Contagious Zone (For Everyone)

Embed Size (px)

Text of Contagious Zone (For Everyone)

BAB I

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangSebagaimana terlihat di dalam sejarah, bahwa laut terbukti mempunyai berbagai macam fungsi seperti, sebagai sumber makanan bagi umat manusia, sebagai jalan raya perdagangan, sebagai sarana untuk penaklukan, sebagai tempat pertempuran, sebagai tempat bersenang-senang dan rekreasi, dan sebagai alat pemisah atau pemersatu bangsa,[footnoteRef:0] termasuk juga sebagai pemanfaatan dalam kepentingan pelayaran.[footnoteRef:1] [0: Dr. Hasyim Djalal, Perjuangan Indonesia di Bidang Hukum Laut. Bandung: Binacipta. 1979. Hlm. 1.] [1: Chairul Anwar, S.H. Hukum Internasional: Horizon Baru Hukum Laut Internasional Konvensi Hukum Laut 1982. Jakarta: Djambatan. 1989. Hlm. 1]

Melihat betapa pentingnya wilayah laut bagi kehidupan umat manusia, menjadi pertimbangan bagi para ahli untuk mencurahkan perhatiannya terhadap permasalahan hukum laut,. Dimulai dari abad ke-7 sudah dikenal Hukum Laut Rhodia (mengenai Laut Tengah), kemudian abad ke-12 kompilasi mengenai peraturan-peraturan laut di Eropa[footnoteRef:2] sampai pada lahirnya Geneva Convention 1958 (terdiri dari 4 konvensi) dan United Nations Convention on Law Of the Sea 1982 (UNCLOS 1982). Tentunya ini bukanlah merupakan suatu proses yang mudah, begitu banyak pertentangan dan perdebatan hingga akhirnya mencapai kesepakatan dari negara-negara berbentuk konvensi internasional. [2: Ibid.]

Fungsi laut yang sebagai jalan raya perdagangan serta pelayaran domestik maupun internasional membuat pentingnya pencegahan terhadap pelanggaran-pelanggaran terkait fiskal, imigrasi, maupun terhadap peraturan perundang-undangan yang dimiliki suatu negara atas wilayah teritorialnya.[footnoteRef:3] Hal ini yang menjadi manfaat atau kegunaan dari adanya wilayah zona tambahan (Contiguous Zone) bagi suatu negara kepulauan (archipelagic state). [3: Article 33 (1) UNCLOS 1982 ]

Mengingat bahwa laut menjadi salah satu wilayah perbatasan bagi archipelagic state, serta menjadi tempat berlalu-lintasnya kapal-kapal baik asing maupun bukan sehingga dapat menimbulkan kemungkinan terhadap masalah-masalah seperti, kesehatan (transmission disease), penyelundupan barang-barang (smuggling), perdagangan orang (human trafficking) bahkan sampai pada permasalahan keamanan terhadap negara (security and safety) maka manfaat dari zona tambahan pun tidak dapat dipungkiri. Sebagaimana termaktub di dalam Konvensi Jenewa 1958 yang terdiri dari 4 konvensi, antara lain:1. Convention on Territorial Sea and Contiguous Zone;2. Convention on High Seas;3. Convention on Fishing and Conservation of the living resources of the high seas;4. Convention on Continental Shelf.Melihat hal diatas, maka jelas bahwa kesadaran negara-negara akan adanya kebutuhan zona tambahan (poin pertama) sudah ada sejak Konvensi Jenewa 1958 tersebut sebelum pada akhirnya dimuat kembali di dalam UNCLOS 1982.Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) terluas yang terdiri dari lebih 17.499[footnoteRef:4] pulau dan 200 juta penduduk[footnoteRef:5], tidak lain sangat membutuhkan pengaturan terhadap hukum laut. Berbagai perjuangan juga telah dilakukan oleh Indonesia terhadap hukum laut Indonesia.[footnoteRef:6] [4: Surat Edaran Kepala Dishidros Mabes TNI-AL No. SE/1241/IV/2012 tanggal 10 April 2012 tentang Data Wilayah Negara Kesatuan Negara Indonesia.] [5: M. Husseyn Umar, S.H. Hukum Maritim dan Masalah-Masalah Pelayaran di Indonesia (Buku 3). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2001. Hlm. 173] [6: Indonesia sebagai negara yang memperjuangkan konsepsi negara kepulauan sebagai satu kesatuan wilayah yang bulat dan utuh, serta menambahkan lebar laut teritorial menjadi 12 mil, salah satu caranya dengan Deklarasi Juanda 13 Desember 1957.]

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, pengaturan daripada zona tambahan (contiguous zone) sudah sejak Konvensi Jenewa 1958, namun Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1961 tentang Persetujuan Atas Tiga Konvensi Jenewa 1958 Mengenai Hukum Laut, baru mengesahkan 3 konvensi yang termaktub dalam Konvensi Jenewa 1958, yaitu:1. Convention on High Seas;2. Convention on Fishing and Conservation of the living resources of the high seas;3. Convention on Continental Shelf.[footnoteRef:7] [7: Ketentuan Menimbang Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1961 tentang Persetujuan Atas Tiga Konvensi Jenewa 1958 Mengenai Hukum Laut]

Sehingga ketentuan mengenai zona tambahan, belum disahkan dalam bentuk undang-undang oleh Indonesia.Kemudian, dimulai pada tahun 1973[footnoteRef:8] kembali diadakan konferensi oleh negara-negara untuk membahas lebih lanjut mengenai pengaturan hukum laut internasional. Konferensi ini pun berakhir dengan menghasilkan sebuah konvensi pada tahun 1982 yang dikenal dengan United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS 1982). Konvensi ini yang menjadi payung hukum mengenai hukum laut sampai pada saat ini. [8: Chairul Anwar, S.H. Op. Cit. Hlm. 12.]

UNCLOS 1982 ini telah memodifikasi Konvensi Jenewa 1958 sebelumnya. Ada beberapa ketentuan yang mengikuti Konvensi Jenewa 1958 termasuk ketentuan mengenai zona tambahan, tetapi ada juga ketentuan-ketentuan yang disempurnakan oleh UNCLOS 1982[footnoteRef:9]. [9: Seperti contoh lebar laut teritorial yang belum ditemukan titik temu pada Konvensi Jenewa 1958, karena masih banyaknya perdebatan antar negara-negara.]

Dengan ketentuan-ketentuan yang menguntungkan bagi archipelagic state, banyak negara-negara yang telah meratifikasi, menerima atau menyetujui UNCLOS 1982 ini. Terhitung pada tanggal 2 Februari 1989, telah mencapai jumlah 37 negara (termasuk Indonesia).[footnoteRef:10] [10: Ibid. Hlm. 13.]

Indonesia mengesahkan UNCLOS 1982 dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982).Berangkat dari hal tersebut, ketentuan mengenai zona tambahan (contiguous zone) yang berada di dalam UNCLOS 1982 telah berlaku di dalam peraturan perundang-undangan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tersebut. Maka Indonesia mempunyai kewenangan-kewenangan tertentu untuk[footnoteRef:11] melakukan pengawasan dalam bidang-bidang kepabeanan, kefiskalan, keimigrasian, dan kekarantinaan, termasuk juga penetapan terhadap batas terluar zona tambahannya (namun tidak boleh melebihi 24 mil terhitung dari garis pangkal mulainya penarikan garis untuk laut teritorial[footnoteRef:12]). [11: Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Zona Tambahan, Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. 2014.] [12: Article 33 United Nations Convention on Law of the Sea 1982.]

Beranjak dari hal diatas, maka penting untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu zona tambahan (contiguous zone) serta kewenangan apa saja yang dimiliki oleh negara pantai terhadapnya. Makalah ini akan menjelaskan lebih lanjut terkait dengan permasalahan ini.

1.2 Rumusan PembahasanBerdasarkan judul makalah tentang Zona Tambahan (Contiguous Zone) dan Kewenangan Negara Pantai (Indonesia) Terhadapnya, beberapa hal yang perlu dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut:1) Apa yang dimaksud dengan Zona Tambahan (Contiguous Zone)?2) Kewenangan apa saja yang dimiliki terhadap Zona Tambahan (Contiguous Zone)?3) Dimana ketentuan Zona Tambahan (Contiguous Zone) diatur di Indonesia?

1.3 TujuanBerkenaan dengan poin 1.2 diatas, adapun tujuan dari makalah ini, antara lain:1) Ingin menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan Zona Tambahan (Contiguous Zone);2) Ingin menjelaskan mengenai kewenangan negara pantai (Indonesia) terhadap Zona Tambahan (Contiguous Zone);3) Ingin menjelaskan mengenai Pengaturan Zona Tambahan (Contiguous Zone) di Indonesia.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Zona Tambahan (Contiguous Zone)Terdapat berbagai macam definisi dari Zona Tambahan (Contiguous Zone) yang diberikan. Zona Tambahan (contiguous zone) secara tradisional adalah bagian dari laut lepas, tetapi negara dapat melakukan fungsi-fungsi tertentu di dalam zona tersebut.[footnoteRef:13] Brierly berpendapat[footnoteRef:14], contiguous zone, yaitu zona dari laut lepas yang bersambung dengan laut teritorial. Menurut pandangan Indonesia sendiri, Contiguous Zone berfungsi sebagai intermediary antara laut wilayah dan laut bebas, yang digunakan untuk menjamin dihorati dan ditaatinya aturan-aturan negara pantai di dalam laut wilayahnya.[footnoteRef:15] [13: Richard N. Swift, International Law, Current and Classic. 1969. Hlm. 257.] [14: Brierly, The Law of Nations, Oxford University Press, 1985. Hlm. 204-205.] [15: Dr. Hasyim Djalal, Op. Cit. Hlm. 99]

Prinsip dari Contiguous Zone ini untuk menghidari adanya kemungkinan kapal-kapal asing akan berkeliaran di sepanjang laut lepas yang berbatasan dengan laut teritorial negara pantai untuk menanti dan mencari kesempatan guna menyelinap masuk ke laut wilayah. Maka dari itu prinsip ini memperkecil kemungkinan pelanggaran terhadap wilayah negara pantai, khususnya di bidang penyelundupan.[footnoteRef:16] [16: Ibid.]

Menurut ketentuan umum hukum internasional, negara-negara tidak memiliki yurisdiksi douane (bea cukai) terhadap kapal-kapal asing di laut lepas. Pengecualian terhadap hal ini hanya apabila terdapat perjanjian internasional.[footnoteRef:17] [17: Chairul Anwar, S.H. Op. Cit. Hlm. 39.]

Tidak seperti wilayah laut teritorial dimana negara memiliki kekuasaan penuh atasnya, pada zona tambahan negara-negara hanya memiliki hak-hak yurisdiksi yang sifatnya terbatas.[footnoteRef:18] [18: Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Zona Tambahan, Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. 2014.]

A. Geneva Convention on the Territorial Sea and Contiguous Zone 1958Pada saat Konferensi Kodifikasi Den Haag tahun 1930 pernah diajukan usul konsepsi Zona Tambahan namun gagal. Kemudian, Pengaturan mengenai Zona Tambahan secara internasional akhirnya pertama kali dalam Konvensi Jenewa 1958 pada Con