Click here to load reader

HKM PENYERTAAN

  • View
    32

  • Download
    8

Embed Size (px)

Text of HKM PENYERTAAN

Pengertian

Turut campur dalam peristiwa pidana; 2. Turut berbuat delik; 3. Turut serta Beberapa Pandangan tentang Penyertaan : 1. Sbg dasar memperluas dapat dipidananya orang; 2. Sbg dasar untuk memperluas dpt dipidananya perbuatan1.

Penyertaan dipandang sbg persoalan pertanggungjwban pidana; b. Penyertaan bkn suatu delik sebab bentuknya tdk sempurna; Penganutnya : - Simon, Van Hatum & Hezenwinkle Suringaa.

Penyertaan dipandang sbg bentuk khusus dari tindak pidana; b. Penyertaan merupakan suatu delik, hanya bentuknya istimewa. Penganutnya : - Pompe, Moeljatno & Roeslan Saleha.

1. Pembagian Dua;a.

b.

Menurut Van Feurbach penyertaan terbagi dlm bentuk : 1. Urheber (pembuat) 2. Gehilfe (pembantu) Menurut KUHP Belanda & Indonesia : 1. Dader/pembuat (Psl 47 Bld & Psl 55 KUHP INA) 2. Medeplightige/pembantu (Psl 48 Bld & Psl 56 KUHP INA)

2. Pembagian Tiga a. Di Jerman: 1. tater (pembuat) 2. anstifter (penganjur) 3. gehilfe (pembantu) b. Di Jepang: 1. Co principals (pembuat) 2. Instigator (penganjur) 3. accesoris (pembantu)

1. Pembuat/Dader (Psl 55) terdiri dari : a. Pelaku (pleger) b. Yang menyuruh lakukan (doenpleger) c. Yang turut serta (medepleger) d. Penganjur (Uitlokker) 2. Pembantu/Medeplightige (Psl 56) : a. Pembantu pada saat kejahatan dilakukan; b. Pembantu sebelum kejahatan dilakukan.

1. Pandangan Yang Luas : - Pembuat adl tiap orang yg menimbulkan akibat yang memenuhi rumusan delik. - Dg demikian mereka yg disebut oleh Psl 55 adl Pembuat. - Penganutnya : MvT, Pompe, Van Hatum2. Pandangan Yang Sempit : - Pembuat hanyalah org yg melakukan sendiri perbuatannya yg sesuai dg rumusan delik, jadi hanya perbuatan materiil saja. - Menurut pandangan ini mereka yg masuk dlm rumusan Psl 55 hanya disamakan dg Dader. - Penganutnya : Simons, Van Hamel.

Pelaku/Pleger

adl orang yg melakukan sendiri perbuatannya hingga memenuhi rumusan delik. Dalam praktek, hal ini sulit ditentukan terutama dlm hal pembuat UU tdk menentukan secara pasti mengenai siapa yg menjadi pelaku.

Peradilan Indonesia Pelaku adalah orang yg harus dimintai pertanggungjawaban. 2. Peradilan Belanda Dader adl org yg mempunyai kuasa untuk mengakhiri akibat dari suatu keadaan terlarang tetapi membuat keadaan terlarang itu tetap berlangsung. 3. Pompe Dader adl org yg mempunyai kewajiban utk mengakhiri keadaan terlarang.1.

Doenpleger

adl org yg melakukan perbuatan dg perantaraan org lain, sdgkan perantaranya hanya dianggap sbg alat. Dengan demikian dlm Doenpleger ada 2 pihak :-

Pembuat Langsung Pembuat Tdk Langsung

Alat

yang dipakai adalah MANUSIA; Alat yang dipakai itu berbuat alias bukan benda mati; Alat yang dipakai itu tdk dapat dipertanggungjawabkan. Unsur ketiga ini merupakan ciri dari Doenpleger.

Bila

ia tidak sempurna pertumbuhan jiwanya (Psl 44); Bila ia berbuat karena daya paksa (Psl 48); Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yg tidak sah spt dalam Psl 51 (2); Bila ia keliru; Bila ia tidak mempunyai maksud sebagaimana disyaratkan utk kejahatan yg dimaksud.

Definisi Menurut MvT : Medepleger ialah orang yg dgn sengaja turut berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. Menurut Pompe : turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada 3 kemungkinan : 1.masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik Misal : dua orang dgn bekerjasama melakukan pencurian 2. Salah seorang memenuhi semua unsur delik, sedang yg lain tidak. Misal : dua orang pencopet ( A&B) saling bekerjasama, A yg menabrak org dan B yg mengambil dompet org itu. 3. Tidak seorangpun memenuhi unsur2 delik seluruhnya, tetapi mreka bersama-sama mewujudkan delik itu. Misal : dalam pencurian dgn merusak (Pasal 363 ayat (1) ke-5 salah seorang melakukan penggergajian, sedangkan kawannya masuk rumah dan mengambil barang2 yg kemudian diberikan kpd org yg menggergaji tsb.

1. Ada kerjasama secara sadar yg penting adalah harus ada kesengajaan : a. untuk bekerjasama b. ditujukan kepada hal yg dilarang oleh UU 2. Ada pelaksanaan bersama secara fisik yg penting adalah harus ada kerjasama yg erat dan langsung Uitlokker (Penganjur) ialah org yg menggerakkan org lain utk melakukan suatu TP dgn menggunakan sarana2 yg ditentukan oleh UU

Perbedaan Uitlokker dgn Doenpleger

penganjuran Menyuruh melakukan

Menggerakkannya dgn sarana2 ttt Pembuat materiil dpt dipertanggungjawabkan Sarana menggerakkannya tdk ditentukan Pembuat materiil tdk dpt dipertanggungjawabkan

Ada kesengajaan utk menggerakkan org lain melakukan perbuatan yg terlarang

Menggerakkannya dgn menggunakan sarana2 spti tsb dlm UU

Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan krn hal2 tsb pada A dan B

Si pembuat materiil tsb melakukan TP yg dianjurkan / percobaan melakukan TP

Pembuat materiil tsb hrs dpt dipertanggungjawabkan dlm hkm pidana

a.

SIFAT : Dilihat dari perbuatannya, pembantuan ini bersifat accessoir artinya utk adanya pembantuan hrs ada org yg melakukan kejahatan (hrs ada org yg dibantu), tetapi dilihat dri pertanggungjawabannya tdk accessoir artinya dipidananya pembantu tdk tergantung pd dpt tidaknya si pelaku dituntut atau dipidana. b. JENIS : Menurut Pasal 56 KUHP, ada dua jenis pembantu : 1. Jenis Pertama a. waktunya : pd saat kejahatan dilakukan b. caranya : tdk ditentukan scra limitatif dlm UU 2. Jenis Kedua a. waktunya : sblm kejahatan dilakukan b. caranya : ditentukan scra limitatif oleh UU (yaitu dgn cara : memberi kesempatan, sarana atau keterangan)

1.

Pada prinsipnya KUHP menganut sistem bahwa pidana pokok utk pembantu lebih ringan dari si pembuat. Prinsip ini terlihat didalam Pasal 57 ayat (1) dan (2) - maks. Pidana pokok utk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1) - apabila kejahatan diancam pidana mati/seumur hidup, maka maks.pidana utk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2) Pengecualiannya : Pasal 333 (4) dan Pasal 231 (3) KUHP 2. Pidana tambahan utk pembantu sama dgn ancaman thdp kejahatnnya itu sendiri, jd sama dgn si pembuat. (Pasal 57 :3)

BEBERAPA PANDANGAN Ada dua kelompok pandangan, yaitu : 1. Sebagai masalah pemberian pidana (HazewinkelSuringa) 2. Sebagai bentuk khusus dari tindak pidana (Pompe,Mezger,Mulyatno) B. PENGATURAN DI DALAM KUHP Concursus ada 3 macam, yaitu : 1. Concursus Idealis (Gabungan Peraturan) 2. Voortgezettehandeling (Perbuatan Berlanjut) 3. Concursus Realis (Gabungan Perbuatan)A.

Ada Concursus Idealis, apabila suatu perbuatan masuk dalam lebih dari aturan pidana. Pasal 63 (1) Jika satu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka hanya dikenakan satu aturan pidana yang paling berat. Contoh : A melakukan tindak pidana yg menyebabkan matinya B, maka A bisa didakwa dengan dakwaan berlapis yaitu Pasal 340, 338, 351 (3) (dakwaan primer, subsider dan lebih subsider) maka dalam hal ini tersangka dpt diancam dgn Pasal 340 KUHP krn sanksi pidananya paling berat. Apabila tersangka hanya didakwa dgn satu pasal saja, kemudian dakwaan tsb tdk terbukti maka apabila kasus tsb diungkap kembali maka perkara tsb Nebis In Idem.

Van Bemmelen ada concursus idealis apabila org melakukan satu perbuatan dgn sendirinya masuk ke aturan yg lain contoh : Memperkosa di tempat umum. (memperkosa Psl 285 dan perbuatan di tempat umum Psl 281 KUHP) Hazewinkel Suringa ada Concursus idealis apabila suatu perbuatan yg sdh memenuhi suatu rumusan delik, mau tidak mau masuk pula dlm aturan yg lain. Contoh : perkosaan di t4 umum. Pompe ada concursus idealis apabila org yg melakukan suatu perbuatan konkrit yg diarahkan kpd satu tujuan mrpkn benda / obyek aturan hkum. Contoh : bersetubuh dgn anaknya sendiri yg blm 15 thun. (Psl 294 dan Psl 287)

Ada perbuatan berlanjut, apabila (Pasal 64) : 1. seseorang melakukan beberapa perbuatan 2. perbuatan tsb masing2 mrpkn kejahatan / pelanggaran. 3. antara perbuatan2 itu ada hubngn yg erat : - satu niat - satu jenis perbuatan - waktu tdk lama - objek / benda sama. Misalnya : A mlakukan pencurian kayu/papan pd malam hari pd tgl 10,15,22, dan 28 Januari 2009. maka ia dianggap mlakukan satu perbuatan dan dipidana dgn hukuman yg paling berat.

Ada concursus realis apabila (Psl 65) : - seseorang mlkukan beberapa perbuatan - masing2 prbuatn berdiri sendiri

Merupakan

alasan pemberatan pidana Syarat2 residiv: - org tsb pernah menjalankan pidana baik seluruh / sebagian - jangka waktu blm daluarsa - belum lima tahun dri TP Pertama - diputus bebas perkaranya

Residiv

dibagi mnjadi 2 yaitu :

Residiv kebetulan pengulangan TP dilakukan secara kebetulan Rsidiv biasa pengulangan TP dilakukan karena sdh mnjadi kebiasaan atau si pelaku memang berbakat jahat. Biasanya Hakim mnjatuhkan pidana yg diperberat yaitu ditambah sepertiga.

Hal

hal yg meringankan pemidanaan : 1. percobaan (Poging) 2. pembantuan (medeplictige) 3. belum cukup umur (anak-anak) 4.tertuduh mngakui perbuatannya 5. tertuduh mnunjukkan penyesalannya. 6. tertuduh blm pernah dipidana 7. berlaku sopan di muka sidang 8. terdakwa lanjut usia

Hal

hal yg memberatkan pemidanaan :

Residiv (pernah dipidana) Perbuatan dianggap tidak mendidik Korban masih anak2 Selalu mungkir / mngelak Korban ternyata masih ada hub.keluarga