Click here to load reader

Euthanasia Dalam Islam-1

  • View
    14

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas

Text of Euthanasia Dalam Islam-1

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahSetiap makhluk hidup, termasuk manusia akan mengalami siklus kehidupan yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia dengan berbagai permasalahannya, dan diakhiri dengan kematian. Dari berbagai siklus kehidupan di atas, kematian merupakan salah satu yang masih mengandung misteri yang sangat besar. Kematian sebagai akhir dari rangkaian kehidupan di dunia ini, merupakan hak dari Tuhan. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk menunda sedetikpun waktu kematiannya, termasuk mempercepat waktu kematiannya. Namun seiring perkembangan zaman, dikenal sebuah istilah dalam kesehatan yang menimbulkan begitu banyak konflik karena bertentangan dengan hukum agama mengenai kematian, yaitu euthanasia. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan sesuatu tindakan mempercepat proses kematian seseorang secara wajar. Hal ini dilakukan untuk mengakhiri penderitaan si pasien dengan syarat ada persetujuan dan sesuai prosedur. Sekitar tahun 400 sebelum Masehi, sebuah sumpah yang terkenal dengan sebutan The Aippocratie Oath mengatakan saya tidak akan memberikan obat mematikan pada siapapun, atau menyarankan hal tersebutpada siapapun.

Secara logika berdasarkan konteks perkembangan ilmu pengetahuan, euthanasia tidak ada permasalahan karena hal ini merupakan suatu konsekuensi dari proses penelitian dan juga pengembangan. Demikian juga, dipandang dari sudut kemanusiaan, euthanasia tampaknya merupakan perbuatan yang harus dipuji yaitu menolong sesama manusia dalam mengakhiri kesengsaraannya (Amri Amir, 1997:72). Namun akan timbulah berbagai permasalahan ketika euthanasia didasarkan pada konteks yang lain seperti hukum dan agama, khususnya agama Islam. Dalam konteks hukum, euthanasia kian menjadi bermasalah karena berkaitan dengan jiwa atau nyawa seseorang oleh hukum sangat dilindungi keberadaanya. Sedangkan dalam konteks agama Islam, euthanasia menjadi bermasalah karena kehidupan dan kematian adalah berasal dari pencipta-Nya (Djoko Prakoso dan Djaman Andhi Nirwanto, 1984:64)

Sekitar abad ke-14 sampai abad ke-20, Hukum adat inggris yang dipetik oleh Mahkamah Agung Amerika tahun 1997 dalam pidatonya : Lebih jelasnya, selama lebih dari 700 tahun, Orang Hukum Adat Amerika Utara telah menghukum atau tidak menyetujui aksi bunuh diri individual ataupun dibantu.

Tahun 1955, Belanda sebagai Negara pertama yang mengeluarkan UU yang menyetujui euthanansia dan diikuti oleh Australia yang melegalkan ditahun yang sama, setelah dua Negara itu mengeluarkan undang-undang yang sah tentang euthanansia beberapa Negara masih menganggapnya sebagai konflik, namun ada juga yang ikut mengeluarkan undang-undang yang sama.Euthanasia merupakan suatu persoalan yang cukup dilematik baik di kalangan dokter, praktisi hukum, maupun kalangan agamawan. Di Indonesia masalah ini juga pernah dibicarakan, seperti yang dilakukan oleh pihak Ikatan Dokter Indonesia (yang selanjutnya disebut IDI) dalam seminarnya pada tahun 1985 yang melibatkan para ahli kedokteran, ahli hukum positif dan ahli hukum Islam, akan tetapi hasilnya masih belum ada kesepakatan yang bulat terhadap masalah tersebut (Akh. Fauzi Aseri, 1995:51).

Demikian juga dari sudut pandang agama, ada sebagian yang membolehkan dan ada sebagian yang melarang terhadap tindakan euthanasia, tentunya dengan berbagai argumen atau alasan. Dalam Debat Publik Forum No. 19 Tahun IV, 01 Januari 1996, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (yang selanjutnya disebut MUI) Pusat, Ibrahim Husein menyatakan bahwa, Islam membolehkan penderita AIDS dieuthanasia bilamana memenuhi syarat-syarat seperti, obat atau vaksin tidak ada, kondisi kesehatannya makin parah, atas permintaannya dan atau keluarganya serta atas persetujuan dokter, adanya peraturan perundang-undangan yang mana mengizinkannya. Masjfuk Zuhdi mengatakan bahwa sekalipun obat atau vaksin untuk HIV/AIDS tidak atau belum ada dan kondisi pasien makin parah tetap tidak boleh di euthanasia sebab hidup dan mati itu di tangan Tuhan (Masjfuk Zuhdi, 1996:28-29).

Berdasarkan uraian di atas, berikut ini penulis merumuskan secara singkat poin-poin yang akan menjadi rumusan masalah, diantaranya yaitu apakah seorang dokter bisa mempraktekkan Euthanasia untuk meringankan seorang pasien mengakhiri hidupnya dan sejauh manakah pandangan agama Islam terhadap terhadap praktek Euthanasia.B. Rumusan Masalah1. Apa pengertian euthanasia?2. Apa saja macam euthanasia?3. Bagaimana euthanasia dalam kedokteran?4. Bagaimana euthanasia dalam perspektif agama Islam?C. Tujuan Penulisan1. Untuk mengetahui pengertian euthanasia2. Untuk mengetahui macam-macam euthanasia 3. Untuk mengetahui tentang bagaimana euthanasia dalam ilmu kedokteran4. Untuk mengetahui tentang bagaimana euthanasia dalam perspektif hukum IslamD. Manfaat Penulisan

1. Melatih mahasiswa untuk membuat makalah yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat.2. Melatih mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap masalah-masalah yang timbul di masyarakat yang membutuhkan solusi.BAB IIPEMBAHASAN2.1 Pengertian EuthanasiaEuthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti baik, dan thanatos, yang berarti kematian. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal diperingan. Juga berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya.2.2 Macam Macam EuthanasiaDalam praktik kedokteran, dikenal dua macam euthanasia, yaitu:1. Euthanasia aktifEuthanasia aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah parah.Berdasarkan akibatnya, euthanasia aktif menjadi dua golongan, yaitu euthanasia aktif langsung, yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup pasien. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan, dan euthanasia aktif tidak langsung, yang menunjukkan bahwa tindakan medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien, akan tetapi diketahui bahwa resiko dari tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup pasien. Misalnya mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya (Kartono Muhammad, 1992:31).

Contoh euthanasia aktif, misalnya ada seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa sehingga pasien sering kali pingsan. Dalam hal ini, dokter yakin yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.2. Euthanasia PasifAdapun euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi.Contoh euthanasia pasif, misalkan penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau, orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati maka dapat mematikan penderita. Dalam kondisi demikian, jika pengobatan terhadapnya dihentikan, akan dapat mempercepat kematiannya.Selain dua macam euthanasia itu, seringkali juga kita temui istilah dan macam euthanasia menurut cara melakukannyaserta alasan diberlakukan euthanasia, seperti:i. Euthanasia sukarela, Apabila si pasien itu sendiri yang meminta untukdiakhiri hidupnya.

ii. Euthanasia non-sukarela, Apabila pesien tersebut tidak mengajukanpermintaan atau menyetujui untuk diakhiri hidupnhnya.

iii. Involuntary Euthanasia, Pada prinsipnya sama seperti euthanasia non-sukarela, tapi pada kasus ini, si pasien menunjukkan permintaan euthanasia lewat ekspresi.

iv. Assisted suicide, Atau bisa dikatakan proses bunuh diri dengan bantuansuatu pihak. Seseorang memberi informasi atau petunjuk pada seseoranguntuk mengakhiri hidupnya sendiri. Jika aksi ini dilakukan oleh doktermaka disebut juga,

v. physician assisted suicide

vi. Euthanasia dengan aksi. Dengan sengaja menyebabkan kematianseseorang dengan melakukan suatu aksi, salah satu contohnya adalahdengan melakukan suntik mati.

vii. Euthanasia dengan penghilangan Dengan sengaja menyebabkan kematianseseorang dengan menghentikan semua perawatan khusus yangdibutuhkan seorang pasien. Tujuannya adalah agar pasien itu dapatdibiarkan meninggal secara wajar.2.3. Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran

Tugas profesional seorang dokter itu begitu mulia dalam pengabdiannya kepada sesama manusia dan tanggungjawab dokter makin tambah berat akibat kemajuan-kemajuan yang mana dicapai oleh ilmu kedokteran. Dengan demikian, maka setiap dokter perlu menghayati etik kedokteran, sehingga kemuliaan profesi dokter tersebut tetap terjaga dengan baik.

Para dokter, umumnya semua pejabat dalam bidang keseh

Search related