CBD Limfadenopati Colli

  • View
    375

  • Download
    12

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sdjnfsdjnfsdkjnfsdkj

Transcript

CASE BASED DISCUSSIONLIMFADENOPATI COLLIDisusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kepanitraan KlinikStase Bedah Kendal

Disusun oleh :Bagus Ayu PurnamasariNIM : 01.210.6101

Pembimbing:dr. Haris Tiyanto, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAHUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGRSUD dr. H. SOEWONDOKENDAL2014HALAMAN PENGESAHANNama: Bagus Ayu PurnamasariNIM : 012106101Fakultas: Kedokteran UmumTingkat : Universitas Islam Sultan Agung Semarang Bidang pendidikan: Ilmu BedahJudul : Limfadenopati ColliPembimbing: dr. Haris Tiyanto, Sp.B

Mengetahui :

Pembimbing

dr. Haris Tiyanto Sp.B

BAB ICASE BASED DISCUSSION

STATUS PENDERITAI. Identitas Nama :Nn. IlfahUmur :16 tahunJenis Kelamin:PerempuanAgama:IslamPekerjaan:Buruh di pabrik garmenAlamat : Kumpulrejo, Kab. KendalRuang: Kenanga IINo. CM: 450718Tanggal Masuk: 31 Agustus 2014Tanggal Keluar: 2 September 2014

II. ANAMNESIS ( Dilakukan secara Autoanamnesis Pada Tanggal 1 September 2014, pukul 07.00 WIB )

A. Keluhan Utama : Benjolan pada leher kiri semakin membesar.

B. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 2 bulan lalu pasien mengeluh ada benjolan di leher kiri yang semakin lama dirasakan pasien semakin membesar, kenyal, bisa digerakkan atau tidak melekat pada dasarnya, tidak ada perubahan warna maupun suhu, pasien tidak merasakan sakit pada benjolan di lehernya namun pasien merasa kurang nyaman dengan benjolan yang semakin membesar, dan pasien tidak pernah memijatkan benjolannya.Satu hari sebelum masuk Rumah Sakit, pasien memeriksakan diri ke Klinik SM, dokter klinik merujuk pasien untuk menindak lanjuti penyakitnya ke Rumah Sakit dr. H. Soewondo Kendal. Pasien merasa keluhan benjolan di leher kirinya semakin membesar, sakit (-) dan setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan benjolan mobile (-), suhu dan warna benjolan sama dengan sekitarnya, konsistensi kenyal (+), berbatas tegas (+), permukaan rata (+).

C. Riwayat Penyakit Dahulu :1. Riwayat sakit seperti ini : Disangkal2. Riwayat penyakit hipertensi: Disangkal3. Riwayat penyakit DM: Disangkal4. Riwayat penyakit jantung: Disangkal5. Riwayat penyakit paru paru : Disangkal6. Riwayat alergi : Disangkal7. Riwayat penyakit keganasan: Disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga1. Riwayat penyakit hipertensi: Disangkal2. Riwayat penyakit DM: Disangkal3. Riwayat penyakit jantung: Disangkal4. Riwayat penyakit paru paru : Disangkal5. Riwayat penyakit keganasan: Disangkal

E. Riwayat Pribadi dan Kebiasaan1. Riwayat konsumsi alkohol: Disangkal2. Riwayat konsumsi obat obatan : Disangkal3. Riwayat paparan bahan karsinogenik/radiasi : Disangkal4. Riwayat alergi obat/makanan: Disangkal

F. Riwayat Sosial EkonomiPasien bekerja di pabrik Garmen. Biaya pengobatan menggunakan BPJS

III. PEMERIKSAAN FISIK1. Keadaan umum: Baik2. Tanda vital: a. Tensi : 120/80 mmHgb. Nadi : 80 kali/menit, irama reguler, isi dan tegangan cukupc. Frekuensi respirasi : 20 kali/menit, regulerd. Suhu : 36,8 0C (per axiller)3. Kulit : Warna ikterik (-), kering (-), peteki (-)4. Kepala: Bentuk mesosefal, rambut warna hitam, lurus, mudah rontok (-), luka (-)5. Wajah: Tampak pucat (-)6. Mata: Mata cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjungtiva (-/-), pupil bulat isokor dengan diameter (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+), edema palbebra (-/-), eksopthalmus (-/-)7. Telinga: Sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), membran timpani intak (+/+)8. Hidung: Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi penghidu normal9. Mulut: Bibir sianosis (-), bibir pucat (-), gusi berdarah (-) , bibir kering (+), lidah kotor (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-)10. Leher: Bentuk simetris (+), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran limfonodi cervical (-), leher kaku (-), distensi vena-vena leher (-), Massa (+) di leher kiri diameter 3 cm, sakit (-), mobile (-), suhu dan warna benjolan sama dengan sekitarnya, konsistensi kenyal (+), berbatas tegas (+), permukaan rata (+).11. Thorax: Bentuk simetris, retraksi intercostal (-), spider nevi (-), pernafasan torakoabdominal, sela iga melebar (-), pembesaran KGB axilla (-/-), KGB supraklavikuler (-/-), KGB infraklavikuler (-/-)

a. CORInspeksi: Ictus cordis tidak tampakPalpasi : Ictus cordis teraba di ICS V, 2 cm medial linea midclavicularis, sinistra, pulsus para sternal (-), pulsus epigastrium (-)Perkusi : Batas jantung Kiri bawah : ICS V, 2 cm medial linea midclavicularis sinistra Kiri atas : ICS II linea sternalis sinistra Kanan atas : ICS II linea sternalis dextra Pinggang jantung : SIC III linea parasternalis sinistra Kesan : Konfigurasi jantung dalam batas normalAuskultasi: Bunyi Jantung I-II reguler, bising (-), gallop (-), murmur (-).

b. PULMODepanBelakang

I : Statis : simetris kanan kiri, retraksi (-/-)Dinamis : pergerakan paru simetris, retraksi (-/-)Pa : Statis : simetris, sela iga tidak melebar, tidak ada yang tertinggal, retraksi (-/-)Dinamis : pergerakan paru simetris, sela iga tidak melebar, tidak ada yang tertinggal, retraksi (-/-) Stem fremitus kanan=kiriPe : sonor / sonor seluruh lapang paruAus: Suara dasar vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)I : Statis : simetris kanan kiri, retraksi (-/-)Dinamis : pergerakan paru simetris, retraksi (-/-)Pa : Statis : simetris, sela iga tidak melebar, tidak ada yang tertinggal, retraksi (-/-)Dinamis : pergerakan paru simetris, sela iga tidak melebar, tidak ada yang tertinggal, retraksi (-/-) Stem fremitus kanan=kiriPe : sonor/sonor seluruh lapang paruAus: Suara dasar vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)

12. AbdomenInspeksi: Defense muscular (-), Meteorismus (-)Palpasi: Supel, nyeri tekan (-)Perkusi: Timpani (+) disemua kuadran abdomen.Auskultasi : Bising usus (+) normal

13. Ektremitas: Superior Inferior

AkraldinginOedemPucat GerakReflex fisiologisReflex patologis-/--/--/-Dalam batas normal+/+-/--/--/--/-Dalam batas normal+/+-/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANGHasil Pemeriksaan darah rutin : Leukosit: 6,3 x 103/uL (Nilai Rujukan : 4,0 10,0) Hemoglobin: 10,5 g/dL(Nilai Rujukan : 13,0 18,0) Hematokrit: 31,5 % (Nilai Rujukan : 39,0 54,0) Trombosit: 223 x 103/uL(Nilai Rujukan : 150 500) PT: 13 detik(Nilai Rujukan : 11,3 14,7) APTT: 30,6 detik(Nilai Rujukan : 27,4 39,3)Hasil Pemeriksaan kimia klinik : Glukosa Sewaktu: 96 mg/dl (Nilai Rujukan : 75 115) Ureum: 16 mg/dl (Nilai Rujukan : 10 50) Creatinin: 0,59 mg/dl (Nilai Rujukan: 1,50 1,10)

V. DAFTAR ABNORMALITASAnamnesis :1. Benjolan pada leher kiriPemeriksaan fisik :2. Massa (+) di leher kiri diameter 3 cm, sakit (-), mobile (-), suhu dan warna benjolan sama dengan sekitarnya, konsistensi kenyal (+), berbatas tegas (+), permukaan rata (+).Laboratorium :3. Hemoglobin: 10,5 gr/dL (L)4. Hematokrit : 31,5 % (L)

VI. ASSESMENT1. Limfadenopati ColliDD :susp. Limfadenitis TB

VII. Rencana Pemecahan Masalaha. Ip Dx 1. Darah rutin2. PT/APTT3. Ureum dan Creatinin4. Patologi Anatomib. Ip TxNon medikamentosa :1. Bed-rest2. Diet bubur lauk lunakMedikamentosa :- Pre-Operasi1. Antibiotika. Inj. Ceftriaxone 3x1 gr2. Analgetika. Inj. Ketorolac 3x30mg3. Simtomatisa. Antipiretik (Inj. Paracetamol 1x30 mg)4. Operativea. Ekstirpasib. Curetage

-Post-Operasi1. Inj. Ceftriaxone 2x1gr2. Inj. Gantamicine 2x30 mg3. Inj. Ketorolac 3 x 30 mg4. Inj. Metronidazole 3x50 mg5. Inj. Asam tranexamat 3x500 mg

c. Ip Mx 1) Keadaan umum2) Vital sign

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kelenjar Getah Bening Normal 2.1.1. Anatomi dan Fisiologi Pembesaran KGB dapat dibedakan menjadi pembesaran KGB lokal (limfadenopati lokalisata) dan pembesaran KGB umum (limfadenopati generalisata). Limfadenopati lokalisata didefinisikan sebagai pembesaran KGB hanya pada satu daerah saja, sedangkan limfadenopati generalisata apabila pembesaran KGB pada dua atau lebih daerah yang berjauhan dan simetris. Ada sekitar 300 KGB di daerah kepala dan leher, gambaran lokasi terdapatnya KGB pada daerah kepala dan leher adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Lokasi kelenjar getah bening(KGB) di daerah kepala dan leher.

Secara anatomi aliran getah bening aferen masuk ke dalam KGB melalui simpai (kapsul) dan membawa cairan getah bening dari jaringan sekitarnya dan aliran getah bening eferen keluar dari KGB melalui hilus. Cairan getah bening masuk kedalam kelenjar melalui lobang-lobang di simpai. Di dalam kelenjar, cairan getah bening mengalir dibawah simpai di dalam ruangan yang disebut sinus perifer yang dilapisi oleh sel endotel. Jaringan ikat trabekula terentang melalui sinus-sinus yang menghubungkan simpai dengan kerangka retikuler dari bagian dalam kelenjar dan merupakan alur untuk pembuluh darah dan syaraf. Dari bagian pinggir cairan getah bening menyusup kedalam sinus penetrating yang juga dilapisi sel endotel. Pada waktu cairan getah bening di dalam sinus penetrating melalui hilus, sinus ini menempati ruangan yang lebih luas dan disebut sinus meduleri. Dari hilus cairan ini selanjutnya menuju aliran getah bening eferen.

Gambar 2. Skema kelenjar getah bening (KGB).

Pada dasarnya limfosit mempunyai dua bentuk, yang berasal dari sel T (thymus) dan sel B (bursa) atau sumsum tulang. Fungsi dari limfosit B dan sel-sel turunanya seperti sel plasma, imunoglobulin, yang berhubungan dengan humoral immunity, sedangkan T limfosit berperan terutama pada cell-mediated immunity.Terdapat tiga daerah pada KGB yang berbeda: korteks, medula, parakorteks, ketiganya berlokasinya antara kapsul dan hilus. Korteks dan medulla merupakan daerah yang mengandung sel B, sedangkan daerah parakorteks mengandung sel T. Dalam korteks banyak mengandung nodul limfatik (folikel), pada masa postnatal, biasanya berisi germinal center. Akibatnya terjadi stimulasi antigen, sel B didalam germinal centers berubah menjadi sel yang besar, inti bulat dan anak in