Click here to load reader

Community and Health Nursing

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sebagai lokalitas, letak geografis atau jaringan hubungan antar individu yg dibangun berdasarkan sharing (berbagi rasa) dan caring (saling menjaga).

Text of Community and Health Nursing

  • COMMUNITY AND HEALTH DR. Dra. Sumarni DW, M.Kes

  • Community (Komunitas)Sebagai lokalitas, letak geografis atau jaringan hubungan antar individu yg dibangun berdasarkan sharing (berbagi rasa) dan caring (saling menjaga).Contoh:Komunitas suku Madura di Yogyakarta.Komunitas anak jalanan di Semarang.Komunitas PSK di Paris.Komunitas Waria di B.I.Komunitas anak Jermal di Sumut.Komunitas pengguna Napza di kalangan remaja.

  • Salah satu ciri Komunitas:Sanggup menerima atau membentuk sendiri suatu (sistem) nilai atau norma, meskipun sistem nilai atau norma tersebut bertentangan dengan sistem nilai atau norma dalam masyarakat luas.Pengetahuan norma atau perilaku dalam suatu komunitas, akan sangat membantu petugas kesehatan untuk memahami kesehatan dan masalah pemeliharaan kesehatan.

  • Daerah Pemukiman Bantaran Sungai CodeMerupakan pemukiman kumuh, berhimpitan, termasuk kelas sosial rendah.Pekerjaan penduduk & kesehatannya:Perajin: sesak nafas, kulit, perlukaan.Penjual makanan: perlukaan (luka bakar, potong).Buruh gendhong: kurang gizi, tedun.Pramuniaga: stres, varises, kurang gizi.PSK, anak jalanan: PMS, HIV/AIDS, napza, hepatitis, infeksi rongga mulut.

  • Desa PanggangGunung KidulMerupakan daerah kering, tandus, daerah termiskin di Gunung Kidul (65% keluarga miskin).Pekerjaan penduduk dan kesehatannya:Pertanian: keracunan pestisida (racun hama).Boro (TKW): stres, depresi, cacat.Boro (TKL), penjual makanan: kecelakaan kerja.Perpisahan lama dengan keluarga/perceraian/ penyelewangan, stres, depresi, bunuh diri.

  • Masalah Sosial dan Kesehatan

  • Perempuan Penggendong pasirNenek sedang mengumpulkan pasir

  • Kesehatan Lansia

  • Kebiasaan Makan Suku Madura di BinangkaKondisi lingkungan terdiri dari pegunungan kapur putih, sulit air, sangat tandus utnuk pertanian, mepengaruhi kondisi kesehatannya antara lain: ispa, kulit, diare dan status gizinya.Dari faktor lingkungan mempunyai resiko terjadinya infeksi ditambah kondisi kesehatan dan keterbatasan makanan yg tersedia juga beban kerja perempuan madura yg berat, sangat berpengaruh dengan terjadinya gangguan kesehatan akibat gizi buruk.Keterbatasan air sangat berpengarhpada infeksi pada kulit dan diare.Kecemasann ibu akibat pasca konflik dengan suku Dayak di Sampit.

  • Sosial ekonomi: karena tanahnya tandus sebagian besar penduduk keluar dari pulau Madura untuk berdagang, bekerja, menuntut ilmu.Kebiasaan makan hasil dari pertaniannya, jagung, padi yang sangat terbatas ketersediaannya di Madura.Kebiasaan makan bersama-sama pada upacara besar Islam lebih diutamakan hari Raya Idul Adha dan Maulud Nabi, sebagai wujud bersyukur dapat berkumpul bersama keluarga, di Madura sangat menjunjung tinggi hari besar agama Islam.Kebiasaan dan kepercayaan dalam kegiatan-kegiatan untuk keselamatan, yg sangat dianut oleh suku Madura adalah dari tokoh yang sangat dihormati, dipercaya, untuk keselamatan adalah Kyai.Perempuan Madura sangat terkenal dengan budaya kerjanya sangat tinggi dan sangat kuat dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

  • Faktor lingkungan Masyarakat Sumba yg berpengaruh terhadap kebiasaan makanKondisi lingkungan rumah yg rentan terjadinya penyakit ispa infeksi penularan penyakit (keluarga besar masih menjadi satu rumah untuk hidup bersama, tidur bersama yg berada di sekitar tungku untuk masak, dalam ruangan yg tidak ada ventilasi).Kebiasaan makan:Dari hasil pertanian yg ada: padi, jagung serta ketelaKebiasaan makan perempuan Sumba menomor satukan suami, keluarga laki-laki, baru perempuan.Kebiasaan makan sirih (nginang) sebagai kewajiban untuk menjamu tamu.

  • Kondisi pendidikan: sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah sangat berpengaruh dalam pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.Kebiasaan pekerjaan perempuan mempunyai beban lebih besar (menumbuk padi, menenun) dan bekerja di atas tempat-tempat kandang ternak.Kondisi sosial ekonomi: penduduk mempunyai ternak dalam jumlah banyak: babi, kuda, ayam, tetapi tidak untuk konsumsi makan.Kondisi budaya perempuan Sumba sering mendapatkan kekerasan (fisik, mental, seksual) dalam rumah tangga akibat budaya Belis (mas kawin yg tinggi).Kondisi diatas akan berpengaruh terhadap status kesehatan fisik, mental dan status gizi perempuan Sumba.

  • Kebiasaan makan perempuan penambang dan penggendong pasir di SlemanLetak geografis pegunungan Merapi berdekatan dengan sungai Boyong (tempat menaglirnya lahar dingin dari gunung merapi) banyak pasir yg dihasilkan.Keterbatasan ekonomi harus mencari nafkah dengan menambang pasir dari sungai untuk di angkat ke atas dengan kemiringan 30-40 dan harus berulang-ulang menempuh jarak 200-300 m setiap hari mengangkat pasir, untuk dikumpukan dan dijual.Tingkat pendidikan rendah/SD.

  • Kebiasaan makan pagi: gethuk, nasi seadanya, kadang hanya sayur, yg penting ada untuk isi perut; makan siang hanya membeli makan dengan lauk mie seharga Rp. 1000, yg tersedia dijual di sekitar tempat bekerja.Pekerjaan: kebiasaan bekerja berat menggendong pasir dengan naik turun tanpa memakai alas kaki kena panas matahari mempunyai resiko terjadinya prolaps uteri dan penyakit kulit, ispa, dan nyeri punggung.Kebiasaan makan yg sangat tidak bergizi (asal perut terisi), beban kerja yg sangat berat ditambah berbagai penyakit infeksi dan gangguan organ reproduksi dapat berpengaruh terhadap semakin beratnya status gizi perempuan penambang pasir di Sleman.

  • Kebiasaan makan buruh gendong di Pasar BeringharjoFaktor lingkungan di tempat tinggal sebagian besar mereka menyewa tempat yg sangat sempit untuk dapat dipakai sekedar tidur malam bersama teman berhimpitan, tidak ada ventilasi, kurang sinar matahari (resiko penularan penyakit).Lingkungan tempat kerja di pasar Beringharjo yg harus menggendong beban berat, ada yg harus ditambah dengan membawa beban di tangan mempunyai resiko sakit punggung, pinggang dan prolaps uteri, menahan kencing berdampak thd infeksi saluran kencing.Kondisi ekonomi di daerah asal sangat kurang, dari hasil buruh gendong per hari antara Rp 15.000 - Rp20.000; setiap 1 minggu 2 minggu pulang, penghasilan untuk biaya sekolah anak-anak.Tingkat pendidikan SD dan SLTP.

  • Kebiasaan makanKalau pagi kadang-kadang gethuk, tiwul, nasi gudeg (Rp.1.000) seadanya yg penting perut terisi biar badannya kuat bekerja.Makan siang yg penting kenyang dengan nasi sayur panas dan krupuk, biar tidak ngantuk.Sore makan seadanya yg penting ada nasi, sambal tempe/tahu.Faktor lingkungan beban kerja, kondisi ekonomi sangat berpengaruh thd kebiasaan makan yg tidak bergizi dan ditambah berbagai macam gangguan kesehatan/infeksi memperbruk status gizi buruh gendong.

    ***********************************