EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI PROVINSI PAPUA BARAT

  • View
    216

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

  • 7/22/2019 EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI

    1/84

    Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan

    Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat 1

    BAB 1

    EXECUTIVE SUMMARY

    PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN

    PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASIDI PROVINSI PAPUA BARAT

    1.1 Latar Belakang

    Kebijakan pembangunan nasional Tahun 2005-2025 diarahkan pada pencapaian

    sasaran-sasaran pokok, diantaranya terwujudnya daya saing bangsa untuk

    mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Kemampuan bangsa untuk

    berdaya saing tinggi adalah kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran

    bangsa dan akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan

    globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada.

    Untuk memperkuat daya saing bangsa, pembangunan nasional dalam jangka

    panjang diarahkan untuk1:

    1) Memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan masing-masing

    wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem

    produksi, distribusi dan pelayanan di dalam negeri;

    2) Mengedepankan pembangunan SDM berkualitas dan berdaya saing;

    1Lihat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025

  • 7/22/2019 EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI

    2/84

    Executive Summary

    Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan

    Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat 2

    2010

    3) Membangun infrastruktur yang maju serta melakukan reformasi di bidang hukum

    dan aparatur negara.

    Untuk melaksanakan arahan pembangunan nasional tersebut tidak dapat dipungkiri

    membutuhkan modal yang tidak sedikit. Bila hanya bersandar pada modal dari

    sumber dana pemerintah, hampir dapat dipastikan agak sulit untuk mencapai arahan

    pembangunan tersebut. Untuk itu perlu dicari sumber lain yaitu dengan kegiatan

    penanaman modal atau investasi.

    Adanya kegiatan penanaman modal dapat memberikan manfaat yang cukup luas

    (multiplier effect), diantaranya dapat menyerap tenaga kerja; dapat menciptakan

    demand bagi produk dalam negeri sebagai bahan baku; menambah devisa terutama

    untuk investasi asing yang berorientasi ekspor; dapat menambah penghasilan

    negara dari sektor pajak; adanya alih teknologi (transfer of technology) maupun alih

    pengetahuan (transfer of know how).2

    Berdasarkan kepentingan tersebut pemerintah telah berupaya meningkatkan

    investasi riil dalam negeri dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan yaitu dengan

    diluncurkannya paket kebijakan ekonomi 2008-2009 yang tertuang dalam Inpres

    Nomor 5 tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi 2008-20093 dan terakhir

    dengan diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal No.25 Tahun 2007.

    Dimana di dalam Pasal 4, pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman

    modal untuk:

    1. Mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman

    modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional; dan

    2. Mempercepat peningkatan penanaman modal.

    2Dr. Sentosa Sembiring, S.H., M.H.Hukum Investasi: Nuansa Aulia Bandung. 2010. Hlm.8.

    3Paket ini memuat berbagai kebijakan ekonomi yang dapat dikelompokkan ke dalam 8 bidang, yakni

    kebijakan perbaikan iklim investasi, kebijakan ekonomi makro dan keuangan, kebijakan ketahanan

    energi, dan kebijakan sumber daya alam, lingkungan dan pertanian.

  • 7/22/2019 EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI

    3/84

    Executive Summary

    Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan

    Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat 3

    2010

    Dalam upaya implementasi kebijakan investasi dan undang-undang tersebut di

    tingkat daerah, pemerintah telah menyesuaikan peraturan perundang-undangan

    dengan potensi dan kondisi daerah. Untuk itu Pemerintah Pusat telah

    mendelegasikan kewenangan untuk pelayanan administrasi penanaman modal ke

    Pemerintah Daerah. Hal ini dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun

    2004 tentang Pemerintahan Daerah.4

    Undang-undang Otonomi Daerah telah memberi landasan kepada setiap

    Pemerintah Daerah untuk mengembangkan potensi penerimaan daerah dan pada

    sisi lain keleluasaan untuk merancang kebijakan dan strategi penanaman modal dan

    institusi-institusi yang relevan. Strategi penanaman modal diperlukan terkait dengan

    upaya pemerintah daerah untuk memacu kegiatan investasi dengan mengatasi

    berbagai faktor penunjang yang menghambat iklim berinvestasi.

    Berbagai faktor yang menyebabkan mengapa kegiatan investasi masih berjalan

    lamban di Indonesia seperti yang dilansir dari hasil penelitian ADB adalah karena

    masih lemahnya perangkat hukum serta kepastian usaha sehingga realisasi

    investasi masih rendah sekalipun nilai persetujuan cukup tinggi.5Selain itu, masalah

    pungutan liar, peraturan daerah, perpajakan, tumpang tindihnya peraturan, birokrasi,

    egosektoral, dan infrastruktur merupakan masalah lain yang harus segera ditangani

    (Umar Hamzah, 2005; Usman Syaikahu, 2002). Berbagai hambatan investasi

    tersebut perlu diantisipasi dengan melibatkan berbagai pihak yaitu pemerintah,

    swasta dan masyarakat. Untuk itu perlu dirancang suatu strategi penanaman modal

    yang terintegrasi, menyeluruh dan berkelanjutan di semua wilayah Indonesia.

    4

    Dalam UU Pemda No 32 Tahun 2004 disebutkan untuk urusan pemerintahan yang daerah terdiri atasurusan wajib dan urusan lain. Salah satu tugas yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah adalah

    dalam Pasal 13 ayat 1 butur n UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan urusan wajib yang menjadi

    kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi,

    pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Dalam Pasa 14 ayat 1 butir

    n UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah

    untuk kabupaten/kota, meliputi pelayanan administrasi penanaman modal. Hanya dalam undang-

    undang ini tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan pelayanan administrasi penanaman modal.5Lihatwww.geocities.com.

    http://www.geocities.com/http://www.geocities.com/http://www.geocities.com/http://www.geocities.com/
  • 7/22/2019 EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI

    4/84

    Executive Summary

    Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan

    Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat 4

    2010

    Wilayah yang harus mendapat prioritas ke depan dalam upaya meningkatkan

    produktifitas perekonomian nasional dan kegiatan investasi adalah Wilayah

    Kawasan Timur Indonesia (KTI); Karena wilayah ini memiliki potensi sumber daya

    alam yang sangat besar. Diketahui lebih dari 60 persen dari seluruh SDA nasional

    berada di daerah Kawasan Timur Indonesia.6

    Salah satu Kawasan Timur Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan

    adalah Provinsi Papua Barat. Kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat sangat

    diperlukan dengan adanya kebijakan percepatan pembangunan di wilayah ini.

    Beberapa faktor yang menyebabkan Provinsi Papua Barat harus mendapat prioritas

    pembangunan kedepan adalah7 : Pertama, wilayah Provinsi Papua Barat sangat

    kaya dengan sumber daya alam dengan adanya kandungan minyak dan gas yang

    sangat besar. Kedua, adanya kandungan mineral yang menjanjikan seperti mineral

    logam. Ketiga, wilayah Provinsi Papua Barat memiliki sumberdaya hutan dan

    perairan yang sangat besar yang tingkat pemanfaatannya masih jauh di bawah

    potensi lestarinya. Keempat, wilayah Provinsi Papua Barat memiliki potensi

    pengembangan pertanian dan agribisnis yang sangat besar. Kelima, wilayah

    Provinsi Papua Barat memiliki potensi pariwisata yang besar dan beragam.

    Kesemuanya itu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

    dan perekonomian daerah.

    Kendati demikian, pengembangan investasi di wilayah Provinsi Papua Barat masih

    relatif rendah dan belum mencapai target yang diharapkan karena masih banyaknya

    berbagai permasalahan pada setiap tahapan investasi. Keadaan tersebut

    menyebabkan tidak bergairahnya para investor untuk melakukan investasi di Papua

    Barat, baik untuk perluasan usaha yang telah ada maupun untuk investasi baru.

    6KTI terdiri dari 15 provinsi dalam lima pulau besar (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku

    dan Papua).7Rencana Pengembangan Wilayah dan Investasi Provinsi Papua Barat 2007-2026 Badan Perencanaan

    Pembangunan Provinsi Papua Barat

  • 7/22/2019 EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI

    5/84

    Executive Summary

    Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan

    Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat 5

    2010

    Untuk itu Biro Investasi Provinsi Papua Barat dan para pihak terkait dalam upaya

    meningkatkan iklim berinvestasi berupaya mengidentifikasi dan mengurai berbagai

    macam potensi maupun tantangan dan permasalahan di bidang investasi. Hasilnya

    kemudian diolah dan dituangkan kedalam berbagai macam bentuk program dan

    strategi investasi yang terintegrasi sehingga dapat memberikan kontribusi yang tepat

    dan signifikan dalam upaya meningkatkan iklim berinvestasi yang kondusif di

    Provinsi Papua Barat. Hal-hal tersebut diharapkan dapat dituangkan dalam bentuk

    Strategi Penanaman Modal dan Roadmap investasi Provinsi Papua Barat.

    1.2 Tujuan dan Sasaran

    Tujuan dari penulisan studi ini adalah untuk