BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Motivasi ...   program SPSS versi 16.0 dengan

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Motivasi ...   program SPSS versi 16.0 dengan

47

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Motivasi Berprestasi terhadap Kinerja Karyawan

Untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi dan kinerja karyawan,

maka terlebih dahulu dapat dilakukan dengan menganalisis hubungan antara

kedua variabel tersebut dengan analisis korelasi.

Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada kaitan antara

variabel motivasi berprestasi dan kinerja karyawan, dan jika ada seberapa kuat

hubungan variabel tersebut. Analisis korelasi dilakukan dengan menggunakan

program SPSS versi 16.0 dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1 Korelasi Variabel Motivasi Berprestasi dan Kinerja Karyawan

48

Dari tabel 4.1, akan dilihat hubungan antara variabel motivasi berprestasi

(X) dan variabel kinerja karyawan (Y) dengan menggunakan korelasi Pearson

dengan melihat hubungan satu arah antara dua variabel tersebut.

Hipotesis:

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel Motivasi Berprestasi

dengan variabel Kinerja Karyawan.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara variabel Motivasi Berprestasi dengan

variabel Kinerja Karyawan.

Dasar Pengambilan Keputusan:

a. Sig 0.05 maka H0 diterima.

b. Sig < 0.05 maka H0 ditolak.

Hasil:

Sig 0.001 < 0.05, maka H0 ditolak. Jadi, ada hubungan yang signifikan antara

variabel Motivasi Berprestasi dengan variabel Kinerja Karyawan pada divisi

Marketing & Communication Bank BRI.

Jadi, dari uji korelasi Pearson diatas dapat diketahui bahwa ada hubungan

yang signifikan antara motivasi berprestasi dan kinerja karyawan. Hubungannya

bersifat searah karena korelasinya bernilai positif. Jadi jika motivasi

berprestasinya turun, maka kinerja karyawannya juga turun. Begitu pula

sebaliknya. Selain itu, hubungannya memiliki keeratan yang cukup kuat karena

49

nilai korelasinya 0.445 yang berada dalam range 0.40 0.599 yang artinya

korelasi bersifat cukup kuat.

Setelah melakukan analisis korelasi, selanjutnya akan dilakukan analisis

regresi dengan menggunakan regresi sederhana. Analisis regresi dilakukan dengan

menggunakan program SPSS versi 16.0 dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2 Model Summary

Angka R Square pada tabel 4.2 adalah 0.198. Artinya, kinerja karyawan

dipengaruhi motivasi berprestasi hanya sebesar 19.8%. Sedangkan sisanya yaitu

80.2% dipengaruhi oleh faktor lainnya.

Berdasarkan teori yang telah dijelaskan, motivasi berprestasi dikatakan

sebagai keinginan untuk berperilaku yang berorientasi pada tugas yang biasanya

dibandingkan dengan standar yang ada atau dengan pencapaian orang lain sebagai

penilaian. Dalam penelitian ini, indikator motivasi berprestasi dilihat dari berbagai

macam hal, yaitu: keinginan untuk memimpin, suka terhadap tantangan,

menunjukkan sikap proaktif dalam bekerja, puas dalam bekerja, ingin jauh lebih

unggul dan dapat melampaui pencapaian rekan kerja lainnya. Apabila motivasi

50

berprestasi diterapkan baik di dalam organisasi maka akan meningkatkan kinerja

karyawan sehingga karyawan dapat mengelola sumber daya yang dimiliki,

berinisiatif untuk memberikan gagasan dan mau bertindak untuk menyelesaikan

masalah, tepat waktu dengan menata rencana kerja, menghasilkan kualitas kerja

yang maksimal dan jarang ada revisi, serta komunikasi baik dengan berbagai

pihak di perusahaan.

Sedangkan angka R pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa korelasi variabel

motivasi berprestasi (X) dengan kinerja karyawan (Y) adalah 0.445. Angka 0.445

menunjukkan hubungan yang memiliki keeratan yang cukup kuat karena berada

dalam range 0.40 0.599.

Tabel 4.3 Anova

Pada tabel 4.3, dapat dilihat pengujian signifikan pengaruh antara variabel

motivasi berprestasi (X) dan variabel kinerja karyawan (Y).

Hipotesis:

51

H0 : Motivasi berprestasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja

karyawan.

Ha : Motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja

karyawan.

Dasar Pengambilan Keputusan:

a. Sig 0.05 maka H0 diterima.

b. Sig < 0.05 maka H0 ditolak.

Hasil:

Sig 0.002 < 0.05 maka H0 ditolak. Jadi, ada pengaruh yang signifikan dari variabel

Motivasi Berprestasi terhadap variabel Kinerja Karyawan pada divisi Marketing

& Communication Bank BRI.

Tabel 4.4 Coefficients

Tabel 4.4 menggambarkan persamaan regresi yaitu Y = 2.943 + 0.292 X.

Dimana Y adalah variabel kinerja karyawan, sedangkan X adalah variabel

motivasi berprestasi. Dari persamaan regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa

52

semakin baik motivasi berprestasi diterapkan dalam organisasi maka akan

meningkatkan kinerja karyawan Divisi Marketing & Communication PT. Bank

Rakyat Indonesia.

4.2 Pengaruh Motivasi Berprestasi terhadap Kontrak Psikologis

Untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi (X) dan kontrak

psikologis (Z), maka terlebih dahulu dapat dilakukan dengan menganalisis

hubungan antara kedua variabel tersebut dengan analisis korelasi. Analisis

korelasi dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.0 dengan hasil

sebagai berikut:

Tabel 4.5 Korelasi Variabel Motivasi Berprestasi dan Kontrak Psikologis

Dari tabel 4.5, akan dilihat hubungan antara variabel motivasi berprestasi

(X) dan variabel kontrak psikologis (Z) dengan menggunakan korelasi Pearson

dengan melihat hubungan satu arah antara dua variabel tersebut.

53

Hipotesis:

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel Motivasi Berprestasi

dengan variabel Kontrak Psikologis.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara variabel Motivasi Berprestasi dengan

variabel Kontrak Psikologis.

Dasar Pengambilan Keputusan:

a. Sig 0.05 maka H0 diterima.

b. Sig < 0.05 maka H0 ditolak.

Hasil:

Sig 0.000 < 0.05, maka H0 ditolak. Jadi, ada hubungan yang signifikan antara

variabel Motivasi Berprestasi dengan variabel Kontrak Psikologis pada divisi

Marketing & Communication Bank BRI.

Jadi, dari uji korelasi Pearson diatas dapat diketahui bahwa ada hubungan

yang signifikan antara motivasi berprestasi dan kontrak psikologis. Hubungannya

bersifat searah karena korelasinya bernilai positif. Jadi jika motivasi

berprestasinya turun, maka kontrak psikologisnya juga turun. Begitu pula

sebaliknya. Selain itu, hubungannya memiliki keeratan yang sangat kuat karena

nilai korelasinya 0.833 yang berada dalam range 0.80 1.000 yang artinya

korelasi bersifat sangat kuat.

54

Setelah melakukan analisis korelasi, selanjutnya akan dilakukan analisis

regresi dengan menggunakan regresi sederhana antara variabel motivasi

berprestasi dan kontrak psikologis. Analisis regresi terhadap dua variabel tersebut

dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.0 dengan hasil sebagai

berikut:

Tabel 4.6 Model Summary

Angka R Square pada tabel 4.6 adalah 0.694. Artinya, kontrak psikologis

dipengaruhi motivasi berprestasi sebesar 69.4%. Sedangkan sisanya yaitu 30.6%

dipengaruhi oleh faktor lainnya.

Motivasi berprestasi merupakan keinginan untuk berperilaku yang

berorientasi pada tugas yang biasanya dibandingkan dengan standar yang ada atau

dengan pencapaian orang lain sebagai penilaian. Apabila motivasi berprestasi

diterapkan dengan baik, maka akan meningkatkan kontrak psikologis karyawan

sehingga baik karyawan maupun atasan saling percaya satu sama lain sesuai

kesepakatan. Hal tersebut ditunjukkan dalam hal dimana perusahaan mau

menjelaskan hak dan kewajiban karyawan, peduli terhadap situai karyawan, dan

memperlakukan serta memberikan kesempatan yang sama pada karyawan.

55

Dengan penerapan motivasi berprestasi yang baik, maka kontrak psikologis akan

meningkat sehingga karyawan mau berkorban untuk atasan, fleksibel untuk

berkembang, merasakan keamanan kerja, mau mempertahankan hubungan dengan

perusahaan, mengatasi keadaan secara formal sesuai aturan dan mematuhinya,

menghormati orang lain, memutuskan keputusan secara bersama dan bekerja

secara berkelompok.

Sedangkan angka R pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa korelasi variabel

motivasi berprestasi (X) dengan kontrak psikologis (Z) adalah 0.833. Angka 0.833

menunjukkan hubungan yang memiliki keeratan yang sangat kuat karena berada

dalam range 0.80 1.000.

Tabel 4.7 Anova

Pada tabel 4.7, dapat dilihat pengujian signifikan pengaruh antara variabel

motivasi berprestasi (X) dan variabel kontrak psikologis (Z).

Hipotesis:

56

H0 : Motivasi berprestasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kontrak

psikologis.

Ha : Motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap kontrak

psikologis.

Dasar Pengambilan Keputusan:

a. Sig 0.05 maka H0 diterima.

b. Sig < 0.05 maka H0 ditolak.

Hasil:

Sig 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak. Jadi, ada pengaruh yang signifikan dari variabel

Motivasi Berprestasi terhadap variabel Kontrak Psikologis pada divisi Marketing

& Communication Bank BRI.

Recommended

View more >