CAKRAWALA - · PDF filetak bisa dilanggar, yakni hak asasi manusia. ... dalam perspektif ... kasus-kasus semacam

  • Upload
    vudan

  • View
    219

  • Download
    2

Embed Size (px)

Citation preview

  • CAKRAWALA

    WACANA EDISI KHUSUS 1997-1998 9

    MENAGIH KEPASTI AN HAK ASASI MANUSIA

    (Catataan di 1997 untuk 1998) Oleh A. Mintara SJ

    Sesuatu yang menggusarkan tentunya jika istilah pembangunan disandingkan dengan pengorbanan. Namun dalam kenyataannya

    , atas dalih pembangunan banyak korban berjatuhan, yakni mereka yang kehilangan haknya bahkan juga jiwanya. Pembangunan akhirnya justru bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Untuk itu perlu ada kaidah-kaidah yang berlaku secara universal dan

    tak bisa dilanggar, yakni hak asasi manusia.

    Penggalan Keprihatinan Bangsa Kita Sampai penghujung tahun 1997 masalah Hak Asasi Manusia (HAM) semakin mendapat sorotan tajam dan pembicaraan serius. Dari data y ang dikumpulkan selama tahun 1997 ini terjadi 345 pelaku pelanggaran hak-hak sipil dan politik, serta 4.080 pelanggaran HAM. Dari penggalan itu terlihat dengan jelas betapa persoalan HAM - y ang terkait erat dengan keadilan dan demokratisasi seringkali tidak klop dengan keinginan untuk mewujudkan demokratiasi dan keadilan sosial. Demikian isi dari dialog nasional Ev aluasi Pelaksanaan HAM di Indonesia Tahun 1997 y ang diselenggarakan oleh CIDES dan Kompas, Desember 1997 lalu. Data yang disodorkan dalam dialog tersebut juga mengungkap bahwa pelaku pelanggaran hak-hak sipil dan politik tertinggi dipegang oleh polisi. Dan pelanggaran HAM tertinggi menimpa hak-hak kaum buruh. Fenomena seperti terlukis dalam data tersebut tentu saja sungguh memprihatinkan, terlebih bagi bangsa Indonesia yang di satu pihak getol mengumandangkan pembangunan, dan di lain pihak masih bergulat dengan tuntutan untuk menegakkan demokrasi dan keadilan sosial. Dalam

    Otoritas Penafsiran yang Sewenang-wenang : Tidak perlu diragukan, jaminan terhadap HAM di Indonesia secara pasti telah dicantumkan dalam UUD 1945. Masalahny a adalah hukum positif di Indonesia masih kurang memberikan kepastian jaminan bagi hak-hak raky at. Sebaliknya kian hari kian banyak perundang-undangan y ang merugikan raky at. Ambil satu contoh Undang-undang Ketenagakerjaan 1997 y ang kontroversial itu.Sejak perancangannya saja, UU ini telah sy arat dengan polemik. Sebab titik berangkatny a tidak dari kebutuhan para pekerja, tetapi dari kepentingan ekonomi politik pihak tertentu, dalam hal ini pengusaha dan pemerintah. Karena kelas atas ini memiliki kuasa, maka mereka jugalah y ang merasa memiliki otoritas dalam setiap wacana penaf siran terhadap implementasi pasal-pasl UUD 1945. Maka dapat dimengerti jika UU Ketenagakerjaan 1997 pun dirasakan bany ak ketimpangan, terutama berkaitan dengan jaminan hak-hak pekerja sendiri. Jika terjadi ketidakpuasan terhadap UU Ketenagakerjaan 1997, pengusaha dengan mudah dapat berkolaborasi dengan aparat keamanan untuk membereskan biang keladi kerusuhan. Untuk lebih mempertajam masalah otoritas penaf siran tersebut, kita ambil contoh kasus lain, misalnya y ang ny ata-ny ata terjadi di Timor-Timur, dalam perspektif raky at dan perspektif pemerintah. Ada seorang warga sipil Timtim ditangkap oleh aparat militer. Lalu dia disekap dalam sebuah ruangan dan disetrum badanny a.

    Kemudian badanny a masih digebuk dengan popor senapan dan mulutny a dicocok dengan batang kay u y ang cukup besar sampai sobek dan berdarah-darah. Dalam keadaan sudah tak berday a orang itu masih dibawa ke kebuh dan digantung dengan kepala di bawah dan di siksa lagi. Akhirny a hidupny a berakhir secara mengenaskan dengan kepala ditaruh di atas tonggak pohon setelah dipenggal. Kasus lainny a adalah dua orang perempuan warga masy arakat y ang jadi bulan-bulanan pemerkosaan. Tubuhny a memar-memar karena siksaan. Mengerikan dan meny edihkan, Tubuh mereka tergeletak telah menjadi mayat di hadapan beberapa aparat militer y ang mengerumuniny a. Ini baru dua kasus dalam dua tempo. Sedangkan orang tahu, kasus-kasus semacam menimpa beribu rakyat sipil Timitim dalam tempo bertahun-tahun. Dari f akta yang tersaji tersebut, dari perspektif rakyat sendiri, kirany a sudah terang bagaimana mesti disorot. Tidak manusiawi. Melanggar baik dari segi hukum maupun etika. Itu tidak lebih daripada kesewenang-wenangan pihak berkuasa, y ang dengan kekuatanny a bertindak semaunya sendiri. Dan tindakan penyiksaan, pembunuhan dan pemrkosaan itu adalah tindakan biadab, tak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Sementara dari perspektif pemerintah, seperti selalu dapat ditebak, mereka pasti membela diri. Dan benar, di depan pers luar negeri, pemerintah, melalui menteri luar negeri, meny anggah kebenaran fakta itu. Sedangkan militer membenarkan tindakannya dengan rasionalisasi bahwa orang-orang sipil itu adalah pengacau keamanan yang membuat onar dan menimbulkan keresahan warga sipil. Mana y ang benar ? Hany a hati nurani yang jernih akan memberikan jawaban otentik dan tulus terhadap f akta tersebut dengan tambahan ref leksi atas konteks konkrit rakyat Timtim y ang ingin bebas tetapi tak berday a karena berada di jari-jari roda pembangunanyang terus menggelinding. Lepas dari cara memandang dan menaf sirkan f akta tersebut, y ang jelas bahwa korban berjatuhan dan raky at ketakutan bukan main. Mengapa takut ? Bisa dibayangkan sendiri, adakah jaminan bagi raky at di sana untuk bisa merasakan hidupny a aman sehari saja dengan situasi seperti itu ? Terlebih bagi mereka yang dianggap sebagai sanak f amili atau bahkan anggota gerakan pengacau keamanan ? Sementara mata-mata liar oknum-oknum bersenjata berada di sekeliling mereka dan siap menerkam ? Tindakan sewenang-wenang seperti itu akhirny a membawa kedua belah pihak, baik raky at sipil maupun militer, sama-sama berhadapan muka dengan sorot mata penuh curiga dan rasa takut. Raky at mencurigai setiap militer dan takut juga ny awany a sewaktu-waktu berakhir di ujung senjata. Sementara militer curiga dan takut jika warga menuntut keadilan bagi nyawa saudarany a. Mental curiga dan ketakutan y ang

  • CAKRAWALA

    WACANA EDISI KHUSUS 1997-1998 10

    berlangsung terus akan membawa konsekwensi tindakan brutal yang akhirny a merenggut semakin bany ak korban.

    Pembangunan, Demokrasi dan Keadilan Sosial :

    Kata pembangunan menjadi trade mark Orde Baru. Semua orang seakan dibius oleh slogan pembangunan demi kepentingan rakyat dan keadilan sosial. Ketika pembangunan memakan korban, slogan y ang dikibarkan lalu berbunyi : Mana ada pembangunan tanpa korban ? Seringkali nalar kita menjadi kurang kritis dan mengiy akan begitu saja slogan berdarah seperti itu. Tetapi sebenarya slogan demikian sungguh tidak tahan di hadapan argumentasi logika biasa y ang memasukkannya ke dalam contradictio in terminis. Mengapa demikian ? Pembangunan itu sif atny a konstruktif . Sedangkan korban (dalam arti korban manusia) adalah akibat tindakan destruktif . Dengan demikian, bukankah ada suatu kontradiksi antara pembangunan (development, to develop) dengan korban (vicitm, to victimize) ?

    Dari kisah-kisah tragis bangsa kita selama tiga dasawarsa ini, mengapa semakin pembangunan digembar-gemborkan, malahan semakin bany ak korban ? Dan mengapa kehidupan menjadi tidak demokratis ? Jawabanny a adalah karena mulut rakyat dibungkam dan wakil raky at dimandulkan. Kekuasaan legislatif dan y udikatif dikangkangi oleh kekuasaan eksekutif. Lalu kalau sudah demikian, pada siapa lagi raky at mempercayakan jaminan atas hak-hak atas mereka ? Juga mengapa keadilan sosial semakin jauh dari cita-cita manakala pemerintah dengan banggany a meny atakan bangsa ini siap tinggal landas ?

    Menagih Jaminan atas Hak Asasi :

    Dalam konteks pembangunan, demokrasi, keadilan sosial dan HAM, mari kita angkat suatu pertanyaan : Mungkinkah suatu bangsa dapat membangun jika mental rakyatnya masih dibelenggu oleh ketakutan-ketakutan ? Amuk massa y ang terus bergulir akhir-akhir ini merupakan riak-riak gelombang aksi y ang sebenarny a secara psikologis menunjukkan ketakutan. Lalu ketakutan itu mencuat sebagai suatu amuk sosial berupa demonstrasi atau aksi protes atau bahkan aksi bentrok f isik yang merenggut ny awa. Masy arakat kecil merasa diperlakukan secara sewenang-wenang dan tidak adil ketika hak-hakny a dengan mudah digusur oleh elite golongan atas. Perasaan tidak puas seperti ini terus terakumulasi secara signifikan sehingga suatu ketika bisa menjadi bom waktu yang counter productiv e bagi pembangunan sendiri.

    Pembangunan y ang dipaksakan bukanlah pembangunan, tetapi penggusuran. Pembangunan y ang tidak memperhatikan jaminan hak-hak manusia, terutama rakyat kecil bukanlah pembangunan, tetapi penindasan atau penjajahan. Pembangunan y ang hany a mementingkan egoisme dengan mengambil jatah orang lain bukanlah pembangunan y ang berorientasi kerakyatan. Dari realitas ini, kita mesti

    berani meny erukan secara lantang bahwa pembangunan demikian itu sudah merupakan wabah y ang mematikan dan membawa korban. Kita harus berani meny uarakan gugatan raky at yang menagih kepastian jaminan atas hak-hak mereka : Hak untuk hidup, hak bebas dari rasa takut, hak untuk kesehatan, hak untuk mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak kemerdekaan, hak keamanan, hak kesejahteraan, hak untuk berpendidikan y ang memadahi, tanpa adany a paksaan dan pey eragaman-peny eragaman, hak untuk menentukan pilihan politik, hak menikmati lingkungan hidup y ang baik dan sehat, dan masih bany ak lagi hak-hak yang lain, y ang memang menjadi hak kita sebagai manusia dan warga negara.

    Catatan Akhir : Menagih kepastian jaminan atas hak-hak asasi manusia menjadi situasi yang terus mendesak untuk

    dipekikkan sejalan dengan roda pembangunan y ang terus bergulir dan berjatuhanny a korban y ang semakin bany ak. Silang sengketa muncul mengenai kriteria hak asasi itu. Bany ak pemimpin di Asia y ang mengatakan konsep hak asasi di

    Asia berbeda dengan konsep hak asasi Barat. Demikian pula di Indonesia banyak kita dengar penuturan bahwa konsep hak asasi di negara y ang berdasarkan Pancasila ini berbeda deng