Click here to load reader

IKRAR TALAK HARUS DI DEPAN SIDANG arsip.pta- adalah sah/jatuh kapan saja, dimana saja dan dalam suasana apa saja. Bahkan talak dianggap jatuh walaupun dilakukan dengan bersendagurau

  • View
    224

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of IKRAR TALAK HARUS DI DEPAN SIDANG arsip.pta- adalah sah/jatuh kapan saja, dimana saja dan dalam...

  • 1

    IKRAR TALAK HARUS DI DEPAN SIDANG PENGADILAN (Kajian Atas Pasal 39 UU Nomor 1/1974 Perspektif Ushul Fiqh)

    Oleh: Drs. H. Abd. Salam, S.H. M.H

    Wakil Ketua Pengadilan Agama Mataram

    Pendahuluan

    Negara Indonesia menentukan bahwa perceraian, termasuk ikrar thalak, hanya dapat

    dilakukan di depan sidang pengadilan.1 Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak umat Islam

    yang abai terhadap ketentuan tersebut. Mereka lebih memilih ajaran fikih klasik ansich.

    Bahkan sebagian dari mereka menganggap bahwa ketentuan ikrar talak sebagaimana diatur

    dalam peraturan perundang-undangan itu justru bertentangan dengan hukum Islam, karena

    secara tidak langsung berarti menafikan sahnya talak yang dijatuhkan oleh suami diluar

    persidangan. Padahal tentang itu telah terdapat hadis masyhur yang menyatakan: ada tiga

    hal, yang jika dilakukan secara sengaja atau bergurau tetap terjadi, yaitu: nikah, talak, dan

    rujuk.2 Berdasarkan hadis masyhur ini mereka memahami bahwa talak suami kepada

    istrinya adalah sah/jatuh kapan saja, dimana saja dan dalam suasana apa saja. Bahkan talak

    dianggap jatuh walaupun dilakukan dengan bersendagurau.

    Pemikiran dan pendapat dalam fikih klasik ini kurang tepat, sebab melihat hukum

    Islam tidak secara holistik, tetapi hanya dari sisi meterinya (tasyriiyyah) saja, tidak melihat

    hukum Islam secara utuh dari berbagai aspek, yaitu pelaksanaan (tanfidziyah)nya, maupun

    penegakkannya (qodloiyah)nya yang dalam perspektif hukum Islam keduanya disebut

    Syiyasah Syariyahnya.

    Perkawinan sebagai suatu yang amat penting bagi kehidupan manusia, maka agama

    tidak mungkin tidak pengaturannya. Bahkan berkaitan dengan talak, Allah SWT secara

    khusus memberikan nama bagi sebuah surat dalam kitabNya (Al-Qur-an) dengan nama surat

    Ath-Thalaq. Dan sebagaimana kita maklumi fikih sebagai cabang ilmu dalam Islam yang

    digali dari dalil Al-Qur-an dan As-Sunnah membagi kajian fikih menjadi empat besar: yaitu

    fikih ibadah, fikih muammalah, fikih jinayah dan fikih munakahah. Maka kajian fikih

    manakahat oleh para fuqoha disebutnya sebagai rubuul fiqh.

    1.Sebagaimana diatur dalam Pasal 39 (1 dan 2) UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, jo Pasal 65 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo. Pasal 115 KHI;

    2. Kamsyhuran hadis dan kesahihannya dua hal yang berbeda; Tidak senantiasa hadis masyhur (terkenal) adalah hadis shahih; Menurut pentahqikan Syaikh Nashiruddin Al-Bani, hadis tersebut adalah muththarib. Hadis

    muththarib termasuk bagian/jenis hadis dlaif.

  • 2

    Kita harus melihat bahwa talak bukanlah masalah diyani semata serta bukan masalah

    taabbudi semata atau ibadah mahdlah (murni), akan tetapi talak termasuk bidang

    muammalah, maka peran ijtihad sangat terbuka luas untuk mengaturnya sehingga aspek

    qodloi memegang peranan penting dari sisi operasionalnya (tanfidz). Dengan alasan bahwa

    dalam perspektif ketatanegaraan Islam (fiqh al-Syiyasah), negara diberi kekuasaan oleh rakyat

    agar persoalan-persoalan kehidupan bersama diselesaikan dengan cara musyawarah (syura).

    Pada tingkat operasional, konsep syura memberikan porsi yang sangat besar kepada wakil-

    wakil rakyat (DPR) atau badan legislatif untuk melakukan ijtihad dalam membuat

    hukum/peraturan perundang-undangan, karenanya negara mempunyai kewajiban mengatur

    pentingan masyarakat sesuai dengan kemaslahatan bersama. Kaidah fikih yang terkenal untuk

    itu; tasharruful imam ala ar-raiyah manuthan bil mashlaha.

    Adanya perbedaan pemahaman masyarakat disatu sisi dengan kewajiban negara untuk

    mengatur kehidupan bersama di sisi yang lain, termasuk masalah perkawinan dan talak, perlu

    kajian dan pembahasan ulang masalah tersebut dengan pendekatan usul al-fiqh agar tidak

    terjadi lagi kesalahpahaman masyarakat tentang kewajiban negara tersebut, paling tidak dapat

    meminimalisir perbedaan pemahaman masyarakat dengan negara.

    Pengaturan Talak Dalam Al-Qur-an

    Masalah kehidupan berumah-tangga termasuk sesuatu yang mendapatkan perhatian

    serius dari Al-Qur-an. Dari hal siapa-siapa yang boleh dinikahi dan siapa yang tidak boleh

    dibicarakan sangat rinci oleh Al-Qur-an. Demikian jika jika harus terjadi perceraian, Al-Qur-

    an secara detail mengatur tentang langkah-langkah yang harus dilakukan oleh suami dan istri

    sewaktu terjadi ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

    Sewaktu istri nuzuz, diatur oleh Allah pada Surat al-Nis (4): 34;

    ....

    ()

    Artinya: Dan terhadap wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya,maka nasehatilah

    mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidurmu, dan pukullah mereka. kemudian

    jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk

    menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

    Ketika keadaan suami istri dalam nampak adanya perselisihan yang tajam Allah

    mengaturnya dalam surat An-Nisa 35;

    ( )

  • 3

    Artinya: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah

    seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga

    perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya

    Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui

    lagi Maha Mengenal.

    Jika seorang istri menghadapi saminya telah menyimpang dari kewajiban-

    kewajibannya (nuzuz) sebagai seorang suami, Allah mengajarkannya dalam surat An-Nisa

    ayat 128:

    ( )

    Artinya : Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap acuh dari suaminya,

    maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-

    benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu

    menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan

    memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap acuh), maka sesungguhnya Allah

    adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Jika suami-istri benar telah merasakan bahwa rumah-tangga sudah tidak ada harapan

    untuk rukun dalam rumah tangga dan merasakan perceraian harus terjadi, Allah mengaturNya

    dalam surat Ath-Thalaq ayat (1 dan 2);

    ()

    ( )

    Artinya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu

    ceraikan mereka pada waktu mereka menghadapi iddahnya dan hitunglah waktu

    iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, janganlah kamu keluarkan

    mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka kau izinkan mereka ke luar

    kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum

    Allah, barang siapa melanggar ketentuan Allah maka sesungguhnya dia telah

    berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah

    mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.

    Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan

    baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang

  • 4

    saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena

    Allah. demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah

    dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan

    mengadakan baginya jalan keluar.

    Masih banyak lagi ketentuan-ketentuan Allah yang berkaitan sebagai akibat hukum

    perceraian, antara lain:

    1. Suami berkewajiban memberi nafkah iddah;

    2. Suami berkewajiban memberi muthah;

    3. Ada larangan bagi suami mengambil harta benda yang telah diberikan kepada istrinya

    yang ditalak.3

    Kedudukan Peraturan Perundangan Perkawinan Dalam Institusi Hukum Islam

    Sudah menjadi watak seorang yang beriman kepada Allah bahwa mereka tidak dapat

    dipisahkan dari hukum agamanya. Ketaatan pada hukum agama (Islam) adalah merupakan

    bagian integral dari nilai transendental keimanan kepada Allah. Hukum Islam yang bersumber

    dari Al-Qur-an dan As-Sunnah, diyakininya sebagai hukum yang mampu memenuhi

    kebutuhan manusia dan membahagiakannya dimanapun dan kapanpun, karena sifatnya yang

    universal. Dalam lingkup pertanggung jawabannya Hukum Islam memiliki keunikan

    tersendiri jika dibandingkan dengan hukum wadli pada umumnya, yaitu kentalnya suasana

    ukhrawi yang transendental. Secara formal (officially) kerangka konseptual dan teoritiknya

    memang dibangun atas dasar pengabdian kepada Tuhan sehingga sangat berimplikasi pada

    format pertanggungjawabannya yang bersifat ganda, yaitu pertanggungjawaban dunia dan

    akhirat. Oleh karena itu menjadi keniscayaan bagi masyarakat Islam bahwa negara harus

    diberi kekuasaan oleh rakyat agar persoalan-persoalan bersama diselesaikan oleh negara

    dengan cara musyawarah (syura). Pada tingkat operasional, konsep syura memberikan porsi

    yang sangat besar kepada wakil-wakil rakyat atau legislatif untuk melakukan ijtihad dalam

    membuat hukum/peraturan perundang-undangan. Telah menjadi kenyataan sejarah bahwa

    pembentuk hukum adalah para penguasa, bukan fuqaha (mujtahid); Mujtahid dalam

    yurisprudensi Islam lebih berfungsi sebagai penemu hukum (istidrak al-hukm) dan mufthi

    (pemberi nasihat), sehingga kitab-kitab fiqih hasil karya mujtahid tidak senantiasa sejalan dan

    diterima serta diterapkan oleh penguasa. Konsep syura sebagai wujud kedaulatan rakyat

    dibatasi oleh prinsip-prinsip moral universal yang telah ditetapkan oleh Allah, yakni prinsip

    kead