Click here to load reader

Edisi Mei 2019 APBN · PDF file 2019. 5. 23. · RINGKASAN EKSEKUTIF Realisasi Penerimaan Perpajakan hingga April 2019 mencapai Rp436,41 triliun ... (PBB) sebesar 443,80 persen (yoy),

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Edisi Mei 2019 APBN · PDF file 2019. 5. 23. · RINGKASAN EKSEKUTIF Realisasi...

  • 1

    Berinovasi Membangun Negeri, Menjaga #uangkita

    K I N E R J A D A N F A K T A

    Edisi Mei 2019

    APBN KITA

    Scan untuk Unduh

  • 2 3

    A P

    B N

    K IT

    A (

    K in

    e rj

    a d

    a n

    F a

    k ta

    ) E

    d is

    i M

    e i

    2 0

    1 9

    “Saya rasa kita cukup untuk bisa menjaga ekonomi pada semester kedua nanti, tetapi tentu kita akan terus melakukan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa

    mendorong investasi, serta menjaga kepercayaan masyarakat,” Kami lihat, seluruhnya berhubungan dengan confidence konsumen. Jadi, dalam hal ini, kalau dari sisi multiplier

    effect-nya belanja masyarakat yang berasal dari THR kalau dibandingkan dengan seluruh PDB. Mungkin tidak akan sangat besar, namun kan ada seasonality-nya,

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati

    Usai membuka Dhawa Fest 2019, Rabu 8 Mei 2019

  • 4 5

    A P

    B N

    K IT

    A (

    K in

    e rj

    a d

    a n

    F a

    k ta

    ) E

    d is

    i M

    e i

    2 0

    1 9

    RINGKASAN EKSEKUTIF

    Realisasi Penerimaan Perpajakan hingga April 2019 mencapai Rp436,41 triliun atau 24,43 persen dari target APBN 2019, tumbuh 4,72 persen (yoy).

    Perekonomian Indonesia pada triwulan I 2019 mampu tumbuh sebesar 5,07 persen (yoy), lebih tinggi dibanding kinerja di triwulan I 2018 sebesar 5,06 persen (yoy).

    Realisasi Belanja Negara sebesar Rp631,78 triliun atau 25,7 persen dari pagu APBN 2019, tumbuh 8,38 persen (yoy).

    Realisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sampai dengan April 2019 mencapai Rp261,73 triliun atau 31,66 persen dari pagu APBN 2019, lebih tinggi Rp9,80 triliun atau sekitar 3,89 persen (yoy).

    Defisit APBN hingga April 2019 sejumlah Rp101,04 triliun atau terjaga pada angka 0,63 persen PDB.

    Ringkasan EksekutifInfografis

    M omentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan capaian pertumbuhan PDB pada

    kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen. Kinerja ini memberikan sinyal positif terhadap perkembangan ekonomi nasional kedepan ditengah-tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang menurun. Inflasi masih dalam rentang sasarannya melanjutkan kondisi stabilitas ekonomi nasional yang masih tetap terjaga. Selanjutnya, kinerja perekonomian nasional dalam setahun ini mampu memberikan dampak terhadap pengurangan jumlah pengangguran sebanyak 50 ribu pada Februari 2019 dibandingkan data Februari 2018.

    Kinerja realisasi pendapatan negara dan hibah diawal Triwulan II tahun 2019 secara umum masih

    menunjukkan hasil yang positif. Hingga akhir April tahun 2019, realisasi pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp530,74 triliun atau 24,51 persen terhadap target APBN 2019. Capaian tersebut tercatat masih mampu tumbuh positif sebesar 0,50 persen (yoy). Realisasi pendapatan negara meliputi realisasi penerimaan perpajakan sebesar Rp436,41 triliun, PNBP sebesar Rp93,97 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp354,30 miliar atau masing-masing telah mencapai 24,43 persen, 24,84 persen, dan 81,39 persen terhadap target yang ditetapkan dalam APBN 2019. Penerimaan perpajakan mampu tumbuh positif sebesar 4,72 persen (yoy), sedangkan PNBP dan hibah tercatat tumbuh negatif masing- masing sebesar negatif 14,85 persen (yoy) dan negatif 64,26 persen (yoy).

  • 6 7

    A P

    B N

    K IT

    A (

    K in

    e rj

    a d

    a n

    F a

    k ta

    ) E

    d is

    i M

    e i

    2 0

    1 9

    Realisasi penerimaan pajak pada akhir April 2019, telah mencapai Rp387,00 triliun atau 24,53 persen dari target APBN 2019 dan mampu tumbuh positif sebesar 1,02 persen (yoy), meskipun pertumbuhannya melambat dibandingkan tahun lalu. Capaian realisasi pajak ditopang oleh penerimaan PPh pasal 25/29 Badan, PPh pasal 21, PPh Final, dan PPh pasal 22 Impor. Realisasi penerimaan PPh pasal 25/29 Badan sejalan dengan berakhirnya masa pelaporan SPT Badan pada akhir April 2019, sedangkan realisasi capaian PPh pasal 22 Impor berasal dari aktivitas impor yang didominasi oleh impor bahan baku. Sementara itu, dari sisi pertumbuhannya penerimaan pajak didorong oleh tumbuhnya penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 443,80 persen (yoy), diikuti oleh PPh migas sebesar 5,22 persen (yoy), dan PPh nonmigas sebesar 4,08 persen (yoy). Komponen PPh nonmigas yang masih tumbuh cukup baik secara yoy, berturut-turut adalah penerimaan PPh pasal 25/29 OP (14,43 persen), PPh 21 (12,09 persen), dan PPh Pasal 22 (10,50 persen). Untuk penerimaan migas, pertumbuhannya didorong oleh faktor masih relatif tingginya harga ICP. Di sisi yang lain, penerimaan dari PPN/PPnBM tercatat tumbuh negatif 4,35 persen (yoy). Penurunan terbesar berasal dari PPN/PPnBM DN dan PPnBM Impor yang masing-masing tumbuh

    negatif sebesar 7,94 persen (yoy) dan 10,48 persen (yoy). Faktor yang diperkirakan menekan pertumbuhan PPN/PPnBM adalah pertumbuhan restitusi yang cukup signifikan sebesar 31,30 persen. Secara sektoral, pertumbuhan penerimaan pajak ditopang oleh pertumbuhan sektor Jasa Keuangan dan sektor Transportasi dan Pergudangan. Sebaliknya sektor usaha lainnya seperti sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertambangan, pertumbuhannya mengalami perlambatan.

    Realisasi Penerimaan kepabeanan dan cukai telah mencapai Rp49,42 triliun atau 23,66 persen dari target APBN 2019 dan tumbuh signifikan sebesar 46,98 persen (yoy). Capaian realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai sekitar 70 persen ditopang dari penerimaan cukai hasil tembakau (CHT). Berdasarkan komponennya, pertumbuhan penerimaan kepabeanan dan cukai paling besar disumbangkan oleh penerimaan cukai yang tumbuh 82,29 persen (yoy). Secara lebih rinci, penerimaan cukai HT tumbuh paling tinggi mencapai 87,83 persen (yoy) sebagai dampak dari adanya pergeseran pembayaran cukai dan dampak positif program penertiban cukai berisiko tinggi (PCBT). Komponen penerimaan dari bea masuk mengalami perlambatan walaupun masih mampu tumbuh positif sebesar 0,73 persen (yoy). Hal ini

    disebabkan faktor penurunan devisa impor, selain faktor apresiasi Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah yang masih terjadi, meskipun melambat. Di sisi yang lain, pertumbuhan realisasi penerimaan bea keluar masih menunjukkan penurunan melanjutkan tren bulan sebelumnya, yaitu tumbuh negatif 29,78 persen (yoy). Penurunan pertumbuhan tersebut diperkirakan terjadi karena faktor penurunan kinerja ekspor komoditas minerba khususnya konsentrat tembaga dan nikel, serta dampak pemberlakuan bea keluar 0 persen atas CPO (Crude Palm Oil) dan turunan CPO.

    Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai bulan April 2019 telah mencapai Rp93,97 triliun atau 24,85 persen dari target APBN tahun 2019. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penerimaan PNBP pada periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp110,35 triliun. Realisasi Penerimaan PNBP Sumber Daya Alam (SDA) mencapai Rp46,15 triliun atau 24,20 persen dibandingkan target dalam APBN 2019. Penerimaan tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp45,86 triliun. Sementara itu, penerimaan negara yang bersumber dari Pendapatan Kekayaan Negara yang Dipisahkan masih sangat rendah, hanya Rp3 miliar dalam empat bulan pertama tahun

    2019. Hal ini terutama disebabkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) penentuan dividen BUMN baru akan terlaksana awal bulan Mei 2019. Di sisi penerimaan PNBP Lainnya, sampai dengan bulan April 2019 telah mencapai Rp34,72 triliun atau sebesar 36,91 persen dari target APBN 2019. Pendapatan BLU hingga April 2019 telah mencapai Rp13,11 triliun atau 27,39 persen dari target APBN 2019.

    Sejalan dengan komitmen Pemerintah yang terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan APBN, antara lain melalui perbaikan pola belanja agar dapat secara lebih optimal dalam menstimulasi perekonomian nasional, penyerapan belanja negara menunjukkan kinerja yang semakin baik. Realisasi Belanja Negara sampai dengan akhir April 2019 mencapai Rp631,78 triliun (25,7 persen dari pagu APBN 2019) atau tumbuh 8,4 persen (yoy) jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Realisasi Belanja Negara tersebut meliputi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp370,05 triliun (22,6 persen dari pagu APBN) dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp261,73 triliun (31,7 persen dari pagu APBN). Realisasi Belanja Pemerintah Pusat hingga bulan April 2019 mengalami peningkatan sebesar 11,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Meningkatnya kinerja Belanja

  • 8 9

    A P

    B N

    K IT

    A (

    K in

    e rj

    a d

    a n

    F a

    k ta

    ) E

    d is

    i M

    e i

    2 0

    1 9

    Pemerintah Pusat tersebut utamanya didorong oleh realisasi belanja bantuan sosial yang sudah mencapai Rp 54,0 triliun atau sekitar 52,9 persen dari pagu APBN 2019. Realisasi belanja bantuan sosial hingga bulan April 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 75,7 persen (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain karena adanya kenaikan indeks bantuan yang signifikan pada Program Keluarga Harapan dan percepatan pencairan iuran Penerima Bantuan Iuran (PBI). Kondisi ini menunjukkan keberpihakan Pemerintah kepada masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan dasar dan mendorong daya beli.

    Realisasi belanja subsidi sampai denga