Esai Bung Hatta

  • View
    2.835

  • Download
    32

Embed Size (px)

DESCRIPTION

All about Bung Hatta,,

Text of Esai Bung Hatta

BAB I PENDAHULUAN Mohammad Hatta atau biasanya disebut dengan Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga beliau disebut sebagai salah seorang The Founding Fathers of Indonesia. Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta adalah seorang pahlawan nasional, seorang pejuang dan negarawan sejati yang terus berpikir demi bangsa dan negara yang dicintainya. Beliau adalah salah seorang Proklamator Kemerdekaan RI, dan juga Wakil Presiden yang pertama, Menteri Luar Negeri, serta Perdana Menteri Indonesia yang ke -3. Bung Hatta mempunyai riwayat kehidupan dan kisah perjuangan yang menarik untuk dibahas. Karena itulah tujuan dari penulisan esai biografi Muhammad Hatta ini selain untuk memenuhi tugas juga untuk lebih mengenal riwayat kehidupannya beserta tinta emas yang telah ditorehkan beliau, sehingga kita sebagai bangsa Indonesia dapat mengenangnya dan mengambil pesan atau amanah dari kisah Bung Hatta ini serta dapat meneladaninya dalam kehidupan kita.

1

BAB II ISI 2.1 Riwayat Awal Kehidupan Mohammad mempunyai nama Hatta lengkap yang Dr.

(H.C.).Drs.H.Mohammad Hatta dan populer dengan nama Bung Hatta ini lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Hatta keluargaGambar 2.1.1 Bung Hatta

Sumatera di

Barat, lingkungan Haji

Indonesia. Di kota kecil inilah Bung dibesarkan ibunya. Ayahnya,

Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari

ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Nama yang diberikan oleh orangtuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Pada tanggal 18 Nopember 1945, Hatta menikah dengan Rahmi Rachim di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabiah, dan Halidah Nuriah. Dua orang putrinya telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Anak perempuannya yang bernama Meutia Farida atau di kenal dengan nama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Susilo Bambang Yhudoyono. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohammad Athar Baridjambek.

2

Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai. Bila ada pejabat negara yang paling jujur, semua orang Indonesia akan menyebut nama Bung Hatta. Bukan hanya jujur, tetapi ia juga uncorruptable. Tak terkorupsikan, demikian menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum harian Kompas. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya melakukan tindak korupsi. Bilamana Bung Hatta melakukan korupsi, barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu di beli oleh beliau. Ia bisa menggonta ganti sepatu baru setiap harinya bahkan memiliki saham di pabrik sepatu. Namun, pada kenyataan ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi. Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda negara yang pernah menjajahnyahingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Bahkan, untuk membayar rekening air dan listrik, Bung Hatta yang mengandalkan hidupnya dari uang pensiunan seorang wakil presiden ternyata tidak cukup. Apalagi untuk membeli keperluan lain, seperti sepatu, yang dianggap oleh dirinya sebagai pemenuhan kebutuhan pribadi. Ia masih memikirkan kehidupan keluarga, istri dan tiga orang anaknya.

3

Sampai akhir hayatnya Bung Hatta dikenal sebagai orang yang tetap sederhana. Dengan pengalaman dan pergaulannya yang sangat luas, serta memiliki pemahaman yang mendalam di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, rasanya tidak akan sulit bagi Bung Hatta untuk berlaku tidak sederhana. Ia bisa menjadi orang yang kaya secara materi, dan tidak perlu merasakan kesulitan dalam hidupnya. Tetapi, visi keneragarawannya mengatakan dia harus menjaga simbol kenegaraan. Bukan untuk dirinya sendiri. Maka, ia menikmati hidup dari uang pensiun. Dengan jumlah yang tidak seberapa, namun mampu melaksanakan gaya hidup yang hemat, uang pensiun itu cukup menghidupinya sekeluarga. Bagi Bung Hatta, tentu saja sangat mudah menerima tawaran bekerja dari berbagai perusahaan, baik lokal maupun internasional. Tetapi, bagaimana dengan citra wakil presiden. Bagaimana mungkin seorangmantan wakil presiden menjadi konsultan perusahaan A. Apakah hal itu tidak memunculkan bias dalam persaingan usaha, mengingat hebatnya pengalaman Bung Hatta? Inilah yang Bung Hatta hindari. Ia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. 2.2 Latar Belakang Pendidikan Dr. Mohammad Hatta lahir dari keluarga

ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO (Meer Ultgebreid Lagere Ondewijs) di kota Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School". Ia menyelesaikan studinya dengan

4

hasil

sangat

baik,

dan

pada

tahun

1921,

Bung

Hatta

pergi

ke Rotterdam, Belanda, untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handels Hoge School (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun. Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul "Lampau dan Datang". 2.3 Organisasi dan Kisah Perjuangannya 2.3.1 Bermula dari kota Padang dan Batavia Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond (JSB). Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja. Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Kesadaran kebiasaannya politik menghadiri Hatta makin berkembang atau karena

ceramah-ceramah

pertemuan-

pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola5

Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat, aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan. Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, Namaku Hindania! begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku, rutuk Hatta lewat Hindania. Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai dengan mukim di Bendahara JSB Pusat, asal perbincangan tokoh-tokoh Batavia, pergerakan

Minangkabau yang

serta diskusi dengan

temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam re