contoh proposal

  • View
    211

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

anak

Transcript

PERSETUJUAN Proposal Penelitian/Skripsi dengan judul: Hubungan Antara Kadar Ferritin Dengan Bilirubin Pada Pasien Thalassemia di Bangsal Anak RSUD Dr. Moewardi Eko Dewi Ratna Utami, NIM: G0010067, Tahun: 2013 Telah disetujui untuk diuji di hadapan Tim Validasi Proposal Penelitian/Tim Ujian Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Pada Hari.., Tanggal.. 20 . Pembimbing Utama Penguji Utama

Prof. DR. Harsono Salimo, dr.,Sp.A(K) NIP. 19441226 197310 1 001

Annang Giri Moelyo, dr.,Sp.A,M.Kes NIP.19730410 200501 1 001

Pembimbing Pendamping

Penguji Pendamping

Dra. Dyah Ratna Budiani, M.Si NIP. 19670215 194403 2 001

Prof. DR. Kiyatno, dr.M.Or.,PFK.,AIFO NIP. 19480118 197603 1 002 Tim Skripsi

Nama NIP.

PERNYATAAN Dengan ini menyatakan bahwa dalam proposal skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta,

Eko Dewi Ratna Utami G0010067

PROPOSAL PENELITIAN I. Nama : Eko Dewi Ratna Utami NIM : G0010067

II.

Judul : Hubungan Antara Kadar Ferritin Dengan Bilirubin Pada Pasien Thalassemia di Bangsal Anak RSUD Dr. Moewardi

III. Bidang Ilmu : Ilmu Kesehatan Anak IV. Latar Belakang Masalah Thalasemia merupakan salah satu kelainan darah herediter yang diturunkan secara autosomal resesif. Thalassemia terjadi karena penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan produsi salah satu atau lebih rantai polipeptida (- atau -) yang membentuk molekul hemoglobin manusia dewasa (HbA, 22) (Atmakusuma dan Setyaningsih, 2009; Andriastuti et al., 2011). Sampai saat ini, thalassemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat dengan prevalensi tertinggi di daerah dengan endemik malaria (WHO, 2013). Berdasarkan buletin World Health Organization 2008, gangguan Hb (anemia sel sabit dan thalassemia) endemik di 66% dari 229 negara, berpotensial memberi efek pada 75% kelahiran. Sekitar 1,1 % pasangan di dunia mempunyai resiko memiliki keturunan dengan gangguan Hb dan mempengaruhi 2,7 per 1000 konsepsi, khusus untuk thalassemia 0,46 per 1000 konsepsi. Estimasi WHO setiap tahun ada 332.043 konsepsi atau kelahiran yang terpengaruh. Sekitar 276.168 menderita anemia sel sabit, 42.409 thalasemia-, dan 13.466 thalassemia- (Modell dan Darlison, 2008). Di Asia tenggara, thalassemia-, thalasemia-, Hb-E, dan HbCS umum ditemukan (Fucharoen dan Winichagoon, 2011). Dari kesemuanya, thalassemia- menjadi masalah kesehatan masyarakat yang paling utama baik di Asia tenggara maupun di Bangladesh dan Burma. Di Sri lanka, hampir sebagian dari anak-anak dengan thalassemia yang bergantung pada

transfusi darah dipastikan menderita thalassemia-. Di Thailand rata-rata muncul 3.000 kasus baru setiap tahunnya (Premawardhena et al., 2005; Olivieri et al., 2010). Sedangkan di Indonesia, angka kejadian thalassemia terus meningkat. Data yang diperoleh dari Pusat Thalassemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sampai dengan akhir tahun 2008 terdaftar 1.455 pasien yang terdiri dari 50% thalassemia-, 48,2% thalassemia-/ Hb-E, dan 1,8% pasien thalassemia- (Wahidiyat, 2009). Kemudian pada bulan Juli 2010 jumlah pasien menjadi 1.544, terdiri atas thalassemia- 50,4%, thalassemia-/HbE 47,1%, thalassemia- 2%, dan sisanya lain-lain (Andriastuti et al., 2011). Sedangkan di Jawa Tengah, berdasarkan Riskedas tahun 2007, prevalensi thalassemia di Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,5. Prevalensi tertinggi di Purworejo (2,2.), terendah di Pemalang (0,3.) dan kota Surakarta (0,3) (Depkes RI, 2008). Salah satu pengobatan suportif bagi pasien thalassemia adalah transfusi darah. Transfusi darah ini berguna untuk mempertahankan kadar hemoglobin darah (Andriastuti et al., 2011). Selain itu, disebutkan oleh Higgs, Thein, dan Wood dalam Damardjati dan Oswari (2003) bahwa transfusi darah pada thalassemia dapat memperbaiki kondisi anemia agar tumbuh kembang anak dapat dipertahankan secara optimal. Akan tetapi, pada transfusi setiap satu unit darah membawa 200 mg besi ke tubuh resipien sehingga pasien menerima 3 U setiap 4 minggu (39 U per tahun) yang akan terakumulasi menjadi 7,8 gram dalam setahun. Padahal tubuh tidak mempunyai mekanisme untuk mengeksresi kelebihan besi

(Cappellini et al., 2006). Harrison dan Arosio dalam Shi et.al. (2008) menyebutkan bahwa ferritin merupakan protein penyimpan besi yang utama. Pada keadaan kelebihan besi, ferritin akan meningkat (Khan et al., 2009). Ketika kapasitas penyimpanan besi telah habis, besi bebas (free iron) akan mengkatalisis pembentukan radikal hidroksil berkonsentrasi tinggi yang

akan menyebabkan kerusakan membran dan denaturasi protein. Proses ini akan mengakibatkan kerusakan jaringan dan akhirnya meningkatkan morbiditas dan mortalitas (Cappellini et al., 2006). Berdasarkan data WHO tahun 2008, banyak pasien thalassemia yang bergantung pada transfusi darah mengalami kelebihan besi dan meninggal, dari 40.618 kelahiran dengan thalasemia- yang mendapat pengobatan, 25.511 bergantung pada transfusi darah dan 2.988 diantaranya meninggal karena kelebihan zat besi (Modell and Darlison, 2008). Disebutkan oleh Takatoku et al. (2007) bahwa kelebihan besi pada transfusi yang kronik bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kartoyo dan Purnamawati (2003) bahwa penimbunan besi bisa menyebabkan hemokromatosis, fibrosis, sirosis, dan memperberat penyakit hepatitis C. Berdasarkan analisis retrospektif selama 15 tahun ke belakang yang dilakukan oleh Perifanis et al. (2005) didapatkan bahwa penyakit hati umum didapatkan pada pasien thalasemia- mayor dengan 40% nya dikarenakan oleh kelebihan besi (Worwood, 2007). Ttg bilirubin sebagai salah satu tes fungsi hati. Bertolak dari latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kadar ferritin dengan fungsi hati pada pasien thalassemia. Penelitian ini dilakukan di Bangsal Anak RSUD Dr. Moewardi.

V.

Perumusan Masalah Apakah ada hubungan antara kadar ferritin dengan bilirubin pada pasien thalassemia?

VI. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar ferritin dengan bilirubin pada pasien thalassemia.

VII. Manfaat Penelitian 1. Aspek Teoritik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai hubungan antara kadar ferritin dengan bilirubin pada pasien thalassemia. 2. Aspek Aplikatif a. Dapat dilakukan pencegahan kasus penyakit hati akibat kelebihan besi pada pasien thalasemia yang bergantung pada transfusi darah. b. Memberikan pengetahuan kepada pasien thalassemia dan

pendampingnya tentang efek samping transfusi berulang. c. Dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.

VIII. Tinjauan Pustaka A. Thalassemia Thalassemia berasal dari bahasa Yunani thalassa yang berarti laut dan haima yang berarti darah (Galanello dan Origa, 2010). Thalassemia termasuk kelainan darah yang diwariskan dimana terjadi perubahan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi rantai globin ( atau ) yang dapat menimbulkan defisiensi produksi sebagian atau seluruh rantai globin tertentu. Jenis-jenis thalassemia: 1. Thalassemia- Terjadi karena defisiensi parsial (thalassemia +) atau tidak diproduksinya (thalassemia 0) rantai globin . 2. Thalassemia- Terjadi karena defisiensi parsial (thalassemia +) atau tidak diproduksinya (thalassemia 0) rantai globin . 3. Thalassemia-, thalassemia-, thalassemia- Terjadi karena defisiensi parsial atau tidak diproduksinya kedua rantai globin ( dan ). 4. Heterozigot ganda thalassemia atau dengan varian hemoglobin thalassemik

Misal thalassemia-/HbE berarti diwarisi dari salah satu orang tua pembawa sifat thalassemia dan yang lainnya pembawa sifat HbE (Atmakusuma dan Setyaningsih, 2009).

1. Etiologi Sindrom thalassemia dapat terjadi akibat kelainan pada sekuens pengkode, transkripsi, pengolahan atau defek pada translasi gen yang berakibat adanya gangguan atau tidak adanya pembentukan rantai globin. Delesi keempat lokus rantai menyebabkan mRNA untuk sintesis rantai hilang sama sekali sedangkan delesi atau kelainan berat pada dua gen sedikit mengurangi mRNA tanpa gangguan atau disertai penurunan ringan sintesis rantai (Sacher dan McPherson, 2004a).

2. Patofisiologi a. Patofisiologi thalssemia- Pada thalassemia- terjadi penurunan produksi rantai dan produksi berlebihan rantai yang berpresipitasi pada prekursor sel darah merah dalam sumsum tulang (Galanello dan Origa, 2010). Presipitasi ini akan menimbulkan gangguan pada pematangan eritrosit dan eritropoiesis sehingga akan timbul anemia. Anemia memicu terjadinya proliferasi eritroit yang terus menerus dalam sumsum tulang, sehingga terjadi ekspansi sumsum tulang. Hal ini akan menimbulkan deformitas skeletal dan ganguan pertumbuhan serta metabolisme.

Kemudian anemia akan timbul kembali akibat hemodilusi (Atmakusuma dan Setyaningsih, 2009). b. Patofisiologi thalssemia- Kelainan dasar thalassemia- sama dengan thalassemia yaitu keeetidakseimbangan sintesis rantai globin. Hilangnya gen globin- tunggal tidak berdampak pada fenotip tapi

thalassemia-2a- homozigot (-/-) atau thalassemia-1a- heterozigot (/- -) memberi fenotip seperti thalassemia- carrier. Kehilangan 3 dari 4 gen globin- memberikan fenotip tingkat penyakit berat menengah, disebut HbH disease. Thalassemia 0 homozigot (--/--) tidak dapat bertahan hidup, disebut sebagai Hb-barts hydrops syndrome (Atmakusuma dan Setyaningsih, 2009). Pada Hb-barts hydrops syndrome terjadi kematian janin intrauterus pada pertengahan kehamilan karena janin hanya dapat bertahan hidup dengan hemoglobin embrionik

Recommended

View more >