of 8 /8
6 JURNAL MARITIM INDONESIA Vol. 6 No. 1 | September 2018 “Di laut tersimpan harapan, di laut tersimpan kejayaan, Jalesveva Jayamahe” 1 Kepentingan Maritim Indonesia yang fundamental telah tercantum pada Kebijakan Kelautan Indonesia yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2017. Kepentingan tersebut adalah untuk menguasai dan memanfatkan laut, memiliki identitas dan budaya maritim yang kuat, memanfaatkan posisi strategis Indonesia guna mewujudkan kemaslahatan bangsa dan terciptanya keamanan di kawasan sesuai dengan amanat konstitusi. 2 Secara umum kepentingan maritim ini merupakan penjabaran kepentingan pada dimensi maritim untuk mendukung tercapainya kepentingan nasional bangsa Indonesia yaitu tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia 1 Presiden RI Joko Widodo pada kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 di Padang 2 Lampiran I Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia. INDONESIA MENUJU THE LEGAL MARITIME NATION Oleh: Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos. (NKRI) berdasarkan Pancasila & Undang-Undang Dasar 1945, terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan tujuan pembangunan dan tujuan nasional. 3 Berdasarkan hukum laut internasional, Indonesia telah diakui sebagai negara kepulauan sesuai dengan kriteria-kriteria persyaratan sebuah negara untuk secara sah menjadi negara kepulauan. Persyaratan ini tercantum dalam Bab IV tentang Negara Kepulauan pada United Nations Convention on The Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun 1982. Pengakuan secara hukum internasional ini tidak lepas dari perjuangan para diplomat kita saat itu mulai dari Perdana Menteri Juanda, Muchtar Kusuma Atmaja bersama para delegasi lainnya pada sidang-sidang membahas UNCLOS. Prinsip hukum negara kepulauan ini juga dapat dikatakan sebagai proklamasi ketiga bagi negara Indonesia, dimana proklamasi pertama adalah deklarasi tertulis identitas bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda 3 Penjelasan Pasal 12 UU No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

INDONESIA - jurnalmaritim.tnial.mil.idjurnalmaritim.tnial.mil.id/wp-content/uploads/2018/09/The-Legal-Maritime-Nation-Laks... · 7 Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos. Indonesia

Embed Size (px)

Text of INDONESIA -...

6

JURNAL MARITIM INDONESIAVol. 6 No. 1 | September 2018

Di laut tersimpan harapan, di laut tersimpan kejayaan,

Jalesveva Jayamahe1

Kepentingan Maritim Indonesia yang fundamental telah tercantum pada Kebijakan Kelautan Indonesia yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2017. Kepentingan tersebut adalah untuk menguasai dan memanfatkan laut,

memiliki identitas dan budaya maritim yang kuat, memanfaatkan posisi strategis Indonesia guna mewujudkan kemaslahatan bangsa dan terciptanya keamanan di kawasan sesuai dengan amanat konstitusi.2 Secara umum kepentingan maritim ini merupakan penjabaran kepentingan pada dimensi maritim untuk mendukung tercapainya kepentingan nasional bangsa Indonesia yaitu tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia

1 Presiden RI Joko Widodo pada kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 di Padang

2 Lampiran I Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia.

INDONESIAMENUJU

THE LEGAL MARITIME NATION

Oleh: Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos.

(NKRI) berdasarkan Pancasila & Undang-Undang Dasar 1945, terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan tujuan pembangunan dan tujuan nasional.3 Berdasarkan hukum laut internasional, Indonesia telah diakui sebagai negara kepulauan sesuai dengan kriteria-kriteria persyaratan sebuah negara untuk secara sah menjadi negara kepulauan. Persyaratan ini tercantum dalam Bab IV tentang Negara Kepulauan pada United Nations Convention on The Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun 1982. Pengakuan secara hukum internasional ini tidak lepas dari perjuangan para diplomat kita saat itu mulai dari Perdana Menteri Juanda, Muchtar Kusuma Atmaja bersama para delegasi lainnya pada sidang-sidang membahas UNCLOS. Prinsip hukum negara kepulauan ini juga dapat dikatakan sebagai proklamasi ketiga bagi negara Indonesia, dimana proklamasi pertama adalah deklarasi tertulis identitas bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda

3 Penjelasan Pasal 12 UU No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

8

JURNAL MARITIM INDONESIAVol. 6 No. 1 | September 2018

internasional bidang kelautan, serta pembakuan nama pulau.6

Pada naskah ini, akan dibahas empat hal terkait pembenahan dan penyelarasan hukum yang diawali dengan hukum laut nasional, dilanjutkan dengan hukum laut internasional, kemudian hal-hal terkait pertahanan dan keamanan serta diplomasi, dan yang terakhir adalah tata kelola dan kelembagaan di laut.

HUKUM LAUT NASIONAL Sebagai negara kepulauan yang telah diakui secara sah berdasarkan hukum oleh dunia, Indonesia berkepentingan untuk mengamankan seluruh

wilayah perairan Indonesia dan kawasan yurisdiksi Indonesia. Saat ini terdapat 13 Kementerian dan Lembaga (K/L) termasuk TNI AL, yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keberadaan dan tugas pokok serta fungsi seluruh K/L ini sudah cukup jelas walaupun implementasi di lapangan masih terkesan adanya tumpang tindih dan inefisiensi terutama dalam perijinan. Seluruh K/L sebenarnya sudah komitmen dan

konsisten melaksanakan perannya berdasarkan hukum yang berlaku. Namun demikian, tidak dipungkiri masih adanya komentar dari pelaku ekonomi di laut yang merasa terbebani dengan banyaknya birokrasi dalam administrasi dan perijinan. Sebagai contoh adalah keluhan perijinan di Syahbandar Batam dari Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Batam, Osman Hasyim di akhir tahun lalu.7 Dari contoh ini, dibutuhkan pengawasan melekat terhadap kinerja baik aparat perijinan maupun pihak yang mengurus perijinan. Kedua pihak ini sangat menentukan

6 Ibid.7 Pengusaha Pelayaran Minta Perizinan di Pelabuhan Dibenahi, diakses di

http://batamnews.co.id/berita-27871-.html pada tanggal 29 April 2018.

kelancaran perijinan secara prosedur, di satu sisi harus dapat melayani dengan baik dan di sisi lain harus paham prosedur yang ada. Hal inilah yang menjadi salah satu sumber yang mengesankan adanya inefisiensi dalam perijinan, dan juga menjadi akar permasalahan tentang pro dan kontra terkait multi-agency dan single-agency. Khusus untuk perijinan atau bisa dikatakan administrasi yang harus dipenuhi oleh para pelaku ekonomi, one-gate authority dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Dan tentunya harus didasari oleh perundang-undangan atau peraturan dari Pemerintah sebagai dasar hukum yang dapat dipedomani.

HUKUM LAUT INTERNASIONAL Kedaulatan atau sovereignty merupakan kekuasaan tertinggi suatu negara dalam batas-batas lingkungan wilayahnya untuk mengurus sendiri kepentingan-kepentingan dalam negeri maupun luar negeri tanpa tergantung kepada negara lain. Penegakan kedaulatan di laut memiliki dua dimensi pemahaman, yaitu kedaulatan (sovereignty) dan hak-hak berdaulat (sovereign rights) yang telah diatur secara universal dalam hukum internasional,

yaitu UNCLOS 1982. Sebagai penjabarannya, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan undang-undang yang mengatur tentang kedaulatan dan hak berdaulat disesuaikan dengan pembagian wilayah laut. Kedaulatan penuh Indonesia telah diatur dalam UU No 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang terdiri dari Perairan Pedalaman, Perairan Kepulauan dan Laut Teritorial. Sedangkan pada Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen, Indonesia memiliki hak berdaulat yang tertuang pada UU No. 5 Tahun 1983 dan UU No. 1 Tahun 1973 (yang telah ada sebelum UNCLOS 1982). Namun demikian masih diperlukan sebuah undang-undang yang mengatur Zona Tambahan

7

Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos.Indonesia Menuju The Legal Maritime Nation

1928 dan proklamasi kedua adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.4 Keberhasilan diplomasi ini telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang mampu memperluas wilayah laut yurisdiksi atau kawasan yurisdiksinya tanpa opsi militer. Indonesia secara resmi memperoleh tambahan laut yang sangat luas mengelilingi seluruh kepulauan yang berada di dalamnya. Perairan antar pulau yang dulu merupakan laut internasional kini secara hukum telah resmi menjadi perairan kepulauan Indonesia yang memiliki kedaulatan penuh tanpa sedikitpun mengerahkan kekuatan militer. Konsekuensi dari bertambahnya zona

maritim ini adalah diperlukannya kebijakan publik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengelola lautnya secara komprehensif. Pada tahun 2017 lalu, Indonesia mampu mewujudkannya dengan mengeluarkan Kebijakan Kelautan Indonesia melalui Perpres RI Nomor 16 tahun 2017. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Tujuh Pilar Kebijakan Kelautan Indonesia untuk mendukung cita-cita bangsa Indonesia menjadi poros maritim dunia. Pilar pertama yaitu pengelolaan sumber daya kelautan yang optimal dan berkelanjutan

serta terbangunnya sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan yang handal. Pilar kedua adalah pertahanan dan keamanan di laut yang tangguh serta terlaksananya penegakan hukum dan keselamatan di laut. Pilar ketiga adalah tata kelola dan kelembagaan kelautan yang baik. Pilar keempat yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi dan industri kelautan serta terbangunnya infrastruktur kelautan yang handal. Pilar kelima adalah pengelolaan ruang laut yang baik serta terlaksananya perlindungan lingkungan laut. Pilar keenam yaitu terbentuknya wawasan identitas dan

4 Oegroseno, Arif Havas, Orasi ilmiah di Auditorium Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 2016, dapat dilihat di http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/08/bangsa-perlu-hadapi-lima-tantangan-kelola-maritim-indonesia

budaya bahari serta yang pilar yang ketuju atau terakhir adalah diplomasi maritim.5

Dari ketujuh pilar tersebut ada beberapa pilar yang dianggap membutuhkan pembenahan dan penyelarasan dari aspek hukum terutama pada pilar kedua, pilar ketiga dan pilar ketujuh. Program-program sudah disusun oleh Pemerintah dalam rangka mewujudkan sasaran pada pilar-pilar tersebut. Untuk mewujudkan terciptanya pilar kedua, program-program tersebut adalah pembentukan postur kelautan Indonesia yang proporsional, peningkatan kemampuan kinerja pertahanan dan keamanan secara terpadu, pembangunan kawasan perbatasan di laut dan pulau-pulau terluar, peran

aktif dalam kerja sama pertahanan dan keamanan, penegakan kedaulatan dan hukum, optimalisasi K4IPP, pembangunan karakter bangsa yang berorientasi kelautan dan upaya bela negara, serta keamanan dan keselamatan pelayaran. Sementara itu, untuk mewujudkan terciptanya pilar ketiga, beberapa program yang harus dilaksanakan adalah penataan sistem hukum nasional di bidang kelautan, implementasi hukum internasional di bidang kelautan sesuai dengan kepentingan nasional, serta pembangunan sistem tata kelola kelautan

yang baik, transparan dan bertanggung jawab. Yang terakhir, untuk mewujudkan terciptanya pilar ketujuh, beberapa program yang harus dilaksanakan adalah peningkatan kepemimpinan kerja sama bidang kelautan bilateral, regional dan multilateral, peningkatan peran aktif dalam upaya menciptakan dan menjaga perdamaian dunia, kepemimpinan atau peran aktif dalam penyusunan norma internasional bidang kelautan, percepatan perundingan penetapan batas maritim Indonesia, percepatan submisi ekstensi landas kontinen sesuai hukum internasional, optimalisasi K4IPP, peningkatan penempatan WNI dalam organisasi

5 Lampiran I Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia.

9

Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos.Indonesia Menuju The Legal Maritime Nation

dimana sebuah negara memiliki yurisdiksi atas bea cukai (customs), perpajakan (fiskal), keimigrasian (imigration), dan kesehatan atau sanitera.8 Kebutuhan undang-undang zona tambahan ini sesuai amanat hukum laut internasional untuk mempertegas penegakan hak-hak berdaulat NKRI di Zona Tambahan bagi kapal-kapal asing yang akan memasuki Laut Teritorial dimana hukum laut nasional akan berlaku dan ditegakan untuk kepentingan kedaulatan NKRI.

PERTAHANAN, KEAMANAN DAN DIPLOMASI MARITIM Apabila kita memperhatikan dengan seksama

hal-hal terkait pertahanan, keamanan dan diplomasi, tentunya pembahasan ini akan terkait peran universal seluruh angkatan laut di dunia yaitu military, constabulary dan diplomacy. Ketiga peran ini secara hukum telah ditegaskan dengan tertuangnya Tugas TNI AL pada UU RI Nomor 34 tahun 2004 pasal 9 ayat 1, 2 dan 3 yaitu melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan

8 UNCLOS 1982, pasal 24 ayat 1.

hukum internasional yang telah diratifikasi, dan melaksanakan tugas diplomasi angkatan laut dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri yang ditetapkan pemerintah. Operasi yang digelar TNI AL baik yang merupakan Operasi TNI maupun Operasi TNI AL sendiri, sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak hanya mampu mendukung tercapainya pertahanan dan keamanan di perairan indonesia dan kawasan yurisdiksi Indonesia namun juga memainkan peran diplomasi di perbatasan maritim negara. Kehadiran unsur gelar kita tersebut juga merupakan upaya diplomasi maritim melalui pameran bendera (hard approach), selain keaktifan kita (soft approach) dalam kancah internasional yang selama ini sudah kita laksanakan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai peserta. Dalam rangka penegakan hukum yang tegas di laut, penetapan batas maritim negara adalah sangat penting. Hal ini dikarenakan akan memberi kejelasan dan ketidakraguan bagi aparat penegak hukum di laut baik yang melaksanakan tugas di Kapal maupun Pesawat Udara. Penegakan hukum di batas maritim negara seyogyanya

Gambar 1. Ilustrasi zona maritim dan penegakan hukum di laut.

10

JURNAL MARITIM INDONESIAVol. 6 No. 1 | September 2018

dilaksanakan oleh TNI AL, dikarenakan saat ini, fenomena yang ada adalah single locus-multi crimes/threats. Satu tempat terjadinya kejahatan, banyak kejahatan atau ancaman yang ditimbulkan. Sebagai contoh, penggunaan kapal ikan yang tidak sesuai peruntukannya dan pengawakannya. Kapal ikan diawaki oleh ABK yang merupakan milisi dari sebuah negara, kapal ikan yang digunakan sebagai wahana penyebaran ranjau laut dan kapal ikan yang digunakan sebagai wahana angkut narkoba. Untuk menghadapinya, dibutuhkan aset yang secara hukum memiliki peran tidak hanya peran diplomasi dan peran polisionil, namun juga peran militer (single asset-multi roles). Hal ini sudah sesuai dengan tugas TNI AL tersebut di atas yang terlah diatur undang-undang. Aset inilah yang dimiliki oleh TNI AL yaitu KRI, yang selain disiapkan untuk menghadapi ancaman militer, juga siap untuk menghadapi ancaman nir-militer termasuk ancaman yang menggunakan wahana

Gambar 2. Penyederhanaan Kelembagaan di laut.

komersial untuk kepentingan militer bakal lawan dengan melaksanakan infiltrasi dan blokade laut.

TATA KELOLA DAN KELEMBAGAAN DI LAUT Pembahasan terakhir adalah terkait tata kelola dan kelembagaan di laut. Dalam tulisan ini dituangkan perlunya Pemerintah Indonesia untuk menyederhanakan kelembagaan terkait kewenangan pengelolaan kemaritiman menjadi empat cluster yaitu security, administration, infrastructure dan justice. Khusus terkait security tentunya dapat dibagi lagi sesuai zona maritim yang ada sesuai tugas pokok, fungsi, kekuatan dan kemampuan, terutama di

zona maritim yang ada batas maritimnya Indonesia dengan negara tetangga. Apabila kita melihat ke beberapa negara lain, tidak ada satupun negara yang menganut single-agency tanpa melibatkan K/L lainnya, seperti di Jepang, Singapura, Australia dan Malaysia.

11

Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos.Indonesia Menuju The Legal Maritime Nation

Penyederhanaan ini dapat dilegalkan melalui sebuah peraturan perundang-undangan baru yang mampu mengakomodir semua ketentuan pada peraturan perundang-undangan sebelumnya dengan beberapa perbaikan kejelasan kewenangan dengan menyesuaikan kondisi internal K/L dan situasi perkembangan lingkungan strategis.

MARITIME DOMAIN AWARENESS, MARITIME POLICY DAN INTEGRATED MARITIME GOVERNANCE Dari pembahasan keempat hal di atas, dibutuhkan sebuah strategi untuk mewujudkan Indonesia sebagai the Legal Maritime Nation. Profesor Geoffrey Till menyatakan bahwa ada tiga variabel yang disyaratkan agar tercapai Good Order at Sea, yaitu maritime domain awareness, maritime policy dan integrated maritime governance.9 Sebagai negara

9 Till, Geoffrey, Sea Power.

kepulauan yang luas Indonesia harus membangun maritime domain awareness sehingga Indonesia mampu memonitor seluruh kejadian di perairan Indonesia dan kawasan yurisdiksi Indonesia secara real-time. Selain itu Indonesia juga harus memiliki maritime policy atau kebijakan maritim yang dapat menjadi panduan dalam menjabarkan Visi Poros Maritim Dunia. Untuk mensinergikan langkah dan tindakan juga dibutuhkan integrated maritime governance dari seluruh kementerian/lembaga (K/L) terkait untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi poros maritim dunia. Implementor untuk menuju Good Order at Sea tersebut adalah Angkatan Laut, Coast Guard serta instansi maritim lainnya. Namun demikian, good order at sea akan sulit terwujud apabila tidak ada good order from the shore.

Gambar 3. Konsep pengembangan Good Order at Sea di Indonesia sebagai dasar penentuan Strategi mewujudkan Indonesia

menjadi The Legal Maritime Nation.

12

JURNAL MARITIM INDONESIAVol. 6 No. 1 | September 2018

Dengan mempertimbangkan ketiga variabel tersebut dan pembahasan di atas, dalam rangka pembenahan dan penyelarasan hukum guna mendukung tercapainya Indonesia sebagai the legal maritime nation direkomendasikan sebuah strategi yaitu terwujudnya negara Indonesia sebagai negara maritim yang berdasarkan hukum melalui konsistensi dan komitmen dalam mengimplementasikan Kebijakan Kelautan Indonesia dengan didukung tata kelola maritim terintegrasi oleh K/L secara sinergis yang mampu mengantisipasi dan merespon perkembangan lingkungan strategis yang sangat cepat melalui penguatan maritime domain awareness.

Dari strategi di atas dengan pertimbangan bahwa luasnya wilayah laut dan uniknya geografi Indonesia memerlukan kekuatan dan kemampuan aset maritim yang besar untuk melaksanakan penegakan hukum maka disarankan adanya penyederhanaan lembaga terkait penegakan hukum di laut sesuai cluster tugas dan konsistensi legislasi dalam hal ini peraturan perundang-undangan. Harapan ke depan dari penyederhanaan lembaga dan konsistensi legislasi adalah akan lebih memberikan dampak positif bagi Indonesia dalam penegakan hukum guna menuju Indonesia sebagai negara maritim yang berbasis hukum. Akhirnya, mari kita bersinergi untuk mewujudkan Indonesia sebagai

Poros Maritim Dunia, Jalesveva Jayamahe.

13

JURNAL MARITIM INDONESIAVol. 6 No. 1 | September 2018