Diare - PH

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

diare

Transcript

PERBEDAAN DIARE KARENA SHIGELLA, AMOEBA, ROTAVIRUS, GIARDIA, KOLERA

Oleh :

Chandra Wisno Purba 1033070Nining Inggrid F.Purba1033070Silvana Rianti

1033070Silvia Rohana Tampubolon1033070 Tulus Adi Puta Sitanggang 103307027

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKATFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PRIMA INDONESIAMEDAN2015 A. DIARE AKUT

Diare berdasarkan durasinya, dibagi menjadi :

1. Diare akut: berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari)

2. Diare persisten: berlangsung lebih dari 14 hari

3. Diare kronik: berlangsung lebih dari 14 hari dan intermiten (hilang timbul)Diare akut merupakan adanya BAB lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah, berlangsung kurang dari 7 hari, secara mendadak. Perubahan konsistensi disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan absorbsi dan sekresi intestinal yang mengakibatkan peningkatan volume air di dalam tinja. Diare paling lama berlangsung kurang dari 14 hari.Diare pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dapat didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi BAB atau perubahan konsistensi tinja menjadi cair yang menurut ibunya abnormal/tidak seperti biasanya.

Penyebab Penyakit Diare:1. Infeksi

1) Golongan bakteri:a) Aeromonas

b) Bacillus cereus

c) Campylobacter jejuni

d) Clostridium perfringens

e) Clostridium defficile

f) Eschericia coli

g) Plesiomonas shigeloides

h) Salmonella

i) Shigella

j) Staphylococcus aureus

k) Vibrio cholera

l) Vibrio parahaemolyticus

m) Yersinia enterocolitica

2) Golongan virus:

a) Astrovirus

b) Calcivirus

c) Enteric adenovirus

d) Virus rotae) Cytomegalovirus*

f) Herpes simplex virus*3) Golongan parasit

a) Balantidium coli

b) Blastocystis homonis

c) Cryptosporidium parvum

d) Entamoeba histolytica

e) Giardia lamblia

f) Isospora belli

g) Strongyloides stercoralis

h) Trichuris trichiura

*umumnya berhubungan dengan diare hanya pada penderita imunokompromised.2. malabsorbsi3. alergi4. keracunan5. imunisasi, defisiensi6. sebab-sebab lainB. PERBEDAAN DIARE PADA ROTAVIRUS, SHIGELLA, GIARDIA, KOLERA DAN AMOEBA 1. DISENTRI BASILER SHIGELLAa. EtiologiSpesies shigella merupakan bakteri fakultatif anaerob gram negatif yang hanya menginfeksi manusia. Morfologi berbentuk batang, gram negatif, ukuran 0,5-0,7 m x 2-3 m, tidak berflagel. Ada 4 species Shigella yaitu S. dysentriae, flexneri, bondii dan sonnei. Spesies yang sering menyerang manusia antara lain: Shigella dysentriae, Shigella sonnei, Shigella flexneri. Namun S. Flexneri merupakan penyebab tersering dari disentri basilar endemik pada lokasi yang kurang higien, seperti di negeri berkembang. Keadaan lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya penularan penyakit ini kemana-mana. Shigellosis epidemik dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang tidak dimasak.Disentri adalah diare yang disertai darah dalam tinja. Sekurangnya 140 juta kasus dan hanya 600.000 kematian terjadi akibat disentri basilar pada anak-anak di bawah umur 5 tahun. Kuman penyakit disentri basilar didapatkan dimana-mana di seluruh dunia, tetapi kebanyakan di temukan di negara-negara sedang berkembang, yang kesehatan lingkungannya masih kurang.b. Patogenesis

Transmisinya secara fekal-oral dan bisa disebabkan oleh sejumlah kecil organisme yang tertelan ( 10 organisme yang tertelan pada 10% penderita, dan 500 organisme menyebabkan penyakit pada 50% penderita). Bakteri shigella menginvasi sel-sel mukosa intestinal, namun tidak selalu melewati lamina propria. Disentri disebabkan oleh bakteri yang melepaskan diri dari fagolisosom sel epitel, bermultiplikasi di dalam sitoplasma, dan kemudian menghancurkan sel host. Shiga toxin manyebabkan kolitis hemoragik dan sindrom heolitik-uremik dengan cara menghancurkan sel-sel endotel di mikrovastulatur kolon dan glomeruli, secara berturut-turut. Sebagai tambahan, artritis kronis sekunder karena S. Flexneri, yang disebut reiter sindrom, dapat disebabkan oleh antigen bakterial, kejadian sindrom ini sangat kuat berhubungan dengan genotipe HLA-B27, namun basis imunologis reaksi ini tidak dimengerti. Patogenesis terjadinya diare oleh Shigella terutama disebabkan kemampuannya mengadakan invasi melalui membran basolateral ke epitel mukosa usus, berkembang biak di daerah invasi tersebut serta mengeluarkan eksotoksin yang selain merangsang terjadinya perubahan sistem enzim di dalam sel mukosa usus halus (adenil siklase) juga mempunyai sifat sitotoksik. Daerah yang sering diserang adalah ileum terminalis dan usus besar. Akibat invasi bakteri ini terjadi infiltrasi sel-sel polimorfonuklear dan menyebabkan matinya sel-sel epitel tersebut, sehingga terjadilah tukak-tukak kecil di daerah invasi yang menyebabkan sel-sel darah merah dan plasma protein ke luar dari sel dan masuk ke lumen usus serta akhirnya ke luar bersama tinja. c. Gejala klinisMasa tunas berlangsung dari beberapa jam sampai 3 hari, jarang lebih dari 3 hari. Mulai terjangkit sampai timbulnya gejala khas biasanya berlangsung cepat, sering secara mendadak, tetapi dapat juga timbul perlahan-lahan. Gejala yang timbul bervariasi, yaitu :

1) Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.

2) Panas tinggi (39,50 - 400 C)3) Muntah-muntah.

4) Anoreksia.

5) Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.

6) Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).

Bentuk klinis disentri basilar dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya disebabkan oleh S. dysentriae. Berjangkitnya cepat, berak-berak seperti air, muntah-muntah, suhu badan subnormal, cepat terjadi dehidrasi, renjatan septik, dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong. Kadang-kadang gejalanya tidak khas dapat berupa seperti gejala kolera atau keracunan makanan. Pada kasus fulminating. gejalanya timbul mendadak dan berat, dengan pengeluaran tinja yang banyak berlendir dan berdarah serta ingin berak terus menerus. Akibatnya timbul rasa haus, kulit kering dan dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi. Muka menjadi berwarna kebiruan, ekstremitas dingin, dan viskositas darah meningkat (hemokonsentrasi).

Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga mengakibatkan perut menjadi cekung. Di daerah anus terjadi luka dan nyeri, kadang-kadang timbul prolaps. Bila ada hemorroid yang biasanya tidak timbul akan menjadi mudah muncul ke luar. Suhu badan biasanya tidak khas biasanya lebih tinggi dari 390C tetapi bisa juga subnormal. Nadi cepat dan halus, muntah-muntah dan cegukan jarang. Nyeri otot dan kejang kadang-kadang ada. Perkembangan selanjutnya berupa keluhan-keluhan yang bertambah berat, keadaan umum memburuk, inkontinensia urin dan alvi, gelisah tapi kesadaranmasih tetap baik, kelainan-kelainan menjadi bertambah berat.

Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria, dan koma uremik. Angka kematian bergantung pada keadaan dantindakan pengobatan. Angka ini bertambah pada keadaan malnutrisa, dan keadaan darurat misalnya kelaparan. Perkembangan penyakit ini selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan, tetapi memerlukan waktu penyembuhan yang lama, penyembuhan yang cepat jarang terjadi. Bentuk yang sedang, keluhan dan gejalanya bervariasi, tinja biasanya tidak berbentuk, mungkin dapat mengandung sedikit darah/lendir. Bentuk yang ringan keluhan-keluhan atau gejala tersebut diatas lebih ringan. Bentuk ysng menahun terdapat serangan seperti bentuk akut secara menahun. Bentuk ini jarang sekali bila mendapat pengobatan yang baik.d. Diagnosis Diagnosis klinis disentri didasarkan semata-mata pada terlihatnya darah di dalam tinja. Tinja mungkin juga mengandung sel-sel nanah (lekosit polimorfonuklear) yang terlihat dengan mikroskop dan mungkin mengandung lendir dalam jumlah banyak, gambaran yang terakhir ini mengarah ke infeksi bakteri yang invasive ke mukosa usus (seperti Campylobacter jejuni atau Shigella), akan tetapi gejala ini saja tidak cukup untuk mendiagnosa disentri. Pada beberapa episode Shigellosis, pertama-tama tinja cair kemudian menjadi berdarah setelah 1 atau 2 hari.

Diare cair ini kadang-kadang berat dan menyebabkan dehidrasi. Namun biasanya keluarnya tinja berdarah sedikit-sedikit beberapa kali dan tidak sampai dehidrasi. Penderita dengan disentri sering disertai panas, tetapi kadang-kadang suhunya rendah, terutama pada kasus-kasus yang berat. Sakit kram di perut dan sakit di dubur pada waktu defekasi, atau tetanus juga sering terjadi, namun anak kecil tidak dapat menggambarkan keluhan ini.

Pemeriksaan lain yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosis disentri basilar ialah pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman penyebab. Pada stadium lanjut dilakukan pengerokan daerah sigmoid untuk pemeriksaan sitologi (sigmoidoskopi). Aglutinasi karena agglutinin terbentuk pada hari kedua dengan maksimum pada hari keenam. Pada S. dysentriae aglutinasi dinyatakan positif pada pengenceran 1/50, dan pada S. flexneri aglutinasi antibodi sangat kompleks, dan oleh karena adanya banyak strain maka jarang dipakai.e. Komplikasi Beberapa komplikasi yang berat dan kemungkinan fatal dapat terjadi pada waktu disentri, terutama bila penyebabnya Shigella. Keadaan ini meliputi :

1) Dehidrasi

2) Gangguan elektrolit, terutama hiponatremia 3) Kejang (dengan atau tanpa hiperpireksia)

4) Protein loosing enteropathy

5) S