Hobi hobiburukorangkita-100322063042-phpapp01

  • View
    27

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of Hobi hobiburukorangkita-100322063042-phpapp01

Curriculum Vitae

Hobi-Hobi Buruk

Orang Kita,

(alias siapapun yang punya KTP Indonesia atau tinggal di Indonesia!)

Isi buku ini akan mengingatkan anda pada banyak kejadian yang anda alami dan lihat sehari-hari di Indonesia. Hobi-hobi ini sudah saatnya tidak lagi diterima dan harus dibasmi dari budaya, perilaku, dan gaya hidup kita, agar bangsa kita menjadi bangsa beradab dan manusiawi. Mulailah dari diri sendiri tetapi jangan lupa untuk beritahu orang lain, keluarga, teman, pasangan, tetangga. Jadilah agen kebaikan sekarang dan selamanya. Ayo maju Indonesia!

PENTING DIKONSUMSI UNTUK PERTUMBUHAN

AKAL DAN JIWA ANDA

Pendahuluan

Judul orisinal buku ini adalah Hobi-Hobi Buruk Orang Kita hasil tulisan Aidil Rizali. Diterbitkan pertama kali bulan Agustus tahun 2007 oleh Pustaka Antimalas (no. Anggota KDT 978-979-16899) dengan ISBN 978-979-16899-0-8.

Aidil Rizali membuat, mempublikasikan, dan menjual buku ini nyaris sendirian. Dana didapat dari ayahnya, ia lalu pergi ke percetakan tingkat teri di bilangan Depok dimana ia bisa mencetak 1000 buku dengan harga 2-3 juta, dibantu oleh seorang layouter.

Ia kemudian menjual buku ini di bus, di jalanan, menjual kepada polisi, anak SD, SMP, SMA, mahasiswa, hasilnya ternyata mengejutkan. Banyak yang suka dari mulai anak SD kelas 6 di Labschool sampai guru di SMAN 2 di Kota, sampai nenek-nenek di sekolah Al-Fikri Depok yang beli untuk dikasihliat ke cucunya. Ia dan istrinya, Wahyunda Septikarini, juga menjual HBOK di Book Fair Jakarta 2008, Islamic Book Fair 2008, dan di acara Tung Desem di Mal Mangga Dua.

Hobi-Hobi Buruk Orang Kita disebarkan sendiri oleh Aidil lewat program Libraries and School Tours 2007 ke lusinan institusi pendidikan negeri dan swasta dari tingkat SD sampai universitas diberbagai kota dan provinsi di Indonesia, termasuk: Perpustakaan Pusat Kota Malang, Koran Pendidikan Malang, SD-SMP-SMA di Bali, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, UIN Malang, Perpustakaan Pondok Modern Gontor Darussalam Ponorogo, SMAN 3 Malang, MAN 3 Malang, SMP Negeri 1 Malang, SMK Negeri 4 Malang, SD Siemens Pulomas Jakarta, SMP-SMA Labschool Jakarta Timur, SMAN 1 Jakarta, SMAN 2 Jakarta, SMAN 3 Jakarta, SMAN 4 Jakarta, SMAN 5 Jakarta, SMAN 6 Jakarta, SMUN 8 Jakarta, SMAN 21 Jakarta, SMAN 22 Jakarta, SMA 26 Jakarta, SMAN 27 Jakarta, SMAN 30 Jakarta, SMAN 31 Jakarta, SMAN 36 Jakarta, SMAN 38 Jakarta, SMAN 42 Jakarta, SMAN 54 Jakarta, SMAN 68 Jakarta, SMAN 70 Jakarta, SMAN 77 Jakarta, SMAN 82 Jakarta, SMAN 109 Jakarta, SMA Kanisius Jakarta Pusat, SMA Fons Vitae 1, SMK Negeri 1 Jakarta, SMPN 2 Jakarta, SD-SMP Perguruan Cikini Jakarta Pusat, SMP 115 Tebet Jakarta, Perpustakaan Pascasarjana UHAMKA Jakarta Pusat, Perpustakan Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Perpustakaan Pusat Kebudayaan Perancis CCF Salemba, Perpustakaan The Japan Foundation, Perpustakaan Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Jakarta, Perpustakaan Kotamadya Jakarta Timur, dan Perpustakaan Nasional RI. (Tanda Terima Buku berikut Stempel dan Tanda Tangan Penerima ada pada Aidil Rizali sebagai arsip.)

Selain itu buku ini juga diberikan kepada Koran Tempo, Tempo, Radio Hard Rock Cafe Kuta Bali, Radio Prambors Jakarta, TVRI Lombok, Filsuf Donny Gharal Adian, Sejarahwan Anhar Gonggong, Bapak Puisi Sapardi Djoko Damono, Komedian Dik Doank, Rumah Produksi Kalyana Shira Teteh Nia Dinata, Asisten Deputi Pengembangan Fasilitator Kepemimpinan Pemuda Menpora Zulkifli Akbar, dan Kepala Pusat Keberbakatan Universitas Indonesia Prof.Dr.Lydia Freyani Hawadi serta beberapa komunitas dan media di Bali, Lombok, Surabaya, Malang, Yogya, dan Bandung yang namanya tidak bisa disebutkan satu per satu.

Sebenarnya ambisi penulis adalah memberikan satu kopi HBOK kepada setiap institusi apapun di Indonesia mengingat betapa dasar dan urgen isi buku kecil ini. Font di HBOK sengaja dibuat besar-besar agar dapat dibaca dari anak yang baru bisa baca hingga kakek-kakek atau nenek-nenek yang sudah mulai kesulitan baca, biar aksesnya terbuka seluas mungkin.

Sambutan untuk buku ini umumnya positif. Bapak Ricky Aprijoso dari Perpustakaan Pusat Malang terkesan sekali dengan isi HBOK sehingga beliau berkomentar, Jika saja satu dari setiap sepuluh orang yang baca buku ini berubah, wah, Indonesia bisa sangat luar biasa. Ini buku penting, bagus untuk dibaca semua orang. Kesan itu menyenangkan hati saya dan saya lega ada orang yang mengerti mengapa buku ini dibuat. Karena tidak semua orang terkesan, ada yang malah berpikir negatif pada mulanya, seperti seorang tentara yang merasa saya menjelekkan bangsa Indonesia. Saya bilang, ini kenyataannya, kita musti sadari dulu bahwa nggak semua kebiasaan kita bagus baru kita bisa berubah. Kalau kita malu mengakui kebiasaan-kebiasaan buruk lalu bagaimana kita bisa berubah? Akhirnya tentara itu mengerti dan mendukung, bahkan meminta saya agar terus menulis. Ada juga sepasang pembaca yang mengirim SMS,Mas Aidil bukunya bagus buanget dan ngebuat kita ketawa-tawa. Bikin buku lagi dong. Komentar-komentar seperti ini membuat saya merasa terdorong untuk mempublikasikan buku ini gratis, dipersembahkan kepada setiap orang Indonesia dimanapun mereka berada di dunia.

Begitu seriusnya Aidil untuk menyebarluaskan buku ini sehingga dia pergi ke toko buku terbesar seperti Gramedia (Gramedia Mal Kelapa Gading, Gramedia Mal Artha Gading, Gramedia ITC Cempaka Mas, Gramedia Matraman, Gramedia Depok), ke Gunung Agung , sampai ke toko buku-toko buku kecil. Gunung Agung menolak mentah-mentah. Gramedia lebih baik, mereka menerima, walaupun ada saja pegawai Gramedia yang sinis dan skeptis, tetapi saya teringat ucapan salah satu pegawai Gramedia yang baik hati dan ramah, Buku ini bagus, mas. Sayangnya perusahaan sebesar Gramedia punya aturan keuangan yang terlalu kompleks untuk penerbit one man publisher seperti Aidil, maka ia menarik semua bukunya tanpa mendapat bayaran yang semestinya. Ia ikhlaskan saja karena melihat ini adalah suatu pelajaran lapangan mengenai dunia publikasi dan distribusi buku, suatu pelajaran yang tidak bisa ditemukan di ruang kelas atau teks buku manapun, sesuatu yang hanya bisa diketahui jika kita lakukan sendiri. HBOK dijual seharga Rp.10.000 oleh Gramedia, Rp.5.000 untuk penulis (Aidil), Rp.5.000 untuk distributor (Gramedia). Yang mengharukan adalah ketika Ayah penulis membeli buku HBOK di Gramedia Kelapa Gading. Ketika ditanya kenapa ia membelinya padahal dirumah ada, beliau menjawab, Rasanya beda. Rasanya tentu beda ada karya anak yang dijual secara sah di toko buku terkemuka dan ternyata cukup laris. Dari 25 buku HBOK di Gramedia MKG, 10 terjual pada minggu pertama. Menjelang pernikahannya pada tanggal 22 Maret 2008, Aidil Rizali memutari kompleks rumahnya dan memberi sekitar 50 kopi HBOK kepada 50 tetangga terdekat utara, selatan, barat dan timur baik ia kenal atau tidak karena teringat kata Rasulullah: Sebaik-baik orang adalah yang berbuat baik pada tetangganya, atau seperti itulah intinya jadilah orang yang bermanfaat bagi tetangga.

Saking niatnya membuat buku ini tersebar luas, hadiah untuk para tamu pernikahannya bukanlah pernak-pernik lucu yang artifisial seperti di kebanyakan pernikahan tetapi buku HBOK ini yang bila dihayati dan dilaksanakan akan memicu revolusi personal dan sosial yang progresif, produktif dan positif.

Itulah sekelumit sejarah HBOK yang bisa jadi merupakan buku kecil sejarah perilaku bangsa Indonesia, yang semoga ketika anak cucu kita membacanya 50-100 tahun mendatang akan bingung karena ternyata kita sudah jauh berubah lebih baik sehingga semua hobi-hobi buruk ini sekedar nostalgia saja.

Bagi pembaca non-Indonesia, sebenarnya buku ini diperuntukkan untuk semua manusia, semua orang, karena yang namanya kebiasaan buruk seperti melanggar aturan baik di Jakarta atau di London atau di Tokyo sama buruknya. Walaupun ada kebiasaan buruk regional, atau tradisional, umumnya kebiasaan buruk ini universal, it applies to me, you, everyone.

Begitulah sejarah buku ini.

Buku mungil kecil yang singkat tetapi membawa misi sejarah yang luas dan panjang.

!

Walaupun buku ini terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional RI dengan ISBN 978-979-16899 dan dengan demikian dilindungi undang-undang hak cipta,

tetapi,

Saya, Aidil Rizali, sebagai penulis dan pemilik penerbit Pustaka Antimalas

dengan ini mempersilahkan siapapun, dimanapun, kapanpun, untuk memperbanyak buku ini melalu PDF, Text, Word, atau apapun juga

dan diterjemahkan dalam bahasa dan aksara apapun serta ditafsirkan secara bagaimanapun.

Saya mendukung Copyleft

dan Knowledge Should Be Free Movement seperti

yang diadvokasikan oleh Komisi Eropa.

Prakata

Bangsa Indonesia membanggakan diri mereka sebagai bangsa yang sopan dan mencintai kebersihan. Alangkah nyamannya tinggal di Indonesia apabila pernyataan itu benar-benar merupakan kenyataan.

Sayangnya, pengalaman dan pengamatan saya selama 24 tahun tinggal, sekolah, dan hidup di Jakarta sang ibukota negara- justru membuktikan bangsa kita ini sebagai bangsa yang tidak sopan, egois, dan mencintai kejorokan dan kesemrawutan..

Terbitnya buku ini ditujukan untuk merangkum hobi-hobi kita yang sebenarnya sangat buruk, dan merugikan kita semua.

Saya harap para pembaca akan turut serta membuat bangsa ini bangsa yang minimal berperilaku ramah kepada sesama warganya dan menjaga keasrian tanah airnya.

Penulis

Daftar Isi

Bab 1. Hobi Buruk di Rumah

Bab 2. Hobi Buruk di Sekolah

Bab 3. Hobi Buruk di Kampus

Bab 4. Hobi Buruk di Kantor

Bab 5. Hobi Buruk di Jalan

Bab 6. Hobi Buruk