of 31/31
BUPATI PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa semakin berkembangnya usaha perdagangan eceran dalam skala kecil, menengah dan besar maka berdampak pada pemberdayaan perekonomian yang berazaskan kekeluargaan untuk kesejahteraan seluruh rakyat, sehingga pasar tradisional perlu diberdayakan agar dapat tumbuh dan berkembang, serasi, saling memerlukan, saling memperkuat serta saling menguntungkan, maka dipandang perlu adanya upaya penataan, pembinaan dan pengawasan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern di Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penataan, Pembinaan dan Pengawasan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah; 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Batang dengan mengubah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam

BUPATI PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN … · BUPATI PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN, PEMBINAAN

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BUPATI PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN … · BUPATI PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH...

  • BUPATI PEKALONGAN

    PROVINSI JAWA TENGAH

    PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN

    NOMOR 1 TAHUN 2014

    TENTANG

    PENATAAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR TRADISIONAL,

    PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

    DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

    BUPATI PEKALONGAN,

    Menimbang : a. bahwa semakin berkembangnya usaha perdagangan eceran

    dalam skala kecil, menengah dan besar maka berdampak

    pada pemberdayaan perekonomian yang berazaskan

    kekeluargaan untuk kesejahteraan seluruh rakyat,

    sehingga pasar tradisional perlu diberdayakan agar dapat

    tumbuh dan berkembang, serasi, saling memerlukan,

    saling memperkuat serta saling menguntungkan, maka

    dipandang perlu adanya upaya penataan, pembinaan dan

    pengawasan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko

    modern di Daerah;

    b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

    dalam huruf a, perlu membentuk Peraturan Daerah

    tentang Penataan, Pembinaan dan Pengawasan Pasar

    Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern;

    Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang–Undang Dasar Negara Republik

    Indonesia Tahun 1945;

    2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang

    Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam

    Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;

    3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1965 tentang

    Pembentukan Daerah Tingkat II Batang dengan mengubah

    Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang

    Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam

  • 2

    lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Lembaran Negara

    Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 52, Tambahan

    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2757);

    4. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum

    Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

    1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik

    Indonesia Nomor 3209);

    5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

    Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

    (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor

    33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

    Nomor 3817);

    6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

    Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

    Indonesia Tahun 2004 Nomor 4437), sebagaimana telah

    beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang

    Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubaan Kedua atas

    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

    Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

    Indonesia Tahun 2008 Nomor 591, Tambahan Lembaran

    Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

    7. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan

    Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007

    Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik

    Indonesia Nomor 4725);

    8. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu

    Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik

    Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran

    Negara Republik Indonesia Nomor 4955);

    9. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak

    Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik

    Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran

    Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

    10. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

    Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

    (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

    140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

    Nomor 5059);

    11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang

    Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

    (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor

    36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

    Nomor 3258), sebagaimana telah diubah dengan

    Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang

    Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun

    1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum

  • 3

    Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia

    Tahun 2010 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara

    Republik Indonesia Nomor 5145);

    12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44

    Tahun 1997 tentang Kemitraan (Lembaran Negara

    Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 91, Tambahan

    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3718);

    13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38

    Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan

    antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan

    Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara

    Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan

    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

    14. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang

    Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara

    Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan

    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);

    15. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang

    Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern;

    16. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-

    DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan

    Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan

    Toko Modern;

    17. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 68/M-

    DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk Jenis Usaha

    Toko Modern;

    18. Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan Nomor 8 Tahun

    2008 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi

    Kewenangan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah

    Kabupaten Pekalongan Tahun 2008 Nomor 8);

    19. Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan Nomor 2 Tahun

    2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

    Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 – 2031 (Lembaran

    Daerah Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 Nomor 2);

    Dengan Persetujuan Bersama

    DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

    KABUPATEN PEKALONGAN dan

    BUPATI PEKALONGAN,

    MEMUTUSKAN :

    Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENATAAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR TRADISIONAl, PUSAT

    PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN.

  • 4

    BAB I KETENTUAN UMUM

    Pasal 1

    Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

    1. Daerah adalah Kabupaten Pekalongan.

    2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah

    sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah

    3. Bupati adalah Bupati Pekalongan.

    4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya

    disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

    Kabupaten Pekalongan.

    5. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha

    Mikro, Kecil dan Menengah yang selanjutnya disebut

    Dinas adalah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi

    dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kabupaten

    Pekalongan yang merupakan unsur pelaksana otonomi

    daerah yang mempunyai tugas membantu Bupati dalam

    melaksanakan kewenangan desentralisasi Pemerintah

    Daerah di bidang Perindustrian, Perdagangan, Koperasi

    dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

    6. Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah

    penjual lebih dari satu yang disebut sebagai pusat

    perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan mall, plasa,

    pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.

    7. Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan

    dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

    Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara

    dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama

    dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios,

    los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,

    menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan

    usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli

    barang dagangan dengan melalui tawar menawar.

    8. Kios adalah tempat berjualan di dalam lokasi pasar yang

    dipisahkan antara satu tempat dengan yang lainnya

    mulai dari lantai, dinding, plafon dan atap yang sifatnya

    tetap atau permanen sebagai tempat berjualan barang

    atau jasa.

    9. Los adalah tempat berjualan di dalam lokasi pasar yang

    beralas permanen dengan bentuk memanjang tanpa

    dilengkapi dengan dinding pembatas ruangan atau

    tempat berjualan dan sebagai tempat berjualan barang

    atau jasa.

    10. Pusat Perbelanjaan adalah suatu area tertentu yang

    terdiri dari satu atau beberapa bangunan yang didirikan

  • 5

    secara vertikal dari satu atau beberapa bangunan yang

    didirikan secara vertikal maupun horisontal yang dijual

    atau disewakan kepada pelaku usaha atau dikelola

    sendiri untuk melakukan kegiatan perdagangan barang.

    11. Toko adalah bangunan gedung dengan fungsi usaha yang

    digunakan untuk menjual barang atau jasa dan terdiri

    dari hanya satu penjual.

    12. Toko Modern adalah toko dengan sistem pelayanan

    mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran

    dengan berbentuk Minimarket, Supermarket, Departemen

    Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk

    perkulakan.

    13. Toko Modern Berjejaring adalah toko modern yang secara

    operasional berada dibawah satu manajemen yang

    terpusat.

    14. Minimarket adalah sarana/tempat usaha untuk

    melakukan penjualan barang-barang kebutuhan sehari-

    hari secara eceran dan langsung kepada konsumen akhir

    dengan cara swalayan.

    15. Supermarket adalah sarana atau tempat usaha untuk

    melakukan penjualan barang-barang kebutuhan rumah

    tangga termasuk kebutuhan sembilan bahan pokok

    secara eceran dan langsung kepada konsumen dengan

    cara pelayanan sendiri.

    16. Departemen Store adalah sarana tempat usaha untuk

    melakukan penjualan barang secara eceran, barang

    konsumsi utamanya adalah produk sandang dengan

    perlengkapannya dengan penataan barang berdasarkan

    jenis kelamin dan/atau usia konsumen yang luas lantai

    usahanya diatas 400 M2.

    17. Hypermarket adalah sarana atau tempat usaha untuk

    melakukan penjualan barang-barang kebutuhan rumah

    tangga termasuk kebutuhan sembilan bahan pokok

    secara eceran dan langsung kepada konsumen yang

    didalamnya terdiri atas pasar swalayan, toko modern, dan

    toko serba ada, yang menyatu dalam satu bangunan yang

    pengelolaannya dilakukan secara tunggal dan/atau jasa

    yang terletak pada bangunan/ruangan yang berbeda

    dalam satu kesatuan wilayah/tempat.

    18. Perkulakan atau grosir adalah sarana atau tempat usaha

    untuk melakukan pembelian berbagai macam barang

    dalam partai besar dari berbagai pihak dan menjual

    barang tersebut dalam partai besar sampai pada

    subdistributor dan/atau pedagang eceran.

    19. Pengelola jaringan Minimarket adalah pelaku usaha yang

    melakukan kegiatan usaha di bidang Minimarket melalui

  • 6

    satu kesatuan manajemen dan sistem pendistribusian

    barang ke outlet yang merupakan jaringannya.

    20. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang selanjutnya

    disingkat UMKM adalah kegiatan ekonomi yang berskala

    mikro, kecil dan menengah sebagaimana dimaksud dalam

    Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha

    Mikro, Kecil dan Menengah.

    21. Kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil

    dengan usaha menengah dan usaha besar disertai

    dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha

    menengah dan usaha besar dengan memperhatikan

    prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan

    saling menguntungkan, sebagaimana dimaksud dalam

    Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang

    Kemitraan.

    22. Izin Usaha Pengelolaan Pasar Tradisional yang

    selanjutnya disingkat IUP2T, adalah izin untuk dapat

    melaksanakan usaha pengelolaan Pasar Tradisional.

    23. Izin Usaha Pusat Perbelanjaan yang selanjutnya disingkat

    IUPP, adalah Izin untuk dapat melaksanakan usaha

    pengelolaan Pusat Perbelanjaan.

    24. Izin Usaha Toko Modern yang selanjutnya disingkat

    IUTM, adalah izin usaha untuk dapat melaksanakan

    pengelolaan Toko Modern.

    25. Perdagangan eceran adalah suatu usaha perorangan atau

    badan usaha dengan modal kecil dan kegiatan pokoknya

    melakukan penjualan barang-barang dagangan tertentu

    dalam partai (jumlah) kecil/satuan.

    26. Jalan adalah seluruh bagian jalan, termasuk bangunan

    pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi

    Lalu Lintas umum, yang berada pada permukaan tanah,

    di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah

    dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan

    rel dan jalan kabel.

    27. Jalan Arteri adalah merupakan jalan umum yang

    berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri

    perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan

    jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

    28. Jalan Kolektor adalah merupakan jalan umum yang

    berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi

    dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata

    sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

    29. Jalan Lokal adalah merupakan jalan umum yang

    berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri

    perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan

    jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

  • 7

    30. Jalan Lingkungan adalah merupakan jalan umum yang

    berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri

    perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah.

    31. Kompleks Perumahan adalah kelompok rumah yang

    berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau

    lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana

    dan sarana lingkungan.

    32. Pemasok adalah pelaku usaha yang secara teratur

    memasok barang kepada toko modern dengan tujuan

    untuk dijual kembali melalui kerja sama usaha.

    33. Kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha,

    baik langsung maupun tidak langsung atas dasar prinsip

    saling memerlukan, mempercayai memperkuat dan

    menguntungkan yang melibatkan Pelaku Usaha Mikro,

    Kecil, Menengah dan Usaha Besar.

    34. Pihak Ketiga adalah instansi atau badan usaha atau

    perorangan yang berada di luar organisasi pemerintah

    daerah antara lain Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah

    lainnya, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik

    Daerah, Koperasi, Swasta Nasional dan/atau Swasta

    Asing yang tunduk pada Hukum Indonesia.

    35. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang

    merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha

    maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi

    Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan

    lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan

    Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam

    bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun,

    Persekutuan , Perkumpulan, Yayasan, Organisasi Masa,

    Organisasi Sosial Politik atau Organisasi lainnya,

    Lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak

    investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

    36. Perlindungan adalah segala upaya pemerintah daerah

    dalam melindungi pasar tradisional, usaha mikro, kecil,

    menengah dan koperasi dari persaingan yang tidak sehat

    dengan pasar modern, toko modern dan sejenisnya,

    sehingga tetap eksis dan mampu berkembang menjadi

    lebih baik sebagai layaknya suatu usaha.

    37. Pemberdayaan adalah segala upaya pemerintah daerah

    dalam melindungi pasar tradisional, usaha mikro, kecil,

    menengah dan koperasi agar tetap eksis dan mampu

    berkembang menjadi suatu usaha yang lebih berkualitas

    baik dari aspek manajemen dan fisik/tempat agar dapat

    bersaing dengan pasar modern.

    38. Pembinaan adalah suatu kegiatan yang meliputi

    perlindungan, pemberdayaan, dan penataan.

  • 8

    39. Penataan adalah segala upaya yang dilakukan oleh

    pemerintah daerah untuk mengatur dan menata

    keberadaan dan pendirian toko modern disuatu daerah,

    agar tidak merugikan dan mematikan pasar tradisional,

    usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi yang ada.

    40. Pengawasan adalah suatu kegiatan yang membandingkan

    apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan

    itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan, atau

    diperintahkan.

    41. Analilis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang

    selanjutnya disingkat AMDAL adalah kajian mengenai

    dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau

    kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang

    diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang

    penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

    42. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya

    Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya

    disingkat UKL dan UPL adalah upaya yang dilakukan

    dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup

    oleh penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang

    tidak wajib melakunan Analisis Mengenai Dampak

    Lingkungan Hidup.

    43. Surat Pernyataan Pengelolaan dan Pemantauan

    Lingkungan Hidup yang selanjutnya disingkat SPPLH

    adalah surat kesanggupan penanggungjawab usaha

    dan/atau kegiatan yang tidak wajib AMDAL atau UKL dan

    UPL untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan

    lingkungan hidup.

    BAB II

    MAKSUD, TUJUAN DAN ASAS

    Pasal 2

    Peraturan Daerah ini dimaksudkan untuk memberdayakan

    Pasar Tradisional agar dapat tumbuh dan berkembang secara

    serasi, saling memerlukan, saling memperkuat serta saling

    menguntungkan, bersamaan dengan berkembangnya usaha

    perdagangan eceran yang berbentuk pusat perbelanjaan

    maupun toko modern.

    Pasal 3

    Penataan, Pembinaan dan Pengawasan Pasar Tradisional,

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern bertujuan untuk :

    a. memberikan perlindungan bagi pelaku usaha Pasar

    Tradisional dan UMKM;

  • 9

    b. memberdayakan pelaku usaha Pasar Tradisional dan

    UMKM agar mampu berkembang, bersaing, maju, mandiri

    dan dapat meningkatkan kesejahteraan;

    c. mengatur dan menata keberadaan dan pendirian Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern agar tidak merugikan dan

    mematikan usaha Pasar Tradisional dan UMKM;

    d. menjamin terselenggaranya kemitraan usaha antara pelaku

    usaha Pasar Tradisional dan UMKM dengan pelaku usaha

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern berdasarkan prinsip

    kesamaan dan keadilan dalam usaha dibidang

    perdagangan; dan

    e. mewujudkan sinergi yang saling memerlukan dan

    memperkuat antara Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

    dengan Pasar Tradisional dan UMKM agar dapat tumbuh

    berkembang lebih cepat sebagai upaya terwujudnya tata

    niaga dan pola distribusi yang mantap, lancar, efisien dan

    berkelanjutan.

    Pasal 4

    Penataan, Pembinaan dan Pengawasan Pasar Tradisional,

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dilaksanakan

    berdasarkan asas :

    a. kemanusiaan;

    b. keadilan;

    c. kesamaan kedudukan;

    d. kemitraan;

    e. ketertiban dan kepastian hukum;

    f. kelestarian lingkungan;

    g. kejujuran usaha;

    h. persaingan sehat (fairness); dan

    i. keserasian.

    BAB III PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR TRADISIONAL,

    PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

    Pasal 5

    (1) Pemerintah Daerah melakukan penataan, pembinaan dan

    pengawasan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko

    modern.

    (2) Dalam rangka pembinaan pasar tradisional milik Daerah,

    Pemerintah Daerah melakukan :

    a. mengupayakan sumber-sumber alternatif pendanaan

    untuk pemberdayaan, revitalisasi, renovasi atau relokasi

    pasar tradisional sesuai ketentuan peraturan

    perundang-undangan yang berlaku;

  • 10

    b. meningkatkan kemampuan pedagang dan pengelola

    pasar tradisional;

    c. memprioritaskan kesempatan bagi pedagang pasar

    tradisional yang telah ada untuk memperoleh tempat

    usaha di pasar tradisional yang direvitalisasi, direnovasi

    atau direlokasi; dan

    d. mengevaluasi pengelolaan pasar tradisonal.

    (3) Dalam rangka pembinaan pusat perbelanjaan dan toko

    modern Pemerintah Daerah melakukan:

    a. memberdayakan pusat perbelanjaan dan toko modern

    dalam membina kemitraan dengan pasar tradisional;

    dan.

    b. memberdayakan pusat perbelanjaan dan toko modern

    agar tidak melakukan monopoli dalam hal produk

    maupun harga yang akan merugikan pasar tradisional.

    (4) Dalam rangka pengawasan oleh Pemerintah Daerah

    sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pusat perbelanjaan

    dan toko modern wajib memberikan data dan/atau

    informasi penjualan sesuai ketentuan Peraturan

    Perundang-undangan.

    (5) Pemerintah Daerah mengawasi pelaksanaan kemitraan

    antara pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko

    modern.

    (6) Pemerintah Daerah mengevaluasi pengelolaan pasar

    tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern sesuai

    peraturan perundang-undangan.

    BAB IV KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH

    Pasal 6

    (1) Pemerintah Daerah menjamin terciptanya iklim

    perdagangan yang sehat dengan memberikan kesempatan

    yang sama dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya

    bagi setiap pelaku usaha.

    (2) Pemerintah Daerah dapat melakukan pembatasan maupun

    percepatan distribusi bilamana terjadi hambatan:

    a. gangguan distribusi, rusaknya sarana dan

    terhambatnya iklim perdagangan dikarenakan bencana

    alam, wabah (epidemi) dan segala kondisi yang

    disebabkan oleh keadaan memaksa (force majeure); dan

    b. barang yang diperjualbelikan berkaitan dengan sarana

    kesehatan, lingkungan hidup, kebutuhan pokok dan

    produk unggulan daerah;

    (3) Pemerintah Daerah menetapkan produk-produk unggulan

    daerah yang strategis.

  • 11

    (4) Pemerintah Daerah memberikan perlindungan terhadap

    produk-produk unggulan daerah yang strategis

    sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) terutama dalam hal

    distribusi, ketersediaan sumber daya dan persaingan

    harga.

    BAB V BENTUK USAHA

    Bagian Kesatu

    Pasar Tradisional

    Pasal 7

    Bentuk usaha Pasar Tradisional adalah kegiatan perdagangan

    barang dalam area tertentu dengan tempat usaha berupa toko,

    kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,

    menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha

    skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang

    dagangan melalui tawar menawar.

    Bagian Kedua Pusat Perbelanjaan

    Pasal 8

    Bentuk usaha Pusat Perbelanjaan adalah kegiatan

    perdagangan barang dalam suatu area tertentu yang terdiri

    dari satu atau beberapa bangunan.

    Bagian Ketiga

    Toko Modern

    Pasal 9

    (1) Berdasarkan luas lantai tempat usahanya Toko Modern

    dibedakan menjadi :

    a. Minimarket adalah Toko Modern dengan luas lantai toko

    sampai dengan 400 M2 (empat ratus meter persegi);

    b. Supermarket adalah Toko Modern dengan luas lantai

    toko diatas 400 M2 (empat ratus meter persegi) sampai

    dengan 5.000 M2 (lima ribu meter persegi);

    c. Departement Store adalah Toko Modern yang luas lantai

    toko diatas 400 M2 (empat ratus meter persegi);

    d. Hypermarket adalah Toko Modern dengan luas lantai

    toko diatas 5.000 M2 (lima ribu meter persegi); dan

    e. Grosir yang berbentuk perkulakan adalah Toko Modern

    yang luas lantai toko diatas 5.000 M2 (lima ribu meter

    persegi).

    (2) Berdasarkan sistem penjualan dan jenis barang

    dagangannya Toko Modern dibedakan menjadi :

  • 12

    a. Minimarket, Supermarket dan Hypermarket menjual

    secara eceran langsung kepada konsumen barang

    konsumsi terutama produk makanan dan produk

    rumah tangga lainnya dengan cara pelayanan mandiri

    (swalayan);

    b. Departement Store menjual secara eceran barang

    konsumsi terutama produk sandang dan

    perlengkapannya dengan penataan barang berdasarkan

    jenis kelamin dan/atau tingkat usia konsumen; dan

    c. Grosir yang berbentuk perkulakan menjual secara

    grosir barang konsumsi.

    BAB VI LOKASI PENDIRIAN

    Pasal 10

    (1) Lokasi pendirian pusat perbelanjaan dan toko modern

    wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah

    dan Rencana Detail Tata Ruang masing-masing wilayah,

    termasuk pengaturan zonasinya.

    (2) Wilayah yang belum mempunyai Rencana Detail Tata

    Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan izin

    untuk lokasi pendirian pusat perbelanjaan dan toko

    modern sepanjang tidak bertentangan dengan Rencana

    Tata Ruang Wilayah Daerah.

    Pasal 11

    Pendirian pusat perbelanjaan dan toko modern harus

    memenuhi ketentuan sebagai berikut :

    a. memenuhi ketentuan Garis Sempadan Bangunan (GSB)

    berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

    b. minimarket memenuhi ketentuan mengenai jarak sebagai

    berikut :

    1. minimarket berjejaring tidak diperbolehkan berjarak

    kurang dari 1.000 m (seribu meter) dari pasar

    tradisional; dan

    2. minimarket non berjejaring tidak diperbolehkan

    berjarak kurang dari 500 m (lima ratus meter) dari

    pasar tradisional, kecuali yang merupakan

    pengembangan dari toko non modern yang sudah ada.

    c. Pendirian Minimarket diutamakan bagi pelaku usaha yang

    berdomisili di wilayah hukum Daerah Kabupaten

    Pekalongan dan sesuai dengan zonasi lokasi pendirian

    Minimarket tersebut, jika pada waktu dan zonasi yang

    sama terdapat lebih dari satu pemohon.

  • 13

    Bagian Kesatu Persyaratan Umum

    Pasal 12

    (1) Pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern harus

    sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang

    berlaku dan harus melakukan analisa kondisi sosial

    ekonomi masyarakat, keberadaan Pasar Tradisional dan

    UMKM yang berada di wilayah bersangkutan.

    (2) Persyaratan analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat,

    keberadaan Pasar Tradisional dan UMKM sebagaimana

    dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi pendirian

    Minimarket.

    Pasal 13

    (1) Analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan

    Pasar Tradisional dan UMKM sebagaimana dimaksud

    dalam Pasal 10 ayat (1) meliputi :

    a. struktur penduduk menurut mata pencaharian dan

    pendidikan;

    b. Tingkat pendapatan ekonomi rumah tangga;

    c. Kepadatan penduduk;

    d. Kemitraan dengan UMKM lokal;

    e. Penyerapan tenaga kerja lokal;

    f. Ketahanan dan pertumbuhan Pasar Tradisional sebagai

    sarana bagi UMKM lokal;

    g. Keberadaan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang

    sudah ada;

    h. Dampak positif dan negatif yang diakibatkan oleh jarak

    antara Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dengan

    Pasar Tradisional yang telah ada; dan

    i. Tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social

    Responsibility).

    (2) Analisa dampak positif dan negatif sebagaimana dimaksud

    pada ayat (1) huruf i harus mempertimbangkan :

    a. Lokasi Pasar Tradisional dengan Pusat Perbelanjaan

    atau Toko Modern;

    b. iklim usaha yang sehat antara Pasar Tradisional, Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern;

    c. aksesibilitas wilayah (arus lalu lintas);

    d. dukungan/ketersediaan infrastruktur; dan

    e. perkembangan pemukiman baru.

  • 14

    Pasal 14

    (1) Analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan

    Pasar Tradisional dan UMKM sebagaimana dimaksud

    dalam Pasal 12 ayat (1), berupa kajian yang disusun oleh

    badan/lembaga independen yang berkompeten.

    (2) Hasil analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat,

    keberadaan Pasar Tradisional dan UMKM sebagaimana

    dimaksud pada ayat (1) merupakan dokumen yang tidak

    terpisahkan dari persyaratan permohonan pendirian Pasar

    Modern, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

    (3) Biaya penyusunan analisa kondisi sosial ekonomi

    masyarakat, keberadaan Pasar Tradisional dan UMKM

    sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi beban

    pemrakarsa pendirian Pusat perbelanjaan dan Toko

    Modern.

    Pasal 15

    (1) Pendirian Minimarket wajib mempertimbangkan kondisi

    lokasi pendirian Minimarket yang meliputi :

    a. kepadatan penduduk;

    b. perkembangan permukiman baru;

    c. aksesibilitas wilayah (arus lalu lintas);

    d. dukungan ketersediaan infrastruktur; dan

    e. keberadaan Pasar Tradisional dan warung/toko di

    wilayah sekitar.

    (2) Pemrakarsa pendirian Minimarket menyusun

    pertimbangan kondisi lokasi pendirian Minimarket dalam

    dokumen yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari

    persyaratan permohonan pendirian Minimarket.

    Pasal 16

    (2) Pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dapat

    diizinkan jika berdasarkan hasil analisa kondisi sosial

    ekonomi masyarakat, keberadaan Pusat Perbelanjaan dan

    Toko Modern tidak merugikan dan mematikan Pasar

    Tradisional dan/atau UMKM yang telah ada diwilayah yang

    bersangkutan.

    (3) Pendirian Minimarket dapat diizinkan jika berdasarkan

    pertimbangan kondisi lokasi pendirian Minimarket tidak

    merugikan dan mematikan Pasar Tradisional dan/atau

    UMKM yang telah ada diwilayah yang bersangkutan.

    (4) Pendirian Supermarket dan Hypermarket harus

    berdasarkan pertimbangan lokasi wilayah, tidak merugikan

    dan mematikan Pasar Tradisional dan/atau UMKM yang

    telah ada diwilayah yang bersangkutan.

  • 15

    (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai analisa kondisi sosial

    ekonomi masyarakat, keberadaan Pasar Tradisional dan

    UMKM sebagaimana dimaksud dan pertimbangan kondisi

    lokasi pendirian dilakukan melalui kajian penelitian

    sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 12, dan

    diatur lebih lanjut oleh Bupati.

    Bagian Kedua

    Persyaratan Teknis

    Pasal 17

    (1) Pusat Perbelanjaan dan/atau Toko Modern harus

    menyediakan areal parkir paling sedikit seluas kebutuhan

    parkir 1(satu) unit kendaraan roda empat untuk setiap 60

    M2 (enam puluh meter persegi) luas lantai penjualan Pusat

    Perbelanjaan dan/atau Toko Modern.

    (2) Pusat Perbelanjaan dan/atau Toko Modern harus

    menyediakan fasilitas yang menjamin Pusat Perbelanjaan

    dan/atau Toko Modern bersih, sehat (higienis), aman, dan

    tertib serta ruang publik yang nyaman.

    (3) Penyediaan areal parkir sebagaimana dimaksud pada ayat

    (1) dapat dilakukan berdasarkan kedjasama antara

    pengelola Pusat Perbelanjaan dan/atau Toko Modern

    dengan pihak lain.

    Pasal 18

    (1) Pasar Tradisional dapat berlokasi pada setiap sistem

    jaringan jalan, termasuk sistem jaringan jalan lokal atau

    jalan lingkungan.

    (2) Pusat Perbelanjaan dan Hypermarket hanya boleh

    berlokasi pada atau pada akses sistem jaringan jalan arteri

    atau kolektor dan tidak boleh berada pada kawasan

    pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota/perkotaan.

    (3) Supermarket dan Departement Store tidak boleh berlokasi

    pada sistem jaringan jalan lingkungan dan tidak boleh

    berada pada kawasan pelayanan lingkungan di dalam

    kota/perkotaan.

    (4) Minimarket boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan

    jalan, termasuk sistem jaringan jalan lingkungan pada

    kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam

    kota/perkotaan.

    (5) Grosir yang berbentuk perkulakan hanya boleh berlokasi

    pada atau pada akses sistem jaringan jalan arteri atau

    kolektor primer atau arteri sekunder.

  • 16

    BAB VII JAM OPERASIONAL KEGIATAN USAHA

    Pasal 19

    (1) Kegiatan perdagangan pada Hypermarket, Departement

    Store, Supermarket dan Pusat Perbelanjaan dimulai paling

    awal pukul 10.00 WIB dan paling akhir pukul 22.00 WIB

    serta minimarket dimulai paling awal pukul 08.00 WIB dan

    paling akhir pukul 24.00 WIB.

    (2) Untuk hari besar keagamaan, libur nasional atau hari

    tertentu lainnya, Bupati dapat memberikan izin kegiatan

    perdagangan diluar ketentuan sebagaimana dimaksud

    pada ayat (1).

    BAB VIII KEMITRAAN USAHA

    Pasal 20

    (1) Kemitraan dengan pola perdagangan umum dapat

    dilakukan dalam bentuk kerja sama pemasaran,

    penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari

    pemasok kepada Toko Modern yang dilakukan secara

    terbuka.

    (2) Kerja sama pemasaran sebagaimana dimaksud pada ayat

    (1) dapat dilakukan dalam bentuk :

    a. memasarkan barang produksi UMKM yang dikemas

    atau dikemas ulang (repackaging) dengan merek pemilik

    barang, Toko Modern atau merek lain yang disepakati

    dalam rangka meningkatkan nilai jual barang; atau

    b. memasarkan produk hasil UMKM melalui etalase atau

    outlet dari Toko Modern.

    (3) Penyediaan lokasi usaha sebagaimana dimaksud pada ayat

    (1) dilakukan oleh pengelola Pusat Perbelanjaan dan Toko

    Modern kepada UMKM dengan menyediakan ruang usaha

    dalam areal Pusat Perbelanjaan atau Toko Modern.

    (4) UMKM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus

    memanfaatkan ruang usaha sesuai dengan peruntukan

    yang disepakati.

    Pasal 21

    (1) Kerja sama usaha dalam bentuk penerimaan pasokan

    barang dari Pemasok kepada Toko Modern sebagaimana

    dimaksud dalam Pasar 18 ayat (1) dilaksanakan dalam

    prinsip saling menguntungkan, jelas, wajar, berkeadilan

    dan transparan.

  • 17

    (2) Toko Modern mengutamakan pasokan barang hasil

    produksi UMKM nasional selama barang tersebut

    memenuhi persyaratan atau standar yang ditetapkan Toko

    Modern.

    (3) Pemasok barang yang termasuk dalam kriteria Usaha

    Mikro atau Usaha Kecil dibebaskan dari pengenaan biaya

    administrasi pendaftaran barang (listing fee).

    (4) Kerja sama usaha kemitraan antara UMKM dengan Toko

    Modern dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama

    komersial berupa penyediaan tempat usaha/space,

    pembinaan/pendidikan atau permodalan atau bentuk

    kerjasama lain.

    (5) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat

    dalam perjanjian tertulis dalam Bahasa Indonesia

    berdasarkan hukum Indonesia yang disepakati kedua

    belah pihak tanpa tekanan, yang sekurang-kurangnya

    memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak serta

    cara dan tempat penyelesaian perselisihan.

    Pasal 22

    (1) Dengan tidak mengurangi prinsip kebebasan berkontrak,

    syarat-syarat perdagangan antara Pemasok dengan Toko

    Modern harus jelas, wajar, berkeadilan dan saling

    menguntungkan serta disepakati kedua belah pihak tanpa

    tekanan.

    (2) Dalam rangka mewujudkan prinsip sebagaimana dimaksud

    pada ayat (1), maka wajib memenuhi pedoman sebagai

    berikut :

    a. Potongan harga reguler (regular discount) berupa

    potongan harga yang diberikan oleh Pemasok kepada

    Toko Modern pada setiap transaksi jual-beli, dan

    potongan harga reguler tersebut tidak berlaku bagi

    Pemasok yang memberlakukan sistem harga netto yang

    dipublikasikan secara transparan ke semua Toko

    Modern dan disepakati dengan Toko Modern;

    b. Potongan harga tetap (fixed rebate) berupa potongan

    harga yang diberikan oleh Pemasok kepada Toko

    Modern tanpa dikaitkan dengan target penjualan yang

    dilakukan secra periodik maksimum 3 (tiga) bulan yang

    besarnya maksimum 1 % (satu persen);

    c. Jumlah dari potongan harga reguler (reguler discount)

    maupun potongan harga tetap (fixed rebate) ditentukan

    berdasarkan presentase terhadap transaksi penjualan

    dari Pemasok ke Toko Modern baik pada saat transaksi

    maupun secara periodik;

  • 18

    d. Potongan harga khusus (conditional rebate) berupa

    potongan harga yang diberikan oleh Pemasok, apabila

    Toko Modern dapat mencapai atau melebihi target

    penjualan sesuai perjanjian dagang, dengan kriteria

    penjualan :

    1. mencapai jumlah yang ditargetkan sesuai perjanjian

    sebesar 100 % (seratur persen) mendapat potongan

    harga khusus paling banyak sebesar 1% (satu

    perspen);

    2. melebihi jumlah yang ditargetkan sebesar 101 %

    (seratur satu persen) sampai dengan 115 % (seratus

    lima belas persen), maka kelebihannya mendapat

    potongan harga khusus paling banyak sebesar 5 %

    (lima persen);

    3. melebihi jumlah yang ditargetkan di atas 115 %

    (seratur lima belas persen), maka kelebihannya

    mendapat potongan harga khusus paling banyak

    sebesar 10 % (sepuluh persen).

    e. Potongan harga promosi (Promotion Discount) diberikan

    oleh Pemasok kepada Toko Modern dalam rangka

    kegiatan promosi baik yang diadakan oleh Pemasok

    maupun oleh Toko Modern yang diberikan kepada

    pelanggan atau konsumen akhir dalam waktu yang

    dibatasi sesuai kesepakatan antara Toko Modern

    dengan Pemasok;

    f. Biaya Promosi (Promotion Cost) yaitu biaya yang

    dibebankan kepada Pemasok oleh Toko Modern seswuai

    kesepakatan kedua belah pihak yang terdiri dari :

    1. biaya promosi melalui media massa atau cetakan

    seperti brosur atau mailer, yang ditetapkan secara

    transparan dan wajar sesuai dengan tarif harga dari

    media dan biaya-biaya kreatifitas lainnya;

    2. biaya Promosi pada Toko Setempat (In-Store

    Promotion) dikenakan hanya untuk area promosi di

    luar display/pajangan reguler toko seperti floor

    display, gondola promosi, block shelving, tempat

    kasir (Check Out Counter), wing gondola, papan

    reklame di dalam dan di luar toko, dan tempat lain

    yang memang digunakan untuk tempat promosi;

    3. biaya promosi yang dilakukan atas kerjasama

    dengan pemasok untuk melakukan kegiatan

    mempromosikan produk pemasok seperti sampling,

    demo produk, hadiah, games, dan lain-lain;

  • 19

    4. biaya yang dikurangkan atau dipotongkan atas

    aktivitas promosi dilakukan maksimal 3 (tiga) bulan

    setelah acara berdasarkan konfirmasi kedua belah

    pihak. Biaya promosi yang belum terpakai harus

    dimanfaatkan untuk aktivitas promosi lainnya baik

    pada periode yang bersangkutan maupun untuk

    periode yang berikutnya.

    g. Biaya-biaya lain di luar biaya sebagaimana dimaksud

    pada huruf f tidak diperkenankan untuk dibebankan

    kepada Pemasok;

    h. Biaya yang dikeluarkan untuk promosi produk baru

    sudah termasuk di dalam biaya promosi sebagaimana

    dimaksud pada huruf f;

    i. Pemasok dan Toko Modern bersama-sama membuat

    perencanaan promosi baik untuk produk baru maupun

    untuk produk lama untuk jangka waktu yang telah

    disepakati;

    j. Penggunaan jasa distribusi Toko Modern tidak boleh

    dipaksakan kepada Pemasok yang dapat

    mendistribusikan barangnya sendiri sepanjang

    memenuhi kriteria (waktu, mutu, harga produk, jumlah)

    yang disepakati kedua belah pihak;

    k. Biaya administrasi pendaftaran barang (Listing fee)

    hanya untuk produk baru dengan besaran sebagai

    berikut :

    1. Kategori Hypermarket paling banyak Rp. 150.000,00

    (seratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap jenis

    produk setiap gerai dengan biaya paling banyak

    Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap

    jenis produk di semua gerai;

    2. Kategori Supermarket paling banyak Rp. 75.000,00

    (tujuh puluh lima ribu rupiah) untuk setiap jenis

    produk setiap gerai dengan biaya paling banyak

    Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah); dan

    3. kategori Minimarket paling banyak Rp.5.000,00 (lima

    ribu rupiah) untuk setiap jenis produk setiap gerai

    dengan biaya paling banyak Rp.20.000.000,00 (dua

    puluh juta rupiah) untuk setiap jenis produk di

    semua gerai.

    l. Perubahan biaya administrasi pendaftaran barang

    sebagaimana dimaksud pada huruf k dapat

    disesuaikan setiap tahun berdasarkan perkembangan

    inflasi;

    m. Toko Modern dapat mengembalikan produk baru

    kepada Pemasok tanpa pengenaan sanksi apabila

    setelah dievaluasi selama 3 (tiga) bulan tidak memiliki

    prospek penjualan;

  • 20

    n. Toko Modern harus memberikan informasi tertulis

    paling sedikit 3 (tiga) bulan sebelumnya kepada

    pemasok apabila akan melakukan stop order delisting

    atau mengurangi item produk atau SKU (Stok Keeping

    Unit) Pemasok;

    o. Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern harus berlaku adil

    dalam pemberian pelayanan kepada mitra usaha baik

    sebagai pemilik/penyewa ruangan usaha maupun

    sebagai pemasok;

    p. Toko Modern dilarang melakukan promosi penjualan

    dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga

    di Pasar Tradisional terdekat untuk barang-barang

    kebutuhan pokok masyarakat.

    Pasal 23

    (1) Pembayaran Barang dari Toko Modern kepada Pemasok

    Usaha Mikro dan Usaha Kecil wajib dilakukan secara tunai

    untuk nilai pasokan sampai dengan Rp. 10.000.000,00

    (sepuluh juta rupiah), atau dalam jangka waktu 15 (lima

    belas) hari setelah seluruh dokumen penagihan diterima.

    (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku

    untuk 1 (satu) outlet atau 1 (satu) jaringan usaha.

    BAB IX PERIZINAN

    Bagian Kesatu Wewenang Pemberian Izin Usaha

    Pasal 24

    (1) Setiap kegiatan usaha Pasar Tradisional, Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern wajib memiliki :

    a. IUP2T untuk Pasar Tradisional;

    b. IUPP untuk Pusat Perbelanjaan, Mall dan Plaza;

    c. IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Departement

    Store, Hypermarket dan Grosir yang berbentuk

    perkulakan.

    (2) Izin Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    diterbitkan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

    (3) Penerbitan Izin Usaha Pasar Tradisional, Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern yang berlokasi di desa

    dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan dari

    Kepala Desa.

    (4) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dalam menerbitkan Izin

    Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menetapkan

    kewajiban dan larangan yang harus dipenuhi oleh

    pemegang izin.

  • 21

    Bagian Kedua Tatacara Permohonan Izin Usaha

    Pasal 25

    (1) Permohonan Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam

    pasal 22 ayat (1) diajukan kepada Pejabat Penerbit Izin

    Usaha.

    (2) Persyaratan untuk memperoleh IUP2T bagi Pasar

    Tradisional yang berdiri sendiri atau IUTM bagi Toko

    Modern yang berdiri sendiri atau IUPP bagi Pusat

    Perbelanjaan meliputi :

    a. Persyaratan IUP2T melampirkan dokumen :

    1. foto copy Kartu Tanda Penduduk;

    2. hasil Analisa Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

    serta rekomendasi dari instansi yang berwenang;

    3. foto copy Surat Izin Pendirian;

    4. foto copy Surat Izin Gangguan;

    5. foto copy Akte Pendirian Perusahaan dan

    Pengesahannya;

    6. surat pernyataan kesanggupan melaksanakan dan

    mematuhi ketentuan yang berlaku; dan

    7. dokumen UKL dan UPL untuk suaha Pasar

    Tradisional dengan luas tempat usaha sampai

    dengan 10.000 m2 (sepuluh ribu meter persegi) atau

    dokumen AMDAL untuk luas tempat usaha diatas

    10.000 m2 (sepuluh ribu meter persegi);

    b. persyaratan IUPP dan IUTM melampirkan dokumen :

    1. foto copy Kartu Tanda Penduduk;

    2. hasil Analisa Kondisi Sosial Ekonomi masyarakat

    serta rekomendasi dari instansi yang berwenang;

    3. foto copy Surat Izin Pendirian;

    4. foto copy Surat Izin Gangguan;

    5. foto copy Surat izin Mendirikan Bangunan (IMB);

    6. foto copy Akte Pendirian Perusahaan dan

    Pengesahannya;

    7. rencana kemitraan dengan Usaha Mikro dan Usaha

    Kecil;

    8. surat pernyataan kesanggupan melaksanakan dan

    mematuhi ketentuan yang berlaku;

    9. dokumen UKL dan UPL untuk usaha Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern kecuali Minimarket

    dengan luas tempat usaha sampai dengan 10.000

    m2 (sepuluh ribu meter persegi) atau dokumen

    AMDAL untuk luas tempat usaha diatas 10.000 m2

    (sepuluh ribu meter persegi); dan

    10. SPPLH untuk usaha Minimarket;

  • 22

    (3) Persyaratan untuk memperoleh IUP2T bagi Pasar

    Tradisional atau IUTM bagi Toko Modern yang terintegrasi

    dengan Pusat Perbelanjaan atau bangunan lain terdiri dari:

    a. hasil analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat

    sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1);

    b. foto copy IUPP Pusat Perbelanjaan atau bangunan

    lainnya tempat berdirinya Pasar Tradisional atau Toko

    Modern;

    c. foto copy Akte Pendirian Perusahaan dan

    Pengesahannya;

    d. surat pernyataan kesanggupan melaksanakan dan

    mematuhi ketentuan yang berlaku; dan

    e. rencana kemitraan dengan Usaha Mikro atau Usaha

    Kecil untuk Pusat Perbelanjaan atau Toko Modern;

    f. dokumen UKL dan UPL untuk usaha Pasar Tradisional,

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern kecuali

    Minimarket dengan luas tempat usaha sampai dengan

    10.000 m2 (sepuluh ribu meter persegi) atau dokumen

    AMDAL untuk luas tempat usaha diatas 10.000 m2

    (sepuluh ribu meter persegi);

    g. SPPLH untuk usaha Minimarket.

    (4) Permohonan Izin Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat

    (1) ditandatangani oleh pemilik atau penanggungjawab

    atau pengelola perusahaan.

    (5) Permohonan Izin Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat

    (1) yang diajukan secara benar dan lengkap, maka Pejabat

    Penerbit Izin Usaha dapat menerbitkan Izin Usaha paling

    lambat 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya Surat

    Permohonan.

    (6) Apabila Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    dinilai belum benar dan lengkap, maka Pejabat Penerbit

    Izin Usaha memberitahukan penolakan secara tertulis

    disertai dengan alasan-alasan kepada pemohon paling

    lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak tanggal

    diterimanya Permohonan.

    (7) Perusahaan yang ditolak permohonannya dapat

    mengajukan kembali permohonan Izin Usahanya disertai

    kelengkapan dokumen persyaratan secara benar dan

    lengkap.

    (8) Pengurusan permohonan Izin Usaha tidak dikenakan

    biaya.

  • 23

    Bagian Ketiga Masa Berlaku Izin Usaha

    Pasal 26

    (1) Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1)

    berlaku selama masih melakukan kegiatan usaha pada

    lokasi yang ditetapkan dalam surat izin usaha, dan wajib

    dilakukan daftar ulang setiap 5 (lima) tahun.

    (2) Daftar Ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    diajukan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum batas waktu

    daftar ulang berakhir.

    (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara dan persyaratan

    daftar ulang diatur dengan Peraturan Bupati.

    Bagian Keempat Pemindahtanganan Izin Usaha

    Pasal 27

    (1) Dalam hal pemegang izin meninggal dunia atau karena

    suatu sebab tidak lagi menjadi pemilik izin, maka ahli

    waris atau orang yang mendapat hak dalam waktu paling

    lambat 4 (empat) bulan sejak meninggalnya pemegang izin

    atau saat terjadinya tindakan pengalihan hak, wajin

    mengajukan permohonan pemindahtanganan Izin Usaha

    kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

    (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara dan persyaratan

    pemindahtanganan Izin Usaha diatur dengan Peraturan

    Bupati.

    BAB X KEWAJIBAN DAN LARANGAN

    Bagian Kesatu Kewajiban

    Pasal 28

    (1) Setiap penyelenggaran kegiatan usaha Pasar Tradisional,

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib :

    a. menjaga iklim usaha yang sehat antara Pusat

    Perbelanjaan atau Toko Modern dengan Pasar

    Tradisional dan UMKM;

    b. mentaati dan memasang ketentuan jam operasional

    pada tempat yang mudah dilihat oleh umum;

    c. melaksanakan kemitraan usaha dengan UMKM bagi

    kegiatan usaha Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern;

    d. menyediakan areal parkir;

  • 24

    e. meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin

    kenyamanan konsumen;

    f. menjaga keamanan dan ketertiban tempat usaha;

    g. memelihara kebersihan, kesehatan (higienis), keindahan

    lokasi, kelestarian lingkungan tempat usaha dan ruang

    publik yang nyaman;

    h. mencegah penggunaan tempat usaha untuk kegiatan

    perjudian dan perbuatan yang melanggar kesusilaan

    serta ketertiban di tempat usahanya;

    i. mencegah penggunaan tempat usaha untuk kegiatan

    peredaran dan pemakaian obat-obatan terlarang serta

    barang-barang terlarang;

    j. memisahkan tempat penjualan produk halal dan non

    halal;

    k. menyediakan sarana dan fasilitas toilet untuk

    karyawan;

    l. menyediakan sarana dan fasilitas toilet untuk

    konsumen;

    m. memberikan kesempatan kepada karyawan untuk

    melaksanakan ibadah, dan bagi karyawati yang

    beragama Islam diperbolehkan menggunakan jilbab

    yang disesuaikan dengan seragam perusahaan;

    n. menyediakan Musholla dengan luas paling sedikit 16

    m2 (enam belas meter persegi), kecuali Minimarket;

    o. menyediakan ruangan untuk ibu menyusui yang

    nyaman dengan luas minimal 4 m2 (empat meter

    persegi), kecuali Minimarket;

    p. mentaati perjanjian kerja serta menjamin keselamatan,

    kesehatan dan kesejahteraan karyawan;

    q. menyediakan alat pemadam kebakaran yang siap pakai

    sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mencegah

    kemungkinan timbulnya bahaya kebakaran di tempat

    usahanya;

    r. menerbitkan dan mencantumkan daftar harga yang

    dinyatakan dalam rupiah (Rp.) bagi Toko Modern;

    s. menyediakan paling sedikit 10 % (sepuluh persen) dari

    luas tempat usaha Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

    bagi pelaku usaha UMKM dan tidak boleh digunakan

    selain untuk UMKM;

    t. menyediakan tempat untuk pengaduan konsumen dan

    pos ukur ulang;

    u. menyediakan akses bagi penyandang cacat;

    v. mengutamakan pengunaan tenaga kerja setempat; dan

    w. tidak memperbolehkan pelajar berseragam sekolah pada

    jam sekolah memasuki areal usaha bagi pengusaha

    Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

  • 25

    (2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

    Toko Modern juga diwajibkan menyisihkan sebagian

    keuntungannya bagi masyarakat lingkungan sekitar

    sebagai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan kepada

    masyarakat dalam kegiatan pembangunan

    kemasyarakatan.

    Bagian Kedua

    Larangan

    Pasal 29

    Setiap penyelenggara kegiatan usaha Pasar Tradisional, Pusat

    Perbelanjaan dan Toko Modern dilarang :

    a. Melakukan penguasaan atas produksi dan/atau

    penguasaan barang dan/atau jasa secara monopoli;

    b. Menimbun/menyimpan bahan pokok kebutuhan

    masyarakat di dalam gudang dalam jumlah melebihi

    kewajiban untuk tujuan spekulasi yang akan merugikan

    kepentingan masyarakat;

    c. Menimbun/menyimpan barang-barang yang sifat dan

    jenisnya membahayakan kesehatan kecuali ditempat yang

    disediakan khusus;

    d. Menjual barang dibawah harga pokok atau menjual barang

    yang sudah kadaluarsa.

    e. Bertindak sebagai importer umum dalam hal modal yang

    digunakan berasal dari Penanaman Modal Asing Khusus

    untuk usaha perpasaran swasta skala besar dan

    menengah;

    f. Mengubah/menambah sarana tempat usaha tanpa izin;

    dan

    g. Mempekerjakan tenaga kerja di bawah umur dan tenaga

    kerja asing tanpa izin sesuai dengan Peraturan Perundang-

    undangan yang berlaku.

    BAB XI

    SANKSI ADMINISTRATIF

    Pasal 30

    (1) Pelanggaran terhadap Pasal 17, Pasal 19, Pasal 24 ayat (2),

    Pasal 26 dan Pasal 27 dikenakan sanksi administratif.

    (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    berupa :

    a. Pembekuan Izin Usaha; dan

    b. Pencabutan Izin Usaha.

  • 26

    (3) Pembekuan izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat

    (2) huruf a dilakukan apabila telah diberikan peringatan

    secara tertulis berturut-turut 3 (tiga) kali dengan tenggang

    waktu paling lama 1 (satu) bulan.

    (4) Pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat

    (2) huruf b, dilakukan apabila Pelaku Usaha tidak

    mematuhi peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat

    (3).

    (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian sanksi

    administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur

    dengan Peraturan Bupati.

    BAB XII

    PENYIDIKAN

    Pasal 31

    (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan

    Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai

    Penyidik untuk melakukan Penyidikan Tindak Pidana.

    (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    adalah :

    a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti

    keterangan atau laporan berkenaan dengan Tindak

    Pidana agar keterangan atau laporan tersebut menjadi

    lengkap dan jelas;

    b. Meneliti, mencari atau mengumpulkan keterangan

    mengenai Orang Pribadi atau Badan tentang kebenaran

    perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan Tindak

    Pidana tersebut;

    c. Meminta keterangan dan bahan bukti Orang Pribadi

    atau Badan sehubungan dengan Tindak Pidana;

    d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-

    dokumen lain berkenaan dengan Tindak Pidana;

    e. Melakukan penggeledehan untuk mendapatkan bahan

    bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen

    lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti

    tersebut;

    f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka

    pelaksanaan tugas penyidikan Tindak Pidana;

    g. Menyuruh berhenti dan melarang seseorang

    meninggalkan ruangan atau tempat pada saat

    pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa

    identitas orang dan atau dokumen yang dibawa

    sebagaimana dimaksud pada huruf c;

    h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan Tindak

    Pidana;

  • 27

    i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan

    diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

    j. Menghentikan penyidikan; dan

    k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran

    penyidikan Tindak Pidana sesuai dengan ketentuan

    Peraturan Perundang-undangan.

    (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

    memberitahukan dimulainya penyidikan dan

    menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut

    Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam

    Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum

    Acara Pidana.

    BAB XIII

    KETENTUAN PIDANA

    Pasal 32

    (1) Setiap orang atau badan yang melanggar Pasal 22 dan

    Pasal 23 diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam)

    bulan atau denda paling banyak Rp.50.000.000,- (Lima

    puluh juta rupiah).

    (2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah

    pelanggaran.

    BAB XIV

    PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN

    Pasal 33

    (1) Dinas bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan

    Peraturan Daerah ini.

    (2) Pengawasan umum atas pelaksanaan Peraturan Daerah ini

    dilakukan oleh Perangkat daerah yang mempunyai tugas

    melaksanakan pengawasan fungsional.

    BAB XV

    KETENTUAN PERALIHAN

    Pasal 34

    Setiap orang atau badan yang pada saat berlakunya Peraturan

    Daerah ini melaksanakan kegiatan usaha Toko Modern, harus

    memenuhi ketentuan sebagai berikut :

    a. Toko Modern yang berjejaring yang sudah berizin dalam

    waktu paling lama 3 (tiga) tahun harus sudah

    menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini;

  • 28

    b. Toko Modern yang berjejaring yang belum berizin, paling

    lambat 1 (satu) tahun harus sudah mengajukan

    permohonan izin sesuai ketentuan Peraturan Daerah ini;

    c. Toko Modern yang tidak berjejaring yang sudah berizin

    dapat tetap melaksanakan operasional usahanya; dan

    d. Toko Modern yang tidak berjejaring yang belum berizin,

    paling lambat 1 (satu) tahun setelah Peraturan Daerah ini

    ditetapkan harus mengajukan permohonan izin operasional

    usahanya pada lokasi usahanya pada saat Peraturan

    Daerah ini ditetapkan.

    BAB XVI KETENTUAN LAIN-LAIN

    Pasal 35

    (1) Pasar Tradisional milik Pemerintah Daerah yang

    memiliki nilai-nilai historis tidak dapat diubah atau

    dijadikan Pusat Perbelanjaan dan/atau Toko Modern,

    kecuali upaya revitalisasi agar menjadi Pasar

    Tradisional yang bersih, teratur, nyaman, aman,

    memiliki keunikan, menjadi ikon kota dan memiliki

    nilai sebagai bagian dari Industri Pariwisata.

    (2) Rencana revitalisasi Pasar Tradisional milik Pemerintah

    Daerah yang pelaksanaannya dikerjasamakan dengan

    Pihak Ketiga ditetapkan oleh Bupati setelah terlebih

    dahulu memperoleh persetujuan dari DPRD.

    (3) Dalam rangka memberikan perlindungan dan

    pemberdayaan usaha Pasar Tradisional, Pemerintah

    Daerah melakukan penataan dan pembinaan terhadap

    pelaku ekonomi sektor informal agar tidak mengganggu

    kelangsungan dan ketertiban Pasar Tradisional.

    BAB XVII

    KETENTUAN PENUTUP

    Pasal 36

    Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini,

    sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih

    lanjut dengan Peraturan Bupati.

    Pasal 37

    Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal

    diundangkan.

  • 29

    Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan

    pengundangan Peraturan Daerah ini dengan

    penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten

    Pekalongan.

    Ditetapkan di Kajen pada tanggal 6 Januari 2014

    BUPATI PEKALONGAN,

    Ttd.

    AMAT ANTONO

    Diundangkan di Kajen pada tanggal 6 Januari 2014

    SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN,

    Ttd.

    SUSIYANTO

    LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2014

    NOMOR 1

  • 30

    PENJELASAN ATAS

    PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 1 TAHUN 2014

    TENTANG

    PENATAAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

    II. UMUM

    Dengan semakin perkembangnya usaha perdagangan eceran dalam skala

    kecil dan menengah, serta usaha perdagangan eceran modern dalam skala besar secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap

    keberadaan Pasar Tradisional. Untuk mengarahkan usaha perdagangan tersebut agar tercipta tertib persaingan dan keseimbangan kepentingan, serta memberikan kesempatan berusaha bagi semua pelaku usaha, perlu

    adanya penataan dan pembinaan.

    III. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

    Pasal 1 Cukup jelas

    Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3

    Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas

    Pasal 5 Cukup jelas

    Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7

    Cukup jelas Pasal 8

    Cukup jelas Pasal 9

    Cukup jelas

    Pasal 10 Cukup jelas

    Pasal 11

    Ayat (1) Cukup jelas

    Ayat (2) Yang dimaksud dengan “hal tertentu” antara lain: pembangunan infrastruktur perkotaan, pembangunan yang berkaitan dengan

    percepatan pertumbuhan perkotaan, dan mendorong investasi. Pasal 12

    Cukup jelas Pasal 13

    Cukup jelas

    Pasal 14 Cukup jelas

    Pasal 15

    Cukup jelas Pasal 16

    Cukup jelas

  • 31

    Pasal 17 Cukup jelas

    Pasal 18 Cukup jelas

    Pasal 18

    Cukup jelas Pasal 19

    Cukup jelas Pasal 20

    Cukup jelas

    Pasal 21 Cukup jelas

    Pasal 22 Cukup jelas

    Pasal 23

    Cukup jelas Pasal 24

    Cukup jelas

    Pasal 25 Cukup jelas

    Pasal 26 Cukup jelas

    Pasal 27

    Cukup jelas Pasal 28

    Cukup jelas

    Pasal 29 Cukup jelas

    Pasal 30 Cukup jelas

    Pasal 31

    Cukup jelas Pasal 32

    Cukup jelas Pasal 33

    Cukup jelas

    Pasal 34 Cukup jelas

    Pasal 35

    Cukup jelas Pasal 36

    Cukup jelas

    TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 35