Click here to load reader

Harian Equator 4 September 2011

  • View
    349

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Harian Equator 4 September 2011

Text of Harian Equator 4 September 2011

  • Pelaksanaan Idul tri sudah berakhir. Seperti biasa selalu menyisakan tumpukan sam-pah yang menggunung di be-berapa Tempat Pemungutan Sampah (TPS).Sampah-sampah tersebut bekas konsumsi rumah tang-ga dan aktivitas perekono-mian menjelang dan sesudah

    pelaksanaan hari raya. Tak terkecuali sampah berupa koran bekas yang dijadikan alas untuk salat Idul tri.Kondisi persampahan di Kota Pontianak tersebut menyibukkan para petugas Dinas Kebersihan dan Perta-manan (DKP) Kota Pontianak. Beban tugas personel pen-

    gangkut sampah ini menjadi bertambah untuk memindah-kan sampah-sampah di Kota Pontianak menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Batulayang.Volume sampah yang me-ningkat dengan jumlah tena-ga penyapu jalan dan

    Harga Eceran : Mempawah Rp 2.500,- Singkawang Rp 2.500,- Bengkayang Rp 2.500,- Sambas Rp 2.500,- Landak Rp 3.000,- Sanggau Rp 3.000,- Sintang Rp 3.000,- Melawi Rp 3.000,- Kapuas Hulu Rp 3.000,- Ketapang Rp 3.000, -

    http://www.equator-news.com Eceran Rp 2.500,-6 Syawal 1432 H/7 Peh Gwee 2562

    Minggu, 4 September 2011

    Terbit Pertama: 29 November 1998

    Kalimantan Barat SebenarnyaKalimantan Barat Sebenarnya

    - Bang Meng-- Lebih cepat lebih baik.Paolus: Secepatnya Pemulihan

    Injet-injet Semut

    Sampah bertambah, personel penyapu dan

    pengangkut sampah san-gat terbatas. Sudahkah kesejahteraan pasukan

    kebersihan diperhati-kan?

    Halaman 7

    Oleh Anton Perdana

    Mengucapkan Selamat hari rayaMengucapkan Selamat hari rayaidul fitri 1432 Hidul fitri 1432 H

    Mohon Maaf Lahir dan BatinMohon Maaf Lahir dan Batin

    Tertanda

    Fauzi ArubusmanManager

    Manager Beserta Karyawan PT PLN (Persero) Cabang Pontianak

    Siap layani pelanggan 24 jam 08115718811/0561-734120 Bayarlah Rekening Listrik Tepat pada Waktunya dan Matikan Listrik Saat Meninggalkan RumahBayarlah Rekening Listrik Tepat pada Waktunya dan Matikan Listrik Saat Meninggalkan Rumah

    Internasional

    ANKARA. Hubungan Turki dan Israel berada di titik nadir. Pemerintah Turki kemarin (2/9) men-gusir Duta Besar (Dubes) Israel Gabby Levy dari Kota Ankara. Tidak hanya itu, Turki menurunkan tingkat hubungan diplomatiknya dengan pemer-intah Israel pula. Mulai saat ini, hubungan kedua negara hanya sampai pada tingkat sekretariat kedua. Dubes dan seluruh diplomat tingkat tinggi (Israel) harus meninggalkan ibu kota Ankara sebelum Rabu depan (7/9), tegas Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Ahmet Davutoglu dalam keterangan persnya kemarin.

    Halaman 7

    Beban Petugas Kebersihan Bertambah

    Turki Usir Dubes IsraelAkibat Insiden Mavi

    Sampah melubar di TPS Persis dekat SPBU Jalan Komyos Sudarso.

    Pasca Perayaan Idulfitri 1432 H (2)

    Olahraga

    SIAPA yang tidak mengenal Mike Tyson di dunia tinju. Di atas ring, petinju berjulukan Si Lehet Beton ini terkenal garang dan beringas menghabisi lawan-lawannya. Namun, siapa sangka Tyson yang ditakuti lawan-lawannya itu ternyata tidak kuasa menan-gis di Masjid Nabawi. Saya tidak kuasa menitik-kan air mata ketika saya mengetahui bahwa saya berada di salah satu taman surga, ujar Tyson menceritakan pengalamannya.Peristiwa langka itu terjadi, saat Tyson melakukan ibadah umroh ke tanah suci pada

    Halaman 7

    Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi

    PONTIANAK. Aktivitas warga di Desa Bonti dan Empodis sudah kembali normal pasca empat hari diterjang puting beliung. Ratusan warga yang mengungsi sudah kembali ke kediamannya.Hanya tinggal satu keluarga yang men-gungsi, ujar Drs Markus, Camat Bonti ke-pada Equator, Sabtu (3/9).Keluarga yang tinggal di Pasar Bonti itu masih mengungsi di kediaman keluarganya. Rumah keluarga itu rusak berat, padahal belum lama selesai dibangun. Mungkin karena konstruksinya yang belum kuat, ujar Markus.Setelah dihantam puting beliung, ratusan warga sempat mengungsi. Tapi sekarang semuanya sudah kembali ke rumah mas-ing-masing. Mereka sudah memperbaiki rumahnya. Aktivitas sudah kembali normal, ujar Markus.Tak hanya itu, listrik dan jaringan komu-nikasi milik salah satu operator selular yang terganggu juga sudah beroperasi normal. Hanya dua hari listrik padam. Tapi setelah itu petugas PLN bisa melakukan perbaikan, paparnya.Seperti diketahui, Senin (29/8) sekitar pukul 16.30, angin puting beliung men-erjang Desa Bonti dan Empodis di ibukota Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau. Ratusan rumah warga, perkantoran dan fasilitas publik yang berada di empat dusun, masing-masing Bonti Utara, Bonti Selatan, Empodis, dan Dusun Mua porak poranda.Data pihak kecamatan menyebutkan, sedikitnya 54 bangunan rumah, kantor dan sekolah rusak berat. Kemudian ada 217 bangun yang rusak ringan, termasuk sekolah dan Puskesmas.

    Mendesak, Rehabilitasi Pasca Bencana BontiKondisi berangsur normal. Namun belum ada upaya pemulihan yang serius atas kerusakan infrastruktur. Pemkab Sanggau dianggap mampu tangani sendiri. Belum ada perminta-an kepada pihak Pemprov.

    SANGGAU. Meski kondisinya sudah mulai normal, namun warga masih trauma. Pihak Kecamatan Bonti telah meny-iapkan Posko namun warga lebih memilih mengungsi ke tempat sanak saudaranya. Memang warga kelihatan masih sedikit trauma. Namun,

    secara umum sudah kembali normal, ujar Drs Markus, Ca-mat Bonti.Menurut Markus, warga yang terkena musibah terse-but enggan mengungsi di tempat penampungan. Mer-eka lebih memilih mengungsi di rumah warga dan sanak

    saudaranya. Kita sempat membangun posko. Tapi tak satu pun yang ditempati, jelasnya.Dijelaskan dia, bantuan sudah disalurkan kepada ma-syarakat yang terkena lang-sung musibah tersebut. Ber-bagai bantuan dari Pemkab

    Sanggau dan masyarakat, semua sudah kita salurkan ke warga, timpalnya.Wakil Bupati Sanggau, Paolus Hadi SIP MSi men-gungkapkan, Pemkab Sanggau berupaya akan melaksanakan pemulihan kondisi infrastruk

    Paolus: Secepatnya PemulihanWarga mulai berkemas-kemas setelah angin puting beliung menghantam ratusan rumah di Desa Bonti dan Empodis Kabupaten Sanggau. M KHUSYAIRI

    Halaman 7 Halaman 7

    Mike Tyson sedang salat berjamah

  • Dalam masyarakat Tionghoa perayaan tradisi Kue Bulan atau Festival Kue Bulan alias Cung Chiu Ciek adalah salah satu festival dari perayaan tiga festival besar, karena ada tradisi sung li (antar kado kepada yang dituakan).Kedua festival besar lainnya adalah Festival Musim Semi yang dirayakan pada tanggal 1 bulan 1, lebih dikenal dengan Tahun Baru Imlek (Chun Ciek). Dan Festival Tuan Wu Ciek/Phe Cun, dirayakan pada tanggal 5 bulan 5 yang dikenal dengan perayaan makan Bak Cang.Festival Kue Bulan/Cung Chiu Ciek dalam budaya etnis Tiong-hoa, khususnya di Kalbar masih melestarikan tradisi tersebut, yang dirayakan pada penangga-lan Imlek sejak tanggal 1 sampai 15 bulan 8.Tahun Masehi ini, Festival Kue Bulan jatuh pada tanggal 29 Agus-tus sampai 12 September 2011, maka tidak heran kita melihat sejak seminggu terakhir ini di pasar-pasar tradisional maupun supermarket sudah bermunculan penjualan kue bulan, baik dari produksi lokal maupun impor dengan bermacam isi serta be-ragam kemasan yang menarik, berlangsung selama 15 hari.Jika diperhatikan hampir semua kemasan kue bulan tersebut, pasti dihiasi gambar Dewi Cantik dengan kelinci berbulu putih di bulan, ini sering ditanyakan para generasi muda dan peminat sejarah kebudayaan tentang hal-hal tersebut. Untuk itu, saya coba menceritakan kembali tentang asal usul perayaan kue bulan.Berdasarkan kutipan dari En-siklopedia berbahasa Mandarin, Dictionary of Chinese Manners and Custom. Kali ini kami kutip-kan singkat dari buku Festival Rakyat dan Legenda Kuno Tion-gkok karangan Mr Kai Kuok Liang, terbitan Shin Hua Book-store, Shanghai, yang coba kami terjemahkan secara umum dan bebas sebagai berikut:Cerita dalam Legenda Chang Er Phun Yek atau Chang Er yang lari ke bulan. Chang Er adalah istri seorang jenderal gagah berani bernama How Ie yang hidup di kerajaan langit/ nirwana pada zaman Ngiau Ti.Kala itu, di atas bumi bermun-culan 10 buah matahari. Kemun-culan matahari yang amat banyak ini tentu saja menimbulkan mala-petaka bagi rakyat, karena panas yang amat sangat menyengat menyebabkan terjadinya keba-karan dimana-mana. Kemarau yang berkepanjangan menyeng-sarakan banyak makhluk hidup dalam penderitaan.Akhirnya, penderitaan yang dialami oleh para penghuni bumi ini diketahui oleh Thian Ti (Kaisar Langit). Beliau tak ting-gal diam melihat penderitaan itu, maka diutus Jenderal How Ie untuk mengatasi persoalan tersebut yang juga disanggupi sang jenderal.Kemudian jenderal itu turun ke bumi. Ia mengajak serta istri tercintanya, Dewi Chang Er. Sesampainya di bumi, How Ie langsung mencari tahu pe-nyebab bumi menjadi kering dan panas. Akhirnya diketahui bahwa penyebabnya adalah 10 matahari, anak Thian Ti yang muncul secara bersamaan dan saling berebut tempat.How Ie lantas berupaya mem-bujuk 10 matahari agar tidak muncul bersamaan. Namun, dengan angkuh sepuluh ma-tahari menolak, malahan mereka semakin mendekatkan diri ke bumi. Demi keselamatan rakyat banyak, serta menjalankan titah Kaisar Langit, Jenderal How Ie mengambil tindakan tegas. Jenderal itu mengambil anak panah dan busur sakti yang beratnya mencapai ribuan kati dan segera dibidikkan ke arah 10 matahari, akhirnya berturut-turut sembilan matahari sudah dihabisi Jenderal How Ie, tinggal lah si matahari bungsu, matahari terakhir yang segera mengakui kesalahannya telah menyeng-sarakan makhluk hidup di bumi,

    dan menyesali perbuatannya dan dimaafkan Jenderal How Ie. Sehingga matahari tersisa inilah yang masih dinikmati sampai sekarang.Sesudah kejadian memanah sembilan matahari tersebut, How Ie merasa serba salah, karena telah membunuh sem-bilan anak kandung Thian Ti. Akhirnya, How Ie dan istrinya di-larang naik kembali ke kerajaan langit. Jenderal How Ie akhirnya ditempatkan di bumi saja. How Ie menuruti perintah Kai-sar Langit/Thian Ti tersebut, wa-laupun terasa kurang adil. Untuk m