Click here to load reader

Harian Equator 28 Juli 2011

  • View
    291

  • Download
    11

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Harian Equator 28 Juli 2011

Text of Harian Equator 28 Juli 2011

  • PONTIANAK. Masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor lebih dari satu unit, siap-siap merogoh kocek leb-ih dalam saat membayar pa-jak. Pemprov Kalbar melalui Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) berencana mem-

    berlakukan pajak progresif terhitung 1 Agustus 2011. Dispenda akan mengena-

    kan tarif pajak progresif bagi kepemilikan kendaraan ber-motor lebih dari satu unit, ujar R Taruli Manurung SE MM, Kepala Dispenda Kalbar

    kepada Equator, kemarin (27/7).Kendaraan bermotor yang

    bakal dikenakan pajak pro-gresif ini adalah mobil atau kendaraan roda empat atau lebih. Pajak tersebut juga akan diberlakukan untuk

    kendaraan roda dua dan roda tiga yang memiliki kapasitas mesin mulai 350 cc ke atas. Sedangkan untuk kenda-

    raan yang kapasitas mesinnya di bawah 350 cc, tidak akan dikenakan pajak progresif.

    Harga Eceran : Mempawah Rp 2.500,- Singkawang Rp 2.500,- Bengkayang Rp 2.500,- Sambas Rp 2.500,- Landak Rp 3.000,- Sanggau Rp 3.000,- Sintang Rp 3.000,- Melawi Rp 3.000,- Kapuas Hulu Rp 3.000,- Ketapang Rp 3.000, -

    http://www.equator-news.com Eceran Rp 2.500,-26 Syaban 1432 H/ 28 Lak Gwee 2562

    Kamis, 28 Juli 2011

    Terbit Pertama: 29 November 1998

    Kalimantan Barat SebenarnyaKalimantan Barat Sebenarnya

    Kata membangun ka-wasan perbatasan, bukan baru satu kali didengung-kan. Desakan agar pemer-intah membangun ka-wasan perbatasan Kalbar dengan Malaysia sudah sering kali disampaikan, namun hasilnya masih jauh dari harapan.Selama ini masyarakat

    Kalbar sudah sering di-hadiahi janji untuk mem-bangun kawasan perba-tasan oleh pemerintah

    pusat. Sejumlah pejabat Negara sudah datang dan melihat langsung kondisi kesenjangan yang ada di perbatasan.Salah satu wujud nyata

    kesenjangan itu, adalah keberadaan TIP yang su-dah dibangun pemerintah Malaysia di daerahnya. Terhadap persoalan ini, sejumlah kalangan pen-gusaha Kalbar kembali mendesak pemerintah pusat segera memban-

    gun kawasan perbatasan Entikong.Pemerintah mesti juga

    membangun pelabuhan yang sama di Entikong, tegas H Retno Pramudya SH, Ketua Dewan Pimpi-nan Wilayah Gabungan Pengusaha Ekpedisi dan Forwarder Seluruh Indo-nesia (Gafeksi) Kalbar, kepada Equator belum lama ini.Retno mengingatkan, - Bang Meng

    -- Bukti pemerintah daerah tak becus.Kon ik Lahan Sawit Dabong Berlanjut

    Injet-injet Semut

    Memoles Perbatasan versi Malaysia (bagian 6)

    Keberadaan Tebedu Inland Port (TIP) yang

    dibangun pemerintah Malaysia bukti salah

    satu dari sekian banyak keseriusan pemerintah

    di negeri jiran. Kon-disi ini patut dicontoh

    Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.

    Halaman 7

    Oleh Abdu Syukri Pengusaha Kalbar Ingin Meniru Kiat Malaysia

    PERNAH mengemudi pesawat layaknya me-nyetir mobil? Konsep ini telah lama bergaung di benak banyak orang awam, sayangnya tak kunjung terwujud.Namun para ahli penerbangan selama lima ta-

    hun ini telah membuat sebuah mobil terbang yang bisa digunakan secara umum di Inggris. Bahkan otoritas penerbangan di Amerika Serikat (AS) juga telah menyetujui model mobil terbang bernama Terrafugia Transition hasil rancangan para ahli penerbangan Inggris itu.Terrafugia Transition adalah pesawat dengan

    dua tempat duduk yang mampu melaju hingga 115 mil per jam dan berdaya jelajah hingga 500 mil dengan tangki penuh. Menariknya, hanya dibu-tuhkan 20 jam pelatihan untuk bisa mengemudi-kan dan menerbangkan pesawat yang dibanderol USD 250 ribu itu atau sekitar Rp 2,2 miliar.

    Teknologi

    Mobil Terbang akan Segera Dipasarkan Seharga Rp 2,2 M

    Halaman 7

    JAKARTA. Perbedaan tunjangan pejabat daerah yang cukup mencolok antara satu daerah dengan lainnya menjadi perhatian Komisi II DPR RI. Ang-gota Komisi II DPR RI, Abdul Malik Haramain, menyatakan bahwa saat ini diperlukan evaluasi atas perbedaan tunjangan pejabat antardaerah. Kementerian Dalam Negeri perlu melakukan

    evaluasi terkait tingginya jumlah tunjangan yang diterima pejabat-pejabat daerah dalam hal ini PNS terutama di empat provinsi, kata Malik di Jakarta, Rabu (27/7).Lebih lanjut Malik menyebut ada empat daerah

    yakni Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Bant-en, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Di empat provinsi itu, tunjangan Sekda Provinsi berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta.

    Pemerintahan

    Mendagri Didesak Koreksi Tunjangan Pejabat Daerah

    Halaman 7

    Terrafugia Transition

    PONTIANAK. Vonis seta-hun penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Pon-tianak terhadap Cornelius Kimha, terpidana korupsi pengadaan pakaian Hansip, jauh di bawah tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ke-jaksaan Tinggi (Kejati) Kalbar berjanji meneliti putusan itu.Akan kita pelajari. Akan kita

    telaah, tegas Tyas Muharto SH, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalbar menjawab Equator di sela menghadiri pembukaan pusat oleh-oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalbar, Rabu (27/7).Kimha dalam sidang di PN

    Pontianak, Senin (25/7) hanya diganjar satu tahun penjara

    oleh majelis hakim yang diket-uai Yunus Sesa, dengan anggota I Made S Astawa dan Imam Supriyadi. Kepala Dinas Kehu-tanan Kalbar ini juga hanya diminta membayar uang ganti rugi Rp 50 juta, dan membayar biaya perkara Rp 5 ribu.Sementara dalam persidan-

    gan Selasa (12/7), JPU yang diwakili Tri Lestari menuntut

    terpidana dihukum 7 tahun 6 bulan. Ia juga diminta mem-bayar uang denda Rp 200 juta subsidair tiga bulan kurungan, serta diwajibkan mengganti uang kerugian negara Rp 1,934 miliar.Saat sidang vonis itu di-

    bacakan, terpidana maupun pengacaranya langsung me

    PONTIANAK. Tiga dari empat terpi-dana kasus korupsi pengadaan pakaian Hansip masing-mas-ing Cornelius Kimha, Tonny Ferdy, dan Rukasi merupakan pejabat aktif di jaja-ran Pemprov Kalbar. Meski sudah divo-nis, namun posisi mereka di birokrasi dipastikan masih aman.Sepanjang belum berkekuatan hukukum

    tetap (inkrah, rd) masih bisa menjadi kepala dinas, tegas Drs M Zeet Hamdy Assovie MTM, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar men-jawab Equator, Rabu (27/7) siang.Penegasan M Zeet ini bukan keputu-

    san pribadi, tetapi hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang dilakukan Inspektorat Jendral (Ijten) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terhadap para pejabat yang tersangkut masalah hukum tersebut.Dari Itjen Kemendagri sudah periksa

    semuanya. Kesimpulannya, masih bisa men-jabat, sepanjang belum ada putusan inkrah, ujar M Zeet yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) itu.Tim dari Itjen Kemendagri itu diketahui

    berjumlah 8 orang. Mereka turun langsung ke Kalbar untuk memeriksa para pejabat yang tersangkut persoalan hukum, terutama kasus baju Hansip ini.Tim tersebut diketahui melakukan pemer-

    iksaan sekitar dua minggu lalu. Selama melakukan pemeriksaan, mereka didampingi oleh tim dari Baperjakat Kalbar.Meski sudah vonis, Corenlius Kimha yang

    menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan Kalbar, Tonny Ferdy yang menjabat sebagai Kepala Badan Kesbanglinmas Kalbar, serta Rukasi yang berstatus sta biro asset belum ditahan. Putusan terhadap mereka belum inkrah, karena masih melakukan upaya hukum banding.Karena putusan yang belum inkrah inilah,

    Baperjakat belum bisa mengambil tindakan hukum. Nanti kalau sudah inkrah, baru akan kita laporkan dengan tim dari Itjen Kemendagri, kata M Zeet.Setelah dilaporkan, tahapnya Itjen Ke-

    mendagri dan Baperjakat akan bersidang. Dari hasil sidang itu baru diberikan putusan sesuai PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, pungkas M Zeet. (bdu)

    Kajati Telaah Vonis Ringan KimhaCornelis Tak Mau Dicap Lindungi Koruptor

    M Zeet Hamdy Assovie

    Posisi Tiga Terpidana Korupsi Masih Aman

    KUBU. Sebanyak 20 patok bertuliskan pengumuman status quo di pasang di areal 1300 hektar di Desa Dabong, Kecamatan Kubu oleh tim penyidik Polres Pontianak, dibantu jajaran Polsek Kubu bersama-sama tim BPN per-wakilan Kubu Raya, Rabu (27/7).Pemasangan pengumuman

    ini karena areal tersebut masih bermasalah sehingga dinyatakan status qua agar areal tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun. Masyarakat sekitar lokasi ar-eal diminta turut mengawasi agar tidak aktivitas perke-bunan di areal yang sudah

    ditanami kelapa sawit seluas 500 hektar berusia kira-kira 2,6 tahun.Areal itu ditanami sawit

    o leh PT C ipta Tumbuh Berkembang (CTB) yang diduga tanpa izin usaha perkebunan. Di lain pihak PT Sintang Raya meng-klaim memiliki Hak Guna Usaha atas areal itu sejak 2008. Mantan Kepala Desa Da-

    bong, A Latif mengaku PT CTB bekerja tanpa izin leng-kap. Padahal, masyarakat mengetahui kalau areal terse-but merupakan HGU PT Sin-tang Raya.PT CTB sudah melakukan

    aktivitas di lahan HGU PT Sintang Raya sejak tahun 2008 lalu, ungkap Latif kepada wartawan di lokasi perkebunan.PT CTB sudah mengetahui

    areal tersebut merupakan areal HGU PT Sintang Raya. Sehingga, dengan dibuatnya status quo ini, pihaknya san-gat senang mengingat PT Sintang Raya memiliki izin lengkap. Sementara PT CTB diketahui memiliki banyak kekurangan izinnya. Saya akan mengawasi areal status quo yang sudah ditetapkan Polres Pontianak, tegas La-tif.

    Kon ik Lahan Sawit Dabong Berlanjut

    Plang yang dipasang Polres Pontianak di areal bermasalah di Desa Dabong, Keca-matan Kubu. UUN

    1300 Hektar Ditetapkan Status Quo

    Halaman 7

    Halaman 7

    Pajak Progresif Diberlakukan 1 Agustus

    Miliki 2 Mobil Kena Pajak Lebih Tinggi

    Arus lalu lintas kendaraan di jalur jembatan kapuas I Pontianak. DOKUMEN

    SUKADANA. Tindakan kekerasan sik dan psikis kepada anak masih sering terjadi. Anak sering dijadikan pekerja, diperdagangkan untuk tujuan seksual komersial atau alasan ekonomi lainnya. Hal ini harus segera dicegah dan diantisipasi.Pelanggara