Click here to load reader

Bangsa Moro Filipina

  • View
    33

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Mendeskripsikan mengenai bangsa moroo yang berada di Filipina

Text of Bangsa Moro Filipina

Rektor UMS Buka Dialog BangsamoroSabtu, 06 April 2013 08:23:58

Forum dialog bertajuk Multistake Holders Dialogue on Bangsamoro untuk persatuan dan perdamaian Bangsamoro yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta selama 2 hari pada Jumat dan Sabtu 5-6 April, dibuka oleh Rektor UMS Prof Bambang Setiaji, dengan sambutan kunci oleh Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin. Forum dialog ini antara lain dihadiri oleh delegasi panel negosiasi Pemerintah Filipina, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Kementrian Luar Negeri RI, LIPI, Henry Dunant Centre Swiss, Duta Besar RI untuk Filipina, perwakilan kedutaan besar Jepang, Arab Saudi, Turki, Pemda Nangroe Aceh Darussalam, representatif Uni Eropa, dan dosen, peneliti, serta mahasiswa berbagai universitas se-Jawa.Bambang Setiaji menyampaikan bahwa forum dialog ini merupakan satu titik penting dari serangkaian dialog panjang untuk mencari solusi Bangsamoro, yang karena latar belakang agama, sejarah, dan budayanya berbeda dengan bangsa Filipina, ingin mengatur kedaulatannya sendiri. Bangsamoro yang mayoritas penduduknya Muslim, dianeksasi oleh Amerika Serikat pada 1946 untuk menjadi bagian dari negara Filipina yang dimerdekakan dari penjajahan Spanyol. Setelah mengalami penderitaan panjang bagi rakyat Bangsamoro yang mendapat perlakuan diskriminatif pemerintahan Filipina, pergolakan konflik kekerasan intra-negara yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda, dan menjalani proses panjang perundingan damai, Bangsamoro telah memperoleh status otonomi khusus pada 15 Oktober 2012 dari pemerintah Filipina. Indonesia pun memiliki pengalaman memberikan otonomi khusus, antara lain kepada provinsi Aceh. Aceh dapat dijadikan salah satu contoh untukm penerapan khusus soal syariah, dimana Bambang Setiaji mengharapkan penerapan syariah dalam bentuk modern untuk mengentaskan fakir miskin. Bambang Setiaji, yang diperkuat oleh Din Syamsuddin dalam sambutan kuncinya, menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Asia Tenggara, mampu memberikan dukungan advisory dan bantuan kemanusiaan bagi Bangsamoro dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan pelayanan kesehatan, mengingat Muhammadiyah memiliki kekuatan dalam kegiga bidang amal-usaha ini.Din Syamsuddin juga menggarisbawahi peran Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang peduli pada binadamai, didorong oleh nilai-nilai Islam yang mengadvokasi keadilan dan perdamaian. Islam yang damai, modern, toleran, berkedilan, penebar rahmat bagi seluruh alam, adalah Islam yang dibawakan Muhammadiyah. Din memvisikan, jika Timur Tengah dikenal sebagai tempat kelahiran agama Islam, maka Indonesia diharap menjadi tempat kelahiran Islam yang damai dan rahmatan lil alamin. Ditambahkan oleh Din, peran Indonesia sebagai salah satu anggota ASEAN, strategis untuk ikut membantu memelihara stabilitas keamanan dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara khususnya dan di wilayah global pada umumnya. Muhammadiyah merupakan satu-satunya organisasi kemasyarakatan Indonesia yang menjadi anggota (International Contact Group (ICG), bersama dengan The Henry Dunant Center, The Asian Foundation, Conciliation Resources (Inggris) dan Foreign Missions of the government of Jepang, Inggris, Turki dan Arab Saudi, mendapat kepercayaan untuk mendampingi Bangsamoro bertransisi menuju Pemerintahan Mandiri yang berformat Ministerial, namun masih dalam kerangka negara Filipina, terutama dalam penyusunan perundangan dasar untuk menjamin peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Bangsamoro.Sesi kedua menampilkan dua narasumber, yaitu Dr. Herry Sudrajat, Pusat Studi Asia Pasifik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Dr. M. Rifqi Muna, peneliti dari Pusat Studi Politik, LIPI. Kedua narasumber menempatkan persoalan konflik dan perjuangan Bangsamoro tidak hanya dalam konteks konflik internal negara Filipina, tetapi dalam konteks hubungan regional negara-negara Asia Tenggara.Menurut Dr. Herry Sudrajat, konflik di Filipina Selatan sebenarnya bermula dari perjuangan Bangsamoro untuk membentuk negara sendiri yang terpisah dari negara Filipina. Dalam menanggapi konflik-konflik yang terjadi di wilayah Asia Tenggara, organisasi persatuan bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menggunakan pendekatan damai dalam menanggapi konflik-konflik yang terjadi di kalangan negara-negara anggota. Strategi yang digunakan oleh ASEAN didasarkan atas lima prinsip. Kelima prinsip tersebut adalah (1) menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesetaraan, integritas wilayah, dan identitas nasional dari masing-masing negara anggota; (2) berbagi komitmen dan tanggung jawab kolektif dalam meningkatkan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran bersama; (3) menghindari kekerasan dan ancaman atau tindakan lain yang tidak sesuai dengan hukum internasional; (4) mengandalkan penyelesaian perselisihan secara damain; dan (5) tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara anggota.Dr. Herry Sudrajat merasa optimistik bahwa pada akhir tahun 2015, negara-negara ASEAN akan berhasil membentuk Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) yang meliputi Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN.Namun demikian, Dr. M Rifqi Muna tidak terlalu optimistik dengan pembentukan masyarakat ASEAN di akhir tahun 2015 karena negara-negara ASEAN sangat beranekaragam, baik budaya maupun perilaku politiknya. Selain itu, di antara masyarakat ASEAN belum adanya identitas bersama sebagai masyarakat ASEAN dan belum ada strategi yang tepat untuk mengatasi konflik secara damai dan demokratis, baik antarnegara maupun internal masing-masing negara.http://www.ums.ac.id/news/63/dialog-internasional-bangsamoro

Gerakan Separatisme Moro di Filipinaby fensyputri1. Latar Belakang Munculnya Gerakan Separatisme Moro

Dalam sejarahnya Bangsa Moro adalah suatu etnik yang berbeda dan terpisah dari Bangsa Filipino yang sekarang merupakan mayoritas penduduk Filipina. Fakta ini diperkuat oleh Dr. Alunan C. Glang, mantan duta besar Filipina untuk Kuwait dalam buku A Nation Under Endless Tyranny mengutip sejarawan Perancis D Avitay bahwa sekitar awal abad ke-16 Mindanao bukanlah bagian dari Filipina.

Sebelum kedatangan Spanyol di Filipina pada awal abad ke-15, Bangsa Moro sudah mencapai tingkat peradaban yang cukup tinggi. Mereka tergabung dalam kerajaan-kerajaan yang yang dipimpin oleh sultan-sultan Sulu dan Manguindanao dan Buayan yang tergabung dalam suatu konfederasi yang disebut sebagai Pat-a-pangampong-ku-Ranao yaitu negara-negara muslim yang merdeka dan berdaulat. Dalam kerajaan-kerajaan Islam tersebut, system hukum diatur dan ditegakkan berdasarkan syariah Islam. Selain itu, kesusastraan, perdagangan, dan tingkat peradaban berkembang sangat pesat sebagaimana kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)

Pada tahun 1521 Bangsa Spanyol tiba di Filipina dengan semboyan 3G(Gold, Glory, Gospel). Ternyata kedatangan bangsa Spanyol ini berimplikasi terhadap kehidupan politik dan sosial bangsa Filipina khususnya di Pulau Luzon. Tujuan kaum kolonialis adalah mendirikan koloni dan memasukkan penduduk Filipina ke dalam agam Kristen untuk menghalangi penyebaran Islam ke utara dari Kalimantan. Hal itu dibuktikan dengan dipaksanya Rajah Sulaiman of Luzon yang mempertahankan Kota Manila dan pengikut-pengikutnya untuk memeluk agama Katolik. Dengan politik kekerasan dan persuasi bangsa Spanyol berhasil memperluas kedaulatannya di seluruh Filipina kecuali di tiga daerah yaitu kesultanan Sulu, Manguindanao, dan Buayan.

Masyarakat di tiga derah tersebut telah memiliki suatu kesatuan politik yang lebih baik dari daerah-daerah lain. Menurut TJS. George (1980) masyarakat Mindanao berbeda dalam merespon kolonialisme Spanyol. Salah satu alasannya adalah karena Islam yang berkembang di Mindanao telah memberikan masyarakat suatu system sosial dan politik yang lebih maju dari daerah-daerah di Filipina Utara. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)

Bangsa Moro sebagaimana diwakili oleh MILF menyatakan bahwa Bangsa Spanyol selama 377 tahun tidak pernah berhasil menundukkan Bangsa Moro menjadi daerah kolonial. Bangsa Kolonialis menggunakan segala cara untuk menundukkan Bangsa Moro. TJS. George (1980) mengatakan bahwa salah satu cara yang digunakan untuk menaklukan bangsa Spanyol adalah dengan cara mengirimkan misionaris Katolik ke wilayah-wilayah Bangsa Moro dengan harapan bahwa proses kristenisasi akan membantu penaklukan secara politik. Tapi kemudian, kaum misionaris mendesak tentara Spanyol agar melakukan penaklukan secara militer. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)

Pada tanggal 10 Desember 1898 melalui perjanjian Treaty of Paris, Spanyol menjual seluruh kepulauan Filipina kepada Amerika dan menyebutkan bahwa Kepulauan Mindanao merupakan termasuk daerah kolonial dan dijual dengan harga 20 juta dolar Mexico. Bangsa Moro menganggap bahwa inkorporasi wilayah Bangsa Moro dari Spanyol ke Filipina merupakan immoral and illegal annexation karena Spanyol tidak pernah memiliki hak untuk menyerahkan wilayah ini ke Amerika Serikat. Kepulauan yang dijual oleh Spanyol merupakan daerah dengan mayoritas masyarakat muslim dimana Spanyol tidak pernah berdaulat atas derah ini. Selain itu, masyarakat Bangsa Moro juga tidak pernah diminta pendapatnya atau tidak pernah diajak konsultasi sebelum wilayahnya diserahkan kepada Amerika Serikat. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)

Hal inilah yang menjadi ujung tombak munculnya gerakan separatis oleh Bangsa Moro. Bangsa Moro tidak terima atas perlakuan Spanyol yang secara tiba-tiba menjual wilayah mereka padahal sebelumnya mreka tidak pernah merasa ditaklukan dan tunduk kepada Spanyol.

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Berkembangnya Gerakan Separatisme Moro

Faktor-faktor yang menjadi latar belakang gerakan separatis dapat dilihat dari berbagai perspekt