HERY STIKes

  • View
    438

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Modul 1 Tugas 1Keuntungan dan Kerugian dengan menggunakan cara wahyu, coba-coba,spekulasi,kebiasaan, dan ataupun dengan menggunakan kekuasaan.A. Keuntungan 1. Coba- coba a. Bisa menggunakan kemungkinan-kemungkinan dalam menyelesaikan masa lah dan bisa diulang dengan kemungkinan-kemungkinan yang lain sampai masalah terpecahkan. b. Coba-coba digunakan dalam waktu yang lama untuk memecahkan berbagai masalah. c.Coba-coba bisa digunakan oleh siapa saja terutama oleh mereka yang tidak atau belum mengetahui cara tertentu dalam menghadapi masalah. 2. Kekuasaan a.Dengan kekuasaan, pendapat yang disampaikan oleh seorang pemimpin mut lak diterima kebenarannya oleh masyarakat dan pendapat tersebut bisa di te rima sampai jangka waktu lama tanpa perlu membuktikan terlebih dahulu berdasarkan fakta empiris maupun penalaran diri sendiri.b.Cara ini bisa disampaikan oleh semua orang yang mempunyai kekuasaan ba ik oleh tokoh formal maupun informal.3. Kebiasaan a.Cara kebiasaan dapat diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi ba ik masyarakat tradisional maupun moderen tanpa melalui penalaran baik atau tidaknya. b. Kebiasaan juga bisa dipakai berulang-ulang untuk memperoleh kebenaran dalam memecahkan suatu masalah.4. Wahyua. Dengan wahyu akan mudah diterima dan dipercayai tanpa memerlukan kebe naran, begitu juga dengan cara spekulasi.b. Cara-cara tersebut merupakan pencerminan dari upaya memperoleh pengeta huan walau pada taraf yang masih primitip.c. Membantu perkembangan pola berfikir dan kebudayaan manusia kearah yang lebih baik.5. SpekulasiMenyelesaikan masalah dengan cara ini tidak memerlukan berbagai variableB. Kerugian- Tidak dapat dibuktikan kebenarannya baik secara fakta ataupun nalar. - Perlu mencoba terus menerus sampai berhasil. - Tidak sesuai dengan perkembangan zaman. - Jika cara-cara yang dipakai tidak berhasil bisa menambah beban psikologis. - Tidak bisa membantu berpikir secara kritis dan logis. - Bisa menimbulkan prasangka - Tidak menggunakan prinsip analisis dan hipotesis - Tidak menggunakan ukuran objektif. Modul 1 Tugas 2A. Deduktif- Sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari bahwa mereka menderita hypertensi ( bersifat umum ).- Penderita hypertensi yang berobat di Rumah Sakit A lebih sedikit dari jumlah penderita hypertensi yang tercatat ( keadaan khusus ).- Penyebab rentannya penderita hypertensi terkena komplikasi karena tidakmenyadari bahwa mereka menderita hypertensi dan tidak berobat secararutin B. Induktif - Penderiya hypertensi di Rumah Sakit A hanya sepertiga yang berobat secara rutin ( data ) - Penyebab rentannya penderita hypertensi, mengalami komplikasi disebabkan Tidak berobat secara rutin. modul 1 Tugas 3 - Sebagian besar penderita hypertensi tidak menyadari bahwa mereka menderita Hypertensi ( premis mayor ) - Pencerita hypertensi yang berobat di Rumah Sakit A lebih sedikit dari jumlah Penderita hypertensi yang tercatat ( premis minor ) Modul 1 Tugas 4 Kelebihan dan kekurangan. 1. Penelitian HistorikalKelebihan : Penelitian ini tidak begitu rumit karena penelitian ini dilakukan mela lui data skunder yaitu melalui atau berasal dari kepustakaan sehingga Peneliti tinggal mengkaji data-data berdasarkan kepustakaan yang ada. Kekuran

Text of HERY STIKes

PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA (PMD): Sebuah RefleksiRefleksi ini mengajukan gambaran dan penjelasan maupun renungan terhadap PMD mata ajaran/mata kuliah yang saya berikan di Fakultas Pertanian USU (dan dalam kesempatan memberikan kuliah lainnya di sana-sini) selama 40 tahun (19652005). Walaupun tidak sepenuhnya terlaksana, saya menggunakan karya tulis yang pernah saya kerjakan dan tautan kata berikut ini mendasari refleksi ini. TEKAD MEMBANGUN DESA Dalam membangun desaku, Merenung aku sejenak Menoleh aku ke belakang Belajar dari masa lalu Kutengok ke kiri dan ke kanan Mengenal tempat berpijak Kupandang ke depan, Kutetapkan tujuan dan arah kusingsing lengan baju Dengan semangat dan tekad dihati Dengan keringat, tanpa air mata Kuraih bahagia satu per satu Pakuling, 1984 (D. H. Penny & Meneth Ginting: Pekarangan Petani dan Kemiskinan, Gadjah Mada University Press, 1984) Karya tulis (terlampir dalam curiculum vitae) mengenai PMD telah

saya geluti semenjak mahasiswa (kolokium, tugas mayor dan minor, dan skripsi), mulai diterbitkan tahun 1996 dalam Majalah Kultura Fakultas Pertanian USU dan beberapa harian di Medan. Pidato Guru Besar saya di USU adalah konsepsi Musyawarah Mufakat Pembangunan Desa (MMP-D) yang telah diterbitkan oleh Forum Adapun isi (content) mata kuliah PMD adalah terus berkembang, tetapi benang merahnya tetap berkisar antara pengenalan desa, Kebijakan PMD dan aspek teori lainnya (dalam tulisan Musyawarah Mufakat Pembangunan). Refleksi-1 PMD adalah sepatutnya menjadi prioritas pembangunan. PMD adalah patut dan perlu menjadi prioritas pembangunan nasional dan pembangunan daerah di negara berkembang terutama Indonesia. Hal ini tidak lain oleh karena pembangunan yang utama dan terutama adalah pembangunan manusia seutuhnya. Manusia yang perlu dibangun jiwa dan raganya itu mayoritas adalah di desa. Refleksi-2 PMD adalah komprehensif. Sampai saat ini definisi PMD masih diperdebatkan, misalnya apakah Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) sama dengan Pembangunan Desa (PD). Walaupun ada pendapat yang berbeda tapi sepertinya ada kesesuaian/kesepakatan bahwa PMD adalah satu hal yang komprehensif. Hal ini adalah oleh karena ilmu-ilmu yang berkaitan dengan IPOLEKSOSBUDHANKAMLH (Idiologi, Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan Keamanan, dan Lingkungan Hidup) terkait dan tercakup di dalamnya. Sekedar

contoh: peranan pemerintah dalam perekonomian dalam ekonomi makro juga diajarkan juga dijabarkan untuk PMD, begitu juga lingkungan hidup dan dampaknya dengan seluruh indikatornya: ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan (institusi) dibahas tentu saja dengan unit analisis desa. Memang PMD menuntut cakrawala pemikiran yang luas dan komprehensif. Refleksi-3 PMD adalah wacana global. Penanggulangan kemiskinan dan perubahan sosial merupakan inti dari PMD adalah memang merupakan masalah utama di negara ke-3 menjadi topik seminar global dan banyak didiskusikan di banyak negara (terus terang pengetahuan mengenai PMD inilah yang membuat saya melanglang buana ke Amerika, Australia, Swedia, dan Jerman Barat, dan juga ke negara-negara Asean menjadi pembicara atau peserta pertemuan ilmiah yang dikoordinir badan-badan internasional). Refleksi-4 Yang paling tahu PMD adalah masyarakat desa. Sering dilupakan bahwa kearifan tradisional telah ratusan tahun menjadi benteng yang kokoh dari warga desa. Kita tahu ada lubuk larangan di Madina Natal yang banyak membantu masyarakat, kita tahu (baru tahu) bahwa rumah tahan gempa telah lama diketahui masyarakat desa, kita tahu setelah pengalaman dilanda gempa. Intuisi adalah salah satu cara mendapatkan kebenaran bukan hanya melalui metode riset saja, inilah ilmu yang perlu diketahui para peneliti. Refleksi-5

Perencanaan PMD perlu disusun dengan MMP-D. Perencanaan PMD perlu disusun dengan cara joint planning (penggabungan top down dan bottom up planning) oleh seluruh pemangku amanah (stakeholders) desa. Orang desa dan orang luar desa/orang atas desa perlu duduk bersama dalam musyawarah mufakat pembangunan desa. Bersama menentukan idaman dan harapan, bersama menentukan hambatan mencapai idaman dan harapan, bersama menemukan usul/saran dan bersama pula menentukan implementasi (siapa mengerjakan, apa, kapan, dan bagaimana). Refleksi-6 PMD memantapkan jati diri. Dalam PMD kita akan menemui idaman berbagai bangsa dan suku bangsa Karo: TSM (Tuah, Sangap, Mejuah-juah), Toba: 3 H (Hasangapon, Hamoraon, Hagabeon), Jawa: KTCWG (Kukilo= burung perkutut, Turangga= kuda tunggang, Curiga= keris, Wismo= rumah, dan Garwo= jodoh), Singapura (hipotesis): 5C (Credit Card, Car, Condomonium, Career & Companion). Apakah jati diri seseorang yang dalam dirinya tree in one dia berasal dari etnis tertentu (Jawa, Toba, Karo, Minang, Melayu, dll.), dia orang Indonesia dan dia juga warga dunia. Jati diri dapat dimantapkan dengan belajar PMD. Refleksi-7 PMD adalah mengenai manusia yang sukar ditebak. Pak D.H. Penny dan saya tidak jadi menutup buku kami: Pekarangan Petani dan Kemiskinan (1984) dengan pernyataan kata-kata air laut dapat diduga hati manusia siapa tahu, tetapi kami mengingat walaupun

hanya menuliskan, Begitulah hakikat manusia sukar dimengerti. Yang juga tidak terlupakan dari studi kami adalah bahwa orang desa itu adalah bijaksana namun rasionalitas orang desa memang masih perlu menjadi bahan studi. Refleksi-8 Yang paling menarik dari PMD: Teori Kepemimpinan dan Teori Adopsi. Kalau berjumpa dengan bekas mahasiswa, mereka sering menyatakan bahwa yang paling menarik dari mata kuliah PMD adalah mengenai teori kepemimpinan dan teori adopsi. Penjelasannya: teori kepemimpinan adalah pemantapan mengenai diri sendiri dan teori adopsi yang mengajarkan tingkat kesadaran dalam penerimaan ide baru (inovasi) nyata-nyata membuat seseorang dapat meningkatkan empati atau simpati kepada orang lain. Menurut mantan mahasiswa, kedua teori ini nyata-nyata mereka temui di lapangan dalam kerja dan karier mereka. Refleksi-9 PMD priotitas pembangunan yang terlupakan. Dahulu doeloe tahun 1960-an di Fakultas Pertanian USU, seluruh mahasiswa/i mesti melaksanakan Praktik Umum Pertanian dan Praktik Desa selama beberapa bulan di perdesaan. Hal ini membuat mahasiswa mau tidak mau mengenal desa. Doeloe Fakultas Pertanian USU, disegani dan diakui kelebihannya dalam pendalaman materi tentang PMD oleh fakultas pertanian lainnya di Indonesia. Catatan penting: dua orang sahabat saya yang telah almarhum (Ir. A. Rachman Rangkuti: alumni Fakultas Pertanian USU yang bertahun-tahun berkecimpung jadi

anggota DPR RI dan Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar UGM) mengeluhkan secara langsung sedikitnya perhatian terhadap PMD pada beberapa tahun terakhir ini dari pemerintah maupun dari ilmiawan. Gaung pembahasan PMD dan juga pembangunan

pertanian nyaris tak terdengar, kata sdr. Lali (Dr. H. S. Dillon) danjuga kata sdr. Ir. Soekirman (baru saja dilantik jadi Wakil Bupati Serdang Bedagai). Ada pula pernyatan-pernyataan sahabat yang merasuk kalbu, Net tidak ada lagi orang membicarakan

pembangunan masyarakat desa pantai, alangkah sia-sianya upaya yang telah kita buat dahulu, itulah pernyataan merupakan keluhanmendalam dari Prof. Bahauddin Darus (yang selalu memanggilku Net), dalam perjalanan Beliau berobat ke Singapura bulan lalu. Refleksi-10 Fakultas Pertanian USU perlu desa binaan. Bukan karena iri mendengarkan cerita warga UPLB Los Banos Philipina yang bersemangat penuh gairah menceritakan laboratorium sosial yang mereka bina. Bukan pula hanya untuk kepentingan mata kuliah PMD dan memenuhi tuntutan hati nurani saya. Akan tetapi memang perlulah, memang patutlah Fakultas Pertanian USU mempunyai desa binaan. Banyak argumen untuk itu, tetapi cukuplah kiranya 3 kata: pertanian itu di desa. Refleksi-11 Fakultas Pertanian USU perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Syukur alhamdulillah kerja sama Fakultas Pertanian USU dan Bapemmas Provinsi Sumatera Utara akan ditandatangani hari ini.

Semoga terwujud kerja sama Fakultas Pertanian USU dengan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota. Amin.

Ya Allah, panel diskusi PMD yang dilaksanakan ini merupakan peringatan HUT-ku yang ke-65 (satu hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya). Panel diskusi ini terlaksana atas kerja nyata, ketulusan/kebaikan hati sahabatku, para pemrakarsa, sponsor, panitia, dan banyak orang yang menjadikan panel diskusi hari ini menjadi kenyataan. Aku tak sanggup membalas kebaikan hati para sahabatku tersebut (yang terlalu panjang kalau namanya kucantumkan satu per satu di sini, tetapi Allah merngetahui dengan pasti siapa mereka). Tolonglah ya Allah, balaslah kebaikan mereka berlipat ganda. Ya Allah, aku menyadari bahwa kejadian hari ini dan aku menjadi schoolar PMD dan aku mempunyai banyak sahabat yang memberikan warna-warni keindahan dalam hidupku adalah berkat ridho-Mu. Terima kasih, berilah kehidupan yang bermakna kepadaku dan kepada para sahabat-sahabatku. Allahu Akbar.

KARYA TULIS PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA (SELEKTIF)Tahun 1966

-

Gotong-royong di Tanah Karo. Kultura Fakultas Pertanian USU

Medan No. 1.

-

Pelaksanaan Tugas Penyuluhan dalam Proyek Pangan Medan

Jaya. PMD. No. 4 dan Kultura Fakultas Pertanian USU Medan No. 7/8. Tahun 1967

-

Pangan di Sumatera Utara. Seminar Dasawarsa Fakultas

Pertanian USU Medan, dan Kultura Fakultas Pertanian USU Medan No. 13/14.

-

Beberapa Kesan dari Koresteda Konreg. Fakultas Pertanian USU

Medan. No. 16. Tahun 1968

-

Metode Penyuluhan Pertanian. Kultura Fakultas Pertanian USU

Medan. No. 19. Pendidikan Masyarakat Desa dan Penyuluhan Pertanian.

Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian USU Medan (dengan Ir. M. B. Sirait ). Tahun 1969

-

Dengan Uang Rp 100.000,- Kultura Fakultas Pertanian USU

Medan No. 23. Penanaman Padi PB8 di Tuntungan. Majalah Corps Bukit Barisan

No. 2 Medan.

Quo Vadis Landerform? Kultura Fak