Click here to load reader

Harian Equator 12 Oktober 2011

  • View
    339

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Harian Equator 12 Oktober 2011

Text of Harian Equator 12 Oktober 2011

  • Harga Eceran : Mempawah Rp 2.500,- Singkawang Rp 2.500,- Bengkayang Rp 2.500,- Sambas Rp 2.500,- Landak Rp 3.000,- Sanggau Rp 3.000,- Sintang Rp 3.000,- Melawi Rp 3.000,- Kapuas Hulu Rp 3.000,- Ketapang Rp 3.000, -

    http://www.equator-news.com Eceran Rp 2.500,-14 Dzulqaidah 1432 H/16 Kauw Gwee 2562

    Rabu, 12 Oktober 2011

    Terbit Pertama: 29 November 1998

    Kalimantan Barat SebenarnyaKalimantan Barat Sebenarnya

    Namun Spanyol tak mampu menahan gempuran Amerika Serikat (AS) yang mulai menjelma negara imperial di penghujung abad 19. Melihat Filipina miskin bahan tambang, langsung mem-bidik pulau Kalimantan untuk dikuasai.Keadaan ini membuat Inggris lebih konsentrasi mengamank-an Kalimantan Utara, sehingga menjadikan Belanda mempun-yai waktu untuk memperkuat skuadron di Kalbar dan Kaltim. Rencana skuadron Inggris untuk menghabisi kota-kota pesisir

    yang dikuasai Belanda di Kalbar, menjadi gagal karena Sabah ba-gian dari Kesultanan Melayu di Filipina, diusik AS.Politik adu kuat imperial di utara Kalimantan, menjadikan pemerintah Hindia Belanda berusaha memperbaiki admin-istrasi pemerintahan dan men-empatkan pejabatnya di seluruh daerah yang dikuasainya. Pega-wai korup dan tak disiplin lang-sung ditindak tegas, demikian pula ketertiban masyarakat pribumi.

    - Bang Meng-- Menepuk air di dulang, kecipratan dehCamar Bulan Potret Pemprov Gagal

    Injet-injet Semut

    Kesultanan-kesul-tanan Melayu di

    Filipina berhasil di-hancurkan Armada (sebutan angkatan

    laut kerajaan Span-yol dan Portugal)

    Spanyol sejak abad 18. Bahkan dengan sistem politik bumi

    hangus. Halaman 7

    Sejarah Perjuangan Rakyat Kalbar 1908-1950 (5)

    Halaman 7

    Hukum

    Kena Kasus, Ketua KPU Seret Anggota LainnyaJAKARTA - Mabes Polri dan KPU Pusat tak bisa lagi membantah bahwa Abdul Ha z Ansyari bukan tersangka kasus pilkada Halmahera Barat. Bahkan, bisa jadi ada beberapa komisioner KPU lainnya yang jadi tersangka. Hal itu dilihat dari dicantumkannya tulisan dan kawan-kawan (dkk) dalam SPDP atas nama Abdul Ha z.Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapus-penkum) Noor Rachmad yang ditemui selepas jumpa pers Selasa (11/10), membenarkan bahwa tersangkanya bukan Ha z saja. Noor juga tak menampik tersangka lain tersebut berasal dari KPU.Iya, itu dan kawan-kawan. Silakan kalian tafsirkan sendiri, kata Noor, saat ditanya apakah identitas tersangka lain adalah komisioner KPU.

    Menjadikan Pontianak Pusat Kekuatan

    Wisata perang kolonial di Vere, Zeeland, Belanda disajikan tiap Juli untuk men-genang aksi Belanda abad 15-19 termasuk ketika menguasai Nusantara. REPRO FLICKR.COM

    PONTIANAK. Berbagai persiapan mulai dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalbar dalam menghadapi Pemili-han Gubernur (Pilgub) 2012. Daftar Pemilih Tetap (DPT) menjadi salah satu perhatian utama.KPU Kalbar sedang merancang ke-mungkinan penggunaan program DPT Online. Bagian IT kami sedang menyiap-kan program ini, dan mudah-mudahan jika siap dan tidak ada hambatan dalam penyiapan program ini, bisa kita opera-sionalkan saat pelaksanaan Pilgub 2012 nanti, kata Drs AR Muzammil MSi, Ketua KPU Provinsi Kalbar kepada Equator, Selasa (11/10).

    KPU Kalbar Rancang DPT Pilgub Online

    AR Muzammil Retno Pramudya

    PONTIANAK. Persoalan patok batas di Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas masih dalam status quo un-tuk diselesaikan secara bi-lateral, Indonesia-Malaysia. Gejolak yang muncul dari be-berapa elemen setelah lama tak terselesaikan, merupakan cermin kegagalan Pemprov Kalbar.

    Masalah perbatasan sangat komplek, bukan hanya soal kedaulatan saja tetapi juga social welfare (kesejahteraan sosial, red). Camar Bulan masalah lama yang terakumulasi akibat minimnya perhatian Pemprov Kalbar, kata Abriyandi, Koordinator Divisi Data dan Kajian Ali Anyang Center (AAC) kepada Equator, Selasa (11/10).AAC yang segera di-launching, Kamis (20/10) untuk membangkitkan semangat kecintaan kepada tanah air dan napak tilas nilai kejuangan ini, telah melakukan analisis terhadap persoalan perbatasan. Kondisi tersebut tak terlepas dari peran Pemprov sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah. Mengapa baru sekarang menjadi isu besar, ujar Abriyandi.Dijelaskan dia, jika sejak awal Pemprov memadukan konsep kesejahteraan dengan pendekatan keamanan, maka tidak akan terjadi seperti sekarang ini. Rakyat di perbatasan tak diberikan ruang untuk hidup sejahtera. Akibatnya, patok batas pun direkayasa agar ketika membalak hutan tak ditangkap. Semuanya masalah tuntutan ekonomi. Saya yakin nasionalisme warga perbatasan tak diragukan lagi dan mencintai negeri ini. Pemprov dan Pemerintah Pusat seharusnya yang lebih konkret memahami kebutuhan dan harapan rakyat, kata pemilik sapaan Yandi.Menurut dia, ancaman lainnya seperti di Puring Kencana yang warganya hendak masuk menjadi warga Malaysia patut dicermati. Lagi-lagi persoa-lan ini akibat minimnya perhatian pemerintah dari berbagai sisi, kata Yandi.

    Camar Bulan Potret Pemprov GagalPenyelesaian mutlak secara bilateral. Kondisi lokasi yang status quo mendatang-kan kekhawatiran. Perintah aneh membuat pagar diprotes. Apakah Pemprov telah berbuat mencarikan solusi?

    Abriyandi

    PONTIANAK. aktivis Ma-hasiswa Kalimantan Barat melancarkan aksi protes atas persoalan Camar Bulan, Selasa (11/10) di bundaran Digu-lis Universitas Tanjungpura Pontianak. Gabungan mahasiswa dari Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS), Bem Untan, DPM, Untan dan BEM Stain itu menuntut pemerintah serius mengurus perbatasan. Sekal-igus mengingatkan kelompok elit tidak mempolitisasi ma-salah Camar Bulan.Jangan jadikan Camar Bu-

    lan hanya sebagai komoditas politik. Jangan politisasi isu perbatasan. Perbatasan butuh pembangunan, kata Dedi, koordinator aksi.Para pengunjuk rasa juga tiada henti mendengungkan Camar Bulan murni milik Indonesia. Selain meminta pemerintah untuk tanggap menyikapi masalah perba-tasan. Supaya tidak terus menimbulkan polemik dengan munculnya isu pencaplokan.Bendera Malaysia dibakar pengunjuk rasa dalam aksu

    Puluhan aktivis mahasiswa berunjuk rasa dengan cara membakar bendera Malaysia sebagai simbol protes atas kasus Camar Bulan.SYAMSUL ARIFIN

    Pembiaran Pemerintah, Mahasiswa Protes

    PONTIANAK. Petani Plasma binaan PT Pekebunan Nusan-tara XIII dari Kebun Plasma Kembayan melakukan pelu-nasan kredit, Senin (10/10). Perwakilan petani yang ter-gabung dalam Koperasi Unit Desa SMAU (dahulu Sawit Trija) datang ke Kantor Di-reksi PTPN XIII di Pontianak

    diterima Kabag Plasma PTPN XIII, P Surbakti. Ikut bersama dalam rom-bongan petani, Ketua KUD Sawit Trija, SL Anyim atau yang juga dikenal sebagai Ti-manggong Panca Banua. Rom-bongan didampingi Manager Kebun Plasma Kembayan, V Samosir, dan Assisten Wilayah

    Plasma II Kebun Kembayan, Finsensius Paul. Petani Kebun Plasma Kem-bayan yang tergabung dalam KUD SMAU sebanyak 254 kepala keluarga dengan luas lahan plasma 502,39 hektar. Sisa kredit petani yang dilu-nasi sebanyak Rp 219 juta lebih.

    Ini pelunasan yang patut diapresiasi, karena petani langsung melakukan peluna-san atas kredit mereka, tan-pa berlama-lama menunggu pemotongan hasil panen mer-eka, ujar Finsensius Paul. Sementara itu, SL Anyim mengatakan bahwa pelunasan

    Petani Plasma Kembayan II Sukses Lunasi Kredit

    Halaman 7 Halaman 7

    Halaman 7 Halaman 7

    Halaman 7

    Ekonomi

    Tahun Depan Target 55.564 Rumah Sangat Murah

    JAKARTA. Kement-erian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menarget-kan akan membangun 55.564 rumah sangat murah. Dana sebesar Rp 672,77 miliar telah disiapkan pemerintah dalam pagu anggaran Kemenpera 2012.Pagu anggaran Ke-menpera di 2012 men-capai Rp 9,5 triliun. Ang-garan ini terdiri dari

    anggaran langsung Kemenpera Rp 4,6 triliun dan anggaran 999 sebanyak Rp 4,9 triliun. Untuk pembangunan rumah murah dan sangat murah kita ambil dari anggaran langsung Kemenpera

    PONTIANAK. Indonesia disebut-sebut kehilangan 1499 hektar lahan di Camar Bulan karena masuk ke kawasan Malay-sia. Pemerintah Pusat didesak bertindak agar NKRI tak dicaplok.Diawali akibat MoU Indonesia dan Malaysia tahun 1978 di Semarang yang justru merugikan Indonesia. Kawasan Camar Bulan tepatnya di patok batas A 88 sampai patok A 156 bergeser dan masuk ke Malaysia. Traumatis lepasnya Sipadan-Ligitan sering dikaitkan dengan kemungkinan terburuk Camar Bulan. Ketika Indonesia belum mempersiapkan upaya diplomasi, jusru pihak Malaysia telah memperkuat perbatasan dengan pembangunan eko-nomi, sekaligus melibatkan warganya dengan membentuk pasukan Rela. Saat ini jumlah pasukan Rela kurang lebih 3000 orang.H Subhan Nur, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar bi-dang pemberdayaan ekonomi perbatasan menilai kondisi tersebut akibat tidak jelasnya visi pemerintah daerah, provinsi dan pusat tentang keberpihakan kepada masyarakat perbatasan.Subhan menyarankan, agar jalur jalan strategis yang telah ditetapkan pusat dapat mengambil garis lurus. Potong saja jalan strategis nasional sampai Dusun Temajuk. Kemudian melakukan percepa-tan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat perbatasan, kata dia.Anggota DPRD Kalbar daerah pe-milihan Sambas, Tony Kurniadi meminta pemerintah Indonesia harus bersikap tegas dan segera menyelesaikan sengketa batas negara tersebut.Beberapa langkah bisa dilakukan pemerintah. Pertama, melalui diplomasi

    Benahi Mulai Infrastruktur Hingga Alutsista

    Halaman 7

    Bupati Sambas memaparkan data dan fakta yang terjadi pada patok batas Camar Bulan kepada kru media, Selasa (11/10). M. RIDHO MAWARI

    Perwakilan petani dalam kegiatan serah terima sertifikat di Kantor Pusat PTPN XIII Pontianak, Senin (10/10)

    Suharso Monoarfa

  • Saya sebagai warga Kalbar sangat kecewa terhadap pejabat yang terlibat dalam pembuatan tapal batas negara yang dimuat di Harian Equator, beberapa hari yang lalu. Menur