Diktat Hukum Kepailitan

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hukum Perdata dan Bisnis

Text of Diktat Hukum Kepailitan

  • DIKTAT

    MATA KULIAH

    HUKUM KEPAILITAN

    OLEH :

    YESSY MERYANTIKA SARI, S.H,M.H

    UNIVERSITAS ISLAM OKI (UNISKI) KAYUAGUNG

    FAKULTAS HUKUM

    JULI 2015

  • BAB TENTANG KEPAILITAN PADA UMUMNYA

    1. Pengertian, Asas, dan Tujuan Kepailitan

    Persekutuan dagang, baik perorangan, badan usaha dengan status non badan

    hukum maupun badan usaha dengan status badan hukum dapat mengalami

    kebangkrutan, apabila tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban hukum kepada

    pihak lainnya. Kebangkrutan secara terminologi hukum sering hukum sering disebut

    sebagai pailit, sedangkan proses pemberesan terhadap harta pailit disebut juga

    sebagai kepailitan.

    Kepailitan merupakan suatu proses untuk mengatasi pihak debitur yang

    mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utangnya setelah dinyatakan pailit

    oleh pengadilan, karena debitur tidak dapat membayar utangnya, sehingga harta

    kekayaan yang dimiliki debitur akan dibagikan kepada para kreditur sesuai dengan

    peraturan perundang-undangan yang berlaku.1

    Menurut UU No. 37 tahun 2004 Pasal 1 angka (1) menyatakan bahwa kepailitan

    adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan

    pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas

    sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Kepailitan menurut UUK & PKPU

    Pasal 2 dapat dijatuhkan dengan memenuhi syarat sebagai berikut:2

    1) Debitur mempunyai dua atau lebih kreditur;

    2) Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang kepada kreditur

    1 Rudy A. Lontoh, et al, 2001, Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang, Bandung: PT Alumni, hlm. 23 dalam Dijan Widijowati, 2012, Hukum Dagang,

    Yogyakarta: Andi, hlm. 215 2 Jono, Op.cit, hlm.5, Baca juga Siti Soemarti Hartono, 1981, Pengantar Hukum Kepailitan

    dan Penundaaan Pembayaran, Yogyakarta: UGM, hal.8-9

  • 3) Utang telah jatuh tempo

    4) Utang dapat ditagih pemenuhannya

    Dalam hal suatu perusahaan wanprestasi dan tidak mampu memenuhi

    kewajibannya baik yang timbul karena perjanjian atau undang-undang terhadap dua

    orang atau lebih maka secara teoritis perusahaan tersebut dapat diajukan pailit oleh

    debitur sendiri atau kreditur. Kepailitan pada hakikatnya merupakan upaya

    pendistribusian asset (harta pailit) debitor kepada kredior secara berimbang. Karena

    dalam harta kekayaan debitor pailit terdapat hak kreditor.3 Inilah yang menjadi

    prinsip hukum dan dasar pemikiran hukum kepailitan.

    Adapun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam kepailitan antara lain sebagai

    berikut:4

    1. Prinsip Paritas Creditorium, yaitu prinsip kesetaraan kedudukan para

    kreditor, yang menyatakan bahwa para kreditor mempunyai hak yang sama

    terhadap semua harta benda debitor. Apabila debitor tidak dapat membayar

    utangnya, maka harta kekayaan debitor jadi sasaran kreditor.

    Filosofi dari prinsip ini adalah bahwa merupakan suatu ketidakadilan jika

    debitor memiliki harta benda sementara utang debitor terhadap para

    kreditornya tidak terbayarkan. Hukum memberikan jaminan umum bahwa

    harta kekayaan debitor demi hukum menjadi jaminan terhadap

    utang-utangnya meskipun harta debitor tersebut tidak berkaitan langsung

    3 Muhammad Syaifuddin, 2012, Kumpulan Materi Kuliah Hukum Kepailitan, Palembang:

    Program Pascasarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Unsri, tidak dipublikasikan. 4 Hadi Shubhan, 2009, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma dan Praktik Di Peradilan, Jakarta:

    Kencana, hal.27-28, Baca juga Muhammad Syaifuddin, 2012, Op.cit.

  • dengan utang-utang tersebut. Hal ini merupakan refleksi dari Pasal 1131 dan

    1132 KUHperdata.

    2. Prinsip Pari Passu Prorata Parte, berarti bahwa harta kekayaan tersebut

    merupakan jaminan bersama untuk para kreditor dan hasilnya harus

    dibagikan secara proporsional antara mereka, kecuali jika antara para kreditor

    itu ada yang menurut undang-undang harus didahulukan dalam menerima

    pembayaran tagihannya.

    Filososfi prinsip ini adalah memberikan keadilan kepada kreditor dengan

    konsep keadilan proporsional, di mana kreditor yang memiliki piutang lebih

    besar, maka akan mendapatkan porsi pembayaran piutangnya dari debitor

    lebih besar dari kreditor yang memiliki piutang lebih kecil darinya.

    3. Prinsip Structure Creditors, yaitu prinsip yang mengklasifikasikan dan

    mengelompokkan berbagai macam kreditor sesuai dengan kelasnya

    masing-masing. Dalam hukum kepailitan kreditor diklasifikasikan menjadi

    tiga yaitu kreditor separatis, kreditor preferen dan kreditor konkuren.

    Selain prinsip/asas umum yang dijelaskan diatas, hukum kepailitan Indonesia

    juga mempunyai asas khusus sebagaimana yang diuraikan dalam Penjelasan umum

    UU No. 37 Tahun 2004. Asas-asas tersebut antara lain:

    (1) Asas Keseimbangan

    Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan

    perwujudan dari asas keseimbangan yaitu di satu pihak terdapat

    ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan

  • lembaga kepailitan oleh Debitor yang tidak jujur, dan di lain pihak

    terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan

    pranata dan kelembagaan kepailitan oleh Kreditor yang beritikad tidak

    baik.

    (2) Asas Kelangsungan Usaha

    Dalam Undang-Undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan

    perusahaan Debitor yang prosfektif tetap dilangsungkan.

    (3) Asas Keadilan

    Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa dalam

    ketentuan kepailitan dapat memenuhi keadilan bagi para pihak yang

    berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya

    kesewenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas

    taguhan masing-masing terhadap Debitor, dengan tidak memperdulikan

    Kreditor lainnya.

    (4) Asas Integritas

    Asas integritas dalam undang-undang ini mengandung pengertian bahwa

    sistem hukum formil dan hukum materil merupaka satu kesatuan yang

    uth dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.5

    Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa pada hakikatnya, fungsi dari

    hukum kepailitan adalah pertama, untuk mencegah berlanjutnya kerugian dan

    mengganti kerugian itu sendiri. Kedua, mencegah terjadinya kesewenangan dari

    5 Lihat Penjelasan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang.

  • pihak debitor untuk mengalihkan harta kekayaan debitor yang dalam harta tersebut

    ada hak kreditor dan mencegah agar tidak terdapat kemungkinan kerjasama antara

    debitor dan kreditor yang satu tanpa persetujuan atau pemberitahuan terhadap

    kreditor lain. Ketiga, untuk mencegah terjadinya eksekusi massal. Potensi terjadi

    main hakim sendiri yang mengarah kepada kerugian baik dari pihak debitor maupun

    kreditor.6

    Dalam hal ini, kepailitan berfungsi untuk mencegah berlanjutnya kerugian dan

    mengganti kerugian bagi kreditor oleh debitur. Serta mencegah terjadinya

    kesewenangan debitur untuk mengalihkan hartanya yang dalam harta tersebut ada

    hak kreditur. Selain itu juga sebagai upaya untuk mencegah terjadinya eksekusi

    massal yang berpotensi mengarah pada kerugian baik di pihak kreditor maupun

    pihak ketiga lainnya yang terlibat.

    Sebagaimana dikutip oleh Jordan et al. dari buku The Early History of

    Bankruptcy Law, yang ditulis oleh Louis E. Levinthal, tujuan utama hukum

    kepailitan adalah:

    1. Untuk menjamin pembagian yang sama terhadap harta kekayaan debitor di antara

    para kreditornya;

    2. Mencegah agar debitor tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat

    merugikan kepentingan para kreditor;

    3. Memberikan perlindungan kepada debitor yang beritikad baik dari para

    kreditornya, dengan cara memperoleh pembebasan utang.7

    6 Ibid.

    7 Sutan Remy Sjahdeini. 2004. Hukum Kepailitan, Jakarta: PT Kreatama, hlm. 37.

  • 2. Sumber Hukum Kepailitan Indonesia

    Sebelum tahun 1945,kasus kepailitan di Indonesia diatur dalam Wetboek van

    Koophandel (WvK), buku ketiga yang berjudul Van De Voorzieningen in Geval van

    Onvermogen van Kooplieden (Peraturan tentang Ketidakmampuan Pedagang) yang

    termuat dalam Pasal 749 sampai dengan Pasal 910 WvK, tetapi telah dicabut

    berdasarkan Pasal 2 Verordening ter Invoering van de Failissementsverordening

    (Staatblad. 1906-348) yang dikhususkan untuk pedagang saja.

    Sedangkan kepailitan untuk bukan pedagang diatur dalam Reglement op de

    Rechtsvordering atau disingkat Rv (Staatblad. 1847-52 jo. 1849-63), buku Ketiga,

    Bab ketujuh yang berjudul Van den Staat Kennelijk Onvermogen (Tentang Keadaan

    Nyata-nyata Tidak Mampu), dalam Pasal 899 sampai Pasal 915 yang kemudian

    dicabut oleh Staatblad.1906-348.

    Dengan adanya dua peraturan tersebut, maka muncul

    permasalahan-permasalahan terkait kepailitan baik masalah teknis formalitas,

    maupun biaya perkara yang tinggi karena lamanya waktu yang diperlukan untuk

    menyelesaikan kasus kepailitan tersebut. Karena ada kesulitan tersebut, maka timbul

    wacana untuk membuat peraturan kepailitan yang sederhana dengan biaya yang

    tidak banyak. Oleh kar, pada tahun 1905 telah diundangkan

    Failissementsverordening (S.1905-217) yang terdiri atas Bab I Tentang Kepailitan

    Pada Umumnya, dan Bab II Tentang Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang.

    Peraturan ini lengkapnya bernama Verordening op het Faillissement en de Surseance

  • van Betalin voor de Europeanen in Nederlands Indie (Peraturan untuk Kepailitan

    dan Penundaan Pembayaran untuk Orang-orang Eropa).

    Berdasarkan Verordening ter invoering van de Failissementsverordening

    (S.1906-348), Failissementsverordening (S.1905-217) dinyatakan mulai berlaku

    pada tanggal 1 November 1906.

    Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus

    1945, berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, seluruh perangkat hukum

    dari Pemerintahan Hindia Belanda dnyataka masih tetap berlaku selama tidak

    bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

    Pada tahun 1947-1998, Failissementsverordening relatif sangat sedikit

    digunakan karena belum dikenal masyarakat Indonesia serta dikarenakan krisis

    moneter yang melanda Indonesia dalam kurun waktu tahun 1997/1998, oleh karena

    itu, pada tahun 1998, Failissementsverordening (FV) disempurnakan menjadi Perpu

    No.1 Tahun 1998 pada tanggal 22 April 1998 dan lima bulan kemudian dikuatkan

    menjadi Undang-Undang No.4 Tahun 1998 tentang Kepailitan. Dengan berlakunya

    Undang-Undang No. 4 tahun 1998 tersebut, maka Peraturan Kepailitan

    (Failissementsverordening S.1905-217 jo S.1906-348) bisa berlaku kembali.

    Dalam perkembangannya, UU No.4 Tahun 1998 diganti dengan

    Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat menjadi UUK PKPU).

    Namun pada hakikatnya, hukum kepailitan Indonesia sebagai subsistem dari

    hukum perdata nasional yang merupakan suatu kesatuan yang utuh dari sistem

    hukum perdata, tidak hanya sebagaimana yang diatur dalam UUK PKPU saja,

  • melainkan juga terdapat dalam peraturan perundang-undangan lainnya yaitu segala

    sesuatu yang berkaitan dengan kepailitan yang diatur dan tersebar di berbagai

    peraturan perundang-undangan seperti yang terdapat dalam KUHPerdata.

    3. Subjek Hukum dalam Kepailitan

    Ada banyak pihak yang menjadi subjek hukum dalam kepailitan, antara lain

    Kreditur, Debitor, Kurator, Hakim Pengawas dan Pengadilan Niaga. Di dalam Kitab

    Undang-Undang Hukum Perdata tidak dipakai istilah debitor dan kreditor tetapi

    yang dipakai adalah istilah si berutang (schuldenaar) dan si berpiutang

    (schuldeischer). Menurut pasal 1235 KUHPerdata dihubungkan dengan pasal 1234

    KUHPerdata, dan pasal 1239 KUHPerdata, si berutang (schuldenaar) adalah pihak

    yang wajib memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu

    berkenaan dengan perikatannya, baik perikatan itu timbul karena perjanjian maupun

    karena undang-undang. 8

    Berdasarkan pasal 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang

    Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dimaksud dengan

    debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang

    yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan. Sedangkan yang dimaksud

    dengan debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit dengan putusan

    pengadilan.

    Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan

    dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dimaksud dengan kreditor

    8 Sutan Remy Sjahdeini. 2004. Hukum Kepailitan, Jakarta: PT Kreatama, hlm. 5

  • adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang

    dapat ditagih di muka pengadilan.

    Pada dasarnya, pemberian kredit oleh kreditor kepada debitor dilakukan

    karena kreditor percaya bahwa debitor akan mengembalikan pinjamannya itu tepat

    sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Untuk memantapkan keyakinan kreditor

    bahwa debitor akan secara nyata mengembalikan pinjamannya setelah jangka waktu

    pinjamannya sampai, maka hukum memberlakukan beberapa asas, asas tersebut

    menyangkut jaminan.9 Dengan kata lain yang dimaksud dengan Kreditur adalah

    orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat

    ditagih di muka pengadilan. Sedangkan yang dimaksud dengan Debitur adalah orang

    yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya

    dapat ditagih di muka pengadilan. Debitur pailit adalah debitur yang sudah

    dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan.10

    Terdapat dua asas yang penting, yaitu menentukan bahwa apabila debitor

    ternyata karena suatu alasan tertentu pada waktunya tidak melunasi utangnya kepada

    kreditor maka harta kekayaan debitor, baik yang bergerak maupun tidak bergerak,

    baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari, menjadi agunan

    utangnya yang dapat dijual untuk menjadi sumber pelunasan dari utang itu. Asas ini

    tertuang dalam pasal 1131 KUHPerdata. Dalam pasal ini menentukan bahwa harta

    kekayaan debitor bukan hanya untuk menjamin kewajiban melunasi utang kepada

    kreditor, tetapi juga untuk menjamin segala kewajiban yang timbul dari perikatan

    9 Ibid, hlm. 6.

    10 Andrian Sutedi, 2009, Hukum Kepailitan, Jakarta: Ghalia Indonesia, hal.32

  • debitor.11

    Dalam prakteknya, debitor tidak hanya terikat hanya dengan satu kreditor

    saja tetapi juga bisa terikat dengan beberapa kreditor lainnya pada waktu yang

    bersamaan. Oleh karena itu, dalam pasal 1131 KUHPerdata menentukan bahwa

    semua harta kekayaan debitor menjadi agunan bagi pelaksanaan kewajiban debitor

    bukan hanya kepada kreditor tertentu saja tetapi juga kepada semua kreditor lainnya.

    Mengenai pembagian pelunasan utang debitor kepada beberapa kreditor telah

    diatur di dalam pasal 1132 KUHPerdata. Pasal ini menyatakan kebendaan tersebut

    menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan kepadanya,

    pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu

    menurut perbandingan besar-kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila

    diantara berpiutang itu ada alasan yang sah untuk didahulukan.

    Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa terdapat

    beberapa macam kreditor yang menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

    terbagi atas 3 kelompok, yaitu:12

    1. Kreditor Konkuren

    Kreditor yang dikenal juga dengan istilah kreditor bersaing. Kreditor

    konkuren memiliki kedudukan yang sama dan berhak memperoleh hasil

    penjualan harta kekayaan debitor, baik yang telah ada maupun yang akan ada

    dikemudian hari, setelah sebelumnya dikurangi dengan kewajiban membayar

    piutang kepada para kreditor pemegang hak jaminan dan para kreditor pemegang

    hak istimewa secara proporsional menurut perbandingan besarnya piutang

    11

    Ibid, hlm. 7. 12

    Imran Nating. 2004. Peranan Dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan Pemberesan

    Harta Pailit, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 48.

  • masing-masing kreditor konkuren tersebut (berbagi secara pari passu prorate

    parte).

    2. Kreditor Preferen/Istimewa

    Kreditor istimewa adalah kreditor yang karena sifat piutangnya mempunyai

    kedudukan istimewa dan mendapat hak untuk memperoleh pelunasan lebih

    dahulu dari penjualan harta pailit. Kreditor istimewa berada di bawah pemegang

    hak tanggungan dan gadai. Pasal 1133 KUHPerdata mengatakan bahwa hak untuk

    didahulukan di antara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa dari gadai

    dan hipotik.

    Dijelaskan lebih lanjut maksud dari hak istimewa dalam pasal 1134

    KUHPerdata adalah suatu hak yang oleh undang-undang diberikan kepada

    seorang berpiutang sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada orang berpiutang

    lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutangnya. Gadai dan hipotik adalah

    lebih tinggi daripada hak istimewa, kecuali dalam hal-hal di mana oleh

    undang-undang ditentukan sebaliknya.

    3. Kreditor Separatis

    Kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak jaminan kebendaan, yang

    dapat bertindak sendiri. Golongan kreditor ini tidak terkena akibat putusan

    pernyataan pailit debitur, artinya hak-hak esksekusi mereka tetap dijalankan

    seperti tidak ada kepailitan debitur. 13

    Kreditor golongan ini dapat menjual sendiri barang-barang yang menjadi

    jaminan, seolah-olah tidak ada kepailitan. Dari hasil penjualan tersebut, mereka

    13

    Imran Nating, dalam Elijana Tansah. 2000. Kapita Selekta Hukum Kepailitan. Makalah,

    disampaikan dalam Pendidikan Singkat Hukum Perusahaan, Jakarta, hlm. 9.

  • mengambil sebesar piutangnya, sedangkan bila ada sisanya disetorkan ke kas

    kurator sebagai boedel pailit. Sebaliknya, bila ternyata hasil penjualan tersebut

    tidak mencukupi, kreditor tersebut untuk tagihan yang belum terbayar dapat

    memasukkan kekurangannya sebagai kreditor bersaing (concurrent).14

    Yang dimaksud dengan kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak

    jaminan kebendaan. Hak jaminan kebendaan yang dimiliki oleh kreditor pemegang

    jaminan kebendaan tersebut memberikan kewenangan bagi para kreditor tersebut

    untuk menjual secara lelang kebendaan yang dijaminkan kepadanya dan untuk

    selanjutnya memperoleh pelunasan secara mendahulu dari kreditor-kreditor lainnya

    dari hasil penjualan kebendaan yang dijaminkan kepadanya tersebut.15

    Dikatakan separatis yang berkonotasi pemisahan karena kedudukan

    kreditor tersebut memang dipisahkan dari kreditor lainnya, dalam arti dia dapat

    menjual dan mengambil sendiri dari hasil penjualan yang terpisah dengan harta pailit

    umumnya. Dengan adanya kata seolah-olah dalam pasal 55 ayat (1)

    Undang-Undang Kepailitan, maka harta separatis tersebut tetap masuk dalam harta

    budel pailit meskipun dipisahkan dengan harta pailit lainnya.16

    Dalam hal mengeksekusi jaminan utang, kreditor separatis dapat menjual dan

    mengambil hasil penjualan jaminan utang tersebut seolah-olah tidak terjadi

    kepailitan. Bahkan jika diperkirakan hasil penjualan jaminan utang tersebut tidak

    mencukupi untuk menutupi masing-masing seluruhnya utangnya, kreditor separatis

    dapat memintakan agar kekurangannya tersebut diperhitungkan sebagai kreditor

    konkuren. Sebaliknya, apabila hasil penjualan asset tersebut melebihi

    utang-utangnya, plus bunga setelah pernyataan pailit (pasal 134 ayat (3)

    Undang-Undang Kepailitan apabila bunga yang bersangkutan tidak dapat dilunasi

    dengan hasil penjualan benda yang menjadi agunan, kreditor yang bersangkutan

    tidak dapat melaksanakan haknya yang timbul dari pencocokan piutang), serta

    14

    Imran Nating, dalam Erman Rajagukguk. 2001. Latar Belakang dan Ruang Lingkup UU Nomor 4

    Tahun 1998 tentang Kepailitan, dalam Rudy A. Lontoh, Bandung: Alumni, hlm. 192. 15

    Kartini Muljadi & Gunawan Widjaja. 2004. Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Jakarta: PT

    Raja Grafindo Persada, hlm. 199. 16

    Op Cit, hlm. 97.

  • ongkos-ongkos dan utang (pasal 60 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan), kelebihan

    tersebut haruslah diserahkan kepada pihak debitor.17

    E. HAK-HAK JAMINAN KEBENDAAN KREDITOR SEPARATIS

    Hak-hak jaminan kebendaan yang memberikan hak menjual sendiri secara

    lelang dan untuk memperoleh pelunasan secara mendahulu yang didapatkan oleh

    kreditor separatis adalah:18

    1. Gadai yang diatur dalam Bab XX Buku III Kitab Undang-Undang Hukum

    Perdata untuk kebendaan bergerak, dengan cara melepaskan kebendaan yang

    dijaminkan tersebut dari penguasaan pihak yang memberikan jaminan kebendaan

    berupa gadai tersebut;

    2. Hipotek yang diatur dalam Bab XXI Buku III Kitab Undang-Undang Hukum

    Perdata, yang menurut pasal 314 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang berlaku

    untuk kapal laut-kapal laut yang memiliki ukuran sekurang-kurangnya dua puluh

    meter kubik dan didaftar di Syahbandar Direktorat Jenderal Perhubungan Laut

    Departemen Perhubungan, sehingga memiliki kebangsaan sebagai kapal

    Indonesia dan diperlakukan sebagai benda tidak bergerak. Sedangkan yang tidak

    terdaftar dianggap sebagai benda bergerak, sehingga berlaku ketentuan pasal 1977

    KUHPerdata yang berbunyi terhadap benda bergerak yang tidak berupa bunga,

    maupun piutang yang tidak harus dibayar kepada si pembawa maka barang siapa

    yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya.

    3. Hak Tanggungan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun

    1996 yang mengatur mengenai penjaminan atas hak-hak atas tanah tertentu

    berikut kebendaan yang dianggap melekat dan diperuntukkan untuk dipergunakan

    secara bersama-sama dengan bidang tanah yang diatasnya terdapat hak-hak atas

    tanah yang dapat dijaminkan dengan hak tanggungan. Ada beberapa unsur pokok

    dari hak tanggungan yang termuat dalam definisi di atas, unsur-unsur pokok

    tersebut ialah:

    17

    Ibid, hlm. 97. 18

    Katini Muljadi & Gunawan Widjaja, op cit, hlm. 199.

  • (i). Hak tanggungan adalah hak jaminan pelunasan utang;

    (ii). Objek hak tanggungan adalah hak atas tanah sesuai dengan UUPA;

    (iii).Hak tanggungan dapat dibebankan atas tanahnya (hak atas tanah) saja, tetapi

    dapat pula dibebankan berikut benda-benda lain yang merupakan satu

    kesatuan dengan tanah itu;

    (iv). Utang yang dijamin harus suatu utang tertentu;

    (v). Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap

    kreditor-kreditor lainnya.19

    4. Jaminan Fidusia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999

    tentang Jaminan Fidusia. Undang-Undang Fidusia tidak memberikan rumusan

    positif mengenai kebendaan yang dijaminkan secara fidusia. Pasal 3

    Undang-Undang Jaminan Fidusia, menetapkan bahwa jaminan fidusia tidak

    berlaku terhadap:

    (i). Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan, sepanjang

    peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan jaminan atas

    benda-benda tersebut wajib didaftar. Namun demikian, bangunan di atas

    tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani hak tanggungan berdasarkan

    Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, dapat

    dijadikan objek jaminan fidusia;

    (ii). Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20M kubik atau

    lebih;

    (iii). Hipotek atas pesawat terbang; dan

    (iv). Gadai.

    Maka jelas bahwa jaminan fidusia meliputi seluruh kebendaan yang tidak

    dapat dijaminkan dengan tiga jenis kebendaan tersebut di atas. Dengan demikian,

    antara fidusia dan hak tanggungan, hipotek, dan gadai tidak akan berbenturan karena

    sudah memiliki batasannya sendiri-sendiri.

    Jika terdapat kreditor yang diistimewakan yang kedudukannya lebih tinggi

    dari kedudukan kreditor separatis, kurator atau kreditor diistimewakan tersebut

    19

    Imran Nating, dalam Sutan Remy Sjahdeni. 1999. Hak Tanggungan Asas-Asas,

    Ketentuan-Ketentuan Pokok dan Masalah yang Dihadapi oleh Perbankan, Bandung: Alumni, hlm.

    11.

  • bahkan dapat meminta seluruh haknya secara penuh dari kreditor separatis yang

    diambil dari hasil penjualan asset jaminan utang, baik jika dijual oleh kreditor

    separatis sendiri ataupun jika dijual oleh kurator (pasal 60 ayat (2) Undang-Undang

    Kepailitan).20

    F. PENANGGUHAN EKSEKUSI JAMINAN UTANG

    Penangguhan hak kreditor separatis atas eksekusi jaminan utang dalam

    hukum kepailitan disebut juga dengan stay. Yang dimaksud dengan penangguhan

    hak kreditor separatis atas eksekusi jaminan utang dalam proses kepailitan adalah

    penangguhan hak yang dimiliki oleh kreditor separatis untuk mengeksekusi sendiri

    jaminan utang debitor. Dengan demikian, kreditor separatis berada dalam keadaan

    menunggu untuk suatu masa tertentu. Apabila masa itu sudah dilampaui, maka

    kreditor separatis tersebut baru dibolehkan untuk mengeksekusi jaminan utangnya.21

    Dalam pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dinyatakan bahwa hak

    eksekusi kreditor separatis ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90

    (Sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pailit diucapkan. Penangguhan hak

    eksekusi kreditor separatis ini bertujuan untuk:

    1. untuk memperbesar kemungkinan tercapainya perdamaian;

    2. untuk memperbesar kemungkinan mengoptimalkan harta pailit;

    3. untuk memungkinkan kurator melaksanakan tugasnya secara optimal.22

    Filosofi penangguhan ini ini adalah bahwa dalam praktik sering sekali para

    pemegang hak jaminan akan menjual benda jaminannya dengan harga jual yang

    cepat, di mana harga jual cepat adalah harga yang dibawah pasar. Strategi penjualan

    cepat dengan harga cepat ini adalah hanya demi memenuhi kepentingan kreditor

    pemegang jaminan kebendaan saja. Sedangkan jika ditangguhkan selama 90 hari

    tersebut memberikan kesempatan pada kurator untuk memperoleh harga yang layak

    dan bahkan harga yang terbaik. Hal ini karena pada dasarnya pemegang jaminan

    memiliki hak preferensi atas benda jaminan sampai senilai piutangnya terhadap

    20

    Munir Fuady. 2010. Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, Bandung: PT Citra Aditya Bakti,

    hlm. 107. 21

    Analisa Y. 2007. Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Alternatif

    Penyelesaian Utang Piutang), Palembang: Unsri, hlm. 117. 22

    Ibid.

  • debitor, sehingga jika nilai likuidasi benda jaminan melebihi nilai piutang kreditor,

    maka sisa nilai likuidasi benda jaminan harus dikembalikan kepada debitor. Dalam

    konteks kepailitan, maka jika terdapat nilai sisa likuidasi benda jaminan tersebut,

    maka sisa tersebut dimasukkan ke dalam budel pailit. Pengaturan yang demikian ini

    akan memberikan perlindungan hukum baik terhadap debitor pailit maupun kepada

    kreditor lainnya, sementara kreditor separatis sama sekali tidak dirugikan.23

    Makna lainnya dari ketentuan hak tangguh ini adalah bahwa kurator berdiri

    di atas kepentingan semua pihak. Kurator hanya berpihak pada hukum, sehingga jika

    likuidasi benda jaminan dilakukan oleh kurator, maka diharapkan tidak akan

    merugikan semua pihak. Ditambah lagi, kurator berada di bawah pengawasan dari

    hakim pengawas.24

    Selama berlangsungnya jangka waktu penangguhan, segala tuntutan hukum

    untuk memperoleh pelunasan atas suatu piutang tidak dapat diajukan dalam sidang

    badan peradilan, dan kurator dilarang mengeksekusi atau memohonkan sita atas

    benda yang menjadi jaminan utang tersebut.25

    Tidak pada semua kreditor separatis berlaku penangguhan kewajiban

    pembayaran utang tersebut. Hukum tentang penangguhan kewajiban pembayaran

    utang tersebut mengenal pula perkecualian, yaitu sebagai berikut:

    1. penangguhan eksekusi tidak berlaku terhadap tagihan kreditor yang dijamin

    dengan uang tunai, misalnya gadai deposito; dan

    2. penangguhan eksekusi tidak berlaku bagi hak kreditor untuk perjumpakan

    utang.26

    Selama jangka waktu penangguhan, berdasarkan pasal 56 ayat (3)

    Undang-Undang Kepailitan, kurator dapat menggunakan harta pailit berupa benda

    tidak bergerak maupun benda bergerak atau menjual harta pailit yang berupa benda

    bergerak yang berada dalam pengawasan kurator dalam rangka kelangsungan usaha

    debitor, dalam hal telah diberikan perlindungan yang wajar bagi kepentingan

    23

    Hadi Shubhan. 2009. Hukum Kepailitan: Prinsip Norma dan Praktek di Peradilan, Jakarta:

    Kencana, hlm. 199. 24

    Ibid. 25

    Analisa Y. Op Cit. 26

    Ibid, hlm 96.

  • kreditor.27

    Yang dimaksud dengan perlindungan yang wajar adalah perlindungan yang

    perlu diberikan untuk melindungi kepentingan kreditor atau pihak ketiga yang

    haknya ditangguhkan. Dengan pengalihan harta pailit ini, hak kebendaan tersebut

    dianggap berakhir demi hukum. Perlindungan yang dimaksud antara lain:

    1. ganti rugi atas terjadinya penurunan nilai harta pailit;

    2. hasil penjualan bersih;

    3. hak kebendaan pengganti; atau

    4. imbalan yang wajar dan adil serta pembayaran tunai (utang yang dijamin)

    lainnya.28

    Perlindungan yang wajar oleh kurator tersebut harus diberikan asalkan

    barang tersebut berada di dalam kekuasaan kurator, diberikan dalam dua hal sebagai

    berikut:

    1. Apabila hakim pengawas menolak untuk mengangkat atau mengubah persyaratan

    penangguhan;

    2. Apabila kurator ingin menggunakan atau menjual jaminan utang untuk

    kelangsungan usaha debitor.29

    Harta pailit yang dijual oleh kurator terbatas pada barang persediaan

    (inventory) dan/atau benda bergerak (current assets), meskipun harta pailit tersebut

    dibebani dengan hak agunan atas kebendaan.30

    Menurut pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, jangka waktu

    penangguhan hak kreditor separatis untuk mengeksekusi sendiri jaminan utang

    debitor berakhir demi hukum pada saat kepailitan diakhiri lebih cepat atau pada saat

    dimulainya keadaan insolvensi (pemberesan) sebagaimana diatur dalam pasal 178

    ayat (1) Undang-Undang Kepailitan jika dalam rapat pencocokan piutang tidak

    ditawarkan rencana perdamaian, rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima,

    atau pengesahan perdamaian ditolak berdasarkan putusan yang telah memperoleh

    27

    ibid, hlm. 118. 28

    Ibid. 29

    Ibid, hlm. 122. 30

    Ibid, hlm. 118

  • kekuatan hukum tetap, demi hukum harta pailit berada dalam keadaan insolvensi.31

    Kreditor separatis atau pihak ketiga yang haknya ditangguhkan, berdasarkan

    pasal 57 ayat (2) sampai dengan ayat (6) Undang-Undang Kepailitan, dapat

    mengajukan permohonan kepada kurator untuk mengangkat penangguhan atau

    mengubah syarat penangguhan tersebut. Apabila kurator menolak permohonan

    tersebut, maka kreditor dapat mengajukan permohonan kepada hakim pengawas.

    Dalam waktu paling lambat 1 (satu) hari setelah permohonan diterima, hakim

    pengawas berkewajiban memerintahkan kurator untuk memanggil kreditor guna

    didengar alasannya pada sidang pemeriksaan atas permohonan tersebut. Hakim

    pengawas wajib memberikan penetapan hasil permohonan setelah 10 (sepuluh) hari

    permohonan tersebut diterima. Dalam memutuskan permohonan tersebut, hakim

    pengawas mempertimbangkan:

    1. lamanya jangka waktu penangguhan yang sudah berlangsung;

    2. perlindungan kepentingan kreditor dan pihak ketiga dimaksud;

    3. kemungkinan terjadinya perdamaian; dan

    4. dampak penangguhan tersebut atas kelangsungan usaha dan manajemen usaha

    debitor serta pemberesan harta pailit.32

    Penetapan hakim pengawas atas permohonan tersebut, berdasarkan pasal 58

    Undang-Undang Kepailitan, dapat berupa diangkatnya penangguhan untuk satu atau

    lebih kurator, dan/atau menetapkan persyaratan tentang lamanya waktu penangguhan,

    dan/atau tentang satu atau beberapa agunan yang dapat dieksekusi oleh kreditor

    separatis.33

    Apabila hakim pengawas menolak maka hakim wajib memerintahkan agar

    kurator memberikan perlindungan yang dianggap wajar untuk melindungi

    kepentingan pemohon. Terhadap penetapan hakim pengawas, pihak yang

    mengajukan permohonan dapat mengajukan perlawanan kepada Pengadilan Niaga.

    Terhadap putusan pengadilan tentang pengabulan atau penolakan perlawanan

    tersebut tidak dapat diajukan upaya hukum apapun, termasuk Peninjauan Kembali.34

    31

    Ibid. 32

    Ibid, hlm. 119. 33

    Ibid. 34

    Ibid, hlm. 120.

  • G. PROSES ATAS EKSEKUSI KREDITOR SEPARATIS

    Dengan tetap memperhatikan pasal 56, pasal 57, dan pasal 58

    Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan

    Kewajiban Pembayaran Utang, kreditor separatis harus melaksanakan haknya untuk

    mengeksekusi sendiri jaminan utang debitor berdasarkan pasal 59 Undang-Undang

    Kepailitan dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah dimulainya

    keadaan insolvensi (pemberesan) sebagaimana dimaksud dalam pasal 178 ayat (1)

    Undang-Undang Kepailitan.35

    Setelah lewat jangka waktu tersebut, kurator harus menuntut diserahkannya

    benda yang menjadi jaminan untuk selanjutnya dijual sesuai dengan cara

    sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 Undang-Undang Kepailitan, tanpa

    mengurangi hak kreditor separatis atas hasil penjualan jaminan tersebut. Selanjutnya,

    setiap waktu kurator dapat membebaskan benda yang menjadi jaminan dengan

    membayar jumlah terkecil antara harga pasar benda jaminan dan jumlah utang yang

    dijamin dengan benda jaminan tersebut kepada kreditor separatis yang bersangkutan.

    Jumlah terkecil adalah jumlah terkecil antara harga pasar benda jaminan

    dibandingkan dengan besarnya jumlah utang yang dijamin dengan benda jaminan.36

    Sesuai dengan pasal 60 Undang-Undang Kepailitan, kreditor separatis yang

    melaksanakan haknya, wajib memberikan pertanggungjawaban kepada kurator

    tentang hasil penjualan benda yang menjadi jaminan dan menyerahkan sisa hasil

    penjualan setelah dikurangi jumlah utang, bunga, dan biaya kepada kurator. Atas

    tuntutan kurator atau kreditor yang diistimewakan yang tingkatannya di atas tingkat

    kreditor separatis, vide pasal 1134 ayat (2) KUHPerdata, maka kreditor separatis

    wajib menyerahkan hasil penjualan harta jaminan utang tersebut untuk jumlah sama

    dengan piutang yang diistimewakan tersebut. Dalam hasil penjualan, jaminan utang

    debitor pailit tidak mencukupi untuk melunasi utang yang bersangkutan, maka

    berdasarkan pasal 60 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan, kreditor separatis dapat

    mengajukan tagihan pelunasan atas kekurangan tersebut dari harta pailit sebagai

    35

    Ibid. 36

    Analisa Y. Ibid, hlm 120.

  • kreditor konkuren, setelah mengajukan permintaan pencocokan piutang.37

    Dalam masa kepailitan, kewenangan kreditor separatis untuk mengeksekusi

    atau menjual harta jaminan utang, yakni dalam masa:

    1. Sebelum jatuhnya putusan pailit (kecuali dilakukan sita jaminan);

    2. Setelah berakhirnya stay (penangguhan eksekusi) sampai dengan insolvensi

    (pemberesan);

    3. Selama 2 (dua) bulan sejak insolvensi.38

    H. PELAKSANAAN EKSEKUSI JAMINAN UTANG

    Pihak yang berwenang untuk mengeksekusi jaminan hutang bisa kreditor

    separatis sendiri dan bisa juga pihak kurator. Hak ini bergantung pada hubungan

    asset dengan kreditor (dijaminkan atau tidak) dengan bergantung pada waktu kapan

    eksekusi dilaksanakan.39

    Cara penjualan asset pada prinsipnya dilakukan dengan mengajukan lelang di

    kantor lelang, sesuai dengan pasal 185 ayat (1) Undang-Undang kepailitan semua

    benda harus dijual di muka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam

    peraturan perundang-undangan.

    Akan tetapi, penjualan harta pailit dapat juga dilakukan secara di bawah

    tangan dengan syarat untuk perbuatan tersebut telah mendapatkan izin dari hakim

    pengawas, sesuai dengan pasal 185 ayat (2) Undang-Undang kepailitan dalam hal

    penjualan di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai maka

    penjualan di bawah tangan dapat dilakukan dengan izin hakim pengawas.

    Hal ini tentunya dilakukan oleh kurator apabila kurator yakin bahwa

    penjualan dengan cara di bawah tangan atau penjualan langsung (tanpa campur

    tangan kantor lelang) akan menghasilkan yang lebih baik antara lain karena dapat

    menghemat biaya lelang.40

    37

    Ibid. 38

    Ibid, hlm. 121. 39

    Ibid, hlm. 122. 40

    Ibid.

  • Kurator adalah Balai Harta peninggalan atau orang perorangan yang diangkat

    oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitur pailit di bawah

    pengawasan hakim pengawas sesuai dengan undang-undang ini. Pengadilan adalah

    Pengadilan Niaga dalam Lingkungan peradilan umum. Hakim pengawas adalah

    hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan penundaan

    kewajiban pembayaran utang.41

    Pengadilan Niaga merupakan bagian khusus dari Undang-Undang kepailitan,

    yaitu pengadilan yang khusus memeriksa dan memutuskan perkara- perkara di

    bidang perniagaan dan pemeriksaan perkara kepailitan. Perkara kepailitan diperiksa

    oleh hakim majelis, baik untuk tingkat pertama maupun untutk tingkat kasasi.

    Hakim pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh hakim pengadilan niaga

    untuk mengawasi pelaksanaan pemberesan harta pailit.

    Sedangkan untuk Permohonan pernyataan pailit, pihak-pihak yang dapat

    mengajukan permohonan pernyataan pailit antara lain sebagai berikut:42

    a. Permohonan Kepailitan oleh Debitur

    Undang-Undang memungkinkan seseorang debitur untuk mengajukan

    permohonan pernyataan pailit atas dirinya sendiri, jika debitur masih terikat

    dalam pernikahan yang sah, permohonan hanya dapat diajukan atas

    persetujuan suami atau isteri yang menjadi pasangannya.

    b. Permohonan Kepailitan oleh Kreditur

    41

    Man S. Sastrawidjaja, 2006, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang, Bandung: Alumni, hal. 141 42

    Jono, Op.cit, hlm: 12-13. Lihat juga Munir Fuady, 2005, Hukum Pailit: Dalam Teori dan

    Praktek, Bandung: Citra Aditya Bakti, hal.35

  • Sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 UUK PKPU, kreditur yang dapat mengajukan

    permohonan pernyataan pailit terhadap debiturnya adalah kreditur konkuren,

    kreditur preferen ataupun kreditur separatis.

    c. Permohonan Kepailitan oleh Kejaksaan

    Permohonan pailit terhadap debitur juga dapat diajukan oleh kejaksaan demi

    kepentingan umum yaitu kepentingan bangsa dan negara dan/atau

    kepentingan masyarakat luas.

    d. Permohonan Kepailitan oleh Bank Indonesia

    Permohonan pernyataan pailit terhadap bank hanya dapat diajukan oleh Bank

    Indonesia berdasarkan penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan

    secara keseluruhan.

    e. Permohonan Kepailitan oleh Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam

    Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan efek, bursa efek, lembaga

    kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, hanya

    dapat diajukan oleh Bapepam.

    f. Permohonan Kepailitan oleh Menteri Keuangan

    Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan asuransi, perusahaan

    reasuransi, dana pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

    bergerak di bidang kepentingan public hanya dapat diajukan oleh Menteri

    Keuangan, dengan maksud untuk membangun tingkat kepercayaan

    masyarakat terhadap usaha-usaha tersebut. Kewenangan ini yang hanya

    diberikan kepada menteri keuangan, didasarkan pengalaman sebelumnya,

  • yaitu banyak perusahaan asuransi yang dimintakan pailit oleh kreditur secara

    pribadi.

    1. Proses Kepailitan

    Banyak hal baru mengenai prosedur kepailitan dalam UUK PKPU, salah satunya

    adalah diberikannya time frame untuk jangka waktu yang relative singkat dan

    terperinci untuk setiap langkah dalam mata rantai proses permohonan kepailitan.

    Tata cara permohonan keputusan pernyataan apailit sampai dengan peilitnya debitor

    ditempuh dengan suatu time frame yang singkat. Akan tetapi setelah putusan, proses

    kepailitan dan pemberesannya boleh dikatakan tidak memiliki batas waktu

    maksimum.

    Berikut dijelaskan prosedur pelaksanaan kepailitan sebagaimana yang ditetapkan

    oleh undang-undang:

    a. Permohonan pernyataan pailit dan pendaftarannya kepada pengadilan melalui

    panitera pengadilan negeri, vide Pasal 6 ayat (1) dan (2).

    b. Panitera menyampaikan permohonan persyaratan pailit kepada ketua

    pengadilan negeri (2 hari setelah pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (4).

    c. Pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hasil siding (3 hari

    setelah pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (5).

    d. Pemanggilan siding (7 hari sebelum siding pertama), vide Pasal 8 ayat (2).

    e. Sidang dilaksanakan (20 hari sejak pendaftaran), vide pasal 6 ayat (6).

    f. Sidang dapat ditunda jika memenuhi persyaratan (25 hari setelah

    pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (7).

  • g. Putusan permohonan pailit (60 hari setelah didaftarkan), vide Pasal 8 ayat

    (5).

    h. Penyampaian salinan putusan kepada pihak yang berkepentingan (3 hari

    setelah utusan), vide Pasal 9.

    i. Pengajuan dan pendaftaran permohonan kasasi dan memori kasasi kepada

    panitera pengadilan negeri, vide Pasal 11 ayat (2) juncto Pasal 12 ayat (1).

    j. Paniter pengadilan negeri mengirimkan permohonan kasasi dan memori

    kasasi kepada pihak terkasasi (2 hari setelah pendaftaran permohonan

    kasasi), vide Pasal 12 ayat (2).

    k. Pihak terkasasi menyampaikan kontra memori kasasi kepada pihak panitera

    pengadilan negeri (7 hari sejak pihak terkasasi menerima dokumen kasasi).

    l. Panitera pengadilan negeri menyampaikan kontra memori kasasi kepada

    pemohon kasasi (2 hari setelah kontra memori kasasi diterima), vide Pasal 12

    ayat (3).

    m. Panitera pengadilan negeri menyampaikan berkas kasasi kepada Mahkamah

    Agung (14 hari) setelah pendaftrana permohonan kasasi), vide Pasal 13.

    n. Mahkamah Agung memperlajari dan menetapkan hari sidang untuk kasasi (2

    hari setelah permohonan kasasi diterima Mahkamah Agung), vide Pasal 13

    ayat (1).

    o. Sidang pemeriksaan permohonan kasasi (20 hari setelah tanggal permohonan

    kasasi diterima oleh Mahkamah Agung), vide Pasal 13 ayat (2).

    p. Putusan kasasi (60 hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah

    Agung), vide Pasal 13 ayat (3).

  • q. Penyampaian putusan kasasi oleh panitera Mahkamah Agung kepada

    panitera pengadilan negeri (3 hari setelah putusan kasasi diucapkan), vide

    Pasal 13 ayat (6).

    r. Juru sita pengadilan negeri menyampaikan salinan putusan kasasi kepada

    pemohon, termohon kasasi, curator dan hakim pengawas (2 hari setelah

    putusan kasasi diterima), vide Pasal 13 ayat (7).

    s. Pengajuan peninjuan kembali dan pendaftarannya beserta bukti pendukung

    ke panitera pengadilan negeri dan pengajuan salinan permohonan peninjauan

    kembali dan salinan bukti pendukung keada termohon peninjauan kembali

    (30 hari setelah putusan berkekuatan hokum tetap dangan alasan dalam Pasal

    295 ayat (2b) atau 180 hari setelah tanggal berkekuatan hokum tetap dengan

    alasan dalam Pasal 295 ayat (2a)), vide Pasal 295 ayat (1) dan (2) juncto

    Pasal 297 ayat (1).

    t. Penyampaian permohonan peninjauan kembalo kepada panitera mahkamah

    agung (2 hari setelah pendaftaran permohonan peninjauan kembali), vide

    Pasal 296 ayat (5),

    u. Penyampaian salinan permohonan peninjauan kembali berikut bukti

    pendukung oleh panitera pengadilan negeri kepada pemohon peninjauan

    kembali, vide Pasal 297 ayat (2).

    v. Pengajuan jawaban terhadap permohonan peninjauan kembali oleh termohon

    peninjauan kembali (10 hari setelah pendaftaran permohonan peninjauan

    kembali), vide Pasal 297 ayat (3).

  • w. Penyampaian jawaban termohon peninjauan kembali kepada panitera

    Mahkamah Agung oleh Panitera pengadilan negeri (12 hari setelah

    pendaftaran jawaban), vide Pasal 297 ayat (4).

    x. Pemeriksaan dan pmeberian keputusan Mahkamah Agung terhadap

    peninjauan kembali (30 hari setelah permohonan peninjauan kembali

    diterima panitera Mahkamah Agung), vide Pasal 298 ayat (1).

    y. Penyampaian salinan putusan peninjauan kembali oleh Mahkamah Agung

    kepada para pihak (32 hari setelah permohonan peninjauan kembali diterima

    panitera Mahkamah Agung), vide Pasal 298 ayat (3).

    2. Akibat Hukum Kepailitan

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dengan pailitnya debitor,

    banyak akibat yuridis yang muncul oleh undang-undang. Akibat kepailitan tersebut

    antara lain sebagai berikut:

    a. Akibat hukum terhadap diri pribadi debitor

    Sejak saat keputusan pernyataan pailit oleh hakim pengadilan niaga, maka

    debitor kehilangan hak menguasai dan mengurusi harta kekayaannya. Namun

    debitor tidak serta merta kehilangan hak milik atas benda yang telah

    dinyatakan sebagai harta pailit. Hak mengurusi dan menguasai harta beralih

    kepada kurator sebagai subjek yang ditunjuk oleh pengadilan. (Pasal 24 UUK

    PKPU).

    b. Akibat hukum terhadap harta kekayaan debitor

  • Terhadap harta kekayaan debitor diletakkan sita umum untuk seluruhnya

    baik yang tergolong sebagai benda bergerak, benda tidak bergerak, benda

    berwujud dan benda tidak berwujud, benda yang ada maupun benda yang

    akan ada. Harta tersebut berada dalam kekuasaan curator. Hal ini

    dikarenakan debitor pailit tidak mampu membayar hutang, sehingga debitor

    dicabut haknya oleh undang-undang karena dianggap tidak cakap

    (onbevoeg).

    Menurut Pasal 22 UUK PKPU, terdapat pengecualian. Hal ini ditujukan

    untuk memberikan jaminan hidup sehari-hari dan untuk melindungi hak asasi

    debitor pailit, maka kepailitannya tidak berakibat terhadap:

    1) Benda, termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan oleh debitor

    pailit sehubungan dengan pekerjaannya berikut perlengkapannya.

    2) Alat-alat medis yang dipergunakan untuk kesehatan debitor pailit.

    3) Tempat tidur dan perlengkapannya serta bahan makanan untuk 30 hari

    bagi debitor pailit dan keluarganya.

    4) Segala sesuatu yang diperoleh debitor pailit dari pekerjaannya. Seperti

    upah, uang pension dan uang tunjangan.

    5) Uang yang diberikan kepada debitor pailit untuk memenuhi nafkah

    menurut undang-undang.

    c. Akibat hukum terhadap perjanjian debitor

    Semua perjanjian pengalihan hak atas tanah, balik nama kapal, pembebanan

    hak tanggungan, hipotek, atau jaminan fidusia yang telah diperjanjikan

    terlebih dahulu, tidak dapat dilaksanakan. Apabila ada perjanjian penyerahan

  • benda dagangan dengan suatu jangka waktu tertentu, dan pihak yang

    menyerahkan dinyatakan pailit, maka perjanjian penyerahannya haus.

    Perjanjian sewa-menyewa yang dilakukan oleh debitor dapat dihentikan

    Kurator maupun yang menyewakan benda. Dan Pekerja pada debitor pailit

    juga dapat memutuskan hubungan kerjanya

    3. Berakhirnya Kepailitan

    Ada beberapa macam cara berkahirnya suatu kepailitan, yaitu sebagai

    berikut:

    a. Tercapainya Perdamaian

    Dalam hal dicapainya perdamaian antara kreditor dan debitor berarti telah

    ada keseakatan di antara para pihak tentang cara penyelesaian/ pembagian

    harta pailit, namun persetujuan rencana perdamaian tersebut perlu disahkan

    oleh Pengadilan Niaga dalam siding Homologasi. Apabila pengadilan niaga

    menolak pengesahan perdamaian karena alasan yang disebutkan dalam

    undang-undang, maka pihak-pihak yang keberatan dapat mengajukan kasasi.

    Setelah putusan perdamaian diterima dan mempunyai kekuatan hokum yang

    tetap, maka proses kepailitan berakhir, (vide Pasal 166 UUK PKPU).

    b. Kepailitan berakhir setelah Insolvensi

    Dari ketentuan Pasal 56 ayat (1), Pasal 57 ayat (1) juncto Pasal 179 ayat (1),

    dapat disimpulkan bahwa ekseskusi terhadap harta pailit dapat dilakasanakan

    lebih cepat dengan terjadinya keadaan insolvensi. Insolvensi terjadi (demi

    hukum) jika tidak terjadi perdamaian dan debitor dalam keadaan tidak

  • mampu untuk membayar. Untuk memperjelas proses kepailitan mulai dari

    jatuhnya putusan pailit tingkat pertama, penangguhan sampai dilakukannya

    proses rehabilitasi.

    c. Kepailitan dicabut atas anjuran hakim pengawas

    Kepailitan dicabut atas anjuran hakim pengawas dengan mempertimbangkan

    kepada keadaan harta pailit, dan bila ada panitia kreditor setelah mendengar

    panitia kreditor tersebut atau setelah mendengar dan memanggil debitor pailit

    itu dengan sah. Pencabutan dapat dikarenakan alasan bahwa harta pailit tidak

    cukup untuk membayar biaya kepailitan, vide pasal 18 ayat (1).

    d. Kepailitan berakhir jika putusan pailit dibatalkan di tingkat kasasi atau

    peninjauan kembali.

    Putusan pailit oleh Pengadilan niaga (tingkat pertama) berlaku serta merta

    (Pasal 8 ayat (5)). Dengan demikian sejak saat putusan pailit diucapkan status

    debitor sudah dalam keadaan pailit, akan tetapi jika dalam tingkat kasasi atau

    peninjauan kembali putusan pailit tersebut ditolak, maka status kepailitan

    debitor berakhir. Akan tetapi jika pailit bagi debitor telah berakhir dengan

    cara seperti ini, tetap sah segala perbuatan yang telah dilakukan curator

    sebelumnya sebelum curator menerima pemberitahuan tentang putusan

    pembatalan dari Mahkamah Agung (Pasal 16 UUK PKPU).

  • BAB TENTANG

    KURATOR

    Menurut UU No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang (UU PKPU), Kurator adalah profesional yang diangkat oleh

    Pengadilan Niaga untuk melakukan pengurusan dan pemberesan.43

    Maksud

    pengurusan di sini yaitu mencatat, menemukan, mempertahankan nilai,

    mengamankan, dan membereskan harta dengan cara dijual melalui lelang.

    Menghitung aset perusahaan pailit adalah salah satu tugas Kurator. Untuk itu,

    Kurator harus memahami betul cara membaca laporan keuangan perusahaan agar bisa

    mendapatkan informasi tentang harta yang menjadi kewenangannya tersebut.

    Dalam menjalankan profesinya, kurator atau pengurus harus senantiasa

    mengindahkan, mematuhi dan menjalankan Standar Profesi ini. Standar Profesi ini

    memuat ketentuan-ketentuan umum yang bertujuan untuk menjadi pedoman dalam

    menjamin kualitas dan profesionalisme pekerjaan kurator atau pengurus dan arahan

    atau pedoman bagi AKPI untuk mengawasi serta menilai hasil pekerjaan yang telah

    dilakukan kurator atau pengurus. Setiap pelanggaran kurator atau pengurus terhadap

    Standar Profesi ini akan ditindak berdasarkan ketentuan dalam Kode Etik.44

    Standar Profesi ini terbatas pada aspek profesionalitas dari profesi kurator atau

    pengurus, yang berdiri sendiri dan terpisah dari tanggung jawab kurator atau

    pengurus yang timbul berdasarkan UU Kepailitan atau peraturan perundangan

    lainnya.45

    a. Standard Umum

    1. Obyektifitas, Independensi

    Kurator dan pengurus harus independen, tidak memiliki benturan

    kepentingan dengan debitur atau kreditur dan bertindak obyektif.

    1.1. Keberadaan dan kelangsungan profesi kurator atau pengurus

    bergantung sepenuhnya pada kepercayaan masyarakat pada

    43

    Pasal 70 Ayat 2 UU No 37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan

    kewajiban pembayaran 44

    Http://www.Slideshare.Net/zulkifliaschool/7_Kurator 45

    Http:// Krediturpailit.Wordpress.com/Standar_Kurator_Pengurus_Indonesia

  • obyektifitas dan independensi profesi kurator atau pengurus.

    Kepercayaan masyarakat atas kredibilitas profesi kurator atau

    pengurus akan menurun, atau bahkan hilang, jika terbukti atau

    secara wajar patut diduga bahwa kurator atau pengurus telah

    kehilangan obyektifitasnya serta independensinya.

    1.2. Untuk memelihara obyektifitas dan independennya, dalam

    bertindak kurator atau pengurus harus bebas dari pengaruh

    siapapun dan apapun serta tidak memiliki benturan kepentingan

    dengan pihak manapun yang terlibat dalam kepailitan atau

    penundaan pembayaran.

    1.3. Kurator atau pengurus dilarang untuk menggunakan atau

    memanfaatkan penugasannya untuk kepentingan ekonomis atau

    keuntungan lainnya bagi pribadinya (atau imbalan jasanya sebagai

    kurator dan pengurus) atau pihak Terafiliasi.46

    2. Benturan Kepentingan

    Kurator atau pengurus hanya dapat menjalankan tugasnya jika pada

    setiap waktu ia tidak memiliki benturan kepentingan dalam penugasan

    tersebut.47

    3. Kecermatan dan Keseksamaan

    3.1. Sebagai seorang profesional, kurator dan pengurus memikul

    tanggung jawab untuk mempertahankan tingkat kepercayaan

    publik terhadap kualitas jasa profesi yang diberikan oleh profesi

    kurator dan pengurus. Untuk itu kurator dan pengurus wajib

    mengartikulasikan keahlian profesionalnya secara cermat dan

    seksama dengan memperhatikan sepenuhnya UU Kepailitan dan

    peraturan pelaksananya serta Standar Profesi ini.

    3.2. Yang dimaksud dengan kecermatan dan keseksamaan

    menyangkut segala sesuatu yang dikerjakan oleh kurator dan

    pengurus dalam melaksanakan penugasan di lapangan maupun

    46

    Ibid 47

    Http://hernathesis.multiply.com/reviews/item/24?&show.interstitial=I&u=%2Freviews%Fite

    m

  • dalam memberikan laporan mengenai hasil penugasannya

    tersebut. Kurator dan pengurus harus secara kritis mencermati

    bahwa setiap langkah yang diambil dalam rangka pelaksanaan

    penugasannya memiliki dasar yang kuat sesuai dengan UU

    Kepailitan dan peraturan pelaksananya serta telah menempuh

    prasedur Standar Poafesi ini, begitu juga dalam hal penyajian

    laporannya.48

    4. Kerahasiaan, Transparansi

    Kurator bertindak secara transparan di hadapan para pihak yang terlibat

    dalam penugasannya.

    4.1. Pada dasarnya Kurator wajib bertindak secara transparan di

    hadapan para pihak yang terlibat dalam penugasannya. Kurator

    juga wajib memberikan informasi material secara seimbang

    kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses kepailitan.

    4.2. Terlepas dari kewajiban transparansi tersebut, pada beberapa

    masalah tertentu yang tidak tisebut secara eksplisit oleh

    Undang-undang maka Kurator tetap wajib mempertahankan

    kerahasiaan hal-hal yang berkaitan dengan penugasannya. Kecuali

    untuk alasan tersebut di bawah ini, tanpa persetujuan terlebih

    dahulu dari debitur. Kurator atau pengurus tidak diperbolehkan

    untuk menunjukkan dan/atau menyampaikan kepada pihak ketiga

    manapun setiap informasi yang bersifat rahasia yang

    diperolehnyadalam rangka pelaksanaan tugasnya sebagai kurator

    atau pengurus. Kewajiban menjaga kerahasiaan ini dapat

    dikecualikan dalam hal informasi tersebut:

    a. Merupakan atau telah menjadi informasi yang tersedia bagi

    publik yang bukan merupakan akibat dari pelanggaran atas

    ketentuan kerahasiaan ini;

    b. Diterima dari pihak ketiga yang tidak terikat kewajiban

    kerahasiaan atas informasi tersebut;

    48

    Http://Krediturpailit.wordpress.com/Standar_kurator_pengurus_Indonesia/

  • c. Berdasarkan hukum atau untuk keputusan pengadilan dan/atau

    badan arbitrase yang berwenang, mengharuskan kurator atau

    pengurus untuk memberikan informasi tersebut; atau

    d. Dokumen dan informasi yang wajib cliberikan kurator dan

    pengurus, dokumen dan informasi mana berdasarkan UU

    Kepailitan dinyatakan terbuka untuk umum.

    4.3. Kurator atau pengurus dilarang menggunakan informasi tersebut

    untuk keperluan apapun, kecuali untuk menjalankan tugasnya

    dalam kerangka suatu perkara kepailitan atau PKPU sebagai

    kurator dan pengurus. Jika memerlukan informasi tersebut untuk

    penugasannya yang lain, maka kurator atau pengurus hanya dapat

    menggunakannya dengan persetujuan terlebih dahulu dari Hakim

    Pengawas dari perkara terdahulu.

    5. Syarat Keahlian dan Pendidikan Berkelanjutan

    Pengurus dan pemberesan harta pailit serta pengurusan harta debitur

    harus dilaksanakan oleh kurator dan pengurus yang memiliki keahlian

    khusus yang diperlukan untuk itu.

    6. Pendidikan dan Sertifikasi

    6.1. Sebagai suatu lernbaga yang rnengatur atau profesi itu sendiri

    (Self Regulating Organization) AKPI harus rnernastikan bahwa

    anggotanya, kurator dan pengurus, dapat rnelaksanakan tugasnya

    dengan berkualitas dan profesiona1. Hal ini sangat rnenentukan

    tingkat kepercayaan publik pada profesi kurator dan pengurus.

    Untuk itu, AKPI rnenentukan syarat-syarat keahlian yang harus

    dirniliki kurator dan pengurus. Derni rnernastikan pernenuhan

    syarat keahlian, AKPI rnencanangkan kurikulum pendidikan

    untuk keahlian khusus tersebut yang harus dijalani oleh kurator

    dan pengurus serta rnengadakan sertifikasi pemenuhan keahlian

    tersebut.

    6.2. Pendidikan keahlian khusus bagi kurator danpengurus terdiri dari

    pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan. Pendidikan dasar dan

  • ujian sertifikasi kelulusannya menandakan kecukupan keahlian

    khusus yang rnendasar untuk memulai profesi sebagai kurator

    dan pengurus.

    6.3. Sesuai dengan perkernbangan dunia usaha pada urnurnnya, dan

    UU Kepailitan dan pelaksanaannya pada khususnya, serta sesuai

    dengan kebutuhan anggotanya, AKPI rnenentukan kurikulum

    pendidikan lanjutan dari waktu ke waktu beserta mekanisme

    pernenuhannya. Kurator dan pengurus wajib mengikuti

    pendidikan lanjutan tersebut yang diadakan oleh AKPI atau pihak

    lain yang diakreditasi oleh AKPI.

    7. Kualifikasi, Kompetensi

    Kurator dan pengurus wajib menilai secara jujur kemampuan dan

    kapasitas/kualifikasi dirinya sendiri. Seiring dengan perkembangan

    dunia usaha, terdapat bidang usaha atau jenis pekerjaan yang cukup

    kompleks dan sangat spesifik bidangnya. Kurator dan pengurus wajib

    secara jujur menentukan apakah ia memiliki kemampuan dan

    kualifikasi atau kompetensi dalam bidang atau pekerjaan tersebut.

    Jika kurator dan pengurus menilai dirinya kurang atau tidak memiliki

    kemampuan atau kualifikasi atau kompetensi, maka ia wajib meminta

    dan mendapatkan bantuan dari pihak lain yang memiliki kualifikasi

    atau kompetensi dalam bidang tersebut.

    8. Penegakkan Standar Profesi

    Setiap pelanggaran Standar Profesi ini akan diperiksa dan diputus

    oleh Dewan Kehormatan Profesi sesuai dengan ketentuan dan

    prosedur sebagaimana dimaksud dalam Kode Etik dan Standar Profesi

    AKPI.49

    A. Kedudukan, Wewenang, dan Tanggung Jawab Hukum Kurator dalam

    menangani perusahaan yang mengalami kepailitan.

    49

    Ibid

  • Putusan pernyataan pailit yang berkaitan dengan undang-undang No. 37

    Tahun 2004 diputuskan oleh pengadilan di daerah tempat kedudukan hukum

    debitor. Jika debitor telah meninggalkan wilayah RI, pengadilan yang

    berwenang menjatuhkan putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah

    pengadilan di daerah tempat kedudukan hukum terakhir debitor.50

    Jadi

    pengadilan yang berhak adalah pengadilan niaga dalam lingkungan peradilan

    umum.

    Putusan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan dalam sidang

    terbuka untuk umum dan dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun terhadap

    putusan diajukan suatu upaya hukum.51

    Selama putusan atas permohonan pernyataan pailit belum

    ditetapkan/diucapkan setiap kreditor, kejaksaan, BI, BPPM, atau menteri

    keuangan dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk:

    1. Meletakkan sita jaminan terhadap sebagian/seluruh kekayaan debitor.

    2. Menunjuk kurator sementara untuk mengawasi pengelolaan usaha debitor

    dan pembubaran kepada kreditor, pengalihan atau penggunaan kekayaan

    debitor dalam kepailitan merupakan wewenang kurator.52

    Dengan demikian, dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat kurator

    dan hakim pengawas yang ditunjuk oleh hakim pengadilan niaga yang

    mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh

    kurator.53

    Dalam melakukan tugas kurator maupun pengurus memiliki satu visi

    utama, yaitu mengambil keputusan yang terbaik untuk memaksimalisasikan

    nilai harta pailit.

    Lebih jauh lagi tugas kurator pengurus dapat dilihat pada job description

    dari kurator pengurus, karena setidaknya ada 3 jenis penugasan yang dapat

    diberikan kepada kurator pengurus dalam hal proses kepailitan, yaitu:

    50

    Lihat UU No 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

    Pembayaran Utang 51

    Http://www.Researchgate.Net/Publication/42354187_Peranan_Kurator_Dalam_Pengurusan_

    dan Pemberantasan_Harta Pilit 52

    Http://www.Slideshere.Net/Zulkifliaschool/7_Kurator 53

    Faisal Santiago, Pengantar Hukum Bisnis, Jakarta, Mitra Wacana Media

  • 1. Sebagai Kurator sementara

    a. Kurator sementara ditunjuk dengan tujuan untuk mencegah

    kemungkinan debitur melakukan tindakan yang mungkin dapat

    merugikan hartanya, selama jalannya proses beracara pada pengadilan

    sebelum debitur dinyatakan pailit. Tugas utama kurator sementara adalah

    untuk:

    1. Mengawasi pengelolaan usaha debitur; dan

    2. Mengawasi pembayaran kepada kreditur, pengalihan atau pengagunan

    kekayaan debitur yang dalam rangka kepailitan memerlukan kurator

    (ps.7 UUK).54

    b. Dalam melaksanakan tugasnya, kurator sementara segera berhubungan

    dengan debitur atau pengurusnya untuk meminta data atau informasi yang

    diperlukan, antara lain:

    1. Informasi umum sehubungan dengan tempat, jenis dan skala

    kegiatan usaha debitur;

    2. Informasi umum keadaan keuangan debitur;

    3. Informasi tentang harta debitur, yang setidaknya mencakup

    identifikasi seluruh rekening bank dan harta kekayaan penting atau

    material lain yang dimiliki atau dikuasai oleh debitur;

    4. Informasi tentang kewajiban atau utang debitur, yang setidaknya

    mencakup identitifikasi kreditur yang diketahui dan tagihan-tagihan

    mereka, dasar tagihan mereka serta jadwal atau rencana

    pembayarannya; dan

    5. Informasi lain yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya

    sebagai kurator sementara.55

    Secara umum tugas kurator sementara tidak banyak berbeda dengan

    pengurus, namun karena pertimbangan keterbatasan kewenangan dan

    efektivitas yang ada pada kurator sementara, maka sampai saat ini sedikit

    sekali terjadi penunjukan kurator sementara.

    54

    Http://Gudangmakalah.blogspot.com/2010/11/tesis_independensi_kurator_dalam.Html 55

    Http;//Krediturpailit.wordpress.com/Standar_Kurator_Pengurus_indonesia

  • 2. Sebagai Pengurus

    Pengurus ditunjuk dalam hal adanya Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang (PKPU). Tugas pengurus hanya sebatas menyelenggarakan

    pengadministrasian proses PKPU, seperti misalnya melakukan

    pengumuman, mengundang rapat-rapat kreditur, ditambah dengan

    pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan usaha yang dilakukan oleh

    debitur dengan tujuan agar debitur tidak melakukan hal-hal yang mungkin

    dapat merugikan hartanya.

    Perlu diketahui bahwa dalam PKPU debitur masih memiliki kewenangan

    untuk mengurus hartanya sehingga kewenangan pengurus sebatas hanya

    mengawasi belaka.56

    3. Sebagai Kurator

    Kurator ditunjuk pada saat debitur dinyatakan pailit, sebagai akibat dari

    keadaan pailit, maka debitur kehilangan hak untuk mengurus harta

    kekayaannya, dan oleh karena itu kewenangan pengelolaan harta pailit jatuh

    ke tangan kurator.57

    Tugas-tugas Kurator adalah:

    1. Tugas Kurator adalah melakukan pengurusan dan/atau pemberesan

    harta pailit.

    2. Dalam melaksanakan tugasnya, Kurator:

    a. tidak diharuskan memperoleh persetujuan dari atau menyampaikan

    pemberitahuan terlebih dahulu kepada Debitor atau salah satu organ

    Debitor, meskipun dalam keadaan di luar kepailitan persetujuan atau

    pemberitahuan demikian dipersyaratkan;

    b. dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga, hanya dalam rangka

    meningkatkan nilai harta pailit.

    3. Apabila dalam melakukan pinjaman dari pihak ketiga Kurator perlu

    membebani harta pailit dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,

    hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya maka pinjaman

    56

    Http://Gudangmakalah.blogspot.com/2010/11/tesis_independensi_kurator_dalam.Html 57

    Ibid

  • tersebut harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan Hakim

    Pengawas.

    4. Pembebanan harta pailit dengan gadai, jaminan fidusia, hak

    tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya

    sebagaimana dimaksud pada ayat (3), hanya dapat dilakukan terhadap

    bagian harta pailit yang belum dijadikan jaminan utang.

    5. Untuk menghadap di sidang Pengadilan, Kurator harus terlebih dahulu

    mendapat izin dari Hakim Pengawas, kecuali menyangkut sengketa

    pencocokan piutang atau dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal

    36, Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 59 ayat (3).58

    Selain yang tersebut di atas, Tugas dan Wewenang Kurator juga meliputi:

    1. Melakukan pengurusan dan atau pemberesan harta pailit (Pasal 16 Ayat

    (1) dan Pasal 67 Ayat (1)UUK).

    2. Mengumumkan putusan hakim tentang pernyataan pailit dalam berita

    negara dan surat-surat kabar yang ditetapkan oleh hakim pengawas

    (Pasal 13 Ayat (4) UUK).

    3. Menyelamatkan harta pailit, antara lain menyita barang-barang

    perhiasan, efek-efek, surat-surat berharga serta uang (Pasal 89 Fv) dan

    menyegel harta benda si pailit atas persetujuan Hakim Pengawas (Pasal

    90 UUK).

    4. Menyusun Inventaris harta pailit (Pasal 91 Ayat(1) Fv).

    5. Menyusun daftar hutang dan piutang harta pailit (Pasal 93 Fv).

    6. Berdasarkan persetujuan panitia kreditur, Kurator dapat melanjutkan

    usaha debitur yang dinyatakan pailit (Pasal 95 Ayat (1) UUK).

    7. Kurator berwenang untuk membuka semua surat dan kawat yang

    dialamatkan kepada si pailit (Pasal 96 Ayat (1) Fv), kecuali surat atau

    kawat yang tidak mengenai harta pailit, diserahkan kepada si pailit.

    Kurator menerima pengaduan mengenai si pailit (Pasal 96 Ayat(2) Fv).

    58

    Lihat Pasal 69 UU No 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan penundaan

    kewajiban pembayaran utang

  • 8. Kurator berwenang untuk memberikan sejumlah uang nafkah bagi si

    pailit dengan keluarganya dengan izin hakim pengawas (Pasal 97 Fv).

    9. Atas persetujuan hakim pengawas, kurator dapat memindahtangankan

    (menjual) harta pailit sepanjang diperlukan untuk menutup ongkos

    kepailitan (Pasal 98Fv/UUK).

    10. Menyimpan semua uang, barang-barang perhiasan, efek dan surat

    berharga lainnya, kecuali bila hakim pengawas menetapkan cara

    menyimpan yang lain (Pasal 99 Ayat(1) Fv).

    11. Membungakan uang tunai yang tidak diperlukan untuk mengerjakan

    pengurusan (Pasal 99 Ayat (2) Fv).

    12. Kurator setelah memperoleh nasehat dari panitia kredit komite tersebut

    ada, dan dengan persetujuan hakim pengawas berwenang untuk

    membuat perdamaian atau untuk menyelesaikan perkara secara baik

    (Pasal 100 Fv).

    13. Memanggil debitur untuk memberikan keterangan yang diperlukan oleh

    kurator (Pasal 101 Ayat(1) Fv).

    14. Memberikan salinan surat-surat, yang ditempatkan di kantornya yang

    dapat dilihat cuma-cuma oleh umum, kepada kreditur atas biaya

    kreditur yang bersangkutan (Pasal 103 Fv). 59

    Tanggung Jawab Kurator:

    Pasal 72 UUK, kurator bertanggung jawab terhadap kesalahannya dan

    kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan atau

    pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.60

    Kewajiban Kurator:

    1. Statutory Duties adalah kewajiban yg diatur dlm UU.

    Kewajiban Kurator Yg Diatur Dlm UU adalah:

    a. Wajib hadir dalam Rapat Kreditur & memberitahukan

    penyelenggaraan Rapat Kreditur kepada para kreditur yang dikenal

    59

    Ibid 60

    Ibid

  • dengan surat tercatat, kurir, atau iklan paling sedikit dalam 2 surat

    kabar harian.

    b. Mencocokkan perhitungan piutang yg diserahkan oleh kreditur.

    c. Berunding dengan kreditur jika terdapat keberatan terhadap

    penagihan yang diterima.

    d. Memasukkan piutang yang disetujuinya dalam daftar piutang yang

    sementara diakui & piutang yang dibantah dalam daftar tersendiri.

    e. Menyediakan di Kepaniteraan PN salinan dari masing2 daftar piutang

    tersebut diatas sebelum 7 hari sebelum pencocokan piutang.

    f. Memberitahukan dengan surat tentang adanya salinan daftar piutang

    tersebut kepada kreditur yang dikenal disertai panggilan menghadiri

    rapat pencocokan piutang dengan menyebutkan rencana perdamaian

    jika telah diserahkan oleh debitur pailit.

    g. Wajib memberikan laporan mengenai keadaan harta pailit setelah

    berakhirnya pencocokan piutang.

    h. Wajib melakukan pemberesan bila harta pailit tidak mencukupi dan

    perdamaian yang ditawarkan debitur ditolak.

    2. Fiduciary Duties adalah kewajiban memberikan jaminan/kepercayaan

    kpd: a. Pengadilan b. Para Kreditur c. Debitur d. Pemegang Saham.61

    Dalam Pasal 67C UUK yang mengatur tentang tanggung jawab kurator menyebutkan

    bahwa Kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan

    tugas pengurusan dan atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.

    aPasal 67C UUK, Kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam

    melaksanakan tugas pengurusan dan atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap

    harta pailit. sal 103 Fv).

    61

    Http://www.Slideshere.Net/Zulkifliaschool/7-Kurator

  • BAB TENTANG

    PENGADILAN NIAGA

    A. Pendahuluan

    Perkembangan aktivitas perilaku ekonami atau bisnis, dalam faktanya sering

    dihadapkan pada peristiwa-peristiwa hukum konflik yang membutuhkan

    penyelesaian secara kondusif maupun harus diselesaikan dengan mempergunakan

    lembaga peradilan sebagai sarananya. Gejolak moneter yang terjadi di Indonesia

    sejak pertengahan tahun 1997 telah memberi pengaruh yang tidak menguntungkan

    terhadap kehidupan perekonomian nasional dan menimbulkan kesulitan yang besar

    dikalangan dunia usaha untuk meneruskan kegiatannya termasuk memenuhi

    kewajiban kepada kreditur. Sehubungan dengan kondisi ekonomi moneter yang

    semakin memburuk, untuk menyelesaikan krisis moneter yang mendesak dalam

    rangka menyelesaikan krisis ekonomi, diperlukan peraturan perundang-undangan

    untuk mengantisipasi masalah kepailitan.62

    Apalagi dalam menghadapi era globalisasi, yang ditandai berakhirnya perang

    dingin, peningkatan perang internasional, revolusi teknologi komunikasi, kemajuan

    bidang transportasi, dan meningkatnya kreatifitas perekonomian dengan

    menggunakan komputer dan internet. Lebih dari itu sistem yang berlaku akan

    berubah lebih efisien dan produktif. Peradilan juga akan terkena dampak globalisasi.

    Hal ini diungkapkan Hilario G. Davide Jr. (Chief Justices of the Court of the

    Republic of the Philipines), Globalisasi adalah pergerakan ekonomi dari masa

    62 Faisal Santiago, 2008, Hukum Niaga dan Kepailitan, Jakarta: Cintya Press, hal.43

  • depan. Dunia Global menyodorkan banyak kesempatan untuk mencapai peradilan

    yang independen. Dalam kalimat yang senapas, hal itu juga mengandung jebakan riil

    yang akan mengikis independensi peradilan itu sendiri. 63 Hal ini seolah-olah

    menjadi tuntutan dunia internasional untuk melakukan penyesuaian hukum

    mengikuti perkembangan globalisasi tersebut.

    Banyak negara, khususnya negara berkembang, harus menyesuaikan diri dan

    memperbaharui sistem peradilan mereka, karena desakan kebutuhan internasional,

    yakni masuknya perusahaan-perusahaan asing (multinasional). Kondisi ini

    ditenggarai sebagai salah satu faktor pendorong perbaikan instrument badan

    peradilan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Gejolak moneter pada

    pertengahan tahun 1997 menimbulkan kesulitan besar bagi perekonomian nasional,

    terlebih lagi muncul kondisi sebagai pelaku usaha atau debitor tidak mampu

    memenuhi kewajiban pembayaran utang kepada para lembaga

    pembiayaan/kreditor.64

    Hal ini merupakan akibat ekspansi usaha terjadi.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, pada 22 April 1998 pemerintah menetapkan

    Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 1 tahun 1998

    tentang Perubahan Atas Undang-undang Kepailitan yang kemudian disahkan

    menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan (selanjutnya

    disebut UUK) pada 24 Juli 1998. UUK merupakan penyempurnaan dari

    Failissement Verordening Staatsblad tahun 1905 Nomor 217 jo. Staatsblad tahun

    63http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/

    eksistensi-pengadilan-niaga-dan-perkembangannya dalam era globalisasi, diakses tanggal 20

    Desember 2012.

    64

    Ibid.

  • 1906 No. 384.65

    UUK diharapkan menjadi sarana efektif yang dapat digunakan

    secara cepat sebagai landasan penyelesaian utang-piutang.

    Untuk mengatasi gejolak moneter beserta akibatnya yang berat terhadap

    perekonomian, maka salah satu persoalan yang sangat mendesak dan memerlukan

    pemecahan adalah penyelesaian utang-piutang perusahaan, sehingga dengan adanya

    peraturan kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran dapat digunakan oleh

    para debitur dan kreditur secara adil, cepat, terbuka dan efektif menjadi sangat

    penting selain itu guna untuk mewujudkan mekanisme penyelesaian sengketa secara

    adil, cepat, terbuka dan efektif melalui suatu pengadilan khusus di lingkungan

    Peradilan Umum yang di bentuk dan bertugas menangani, memeriksa, dan

    memutuskan berbagai sengketa tertentu di bidang perniagaan termasuk di bidang

    kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang untuk memberikan

    jaminankepastian hukum bagi terselenggaranya kegiatan usaha dan kehidupan

    perekonomian yang kondusif.66

    Semangat inilah yang kemudian mendorong untuk

    dilakukannya diferensiasi dan restrukturisasi sistem peradilan di Indonesia.

    Salah satu soal penting setelah penyempurnaan aturan kepailitan adalah

    pembentukan Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus dalam lingkungan

    Peradilan Umum. Hal inilah yang menjadi salah satu isu penting setelah UUK

    diundangkan yaitu dibentuknya Pengadilan Niaga (Commercial Court) sebagai

    pengadilan yang memutuskan perkara keoailitan dan penundaan Kewajiban

    65 Ibid, lihat juga Faisal Santiago, Op.cit.,hal.43

    66

    Faisal Santiago,Ibid.,hal.43

  • Pembayaran Utang (PKPU).67

    Pengadilan Niaga yang pertama dibentuk adalah

    Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.68

    Selanjutnya berdasarkan Keppres Nomor 97 tahun 1999, 18 Agustus 1998,

    didirikan Pengadilan Niaga di Makassar, Surabaya, Medan, dan Semarang.

    Pengadilan Niaga sangat diperlukan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa niaga

    secara cepat; juga menyelesaikan aneka masalah kepailitan, seperti masalah

    pembuktian, verifikasi utang, action pauliana, dan lain sebagainya. Di sinilah kadang

    terjadi persimpangan dengan kompetensi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam hal

    pemeriksaan perkara, terutama perkara-perkara yang bersifat perdata. Melalui UUK,

    kewenangan mutlak (kompetensi absolut) Pengadilan Umum untuk memeriksa

    permohonan pailit dialihkan ke Pengadilan Niaga.

    Selain itu Pengadilan Niaga tersebut bukanlah merupakan pengadilan baru

    sebagai tambahan pengadilan yang telah ada seperti dimaksud dalam Pasal 10

    Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

    Kehakiman sebagaimana sudah diubah dengan Ungang-Undang Nomor 35 Tahun

    1999 dan digantikan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 yang meliputi

    Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan PTUN. Penjelasan Pasal

    10 tersebut menyebutkan jyga bahwq perbrdaan dalam empat lingkungan peradilan

    dan tidak menutup kemungkinan adanya pengkhususan dilingkungan Peradilan

    Umum yang diatur dalam Undang-undang. Pengadilan Niaga hanyalah merupakan

    67Pasal 280 ayat (1) UUK 1998 menentukan bahwa: Permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang sebagaimana dimaksud dalam Bab Pertama dan Bab kedua,

    diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan Umum.

    68

    Pasal 281 Perpu No.1 tahun 1998 tentang Kepailitan.

  • bagian dri Peradilan Umum,69

    Pengadilan Niaga hanyalah merupakan chamber dari

    Peradilan Umum, seperti halnya Pengadilan Anak dan Pengadilan Lalu Lintas.70

    Oleh karena Pengadilan Niaga berada di lingkungan Peradilan Umum, maka

    tidak ada jabatan Ketua Pengadilan Niaga, karena Ketua Pengadilan Negeri yang

    bersangkutan juga membawahi Pengadilan niaga.71

    Pengadaan Pengadilan Niaga

    yang Pengaturan hukumnya tidak diwujudkan dalam satu undang-undang tersendiri

    melaikan melalui UU Kepailitan 1998 sebagai dasar hukum dapat pula

    dimungkinkan berdasarkan Ketentuan UU No.2 Tahun 1986 tentang Peradilan

    Umum.72

    Untuk mengembalikan kepercayaan kreditur asing dalam proses penyelesaiaan

    utang-piutang swasta, selain direvisinya FV dan dibentuknya Pengadilan Niaga, juga

    diintrodusir hakim ad hoc untuk dapat menjadi bagian dari majelis hakim yang

    memeriksa suatu perkara di Pengadilan Niaga. Pasal 283 ayat (3) UU Kepailitan

    1998 menyatakan bahwa:73

    Dengan tetap memperhatikan syarat-syrat sebagaimana dimaksud dalam

    ayat (2) hurup b, hurup c dan hurup d, dengan Keputusan Presiden atas usul

    Ketua Mahkamah Agung, pada Pengadilan Niaga di tingkat pertama dapat

    juga diangkat seorang yang ahli sebagai hakim ad hoc.

    69Lihat Pasal 280 ayat (1) UUK 1998, disebutkan juga dalam Pasal 15 jo Pasal 10 UU Nomor 14

    Tahun 1970 jo UU No.4 Tahun 2004 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehakiman yang

    menentukan bahwa: Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 yang diatur dengan undang-undang. 70

    Sutan Remy Sjahdeini, 2004, Hukum Kepailitan, Jakarta: PT. Kreatama, hal.147

    71

    Ibid.

    72

    Pasal 8 UU No.2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum menentukan bahwa: Di lingkungan Peradilan Umum dapat diadakan pengkhususan yang diatur dengan Undang-Undang. Sedangkan dalam Penjelasan Pasal 8 UU tersebut mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan diadakan pengkhususan ialah adanya diferensiasi/spesialisasi di lingkungan Peradilan Umum, misalnya Pengadilan Lalu Lintas, Pengadilan Anak, Pengadilan Ekonomi.

    73

    Lihat Pasal 283 ayat (3) UU Kepailitan 1998

  • Jadi, berdasarkan usulan dari Ketua Mahkamah Agung melalui Keppres maka di

    Pengadilan Niaga diangkat seorang yang ahli sebagai hakim ad hoc. Tentunya,

    beberapa persyaratan yang sama dengan hakim niaga (hakim karir) seperti

    mempunyai kemampuan pengatahuan di bidang masalah yang menjadi lingkup

    kewenangan Pengadilan Niaga, dan persyaratan lain, harus tetap dipenuhi.

    Ide awal keterlibatan hakim ad hoc tersebut didasarkan pada penilaian atau

    asumsi beberapa pihak bahwa pengetahuan hakim karir cenderung bersifat umum

    (generalis) sehingga dalam menyelesaikan perkara-perkara pada lingkup niaga

    diperlukan hakim dengan keahlian khusus, di luar dari hakim karir yang juga telah

    melalui tahapan pendidikan untuk menjadikan hakim niaga.74

    Berdasarkan latar belakang sebagaimana yang telah diuraikan tersebut diatas,

    maka dapat diidentifikasibeberapa permasalahan hukum yang perlu dianalisasiterkait

    dengan dibentuknya pengadilan niaga di lingkungan pengadilan niaga guna

    menyelesaikan sengketa kepailitan ini. Dengan kata lain permasalahan hukum

    tersebut mencakup 2 (dua) hal yaitu: 1. Bagaimana posisi dan kedudukan pengadilan

    niaga sebagaimana diferensiasi dalam lingkungan peradilan umum?; 2. Bagaimana

    pula kedudukan dan fungsi hakim ad hoc dalam pengadilan niaga tersebut?.

    B. Pengadilan Niaga Seebagai Lembaga Penyelesaian Sengketa Kepailitan dan

    Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

    74http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/kedudukan-dan-fungsi-hakim-ad-hock-dalam-peng

    adilan-niaga/ diakses tanggal 20 Desember 2012.

  • Mengingat Pengadilan Niaga merupakan bagian khusus dari Undang-Undang

    kepailitan, yaitu pengadilan yang khusus memeriksa dan memutuskan

    perkara-perkara di bidang perniagaan dan pemeriksaan perkara kepailitan. Peradilan

    niaga berjalan dengan prinsip-prinsip:75

    1. Prinsip Kesinambungan, dalam hal ini ketua Mahkamah Agung harus

    menjamin terlaksananya persidangan secara berkesinambungan;

    2. Prinsip persidangan baik, yang dimaksud adalah tersedianya prosedur

    peradilan niaga yang cepat efektif dan terekam dengan baik;

    3. Prinsip putusan yang baik, dalam hal ini kepada masyarakat pencari keadilan

    haruslah tersedia putusan yang tertulis dengan memuat

    pertimbangan-pertimbangan yang cukup yang mendasari putusan yang

    bersangkutan;

    4. Prinsip kearsipan; untuk setiap putusan haruslah diberi arsip dengan baik dan

    diterbikan secara berkala.

    Pembentukan Pengadilan Niaga bukan hanya sebuah bentuk pendekatan baru

    sebagai upaya menyelesaikan masalah penegakan hukum melalui lembaga peradilan

    untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang perekonomian samata. Tetapi sebagai

    suatu proses, pembentukan Pengadilan Niaga merupakan suatu proses restrukturisasi

    peradilan dalam mengimbangi perkemnangan sosial dan ekonomi.76

    Telah dikemukakan diatas bahwa Pengadilan Niaga merupakan suatu proses

    restrukturisasi peradilan dalam mengimbangi perkembangan sosial dan ekonomi,

    75Munir Fuady, 2005, Hukum Kepailitan Dalam Teori dan Praktik, Bandung: PT. Citra Aditya

    Bakti, hal: 20-21, Lihat juga Faisal Santiago, Op.cit.,hal.43-44.

    76

    Faisal Santiago, Op.cit.,hal.44.

  • sehingga terbentuknya Pengadilan Niaga sebagai Pengadilan khusus pun tidak di

    dasarkan pada undang-undang khusus tentang Pengadilan Niaga tetapi justru dasar

    terbentuknya terdapat pada Undang-Undang Kepailitan. Dalam Pasal 300 ayat (1)

    UU No. 37 tahun 2004, menentukan bahwa:

    Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, selain

    memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit dan penundaan

    Kewajiban Pembayaran utang, berwenang pula memeriksa dan memutuskan

    perkara lain dibidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan

    undang-undang.77

    Sedangkan Pasal 1 ayat (7) UU No.37 Tahun 2004 menyatakan bahwa

    Pengadilan adalah Pengadilan Niaga di lingkungan peradilan umum.78

    Ini berarti

    Pengadilan Niaga merupakan pengkhususan pengadilan di bidang perniagaan yang

    dibentuk di lingkungan peradilan umum.

    Sebagaimana diketahui bahwa salah satu pertimbangan dibentuknya pengadilan

    niaga adalah agar mekanisme penyelesaian perkara permohonan kepailitan dan

    penundaan kewajiban pembaran utang, penyelesaiannya dapat dilakukan dengan

    cepat dan efektif.79

    Keberadaan pengadilan niaga tidak menambah kuantitas

    lingkungan peradilan baru di Indonesia. Ini secara tegas disebutkan dalam Perpu.

    Artinya, pengadilan niaga hadir dan berada dalam lingkungan peradilan umum. Akan

    tetapi secara substansial kehadiran peradilan niaga jelas telah menggeserkan

    77 Lihat Pasal 300 ayat(1) UUK PKPU

    78

    Lihat Pasal 1 angka 7 Perpu No. 1 Tahun 1998 yang kemudian diundangkan dengan UU No.4

    Tahun 1998 jo. UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

    Utang.

    79

    Faisal Santiago, Op.cit.,hal.22

  • kompetensi absolut maupun relatif dari pengadilan negeri atas perkara-perkara

    permohonan kepailitan dan penundaan kewajiban membayar utang.

    Selain telah menyebabkan tergesernya kompetensi pengadilan negeri,

    pembentukan pengadilan niaga sebagai pengadilan khusus dalam konteks do