of 166 /166
EFEK PENGGANDA PENGELUARAN APBDES BIDANG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI DESA WARINGIN JAYA KECAMATAN BOJONG GEDE KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Untuk Memenuhi Prasyarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025 JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1439 H/2018 M

Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

  • Upload
    others

  • View
    10

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Disusun oleh: Nurlaela NIM:...

Page 1: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

EFEK PENGGANDA PENGELUARAN APBDES BIDANG PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR DI DESA WARINGIN JAYA KECAMATAN BOJONG

GEDE KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Untuk Memenuhi Prasyarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Disusun oleh:

Nurlaela

NIM: 1112084000025

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1439 H/2018 M

Page 2: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurlaela

NIM : 1112084000025

Jurusan : Ekonomi Pembangunan

Konsentrasi : Otonomi dan Keuangan Daerah

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini saya:

1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu

mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

2. Tidak melakukan tindakan plagiat terhadap naskah orang lain.

3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber

asli atau tanpa izin pemilik karya.

4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.

5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggungjawab atas

karya ini.

Jika dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan melalui

pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan ternyata memang ditemukan bukti

bahwa saya telah melanggar pernyataan di atas, maka saya siap untuk dikenakan

sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN syarif

Hidayatullah Jakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, 26 Februari 2018

Nurlaela

Page 3: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

EFEK PENGGANDA PENGELUARAN APBDES BIDANG PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR DI DESA WARINGIN JAYA KECAMATAN BOJONG

GEDE KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

untuk Memenuhi Syarat-Syarat dalam Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh

Nurlaela

1112084000025

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I

Arief Fitrijanto, M.Si

NIP. 197111182005011003

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1439H/2018M

Page 4: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Jumat, 1 September 2017 telah dilakukan Ujian Komprehensif atas

mahasiswa :

1. Nama : Nurlaela

2. NIM : 1112084000025

3. Jurusan : Ekonomi Pembangunan

4. Judul Skripsi : Efek Pengganda Pengeluaran APBDes Bidang

Pembangunan Infrastruktur di Desa Waringin Jaya Kecamatan

Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2015

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang

bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa

mahasiswa tersebut di atas dinyatakan LULUS dan diberi kesempatan untuk

melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negri

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 1 September 2017

1. Utami Baroroh, M.Si. (_________________________)

NIP. 197312262014112001 Penguji I

2. Zaenal Muttaqin, MPP. (_________________________)

NIP. 19790503 201101 1 006 Penguji II

Page 5: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk
Page 6: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama Lengkap : Nurlaela

2. Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 17 Agustus 1994

3. Alamat : Jl. Raya Mabes TNI RT/RW 006/004 Kelurahan

Cilangkap Kecamatan Cipayung Jakarta Timur

4. Telepon : 085881892885

5. Email : [email protected]

II. PENDIDIKAN FORMAL

1. SD Negeri 01 Cipayung Tahun 2000 - 2006

2. SMP Negeri 160 Jakarta Tahun 2006 – 2009

3. SMA Negeri 64 Jakarta Tahun 2009 – 2012

4. S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012 – 2018

III. SEMINAR DAN WORKSHOP

1. Workshop Kepemudaan “Integrity Goes to You”, HMJ IESP UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

2. Dialog Jurusan dan Seminar Konsentrasi “Mengenal Lebih Dekat dengan

Jurusan Sendiri”, HMJ IESP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Seminar Nasional “Mewujudkan Lembaga Keuangan Mikro yang Berdaya

Saing dalam Menghadapi MEA 2015”, Social Trust Fund UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

4. Seminar dan Talkshow “Islam dan Ekonomi Kreatif”, Pusat Ekonomi Kreatif

dan UINPreneurs

Page 7: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

ii

5. Seminar Investasi Pasar Modal “Take Your Chance, Get Knowledge, Grab

Your Gain”, Lab Pasar Modal FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6. Visit Company ke “Kementrian Dalam Negeri”

7. Visit Company ke “Museum Bank Indonesia”

IV. LATAR BELAKANG KELUARGA

1. Ayah : Abdul Hadi

2. Tempat/Tanggal Lahir : Tapanuli Selatan, 11 September 1960

3. Ibu : Rabiatul Adawiyah

4. Tempat/Tanggal Lahir : Tapanuli Selatan, 24 Februari 1966

5. Alamat : Jl. Raya Mabes TNI RT/RW 006/004 Kelurahan

Cilangkap Kecamatan Cipayung Jakarta Timur

6. Telepon : -

7. Anak ke dari : 2 dari 4 bersaudara

Page 8: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

iii

ABSTRACT

In the years 2015, villages in Indonesia have received additional revenue

in the form of village funds from the government of Indonesia through the State

Budget (APBN). The increase in revenue will have an effect on increasing village

government expenditure to fund the village development priorities and rural

community empowerment. The objective of this study is to measure the multiplier

effects of rural infrastructure development and regional leakage created from the

activities. This study uses a non-positive paradigm with quantitative and qualitative

approaches to gain a deeper understanding.

Following are the foundings of the study. The multiplier of added value on

village government expenditure for infrastructure development, its impact on the

creation of added value in the village economy is still low. Meanwhile, the level of

regional leakage based on the ratio of income between capital and labor, as well

as forward leakage, the leakage rate of the area of activity is high. So that the

velocity of money from infrastructure development activities more flow out of the

region, or experiencing regional leaks. Thus, the economic impacts created by rural

infrastructure development are less beneficial to the people in Waringin Jaya

village, due to the high leakage rate of the region.

Keywords: village, multiplier effect, regional leakage, social accounting matrix

(SAM)

Page 9: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

iv

ABSTRAK

Pada tahun 2015, desa-desa di Indonesia memperoleh tambahan pendapatan

berupa dana desa dari pemerintah pusat yang dianggarkan melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara. Dengan meningkatnya pendapatan pemerintah

desa maka akan berpengaruh terhadap peningkatan pengeluaran pemerintah desa

untuk membiayai kegiatan-kegiatan di bidang prioritas pembangunan desa dan

pemberdayaan masyarakat desa. Penelitian ini ingin mengukur efek pengganda dari

pembangunan infrastruktur desa dan kebocoran wilayah yang tercipta dari aktivitas

tersebut. Penelitian ini menggunakan paradigma non-positive dengan pendekatan

kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa berdasarkan multiplier nilai

tambah pengeluaran pemerintah desa untuk pembangunan infrastruktur,

dampaknya terhadap penciptaan nilai tambah pada perekonomian desa masih

rendah. Sementara itu, untuk tingkat kebocoran wilayah, berdasarkan rasio

pendapatan antara modal dan tenaga kerja serta kebocoran ke depan (forward

leakage), tingkat kebocoran wilayah dari aktivitas tersebut tinggi. Sehingga,

perputaran uang dari aktivitas pembangunan infrastruktur lebih banyak mengalir

keluar wilayah, atau mengalami kebocoran wilayah. Dengan demikian, dampak

ekonomi yang tercipta dari pembangunan infrastruktur desa manfaatnya kurang

dirasakan oleh masyarakat di desa Waringin Jaya dikarenakan tingkat kebocoran

wilayah tinggi.

Kata Kunci: desa, efek pengganda, kebocoran wilayah, sistem neraca sosial

ekonomi (SNSE)

Page 10: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

v

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Segala puji bagi Allah SWT. Yang telah melimpahkan segala nikmat dan

hidayahNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

berjudul “Efek Pengganda Pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja

Desa Bidang Pembangunan Infrastruktur di Desa Waringin Jaya Kecamatan

Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2015” dengan baik. Shalawat serta salah

penulis haturkan kepada baginda nabi besar Muhammad SAW yang telah

membawa dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. Selesainya skripsi ini tentu dengan dukungan, bimbinagan

dan bantuan serta semangat dan doa dari semua orang disekeliling penulis selama

proses penyelesaian skripsi ini. Oleh karenanya izinkanlah penulis menyampaikan

terima kasih kepada:

1. Orang Tua dan Saudara penulis yang selalu memberikan dukungan,

kesebaran, motivasi kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

2. Bapak Arief Fitrijanto M.Si, selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Najwa Khairina SE, MA, selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi

Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syarif

Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Arief Fitrijanto M.Si selaku dosen pembimbing yang telah

melaungkan waktu, memberikan motivasi dan arahan yang berharga serta

ilmu yang bermanfaat kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi

hingga skripsi ini selesai.

5. Seluruh jajaran dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan

ilmu yang sangat berguna dan berharga bagi penulis selama perkuliahan.

Page 11: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

vi

6. Sahabat SMA Penulis Fauziyyah Isra, Nur Fitri, Restika, Vella, Mala, Dewi,

Isma dan Aminah atas dukungannya kepada penulis dalam mengerjakan

Skripsi

7. Teman masa kuliah Ida, Hilda, Sandra, Wiwi, Desi dan Rani atas hari-hari

yang Nano-nano di Kampus.

8. Wanita-Wanita Cantik dan Soleha Dita, Osi, Mila, Ara, Ayu, Rahmi, Nay

dan Ghina semoga cepet Nikah terutama untuk Mila dan AyuBos. Aamiin..

9. Teman yang Baaikk Aulia Maghfiroh yang mau menemani peneliti ke salah

satu desa di Kabupaten Tangerang untuk observasi lokasi penelitian,

walaupun sangat disayangkan penulis harus mengganti lokasi penelitian dan

untuk Ahamd Sidiq.

10. Teman-teman yang menyempatkan waktunya untuk menemani peneliti saat

melakukan observasi dan pencarian data di lapangan Fauziyyah Isra, Aulia

Maghfiroh, Vella Wati, Ida Zuraida, Yuni Purwanti dan Abdul Farid.

11. Teman-teman Ekonomi Pembangunan angkatan 2012.

12. Teman-teman konsentrasi Otonomi dan Keuangan Daerah.

13. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata PILAR 2015.

14. Pemerintah Desa dan Masyarakat Desa Waringin Jaya

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena

keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki penulis. Oleh sebab

itu, penulis mengharapkan segala bentuk kritik dan saran yang membangun untuk

pencapaian yang lebih baik.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Jakarta, Februari 2018

Nurlaela

Page 12: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

vii

DAFTAR ISI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................................. i

ABSTRACT ........................................................................................................... iii

ABSTRAK ............................................................................................................ iv

KATA PENGANTAR ........................................................................................... v

DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. x

LAMPIRAN .......................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 10

C. Tujuan, Hasil dan Manfaat Penelitian ....................................................... 12

D. Batasan Masalah ....................................................................................... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 15

A. Landasan Teori .......................................................................................... 15

1. Otonomi Desa .................................................................................... 15

2. Pemerintahan Desa ............................................................................ 19

3. Anggaran Keuangan Desa (APBDes) ................................................ 20

4. Multiplier Effects Ekonomi ................................................................ 40

5. Kebocoran Wilayah ........................................................................... 42

B. Kerangka Pemikiran .................................................................................. 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ......................................................... 47

A. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................... 47

B. Metode Penentuan Sampel ........................................................................ 48

C. Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 49

Page 13: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

viii

D. Metode Analisis Data ................................................................................ 57

E. Operasional Variabel Penelitian ................................................................ 73

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ...................................................... 75

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ......................................................... 75

B. Pendefinisian Klasifikasi ........................................................................... 84

C. Peran APBDes Bidang Pembangunan Infrastruktur terhadap Perekonomian

Desa Waringin Jaya ....................................................................................... 87

D. Peran APBDes Bidang Pembangunan Infrastruktur terhadap Distribusi

Pendapatan Desa Waringin Jaya .................................................................. 104

E. Indikasi Kebocoran Wilayah dari APBDes Pembangunan Infrastruktur 108

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 113

A. Kesimpulan ............................................................................................. 113

B. Saran ........................................................................................................ 114

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 116

Page 14: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

ix

DAFTAR TABEL

Tabel.1.1 Data Indeks Pembangunan Desa Tahun 2014 Menurut Sebaran Pulau .. 4

Tabel.1.2 Sumber Pendapatan Desa Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015 ........... 9

Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan antara Desa Adat dan Desa Otonom ......... 17

Tabel 2.2 Tipologi Desa di Indonesia ................................................................... 18

Tabel 3.1 Kerangka Dasar SNSE Indonesia .......................................................... 60

Tabel 3.2 Operasional Variabel Penelitian ............................................................ 74

Tabel 4.1. Batas Wilayah Desa Waringin Jaya ..................................................... 75

Tabel 4.2. Orbitasi Desa Waringin Jaya................................................................ 76

Tabel 4.3. Pemanfaatan Lahan Desa Waringin Jaya Tahun 2015......................... 76

Tabel 4.4. Jumlah dan Persentase Penduduk Desa Waringin Jaya ....................... 77

Tabel 4.5. Jumlah Penduduk Menurut Umur Desa Waringin Jaya 2015 .............. 78

Tabel 4.6. Jumlah dan Persentase Sebaran Penduduk Desa Waringin Jaya Menurut

Agama ................................................................................................................... 78

Tabel 4.7. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Waringin Jaya ......................... 79

Tabel 4.8. Mata Pencaharian Masyarakat Desa Waringin Jaya ............................ 80

Tabel 4.9. Jumlah Sarana dan Prasarana Desa Waringin Jaya .............................. 81

Tabel 4.10. Kegiatan dan Sumber Dana Pembangunan Desa Waringin Jaya Tahun

Anggaran 2015 ...................................................................................................... 83

Tabel 4.11. Multiplier Nilai Tambah pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015

............................................................................................................................... 88

Tabel 4.12. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga pada SNSE Desa Waringin Jaya

Tahun 2015 ........................................................................................................... 94

Tabel 4.13. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga terhadap Sektor pada SNSE Desa

Waringin Jaya Tahun 2015 ................................................................................... 97

Tabel 4.14. Multiplier Keterkaitan terhadap Sektor Sendiri dan Multiplier Antar

Sektor pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun..................................................... 99

Tabel 4.15. Keterkaitan Sektor Pembangunan Infrastruktur Desa Berdasarkan

SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015.............................................................. 101

Tabel 4.16. Multiplier Total pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015 ....... 104

Tabel 4.17. Dekomposisi Pengganda Neraca pada Desa Waringin Jaya Tahun 2015

............................................................................................................................. 106

Tabel 4.18. Nilai Rasio Multiplier Modal dengan Multiplier Tenaga Kerja pada

SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015.............................................................. 109

Tabel 4.19. Nilai Koefisien Keterkaitan Kedepan Unit Usaha di Desa Waringin Jaya

Tahun 2015 ......................................................................................................... 112

Page 15: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 46

Gambar 3.1 Transaksi Antarblok dalam SNSE ..................................................... 63

Gambar 3.2 Struktur Pengganda ........................................................................... 71

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Waringin Jaya ................... 82

Page 16: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

xi

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Alur Berpikir Penelitian

Lampiran 2 : Dokumentasi

Lampiran 3 : Pendekatan Kuantitatif

Lampiran 4 : Pendekatan Kualitatif

Page 17: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Desentralisasi merupakan impian bagi setiap daerah untuk dapat mengurus

sendiri rumah tangganya masing-masing dengan diberikannya hak, kewajiban, dan

wewenang seluas-luasnya dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

Desentralisasi didefinisikan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 adalah

sebagai penyerahan urusan pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah

otonom berdasarkan Asas Otonomi. Sementara World Bank mendefinisikan

desentralisasi sebagai the transfer of authority and responsibility for public

functions from the central government to intermediate and local government or

quasi-independent government organizations and/or the private sector dan Litvack

et.al. mendefinisikan desentralisasi sebagai the assignment of fiscal, political, and

administrative responsibilities to lower levels of government (Djalil, Rizal

2014:25).

Indonesia baru melaksanakan desentralisasi yang seluas-luasnya pada masa

Orde Baru berakhir yang menganut sistem pemerintahan sentralistik. Reformasi

sistem pemerintahan pusat dan daerah direalisasikan dengan ditetapkannya

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, sebagai

pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33

Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang tersebut, pemerintah daerah diberikan

kewenangan yang lebih luas dalam menentukan arah kebijakan dan program

Page 18: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

2

pembangunan yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan

kemajuan daerah otonomi masing-masing.

Adapun tujuan dilaksanakannya desentralisasi berdasarkan Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Otonomi bertujuan

untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan daya

saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,

keistimewaan, kekhususan dan potensi daerah dalam sistem Negara Kesatuan

Republik Indonesia. Sementara menurut Rondinelli tujuan utama yang hendak

dicapai melalui kebijakan desentralisasi adalah untuk meningkatkan kemampuan

pemerintah daerah dalam menyediakan public good and services, serta untuk

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembangunan ekonomi di daerah (Djalil,

Rizal 2014:31).

Dalam otonomi daerah, diatur juga mengenai sistem pemerintahan desa hal

ini dikarenakan desa merupakan bagian dari sistem pemerintahan daerah yang

tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah dimana Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas

wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan,

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal

usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan adanya Undang-Undang yang mengatur tetang pemerintahan desa,

desa berhak untuk menentukan arah kebijakan dan program pembangunan yang

Page 19: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

3

akan dilakukan di desa tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat desa. Tetapi dalam proses pelaksanaan otonomi daerah sistem

pemerintahan lebih terpusat pada daerah Kabupaten/Kota dan masih kurang

memperhatikan kesejahteraan desa. Adapaun empat faktor utama yang menjadi

kendala bagi pemerintah desa yakni Pertama: desa memiliki APBDes yang kecil

dan sumber pendapatannya sangat tergantung pada bantuan yang sangat kecil pula.

Kedua: kesejahteraan masyarakat desa rendah. Ketiga: rendahnya dana operasional

desa untuk menjalankan pelayanan. Keempat: bahwa banyak program

pembangunan masuk ke desa, tetapi hanya dikelola oleh dinas (Hudayana dalam

Subroto 2009:3).

Tingginya ketergantungan pemerintah desa terhadap dana transfer yang

diberikan oleh pemerintah Kabupaten/Kota tidak diimbangi dengan dana transfer

yang diberikan pemerintah daerah ke desa ini dikarenakan terbatasnya anggaran

yang dimiliki oleh Kabupaten/Kota. Akibatnya pembangunan di desa berjalan

lambat dan masih banyak desa di Indonesia yang tergolong dalam kategori desa

tertinggal berdasarkan data yang dirilis Badan Perencanaan Nasional dan Badan

Pusat Statistik pada tahun 2014 sebanyak 74.093 desa di Indonesia atau sebesar

27,22% termasuk dalam kategori desa tertinggal. Dimana mayoritas berada di Pulau

Papua dengan jumlah desa tertinggal sebanyak 6.138 desa (8,29%) seperti yang

tertera pada tabel 1.1.

Page 20: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

4

Tabel.1.1.

Data Indeks Pembangunan Desa Tahun 2014 Menurut Sebaran Pulau

Sumber: Bappenas/IPD 2014

Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa,

desa memperoleh dana tambahan dari pemerintah pusat dalam bentuk dana desa.

Adapun sumber pendapatan desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun

2014 pasal 72 terdiri dari: a. Pendapatan Asli Desa; b. Alokasi Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (Dana Desa dan Desa Adat); c. Bagian dari hasil

Pajak Daerah dan Reribusi Daerah Kabupaten/Kota; d. Alokasi Dana Desa dari

Dana Perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota; e. Bantuan Anggaran dari

APBD Provinsi dan APBD Kabupaten; f. Hibah; g. Lain-lain Pendapatan Desa

yang sah.

Dana desa merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan

Tertinggal Berkembang Mandiri

Sumatera 55,87 57,7 41,03 73,77 52 55,11 8,07 22,24 0,61 22,91

Jawa-Bali 65,03 68,24 50,79 78,1 55,52 73,49 0,94 28,11 3,04 23.117

Nusa Tenggara 52,46 51,95 31,01 79,44 41,55 64,11 2,14 3,13 0,06 3.945

Kalimantan 52,41 53,44 34,56 68,95 53,16 58,95 3,31 5,34 0,1 6.486

Sulawesi 56,38 55,27 38,24 79,92 49,01 65,08 2,65 8,05 0,08 8.635

Maluku 46,89 46,99 29,81 67,78 42,39 51,6 1,83 1,18 0,02 2.254

Papua 32,05 27,5 17,68 47,75 40,19 41,44 8,29 0,81 0,01 6.746

Indonesia 55,71 56,73 39,21 73,5 51,72 61,59 27,22 68,86 3,92 74.093

Persentase Desa Menurut T ipologi DesaAksesibilitas/

TransportasiJumlah DesaNama Wilayah Pulau IPD 2014

Pelayanan

Dasar

Kondisi

Infrastruktur

Pelayanan

Umum

Penyelenggaraan

Pemerintahan

Page 21: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

5

kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (PMK.No.93/PMK.07/2015

Tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan dan

Evaluasi Dana Desa).

Tahun 2015 anggaran yang dialokasikan pemerintah pusat untuk desa berupa

dana desa pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 20 triliun.

Dimana anggaran dana desa selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun

yaitu untuk tahun 2016 anggaran dana desa sebesar Rp 47 triliun, tahun 2017

anggaran dana desa sebesar Rp 58 triliun dan untuk tahun 2018 anggaran dana desa

sebesar Rp 60 triliun. Adapun fokus penelitian ini adalah tahun 2015 dikarenakan

pada tahun tersebut desa memperoleh sumber pendapatan baru berupa dana desa.

Hadirnya dana desa sebagai sumber pendapatan tambahan bagi pemerintah

desa merupakan wujud kepedulian negara terhadap pembangunan desa dimana

Dana Desa berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan

kualitas pelayanan dasar, kemajuan ekonomi desa, mengatasi ketimpangan antar

desa serta dapat juga digunakan untuk pemerataan pembangunan. Dengan

diberikannya tambahan pendapatan melalui dana desa diharapkan dapat

mengurangi tingkat ketimpangan dan kemiskinan di desa, dimana berdasarkan data

dari Badan Perencanaan Nasional jumlah penduduk miskin di desa yang ada di

pulau Jawa tahun 2014 sebanyak 8.167.880 jiwa. Adapun tujuan utama dari di

tingkatkannya pendapatan pemerintah desa yakni dapat terwujudnya pemerataan

kesejahteraan baik penduduk yang tinggal di daerah perkotaan maupun penduduk

yang tinggal di daerah perdesaan.

Page 22: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

6

Sebagai bagian dari APBDes, dana desa telah diatur prioritas

penggunaannya oleh pemerintah pusat yakni untuk membiayai belanja

pembangunan dan pemberdayaan desa. Adapun pertimbangan yang mendasarinya.

Pertama, menjadi bagian dari dimensi pemerataan dalam pembangunan nasional

dimana dana desa menyentuh langsung kepada kepentingan masyarakat desa

dengan tujuan mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan di desa. Kedua,

dana desa sesuai dengan prioritas pembangunan nasional yang tertuang dalam

NAWACITA, serta sebagai penguatan desa dalam rangka membangun Indonesia

dari pinggiran. Ketiga, pemerintah membina dan memberdayakan desa agar para

pemangku desa tidak terjebak pada aspek administrasi pemerintahan desa saja

tetapi memiliki kontribusi yang nyata melalui pembangunan dan pemberdayaan

masyarakat desa (Eko, Sutoro dkk. 2016:54-55).

Setiap tahunnya, Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan

Transmigrasi akan mengeluarkan peraturan tentang prioritas penggunaan dana desa

yang nantinya akan digunakan sebagai acuan oleh pemerintah desa dalam

penetapan kegiatan prioritas desa yang dituangkan dalam Rencana Kerja

Pemerintah Desa dan ditetapkan dalam Peraturan Desa. Adapun di dalam

menentukan prioritas penggunaannya ada faktor yang penting untuk diperhatikan

diantaranya adalah mengenai tipologi desa apakah termasuk ke dalam kategori desa

tertinggal atau sangat tertinggal, desa berkembang dan desa maju atau mandiri.

Kabupaten Bogor merupakan satu dari delapan belas Kabupaten yang ada

di Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah sebesar 2.301,95 km2 dan jumlah

penduduk sebanyak 5.202.097 jiwa (Kab. Bogor dalam Angka 2015). Adapun

Page 23: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

7

jumlah desa yang ada di Kabupaten Bogor berdasarkan data dari Bapennas

sebanyak 417 desa, dimana sebanyak 1 desa termasuk dalam kategori desa

tertinggal, 331 desa termasuk dalam kategori desa berkembang dan sebanyak 85

desa termasuk dalam kategori desa mandiri.

Mayoritas desa di Kabupaten Bogor termasuk ke dalam tipologi desa

berkembang maka itu bidang pembangunan desa sebaiknya difokuskan pada

pembangunan sarana dan prasarana dasar sesuai dengan peraturan Menteri Desa

Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 Tentang

Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015 perihal Prioritas

penggunaan dana desa untuk pembangunan desa. Adapun pembangunan sarana dan

prasarana desa diantaranya meliputi: a. pembangunan dan pemeliharaan jalan

desa; b. pembangunan dan pemeliharaan jalan usaha tani; c. pembangunan dan

pemeliharaan embung desa; d. pembangunan energi baru dan terbarukan; e.

pembangunan dan pemeliharaan sanitasi lingkungan; f. pembangunan dan

pengelolaan air bersih berskala desa; g. pembangunan dan pemeliharaan irigasi

tersier; h. pembangunan dan pemeliharaan serta pengelolaan saluran untuk

budidaya perikanan; dan i. pengembangan sarana dan prasarana produksi di desa.

Pembangunan infrastruktur desa merupakan prioritas pertama dari

penggunaan dana desa ini dikarenakan kondisi infrastruktur desa di Indonesia

masih rendah dimana kondisi infrastruktur nasional wilayah perdesaan hanya

sebesar 39.21% (Barokah, Hindun dkk. 2015:34). Ini sesuai dengan amanat yang di

sampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet dimana beliau

menyatakan bahwa penggunaan dana desa lebih diutamakan untuk pembangunan

Page 24: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

8

infrastruktur dasar di desa, dan pelaksanaannya dilakukan secara padat karya dan

swakelola (Eko, Sutoro dkk. 2016:18).

PDRB merupakan salah satu cerminan dari kemajuan ekonomi suatu

daerah. PDRB merupakan nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksi dalam

suatu wilayah pada suatu tahun tertentu tanpa membedakan kepemilikan dari faktor

produksi (Sukirno, Sadono 2011:10). Dalam metode pengeluaran/expenditure

approach PDRB adalah jumlah dari beberapa variabel termasuk di dalamnya adalah

pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah mempunyai peran terhadap

pertumbuhan ekonomi regional yakni salah satunya dalam penyedia layanan publik.

Adapun menurut Noegroho dan Soelistianingsih (2007:6) pengeluaran

pemerintah daerah diukur dari total belanja rutin dan belanja pembangunan

pemerintah daerah yang dimuat dalam APBD, semakin besar anggaran yang

dikeluarkan pemerintah daerah untuk belanja produktif, maka akan berpengaruh

pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah. Sedangkan pengeluaran

konsumsi pemerintah yang terlalu kecil akan merugikan pertumbuhan ekonomi,

pengeluaran pemerintah yang proposional akan meningkatkan pertumbuhan

ekonomi dan pengeluaran konsumsi yang boros akan menghambat pertumbuhan

ekonomi (Anaman dalam Noegroho 2007:6). Pada umumnya pengeluaran

pemerintah daerah membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi

regional.

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat

yang menerima dana desa. Berdasarkan Peraturan Bupati Bogor Nomor 22 Tentang

Page 25: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

9

Pelaksanaan Tata Cara Pembagian dan Penetapan Dana Desa Setiap Desa di

Kabupaten Bogor Tahun 2015, masing-masing desa di Kabupaten Bogor

memperoleh tambahan dana. Adapun sumber pendapatan desa Waringin Jaya untuk

tahun anggaran 2015 dapat dilihat pada tabel 1.2.

Tabel.1.2.

Sumber Pendapatan Desa Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015

Pendapatan Anggaran (Rp)

Pendapatan Asli Desa

Hasil Swadaya dan Partisipasi Gotong Royong Masyarakat 45.000.000

Pendapatan Transfer

Bagian dari Hasil Pajak Daerah 161.863.004

Alokasi Dana Desa 513.301.141

Bantuan Keuangan Pemerintah dan Kabupaten 50.000.000

Bantuan APBD (Mobil Siaga Desa) 150.000.000

Bantuan Dana Desa 306.777.862

Tambahan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa 15.000.000

Bantuan Dana Provinsi (Infrastruktur Desa) 100.000.000

Bantuan Keuangan APBD Kabupaten 200.000.000

Pendapatan Lain-lain

Hibah dan Sumbangan dari pihak ketiga 0

Lain-Lain Pendapatan Desa yang Sah 0

Jumlah Pendapatan 1.541.942.007

Sumber: Laporan akhir tahun pemerintahan desa Waringin Jaya TA 2015 (Diolah)

Berdasarkan data pada tabel 1.2 desa Waringin Jaya memperoleh tambahan

sumber pendapatan yang berasal dari dana desa sebesar Rp 306.777.862.

Meningkatnya pendapatan desa melalui dana transfer yang diberikan pemerintah

pusat dalam bentuk dana desa akan meningkatkan konsumsi pemerintah desa dalam

membiayai kegiatan-kegiatan di bidang prioritas pembangunan desa dan

pemberdayaan masyarakat desa. Dimana penggunaan APBDes untuk membiayai

pembangunan infrastruktur desa mempunyai dampak positif terhadap peningkatan

Page 26: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

10

kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat desa diantaranya dalam peningkatan

nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan

kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya stabilitas makro

ekonomi, yaitu keberlanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit, dan pengaruhnya

terhadap pasar tenaga kerja (Sukma, Andrio Firstiana 2015:102).

Sementara Songco (2002) berpendapat, tujuan dari investasi infrastruktur

perdesaan adalah untuk meningkatkan status ekonomi rakyat miskin melalui

peningkatan pendapatan dan perbaikan pola konsumsi yang dapat ditunjukkan

dengan tingkat biaya yang lebih rendah pada kebutuhan pokok, pengeluaran sumber

daya energi yang lebih rendah melalui penemuan sumber energi baru, dan

peningkatan penggunaan jasa sosial (Songco dalam Sukma 2015:103). Dimana

peningkatan konsumsi pemerintah desa pada bidang pembangunan sarana dan

prasarana dasar desa/infrastruktur desa berdampak pada peningkatan kesejahteraan

masyarakat desa.

B. Rumusan Masalah

Pembangunan kawasan perdesaan merupakan salah satu program prioritas

pembangunan pemerintah pusat yang tertuang dalam RPJMN, dimana dalam proses

pelaksanaannya melalui pembangunan inklusif. Pembangunan inklusif adalah

pembangunan yang memperhitungkan pertumbuhan (pro-growth), penyerapan

tenaga kerja (pro-job), mengurangi kemiskinan (pro-poor) dan memperhatikan

lingkungan (pro-environment) (Badrudin dalam Sukma 2015:103). Yang tercermin

dari prinsip swakelola dan padat karya dalam penyelenggaraan tata kelola

pembangunan desa.

Page 27: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

11

Perputaran uang dari pengeluaran pemerintah desa di bidang pembangunan

infrastruktur akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat desa yang

nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, perputaran

uang tersebut memiliki potensi mengalami yang namanya kebocoran wilayah.

Kebocoran wilayah merupakan jenis aktivitas pengeluaran/penerimaan

wilayah yang tidak meningkatkan tambahan pendapatan suatu wilayah, atau dengan

kata lain kebocoran wilayah merupakan kondisi terjadinya aliran nilai tambah ke

wilayah lainnya karena adanya potensi nilai tambah yang tidak dapat dimanfaatkan

secara optimal, sehingga menyebabkan kecilnya multiplier yang dapat ditimbulkan

dari kegiatan ekonomi suatu wilayah. Semakin besar kebocoran wilayah yang

terjadi maka semakin besar potensi multiplier pendapatan yang hilang. Dimana

pertanyaan penelitian yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana peran dari APBDes bidang pembangunan infrastruktur dan

dampaknya terhadap perekonomian di Desa Waringin Jaya tahun anggaran

2015?

2. Bagaimana peran dari APBDes bidang pembangunan infrastruktur dan

dampaknya terhadap distribusi pendapatan di Desa Waringin Jaya tahun

anggaran 2015?

3. Bagaimana indikasi dan potensi kebocoran wilayah dari APBDes bidang

pembangunan infrastruktur di Desa Waringin Jaya tahun anggaran 2015?

Page 28: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

12

C. Tujuan, Hasil dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pengetahuan, yakni

pemahaman tentang kenyataan. Pengetahuan yang dihasilkan, disamping

ditentukan oleh objek penelitian (objek material) adalah ditentukan oleh

pendekatan, metode dan prosedurnya. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Menganalisis peran dari APBDes bidang pembangunan infrastruktur dan

dampaknya terhadap perekonomian di Desa Waringin Jaya tahun anggaran

2015;

b. Menganalisis peran dari APBDes bidang pembangunan infrastruktur dan

dampaknya terhadap distribusi pendapatan di Desa Waringin Jaya tahun

anggaran 2015;

c. Menganalisis indikasi dan potensi kebocoran wilayah dari APBDes bidang

pembangunan infrastruktur di Desa Waringin Jaya tahun anggaran 2015.

2. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini adalah:

a. Pembaruan, tema yang ingin dibahas oleh peneliti adalah mengenai

momentum dana desa dan dampak ekonomi yang dihasilkan dari

peningkatan pendapatan pemerintah desa serta potensi kebocoran wilayah.

Berdasarkan hasil penelusuran peneliti baik melalui internet dan studi

kepustakaan, belum ada penelitian terdahulu yang membahas mengenai

efek pengganda pengeluaran APBDes bidang pembangunan

Page 29: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

13

infrastruktur. Oleh karena itu, diharapkan dengan dilakukannya penelitian

ini dapat menambah wawasan pengetahuan terutama dalam ilmu

perencanaan wilayah.

b. Manfaat Rill, dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma non-

positive, dimana pemilihan paradigma didasarkan pada kelemahan

paradigma positive yang mana tidak bisa menjawab permasalahan secara

mendalam. Dalam paradigma non-positive, objek penelitian bukanlah

barang, jasa atau uang tetapi pelaku (actor) ekonomi. Paradigma non-

positive dipilih dikarenakan penelitian ini bukan hanya sekedar ingin

melihat pengaruh sebab akibat tetapi lebih dari itu yakni memahami

fenomena yang menjadi fokus penelitian agar hasil penelitian benar-benar

dapat menyentuh langsung pada permasalahan di lapangan dan hasil

penelitian benar-benar bisa dimanfaatkan bagi wilayah yang menjadi lokasi

penelitian dilaksanakan.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat akademis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat

bagi kalangan akademis serta sebagai bahan informasi mengenai

perencanaan dan pengembangan wilayah perdesaan. Selain itu, penelitian

ini dapat menjadi alternatif sebagai bahan rujukan dalam penelitian yang

terkait dengan multiplier effects pengeluaran pemerintah dalam

pengembangan ekonomi regional.

b. Manfaat praktis, diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi

bagi pihak-pihak yang berkepentingan terutama Kementrian Dalam Negeri

Page 30: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

14

dan Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

serta lembaga terkait lainnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat

memberikan gambaran mengenai multiplier effects dari adanya tambahan

pendapatan desa (dana desa) terhadap peningkatan kesejahteraan

masyarakat desa.

D. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wilayah penelitian berada di Kabupaten Bogor, Kecamatan Bojong Gede

yakni di Desa Waringin Jaya.

2. Objek penelitian ini adalah pengeluaran pemerintah desa (APBDes) di

bidang pembangunan infrastruktur desa.

3. Penelitian ini memfokuskan pada dampak ekonomi dari adanya peningkatan

pengeluaran pemerintah desa, dimana perputaran uang terjadi di kawasan

desa Waringin Jaya dan kawasan yang berbatasan langsung dengan desa

tersebut. Sedangkan untuk dampak sosial tidak dibahas dalam penelitian

ini.

Page 31: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Otonomi Desa

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, desa diartikan sebagai

kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk

mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat

berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan/atau hak tradisional yang diakui

dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sama halnya dengan Kabupaten/Kota, desa diberikan kewenangan untuk mengatur

dan mengurus wilayahnya sendiri adapun bedanya, otonomi desa bukan merupakan

otonomi formal seperti yang diterapkan pada tingkat Kabupaten/Kota melainkan

otonomi yang berasal dari asal usul dan adat istiadat yang tumbuh di masyarakat.

Otonomi formal/resmi memiliki pengertian sebagai kewenagan untuk

mengatur dan mengurus urusan masyarakat berdasarkan peraturan perundang-

undangan. Sedangkan otonomi yang dimiliki desa adalah otonomi berdasarkan asal

usul dan adat istiadat. Yang artinya, otonomi desa bukan berasal dan akibat dari

pengaturan perundang-undangan tetapi berasal dari asal-usul dan adat istiadat desa

sendiri yang dikembangkan, dipelihara, dipertahankan masyarakat setempat dari

dulu sampai sekarang (Nurcholis, Hanif 2011:64).

Dalam perkembangannya, desa-desa di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga

kategori otonomi asli desa. Pertama, desa adat (self-governing community)

Page 32: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

16

merupakan bentuk desa asli dan tertua di Indonesia, dimana pengaruh adat istiadat

masih sangat dominan dalam mengatur dan mengelola dirinya sendiri tanpa campur

tangan pihak luar (negara). Umumnya desa yang termasuk kategori desa adat

menolak untuk menjalankan tugas-tugas administratif yang diberikan negara hal ini

dilakukan demi menjaga keaslian adat istiadat, serta tidak bersedia berposisi secara

hierarki di bawah negara.

Kedua, desa otonom (local self-goverment) merupakan bentuk

pemerintahan lokal secara otonom, sebagai konsekuensi dari desentralisasi politik

(devolusi), yakni negara mengakui pemerintah daerah yang sudah ada disertai

penyerahan kewenangan kepada pemerintah lokal. Desa otonom mempunyai

kewenangan yang jelas berdasarkan undang-undang dalam penyelenggaraan

pemerintahan di desa seperti salah satunya kewenagan desa untuk mengelola

keuangan desa/APBDes.

Ketiga, desa administrasi (local state goverment) merupakan kepanjangan

tangan negara di tingkat lokal dimana desa administratif tidak memiliki hak

otonomi seperti halnya desa otonom. Adapun yang termasuk kategori desa

administratif adalah kelurahan.

Berdasarkan kategori desa di atas, desa administratif kurang relevan untuk

menggambarkan kemandirian masyarakat, ini dikarenakan desa tersebut tidak

memiliki hak otonomi dan demokrasi seperti yang dimiliki desa adat dan desa

otonom. Adapun kelebihan dan kekurangan antara desa adat dan desa otonom dapat

dilihat pada tabel 2.1.

Page 33: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

17

Tabel 2.1.

Kelebihan dan Kekurangan antara Desa Adat dan Desa Otonom

Desa Adat Desa Otonom

Keunggulan

Sesuai dengan konteks sejarah desa

yang mempunyai asal usul jauh

sebelum NKRI

Relevan dengan konsep pengakuan

dan penghormatan yang tertuang

dalam konstitusi

Relevan dengan keragaman desa-

desa di Indonesia

Kedudukan dan formatnya

lebih mudah, simpel, dan

konkuren dengan

pemerintahan daerah

Memperjelas pembagian

urusan dari pemerintah

kepada desa

Mengakhiri dualisme dan

benturan antara modernisme

dengan tradisionalisme

antara desa administratif

dan desa adat

Kelemahan

Mengalami kesulitan dalam

merumuskan desain kelembagaan

pengakuan (apa yang diakui, siapa

yang mengakui, dan bagaimana

mengakui)

Rumit/sulit dalam merumuskan

format keragaman lokal

Pemerintah sulit untuk menentukan

standar nasional dalam pengaturan

dan pelayanan publik pada

masyarakat desa

Desa terus terjebak dalam

tradisionalisme romantisme dan

sulit berkembang secara dinamis

Konstitusi tidak secara

eksplit memberi

desentralisasi kepada desa

Menambah beban dan

cakupan desentralisasi

otonomi daerah

Membutuhkan proses

meyakinkan yang lebih

panjang kepada masyarakat

adat

Sumber: Fadli, Mohammad dkk (2013)

Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, pemerintah pusat mengakui

bentuk pemerintahan desa baik desa otonom (local self-goverment) maupun desa

adat (self-governing community) maka dari itu, pemerintah tidak bisa begitu saja

menyamakan bentuk pemerintahan desa seperti yang terjadi di masa Orde Baru

dimana berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 pemerintah

menempatkan desa sebagai “local state goverment” atau sebagai kepanjangan

tangan negara yang jelas bertentangan dengan adat istiadat masyarakat desa.

Page 34: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

18

Untuk itu, agar tidak terjadi dualisme (antara desa adat dan desa otonom)

solusi yang memungkinkan adalah memilih salah satu bentuk desa. Adapun

variabel yang dapat dijadikan bahan pertimbangan adalah dengan melihat variabel

dominan di masyarakat, apakah variabel modernisme atau variabel tradisionalisme.

Jika suatu daerah pengaruh tradisionalime lebih dominan, maka desa tersebut lebih

cocok untuk tetap mempertahankan bentuk desa adat (self-governing community)

akan tetapi, jika pengaruh modernisme yang lebih kuat maka desa tersebut bisa

dikembangkan menjadi desa otonom (local self-goverment). Dimana tipologi desa-

desa di Indonesia dapat di lihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2.

Tipologi Desa di Indonesia

Tipe Desa Deskripsi Daerah

Ada Adat, tetapi tidak

ada Desa

Adat sangat dominan. Desa

tidak punya pengaruh.

Papua

Tidak ada Adat, tetapi

ada desa

Pengaruh adat sangat kecil.

Desa modern sudah tumbuh

kuat.

Jawa, sebagian besar

Sulawesi, Kalimantan Timur,

sebagian Sumatera.

Integrasi antara Desa

dan Adat

Adat (tradisionalisme) dan

desa (modernisme) sama-

sama kuat. Terjadi kompromi

keduanya.

Sumatera Barat

Dualisme/konflik antara

Adat dengan Desa

Pengaruh adat lebih kuat

ketimbang desa. Terjadi

dualisme kepemimpinan

lokal. Pemerintah desa tidak

efektif.

Bali, Kalimantan Barat, Aceh,

NTT, Maluku

Tidak ada Desa tidak ada

Adat

Kelurahan sebagai unit

administratif (local state

goverment). Tidak ada

demokrasi lokal.

Wilayah

Perkotaan

Sumber: Fadli, Mohammad dkk (2013)

Page 35: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

19

2. Pemerintahan Desa

Pemerintahan tingkat desa merupakan tatanan terkecil dari sistem suatu

negara, dimana pemerintahan desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan

dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Penyelenggaraan pemerintahan desa dilakukan oleh pemerintah desa dan

badan permusyawaratan desa (BPD). Pemerintah desa adalah organisasi

pemerintahan desa yang terdiri atas:

Unsur pimpinan, yaitu Kepala Desa;

Unsur perangkat desa terdiri atas:

Sekretariat desa, yaitu unsur staf yang diketuai oleh sekretaris desa;

Unsur pelaksana kewilayahan, yaitu pembantu kepala desa di

wilayah kerjanya seperti kepala dusun;

Unsur pelaksana teknis, yaitu pembantu kepala desa yang

melaksanakan urusan teknis di lapangan seperti urusan pengairan,

keagamaan, dan lain-lain; (Nurcholis, Hanif 2011:73).

a. Kewenangan Pemerintah Desa

Dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pembangunan

desa baik kepala desa, perangkat desa dan badan permusyawaratan desa memiliki

sejumlah kewenagan diantaranya sebagai berikut:

1) Tugas dan Wewenang Kepala Desa

Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan kebijakan yang

ditetapkan bersama BPD;

Page 36: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

20

Mengajukan rancangan peraturan desa;

Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD;

Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APBDes

untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD;

Membina kehidupan masyarakat desa;

Membina perekonomian desa;

Mengkoordinasikan pembangunan secara partisipatif;

Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk

kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-

undangan.

2) Tugas dan Wewenang Badan Permusyawaratan Desa

Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa;

Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan

peraturan kepala desa;

Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa;

Membentuk panitia pemilihan kepala desa;

Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan, dan menyalurkan

aspirasi masyarakat; dan

Menyusun tata tertib BPD (Chozin, M. A. dkk 2013: 41-42).

3. Anggaran Keuangan Desa (APBDes)

Anggaran pendapatan dan belanja desa adalah rencana keuangan desa dalam

satu tahun yang memuat perkiraan pendapatan, rencana belanja program dan

Page 37: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

21

kegiatan, dan rencana pembiayaan yang dibahas dan disetujui bersama oleh

pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa, dan ditetapkan dengan

peraturan desa. Dimana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa terdiri atas:

a. Pendapatan Desa

Pendapatan desa merupakan semua penerimaan desa baik yang bersumber

dari desa sendiri maupun dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat dan

pemerintah kabupaten/kota yang masuk ke rekening kas desa dalam satu tahun

anggaran. Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Aman Sukarso (2001)

dengan judul Pengaruh pendapatan desa dan kelancaran pemerintahan desa serta

implikasinya terhadap kesejahteraan masyarakat desa di Kabupaten Serang.

Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa pengaruh faktor pendapatan

desa terhadap kelancaran pemerintahan desa dan implikasinya terhadap

kesejahteraan masyarakat adalah signifikan. Dimana faktor pendapatan desa

memberikan kontribusi sebesar 36% kepada faktor kelancaran pemerintahan desa

dan sebanyak 26% untuk kesejahteraan masyarakat. Sementara faktor kelancaran

pemerintahan desa memberikan kontribusi sebesar 32% terhadap kesejahteraan

masyarakat.

Selanjutnya, merupakan penelitian yang dilakukan oleh Eko Prasetyanto

(2012) mengenai Dampak alokasi dana desa pada era desentralisasi fiskal

terhadap perekonomian daerah di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

simulasi afirmatif dengan memberikan ADD sebesar 500 juta rupiah per desa

dengan menambah 5 desa per Kabupaten/kota di daerah tertinggal ternyata

Page 38: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

22

memberikan hasil yang paling baik dalam mengurangi kesenjangan antar daerah

dan jumlah penduduk miskin di perdesaan.

Dimana persamaan penelitian yang dimiliki antara penelitian terdahulu

dengan penelitian yang akan dilakukan ini yakni sama-sama melihat adanya

pengaruh pendapatan dalam peningkatan perekonomian desa. Adapun

perbedaannya, penelitian yang dilakukan oleh Eko Prasetyanto (2012)

menggunakan momentum dari peningkatan sumber pendapatan desa yang berasal

dari alokasi dana desa dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 72

Tahun 2005 tentang Desa. Sementara penelitian ini ingin mengkaji mengenai

dampak peningkatan pendapatan desa dari dialokasikannya dana desa oleh

pemerintah pusat untuk desa berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun

2014 tentang Desa. Adapun sumber pendapatan desa menurut UU No.6 Tahun 2014

pasal 72 ayat 1 terdiri atas:

1) Pendapatan Asli Desa (PADes)

Pendapatan asli desa merupakan semua jenis pendapatan yang berasal dari

sumber-sumber yang dimiliki oleh desa tersebut, dimana pendapatan asli desa

meliputi:

(a) Hasil Usaha Desa

Merupakan sumber pendapatan desa yang berasal dari usaha-usaha desa,

dimana usaha-usaha tersebut berguna untuk meningkatkan aktivitas ekonomi di

desa. Adapun macam usaha desa diantaranya pendirian Badan Usaha Milik Desa,

koperasi, pasar desa, perkebunan desa, tempat pelelangan ikan, objek wisata yang

Page 39: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

23

dikelola oleh desa. Namun, penting untuk diperhatikan dalam memilih usaha yang

akan dibangun pemerintah desa harus cermat dan teliti dalam pemilihan usaha, ini

dikarenakan agar usaha yang telah dibangun tersebut dapat bermanfaat bagi

peningkatan pendapatan desa bukan sebaliknya mengalami kerugian atau tidak

dimanfaatkan.

(b) Hasil Kekayaan Desa

Khusus yang menyangkut kekayaan desa, tanah mempunyai peranan yang

sangat penting ini dikarenakan dari tanah dapat diperoleh hasil yang memadai

sebagai sumber pendapatan desa. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur hampir semua

desa mempunyai harta benda berupa tanah banda desa dan tanah bengkok. Tanah

banda desa adalah tanah komunal milik masyarakat desa yang diperuntukkan untuk

membiayai pembangunan dan pemeliharaan desa. Sedangkan tanah bengkok adalah

tanah komunal milik masyarakat desa yang diperuntukkan sebagai honor/gaji pada

pengurus desa selama menjabat.

Hasil kekayaan desa dapat berupa tanah kas desa, perkebunan desa, tanah

gembalaan, kolam ikan, hutan produksi desa (jati, damar, rotan), taman wisata alam

hutan/forest ecoturisme. Di samping memiliki tanah, kekayaan desa lainnya dapat

berupa perikanan, danau/rawa, pelabuhan, dermaga, terminal desa, dan lain

sebagainya. Dimana dalam pengaturan dan pengurusan mengenai kekayaan desa

dibuat sendiri oleh masyarakat desa yang bersangkutan.

Page 40: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

24

(c) Hasil Swadaya dan Partisipasi

Maksud dari hasil swadaya dan partisipasi masyarakat desa adalah

sumbangan warga desa dalam setiap pembangunan. Dimana bentuk swadaya dan

partisipasi masyarakat dapat berupa:

Penggunaan gotong royong masyarakat;

Subtitusi gotong royong berupa penggantian tenaga dengan uang bagi warga

yang tidak bisa hadir pada waktu yang ditetapkan sesuai dengan jadwal

gotong royong;

Sumbangan dari masyarakat desa dalam bentuk bahan bangunan, bahan

makanan, dan hasil bumi yang berdasarkan hasil musyawarah dapat dilelang

untuk dijadikan uang;

Lain-lain yang dapat digolongkan swadaya partisipasi masyarakat

(Suwignjo, 1986:220).

(d) Hasil Gotong Royong

Gotong royong adalah bentuk kerjasama yang spontan dan sudah

melembaga serta mengandung unsur-unsur timbal balik yang bersifat sukarela

antara warga desa dan antara warga desa dengan pemerintah desa untuk memenuhi

kebutuhan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sebagai

salah satu sumber pendapatan desa, gotong royong yang timbul dikarenakan

kerjasama antara warga desa dengan pemerintah desa dapat berupa:

Pembangunan jalan desa;

Pembangunan balai musyawarah;

Page 41: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

25

Lapangan olahraga;

Penanaman tanaman produktif;

Pembuatan kolam pembibitan ikan, dan lain-lain.

Hasil dari gotong royong tersebut oleh pemerintah desa dapat dimanfaatkan

sebagai sumber pendapatan desa, baik dalam bentuk pungutan desa, hasil penjualan

maupun penyewaan kekayaan desa.

(e) Pungutan Desa

Pungutan desa adalah pungutan yang berupa uang maupun benda atau

barang yang dilakukan oleh pemerintah desa terhadap masyarakat desa dan

perusahaan yang berada di wilayah desa berdasarkan pertimbangan kemampuan

sosial ekonomi masyarakat di desa yang ditetapkan melalui peraturan desa dalam

rangka peningkatan penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan

masyarakat desa. Dimana jenis pungutan desa, baik bentuk maupun besarannya

berbeda-beda di tiap desa.

Adapun yang perlu diperhatikan oleh pemerintah desa dalam menentukan

jenis pungutan desa yakni apabila sumber pendapatan daerah yang berada di desa

sudah dipungut oleh pemerintah provinsi atau kabupaten/kota, maka pemerintah

desa tidak dibenarkan untuk melakukan pungutan tambahan baik berupa pajak atau

retribusi.

Page 42: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

26

2) Transfer dari Pemerintah Pusat

Dalam hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah transfer

merupakan inti dari desentralisasi fiskal atau dapat dikatakan transfer merupakan

elemen inti dari keuangan daerah. Dimana transfer tidak dapat dikatakan baik atau

buruk, karena yang menjadi permasalahan sebenarnya terletak pada pengaruhnya

terhadap hasil-hasil kebijakan yang dilaksanakan, seperti efisiensi lokal,

pemerataan distribusi, dan stabilitas makroekonomi. Terdapat tiga jenis cara dasar

untuk menetapkan jumlah dana yang perlu di distribusikan ke daerah-daerah

melalui transfer fiskal antarpemerintahan yaitu:

Menurut persentase tetap dari penerimaan pemerintah pusat;

Mengikuti suatu dasar ad hoc, yaitu dengan cara yang sama seperti untuk

jenis-jenis pengeluaran anggaran yang lain;

Dasar formula, yaitu menurut persentase dari pengeluaran-pengeluaran

daerah tertentu yang dibayar oleh pusat, atau yang berhubungan dengan

beberapa ciri umum daerah penerima (Bird dan Vaillancourt, 2000:42).

Tujuan diberikannya transfer oleh pemerintah pusat (tingkatan pemerintah

yang lebih tinggi) salah satunya adalah untuk mengatasi ketidakseimbangan fiskal.

Ketidakseimbangan fiskal terkait dengan ketidaksesuaian antara pendapatan yang

diperoleh daerah dengan kebutuhan belanja daerah, dimana umumnya jumlah

pengeluaran daerah lebih besar dibandingkan pendapatan.

Ketidakseimbangan fiskal dibagi menjadi dua yakni ketimpangan fiskal

vertikal (antara tingkatan level pemerintahan) dan ketimpangan fiskal horizontal

Page 43: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

27

(antara daerah-daerah administratif). Dimana ketimpangan fiskal vertikal terjadi

dikarenakan pemerintah pusat memiliki kendali yang dominan dalam

mengumpulkan sumber-sumber penerimaan dibandingkan daerah. Sedangkan

ketimpangan horizontal terjadi disebabkan oleh faktor-faktor seperti budaya,

geografis, kelembagaan, sejarah, dan sumber daya alam yang dimiliki tiap-tiap

daerah. Dimana intergovermental transfer (transfer dana pemerintah pusat kepada

pemerintah daerah) yang diperuntukkan bagi desa yakni berupa dana desa.

(a) Dana Desa

Merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan

kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam memberikan bantuan/transfer kepada pemerintah daerah umumnya

pemerintah pusat menerapkan pola-pola pengalokasian dana menggunakan dasar

formula, yaitu persentase dari pengeluaran-pengeluaran daerah tertentu yang

dibayar oleh pusat, atau yang berhubungan dengan beberapa ciri umum daerah

penerima. Dalam kasus dana desa, perhitungan formula didasarkan pada jumlah

penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis setiap

desa (PMK Nomor 93/PMK.07/2015 pasal 7 ayat 2 huruf b). Dimana perhitungan

rincian dana desa setiap desa dilakukan dengan menggunakan formula sebagai

berikut:

Page 44: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

28

W = (0,25xZ1) + (0,35xZ2) + (0,10xZ3) + (0,30xZ4)

Keterangan:

W = Dana desa setiap desa yang dihitung berdasarkan jumlah penduduk,

angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis setiap desa.

Z1 = Rasio jumlah penduduk setiap desa terhadap total penduduk desa

Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

Z2 = Rasio jumlah penduduk miskin desa setiap terhadap total penduduk

miskin desa Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

Z3 = Rasio luas wilayah desa setiap terhadap luas wilayah desa

Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

Z4 = Rasio IKG setiap desa terhadap total Indeks Kesulitan Geografis desa

Kabupaten/Kota yang bersangkutan (PMK Nomor 93/PMK.07/2015, pasal

9 ayat 3). Adapun sumber data diperoleh dari kementrian yang berwenang

dan/atau lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang

statistik.

3) Transfer dari Pemerintah Kabupaten/Kota

Transfer dari pemerintah Kabupaten/Kota dimaksudkan untuk menunjang

transfer pemerintah pusat ke desa untuk membiayai kegiatan pembangunan di desa.

Adapun dalam rangka mewujudkan percepatan pembangunan desa, maka penting

untuk meningkatkan sumber-sumber pendapatan desa. Dimana transfer dari

pemerintah Kabupaten/Kota kepada pemerintah desa terdiri dari:

Page 45: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

29

(a) Alokasi Dana Desa

Alokasi dana desa merupakan transfer yang diberikan pemerintah

Kabupaten/Kota kepada pemerintah desa, dimana alokasi dana desa berasal dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota yang bersumber dari

dana perimbangan yang diberikan pemerintah pusat ke daerah. Berdasarkan PP

No.43 Tahun 2014 pasal 96 ayat 2 jumlah minimum Alokasi dana desa yang

diberikan pemerintah daerah ke desa yakni sebesar 10% dari dana perimbangan

yang diterima Kabupaten/Kota dalam APBD setelah dikurangi DAK.

Adapun rumus yang dipergunakan dalam menghitung besaran ADD yang

diterima setiap desa harus berdasarkan asas merata dan adil. Asas merata, yaitu

besarnya bagian alokasi dana desa yang sama untuk setiap desa, yang selanjutnya

disebut Alokasi Dana Desa Minimal (ADDM). Sedangkan asas adil, yaitu besarnya

bagian alokasi dana desa untuk setiap desa berdasarkan nilai bobot desa (BDx) yang

dihitung dengan rumus dan variabel tertentu (misalnya variabel kemiskinan,

keterjangkauan, pendidikan, kesehatan dll), selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa

Proporsional (ADDP). Besarnya persentase perbandingan antara asas merata dan

adil ditetapkan oleh masing-masing daerah berdasarkan peraturan Bupati/Walikota.

Misalnya, besar ADDM adalah 60% dari jumlah ADD dan besarnya ADDP adalah

40% dari jumlah ADD (Nurcholis, Hanif 2011:89).

Selanjutnya, dalam pengalokasian mengenai ADD pemerintah daerah akan

mempertimbangkan salah satunya kebutuhan penghasilan tetap (SilTap) kepala

Page 46: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

30

desa dan perangkat desa. Pengalokasian ADD untuk penghasilan tetap kepala

daerah dan perangkat desa menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Alokasi dana desa yang berjumlah kurang dari 500.000.000 digunakan

maksimal 60%;

Alokasi dana desa yang berjumlah 500.000.000 sampai dengan 700.000.000

digunakan maksimal 50%;

Alokasi dana desa yang berjumlah 700.000.000 sampai dengan 900.000.000

digunakan maksimal 40%; dan

Alokasi dana desa yang berjumlah lebih dari 900.000.000 digunakan

maksimal 30%.

Dimana pengalokasian batas maksimal tersebut ditetapkan dengan

mempertimbangkan efisiensi, jumlah perangkat, kompleksitas tugas pemerintahan

dan letak geografis (PP No.43 Tahun 2014 pasal 81).

(b) Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Kabupaten/Kota

Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau

badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat

dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang

digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan

pembangunan daerah. Macam/jenis pajak yang menjadi wewenang pemerintah

Kabupaten/Kota diantaranya pajak hotel; pajak restoran; pajak reklame; pajak

hiburan; pajak parkir; pajak air tanah; pajak bumi dan bangunan perdesaan dan

perkotaan; pajak bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan.

Page 47: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

31

Sedangkan retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai

pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau

diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Jenis retribusi daerah mencakup retribusi pelayanan kesehatan; retribusi pasar;

retribusi tempat pelelangan; retribusi terminal; retribusi pelayanan pelabuhan;

retribusi izin mendirikan bangunan dan lain-lain.

Dimana pemerintah Kabupaten/Kota mengalokasikan sebagian dari hasil

pajak dan retribusi daerah Kabupaten/Kota kepada desa paling sedikit 10% dari

penerimaan hasil pajak dan retribusi daerah. Pengalokasian bagian dari hasil pajak

dan retribusi daerah tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

60% dibagi secara merata kepada seluruh desa; dan

40% dibagi secara proporsional realisasi penerimaan hasil pajak dan

retribusi dari desa masing-masing.

Ketentuan mengenai tata cara pengalokasian bagian dari hasil pajak dan

retribusi daerah Kabupaten/Kota kepada desa diatur berdasarkan peraturan

Bupati/Walikota (PP No.43 Tahun 2014 pasal 97).

4) Bantuan Anggaran dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten

Pemerintah daerah Provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota dapat

memberikan bantuan keuangan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan

belanja daerah Provinsi dan anggaran pendapatan dan belanja Kabupaten/Kota

kepada desa. Berdasarkan PP No.43 Tahun 2014, jenis bantuan tersebut dibagi

dalam bentuk bantuan keuangan yang bersifat umum dan khusus. Dimana bantuan

Page 48: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

32

keuangan yang bersifat umum diperuntukkan dan penggunannya diserahkan

sepenuhnya kepada desa penerima bantuan dalam rangka membantu pelaksanaan

tugas pemerintah daerah di desa. Sedangkan bantuan keuangan yang bersifat khusus

peruntukkan dan pengelolaannya ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi

bantuan dalam rangka percepatan pembangunan desa dan pemberdayaan

masyarakat desa.

5) Hibah dan Sumbangan dari Pihak Ketiga

Merupakan sumber penerimaan desa yang berasal dari pemerintah pusat,

pemerintah daerah, lembaga/dinas atau perseorangan yang tidak perlu dibayar

kembali oleh pemerintah desa. Hibah digunakan untuk mendukung pelaksanaan

pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Dimana pemberian hibah dapat

berupa dana, barang maupun jasa termasuk tenaga ahli atau pelatihan.

b. Belanja Desa

Semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa

dalam satu tahun anggaran meliputi belanja rutin dan belanja pembangunan.

Belanja desa yang ditetapkan dalam APBDes digunakan dengan ketentuan paling

sedikit 70% dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai

penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan

kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa; sedangkan paling

banyak 30% dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk penghasilan tetap

kepala desa dan perangkat desa, operasional pemerintah desa, serta tunjangan dan

operasional badan permusyawaratan desa.

Page 49: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

33

Berdasarkan penelitian terdahulu dari Yurianto (2012) mengenai Dampak

investasi dan pengeluaran pemerintah terhadap kinerja perekonomian daerah

pada era otonomi, menunjukkan bahwa dengan adanya investasi dan belanja

pemerintah daerah berpengaruh pada peningkatan pendapatan asli daerah, kapasitas

fiskal, pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, IPM dan penurunan jumlah

penduduk miskin. Dimana yang perlu diperhatikan, peningkatan investasi dan

belanja pemerintah daerah menunjukkan besaran yang bervariasi antar wilayah.

Berikutnya, merupakan penelitian yang dilakukan oleh Murohman (2014)

yang berjudul Analisis dampak perubahan alokasi investasi pemerintah daerah

tehadap pengentasan kemiskinan di Kalimantan Barat. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa alokasi investasi pemerintah daerah yang memperhatikan

tingkat kemiskinan sektoral secara proporsional lebih efektif dalam menurunkan

tingkat kemiskinan, dimana penerapannya akan berdampak pada peningkatan

output dan penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi.

Persamaan penelitian yang dimiliki antara penelitian terdahulu dengan

penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yakni bahwa untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat maka diperlukan peningkatan kapasitas fiskal daerah. Ini

penting, dikarenakan pengeluaran daerah merupakan fungsi dari penerimaan

daerah. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian

terdahulu yakni penelitian ini menganalisis dampak peningkatan pendapatan desa

(momentum dana desa) terhadap peningkatan pengeluaran pemerintah desa.

Dimana belanja desa terdiri atas:

Page 50: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

34

1) Belanja Langsung

Merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan

pelaksanaan program dan kegiatan. Dimana belanja langsung terdiri atas:

(a) Belanja Pegawai

Merupakan pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program

dan kegiatan pemerintahan di desa.

(b) Belanja Barang dan Jasa

Merupakan pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai

manfaatnya kurang dari duabelas bulan dan/atau pemakaian jasa dalam

melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan desa. Belanja barang dan jasa

mencakup belanja barang pakai habis, bahan/material, perawatan kendaraan

bermotor, cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung, sewa alat berat, jasa

pemeliharaan, ongkos perjalanan dinas dan lain-lain.

(c) Belanja Modal

Pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau

pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari

duabelas bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan seperti dalam bentuk

tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan

aset tetap lainnya.

Page 51: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

35

2) Belanja Tidak Langsung

Merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan

pelaksanaan program dan kegiatan. Adapun kelompok belanja tidak langsung

meliputi:

(a) Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap

Merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta

penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

(b) Belanja Subsidi

Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga tertentu yang

bertujuan untuk membantu biaya produksi agar harga jual produksi/jasa yang

dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat.

(c) Belanja Hibah

Digunakan untuk menganggarkan pemberian uang/barang atau jasa kepada

pemerintah daerah, perusahaan daerah, dan kelompok masyarakat/perorangan yang

secara spesifik telah ditetapkan peruntukkannya. Dimana hibah bersifat tidak wajib

dan tidak mengikat serta tidak dianggarkan secara terus-menerus ( tidak setiap

tahun dianggarkan dalam APBDes).

Page 52: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

36

(d) Belanja Bantuan Sosial

Pemberian bantuan yang sifatnya tidak terus-menerus dan selektif dalam

bentuk uang/barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan

kesejahteraan masyarakat.

(e) belanja Tidak Terduga

Belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan

berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak

diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan dari

tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.

c. Pembiayaan Desa

Merupakan seluruh transaksi keuangan pemerintah desa, baik penerimaan

maupun pengeluaran, yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan

diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun pada tahun

anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah desa terutama

dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.

Pembiayaan desa terdiri atas:

1) Penerimaan Pembiayaan

Semua penerimaan yang masuk ke rekening kas desa yang berasal dari

penerimaan pinjaman, hasil penjualan kekayaan desa, pencairan dana cadangan dan

SiLPA. Dimana penerimaan pembiayaan desa mencakup:

Page 53: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

37

(a) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Sebelumnya

Sisa lebih perhitungan anggaran adalah selisih lebih realisasi penerimaan

dan pengeluaran APBDes selama satu periode pelaporan. SiLPA berasal dari

pelampauan penerimaan pendapatan terhadap belanja, penghematan belanja dan

sisa dana kegiatan lanjutan. Dimana SiLPA dapat digunakan oleh pemerintah desa

diantaranya untuk menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih

kecil daripada realisasi belanja; mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan; dan

mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum

diselesaikan.

(b) Pencairan Dana Cadangan

Dana cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan

yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun

anggaran. Pembentukan dana cadangan menggunakan rekening yang terpisah dari

rekening kas desa (ditempatkan pada rekening tersendiri). Dana cadangan dapat

bersumber dari penyisihan atas pendapatan desa maupun dari pinjaman desa.

Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan pencairan dana

cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas desa dalam tahun anggaran

berjalan.

(c) Hasil Penjualan Kekayaan Desa yang Dipisahkan

Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan adalah penerimaan desa

yang bersumber dari hasil penjualan aset desa yang dipisahkan dari kekayaan desa,

misalnya penjualan Badan Usaha Milik Desa. Dimana hasil penjualan kekayaan

Page 54: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

38

desa yang dipisahkan digunakan untuk menganggarkan hasil penjualan kekayaan

desa yang dipisahkan.

(d) Penerimaan Pinjaman

Pinjaman desa adalah semua transaksi yang mengakibatkan desa menerima

sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga

desa dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Adapun penerimaan yang

bersumber dari pinjaman desa berasal dari bank pemerintah, bank swasta dan

pinjaman lainnya.

2) Pengeluaran Pembiayaan

Merupakan semua pengeluaran dari rekening kas desa yang digunakan oleh

pemerintah desa untuk pembentukan dana cadangan, penyertaan modal desa, dan

pembayaran utang. Dimana pengeluaran pembiayaan desa mencakup:

(a) Pembentukan Dana Cadangan

Dana cadangan merupakan dana yang disisihkan untuk menampung

kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam

satu tahun anggaran. Pembentukan dana cadangan diatur dalam peraturan daerah,

dimana dalam pembentukan dana cadangan harus mencakup mengenai tujuan dari

pembentukan dana cadangan, program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana

cadangan, besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan

di transfer ke rekening dana cadangan, sumber dana cadangan, dan tahun anggaran

pelaksanaan dana cadangan. Pembentukan dana cadangan dapat diklasifikasikan

menurut tujuan pembentukannya, misalnya dana cadangan untuk pembangunan

Page 55: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

39

jembatan, dana cadangan untuk pembangunan gedung, dana cadangan untuk

penyelenggaraan pemilihan kepala desa, dan lain-lain.

(b) Penyertaan Modal Desa

Penyertaan modal adalah pengalihan kepemilikan aset milik desa yang

semula merupakan kekayaan yang tidak terpisahkan menjadi kekayaan yang

dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham desa pada Badan Usaha

Milik Desa. BUMDes sendiri merupakan lembaga usaha desa yang dikelola oleh

pemerintah desa dengan modal seluruhnya atau sebagian milik pemerintah desa

atau yang diperoleh dari kekayaan desa yang dipisahkan. Adapun penyertaan modal

desa bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta

memperoleh manfaat ekonomis berupa peningkatan perekonomian desa dan

peningkatan pendapatan asli desa yang diatur berdasarkan peraturan desa.

(c) Pembayaran utang

Utang desa adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah desa

dan/atau kewajiban pemerintah desa yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan

peraturan desa, perjanjian, atau berdasarkan sebab lainnya yang sah. Pembayaran

utang dilakukan berdasarkan jatuh tempo pembayaran yang telah disepakati

sebelumnya. Dimana pembayaran utang pemerintah desa dianggarkan dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

Page 56: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

40

4. Multiplier Effects Ekonomi

Multiplier effects (efek pengganda) adalah suatu kegiatan ekonomi dimana

dari kegiatan tersebut dapat memicu timbulnya kegiatan ekonomi lain. Adapun

kegunaan dari menghitung multiplier effects adalah untuk mengetahui seberapa

besar peran suatu sektor terhadap perekonomian yang dapat dilihat dari

meningkatknya/tersedia lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan rumah

tangga, perusahaan dan pemerintah serta timbulnya usaha-usaha baru.

Pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung multiplier effects salah

satunya dengan analisis sistem neraca sosial ekonomi. Menurut Pyatt and Round

(1990) SNSE merupakan suatu kerangka data yang bersifat keseimbangan umum

(general equlibrium) yang dapat menggambarkan perekonomian secara

menyeluruh dan dapat menghubungkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam

suatu wilayah yang bersangkutan (Daryanto, 2010:159). Dimana kelebihan dari

model SNSE adalah mampu menggambarkan arus distribusi pendapatan yang dapat

ditelusuri melalui arus perputaran kegiatan ekonomi (circulair flow of economic

activity).

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yundy Hafizrianda (2007)

mengenai Dampak pembangunan sektor pertanian terhadap distribusi pendapatan

dan perekonomian regional Provinsi Papua: Suatu analisis model sistem neraca

sosial ekonomi, menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang memiliki peran penting

terhadap distribusi pendapatan nilai tambah dan rumah tangga di Provinsi Papua

adalah sektor perkebunan dan kehutanan. Sementara sektor ekonomi yang paling

besar peranannya terhadap distribusi pendapatan sektoral adalah industri makanan

Page 57: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

41

dan minuman. Berikutnya, penelitian yang dilakukan oleh Rakhmat Prabowo

(2015) dengan judul penelitian Dampak pengembangan subsektor perternakan

terhadap perekonomian Indonesia: Analisis sistem neraca sosial ekonomi,

menunjukkan bahwa pengembangan subsektor perternakan mempunyai dampak

posistif terhadap peningkatan produksi perternakan domestik dan juga dalam

memperbaiki distribusi pendapatan rumah tangga pertanian-non pertanian.

Adapun yang membedakan antara penelitian yang dilakukan peneliti

dengan penelitian-penelitian terdahulu diantaranya adalah cakupan wilayah,

dimana dalam penelitian terdahulu cakupan wilayah yang digunakan yakni pada

tingkat Provinsi dan tingkat Nasional. Sementara, penelitian ini menggunakan

cakupan yang lebih sempit yakni pada tingkat desa. Perbedaan selanjutnya,

penelitian yang dilakukan oleh Hafizrianda (2007) menempatkan institusi

pemerintah ke dalam neraca endogen, sementara penelitian ini menempatkan blok

institusi pemerintah ke dalam neraca eksogen dikarenakan, peneliti ingin

mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap kinerja masing-masing

blok yang ada pada model SNSE.

Sementara itu, penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rahmanta (2006)

yang berjudul Dampak pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan dan

distribusi pendapatan di Sumatera Utara: Pendekatan sistem neraca sosial

ekonomi, menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah setelah diberlakukannya

kebijakan desentralisasi fiskal memberikan dampak yang lebih besar terhadap

sektor produksi, institusi rumah tangga, dan nilai tambah faktor produksi jika

dibandingkan pada sebelum diberlakukannya kebijakan desentralisasi fiskal.

Page 58: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

42

Dimana persamaan penelitian yang dimiliki antara penelitian yang akan

dilakukan peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmanta (2006) adalah

kesamaan dalam menganalisis dampak pengeluaran pemerintah terhadap distribusi

pendapatan adapun perbedaannya, Rahmanta (2006) menggunakan pengeluaran

pemerintah (APBD) yang mencakup pengeluaran rutin dan pengeluaran

pembangunan. Sementara penelitian yang akan dilakukan peneliti hanya

menggunakan pengeluaran APBDes bidang pembangunan infrastruktur sebagai

variabel eksogen. Secara keseluruhan, yang membedakan antara penelitian yang

akan dilakukan peneliti dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah penelitian ini

menggunakan data primer yang diperoleh dari studi lapangan berbeda dengan

penelitian terdahulu yang menggunakan data sekunder yang bersumber dari BPS

dan instansi pemerintah.

5. Kebocoran Wilayah

Doeksen dan Charles (1969) mendefinisikan kebocoran wilayah sebagai

jumlah perubahan total output sebagai hasil perubahan satu dolar pada permintaan

akhir yang tidak terhitung pada suatu wilayah dikarenakan terkait dengan impor,

atau jumlah pendapatan baru yang tidak dihasilkan di dalam suatu wilayah sebaagi

akibat kenaikan satu dolar pada pendapatan karena adanya impor. Selanjutnya

Bendavid (1991) menjelaskan bahwa kebocoran adalah tipe pengeluaran yang tidak

meningkatkan tambahan pendapatan domestik seperti pada pengeluaran pembelian

barang-barang yang berasal dari impor, termasuk pembelian yang dilakukan di luar

wilayah, pengeluaran untuk pajak, tabungan, dan sejenisnya dimana pada kegiatan

Page 59: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

43

pengeluaran tersebut tidak menghasilkan arus peningkatan pendapatan bagi

masyarakat dan wilayah (Aris, Ahmad 2011:31).

Proses terjadinya kebocoran wilayah dapat ditelusuri dalam model dasar

arus melingkar pendapatan nasional (circular flow of national income model),

dimana semua pendapatan yang diterima oleh rumah tangga dibelanjakan untuk

konsumsi saat ini. Dalam model arus melingkar pendapatan yang diperluas,

sebagian dari pendapatan yang diterima oleh rumah tangga ditabung, sebagian

digunakan untuk membayar pajak dan sebagian dibelanjakan untuk barang dan jasa

yang di impor. Pada kondisi ini tabungan (saving), pajak (taxation) dan impor

(import) merupakan penarikan atau kebocoran arus pembelanjaan pendapatan

(Bendavid dalam Aris, Ahmad 2011:31).

Adapun kerugian yang ditimbulkan dari adanya kebocoran wilayah

(regional leakages) yakni dapat mendorong tingginya angka kemiskinan dan

ketimpangan ekonomi antar wilayah terutama antara wilayah maju dengan wilayah

tertinggal.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ahmad Aris (2011) dengan judul

penelitian Dampak pengembangan perkebunan kelapa rakyat terhadap kemiskinan

dan perekonomian Kabupaten Indragiri Hilir, menunjukkan bahwa untuk hasil

penelitian mengenai kebocoran wilayah sektor perkebunan kelapa memiliki

indikasi kebocoran yang tinggi terutama pada aliran pendapatan modal dan tenaga

kerja yang ke luar wilayah. Untuk kebocoran wilayah pada aliran tenaga kerja

paling banyak berasal dari industri kelapa skala besar (swasta) dikarenakan tenaga

Page 60: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

44

kerja yang digunakan pada level pimpinan dan staf umumnya merupakan orang

yang berasal dari luar wilayah. Sedangkan kebocoran wilayah aliran modal (capital

outflow) paling tinggi juga berasal dari industri kelapa skala besar (swasta)

dibandingkan dengan industri kelapa skala rumah tangga ini disebabkan investor

pada industri kelapa skala besar dominan merupakan investor asing (investor asal

Singapura). Sehingga pendapatan modal yang dihasilkan tidak diinvestasikan

kembali pada wilayah tersebut melainkan dilarikan ke luar wilayah.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Tabrani (2013) mengenai

Analisis kebocoran wilayah dalam pembangunan sektor pertambangan di

Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa peran sektor pertambangan terhadap perekonomian di Musi Rawas tinggi

dimana sektor pertambangan memiliki kontribusi terbesar kedua setelah sektor

pertanian dalam penciptakan NTB/PDRB. Akan tetapi, kebocoran wilayah pada

sektor pertambangan sangat tinggi, dimana yang paling merasakan dampak

pertumbuhan ekonomi adalah pemilik modal dan pengusaha serta keterkaitan sektor

pertambangan dengan sektor-sektor lainnya belum berkembang baik.

Adapun persamaan penelitian yang dimiliki antara penelitian terdahulu

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yakni sama-sama ingin

mengetahui potensi dan indikasi kebocoran wilayah. Semakin tinggi angka

kebocoran wilayah maka akan berdampak pada besarnya potensi multiplier

pendapatan yang hilang. Dimana untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang

disertai distribusi pendapatan yang merata perlu adanya upaya-upaya untuk

menekan kebocoran wilayah.

Page 61: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

45

B. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan visi dan misi Joko Widodo dan Jusuf Kalla tahun 2014 yang

dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-

2019, dimana salah satu program prioritas pembangunan yang tertuang dalam

NAWACITA adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat

daerah-daerah dan desa-desa dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demi tercapainya pemerataan pembangunan antar wilayah khususnya antar

wilayah perkotaan dan perdesaan.

Dengan dialokasikannya anggaran untuk desa pada APBN 2015 sebesar Rp

20,766 Triliun (Nota Keuangan dan APBNP 2015) akan meningkatkan pendapatan

desa. Meningkatnya pendapatan desa melalui dana transfer yang diberikan

pemerintah pusat dalam bentuk dana desa akan meningkatkan konsumsi pemerintah

desa dalam membiayai kegiatan-kegiatan di bidang prioritas pembangunan desa

khususnya pembangunan infrastruktur. Dimana peningkatan konsumsi pemerintah

desa pada pembangunan infrastruktur desa berdampak pada meningkatnya

kesejahteraan masyarakat desa.

Penelitian ini mencoba menganalisis dampak pengeluaran pemerintah

bidang pembangunan infrastruktur desa terhadap pengembangan wilayah yang

meliputi perekonomian desa, distribusi pendapatan serta potensi dan indikasi

kebocoran wilayah dari aktivitas ekonomi tersebut.

Page 62: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

46

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

APBDes

Pengeluaran Pemerintah Desa

Bidang Pembangunan Infrastruktur

Pengembangan Wilayah

Perekonomian

Desa

Distribusi

Pendapatan

Analisis SNSE

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Kebocoran

Wilayah

Page 63: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

47

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah perencanaan wilayah desa dengan

menganalisis pengembangan wilayah dari pengeluaran pemerintah desa bidang

pembangunan infrastruktur. Penelitian ini menggunakan paradigma non-positive

dengan pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif, dimana pendekatan

kuantitatif digunakan untuk mengetahui peran pengeluaran pemerintah desa bidang

infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan dan indikasi

kebocoran wilayah di desa. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan

sekunder dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada

responden.

Sementara, penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-

temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.

Penelitian kualitatif mampu memberikan hasil yang lebih mendalam dan kompleks

tentang suatu fenomena yang tidak mampu dijelaskan oleh penelitian kuantitatif.

Hasil temuan penelitian kualitatif lebih menekankan kepada pemahaman makna

yang mendalam daripada sekedar generalisasi. Informan dalam penelitian ini adalah

seseorang yang dapat menjelaskan serta memberikan keterangan yang dianggap

mengetahui dengan jelas mengenai proses pembangunan infrastruktur di desa

Waringin Jaya serta beberapa informan yang berasal dari responden dipilih untuk

menjelaskan dampak ekonomi yang dirasakan dari pengeluaran pemerintah desa di

bidang pembangunan infrastruktur. Jenis data yang digunakan adalah data primer

Page 64: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

48

dan sekunder dengan metode pengumpulan data menggunakan wawancara semi-

struktur kepada informan.

Adapun penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana metode

deskriptif merupakan suatu metode/teknik dalam meneliti status sekelompok

manusia, objek, kondisi maupun peristiwa yang terjadi. Metode deskriptif

merupakan pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Selain itu, metode

deskriptif memiliki tujuan membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat, dan hubungan antar fenomena

yang diteliti. Hasil analisis deskriptif diharapkan mengambarkan kondisi

sebenarnya (representativeness) dan valid, sehingga kesimpulannya dapat

dipertanggungjawabkan.

B. Metode Penentuan Sampel

Sampel adalah bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut

prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasi yang akan diteliti. Penelitian

ini menggunakan dua teknik penentuan sampel yakni snowball sampling dan

purposive sampling. Snowball sampling merupakan salah satu bentuk judgment

sampling, dimana cara pengambilan sampel dilakukan secara berantai, dari satu

responden yang telah diketahui diteruskan kepada responden berikutnya sesuai

dengan informasi responden sebelumnya. Teknik snowball sampling digunakan

untuk menentukan sampel yang akan diberikan kuesioner mengenai dampak

pembangunan infrastruktur terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Page 65: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

49

Sedangkan purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel yang

meyesuaikan pada tujuan penelitian, dimana dalam penarikan sampel ditentukan

oleh pertimbangan-pertimbangan peneliti berkaitan dengan perlunya memperoleh

informasi yang lengkap dan mencukupi sesuai dengan tujuan atau masalah

penelitian. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan informan

yang akan diwawancarai mengenai proses pembangunan infrastruktur dan dampak

ekonomi yang dirasakan dari pengeluaran pemerintah desa di bidang pembangunan

infrastruktur.

C. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas:

1. Observasi atau Pengamatan

Pencarian data ke lapangan dimulai pada bulan Mei 2017 dimana lokasi

penelitian berada di salah satu desa di Kabupaten Tangerang. Pemilihan desa

tersebut sebagai lokasi penelitian dikarenakan dahulu peneliti pernah melakukan

Kuliah Kerja Nyata (KKN) disana, sehingga peneliti sudah mengenal aparatur

pemerintah desa serta tokoh-tokoh masyarakat di desa itu yang akan memudahkan

peneliti dalam memperoleh izin penelitian. Selama melakukan penelitian, peneliti

tinggal di rumah Mak Oyot salah satu warga desa yang dengan ramah menerima

peneliti tinggal di rumahnya selama seminggu melakukan penelitian.

Pertama-tama yang peneliti lakukan adalah meminta izin kepada kepala

desa untuk melihat laporan pertanggungjawaban (LPJ) APBDes dimana yang

menjadi fokus penelitian adalah belanja desa bidang pelaksanaan pembangunan

Page 66: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

50

desa. Setelah data yang diperlukan terkumpul barulah peneliti melakukan observasi

ke lapangan untuk melihat hasil pembangunan infrastruktur yang dilakukan selama

tahun anggaran 2015. Disaat melakukan pengamatan, peneliti menghadapi sebuah

masalah yang mana ketika peneliti sampaikan dan berdiskusi dengan dosen

pembimbing akhirnya diputuskan untuk mencari lokasi penelitian yang baru.

Dalam menentukan lokasi penelitian yang baru peneliti menggunakan

referensi dari penelitian yang dilakukan oleh Fauzan Ahmad Milad mengenai Gaya

kepemimpinan kepala desa dan tingkat partisipasi masyarakat dalam

pembangunan infrastruktur jalan yang berlokasi di desa Waringin Jaya, Kabupaten

Bogor. Dari beberapa referensi yang peneliti temukan ternyata desa tersebut banyak

dijadikan sebagai lokasi penelitian dengan tema penelitian yang berbeda-beda. Hal

ini menandakan bahwa desa tersebut terbuka kepada mahasiswa yang ingin

melakukan penelitian. Persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Fauzan

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yakni pada pembangunan

infrastruktur desa. Dimana dari penelitian tersebut peneliti memperoleh gambaran

mengenai program pembangunan desa Waringin Jaya. Adapun perbedaannya,

fokus penelitian Fauzan adalah pada gaya kepemimpinan kepala desa dan tingkat

partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan, sedangkan fokus

penelitian ini adalah pada dampak ekonomi yang tercipta dari pembangunan

infrastruktur desa.

Setelah mendapatkan izin penelitian dari pemerintah desa langkah

selanjutnya yang peneliti lakukan adalah melihat laporan pertanggungjawaban

(LPJ) APBDes tahun 2015 khususnya yang menyangkut pembangunan desa. Untuk

Page 67: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

51

tahun 2015 angaran yang disediakan untuk pelaksanaan pembangunan desa sebesar

734.955.500 rupiah. Adapun program pembangunan desa Waringin Jaya terdiri dari

pembangunan jalan desa, pembangunan jalan lingkungan, pembangunan posyandu,

rutilahu dan renovasi kantor desa. Berdasarkan laporan pertanggungjawaban

tersebut dapat diketahui siapa saja (TK dan Unit Usaha) yang memperoleh manfaat

langsung dari pembangunan infrastruktur. Terdapat kurang lebih 80 tenaga kerja

yang bekerja sebagai tukang bangunan dan kenek serta dua unit usaha yaitu TB.

Mekar Jaya Abadi dan perusahaan Jaya Mix yang memperoleh dampak langsung

(direct impact) dari adanya pengeluaran pemerintah desa di bidang pembangunan

infrastruktur.

Sebelum ketahapan selanjutnya, peneliti ingin terlebih dahulu menjelaskan

sedikit mengenai multiplier effects serta cara peneliti menentukan instrumen

penelitian yang akan digunakan untuk menghitung dampak ekonomi (multiplier

effects) dari pengeluaran pemerintah desa bidang infrastruktur. Pertama, dampak

memiliki arti sebagai suatu perubahan yang terjadi akibat adanya suatu aktivitas

dimana dalam hal ini aktivitas tersebut berupa pembangunan insfrastruktur desa.

Pembangunan infrastruktur desa memiliki dampak ekonomi yakni berupa

peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan kesempatan kerja dan peluang

usaha. Intinya multiplier effects adalah suatu kegiatan yang dapat menciptakan

timbulnya kegiatan lain.

Transaksi ekonomi yang terjadi dari pembangunan infrastruktur desa akan

membuat perputaran uang di tingkat desa meningkat. Perputaran uang yang

meningkat akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi desa. Begitulah proses

Page 68: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

52

multiplier effects yang terjadi dari adanya pembangunan infrastruktur desa. Tujuan

perhitungan multiplier adalah untuk mengetahui sejauh mana pengeluaran

pemerintah desa di bidang pembangunan infrastruktur akan menstimulasi

pengeluaran lebih lanjut sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi di desa. Dari

observasi yang telah peneliti lakukan ternyata sejumlah pekerjaan tercipta

walaupun rendah, namun bukan berarti tidak penting untuk dilakukan penelitian

mengingat perputaran uang yang terjadi dari pembangunan infrastruktur desa

sebesar 734.955.500 rupiah. Walaupun sedikit pekerjaan yang tercipta namun dapat

memberikan suatu perubahan besar untuk wilayah dengan ruang lingkup yang kecil

seperti desa.

Terdapat tiga cara untuk menghitung multiplier effects yaitu dengan

menggunakan Keynesian Income Multiplier, Model I-O dan Sistem Neraca Sosial

Ekonomi. Keynesian Income Multiplier merupakan perhitungan multiplier yang

paling sederhana dimana hanya mampu menjelaskan perputaran uang yang terjadi

pada sektor yang menjadi fokus penelitian saja serta tidak bisa menggambarkan

keterkaitan sektor yaitu pengaruh suatu perubahan dalam satu sektor terhadap

sektor-sektor lainnya dalam perekonomian. Model input-output mampu

menjelaskan arus transaksi ekonomi dari sektor produksi ke sektor faktor-faktor

produksi, rumah tangga, pemerintah, perusahaan dan luar negeri tetapi

kelemahannya yakni tidak dapat menggambarkan dengan baik mengenai distribusi

pendapatan rumah tangga dan pendapatan faktorial. Sedangkan model SNSE

sendiri merupakan perluasan dari model I-O, keunggulan model SNSE dibanding

model I-O adalah mampu menggambarkan arus distribusi pendapatan dalam

Page 69: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

53

perekonomian. Oleh karena itu, berdasarkan referensi yang peneliti gunakan

akhirnya peneliti memutuskan untuk menggunakan model SNSE dalam

menghitung multiplier effects dari adanya pembangunan infrastruktur desa.

Berdasarkan hasil penelusuran peneliti, belum ada penelitian yang

menggunakan data primer (studi lapangan) dalam penyusunan tabel SNSE.

Penelitian-penelitian sebelumnya menggunakan tabel SNSE yang dipublikasikan

oleh BPS dengan ditambah sumber-sumber data lainnya untuk membangun tabel

SNSE yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian masing-masing peneliti.

Penelitian ini dapat menggunakan data primer dalam penyusunan tabel SNSE

dikarenakan cakupan wilayah penelitian yang kecil (Desa) sehingga

memungkinkan peneliti untuk menelusuri alur perputaran uang. Selain data primer

dalam penyusunan tabel SNSE peneliti juga menggunakan data sekunder yang

berasal dari LPJ APBDes 2015. Untuk penyusunan kuesionernya peneliti merujuk

pada kuesioner SUSENAS dimana yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pengeluaran-pengeluaran yang mampu untuk ditelusuri alurnya oleh peneliti.

Diketahui bahwa uang akan terus berputar semakin banyak perputaran uang

yang terjadi maka pengaruhnya terhadap perekonomian wilayah akan hilang, maka

itu peneliti menentukan dari responden awal (memperoleh dampak langsung)

peneliti akan menelusuri alur perputaran uangnya hanya sampai lima kali putaran.

Teknik sampling yang peneliti gunakan untuk menelusuri perputaran uang adalah

snowball sampling. Perlu diketahui dalam membelanjakan uangnya seseorang tidak

hanya membelanjakan di satu tempat saja melainkan ke banyak tempat, maka itu

peneliti memilih unit usaha yang paling sering didatangi responden untuk belanja

Page 70: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

54

serta jarak unit usaha yang dekat dengan responden tinggal. Dalam menelusuri

perputaran uang, perlu diingat uang tersebut tidak hanya berputar di lokasi

penelitian saja tetapi bisa mengalir ke luar wilayah (mengalami kebocoran wilayah)

maka itu dalam mengikuti alurnya peneliti membagi menjadi lokal dan non lokal.

Pembagian tersebut berguna dalam penyusunan tabel SNSE nantinya.

Penelitian ini menggunakan metode kombinasi model/desain sequential

exploratory. Tahapan pertama, peneliti mendatangi kantor desa untuk mencari

informasi dan data yang menyangkut pembangunan infrastruktur desa tahun 2015.

Dari hasil wawancara aparatur desa dan LPJ diketahui terdapat kurang lebih 80

tenaga kerja yang bekerja sebagai tukang bangunan dan kenek serta 2 unit usaha

yang memperoleh dampak langsung dari pembangunan infrastruktur desa.

Selanjutnya peneliti melakukan observasi pembangunan infrastruktur desa dimana

dari hasil observasi tersebut ditemukan 2 unit usaha baru yang muncul setelah

adanya pembangunan infrastruktur. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan

ternyata pembangunan infrastruktur desa memiliki dampak terhadap peningkatan

kesempatan kerja dan peluang usaha. Tahapan kedua, peneliti menetapkan 7

responden awal yang terdiri dari 4 tenaga kerja, 1 unit usaha (memperoleh direct

impact) dan 2 unit usaha baru yang akan ditelusuri alurnya masing-masing

sebanyak 5 putaran. Total responden sebanyak 35 orang dengan analisis yang

digunakan adalah model SNSE.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menuntut peneliti untuk ke

lapangan. Ketika di lapangan peneliti harus menghadapi kendala-kendala yang

muncul seperti mencari-cari alamat responden saat mengikuti alur perputaran uang

Page 71: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

55

bahkan peneliti pernah sampai ke Kota Bogor untuk mengikuti alurnya. Selama

melakukan observasi dan pencarian data terkadang peneliti mengajak seorang

teman untuk menemani, maka itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada teman-

teman peneliti yakni Fauziyyah Isra, Aulia Maghfiroh, Vella Wati, Ida Zuraida,

Yuni Purwanti dan Abdul Farid yang telah bersedia menemani peneliti saat

melakukan observasi dan pencarian data. Pencarian data di lapangan berakhir pada

bulan September dikarenakan peneliti masih harus bolak-balik ke kantor desa dan

lapangan untuk melengkapi data yang kurang dalam penyusunan tabel SNSE.

2. Keusioner

Kuesioner adalah pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh responden

secara tertulis. Jenis pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini yakni

pertanyaan terbuka dimana responden diberikan kebebasan untuk memberikan

jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

Dalam penentuan responden awal (Snowball sampling), peneliti merujuk

kepada laporan penyelenggaraan pemerintahan desa dan laporan keterangan

pertanggungjawaban untuk mengetahui siapa saja (tenaga kerja dan pelaku usaha)

yang memperoleh manfaat dari pengeluaran pemerintah desa di bidang

pembangunan infrastruktur. Selain itu, yang perlu diperhatikan yakni terkait

penyaluran dana desa sebanyak tiga tahapan di tahun 2015 yaitu pada bulan april,

agustus dan oktober dimana pembangunan infrastruktur di akhir tahun anggaran

belum bisa menciptakan aktivitas ekonomi. Oleh karenanya, peneliti menambah

cakupan tahun sampai dengan tahun 2016.

Page 72: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

56

3. Wawancara

Wawancara adalah prosedur untuk mendapatkan informasi dan data

langsung dari sumber pertama (first hand), selain itu wawancara juga merupakan

salah satu prosedur untuk mendapatkan penjelasan serta kejelasan atas data yang

diperoleh dari pengamatan. Dalam penelitian ini, jenis wawancara yang digunakan

adalah wawancara semi-terstruktur, dimana peneliti sudah menentukan topik dan

isu secara garis besar.

Dalam penelitian kualitatif, informan adalah menunjuk pada pelaku

ekonomi yang diteliti dengan mindset untuk mendapatkan kedalaman informasi,

informasi yang berkualitas makna, sehingga diperlukan proses komunikasi,

interaksi, diskusi untuk dapat memahami makna informasi (Leksono, Sonny

2013:317). Pemilihan informan sebagai sumber informasi didasari oleh peran

sentral dari subject penelitian terhadap fenomena yang diteliti.

4. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan sumber data sekunder yang diperlukan dalam

mendukung penelitian ini, dimana data tersebut diperoleh dari berbagai dokumen,

instansi, dan studi literatur (buku, jurnal, artikel, hasil penelitian sebelumnya, dan

penelusuran melalui internet) yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan Belanja

Desa dan perencanaan wilayah.

Page 73: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

57

D. Metode Analisis Data

1. Analisis Pendekatan Kualitatif

Penelitian memanfaatkan model analisis Miles dan Huberman berupa model

interaktif sebagai modus untuk mengkaji dan menelaah data dan informasi. Model

ini terdiri atas tiga kegiatan pokok yang satu sama lain saling terkait antara sebelum,

selama,dan sesudah proses pengumpulan data dan informasi, dan keseluruhannya

diperlakukan secara setara untuk mendukung wawasan umum dalam analisis.

Ketiga kegiatan tersebut yakni:

Proses reduksi data dan informasi, dengan memilih, memilah,

menyeleksi data dan informasi yang terhimpun untuk ditata dan

diolah lebih ringkas, diperoleh abstraksinya (subtansi materi) dan

proses transformasi data dan informasi kasar.

Proses penyajian dan penataan data dan informasi untuk

mendapatkan serangkaian deskripsi uraian kesimpulan dan tindak

lanjut.

Penarikan kesimpulan itu sendiri ( Idrus, Muhammad 2009:148).

Page 74: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

58

2. Analisis Pendekatan Kuantitatif

Analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

pengganda sistem neraca sosial ekonomi (SNSE). Dimana metode ini digunakan

untuk menghitung multiplier effects ekonomi yang ditimbulkan dari pengeluaran

APBDes bidang pembangunan infrastruktur. Metode SNSE sendiri, merupakan

sistem informasi statistik berbentuk matriks yang dapat memberikan gambaran

mengenai berbagai indikator sosial dan ekonomi di suatu wilayah dan dapat

menghubungkan indikator-indikator tersebut secara bersama-sama. Dimana SNSE

sebagai suatu sistem kerangka data mencakup dua hal yaitu:

Pertama, sebagai suatu sistem klasifikasi data yang komprehensif dan

konsisten. Bersifat komprehensif karena SNSE mencakup berbagai data sosial dan

ekonomi di dalam suatu kerangka data, dan sebagai sistem karena SNSE menjamin

keseimbangan (balance) dalam setiap neraca yang terdapat di dalam kerangka

SNSE.

Kedua, sebagai suatu sistem informasi statistik yang bersifat modular,

artinya dapat menghubungkan berbagai variabel yang terdapat di dalam sistem

tersebut secara kompak dan terpadu.

Dengan demikian, SNSE berupaya untuk menggambarkan keterkaitan

antara kegiatan atau struktur produksi dan pendapatan regional, distribusi

pendapatan, distribusi pendapatan rumah tangga, konsumsi, tabungan, investasi,

dan kegiatan lainnya yang dapat mempengaruhi pendapatan regional suatu wilayah

(Prihawantoro, Socia 2002:126).

Page 75: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

59

Model SNSE sebenarnya merupakan perluasan dari model I-O (Input

Output), dimana model I-O hanya menjelaskan mengenai arus transaksi ekonomi

dari sektor produksi ke sektor faktor-faktor produksi, rumah tangga, pemerintah,

perusahaan, dan luar negeri. Akan tetapi, tidak mampu untuk menganalisis

distribusi pendapatan dan pola pengeluaran bermacam institusi (rumah tangga,

pemerintah, perusahaan). Kelemahan model I-O ini lah yang coba diselesaikan

dengan menggunakan model SNSE.

a. Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi

Social accounting matrix (SAM) atau di Indonesia dikenal dengan nama sistem

neraca sosial ekonomi (SNSE) merupakan sebuah matriks yang merangkum neraca-

neraca sosial secara menyeluruh. Kumpulan-kumpulan neraca (accounts)

dikelompokkan menjadi dua kelompok, yakni kelompok neraca endogen dan

kelompok neraca eksogen. Dimana kelompok neraca endogen dibagi dalam tiga

blok, yaitu blok neraca faktor produksi (modal dan tenaga kerja), blok neraca

institusi (rumah tangga, pemerintah dan perusahaan) dan blok neraca aktivitas

(kegiatan) produksi. Sementara itu, blok neraca eksogen terdiri dari neraca modal

dan rest of the world (ROW). Adapun kerangka dasar SNSE dapat dilihat pada tabel

3.1.

Page 76: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

60

Tabel 3.1.

Kerangka Dasar SNSE Indonesia

Penerimaan

Pengeluaran

Neraca Endogen

Neraca

Eksogen

Jumlah

Faktor

Produksi

Institusi

Sektor

Produksi

1 2 3 4 5

Ner

aca

En

dog

en

Faktor

Produksi

1

0 0 T13

Alokasi

nilai

tambah ke

faktor

produksi

X1

Pendapata

n faktor

produksi

dari luar

negeri

Y1

Distribusi

Pendapata

n faktorial

Institusi

2

T21

Alokasi

Pendapata

n faktor ke

institusi

T22

Transfer

antar

institusi

0 X2

Transfer

dari luar

negeri

Y2

Distribusi

pendapatan

institusion

al

Sektor

Produksi

3

0 T32

Penerimaa

n domestik

T33

Penerimaa

n antara

X3

Ekspor &

investasi

Y3

Total

output

menurut

sektor

produksi

Neraca

Eksogen

4

L1

Alokasi

pend.faktor

ke luar

negeri

L2

Tabungan

pemerintah

, swasta &

rumah

tangga

L3

Impor &

pajak tak

langsung

L4

Transfer

lainnya

Y4

Total

penerimaa

n neraca

lainnya

Jumlah

5

Y’1

Distribusi

pengeluara

n faktor

Y’2

Distribusi

pengeluara

n institusi

Y’3

Total input

Y’4

Total

pengeluara

n lainnya

Sumber: Daryanto (2010)

Setiap neraca dalam SNSE disusun dalam bentuk baris dan kolom. Vektor

baris menunjukkan perincian penerimaan, sedangkan vektor kolom menunjukkan

perincian pengeluaran. Untuk kegiatan yang sama, jumlah baris sama dengan

Page 77: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

61

jumlah kolom. Dengan kata lain, jumlah penerimaan sama dengan pengeluaran.

Susunan SNSE secara sederhana dapat dilihat pada tabel 3.1. dimana untuk setiap

baris, kolom 5 merupakan penjumlahan kolom 1, 2, 3, dan 4. Demikian pula untuk

setiap kolom, baris 5 merupakan penjumlahan baris 1, 2, 3, dan 4. Karena jumlah

penerimaan sama dengan pengeluaran, maka baris 5 merupakan transpose dari

kolom 5.

Di dalam tabel SNSE (lihat tabel 3.1) terdapat beberapa matriks. Matriks T

merupakan matriks transaksi antar blok dalam neraca endogen. Matriks X

menunjukkan pendapatan neraca endogen dari neraca eksogen. Matriks L

memperlihatkan pengeluaran neraca endogen untuk neraca eksogen, disebut juga

leakages. Matriks Y merupakan pendapatan total dari neraca endogen, sedangkan

matriks Y’ merupakan pengeluaran total dari neraca endogen.

Dari tabel SNSE, distribusi pendapatan neraca endogen dapat dirinci

menjadi:

Jumlah pendapatan faktor produksi Y1 = T13 + X1........................................ (1)

Jumlah pendapatan institusi Y 2= T21 + T22 + X2...........................(2)

Jumlah pendapatan kegiatan produksi Y3 = T32 + T33 + X3......................... (3)

Sedangkan distribusi pengeluaran neraca endogen dapat dirinci menjadi:

Jumlah pengeluaran faktor produksi Y’1 = T21 + L1.......................... (4)

Jumlah pengeluaran institusi Y’2 = T22 + T32 + L2................. (5)

Jumlah pengeluaran kegiatan produksi Y’3 = T13 + T33 + L3................. (6)

Page 78: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

62

Matriks T sebagai matriks transaksi antar blok di dalam neraca endogen

dapat ditulis ringkas yaitu:

0 0 T13

T = T21 T22 0 ......................................................................... (7)

0 T32 T33

Sebagai salah satu submatriks dari SNSE, matriks T juga menggambarkan

transaksi penerimaan dan pengeluaran dengan lingkup yang lebih sempit, yakni di

dalam neraca endogen.

Jika dibaca menurut baris, matriks T pada persamaan (7) menunjukkan

penerimaan salah satu blok dari blok yang lain. Pada baris pertama, T13

memperlihatkan penerimaan faktor produksi dari kegiatan produksi. Pada baris

kedua, T21 mengambarkan penerimaan institusi dari faktor produksi dan T22

merefleksikan penerimaan institusi dari institusi itu sendiri. Pada baris ketiga, T32

memperlihatkan penerimaan kegiatan produksi dari institusi dan T33 menunjukkan

kegiatan produksi untuk kegiatan produksi itu sendiri.

Ditinjau dari sama tidaknya blok yang bertransaksi, maka di dalam matriks

transaksi T di atas terdapat transaksi yang terjadi antar blok yang berbeda ( T13, T21,

T32 ) dan di dalam blok yang sama ( T22 dan T33 ) dimana dapat dilihat pada gambar

3.1.

Page 79: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

63

Institusi

Gambar 3.1.

Transaksi Antarblok dalam SNSE

Kegiatan Produksi

T32 T13

T21

Sumber: Prihawantoro (2002)

b. Model Pengganda Neraca

Matriks transaksi T menunjukkan aliran penerimaan dan pengeluaran yang

dinyatakan dalam satuan moneter. Apabila setiap sel dalam matriks T dibagi dengan

jumlah kolomnya, maka akan didapatkan sebuah matriks baru yang menunjukkan

besarnya kecenderungan rata-rata pengeluaran (average expenditure propensities).

Apabila besarnya kecenderungan rata-rata pengeluaran yang dinotasikan sebagai

Aij dan dianggap sebagai perbandingan antara pengeluaran sektor j terhadap sektor

i dengan pengeluaran j (Yj), maka:

Aij = Tij / Yj .............................................................................................. (8)

Atau dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

T33

Faktor

Produksi T22

Page 80: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

64

0 0 A13

Am = A21 A22 0 ................................................................... (9)

0 A32 A33

Jika persamaan 1 dibagi dengan Y, maka persamaan tersebut menjadi:

Y / Y = T / Y + X / Y

1 = ( T / Y ) + ( X / Y ) ..................................................................... (10)

Oleh karena A = ( T / Y ), maka persamaan di atas dapat ditulis sebagai

berikut:

I = A + ( X / Y )

I – A = X / Y

( I – A ) Y = X

Y = ( I – A)-1 X ....................................................................................... (11)

Jika Ma = ( I – A )-1, maka:

Y = Ma X ................................................................................................ (12)

Dimana Ma = (I – A )-1 merupakan matriks accounting multiplier

(pengganda neraca) yang memperlihatkan pengaruh perubahan pada sebuah sektor

terhadap sektor lainnya setelah melalui keseluruhan SNSE.

Melalui matriks multiplier Ma di atas, dapat dilakukan berbagai hitungan

untuk memperoleh bermacam-macam jenis multiplier ekonomi yang dapat

Page 81: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

65

digunakan untuk menggambarkan seberapa besar hubungan antar aktivitas ekonomi

dalam suatu perekonomian secara menyeluruh. Multiplier yang dimaksud adalah:

1. Multiplier Nilai Tambah

Multiplier nilai tambah menunjukkan seberapa besar pengaruh dari suatu

unit usaha (sektor produksi) terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja dan

modal yang digunakan dalam kegiatan ekonomi masing-masing sektor.

Nilai ini diperoleh dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda

neraca pada blok faktor produksi sepanjang kolom unit usaha ke-i.

2. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga

Multiplier pendapatan rumah tangga menunjukkan besarnya pengaruh suatu

unit usaha (sektor produksi) terhadap pendapatan rumah tangga. Nilai ini

diperoleh dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda neraca pada

blok institusi sepanjang kolom unit usaha ke-i.

3. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga terhadap Sektor

Multiplier pendapatan rumah tangga terhadap unit usaha (sektor produksi)

menunjukkan peranan dari konsumsi rumah tangga terhadap perkembangan

unit usaha (konsumsi dan non konsumsi). Nilai ini diperoleh dengan

menjumlahkan koefisen matriks pengganda neraca pada blok unit usaha

sepanjang kolom institusi ke –i.

4. Multiplier Keterkaitan terhadap Sektor Sendiri dan Multiplier Keterkaitan

Antar Sektor

Multiplier keterkaitan terhadap sektor sendiri dan multiplier keterkaitan

antar sektor dapat dianalisis melalui nilai multiplier produksi. Nilai own

Page 82: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

66

income multiplier diperoleh dari koefisien matriks pengganda neraca hanya

pada baris dan kolom masing-masing sektor yang sama. Nilai other sector

linkage multiplier di dapat dari selisih antara multiplier produksi dengan

own income multiplier sepanjang kolom unit usaha ke – i pada blok unit

usaha.

5. Multiplier Produksi

Multiplier produksi menunjukkan besarnya pengaruh suatu sektor terhadap

perubahan total output produksi dalam perekonomian. Nilai ini diperoleh

dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda neraca pada blok unit

usaha sepanjang kolom unit usaha ke –i.

6. Multiplier Total

Multiplier total menunjukkan besarnya pengaruh suatu unit usaha (sektor

produksi) terhadap perubahan output regional. Nilai ini diperoleh dengan

menjumlahkan seluruh pengganda neraca sepanjang kolom unit usaha ke –

i.

c. Dekomposisi Pengganda

Selain analisis pengganda neraca, penelitian ini juga melakukan analisis

mengenai dekompisisi pengganda. Dimana dekomposisi pengganda dilakukan

untuk menunjukkan tahap atau proses perubahan neraca endogen sebagai akibat

dari perubahan neraca eksogen. Pyatt and Round (1985) dalam Daryanto (2010)

melakukan dekomposisi terhadap matriks accounting multiplier Ma , dimana

hasilnya dalam bentuk multiplikatif:

Page 83: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

67

Ma = Ma3 Ma2 Ma1 .................................................................................. (13)

Secara aditif dapat ditulis:

Ma = I + ( Ma1 – I ) + ( Ma2 – I ) Ma1 + ( Ma3 – I ) Ma2 Ma1 .................... (14)

Dimana:

I = Injeksi awal

Ma1 – I = Net contribution of transfer multiplier

( Ma2 – I ) Ma1 = Effect multiplier-cross atau loop open of on contribution net

(Ma3 – I ) Ma2 Ma1 = Effect multiplier loop-closed atau circular of contribution net

Adapun secara berurutan matriks Ma1 , Ma2 dan Ma3 dapat dijelaskan sebagai

berikut:

1.) Pengganda Transfer ( Ma1 )

Pengganda transfer ( Ma1 ) menunjukkan pengaruh dari satu blok (grup)

neraca pada dirinya sendiri, yang dapat dirumuskan:

Ma1 = ( I – A0 )-1 ...................................................................................... (15)

A0 merupakan matriks diagonal dari matriks A

0 0 0

A0 = 0 A22 0 .................................................................... (16)

0 0 A33

Page 84: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

68

Sehingga dalam bentuk matriks:

1 0 0

Ma1 = 0 ( I – A22 )-1 0 .................................................... (17)

0 0 ( I – A33 )-1

Melalui pengganda transfer ( Ma1 ), dapat diketahui pengaruh injeksi pada

sebuah sektor terhadap sektor lain dalam satu blok yang sama, setelah melalui

keseluruhan sistem dalam blok tersebut, sebelum berpengaruh terhadap blok yang

lain. Dalam memahami Ma1 diasumsikan bahwa injeksi pada suatu sektor hanya

berpengaruh terhadap sektor-sektor lain dalam satu blok yang sama dan tidak

terhadap sektor-sektor lain pada blok yang berbeda.

Dalam matriks Ma1 pada persamaan (17), dapat dilihat besarnya pengganda

pada masing-masing blok. Pada blok kegiatan produksi misalnya, besarnya

pengaruh transfer adalah ( I – A33 )-1. Ini berarti setiap injeksi pada salah satu sektor

produksi yang lain sebesar injeksi tersebut dikalikan dengan ( I – A33 )-1. Pada blok

institusi, besarnya pengaruh transfer adalah ( I – A22 )-1, yang dapat diartikan bahwa

setiap injeksi pada salah satu institusi akan berpengaruh pada institusi yang lain

sebesar injeksi tersebut dikalikan dengan ( I – A22 )-1. Sementara pada blok faktor

produksi, besarnya pengganda transfer adalah I. Yang memiliki arti bahwa injeksi

pada salah satu faktor produksi hanya akan berpengaruh terhadap faktor produksi

yang diinjeksi tersebut dan tidak berpengaruh terhadap faktor produksi yang lain.

Page 85: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

69

2.) Pengganda Open Loop ( Ma2 )

Pengganda open loop menunjukkan pengaruh dari satu blok ke blok lain.

Injeksi pada salah satu sektor dalam sebuah blok tertentu akan berpengaruh

terhadap sektor lain di blok yang lain setelah melalui keseluruhan sistem dalam blok

lain tersebut. Ma2 dapat dirumuskan sebagai berikut:

Ma2 = ( I – A* + A*2 ) ............................................................................... (18)

Dimana A* = ( I – A0 )-1 ( A – A0 ) Y

Sehingga A* merupakan sebuah matriks dengan:

A*13 = A13 ................................................................................................ (19)

A*21 = ( I – A22 )

-1 A21 .............................................................................. (20)

A*32 = ( I – A33 )

-1 A32 .............................................................................. (21)

Sedangkan sel yang lain berisi angka (matriks) nol, maka penulisan untuk

matriks A0 sebagai berikut:

0 0 A*13

A0 = A*21 0 0 ....................................................................... (22)

0 A*32 0

Dengan demikian, maka pengaruh open loop dapat ditulis lengkap sebagai:

I A*13 A

*32 A*13

Ma2 = A*21 I A

*21 A

*13 .......................................... (23)

A*32 A*21 A

*32 I

Page 86: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

70

Berdasarkan persamaan (23), pengganda open loop memiliki pengertian

yakni jika terjadi kenaikan pendapatan pada blok kegiatan produksi (dilakukan

injeksi terhadap salah satu sektor produksi) akan berpengaruh terhadap pendapatan

blok faktor produksi dengan pengganda sebesar A*13 . Kenaikan pendapatan pada

blok faktor produksi ( Y1 ) berpengaruh terhadap pendapatan blok institusi ( Y2 )

dengan pengganda sebesar A*21 . Kenaikan pendapatan pada blok institusi ( Y2 )

berpengaruh terhadap pendapatan blok kegiatan produksi ( Y3 ) dengan pengganda

sebesar A*32 .

Pengaruh faktor produksi ( Y1 ) terhadap kegiatan produksi ( Y3 ) terjadi

melalui perantara blok institusi ( Y2 ) dengan pengganda sebesar A*32 A*21 .

Sementara pengaruh blok institusi ( Y2 ) terhadap faktor produksi ( Y1 ) terjadi

melalui perantara kegiatan produksi ( Y3 ) dengan pengganda sebesar A*13 A

*32 .

Sedangkan pengaruh kegiatan produksi ( Y3 ) terhadap blok institusi ( Y2 ) terjadi

melalui perantara faktor produksi ( Y1 ) dengan pengganda sebesar A*21 A

*13 .

Page 87: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

71

Gambar 3.2.

Struktur Pengganda

Sumber: Prihawantoro (2002)

3.) Pengganda Close Loop ( Ma3 )

Pengganda close loop menunjukkan pengaruh dari suatu blok ( neraca ) ke

blok lain ( neraca lain ), untuk kemudian kembali pada blok ( neraca ) semula. Ma3

dapat ditulis sebagai berikut:

Ma3 = ( I – A*3 )

-1

Dimana matriks Ma3 dapat ditulis lengkap sebagai berikut:

( I – A*13 A

*32 A

*21 )

-1 0 0

Ma3 = 0 ( I – A*21 A

*13 A

*32 )

-1 0 ........... (24)

0 0 ( I – A*32 A

*21 A

*13 )

-1

X1

I

Y1

Y2 Y3

A*21 A*13

A*32

( I – A22 )-1 ( I – A33 )-1

X2 X3

Page 88: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

72

Injeksi pada faktor produksi akan berpengaruh pada sektor-sektor lain pada

blok institusi, kemudian berpengaruh pada blok kegiatan produksi dan akhirnya

berpengaruh kembali kepada blok faktor produksi. Satu putaran dari blok faktor

produksi kembali ke blok faktor produksi inilah yang disebut sebagai pengganda

close loop faktor produksi dengan pengganda sebesar ( I – A*13 A*

32 A*21 )-1 .

Sementara pengganda close loop untuk blok institusi dan blok kegiatan produksi

secara berurutan memiliki pengganda sebesar ( I – A*21 A

*13 A

*32 )

-1 dan ( I – A*32

A*21 A

*13 )

-1 .

d. Kebocoran Wilayah

Untuk melakukan analisis potensi dan dampak kebocoran dari pengeluaran

pemerintah desa di bidang pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian

wilayah dapat dilakukan dengan melakukan analisis pada tabel SNSE desa

Waringin Jaya tahun 2015. Kebocoran wilayah dari adanya pembangunan desa

dapat dilihat dengan menghitung rasio pendapatan antara modal dan tenaga kerja.

Kriteria lainnya yang dapat digunakan untuk melihat adanya kebocoran

wilayah yaitu dengan indeks keterkaitan kedepan (forward linkage). Dimana nilai

indeks keterkaitan kedepan yang rendah atau kecil dari rata-rata seluruh sektor (<1)

mengindikasikan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur mengalami

kebocoran wilayah. Sebaliknya bila nilai keterkaitan kedepan (forward linkage)

yang tinggi atau lebih besar dari rata-rata seluruh sektor (> 1) maka pengeluaran

pemerintah untuk infrastruktur tidak mengalami kebocoran wilayah (Aris, Ahmad

2011:85).

Page 89: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

73

E. Operasional Variabel Penelitian

Pengertian perekonomian adalah aktivitas manusia yang berhubungan

langsung dengan konsumsi, distribusi dan produksi barang dan jasa. Adapun

perekonomian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah aktivitas ekonomi yang

terjadi di desa Waringin Jaya. Indikator yang peneliti gunakan adalah nilai tambah

faktor produksi/PDRB yang dihitung menggunakan multiplier nilai tambah

(VAM), pendapatan rumah tangga yang dihitung menggunakan multiplier

pendapatan rumah tangga (HIIM), pendapatan sektor produksi yang dihitung

menggunakan multiplier pendapatan rumah tangga terhadap sektor (HIMS),

keterkaitan antar sektor produksi yang dihitung menggunakan multiplier

keterkaitan terhadap sektor sendiri (OIM) dan multiplier keterkaitan antar sektor

(OSLM) serta output yang dihitung menggunakan multiplier produksi (PROM) dan

multiplier total (GOM).

Distribusi pendapatan ialah suatu proses penyaluran (sebagian hasil

penjualan produk) kepada faktor-faktor produksi yang ikut menentukan

pendapatan. Distribusi pendapatan adalah bagaimana tingkat penyebaran

pendapatan disuatu wilayah terjadi. Adapun distribusi pendapatan yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah penelusuran aliran distribusi pendapatan antar neraca

endogen. Dimana dalam penelitian ini distribusi pendapatan adalah tahapan/proses

perubahan neraca endogen diakibatkan oleh perubahan neraca eksogen yang diukur

menggunakan dekomposisi pengganda neraca yang terdiri dari pengganda transfer

(Ta), pengganda lompatan terbuka (Oa) dan pengganda lompatan tertutup (Ca).

Page 90: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

74

Definisi kebocoran wilayah adalah suatu kondisi terjadinya aliran nilai

tambah ke luar wilayah karena adanya potensi nilai tambah yang tidak dapat

dimanfaatkan secara optimal, sehingga menyebabkan kecilnya multiplier yang

dapat ditimbulkan dari kegiatan ekonomi suatu wilayah. Kebocoran wilayah dalam

penelitian ini dilihat dari indikasi kebocoran wilayah pengeluaran pemerintah untuk

infrastruktur berdasarkan rasio pendapatan antara modal dan tenaga kerja dan

indikasi kebocoran wilayah pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur

berdasarkan forward leakages.

Tabel 3.2.

Operasional Variabel Penelitian

Variabel Indikator

Perekonomian Desa 1. Nilai Tambah Faktor Produksi/PDRB

2. Pendapatan Rumah Tangga

3. Pendapatan Sektor Produksi

4. Keterkaitan antar Sektor Produksi

5. Output

Distribusi Pendapatan Penelusuran aliran distribusi pendapatan antar

neraca endogen

Kebocoran Wilayah 1. Rasio pendapatan antara modal dan

tenaga kerja

2. Forward Leakages

Sumber: Data diolah, 2017

Page 91: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

75

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Kondisi Geografis

Desa Waringin Jaya merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan

Bojong Gede Kabupaten Bogor dengan luas 175 ha. Bentuk wilayahnya terdiri dari

dataran rendah yang mencapai 80% dan 20% merupakan wilayah berombak. Desa

Waringin Jaya berada pada ketinggian 60 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan

curah hujan 500mm/tahun serta suhu rata-rata berkisar 400C. Wilayah administratif

terdiri dari 3 Dusun, 13 Rukun Warga (RW), dan 72 Rukun Tetangga (RT) yang

berada di 4 Kampung yaitu; Kampung Tanah Baru, Kampung Waringin Jaya,

Kampung Waringin Jaya Lebak dan Kampung Gelonggong. Adapun batas wilayah

desa Waringin Jaya dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Batas Wilayah Desa Waringin Jaya

Batas Wilayah Desa

Utara Desa Kedung Waringin

Selatan Desa Cilebut Barat/Cilebut Timur

Timur Kelurahan Karadenan

Barat Desa Cimanggis

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Desa Waringin Jaya terletak 3.5 Km dari Ibukota Kecamatan Bojong Gede

dan berjarak 6 Km dari Ibukota Kabupaten Bogor. Desa Waringin Jaya yang berada

di Provinsi Jawa Barat, terletak 120 Km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat dan

terletak 60 Km dari Ibukota Negara Republik Indonesia (lihat tabel 4.2).

Page 92: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

76

Tabel 4.2. Orbitasi Desa Waringin Jaya

Orbitasi Jarak (Km)

Ibukota Kecamatan Bojong Gede 3.5

Ibukota Kabupaten Bogor 6

Ibukota Provinsi Jawa Barat 120

Ibukota Negara RI 60

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Pemanfaatan lahan di desa Waringin Jaya lebih banyak digunakan untuk

perumahan/pemukiman warga dengan persentase sebesar 87.2%. Hal ini

dikarenakan jarak desa Waringin Jaya yang dekat dengan Ibukota Negara menjadi

daya tarik bagi warga pendatang yang umumnya bekerja di sekitar wilayah Ibukota

Negara yang mencari hunian dengan harga terjangkau. Dengan terus meningkatnya

warga pendatang yang berasal dari luar desa dan menetap di Desa Waringin Jaya

membuat bisnis di bidang property (perumahan) mengalami peningkatan dari tahun

ke tahun. Adapun beberapa perumahan yang ada di Desa Waringin Jaya diantaranya

adalah Ambar Waringin Jaya, Cluster Pondok Family, Darussalam, Griya Tonjong

Asri, Griya Waringin Elok, Puri Arta Sentosa, Villa Hijau, Villa Mutiara dan Villa

Palem Asri.

Tabel 4.3. Pemanfaatan Lahan Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Tata Guna Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

Pemukiman 152.55 87.2

Pekarangan 7.75 4.4

Tanah Sawah 7.5 4.3

Pemakaman 1.7 1.0

Situ 1.5 0.9

Kolam/Empang/Balong 4 2.2

Jumlah 175 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Page 93: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

77

2. Kondisi Demografi, Pendidikan, Sosial dan Mata Pencaharian

Jumlah penduduk Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten

Bogor tahun 2015 memiliki jumlah penduduk sebanyak 11.905 jiwa, dengan jumlah

penduduk laki-laki sebanyak 6.091 jiwa (51.2%) dan jumlah penduduk perempuan

sebanyak 5.814 jiwa (48.8%).

Tabel 4.4. Jumlah dan Persentase Penduduk Desa Waringin Jaya

Penduduk Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Laki-laki 6091 51.2

Perempuan 5814 48.8

Jumlah 11905 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Untuk struktur umur di desa Waringin Jaya dibagi ke dalam kelompok umur

produktif dan kelompok umur non produktif. Adapun warga desa Waringin Jaya

yang termasuk ke dalam kelompok umur produktif berjumlah 7930 jiwa, sedangkan

warga yang termasuk dalam kelompok umur non produktif berjumlah 637 jiwa.

Berdasarkan jumlah penduduk tersebut dapat dikategorikan bahwa masyarakat di

desa Waringin Jaya termasuk ke dalam penduduk dengan umur produktif. Hal ini

dapat dilihat dari jumlah penduduk di desa Waringin Jaya yang didominasi oleh

kelompok umur 20 sampai dengan umur 54 tahun.

Page 94: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

78

Tabel 4.5. Jumlah Penduduk Menurut Umur Desa Waringin Jaya 2015

Kelompok Umur Jumlah (n) Persentase (%)

0-4 283 2.4

>5 - >19 2419 20.3

>20 - >34 3578 30.0

>35 - >54 3281 27.6

>55 - >59 789 6.7

>60 1555 13.0

Jumlah 11905 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Penduduk desa Waringin Jaya beragama Islam dengan persentase sebesar

99%, sedangkan untuk penduduk beragama Katholik sebesar 0.99% dan untuk

penduduk beragama Hindu sebesar 0.03%. Sebagian besar penduduk di Kabupaten

Bogor adalah etnis Sunda tetapi dengan banyaknya pendatang yang menetap di desa

Waringin Jaya menjadikan desa Waringin Jaya dihuni oleh beragam etnis

diantaranya etnis Betawi dan Jawa.

Tabel 4.6. Jumlah dan Persentase Sebaran Penduduk

Desa Waringin Jaya Menurut Agama

Agama Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Islam 11785 99.0

Protestan 0 0

Katholik 117 0.99

Hindu 3 0.03

Budha 0 0

Jumlah 11905 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Tingkat pendidikan masyarakat desa Waringin di dominasi oleh penduduk

tamatan SMP dan SMA. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat desa Waringin

Jaya mulai menyadari pentingnya pendidikan dengan melanjutkan pendidikan ke

jenjang yang lebih tinggi. Adapun masih terdapat masyarakat desa yang tidak tamat

Page 95: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

79

Sekolah Dasar/SD atau tamat SD merupakan masyarakat dengan kelompok usia tua

yang mana pada zaman dahulu kesadaran akan pendidikan masih kurang ditambah

faktor kesulitan hidup dan kurangnya fasilitas pendidikan membuat masyarakat

memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan. Sedangkan untuk kelompok

masyarakat buta huruf di desa Waringin Jaya sudah tidak terdapat masyarakat buta

huruf/tidak dapat membaca.

Tabel 4.7. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Waringin Jaya

Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Buta Huruf 0 0

Tidak Tamat SD 265 2.2

Tamat SD/Sederajat 3562 30.2

Tamat SMP/Sederajat 3907 33.1

Tamat SMA/Sederajat 3883 32.9

Tamat Diploma (D1-D3) 127 1.0

Tamat Sarjana (S1-S2) 67 0.6

Jumlah 11811 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Untuk mata pencaharian di desa Waringin Jaya tahun 2015 sangat beragam.

Dimana sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai pegawai/karyawan swasta

dan wiraswasta. Banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai pegawai/karyawan

swasta didukung oleh letak desa yang tidak jauh dari Ibukota Negara yang membuat

mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah. Sedangkan untuk masyarakat bermata

pencaharian sebagai wiraswasta faktor yang mempengaruhi adalah pemanfaatan

lahan di desa Waringin Jaya sebagian besar digunakan untuk pemukiman penduduk

yang membuka peluang untuk tumbuhnya aktivitas ekonomi melalui perdagangan

(barang dan jasa). Usaha dari wiraswasta di desa Waringin Jaya terdiri dari

kios/toko, warung, rumah makan, bengkel dan sebagainya.

Page 96: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

80

Tabel 4.8. Mata Pencaharian Masyarakat Desa Waringin Jaya

Mata Pencaharian Jumlah (n) Persentase (%)

Petani 75 1.17

Pengusaha 50 0.8

Pengrajin 45 0.7

Buruh Industri 87 1.3

Buruh Bangunan 417 6.5

Pegawai/Karyawan Swasta 2857 44.4

Wiraswasta 2679 41.6

PNS 159 2.4

TNI/POLRI 11 0.2

Pensiunan TNI/POLRI/PNS 3 0.04

Guru 47 0.8

Bidan/Mantri Kesehatan 2 0.03

Jumlah 6432 100

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

3. Sarana dan Prasarana Wilayah

Pembangunan sarana dan prasarana di desa Waringin Jaya bertujuan untuk

mempermudah masyarakat desa dalam beraktivitas. Dengan semakin

meningkatnya pembangunan sarana dan prasarana akan berdampak pada tingkat

kesejahteraan masyarakat. Sarana dan prasarana yang ada di desa Waringin Jaya

terdiri dari prasarana perekonomian, prasarana kesehatan, prasarana pendidikan dan

prasarana perhubungan yang dapat dilihat pada tabel 4.9.

Page 97: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

81

Tabel 4.9. Jumlah Sarana dan Prasarana Desa Waringin Jaya

Sarana dan Prasarana Jumlah

Prasarana Perekonomian

• Toko/Kios 17

• Warung 451

• Rumah Makan 5

• Bengkel 5

Prasarana Kesehatan

• Rumah Bersalin 2

• Posyandu 12

Prasarana Pendidikan

• Taman Kanak-Kanak 8

• TPA 5

• MI Swasta 3

• SD Negeri 1

• SD Swasta 4

• MTs Swasta 3

• SMP Swasta 3

• MA Swasta 1

• SMK Swasta 1

Prasarana Perhubungan

• Jalan Aspal 3.0 (Km)

• Jalan Beton 2.0 (Km)

• Jalan Sirtu 2.0 (Km)

• Jalan Tanah 3.0 (Km)

Sumber: Profil Desa Waringin Jaya Tahun 2015

4. Pemerintahan Desa Waringin Jaya

Pemerintahan desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan

kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan

Republik Indonesia. Penyelenggaraan pemerintahan desa dilakukan oleh Kepala

Desa yang dibantu oleh perangkat desa yang terdiri atas unsur Sekertariat Desa,

unsur Pelaksana Kewilayahan dan unsur Pelaksana Teknis. Dimana struktur

pemerintahan desa Waringin Jaya dapat dilihat pada gambar 4.1.

Page 98: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

82

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Waringin Jaya

5. Pembangunan Infrastruktur Desa Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015

Berdasarkan laporan akhir tahun pemerintahan desa Waringin Jaya tahun

anggaran 2015, program pembangunan desa mencakup pembangunan infrastruktur

jalan, pembangunan posyandu, renovasi kantor desa dan bantuan perbaikan rumah

tidak layak huni (Rutilahu). Adapun untuk kegiatan pembangunan infrastruktur

jalan lokasi yang menjadi prioritas berada pada RW 04, 05, 06 dan 09 dengan total

Kepala Desa

Rohmat

BPD

H. Toto

LPM

Sanudin

SEKDES

Rusdiyono

U. Tata Usaha

Kepala: Tuti Fatimah

Staf: Ardiansyah

U. Keuangan

Jaini Saputra

U. Perencanaan

Kepala: Tarmuji

Staf: Haryanto

Seksi Pemerintahan

Kepala: M. Taufiq

Staf: M. Haris

Seksi KesRa

Kepala: Muhali

Staf: M. Uwang

Seksi Pelayanan

Aqhar Munir

Dusun I

H. Sukmaja

Dusun II

Sulaeman

Dusun III

Duloh

RW dan RT RW dan RT RW dan RT

Page 99: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

83

pembangunan jalan sebanyak 7 titik serta pembangunan posyandu sebanyak 4 unit

yang berada pada RW 03, 06, 010 dan 011. Sedangkan untuk bantuan perbaikan

rumah tidak layak huni (Rutilahu) berlokasi di 6 RW. Dimana rincian kegiatan dan

sumber dana pembangunan desa Waringin Jaya tahun anggaran 2015 dapat dilihat

pada tabel 4.10.

Tabel 4.10. Kegiatan dan Sumber Dana Pembangunan Desa

Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015

No. Uraian Anggaran (Rp) Sumber Dana

1. Betonisasi Jalan Desa (RW 05) 100.000.000 Dana Provinsi

2. Betonisasi Jalan Lingkungan (RW 06) 50.000.000 APBD

3. Rutilahu (di 6 RW) 200.000.000 APBD

4. Renovasi Kantor Desa 78.200.000 ADD

5. Betonisasi Jalan Lingkungan (RW 04,

06, 09) 191.755.500 Dana Desa

6. Pembangunan Posyandu (RW 03, 06,

10, 11) 115.000.000 Dana Desa

Jumlah 734.955.500

Sumber: Laporan akhir tahun pemerintahan desa Waringin Jaya TA 2015 (Diolah)

Sumber dana untuk kegiatan pembangunan desa di desa Waringin Jaya

seluruhnya berasal dari dana transfer baik yang berasal dari pemerintah pusat

maupun pemerintah daerah. Dimana sumber dana tersebut terdiri dari dana

Provinsi, APBD, Alokasi Dana Desa dan Dana Desa. Berdasarkan UU No. 6 Tahun

2014 Tentang Desa, setiap desa memperoleh tambahan pendapatan berupa Dana

Desa. Adapun untuk tahun anggaran 2015 desa Waringin Jaya memperoleh transfer

dari pemerintah pusat dalam bentuk dana desa sebesar Rp 306.777.862 yang mana

dana tersebut digunakan untuk membiayai program pembangunan desa.

Page 100: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

84

B. Pendefinisian Klasifikasi

Sebelum ketahap pembahasan, peneliti terlebih dahulu ingin menjelaskan

mengenai konsep dan definisi yang digunakan dalam menyusun kerangka SNSE

desa Waringin Jaya tahun 2015 dimana penyusunan kerangka SNSE ini bertujuan

untuk menjelaskan mengenai dampak dari pengeluaran pemerintah desa untuk

infrastruktur terhadap aktivitas ekonomi desa tersebut. Kerangka SNSE desa

Waringin Jaya berukuran 12x12, yang terdiri atas blok neraca faktor produksi, blok

neraca institusi, blok neraca unit usaha dan blok neraca eksogen.

Blok faktor produksi terdiri atas tenaga kerja dan modal dengan jumlah

neraca sebanyak 5 neraca yang terdiri dari 4 neraca tenaga kerja dan 1 neraca modal.

Untuk penentuan klasifikasi tenaga kerja didasarkan pada pertimbangan-

pertimbangan yakni pertama, peneliti menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi

dilokasi penelitian yang mana berdasarkan hasil observasi jumlah tenaga kerja

pertanian sedikit ini dikarenakan lahan pertanian sudah beralih fungsi menjadi

perumahan. Kedua, kurang lengkapnya data yang dimiliki pemerintah desa

membuat peneliti kesulitan untuk mengetahui rata-rata pengeluaran total tenaga

kerja. Ketiga, peneliti lebih memfokuskan kepada golongan tenaga kerja yang

memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung dari pembangunan desa.

Golongan tenaga kerja produksi, operator alat angkutan, manual dan buruh

kasar merupakan tenaga kerja diluar kegiatan pertanian tetapi hanya mencakup

tenaga kerja produksi, operator alat angkutan, buruh kasar (kuli bangunan, kuli

panggul) dan yang setingkat dengan itu. Adapun untuk golongan tenaga kerja tata

usaha, penjualan dan jasa-jasa adalah mereka yang berhubungan langsung dengan

Page 101: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

85

pembelian dan penjualan dari segala jenis barang dan jasa, baik usaha perdagangan

besar atau eceran atas nama mereka sendiri atau mengelola atas nama pihak lain.

Sementara tenaga kerja lokal dan non lokal memiliki arti bahwa tenaga kerja lokal

merupakan masyarakat desa yang berdomisili di desa Waringin Jaya sedangkan

tenaga kerja non lokal adalah warga dari luar desa yang bekerja di desa Waringin

Jaya. Pengertian modal ialah pengeluaran unit usaha (konsumsi dan non konsumsi)

yang digunakan untuk menjalankan aktivitas produksi. Dalam hal ini yang

dimaksud adalah pembelian bahan baku oleh unit usaha.

Blok institusi terdiri atas 3 neraca rumah tangga yang dibedakan

berdasarkan tingkat pendapatannya. Pengkategorian tingkat pendapatan

berdasarkan pada pendekatan secara emik, yaitu disesuaikan dengan kondisi lokasi

penelitian. Rumah tangga pendapatan rendah adalah rumah tangga yang memiliki

pengeluaran rumah tangga (pangan dan non pangan) kurang dari 1.500.000 rupiah.

Rumah tangga pendapatan sedang adalah rumah tangga yang memiliki pengeluaran

rumah tangga (pangan dan non pangan) kurang dari 3.500.000 rupiah. Sementara

rumah tangga pendapatan tinggi adalah rumah tangga dengan pengeluaran rumah

tangga (pangan dan non pangan) lebih dari 3.500.000 rupiah.

Untuk blok unit usaha peneliti membagi kedalam kelompok usaha konsumsi

dan non konsumsi. Adapun data mengenai unit usaha di desa Waringin Jaya peneliti

peroleh dari profil desa Waringin Jaya serta observasi yang dilakukan peneliti. Unit

usaha konsumsi mencakup warung/toko, alfamart, indomaret dan rumah makan

dengan total sebanyak 473 unit usaha. Sementara unit usaha non konsumsi di desa

Page 102: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

86

Waringin Jaya terdiri dari toko bangunan, bengkel, home industry, fotocopy,

laundry, salon dengan total sebanyak 19 unit usaha.

Blok neraca eksogen terdiri atas neraca pengeluaran pemerintah dan rest of

rural. Neraca eksogen merupakan variabel yang ingin dilihat pengaruhnya/

berdampak pada variabel endogen. Dalam penelitian ini variabel eksogen yang

diteliti adalah pengeluaran pemerintah bidang pembangunan infrastruktur. Jadi,

kerangka SNSE ini menjelaskan mengenai dampak dari pengeluaran pemerintah

desa bidang pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian desa. Adapun

neraca rest of rural ialah hubungan ekonomi antara desa Waringin Jaya dengan

wilayah di luar desa tersebut.

Page 103: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

87

C. Peran APBDes Bidang Pembangunan Infrastruktur terhadap

Perekonomian Desa Waringin Jaya

Untuk melihat peran APBDes bidang pembangunan infrastruktur terhadap

perekonomian desa dapat menggunakan analisis multiplier effects SNSE. Analisis

multiplier effects SNSE digunakan untuk melihat seberapa besar dampak perubahan

dari adanya injeksi pada pengeluaran pemerintah bidang pembangunan

infrastruktur (variabel eksogen) terhadap neraca endogen (faktor produksi, institusi,

unit usaha). Adapun analisis multiplier yang akan dibahas terdiri dari analisis

multiplier nilai tambah, analisis multiplier pendapatan rumah tangga, analisis

multiplier pendapatan rumah tangga terhadap sektor, analisis multiplier keterkaitan

terhadap sektor sendiri dan analisis multiplier keterkaitan antar sektor, analisis

multiplier produksi dan analisis multiplier total.

1. Multiplier Nilai Tambah (VAM)

Multiplier nilai tambah menunjukkan seberapa besar pengaruh dari suatu

unit usaha (konsumsi dan non konsumsi) terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja

dan modal yang digunakan dalam kegiatan ekonomi masing-masing sektor. Nilai

ini diperoleh dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda neraca pada blok

faktor produksi sepanjang kolom unit usaha ke-i. Dimana multiplier ini dapat

menjelaskan mengenai peranan dari pengeluaran pemerintah desa di bidang

pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian di desa Waringin Jaya tahun

2015.

Page 104: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

88

Tabel 4.11. Multiplier Nilai Tambah pada SNSE Desa Waringin Jaya

Tahun 2015

Faktor Produksi

Unit Usaha

Konsumsi Non Konsumsi

9 10

Tk. Produksi Lokal 1 0,00036 0,00536

TK. Produksi Non Lokal 2 0,00001 0,00025

TK. Penjualan Lokal 3 0,05564 0,05475

TK. Penjualan Non Lokal 4 0,00021 0,00020

Modal 5 0,62560 0,62277

Total/VAM 0,68183 0,68336

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan hasil analisis tabel 4.11., unit usaha yang paling berpengaruh

terhadap peningkatan pendapatan tenaga kerja produksi lokal adalah unit usaha non

konsumsi dengan nilai multiplier tenaga kerja sebesar 0,00536. Nilai multiplier

tersebut memiliki arti apabila unit usaha non konsumsi diinjeksi neraca eksogennya

(pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah, maka akan meningkatkan

pendapatan tenaga kerja produksi lokal sebesar 0,00536 rupiah. Sebelum

membahas lebih lanjut, peneliti akan menjelaskan kembali mengenai multiplier

effect. Multiplier effect merupakan perubahan yang diberikan oleh neraca eksogen

(pengeluaran pemerintah desa) yang pada akhirnya akan memberikan pengaruh

pengganda sebesar Ma kepada neraca endogen (faktor produksi, institusi, unit

usaha). Semula neraca eksogen memberikan pengaruh pada satu atau beberapa

neraca endogen. Pada putaran selanjutnya, neraca yang terpengaruh oleh neraca

eksogen tersebut memberikan pengaruh pada neraca endogen yang lain. Demikian

seterusnya, terjadi rangkaian pengaruh dalam beberapa putaran sampai terjadi suatu

titik keseimbangan baru. Rangkain pengaruh dari putaran pertama sampai terjadi

Page 105: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

89

titik keseimbangan baru inilah yang disebut pengganda/multiplier (Askinatin, Mien

dkk, 1999:83).

Adapun peningkatan pendapatan tenaga kerja produksi lokal lebih besar di

unit usaha non konsumsi dikarenakan variabel eksogen dalam penelitian ini adalah

mengenai dampak pembangunan infrastruktur desa maka dapat dipastikan yang

memperoleh dampak lebih besar adalah tenaga kerja yang berhubungan dengan

pembangunan. Sekarang peneliti akan mencoba menjelaskan proses multiplier pada

tenaga kerja produksi lokal. Dalam membangun infrastruktur desa, pemerintah desa

mempekerjakan kuli bangunan dan kenek (tenaga kerja produksi) kurang lebih

sebanyak 80 orang (selebihnya dilakukan dengan gotong-royong masyarakat desa).

Dari 80 orang tenaga kerja tersebut peneliti mengambil sampling sebanyak 4 orang

tenaga kerja untuk diikuti alur perputaran uangnya. Dari masing-masing tenaga

kerja tersebut akan peneliti ikuti alur perputaran uangnya sebanyak 5 kali

perputaran uang (batas yang ditentukan peneliti).

Untuk lebih memahami bagaimana proses perputaran uang peneliti akan

memberikan contohnya, dimana bapak Rohadi (39 tahun) merupakan salah satu

tenaga kerja yang bekerja dalam pembangunan infrastruktur desa (memperoleh

direct impact) dari pengeluaran rumah tangga bapak Rohadi perputaran uang

berlanjut ke warung sembako dan sayur ibu Ntin (47 tahun), dari warung ibu Ntin

perputaran uang berlanjut ke toko sayur milik bapak Tisep (37 tahun), dari toko

bapak Tisep perputaran uang berlanjut ke tenaga kerja bapak Tisep yaitu bapak

Sukarna (34 tahun), dari bapak Sukarna perputaran uang berlanjut ke warung nasi

ibu Mimin (45 tahun). Jika dicermati terlihat bahwa neraca eksogen (pengeluaran

Page 106: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

90

pemerintah desa) mempengaruhi neraca endogen faktor produksi (tenaga kerja

produksi), neraca endogen faktor produksi akan mempengaruhi neraca endogen

institusi (rumah tangga pendapatan sedang), dari neraca endogen institusi akan

mempengaruhi neraca endogen unit usaha (konsumsi) dan seterusnya. Maka dapat

dikatakan bahwa neraca eksogen akan mempengaruhi neraca endogen dan neraca

endogen yang terpengaruh neraca eksogen akan mempengaruhi neraca endogen

lainnya. Begitulah proses rangkaian perputaran uang secara sederhana.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan saat

menelusuri perputaran uang. Pertama, ketika membelanjakan uangnya seseorang

tidak hanya membelanjakan di satu tempat melainkan keberbagai tempat. Kedua,

neraca endogen yang terpengaruh oleh neraca eksogen akan mempengaruhi neraca

endogen lainnya. Dari kedua hal tersebut akan sulit untuk mengikuti alur perputaran

uang karena banyak sekali rangkaian perputaran uang yang terbentuk. Dengan

menggunakan rumus pada model pengganda neraca dapat diketahui rangkain

pengaruh dari putaran pertama sampai terjadi titik keseimbangan baru. Jadi Ma

(pengganda neraca) merupakan matriks yang memperlihatkan pengaruh perubahan

pada suatu neraca endogen (faktor produksi, institusi, unit usaha) setelah melalui

keseluruhan rangkaian perputaran uang.

Nilai multiplier tenaga kerja produksi lokal sebesar 0,00536 pada unit usaha

non konsumsi memiliki arti bahwa apabila unit usaha non konsumsi diinjeksi neraca

eksogennya (pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah, maka akan

meningkatkan pendapatan tenaga kerja produksi lokal sebesar 0,00536 rupiah.

Dimana tenaga kerja yang termasuk dalam golongan tenaga kerja produksi akan

Page 107: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

91

merasakan peningkatan pendapatan sebesar 0,00536 rupiah dari adanya

pengeluaran pemerintah desa untuk pembangunan infrastruktur. Adapun nilai

multiplier tenaga kerja produksi lokal pada unit usaha konsumsi sebesar 0,00036

rupiah, yang berarti apabila unit usaha konsumsi diinjeksi neraca eksogennya

(pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah, maka akan meningkatkan

pendapatan tenaga kerja produksi lokal sebesar 0,00036 rupiah.

Untuk tenaga kerja produksi non lokal, unit usaha yang paling besar

memberikan pengaruh pada peningkatan pendapatan adalah dari unit usaha non

konsumsi dengan nilai multiplier tenaga kerja sebesar 0,00025. Nilai tersebut

berarti apabila unit usaha non konsumsi diinjeksi neraca eksogennya (pengeluaran

pemerintah desa) sebesar 1 rupiah, maka akan berdampak meningkatnya

penerimaan tenaga kerja produksi non lokal sebesar 0,00025 rupiah. Dimana nilai

multiplier tenaga kerja untuk unit usaha konsumsi sebesar 0,00001, yang memiliki

arti bahwa apabila unit usaha konsumsi diinjeksi neraca eksogennya (pengeluaran

pemerintah desa) sebesar 1 rupiah akan berdampak pada peningkatan penerimaan

tenaga kerja produksi non lokal sebesar 0,00001 rupiah.

Nilai multiplier tenaga kerja produksi baik lokal maupun non lokal sangat

rendah yakni kurang dari 1 yang menandakan bahwa pembangunan infrastruktur

desa tidak dapat memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan pendapatan

tenaga kerja produksi. Hal ini mungkin disebabkan penciptaan lapangan kerja pada

pembangunan infrastruktur bersifat sementara hanya sampai proyek pembangunan

selesai dimana rentang waktu pengerjaan proyek pembangunan paling cepat selama

4 hari dan paling lama 21 hari. Serta besaran upah yang diterima pekerja yakni

Page 108: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

92

untuk tenaga kerja kuli bangunan sebesar Rp 100 ribu perhari dan untuk tenaga

kerja kenek sebesar Rp 80 ribu perhari. Oleh karena durasi waktu yang sementara

ditambah upah tenaga kerja yang rendah menyebabkan dampak perputaran uang

dari pembangunan infrastruktur kurang dirasakan oleh tenaga kerja produksi.

“Saya mah teh jadi tukang udah lama, kira-kira yaa sepuluh tahunan mah

ada teh. Ya emang pekerjaan saya itu. Kemaren-kemaren di desa juga lagi ada

proyek, yaa saya alhamdulillah dipercaya pak Lurah buat koordinir temen-temen

untuk bangun jalan di desa. Kalo bapak mah teh kerjanya yaa kalo ada panggilan

aja gitu ngga tiap hari kerjanya. Kadang-kadang nunggu sebulan baru dapet ngga

nentu teh. Sekarang ini bapak lagi kerja ngebangun rumah di desa sebelah.”

(Wawancara dengan bapak Rohadi, 39 tahun pada tanggal 12 Juni 2017).

“Masalah upah kita nyerahin ke pak Lurah aja gimana baiknya. Dikasih

segitu kita mah terima-terima aja. Bersyukur... itung-itung bantu bangun desa ya

teh.” (Wawancara dengan bapak Rohadi, 39 tahun pada tanggal 12 Juni 2017).

Untuk tenaga kerja penjualan lokal paling tinggi dipengaruhi oleh unit usaha

konsumsi dengan nilai multiplier tenaga kerja sebesar 0,05564. Nilai ini berarti

apabila unit usaha konsumsi diinjeksi neraca eksogennya (pengeluaran pemerintah

desa) sebesar 1 rupiah, maka akan meningkatkan pendapatan tenaga kerja penjualan

sebesar 0,05564 rupiah. Sedangkan untuk tenaga kerja penjualan non lokal,

pengaruh paling besar diperoleh dari unit usaha konsumsi dengan nilai multiplier

tenaga kerja sebesar 0,00021 yang berarti apabila unit usaha konsumsi diinjeksi

neraca eksogennya (pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah maka akan

meningkatkan pendapatan tenaga kerja penjualan non lokal sebesar 0,00021 rupiah.

Pada nilai multiplier modal unit usaha yang paling besar kontribusinya

adalah unit usaha konsumsi dengan nilai multiplier sebesar 0,62560. Nilai ini

Page 109: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

93

memiliki arti apabila unit usaha konsumsi diinjeksi neraca eksogennya

(pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah akan berdampak pada peningkatan

penerimaan modal sebesar 0,62560 rupiah.

Multiplier nilai tambah (VAM) merupakan penjumlahan dari nilai multiplier

tenaga kerja dan nilai multiplier modal. Dimana peran dari unit usaha non konsumsi

lebih besar pengaruhnya terhadap peningkatan pertumbuhan perekonomian di desa

Waringin Jaya jika dibandingkan peran unit usaha konsumsi. Nilai VAM unit usaha

non konsumsi sebesar 0,68336 yang berarti apabila unit usaha non konsumsi

diinjeksi neraca eksogennya (pengeluaran pemerintah desa) sebesar 1 rupiah akan

meningkatkan pertumbuhan perekonomian sebesar 0,68336, dimana sebesar

0,06058 berasal dari multiplier pendapatan tenaga kerja dan sebesar 0,62277

berasal dari multiplier pendapatan modal. Walaupun nilai VAM unit usaha non

konsumsi lebih besar dibandingkan unit usaha konsumsi, tetap saja nilai VAM unit

usaha non konsumsi kurang dari satu yang menandakan bahwa pengeluaran

pemerintah desa untuk pembangunan infrastruktur dampaknya terhadap penciptaan

nilai tambah pada perekonomian desa masih rendah.

2. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga (HIIM)

Multiplier pendapatan rumah tangga menunjukkan besarnya pengaruh suatu

unit usaha (konsumsi dan non konsumsi) terhadap pendapatan rumah tangga. Nilai

HIIM diperoleh dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda neraca pada

blok institusi sepanjang kolom unit usaha ke-i. Adapun perhitungan HIIM dapat

dilihat pada tabel 4.12.

Page 110: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

94

Tabel 4.12. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga pada SNSE

Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Institusi

Unit Usaha

Konsumi Non Konsumsi

9 10

RT. Pendapatan Rendah 6 0,04379 0,04385

RT. Pendapatan Sedang 7 0,16023 0,16533

RT. Pendapatan Tinggi 8 0,35938 0,35758

Total/HIIM 0,56342 0,56677

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan hasil analisis tabel 4.12, unit usaha yang paling besar perannya

dalam peningkatan penerimaan rumah tangga pendapatan rendah adalah dari unit

usaha non konsumsi dengan nilai multiplier sebesar 0,04385. Nilai ini berarti

apabila neraca eksogen unit usaha non konsumsi diberikan injeksi sebesar 1 rupiah

maka akan berdampak pada naiknya penerimaan rumah tangga pendapatan rendah

sebesar 0,04385 rupiah. Untuk rumah tangga pendapatan sedang, unit usaha yang

paling besar memberikan pengaruh adalah unit usaha non konsumsi dengan nilai

multiplier sebesar 0,16533 yang berarti apabila neraca eksogen unit usaha non

konsumsi diberikan injeksi sebesar 1 rupiah akan berdampak pada meningkatnya

penerimaan rumah tangga pendapatan sedang sebesar 0,16533 rupiah.

Sedangkan untuk rumah tangga pendapatan tinggi pengaruh paling besar

diperoleh dari unit usaha konsumsi dengan nilai multiplier sebesar 0,35938

memiliki arti apabila neraca eksogen unit usaha konsumsi diberikan injeksi sebesar

Page 111: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

95

1 rupiah akan berdampak pada naiknya penerimaan rumah tangga pendapatan

tinggi sebesar 0,35938 rupiah.

Dari ketiga golongan rumah tangga dapat dilihat bahwa golongan rumah

tangga pendapatan tinggi baik di unit usaha konsumsi dan non konsumsi nilai

multipliernya paling tinggi dibandingkan golongan rumah tangga lainnya. Adapun

salah satu penyebab mengapa rumah tangga pendapatan tinggi pada unit usaha

konsumsi paling besar memperoleh efek multiplier adalah dikarenakan mereka

pada umumnya berstatus sebagai pemilik modal yang mempunyai bargaining

position lebih kuat dibandingkan golongan rumah tangga pendapatan rendah

(Hafizrianda,Yundi 2007:165). Sebagai contoh adalah pemilik usaha warung

tradisional dan mini market (Alfamart dan Indomaret) di desa Waringin Jaya

keduanya menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari. Adapun perbedaan yang

sangat tajam dari jenis usaha tersebut adalah besaran modal. Dengan modal yang

besar mini market (Alfamart dan Indomaret) memiliki bargaining position yang

lebih kuat dalam hal kelengkapan dan variasi produk yang dijual serta akses

terhadap produsen dan pemasok dimana dengan modal yang besar mereka bisa

sedikit menekan para produsen dan pemasok untuk memberikan harga yang lebih

murah/potongan harga.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan pemilik usaha warung tradisional,

dimana modal yang mereka miliki terbatas yang akan berpengaruh pada jumlah

produk yang mereka jual. Umumnya pelaku usaha ini bekerja sendiri atau dibantu

oleh anggota keluarga dalam menjalankan usahanya.

Page 112: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

96

“Ibu jualan disini udah hampir setahun teh.. Yang dijual jajanan anak-anak

kaya nuget, sosis, ciki-ciki gitu.. Yang jaga warung ibu sendiri anak-anak udah

pada kerja semua teh..” (Wawancara dengan Ibu Lastri, 50 tahun pada tanggal 2

Juli 2017).

Selain itu, pemilihan lokasi usaha antara warung tradisional dan mini market

berbeda. Adapun mini market lebih banyak ditemukan pada perumahan-perumahan

yang ada di desa tersebut serta pada jalan raya. Sedangkan warung tradisional lebih

banyak ditemukan pada jalan-jalan kampung yang ada di desa (Kampung Tanah

Baru, Kampung Waringin Jaya, Kampung Waringin Jaya Lebak dan Kampung

Gelonggong).

“Awalnya ibu jualan es lilin aja sama jajanan bocah terus pas ada modal

ibu tambahin buat lengkapin warung jadi jual sembako sekarang.. Biasanya ibu-

ibu kalo belanja yang kecil-kecil aja teh kalo belanja yang agak banyak biasanya

ke toko besar lebih lengkap pilihannya..” (Wawancara dengan Ibu Romlah, 30

tahun pada tanggal 3 Juli 2017).

Dengan modal yang besar keuntungan yang didapat oleh pemilik mini

market akan jauh berbeda dengan yang diperoleh pemilik usaha warung tradisional.

Hal ini menandakan bahwa efek multiplier dari pengeluaran pemerintah desa untuk

pembangunan infrastruktur dampaknya lebih dirasakan oleh rumah tangga

pendapatan tinggi jika dibandingkan yang diperoleh rumah tangga pendapatan

rendah.

3. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga terhadap Sektor (HIMS)

Multiplier pendapatan rumah tangga terhadap unit usaha menunjukkan

peranan dari konsumsi rumah tangga terhadap perkembangan unit usaha (konsumsi

dan non konsumsi) yang ada di desa Waringin Jaya. Analisis HIMS dapat

Page 113: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

97

digunakan untuk melihat seberapa besar peran dari masing-masing golongan rumah

tangga terhadap peningkatan penerimaan unit usaha. Nilai HIMS diperoleh dengan

menjumlahkan koefisen matriks pengganda neraca pada blok unit usaha sepanjang

kolom institusi ke –i.

Tabel 4.13. Multiplier Pendapatan Rumah Tangga terhadap Sektor pada

SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Unit Usaha

Institusi

RT.

Pendapatan

Rendah

RT.

Pendapatan

Tinggi

RT.

Pendapatan

Tinggi

6 7 8

Konsumsi 9 0,10532 0,03948 1,17110

Non Konsumsi 10 0,01129 0,00423 0,45629

Sumber: Data diolah, 2017

Dari hasil analisis tabel 4.13. menunjukkan golongan rumah tangga yang

paling besar pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan unit usaha konsumsi

yakni dari golongan rumah tangga pendapatan tinggi dengan nilai multiplier sebesar

1,17110. Nilai ini berarti apabila neraca eksogen rumah tangga pendapatan tinggi

diberikan injeksi sebesar 1 rupiah, maka akan meningkatkan pendapatan unit usaha

konsumsi sebesar 1,17110 rupiah. Kontribusi terbesar kedua berasal dari golongan

rumah tangga pendapatan rendah dengan nilai multiplier sebesar 0,10532 yang

berarti apabila neraca eksogen rumah tangga pendapatan rendah diberikan injeksi

sebesar 1 rupiah akan berdampak pada meningkatnya pendapatan unit usaha

konsumsi sebesar 0,10532 rupiah.

Page 114: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

98

Adapun golongan rumah tangga yang memiliki pengaruh paling kecil

terhadap peningkatan pendapatan unit usaha konsumsi adalah dari golongan rumah

tangga pendapatan sedang dengan nilai multiplier sebesar 0,03948 memiliki arti

bahwa apabila neraca eksogen rumah tangga pendapatan sedang diberikan injeksi

sebesar 1 rupiah maka akan meningkatkan pendapatan unit usaha konsumsi sebesar

0,03948 rupiah.

Untuk unit usaha non konsumsi, golongan rumah tangga yang paling besar

pengaruhnya terhadap peningkatan penerimaan unit usaha tersebut adalah dari

golongan rumah tangga pendapatan tinggi dengan nilai multiplier sebesar 0,45629

yang memiliki arti apabila neraca eksogen rumah tangga pendapatan tinggi

diberikan injeksi sebesar 1 rupiah akan berdampak meningkatnya penerimaan unit

usaha non konsumsi sebesar 0,45629 rupiah.

Sedangkan golongan rumah tangga yang paling kecil dampaknya terhadap

peningkatan penerimaan unit usaha non konsumsi adalah dari golongan rumah

tangga pendapatan sedang dengan nilai multiplier sebesar 0,00423. Nilai ini

bermakna apabila neraca eksogen rumah tangga pendapatan sedang diberikan

injeksi sebesar 1 rupiah akan memberikan dampak terhadap kenaikan penerimaan

unit usaha non konsumsi sebesar 0,00423 rupiah.

4. Multiplier Keterkaitan terhadap Sektor Sendiri (OIM) dan Multiplier

Keterkaitan Antar Sektor (OSLM)

Multiplier keterkaitan terhadap sektor sendiri dan multiplier keterkaitan

antar sektor dapat dianalisis melalui nilai multiplier produksi. Dimana manfaat dari

Page 115: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

99

own income multiplier dapat menunjukkan besarnya pengaruh suatu sektor

produksi terhadap peningkatan output pada sektor produksi itu sendiri. Nilai own

income multiplier diperoleh dari koefisien matriks pengganda neraca hanya pada

baris dan kolom masing-masing sektor yang sama. Sedangkan other sector linkage

multiplier mampu menggambarkan seberapa jauh keterkaitan ke belakang suatu

sektor produksi dengan sektor-sektor produksi lainnya. Nilai other sector linkage

multiplier di dapat dari selisih antara multiplier produksi dengan own income

multiplier sepanjang kolom unit usaha ke – i pada blok unit usaha.

Tabel 4.14. Multiplier Keterkaitan terhadap Sektor Sendiri dan Multiplier

Antar Sektor pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun

Sumber: Data diolah, 2017

Hasil tabel 4.14. menunjukkan bahwa untuk own income multiplier paling

tinggi berasal dari unit usaha non konsumsi dengan nilai multiplier sebesar 1,82325.

Nilai ini memiliki arti apabila neraca eksogen unit usaha non konsumsi diberikan

injeksi sebesar 1 rupiah akan berdampak pada meningkatnya pendapatan pada

sektor itu sendiri sebesar 1,82325 rupiah. Sedangkan untuk other sector linkage

Unit Usaha

Unit Usaha

Konsumsi Non Konsumsi

9 10

Konsumsi 9 1,75708 1,72918

Non Konsumsi 10 0,12262 1,82325

OIM 1,75708 1,82325

OSLM 0,12262 1,72918

PROM 1,87971 3,55243

Page 116: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

100

multiplier unit usaha yang paling besar pengaruhnya juga berasal dari unit usaha

non konsumsi dengan nilai multiplier sebesar 1,72918 yang memberi makna apabila

neraca eksogen unit usaha non konsumsi diberikan injeksi sebesar 1 rupiah maka

penerimaan pada sektor produksi lainnya akan meningkat sebesar 1,72918 rupiah.

Dengan membandingkan nilai dari own income multiplier dan other sector

linkage multiplier dari kedua unit usaha tersebut dapat dilihat baik pada unit usaha

konsumsi maupun unit usaha non konsumsi nilai OIM lebih tinggi jika

dibandingkan nilai OSLM yang berarti bahwa unit usaha (konsumsi dan non

konsumsi) lebih besar pengaruhnya pada sektor sendiri dibandingkan

mempengaruhi sektor lainnya. Salah satu penyebab mengapa efek multiplier unit

usaha non konsumsi lebih tinggi diperoleh dari sektor sendiri (unit usaha non

konsumsi) adalah dikarenakan dari pembangunan infrastruktur desa yang

memperoleh direct impact (dampak langsung) tertinggi adalah unit usaha non

konsumsi dimana untuk total belanja bahan matrial yang dibeli di TB. Mekar Jaya

Abadi sebesar 430.073.415 rupiah dan untuk penyewaan mobil molen dari PT.

JayaMix sebesar 60.840.000 rupiah. Direct impact tersebut nantinya akan

menstimulasi sektor lainnya (unit usaha non konsumsi) sehingga terjadi

peningkatan aktivitas ekonomi.

Untuk lebih mengetahui keterkaitan pembangunan infrastruktur desa dengan

sektor (unit usaha) lainnya bisa dengan mencari tahu posisi dari pembangunan

infrastruktur desa apakah berada pada posisi hulu atau hilir. Dalam konteks

kecenderungan suatu sektor berada pada posisi hulu atau hilir, dilakukan dengan

cara membandingkan koefisien backward linkages dengan koefisien forward

Page 117: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

101

linkages. Sektor yang memiliki koefisien backward linkages lebih besar dari

koefisien forward linkages berarti sektor tersebut cenderung berada pada posisi

hilir, dan sebaliknya cenderung pada posisi hulu (Tabrani, 2013:97). Adapun

keterkaitan sektor desa Waringin Jaya dapat dilihat pada tabel 4.15.

Tabel 4.15. Keterkaitan Sektor Pembangunan Infrastruktur Desa

Berdasarkan SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Unit Usaha

Linkages

Kategori

Backward

Linkages

Forward

Linkages

Konsumsi 0,12262 1,75708 Hulu

Non Konsumsi 1,72918 1,82325 Hulu

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan hasil tabel 4.15. unit usaha (konsumsi dan non konsumsi)

berada dalam kategori hulu, adapun hulu yang dimaksud dalam konteks ini adalah

pembangunan infrastruktur desa. Perlu diketahui, dalam menelusuri keterkaitan

sektor ada banyak rangkaian yang tercipta dimana untuk penelitian ini keterkaitan

sektor bermula dari pembnagunan infrastruktur desa. Keterkaitan ke depan

(forward linkages) menyatakan besarnya dampak yang diterima (unit usaha non

konsumsi) sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir (pembangunan

infrastruktur desa). Jadi, ketika terjadi peningkatan aktivitas pembangunan

infrastruktur desa maka unit usaha non konsumsi akan memberikan respon dengan

menaikkan outputnya dengan kelipatan sebesar koefisien keterkaitan. Dalam hal ini

unit usaha non konsumsi berada pada konsep menerima akibat dari suatu perubahan

Page 118: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

102

dan bukan sebagai penyebab terjadinya perubahan. Forward linkages

pembangunan infrastruktur desa bermula dari aktivitas pembangunan infrastruktur

desa, dari aktivitas tersebut memberikan direct impact pada unit usaha non

konsumsi (TB. Mekar Jaya Abadi dan PT. JayaMix) yang nantinya unit usaha

tersebut akan mempengaruhi unit usaha non konsumsi lainnya (indirect impact).

Nilai forward linkages unit usaha non konsumsi adalah sebesar 1,82325,

nilai tersebut menandakan bahwa pembangunan infrastruktur desa dengan unit

usaha memiliki keterkaitan yang erat. Akan tetapi, sangat disayangkan

pembangunan infrastruktur desa berorientasi pada penggunaan input impor bukan

input domestik. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi permintaan bahan matrial

bangunan diperoleh dari luar desa.

“Bapak beli barang-barang material dari luar, tempatnya beda-beda neng.

Kalau beli peralatan material bapak ambilnya di Jakarta, kalau untuk besi di

Tangerang, terus kalo beli semen bapak belinya di Bogor, dan kalau kayu itu bapak

ambilnya dari Jawa..” (Wawancara dengan bapak Abdul Rojak, 51 tahun pada

tanggal 6 Juli 2017).

5. Multiplier Produksi (PROM)

Multiplier produksi menunjukkan besarnya pengaruh suatu sektor terhadap

perubahan total output produksi dalam perekonomian. Nilai multiplier produksi

diperoleh dengan menjumlahkan koefisien matriks pengganda neraca pada blok

unit usaha sepanjang kolom unit usaha ke –i. Hasil perhitungan production

multiplier pada tabel 4.14. menunjukkan unit usaha yang paling besar pengaruhnya

Page 119: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

103

terhadap perkembangan aktivitas produksi regional yakni unit usaha non konsumsi

dengan nilai multiplier produksi sebesar 3,55243.

Adapun makna dari angka pengganda tersebut apabila neraca eksogen unit

usaha non konsumsi diberikan injeksi sebesar 1 rupiah maka akan berdampak pada

peningkatan total produksi dalam perekonomian sebesar 3,55243 rupiah. Dimana

kenaikan tersebut merupakan penjumlahan dari peningkatan unit usaha non

konsumsi pada sektor sendiri sebesar 1,82325 rupiah dan peningkatan pada sektor

ekonomi lainnya sebesar 1,72918 rupiah.

6. Multiplier Total (GOM)

Multiplier total menunjukkan besarnya pengaruh suatu unit usaha (sektor

produksi) terhadap perubahan output regional akibat adanya injeksi dari

pengeluaran pemerintah desa di bidang pembangunan infrastruktur. Nilai gross

output multiplier diperoleh dengan menjumlahkan seluruh pengganda neraca

sepanjang kolom unit usaha ke –i atau dengan menjumlahkan nilai multiplier nilai

tambah, nilai multiplier pendapatan rumah tangga dan nilai multiplier produksi.

Page 120: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

104

Tabel 4.16. Multiplier Total pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015

No. Unit Usaha VAM HIIM PROM GOM

1. Konsumsi 0,68183 0,56342 1,87971 3,12497

2. Non Konsumsi 0,68336 0,56677 3,55243 4,80257

Sumber: Data diolah, 2017

Keterangan:

VAM: Value Added Multiplier

HIIM: Household Induced Income Multiplier

PROM: Production Multiplier

GOM: Gross Output Multiplier

Berdasarkan hasil analisis tabel 4.16., unit usaha non konsumsi memiliki

peran yang tinggi jika dibandingkan unit usaha konsumsi dalam menciptakan

penerimaan regional. Dimana nilai multiplier total unit usaha non konsumsi sebesar

4,80257. Nilai ini bermakna apabila pengeluaran pemerintah desa di bidang

pembangunan infrastruktur meningkat sebesar 1 rupiah maka total penerimaan

ekonomi regional secara keseluruhan akan mengalami peningkatan sebesar 4,80257

rupiah, yang mencakup kenaikan nilai tambah sebesar 0,68336 rupiah, peningkatan

penerimaan rumah tangga sebesar 0,56677 rupiah dan peningkatan penerimaan

produksi regional secara keseluruhan sebesar 3,55243 rupiah.

D. Peran APBDes Bidang Pembangunan Infrastruktur terhadap Distribusi

Pendapatan Desa Waringin Jaya

Informasi mengenai peranan pengeluaran pemerintah desa di bidang

pembangunan infrastruktur dalam pertumbuhan ekonomi wilayah dan distribusi

pendapatan masyarakat di desa Waringin Jaya tahun 2015 telah peneliti jelaskan

Page 121: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

105

pada uraian di atas. Tetapi penjelasan tersebut belum memaparkan mengenai

distribusi pendapatan dari suatu neraca endogen ke neraca endogen lainnya. Penting

sekali untuk mengamati aliran distribusi semacam ini, dikarenakan nantinya dapat

menunjukkan kemana saja aliran pendapatan tersebut bergerak apabila dilakukan

injeksi pada neraca eksogen dari blok unit usaha (konsumsi dan non konsumsi)

yang ada di desa tersebut.

Penelusuran mengenai aliran distribusi pendapatan antara neraca endogen

dapat dilakukan dengan menggunakan analisis dekomposisi pengganda. Analisis

dekomposisi pengganda berguna untuk memperlihatkan tahapan/proses perubahan

neraca endogen yang diakibatkan oleh perubahan neraca eksogen secara jelas.

Dekomposisi pengganda neraca terdiri dari pengganda transfer (Ta), pengganda

lompatan terbuka (Oa) dan pengganda lompatan tertutup (Ca). Adapun hasil

perhitungan dekomposisi pengganda neraca dapat dilihat pada tabel 4.17.

Page 122: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

106

Tabel 4.17. Dekomposisi Pengganda Neraca pada

Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan hasil analisis dari tabel 4.7., nilai matriks pengganda transfer

menggambarkan dampak yang terjadi di dalam set neraca itu sendiri sebagai akibat

adanya injeksi terhadap salah satu sektor dalam set neraca tersebut. Dalam

memahami pengganda transfer ini kita seolah-olah berasumsi bahwa injeksi pada

suatu sektor hanya berpengaruh terhadap sektor-sektor lain dalam satu blok yang

sama dan tidak berpengaruh terhadap sektor-sektor yang berada pada blok lainnya.

Adapun cara memahaminya apabila unit usaha non konsumsi diberikan

injeksi sebesar 1 rupiah, yang pertama kali merasakan dampak tersebut adalah unit

Konsumsi Non Konsumsi Konsumsi Non Konsumsi Konsumsi Non Konsumsi

1 2 3 4 5 6 7

Faktor Produksi

TK. Produksi Lokal 0 0 0 0,00294 0 0

TK. Produksi Non Lokal 0 0 0 0,00014 0 0

TK. Penjualan Lokal 0 0 0,03166 0 0 0

TK. Penjualan Non Lokal 0 0 0,00011 0 0 0

Modal 0 0 0,35575 0,00417 0 0

Institusi

RT. Pendapatan Rendah 0 0 0,02489 0,00044 0 0

RT. Pendapatan Sedang 0 0 0,09088 0,00448 0 0

RT. Pendapatan Tinggi 0 0 0,20437 0,00229 0 0

Unit Usaha

Konsumsi 1,43694 1,41046 1 0 1,22279 0,00263

Non Konsumsi 0 1,70123 0 1 0,08533 1,00097

Neraca yang dipengaruhi Injeksi Pengganda Transfer (Ta) Lompata Terbuka (Oa) Lompatan Tertutup (Ca)

Dekomposisi Pengganda

Page 123: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

107

usaha non konsumsi itu sendiri dengan peningkatan mencapai 1,70123 rupiah.

Selanjutnya akan berpengaruh kepada unit usaha konsumsi (satu blok yang sama

dengan unit usaha non konsumsi) dengan peningkatan sebesar 1,41046 rupiah.

Sedangkan untuk unit usaha konsumsi efek pengganda transfer yang dihasilkan

hanya berpengaruh pada unit usaha itu sendiri dan tidak memberikan dampak pada

unit usaha non konsumsi.

Pengganda lompatan terbuka atau open loop menjelaskan tentang pengaruh

dari satu blok ke blok lainnya. Ketika ada peningkatan pendapatan pada blok unit

usaha (konsumsi/non konsumsi) akan berpengaruh terhadap pendapatan blok faktor

produksi, selanjutnya kenaikan pendapatan blok faktor produksi akan berpengaruh

terhadap peningkatan pendapatan blok institusi. Dari blok institusi akan berdampak

pada meningkatnya pendapatan blok unit usaha, begitu seterusnya efek tersebut

melompat dan selalu terbuka antar blok. Adapun total pengganda open loop dalam

perekonomian di desa Waringin Jaya tahun 2015 akibat adanya injeksi sebesar 1

rupiah untuk neraca eksogen unit usaha konsumsi adalah sebesar 0,70769 rupiah

yang didistribusikan kepada penerimaan tenaga kerja sebesar 0,03178 rupiah,

penerimaan modal sebesar 0,35575 rupiah dan terakhir didistribusikan pada

penerimaan rumah tangga sebesar 0,32015 rupiah.

Pengaruh lompatan tertutup atau close loop menjelaskan pengaruh dari suatu

blok ke blok yang lain, untuk kemudian kembali pada blok semula. Dimana

pengganda close loop menggambarkan pengaruh injeksi sebesar 1 rupiah pada blok

unit usaha terhadap unit usaha konsumsi dan non konsumsi setelah

melewati/berpengaruh pada blok institusi dan blok faktor produksi. Nilai

Page 124: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

108

pengganda lompatan tertutup untuk unit usaha konsumsi sendiri adalah sebesar

1,22279 rupiah, sementara untuk unit usaha non konsumsi sebesar 0,08533. Adapun

total pengganda close loop untuk unit usaha konsumsi sebesar 1,30813 rupiah.

E. Indikasi Kebocoran Wilayah dari APBDes Pembangunan Infrastruktur

Dalam menelusuri perputaran uang akan ada aliran uang yang mengalir

keluar wilayah, aliran uang yang keluar wilayah tersebut merupakan kebocoran

wilayah. Kebocoran wilayah merupakan jenis aktivitas pengeluaran/penerimaan

wilayah yang tidak meningkatkan tambahan pendapatan suatu wilayah, atau dengan

kata lain kebocoran wilayah merupakan kondisi terjadinya aliran nilai tambah ke

wilayah lainnya karena adanya potensi nilai tambah yang tidak dapat dimanfaatkan

secara optimal, sehingga menyebabkan kecilnya multiplier yang dapat ditimbulkan

dari kegiatan ekonomi suatu wilayah (Aris, Ahmad 2011:32). Kebocoran wilayah

mengakibatkan kecilnya pendapatan yang diperoleh suatu wilayah yang pada

akhirnya berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi wilayah.

Penelitian ini selain ingin mengetahui dampak pembangunan infrastruktur

terhadap perekonomian desa, juga ingin mengetahui indikasi dan potensi kebocoran

wilayah yang tercipta dari aktivitas tersebut. Apakah multiplier yang tercipta dari

pembangunan infrastruktur desa dapat dimanfaatkan sebaik mungkin di wilayah

penelitian atau mengalir keluar wilayah (mengalami kebocoran wilayah). Untuk

menghitung kebocoran wilayah peneliti menggunakan rasio pendapatan antara

modal dan tenaga kerja serta indikasi kebocoran wilayah berdasarkan forward

leakages.

Page 125: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

109

1. Rasio Pendapatan antara Modal dan Tenaga Kerja

Rasio perbandingan pendapatan antara modal dan tenaga kerja digunakan

untuk melihat kontribusi dari multiplier modal dan multiplier tenaga kerja dalam

penciptaan nilai tambah (value added) dari aktivitas pembangunan infrastruktur

desa. Rasio perbandingan diperoleh dengan membagi nilai multiplier modal dengan

nilai multiplier tenaga kerja. Adapun hasil perhitungan rasio antara multiplier

modal dengan multiplier tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 4.18.

Tabel 4.18. Nilai Rasio Multiplier Modal dengan Multiplier Tenaga Kerja

pada SNSE Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Unit Usaha Multiplier

Modal

Multiplier Tenaga

Kerja Rasio

Konsumsi 0,6256 0,05623 11,126

Non Konsumsi 0,62277 0,06058 10,279

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan hasil tabel 4.18., jika dilihat dari kontribusi terhadap penciptaan

nilai tambah kenaikan penerimaan lebih besar ke faktor produksi modal (konsumsi

dan non konsumsi) dibandingkan ke faktor produksi tenaga kerja. Hal ini

mengindikasikan bahwa pembangunan infrastruktur desa kurang bisa menciptakan

lapangan kerja. Adapun salah satu penyebab mengapa unit usaha konsumsi

memiliki keterkaitan yang erat dengan faktor produksi modal adalah dikarenakan

unit usaha konsumsi lebih banyak pengeluarannya untuk pembelian barang

dagangan dibandingkan untuk mempekerjakan karyawan. Berdasarkan hasil

Page 126: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

110

observasi lapangan umumnya responden pelaku usaha konsumsi bekerja sendiri

atau dibantu keluarga dalam menjalankan usahanya.

“...Dulu sih ada yang bantuin jaga toko tapi sekarang-sekarang ini cuma

saya sama isteri yang jaga toko. Rencananya sih habis lebaran saya mau cari

orang buat bantuin jaga toko..” (Wawancara dengan bapak Irwan Lubis, 42 tahun

pada tanggal 15 Juni 2017).

“...Yang jaga warung ibu sendiri anak-anak udah pada kerja semua teh..”

(Wawancara dengan ibu Lastri, 50 tahun pada tanggal 2 Juli 2017).

Adapun untuk tingkat kebocoran wilayah dari unit usaha konsumsi tinggi,

hal ini dikarenakan unit usaha konsumsi menjual barang jadi. Menurut Aris

(2011:58) jika sistem produksi tidak diikuti oleh sektor processing atau sektor

turunan, maka dampaknya akan mempengaruhi kecilnya multiplier nilai tambah

yang dihasilkan. Karena tidak ada proses produksi di wilayah tersebut maka untuk

memperoleh barang konsumsi dilakukan dengan membeli dari luar wilayah

(impor). Dimana Christopher dan Bryan (1994) menjelaskan kebocoran terjadi

ketika bagian dari pendapatan yang dibelanjakan untuk barang-barang dan jasa-jasa

dominan impor/dari luar wilayah (Aris, Ahmad 2011:59). Dari hasil observasi

lapangan yang peneliti lakukan ketika mengikuti alur perputaran uang dari dampak

pembangunan infrastruktur desa, umumnya perputaran uang tersebut hanya 2

sampai 3 perputaran uang di desa dan selebihnya mengalir keluar

wilayah/kebocoran wilayah. Penuturan salah satu informan adalah sebagai berikut:

“Saya disini jual sembako sama sayur-sayuran ya keperluan sehari-hari.

Kalo belanja sembako saya biasanya di kota Bogor jauh. Kalo sayur mah

belanjanya tiap hari ke pasar Induk, kalo sayur mah kan teh tiap hari abis jadi tiap

Page 127: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

111

hari ke pasar Induk, belanja disana lebih lengkap harga juga murah. Walaupun

disini deket sama pasar desa Bojong Gede juga ngambilnya tetep ke pasar Induk.

Kalo belanjanya di pasar Bojong Gede atuh ngga bisa dijual disini teh harganya

jadi kemahalan nanti ngga laku sayurnya. Yaa kalo yang beli disini ya kebanyakan

orang-orang yang disekitar sini, pak Rohadi keluarga juga pada beli disini teh..”

(Wawancara dengan ibu Ntin, 47 tahun pada tanggal 13 Juni 2017).

Dari uraian diatas ternyata efek multiplier yang ditimbulkan dari

pembangunan infrastruktur desa untuk unit usaha konsumsi di desa Waringin Jaya

lebih banyak mengalir keluar wilayah/mengalami kebocoran wilayah. Dikarenakan

tingkat kebocoran wilayah tinggi sehingga menyebabkan kecilnya multiplier yang

diperoleh. Maka dapat dikatakan bahwa dampak perputaran uang dari

pembangunan infrastruktur manfaatnya kurang dirasakan oleh masyarakat di

wilayah penelitian.

2. Indikasi Kebocoran Wilayah Berdasarkan Forward Leakages

Kriteria lainnya yang dapat digunakan untuk melihat adanya indikasi

kebocoran wilayah dari aktivitas pembangunan infrastruktur desa adalah nilai

indeks keterkaitan ke depan (forward linkages). Dimana nilai indeks keterkaitan ke

depan yang rendah atau kecil dari rata-rata seluruh sektor (<1) mengindikasikan

sektor (unit usaha) mengalami kebocoran wilayah. Sebaliknya bila nilai keterkaitan

ke depan (forward linkages) yang tinggi atau lebih besar dari rata-rata seluruh

sektor (>1) maka sektor (unit usaha) tidak mengalami kebocoran wilayah (Aris,

Ahmad 2011:85). Nilai koefisien keterkaitan ke depan unit usaha konsumsi dan non

konsumsi dapat dilihat pada tabel 4.19.

Page 128: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

112

Tabel 4.19. Nilai Koefisien Keterkaitan Kedepan Unit Usaha di

Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Unit Usaha Forward Linkages

Konsumsi 1,75708

Non Konsumsi 1,82325

Sumber: Data diolah, 2017

Berdasarkan tabel 4.19. dapat diketahui nilai koefisien keterkaitan ke depan

unit usaha konsumsi dan non konsumsi adalah sebesar 1,75708 dan 1,82325 atau

lebih besar nilai rata-rata 1. Nilai tersebut menandakan bahwa pembangunan

infrastruktur desa dengan unit usaha memiliki keterkaitan yang erat. Dengan nilai

koefisien keterkaitan ke depan (forward linkages) unit usaha lebih besar dari 1

bukan berarti tidak memiliki indikasi kebocoran ke depan (forward leakages).

Doeksen dan Charles (1969) menjelaskan bahwa daerah yang memiliki keterkaitan

sektor ekonomi yang tinggi tetapi tingkat pengeluaran impornya jauh lebih besar,

maka wilayah tersebut juga memiliki tingkat kebocoran yang tinggi (Aris, Ahmad

2011:37).

Unit usaha konsumsi memiliki tingkat kebocoran tinggi dikarenakan unit

usaha menjual barang jadi yang diperoleh dari luar wilayah/impor. Sama halnya

dengan unit usaha konsumsi, tingkat kebocoran unit usaha non konsumsi juga tinggi

dikarenakan penggunaan input impor bukan input domestik. Hal ini dikarenakan

untuk memenuhi permintaan bahan matrial bangunan diperoleh dari luar

desa/impor. Adapun penuturan informan sebagai berikut:

Page 129: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

113

“Bapak beli barang-barang material dari luar, tempatnya beda-beda neng.

Kalau beli peralatan material bapak ambilnya di Jakarta, kalau untuk besi di

Tangerang, terus kalo beli semen bapak belinya di Bogor, dan kalau kayu itu bapak

ambilnya dari Jawa..” (Wawancara dengan bapak Abdul Rojak, 51 tahun pada

tanggal 6 Juli 2017).

Pembangunan infrastruktur desa memiliki keterkaitan yang erat dengan unit

usaha konsumsi dan non konsumsi akan tetapi tingkat kebocoran wilayah kedua

unit usaha tersebut tinggi, hal ini terjadi karena barang-barang dominan

impor/diperoleh dari luar wilayah. Dampaknya adalah perputaran uang dari

aktivitas pembangunan infrastruktur desa lebih banyak mengalir keluar wilayah,

sehingga dampak ekonomi dari aktivitas tersebut kurang dirasakan oleh masyarakat

di wilayah penelitian.

Page 130: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

113

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data kuantitatif dan kualitatif

yang didapat dari lapangan, peneliti memperoleh kesimpulan yang dapat diambil

dari penelitian mengenai Efek pengganda pengeluaran APBDes bidang

pembangunan infrastruktur di desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede

Kabupaten Bogor tahun 2015 sebagai berikut:

1. Peran pengeluaran pemerintah desa untuk pembangunan infrastruktur terhadap

perekonomian desa dilihat dari koefisien pengganda nilai tambah pada unit

usaha konsumsi dan non konsumsi sebesar 0,68183 dan 0,68336. Nilai

koefisien tersebut menjelaskan bahwa pengeluaran pemerintah desa untuk

pembangunan infrastruktur dampaknya terhadap penciptaan nilai tambah pada

perekonomian desa masih rendah. Nilai koefisien pengganda pendapatan

rumah tangga paling besar dampaknya dirasakan oleh golongan rumah tangga

pendapatan tinggi yakni pada unit usaha konsumsi sebesar 0,35938 dan unit

usaha non konsumsi sebesar 0,35758. Dan untuk koefisien pengganda total,

nilai pengganda unit usaha konsumsi sebesar 3,12497 dan unit usaha non

konsumsi sebesar 4,80257.

2. Nilai koefisien pengganda transfer unit usaha konsumsi sebesar 1,43694 dan

unit usaha non konsumsi sebesar 1,70123. Nilai total pengganda open loop

untuk unit usaha konsumsi sebesar 0,70769 yang didistribusikan kepada

penerimaan tenaga kerja sebesar 0,03178, penerimaan modal sebesar 0,35575

Page 131: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

114

dan didistribusikan kepada penerimaan rumah tangga sebesar 0,32015. Total

pengganda close loop untuk unit usaha konsumsi adalah sebesar 1,30813 yang

didistribusikan untuk unit usaha konsumsi sebesar 1,22279 dan didistribusikan

untuk unit usaha non konsumsi sebesar 0,08533.

3. Berdasarkan rasio pendapatan antara modal dan tenaga kerja serta forward

leakages, kebocoran wilayah dari adanya aktivitas pembangunan infrastruktur

desa tinggi. Hal ini terjadi karena unit usaha menjual barang jadi yang

diperoleh dari luar wilayah/impor dan penggunaan input impor bukan input

domestik. Sehingga perputaran uang dari aktivitas tersebut lebih banyak

mengalir keluar wilayah/mengalami kebocoran wilayah.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan dari pengalaman

peneliti ketika berada di lapangan, maka diajukan beberapa saran yang bisa

digunaan Kementrian Desa/Instansi terkait sebaagi bahan pertimbangan. Adapun

sarannya sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil observasi di lapangan ketika peneliti melakukan wawancara

dengan informan, mereka memberitahukan bahwa untuk dampak ekonomi dari

aktivitas pembangunan infrastruktur belum dirasakan dampaknya secara

langsung. Tetapi mereka mengakui untuk dampak sosial dari pembangunan

infrastruktur khususnya kemudahan untuk mobilitas dikarenakan jalan sudah

bagus/beton dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat desa. Jadi, dari

adanya aktivitas pembangunan infrastruktur desa masyarakat lebih merasakan

dampak sosial daripada dampak ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas

Page 132: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

115

tersebut. Dari beberapa desa yang peneliti observasi ternyata masih banyak

desa yang tidak memiliki pendapatan asli desa/PADes dan sangat

mengandalkan dana transfer. Untuk itu saran peneliti adalah Kementrian Desa

lebih menguatkan/optimalkan program produk unggulan kawasan pedesaan

(Prukades) agar dapat mewujudkan desa mandiri secara ekonomi.

2. Saran peneliti adalah Kementrian Desa memberikan pendamping kepada tiap-

tiap desa untuk masalah terkait pemberdayaan ekonomi desa. Karena

umumnya pendamping desa yang ada saat ini lebih berfokus pada pengelolaan

dan pengawasan APBDes. Maka itu, untuk mewujudkan desa mandiri secara

ekonomi Kementrian Desa perlu memberikan pendamping desa terkait

pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Page 133: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

116

DAFTAR PUSTAKA

Aini, Nur. (2016, 28 November). Jokowi Klaim Dana Desa Tingkatkan Ekonomi

Perdesaan 80 Persen. Republika. Tersedia:

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/28/ohcp5x382-

jokowi-klaim-dana-desa-tingkatkan-ekonomi-perdesaan-80-persen.

Aris, Ahmad. 2011. “Dampak Pengembangan Perkebunan Kelapa Rakyat

terhadap Kemiskinan dan Perekonomian Kabupaten Indragiri Hilir”.

Disertasi. IPB. Bogor.

Askinatin, Mien. 1999. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: Sumber Daya Alam,

Sumber Daya Manusia, Teknologi. Jakarta: Badan Pengkajian dan

Penerapan Teknologi/BPPT.

Badan Pusat Statistik. Kabupaten Bogor dalam Angka 2015.

Barokah, Hindun dkk. 2015. Indeks Pembangunan Desa 2014: Tantangan

Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa. Jakarta: Bappenas dan

BPS.

Bird and Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentralization in Developing

Countries/Terjemahan. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Chozin, M.A. dkk. 2013. Pembangunan Perdesaan dalam Rangka Peningkatan

Kesejahteraan Masyarakat. Bogor: IPB Press.

Daryanto, Arief dan Yundy Hafizrianda. 2010. Analisis Input-Output dan Social

Accounting Matrix untuk Pembangunan Ekonomi Daerah. Bogor: IPB

Press.

Daryanto, Arief dan Yundy Hafizrianda. 2010. Model-Model Kuantitatif untuk

Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah: Konsep dan Aplikasi.

Bogor: IPB Press.

Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Bappenas. Info Singkat Kemiskinan dan

Penanggulangan Kemiskinan Wilayah Jawa.

Djalil, Rizal. 2014. Akuntabilitas Keuangan Daerah: Implementasi Pasca

Reformasi. Jakarta: RMBOOKS.

Eko, Sutoro dkk. 2016. Dana Desa untuk Desa Membangun Indonesia (Tanya

Jawab Seputar Dana Desa). Jakarta: Kementrian Desa, Pembangunan

Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Page 134: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

117

Fadli, Mohammad dkk. 2013. Pembentukan Peraturan Desa Partisipatif: (Head To

A Good Village Governance). Malang: UB Press.

Fernandez, Joe. 2009. Anggaran Pro-Kaum Miskin: Sebuah Upaya

Menyejahterakan Masyarakat. Jakarta: LP3ES.

Hafizrianda, Yundy. 2007. “Dampak Pembangunan Sektor Pertanian terhadap

Distribusi Pendapatan dan Perekonomian Regional Provinsi Papua: Suatu

Analisis Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi”. Disertasi. IPB. Bogor.

Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kuantitatif

dan Kualitatif. Jakarta: Erlangga.

Leksono, Sonny. 2013. Penelitian Kualitatif Ilmu Ekonomi: Dari Metodologi ke

Metode. Jakarta: Rajawali Pers.

Murdaningsih, Dwi. (2016. 27 November). Mendes Klaim Dana Desa Beri Dampak

Signifikan Bagi Desa. Republika. Tersedia:

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/27/ohad9u368-

mendes-klaim-dana-desa-beri-dampak-signifikan-bagi-desa

Murohman. 2014. “Analisis Dampak Perubahan Alokasi Investasi Pemerintah

Daerah terhadap Pengentasan Kemiskinan di Kalimantan Barat”. Tesis.

IPB. Bogor.

Noegroho, Yoenanto Sinung dan Lana Soelistianingsih. 2007. “Analisis Disparitas

Pendapatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah dan Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Regional”. UI. Depok.

Noerhadi, Toeti Heraty. 2013. Berpijak pada Filsafat (Buku Satu: Bioetika dan

Epistemologi). Depok: Komunitas Bambu.

Nota Keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun

Anggaran 2015

Nurcholis, Hanif. 2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Jakarta: Erlangga.

Peraturan Bupati Bogor Nomor 22 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pembagian dan

Penetapan Rincian Dana Desa Tahun Anggaran 2015

Peraturan Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Nomor

1 Tahun 2015 Tentang Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa)

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa

Tahun 2015

Page 135: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

118

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 93/PMK.07/2015 Tentang

Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan dan

Evaluasi Dana Desa

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 Tentang

Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang

Desa

Prabowo, Rakhmat. 2015. “Dampak Pengembangan Subsektor Peternakan

terhadap Perekonomian Indonesia: Analisis Sistem Neraca Sosial

Ekonomi”. Skripsi. IPB. Bogor.

Prasetyanto, Eko. 2012. “Dampak Alokasi Dana Desa pada Era Desentralisasi

Fiskal terhadap Perekonomian Daerah di Indonesia”. Disertasi. IPB.

Bogor.

Prihawantoro, Socia. 2002. Pengembangan Wilayah dan Otonomi Daerah: Kajian

Konsep dan Pengembangan. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan

Teknologi Pengembangan Wilayah-BPPT.

Rahmanta. 2006. “Dampak Pengeluaran Pemerintah terhadap Pertumbuhan dan

Distribusi Pendapatan di Sumatera Utara: Pendekatan Sistem Neraca

Sosial Ekonomi”. Disertasi. IPB. Bogor.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019

Rustiadi, Ernan dkk. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta:

Crestpent Press dan Pustaka Obor Indonesia.

Sawitri, Dewi. 2006. “Keikutsertaan Masyarakat dalam Pengembangan Lokal

(Studi Kasus: Pengembangan Desa di Jawa Barat)”. Jurnal Perencanaan

Wilayah dan Kota, Vol.17/No.1,hlm 39-60.

Subroto, Agus. 2009. “Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa (Studi Kasus

Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa-Desa dalam Wilayah Kecamatan

Tlogomulyo Kabupaten Temanggung Tahun 2008)”. Tesis. UNDIP.

Semarang.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:

Alfabeta.

Sukarso, Aman. 2001. “Pengaruh Pendapatan Desa dan Kelancaran

Pemerintahan Desa serta Implikasinya terhadap Kesejahteraan

Masyarakat Desa di Kabupaten Serang”. Tesis. Universitas Satyagama.

Jakarta.

Page 136: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

119

Sukirno, Sadono. 2011. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar

Kebijakan. Jakarta: Kencana.

Sukma, Andrio Firstiana. 2015. “Efek Pengganda Infrastruktur Pekerjaan Umum

dalam Perekonomian Provinsi Bali”. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota

vol.26, no.2, hlm100-110.

Susanto. 2013. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis,

Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

Suwignjo. 1986. Administrasi Pembangunan Desa dan Sumber-Sumber

Pendapatan Desa. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tabrani. 2013. “Analisis Kebocoran Wilayah dalam Pembangunan Sektor

Pertambangan di Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan

(Pendekatan Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi)”. Tesis. IPB. Bogor.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan

Daerah

Visi Misi, dan Program Aksi Jokowi-Jusuf Kalla 2014 (Jalan Perubahan untuk

Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkpribadian). Jakarta Mei 2014.

Widjaja. 2010. Otonomi Desa Merupakan Otonomi yang Asli, Bulat dan Utuh.

Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Yulianto, Agus. (2016, 28 November). Presiden: Dana Desa Ditambah Dua Kali

Lipat. Republika. Tersedia:

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/11/28/ohchfr396-

presiden-dana-desa-ditambah-dua-kali-lipat

Yurianto. 2012. “Dampak Investasi dan Pengeluaran Pemerintah terhadap Kinerja

Perekonomian Daerah pada Era Otonomi”. Disertasi. IPB. Bogor.

Page 137: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

LAMPIRAN

Page 138: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-1

ALUR BERPIKIR PENELITIAN

Page 139: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-2

Senin , 28 November 2016, 16:09 WIB

Presiden: Dana Desa Ditambah Dua Kali Lipat Red: Agus Yulianto

Presiden Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID, TUBAN

Presiden Joko Widodo berjanji akan menambah anggaran dana desa 2018 menjadi dua kali

lipat dari anggaran 2017 yang telah dialokasikan Rp 60 triliun. Pemberian dana desa ini dinilai telah

memberikan efek positif berantai terhadap perekonomian masyarakatdesa.

"Tahun depan kan sudah Rp 60-an triliun dari Rp 47 triliun di 2016. Tahun depannya sudah

kami hitung-hitung, saya mau di dua kali lipatkan. Pada 2018 dua kali lipat, tapi masih dihitung,"

kata Presiden saat meninjau proyek dana desa di Desa Sumurgeneng, Kecamatan

Jenu,Tuban,JawaTimur,Senin(28/11).

Menurut Presiden, dana tersebut telah memberikan efek berantai (efek ganda) ke mana-

mana terhadap perekonomian masyarakat desa. "Ini dalam rangka memberikan efek perputaran uang

di bawah, di desa, di daerah, sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari itu," kata Presiden

yang didampingi Menteri Desa Eko Putro, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki

Hadimuljono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Kepala Desa Sumurgeneng.

Presiden mencontohkan, dana Desa Sumurgeneng yang sekitar Rp 600 juta ditambah

anggaran dari kabupaten dan provinsi sebesar Rp 400 juta telah menghidupkan perekonomian

masyarakatnya. "Meskipun yang kita lihat yang dikerjakan hal-hal yang kecil-kecil untuk

pengerasan jalan seperti ini, kemudian untuk pembuatan saluran air seperti ini, tapi perputaran uang

yang ada di desa ini, sekali lagi Rp 1 miliar lebih, Rp 1,80 miliar. Tadi saya saya cek angka-

angkanyakan bagus,"kata Presiden.

Presiden Jokowi juga mengungkapkan, hasil laporan dari Badan Pengawasan Keuangan dan

Pembangunan (BPKP) terkait penggunaan dana desa telah menunjukkan tepat sasaran.

Dalam kunjungannya ke kabupaten Tuban, Presiden usai menghadiri peringatan Hari

Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional 2016 langsung meninjau pembangunan

saluran air yang berasal dari dana desa di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban.

NB: Berita ini merupakan gambaran tentang tema penelitian yang akan dibahas oleh peneliti. Adapun untuk tema

penelitian sendiri telah peneliti ajukan ke dospem pada Februari 2016 dengan catatan mengalami revisi akan tetapi

untuk tema penelitian yang akan dibahas tetap sama.

Page 140: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-3

Latar Belakang Penelitian

Keterangan:

: Fokus Penelitian

Pengeluaran daerah merupakan FUNGSI dari Penerimaan daerah

Pusat Desa

Pendapatan ↑

(Dana Desa)

APBDes

Momentum

Dana Desa

Pengeluaran ↑

B. Pembangunan

Infrastruktur

ME Ekonomi

Musrenbangdes

Kebocoran Wilayah

Page 141: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-4

Paradigma

Pengertian paradigma adalah dinyatakan sebagai kerangka referensi yang

mendasari sejumlah teori maupun praktik-praktik ilmiah dalam peroide tertentu, di

lain uraian paradigma adalah sebagai model-model yang mengasilkan perpaduan

tradisi dalam riset ilmiah yang mencakup dalil, teori, penerapan dan instrumentasi.

Mengapa paradigma dianggap penting, diantaranya sebagai berikut:

“All the research needs a foundation for its inquiry, and inquires need to

be aware of the implicit worldviews they bring to their studies”. Patton (1990:37)

memahami paradigma sebagai “a world view, a general perspective, a way of

breaking down of the complexity of the real world (satu wawasan tentang dunia,

suatu sudut pandang umum, atau suatu jalan dalam menjabarkan kompleksitas

kenyataan di dunia” dalam Leksono,Sony (2013:98). Adapun perbedaan antara

paradigma kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut:

Kualitatif Kuantitatif

Menganjurkan pemakaian metode kualitatif Menganjurkan pemakaian metode kuantitatif

Berdasarkan pada fenomenologis &

sebagaimana adanya

Berdasarkan pada logika positivisme

Perhatian tertuju pada “pemahaman”

tingkah laku manusia & sudut pelaku

Mencari fakta-fakta & sebab-sebab gejala

sosial dengan mengesampingkan keadaan

individu-individu

Pengamatan bersifat “alamiah” & tidak

dikendalikan

Pengamatan ditandai dengan pengukuran

yang dikendalikan

Bersifat deskriptif dan induktif Inferensial, deduktif-hipotesis

Berorientasi pada proses Berorientasi pada hasil

Data bersifat mendalam, kaya & nyata Data dapat diulang

Realitas yang bersifat dinamik Realitas yang bersifat stabil

Sumber: Idrus, Muhammad(2009:22)

Dalam paradigma mencakup asumsi-asumsi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis,

yakni sebagai berikut:

Page 142: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-5

NB:

Dalam konsep Khun, paradigma selalu berperan menentukan permasalahan ontologi, epistemologi,

dan metodologi ilmiah, maka dapat dikatan bahwa paradigma mengonstruksi apa yang kita sebut ilmu

pengetahuan (realisme konstruktif). Oleh karena itu, dalam pemilihan objek dan instrumen yang

digunakan oleh peneliti disesuaikan dengan ciri-ciri penelitian non-positive (lihat lampiran

paradigma).

Karena paradigma, kerangka konseptual dan perspektif itu plural, maka ada keanekaragaman metode

yang dapat digunakan dalam ilmu pengetahuan dengan keanekaragaman Kebenaran.

Ontologi

Bidang ilmu perencanaan wilayah yang mencakup

pengembangan wilayah dan pengembangan SDM

lokal. Dimana objek material dalam penelitian ini

merupakan masyarakat (pelaku usaha & TK) yang

memperoleh manfaat dari APBDes b.pembangunan

infrastruktur serta masyarakat dan aparatur desa yang

terlibat dalam proses pembangunan infrastruktur desa.

Epistemologi

Cabang filsafat mengenai pengetahuan,

sumber pengetahuan & batas-batas

pengetahuan, & keabsahan pengetahuan

menurut kriteria kebenaran beserta struktur

menyangkut kaitan antara subjek & objek

pengetahuan.

Menggunakan konsep Paradigma Thomas

Khun

Paradigma non-positive dengan pendekatan

kualitatif dan kuantitatif (Lihat lampiran

Metodologi Penelitian).

Paradigma

Non-Positive

Aksiologi

Pembaruan

Manfaat Rill (Lihat BAB I mengenai Hasil

yang Diharapkan).

Page 143: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-6

Kerangka Berpikir

APBDes

Pengeluaran Pemerintah Desa

Bidang Pembangunan Infrastruktur

Pengembangan Wilayah

Perekonomian

Desa

Distribusi

Pendapatan

Analisis SNSE

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Kebocoran

Wilayah

Page 144: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-7

Metodologi Penelitian

Non Positivisme

Kuantitatif

Deskriptif

Kualitatif

Deskriptif

Kuesioner

Responden

Snowball Sampling

Analisis SNSE

Interpretasi

Kesimpulan

Wawancara Semi-struktur

Informan

Purposive Sampling

Analisis Interaktif

Interpretasi

Page 145: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-8

Pendekatan Kuantitatif

Analisis SNSE

Pengumpulan Data

Klasifikasi

Tabulasi

Olah Data

Pembahasan

Page 146: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L1-9

Pendekatan Kualitatif

Analisis Model

Interaktif

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Penyajian Data

Kesimpulan/Verifikasi

Page 147: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-1

DUKUMENTASI

Page 148: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-2

Surat Izin Penelitian dari Fakultas

Page 149: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-3

Surat Izin Penelitian dari Pemerintah Desa

Page 150: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-4

APBDES Perubahan Desa Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015

Uraian Anggaran (Rp)

Pendapatann

Pendapatan Asli Desa

Hasil Swadaya dan Partisipasi Gotong Royong Masyarakat 45.000.000

Pendapatan Transfer

Bagian dari Hasil Pajak Daerah 161.863.004

Alokasi Dana Desa 513.301.141

Bantuan Keuangan Pemerintah dan Kabupaten 50.000.000

Bantuan APBD (Mobil Siaga Desa) 150.000.000

Bantuan Dana Desa 306.777.862

Tambahan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa 15.000.000

Bantuan Dana Provinsi (Infrastruktur Desa) 100.000.000

Bantuan Keuangan APBD Kabupaten 200.000.000

Pendapatan Lain-lain

Hibah dan Sumbangan dari pihak ketiga 0

Lain-Lain Pendapatan Desa yang Sah 0

Jumlah Pendapatan 1.541.000.000

Belanja Desa

Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa 418.400.000

Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa 734.955.500

Bidang Pembinaan Kemasyarakatan 85.000.000

Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan 166.000.000

Bidang Tak Terduga 474.145

Tabungan PILKADES 8.470.000

Jumlah Belanja 1.541.000.000

Penerimaan Pembiayaan

SiLPA 0

Pencairan Dana Cadangan 0

Hasil Kekayaan Desa yang Dipisahkan 0

Pengeluaran Pembiayaan

Pembentukan Dana Cadangan 0

Penyertaan Modal Desa 0

Sumber: Laporan akhir tahun pemerintahan desa Waringin Jaya TA 2015 (Diolah)

Page 151: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-5

Pembangunan Desa (Infrastruktur) Waringin Jaya Tahun Anggaran 2015

No. Uraian Anggaran (Rp) Sumber Dana

1. Betonisasi Jalan Desa (RW 05) 100.000.000 Dana Provinsi

2. Betonisasi Jalan Lingkungan (RW 06) 50.000.000 APBD

3. Rutilahu (di 6 RW) 200.000.000 APBD

4. Renovasi Kantor Desa 78.200.000 ADD

5. Betonisasi Jalan Lingkungan (RW 04,

06, 09) 191.755.500 Dana Desa

6. Pembangunan Posyandu (RW 03, 06,

10, 11) 115.000.000 Dana Desa

Jumlah 734.955.500

Sumber: Laporan akhir tahun pemerintahan desa Waringin Jaya TA 2015 (Diolah)

Page 152: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L2-6

Dokumentasi Gambar

Bersama Informan Bersama Responden

Pembangunan Jalan Desa Pembangunan Jalan Lingkungan

Pembangunan Posyandu

Page 153: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-1

PENDEKATAN KUANTITATIF

Page 154: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-2

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

Jalan Ir. Haji Juanda No. 95, Ciputat, Cempaka Putih, Ciputat Timur,

Kota Tangerang Selatan, Banten 15412

Telp (021) 7401925

KUESIONER PELAKU USAHA

Nomor : ....................................................

Hari/Tanggal wawancara : ....................................................

No HP/Telp. : ....................................................

Alamat : ....................................................

Petunjuk : isi dan pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan memberikan tanda (x)

pada bagian yang telah tersedia.

A. Data Pribadi

1. Nama Responden :

2. Jenis Kelamin :

a. Pria b. Wanita

3. Umur : ....................tahun

4. Pendidikan Terakhir :

a. Tidak lulus SD c. SMP e. D3/S1

b. SD d. SMA

5. Status Pernikahan :

a. Menikah b. Belum Menikah

Kuisioner ini digunakan sebagai bahan SKRIPSI yang berjudul Efek Pengganda

Pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Bidang Pembangunan

Infrastruktur di Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor

Tahun 2015 yang dilakukan peneliti Nurlaela (1112084000025). Saya mohon partisipasi

Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berkenan mengisi kuisioner ini dengan teliti dan lengkap

sehingga dapat memberikan data yang objektif. Inforamasi yang Bapak/Ibu/Saudara/i

berikan dijamin kerahasiaannya dan tidak untuk dipublikasikan. Atas perhatian

Bapak/Ibu/Saudara/i saya ucapkan terima kasih.

Page 155: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-3

6. Jumlah Anggota Keluarga : .........................orang

B. Pertanyaan Terkait Unit Usaha

7. Jenis unit usaha ............................................................

8. Sudah berapa lama bapak/ibu memiliki usaha ini?

9. Berapa modal awal bapak/ibu saat memulai usaha ini? Rp.................../bulan

10. Berapa penghasilan yang diperoleh dari usaha ini? Rp........................./bulan

11. Adakah penghasilan lain bapak/ibu di luar usaha ini? Ada / Tidak, Jika ada,

Rp............................/bulan

12. Berapa lama bapak/ibu bekerja dalam satu hari? ..........................jam

13. berapa lama bapak/ibu bekerja dalam satu minggu? .....................hari

14.berapa orang yang terlibat dalam usaha bapak/ibu ini? .................orang

15. Dari pendapatan yang bapak/ibu peroleh, dapatkah bapak/ibu rincikan pengeluaran

untuk usaha per bulan?

Pengeluaran Unit Usaha Jumlah (Rp) Alur Pengeluaran Unit Usaha (Lokal/Non Lokal)

a. Upah Karyawan .................... ..............................................................................

b. Pembelian Bahan ................... .............................................................................

c. Biaya Operasional ..................... ................................................................... ...........

d. Pangan Harian ..................... .............................................................................

e. Transportasi Lokal ...................... ............................................................................

Pengeluaran RT (Pelaku Usaha) Jumlah (Rp) Alur Pengeluaran RT (Pelaku Usaha)

a. Pangan

Beras .................... ................................................. ........

Sayur-sayuran ..................... ........................................................

Telur & Susu ...................... ........................................................

Ikan ..................... ........................................................

Minyak goreng ...................... .........................................................

Gula Pasir ...................... .........................................................

Teh & Kopi ..................... ........................................................

Mie Instan ..................... ........................................................

Rokok ...................... .........................................................

b. Non Pangan

LPG ..................... .........................................................

S.cuci, S.mandi dll ..................... .........................................................

Alat-alat Tulis ..................... .........................................................

Page 156: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-4

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

Jalan Ir. Haji Juanda No. 95, Ciputat, Cempaka Putih, Ciputat Timur,

Kota Tangerang Selatan, Banten 15412

Telp (021) 7401925

KUESIONER TENAGA KERJA

Nomor : ....................................................

Hari/Tanggal wawancara : ....................................................

No HP/Telp. : ....................................................

Alamat : ....................................................

Petunjuk : isi dan pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan memberikan tanda (x)

pada bagian yang telah tersedia.

A. Data Pribadi

1. Nama Responden :

2. Jenis Kelamin :

a. Pria b. Wanita

3. Umur : ....................tahun

4. Pendidikan Terakhir :

a. Tidak lulus SD c. SMP e. D3/S1

b. SD d. SMA

5. Status Pernikahan :

Kuisioner ini digunakan sebagai bahan SKRIPSI yang berjudul Efek Pengganda

Pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Bidang Pembangunan

Infrastruktur di Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor

Tahun 2015 yang dilakukan peneliti Nurlaela (1112084000025). Saya mohon partisipasi

Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berkenan mengisi kuisioner ini dengan teliti dan lengkap

sehingga dapat memberikan data yang objektif. Inforamasi yang Bapak/Ibu/Saudara/i

berikan dijamin kerahasiaannya dan tidak untuk dipublikasikan. Atas perhatian

Bapak/Ibu/Saudara/i saya ucapkan terima kasih.

Page 157: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-5

a. Menikah b. Belum Menikah

6. Jumlah Anggota Keluarga : .........................orang

B. Pertanyaan Terkait Pekerjaan

7. Usaha bapak/ibu adalah............................................................

8. Sudah berapa lama bapak/ibu bekerja di usaha ini?

9. Berapa penghasilan bapak/ibu dari pekerjaan ini? Rp.................../bulan

10. Adakah penghasilan lain bapak/ibu di luar pekerjaan ini? Ada / Tidak, Jika ada,

Rp............................/bulan

11. Berapa lama bapak/ibu bekerja dalam satu hari? ..........................jam

12. Berapa lama bapak/ibu bekerja dalam satu minggu? .....................hari

13. Dari pendapatan yang bapak/ibu peroleh, dapatkah bapak/ibu rincikan pengeluaran

untuk biaya sehari-hari per bulan?

Pengeluaran Tenaga Kerja Jumlah (Rp) Alur Pengeluaran Tenaga Kerja (Lokal/Non Lokal)

a. Pangan Harian .................... .............................................................................

b. Transportasi Lokal ................... .............................................................................

Pengeluaran RT (Pekerja) Jumlah (Rp) Alur Pengeluaran RT (Pekerja)

a. Pangan

Beras .................... .........................................................

Sayur-sayuran ..................... .................................... ....................

Telur & Susu ...................... ........................................................

Ikan ..................... ........................................................

Minyak goreng ...................... .........................................................

Gula Pasir ...................... .........................................................

Teh & Kopi ..................... ........................................................

Mie Instan ..................... ......................... ...............................

Rokok ...................... .........................................................

b. Non Pangan

LPG ..................... .........................................................

S.cuci, S.mandi dll ..................... .........................................................

Alat-alat Tulis ..................... .........................................................

Page 158: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-6

Klasifikasi Sistem Neraca Sosial Ekonomi Desa Waringin Jaya Tahun 2015

Kode F

AK

TO

R P

RO

DU

KS

I

Tenaga Kerja

Produksi, Operator Alat Angkutan, Manual dan Buruh Kasar

Lokal 1

Non Lokal 2

Tata Usaha, Penjualan, Jasa-Jasa

Lokal 3

Non Lokal 4

Modal 5

INS

TIT

US

I

Rumah

Tangga

RT Desa Pendapatan Rendah 6

RT Desa Pendapatan Sedang 7

RT Desa Pendapatan Tinggi 8

US

AH

A Konsumsi 9

Non Konsumsi 10

EK

SO

GE

N

Pengeluaran Pemerintah 11

Rest of Rural 12

Page 159: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-7

Kerangka Sistem Neraca Sosial Ekonomi Desa Waringin Jaya Tahun 2015 (12x12)

Tabel SNSE ini menjelaskan mengenai dampak dari pengeluaran pemerintah desa di bidang Pembangunan Infrastruktur (Sebagai variabel Eksogen). Data = 19 Keseimbangan Tabulasi = 26

Uraian Transaksi

Faktor Produksi Institusi Unit Usaha Eksogen

Total TK Pro

Lokal

TK Pro

N.Lokal

TK

Pen

Lokal

TK Pen

N.Lokal Modal

Pen

Rendah

Pen

Sedang

Pen

Tinggi Konsumsi

Non

Konsumsi

Peng

Pemerintah

Rest of

Rural

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Fa

kto

r P

ro

du

ksi

TK Pro Lokal 1 T110 X111 X112 Y113

TK Pro N.Lokal 2 T210 Y213

TK Pen Lokal 3 T39 Y313

TK Pen N.Lokal 4 T49 Y413

Modal 5 T59 T510 Y513

Inst

itu

si Pen Rendah 6 T61 T62 T63 T65 T66 X611 Y613

Pen Sedang 7 T71 T72 T73 T74 T75 T77 Y713

Pen Tinggi 8 T83 T85 T88 Y813

Usa

ha

Konsumsi 9 T96 T97 T98 T99 T910 X912 Y913

Non Konsumsi 10 T106 T107 T108 T1010 X1011 X1012 Y1013

Ek

sog

en

Peng Pemerintah 11 L1111 L1112 Y1113

Rest of Rural 12 L123 L125 L126 L127 L128 L129 L1210 L1211 Y1213

Total 13 Y’113 Y’213 Y’313 Y’413 Y’513 Y’613 Y’713 Y’813 Y’913 Y’1013 Y’1113 Y’1213

Page 160: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-8

Kerangka Sistem Neraca Sosial Ekonomi Desa Waringin Jaya Tahun 2015 (12x12)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 938.250.000 70.830.000 16.469.798.650 17.478.878.650

2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 45.000.000 0 0 45.000.000

3 0 0 0 0 0 0 0 0 17.413.500.000 0 0 0 17.413.500.000

4 0 0 0 0 0 0 0 0 65.625.000 0 0 0 65.625.000

5 0 0 0 0 0 0 0 0 195.623.340.000 1.330.000.000 0 0 196.953.340.000

6 487.638.830 27.000.000 1.741.350.000 0 9.847.667.000 2.313.131.166 0 0 0 0 200.000.000 0 14.616.786.996

7 16.991.239.820 18.000.000 2.612.025.000 65.625.000 39.390.668.000 0 11.549.831.560 0 0 0 0 0 70.627.389.380

8 0 0 4.353.375.000 0 98.476.670.000 0 0 10.283.004.500 0 0 0 0 113.113.049.500

9 0 0 0 0 0 709.500.000 1.277.100.000 46.273.520.250 167.206.422.400 183.927.064.600 0 150.485.780.150 549.879.387.400

10 0 0 0 0 0 28.500.000 51.300.000 22.622.609.900 0 131.398.265.000 430.073.415 164.247.831.285 318.778.579.600

11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 734.955.500 761.743.415 1.496.698.915

12 0 0 8.706.750.000 0 49.238.335.000 11.565.655.830 57.749.157.820 33.933.914.850 169.570.500.000 1.140.000.000 60.840.000 0 331.965.153.500

13 17.478.878.650 45.000.000 17.413.500.000 65.625.000 196.953.340.000 14.616.786.996 70.627.389.380 113.113.049.500 549.879.387.400 318.778.579.600 1.496.698.915 331.965.153.500

Page 161: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-9

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1,000013042 2,49304E-05 0,000340944 1,24618E-05 0,000675656 3,32428E-05 1,24618E-05 0,001343003 0,000360914 0,005366326

2 6,25497E-07 1,000001196 1,63522E-05 5,9769E-07 3,24056E-05 1,59438E-06 5,9769E-07 6,44126E-05 1,731E-05 0,000257378

3 0,001308582 0,002501496 1,009792749 0,001250409 0,018960124 0,003335553 0,001250409 0,037086529 0,055643207 0,054759482

4 4,93156E-06 9,42721E-06 3,69052E-05 1,000004712 7,14537E-05 1,25705E-05 4,71233E-06 0,000139765 0,000209699 0,000206368

5 0,014719101 0,028137152 0,110495087 0,014064764 1,213955885 0,037518745 0,014064764 0,41853399 0,625607649 0,622775218

6 0,034174467 0,714772348 0,126550123 0,000984838 0,074407158 1,190630689 0,000984838 0,029357312 0,043795939 0,043859725

7 1,165925186 0,48541815 0,207949125 1,199110386 0,294543712 0,009623326 1,199110386 0,108480937 0,160239797 0,165331945

8 0,008455365 0,016163345 0,338465304 0,008079483 0,672889771 0,021552587 0,008079483 1,34039249 0,359386089 0,357585227

9 0,041322086 0,078991635 0,309233111 0,039485115 0,598718313 0,105329315 0,039485115 1,171109649 1,757088028 1,729181981

10 0,004431 0,008470336 0,115838771 0,00423402 0,229559959 0,011294546 0,00423402 0,456296855 0,122623562 1,82325569

Ma

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0

2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0

3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0

4 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0

5 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

6 0 0 0 0 0 1,188003566 0 0 0 0

7 0 0 0 0 0 0 1,195502861 0 0 0

8 0 0 0 0 0 0 0 1,1 0 0

9 0 0 0 0 0 0 0 0 1,43694339 1,41046182

10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1,701238363

Ma1

Page 162: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L3-10

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1 0 0 0 0 9,7631E-06 3,63696E-06 0,001001439 0 0,002943266

2 0 1 0 0 0 4,68254E-07 1,74435E-07 4,80307E-05 0 0,000141164

3 0 0 1 0 0 0,002295903 0,000855273 0,027548906 0,031667854 0

4 0 0 0 1 0 8,6524E-06 3,22321E-06 0,000103822 0,000119344 0

5 0 0 0 0 1 0,025806025 0,009613297 0,310904111 0,355756816 0,004172175

6 0,033143812 0,712802139 0,118800357 0 0,059400178 1 0 0 0,024894171 0,000446001

7 1,162149828 0,478201144 0,179325429 1,195502861 0,239100572 0 1 0 0,090883186 0,00448559

8 0 0 0,275 0 0,55 0 0 1 0,204374909 0,002294696

9 0,0337898 0,064592857 0,252687647 0,032287677 0,48922708 0,072499483 0,027007612 0,869932842 1 0

10 0,001545998 0,002955342 0,094183773 0,00147727 0,18762871 0,003317097 0,00123569 0,340247673 0 1

Ma2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1,000013042 2,49304E-05 0,000340944 1,24618E-05 0,000675656 0 0 0 0 0

2 6,25497E-07 1,000001196 1,63522E-05 5,9769E-07 3,24056E-05 0 0 0 0 0

3 0,001308582 0,002501496 1,009792749 0,001250409 0,018960124 0 0 0 0 0

4 4,93156E-06 9,42721E-06 3,69052E-05 1,000004712 7,14537E-05 0 0 0 0 0

5 0,014719101 0,028137152 0,110495087 0,014064764 1,213955885 0 0 0 0 0

6 0 0 0 0 0 1,002211377 0,000823785 0,026688466 0 0

7 0 0 0 0 0 0,008100419 1,00301758 0,098619033 0 0

8 0 0 0 0 0 0,018141854 0,006758229 1,218538627 0 0

9 0 0 0 0 0 0 0 0 1,222795582 0,00263073

10 0 0 0 0 0 0 0 0 0,085336391 1,000972002

Ma3

Page 163: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L4-1

PENDEKATAN KUALITATIF

Page 164: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L4-2

Pedoman Wawancara untuk Informan Pemerintah Desa

Bagaimana kondisi infrastruktur di desa Waringin Jaya sebelum dilakukan

pembangunan infrastruktur pada tahun 2015?

Apa saja program kegiatan pembangunan desa untuk tahun anggaran 2015?

Wilayah mana saja yang menjadi prioritas pembangunan infrastruktur untuk

tahun anggaran 2015?

Jenis-jenis usaha apa saja yang ada di desa Waringin Jaya?

Apa saja mata pencaharian masyarakat desa Waringin Jaya?

Siapa saja masyarakat desa yang menjadi tenaga kerja pada pembangunan

infrastruktur?

Page 165: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L4-3

Pedoman Wawancara untuk informan Unit Usaha Baru

Apakah bapak/ibu mengetahui ada pembangunan/perbaikan jalan di depan

rumah bapak/ibu?

Bagaimana kondisi jalan di depan rumah bapak/ibu sebelum dilakukan

pembangunan/perbaikan jalan?

Kapan bapak/ibu memulai usaha?

Apakah alasan bapak/ibu membuka usaha? Apakah ada faktor jalan yang

sudah bagus/diperbaiki?

Page 166: Disusun oleh: Nurlaela NIM: 1112084000025repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38966/1/NURLAELA-FEB.pdf · Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk

L4-4

Pedoman Wawancara untuk informan penanggungjawab Pembangunan

Infrastruktur (RT/RW)

Bagaimana kondisi infrastruktur sebelum dilakukan

pembangunan/perbaikan jalan?

Kapan pembangunan infrastruktur di wilayah bapak/ibu dilaksanakan?

Bagaimana sikap masyarakat terhadap adanya kegiatan pembangunan

infrastruktur di wilayah bapak/ibu?

Ada berapa program kegiatan pembangunan infrastruktur di wilayah

bapak/ibu?

Bapak/ibu kalau boleh saya tahu, dimana lokasi pembangunan infrastruktur

tersebut dibangun? Untuk infrastruktur jalan, batasan

pembangunan/perbaikan jalan mulai darimana sampai dimana?