. Dalam perancangan interior, desain mebel juga harus

    dipikirkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dimensi mebel pun bisa

    mempengaruhi pengunjung untuk berlama-lama duduk ataupun datang, duduk,

    makan lalu pergi.

    Cara penyajian makanan dalam kafe terdapat beberapa cara, yaitu : Self

    Service. Dimana pengunjung melakukan pelayanan bagi dirinya sendiri.

    Pengunjung datang kemudian mengambil makanan dan minuman yang mereka

    inginkan kemudian menuju ke kasir dan membayar makanan mereka lalu duduk di

    tempat yang telah disediakan. Cara ini terkesan familiar dan bersahabat.

    Waiter of Waitress Service to Table. Pengunjung datang lalu duduk pada

    kursi yang telah disediakan, kemudian pramusaji akan melayani mereka, mengantar

    menu dan makanan hingga membayar ke kasir, sehingga orang tidak perlu beranjak

    dari kursinya. Cara ini terkesan formal.

    Counter Service. Dimana terdapat area khusus yang terdapat display

    makanan yang ada, biasanya digunakan untuk pelayanan yang cepat dan service

    tidak formal.

    Automatic Vending Menggunakan mesin otomatis. Pengunjung

    memasukkan koin lalu dari mesin keluar makanan yang dipilihnya.

    Makanan dan minuman yang terdapat dalam cafe umumnya antara lain:

  • 36

    1. Hot Drink seperti coffe 2. Cold Drink seperti ice coffe, ice tea, soft drink. 3. Hot Food seperti sandwich, burger 4. Cold Food seperti salad, baker, dan snack

    Sumber : JURNAL INTRA VOL.2, NO.2, (2014) 421-425

    Seperti Cafe pada umumnya disetiap kota pasti selalu tersedia menu berupa

    yang tertera diatas. Tetapi setiap Cafe terkadang mempunyai desain menu ke

    ukhasan cafe masing-masing.

    2.2 Kerangka Pemikiran

    Peranan seorang pemimpin tidak dapat dipungkiri menjadi hal yang penting

    untuk diperhatikan, karena bagaimanapun kedudukan dan prilaku seorang

    pemimpin memiliki konstribusi besar dalam keberhasilan setiap program dan tugas

    dari organisasi yang ia pimpin untuk dapat mencapai visi, misi serta tujuannya.

    Peranan seorang camat dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap

    ketertiban dan keamanan suatu lingkungan dari setiap kegiatan yang beroperasi/

    dilaksanakan di lingkungan tersebut. Maka dari itu peranan seorang camat

    merupakan hal yang penting pada proses pemerintahan suatu daerah guna

    mempertahankan ketertiban dan keamanan wilayah tersebut. Pada penelitian ini

    peranan camat yang akan peneliti teliti adalah Camat Cidadap Kota Bandung.

    Peranan seorang camat diduga dapat ditingkatkan dengan mengacu pada tiga

    indikator peranan yang dikemukakan oleh Kusnadi.

    Pada proses pelaksanaan pemerintahan di daerah Cidadap Kota Bandung,

    terdapat permasalahan yang masih kerap kali terjadi. Permasalahan tersebut

    diakibatkan dari suara musik yang keluar dari salah satu cafe/bar di daerah Jl.

    Setiabudi yaitu Cafe Bucharest. Suara musik yang dihasilkan dari kegiatan yang

  • 37

    dilakukan oleh cafe tersebut dinilai oleh warga sekitar telah mengganggu jam

    istirahat mereka. Hal tersebut dikarenakan jam operasional cafe yang sampai dini

    hari bahkan menjelang waktu subuh. Warga sekitar telah melakukan protes kepada

    pemerintah kecamatan Cidadap agar dapat melakukan tindakan berupa teguran

    kepada pihak cafe dengan harapan masalah yang dirasakan oleh warga sekitar dapat

    terselesaikan. Namun pada kenyataannya permasalahan kenyamanan masyarakat

    tersebut belum dapat teratasi. Peneliti menduga adanya miskoordinasi yang terjadi

    antara ketiga belah pihak; Warga sekitar, Pihak Cafe dan Pemerintah Kecamatan

    Cidadap. Pada permasalahan ini fungsi peranan yang tidak berjalan dengan baik

    adalah penanganan gangguan dan peranan camat sebagai juru runding.

    Berdasarkan permasalah tersebut maka peneliti membuat suatu kerangka

    pemikiran bahwa peranan Camat Cidadap dapat berpengaruh terhadap penyelesaian

    permasalahn yang dialami oleh warganya. Peneliti menduga bahwa peranan dari

    Camat Kecamatan Cidadap berpengaruh terhadap kelancaran tugas Pemerintah dan

    penyelesaian permasalahan di daerah tersebut. Peranan yang maksimal diduga

    dapat terwujud apabila Camat Kecamatan Cidadap dapat mengaplikasikan ketiga

    indikator peranan yang disebutkan oleh Kusnadi;

    Peran pribadi (interpersonal role), Kategori Peran Antarpribadi ini adalah

    kategori peran seorang Camat untuk memberikan informasi dan Ide. Terdapat 3

    peran Manajer yang digolongkan ke dalam Kategori Peran Antarpribadi, ketiga

    peran tersebut adalah sosok atau figur. Seorang camat memliki tanggung jawab

    terhadap legal sosial juga bertindak sebagai simbol pemimpin di wilayahnya

    kecamatan Cidadap. Seorang Camat diharapkan menjadi sumber inspirasi. Sebagai

  • 38

    contoh, seorang Camat melakukan rapat atau turun langsung bertemu dengan

    manajer cafe untuk menegur dan sebagainya. Seorang Camat juga ber peran sebagai

    Pemimpin, dimana Camat bertugas pemimpin dalam tim atau organisasinya.

    Meyeleksi dan melatih bawahannya agar tanggap dengan informasi yang

    sampaikan oleh warga Cidadap. Seorang Camat juga sebagai penghubung, dimana

    Camat dapat membangun dan menjaga komunikasi dengan internal organisasi

    maupun dengan pihak perusahaan yang dapat mengganggu ketertiban dan

    ketentraman di Kecamatan Cidadap.

    Peran berkaitan dengan informasi (Informasi Role) dimana pimpinan

    merupakan titik sentral bagi lalu lintas hubungan kerjasama antar pegawai yang

    berada dalam lingkupnya. Seorang Camat berperan sebagai pengelola informasi.

    Peran yang tergolong dalam informational Role adalah, pemantau dalam peran

    permantau ini, seorang Camat berperan sebagai pencari informasi yang berkaitan

    industri dan organisasinya. Seorang Camat juga memantau bawahan yang

    dipimpinya baik dari segi produktivitas, kinerja maupun kenyamanan kerja

    anggotanya timnya. Setelah mendapatkan informasi, Camat harus menyebarkan

    informasi dan mengkomunikasikan informasi tersebut ke orang lain yang ada dalam

    organisasinya atau mengkomunikasikan informasi ke anggota timnya ataupun

    karyawan yang berkaitan lainnya di dalam. Camat Cidadap dalam hal ini yaitu

    menyebarkan informasi seperti Laporan dari warga berupa dari internet maupun

    laporan sms dan Whatsup. Setelah itu seorang Camat juga berperan sebagai Juru

    bicara yang meneruskan informasi tentang organisasinya dan tujuan organisasinya

    ke pihak cafe bucharest.

  • 39

    Peran Keputusan pengambil keputusan (Decision Role), dalam hal ini

    pimpinan memainkan empat peranan wiraswasta, penanganan gangguan,

    pengalokasian sumber daya, dan juru runding. Keempat peran tersebut termasuk ke

    dalam kategori peran keputusan berikut ini penjelasan singkatnya. Camat harus

    mampu membuat suatu perubahan dan mengendalikannya untuk kemajuan

    organisasi dan kedudukan dia sebagai pemimpin. Peran Camat disini memecahkan

    masalah dan menghasilkan ide-ide baru serta menerapkannya ke dalam organisasi.

    Camat harus merencanakan masa depan organisasinya, membuat proyek-proyek

    perbaikan dan peningkatan kualitas dan produktivitas. Adapun setelah itu Camat

    harus bertanggung jawab untuk menyeleseaikannya, dan jika terjadi konflik

    diantara anggota timnya, manajer harus menjadi penengah dan mencarikan

    alternatif strategis untuk menyelesaikan konflik tersebut.

    Setelah itu camat juga berperang sebagai sumber daya yaitu dimana camat

    menentukan sumber daya tersebut harus dialokasikasn untuk mendapatkan hasil

    pemecahan yang lebih baik. Sumber daya seperti dana untuk menunjang kegiatan,

    tenaga kerja yang mumpuni dan lain-lain. Seorang Camat juga adalah seorang

    Negosiator, berpartisipasi atau mengambil bagian dalam melakukan negoisasi

    dengan pihak luar untuk memperjuangkan kepentingan bisnis atau pendapatan ke

    kantor kecamatan.

    Bedasarkan uraian diatas, peneliti membuat model kerangka pemikiran sebagai

    berikut :

  • 40

    Bagan 2.1

    Model kerangka pemikiran

    (Sumber: hasil pengolahan peneliti, 2018)

    Kurang tentram dan tertibnya pen Kurang tentram dan tertibnya

    penyelenggaraan Cafe Bucharest di Kota Bandung

    yelenggaraan Cafe Bucharest di Kota Bandung

    CAMAT

    Peran pribadi

    (Interpersonal

    Role)

    1. Figur

    pemimpin

    2. Peran

    Pemimpin

    3. Liason

    (Penghubung)

    Peran berkaitan dengan

    informasi (Informasi

    Role)

    1. Memantau,

    memperoleh data,

    pesan atau

    informasi

    2. Menyebarkan

    informasi

    3. Sebagai Penyampai

    Perana keputusan

    (Decision Role)

    1. peran

    wiraswastawan

    2. penanganan

    gangguan

    3. Alokator

    Sumber daya

    4. juru runding.

    Optimalnya Peran Camat Cidadap dalam mengatasi masalah ketentraman

    dan ketertiban umum yang ada di Cafe Bucharest Kota Bandung

  • 41

    2.3 Proposisi

    Berdasarkan kerangka pemikiran rumusan masalah peneliti, maka proposisi

    yang diajukan dalam penelitian ini adalah peran Camat Cidadap dalam

    mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman-ketertiban umum dengan

    adanya Cafe Bucharest di Kota Bandung akan berhasil melalui teori yang di

    kemukakan oleh H.kusnadi yaitu tiga peran pemimpin dalam memimpin organisasi

    melalui, peran pribadi (Interpersonal Role) ,peranan berkaitan dengan informasi

    (Informasi Role) dan peran keputusan (Decision Role).